Di luar jendela, malam semakin larut menyelimuti kompleks bangunan apartemen yang berdiri kokoh di bawah langit gelap bertaburkan sedikit bintang. Bulan purnama yang bersinar terang menggantung statis di langit, memancarkan cahaya keperakan yang sunyi.
162Please respect copyright.PENANApX3IvaYqhV
Aku ingin kabur...
162Please respect copyright.PENANAAqhaB99uNI
Pikiran putus asa itu terus berputar-putar di dalam kepalaku seiring tubuhku yang kini kembali terbaring kaku di atas sofa ruang tengah. Aku menarik selimut bermotif geometris abu-abu hingga sebatas dada, sementara kedua telapak tanganku bertumpu di belakang kepala sebagai bantal darurat. Mataku menatap kosong ke langit-langit yang remang, meratapi nasib buruk yang baru saja mengikatku malam ini. Setitik keringat dingin tampak merembes di pelipis, pertanda kecemasan yang belum juga surut dari benakku.
162Please respect copyright.PENANAVjBArbE72f
Keheningan malam mendadak terusik oleh sebuah suara desikan samar. Kedua mataku yang semula sayu langsung terbuka sedikit lebih lebar, beralih menatap lurus dengan dahi yang berkerut halus. Saraf-saraf di sekujur tubuhku kembali menegang saat aku mencoba menajamkan indra pendengaranku dari posisi berbaring, mempertanyakan keganjilan atau suara asing yang tiba-tiba saja terdengar di tengah apartemen yang seharusnya sudah terlelap ini.
162Please respect copyright.PENANAVIGEIbJJb2
Tunggu, kenapa aku yang mesti kabur dari rumahku sendiri?
162Please respect copyright.PENANAGcnEXsvvvl
Pikiran itu mendadak melintas di kepalaku, memutus keputusasaan yang sempat menguasai benakku. Aku tetap berbaring di atas sofa dengan kedua tangan mengganjal di belakang kepala, namun mataku kini menyipit tajam dengan urat saraf kejengkelan yang mulai berkedut di dahi. Setitik keringat dingin masih mengalir di pipiku, namun rasa tidak terima mulai membakar kesadaranku.
162Please respect copyright.PENANAmDMgwZ1yzt
Dia cuma numpang di rumahku!
162Please respect copyright.PENANAo7H3DZM3e8
Sentakan emosi yang tiba-tiba membuat tubuhku bergerak cepat di luar kendali. Aku langsung bangkit dari posisi berbaring dan terduduk menegak di atas sofa kulit krem, menepis ujung selimut abu-abu yang menutupi kakiku. Kedua telapak tanganku bertumpu erat pada permukaan sofa, sementara wajahku mengeras penuh amarah dengan alis yang menukik tajam menahan rasa jengkel yang teramat sangat atas perlakuan sewenang-wenang gadis itu.
162Please respect copyright.PENANAqVavhW3GBB
Ini gak masuk akal!
162Please respect copyright.PENANA8tlLEWCnvP
Dengan tekad yang mendadak terkumpul, aku langsung menurunkan kedua kakiku dari atas sofa. Sepasang telapak kaki telanjangku menapak kokoh di atas lantai keramik abu-abu, menumpu berat tubuhku yang bersiap untuk berdiri dan mengakhiri semua ketidakadilan gila ini.
162Please respect copyright.PENANA46QrgAY2jR
Luke tak pernah melakukan apapun untukku! Ini adalah negara hukum, harus ada alasan yang kuat!
162Please respect copyright.PENANAqEJiX9mKeA
Kemarahan yang membakar dada membuat langkah kakiku bergerak mantap menembus kegelapan ruang tengah. Bunyi hentakan kakiku terdengar beruntun meredam keheningan saat aku berjalan tegas melintasi lantai keramik, mengabaikan sisa rasa takut yang sempat melumpuhkanku beberapa saat lalu.
162Please respect copyright.PENANAu8OvxtkuFK
Aku pemilik dari rumah ini! Aku tak bisa tinggal diam saja!
162Please respect copyright.PENANAcg0ylF8DdJ
Pikiran itu terus menghentak ego pribadiku, memompakan keberanian mutlak yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Langkahku membawaku berhenti tepat di depan daun pintu kamar kayu cokelat tempat gadis itu mengunci diri.
162Please respect copyright.PENANAJEO7bf4xFF
Aku akan katakan padanya!
162Please respect copyright.PENANAfWEO0M9nfR
Tanpa ragu sedikit pun, aku mengulurkan tangan kananku ke depan. Jemariku langsung mencengkeram kuat permukaan bulat gagang pintu logam yang terasa dingin, bersiap memutarnya secara paksa untuk menghadapi sang penyusup.
162Please respect copyright.PENANALu0KzQ5n7a
Untuk mengusir dia dari rumahku sekarang juga!
162Please respect copyright.PENANA8X2pCGaq3T
Dengan satu hentakan penuh tekad, aku memutar gagang pintu dan mendorong daun pintu kayu itu hingga terayun terbuka lebar. Aku berdiri tegak di ambang pintu, bersedekep kaku dengan alis menukik tajam dan rahang mengeras, siap meluapkan seluruh kesal yang sudah membubung tinggi di kepala.
162Please respect copyright.PENANA1oIMmGaMWH
Namun, keberanian yang baru saja kupompa seketika runtuh tanpa sisa dalam hitungan detik. Mataku membelalak lebar dengan pupil yang mengecil drastis, sementara mulutku terkatung kaku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Rasa hangat yang amat sangat mendadak naik ke wajahku, memicu rona merah padam yang sangat pekat di kedua pipiku disertai butiran keringat dingin yang merembes deras di pelipis dan leherku.
162Please respect copyright.PENANAStMIr6RxFm
Di atas ranjang, di bawah siraman temaram lampu kamar yang bernuansa kebiruan, Judy tampak sudah terlelap dengan posisi menungging yang sangat provokatif. Ia tidur menyamping sembari memeluk sebuah boneka beruang cokelat kecil, membuat kaus tank top putih tipisnya tersingkap ke atas dan memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping.
162Please respect copyright.PENANAFAzTu4sNXi
Pemandangan yang paling membuat jantungku serasa mau copot adalah bagian bawah tubuhnya; celana pendek ungu yang dipakainya tadi entah bagaimana sudah terlepas, menyisakan sehelai celana dalam renda transparan berwarna ungu muda kebiruan yang membungkus ketat bokong ranumnya. Tekstur kain brokatnya yang tipis mengekspos lekukan sensual pantatnya dengan sangat jelas tepat di depan arah pandanganku, melumpuhkan total seluruh niat amarahku dalam sekejap mata.
162Please respect copyright.PENANAheuke2yAEm
Pandanganku terkunci sepenuhnya pada pemandangan vulgar di depanku. Pakaian dalam renda bernuansa ungu lembut yang dikenakan Judy melekat begitu ketat, memperlihatkan detail motif brokat bunga-bunga yang transparan di atas kulit pantatnya yang putih mulus. Belahan intim di bagian tengah bokongnya terekspos sangat jelas seiring posisi tidurnya yang menungging pasrah, menciptakan siluet sensual yang memenuhi seluruh ruang pandangku.
162Please respect copyright.PENANALWnjcgb6yg
Kenapa dia tidur seperti itu..?
162Please respect copyright.PENANAh377CHTfIV
Pertanyaan itu berputar kacau di dalam benakku yang mendadak tumpul. Setengah wajahku membeku kaku di balik temaram bayangan pintu; rahangku merapat rapat sementara butiran keringat dingin bercucuran semakin deras melewati pelipis, pipi, hingga ke leherku yang menegang hebat. Rasa kesal dan niat melabrak yang kubawa tadi menguap entah ke mana, digantikan oleh debaran jantung yang berpacu liar akibat luapan gairah dan kecanggungan yang menyergap tiba-tiba.
162Please respect copyright.PENANAAqAx2jYi1s
Alih-alih membalikkan badan atau berteriak marah, kedua kaki telanjangku justru bergerak di luar kendali logikaku. Langkah kakiku mulai bergeser maju dengan sangat pelan dan hati-hati, berjinjit di atas lantai keramik kamar yang dingin agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa mengusik tidurnya, menuntun tubuhku mendekat ke arah ranjang tempatnya terlelap.
162Please respect copyright.PENANAO0K39J9Ij2
Haruskah aku mengatakan padanya besok saja, karena dia sudah tertidur?
162Please respect copyright.PENANA6p0roLCjtp
Langkah kakiku akhirnya berhenti tepat di sisi ranjang, membuat tubuhku berdiri tegak membeku. Dari posisi ini, sudut pandangku langsung lurus menatap gundukan pinggul dan bokong Judy yang terekspos jelas. Pikiranku mencoba mencari pembenaran logis untuk mundur, meratapi niat awalku yang ingin melabraknya kini terasa sepenuhnya sia-sia.
162Please respect copyright.PENANACMhT85E9Z4
Tapi lebih dari itu...
162Please respect copyright.PENANAXecxkqGX5C
Haruskah aku menyentuh dirinya...?
162Please respect copyright.PENANAbvIGb9Nqx5
Bisikan batin yang jauh lebih gelap mendadak bangkit, menggilas habis sisa pertimbangan logisku. Aku sedikit menundukkan tubuhku, membawa arah pandanganku bergeser tepat berada di belakang belahan pantatnya yang ranum. Di depanku, celana dalam renda bernuansa ungu muda kebiruan itu tampak semakin nyata menempel ketat pada kulitnya, memperlihatkan detail motif brokat halus yang membungkus area intimnya dengan begitu sensual. Napasku mulai memberat seiring jemariku yang bergetar samar, tertahan di antara batas keraguan moral dan dorongan hasrat terlarang yang kini menguasai penuh seluruh kesadaranku di balik keheningan kamar.
162Please respect copyright.PENANAbxCfBmokQZ
Dia takkan terbangun kalau aku berhati-hati...
162Please respect copyright.PENANA5s0RUrP7ei
Pikiran licik itu akhirnya menuntun gerakanku. Aku perlahan mengulurkan tangan kananku ke depan, menapakkan telapak tanganku hingga amblas ke atas permukaan kasur yang empuk tepat di samping posisi tubuhnya. Aku mencondongkan tubuhku ke depan dengan sangat perlahan, menahan berat badanku pada satu tangan sembari menjaga agar tidak ada suara sekecil apa pun yang merusak keheningan kamar.
162Please respect copyright.PENANAphYTsQv5NW
"Ngg-hh... emhh..."
162Please respect copyright.PENANAQnKY1mc2oY
Sentakan tak terduga itu bersamaan dengan lenguhan pelan membuat jantungku serasa mau copot ke lantai. Judy mendadak bergerak dalam tidurnya dan memutar posisi badannya yang semula menyamping menungging menjadi terlentang lurus menghadap ke atas.
162Please respect copyright.PENANA5iuAmih076
Gerakan tiba-tiba itu seketika membuatku tersentak kaku di tempat. Sepasang mataku membelalak lebar dengan pupil yang mengecil drastis karena terkejut setengah mati, sementara mulutku ternganga lebar tanpa bisa mengeluarkan suara. Tubuhku refleks condong mundur dengan satu tangan terangkat panik di udara, sementara butiran keringat dingin bercucuran deras membasahi wajah dan leherku, ketakutan jika tindakan bejatku kali ini benar-benar membuatnya terbangun.
162Please respect copyright.PENANAEBEX5mDCTz
Namun, ketakutanku perlahan sirna saat melihat sosoknya di atas ranjang. Judy ternyata masih terlelap dengan sangat nyenyak di bawah siraman cahaya kebiruan kamar. Wajah cantiknya tampak begitu polos dengan pipi yang merona merah samar dan sedikit air liur yang menetes di sudut bibirnya yang terbuka kecil.
162Please respect copyright.PENANAU9wSkctPwG
Ia mendengkur halus secara teratur sembari kedua tangannya masih memeluk erat boneka beruang cokelat kecil di atas dada. Posisinya yang kini terlentang membuat tank top putih bertuliskan CRUSH meregang kencang menonjolkan bentuk payudaranya, sementara bagian depan celana dalam renda ungu transparannya kini terekspos sepenuhnya dari arah depan, menyajikan pemandangan baru yang tidak kalah sensual tepat di bawah tatapan mataku yang masih terpaku kaku.
162Please respect copyright.PENANAAvOimJ88ND
Aku masih berdiri mematung di sisi ranjang, menatap lurus ke arah sepasang kaki mulus Judy yang kini terbuka lebar akibat posisi tidurnya yang terlentang. Sosokku tampak kaku dengan kedua telapak tangan menggantung panik di udara. Butiran keringat dingin masih membasahi tengkuk dan punggung kemeja polo katun hijau lumut yang kukenakan seiring napasku yang tertahan di tenggorokan.
162Please respect copyright.PENANAt5sclzNukj
"Zzz... mnghh..."
162Please respect copyright.PENANAzvcWOgJCcO
Suara dengkur halus kembali terdengar secara teratur dari celah bibir Judy yang terbuka kecil. Wajah cantiknya yang dibingkai jepitan rambut acak-acakan tampak sangat tenang di atas bantal. Ia benar-benar terlelap jauh ke dalam dunia mimpi, sama sekali tidak menyadari keberadaanku yang berdiri begitu dekat di tepi kasurnya.
162Please respect copyright.PENANA2mn7gw4jCF
Sial, dia membuatku takut saja!!
162Please respect copyright.PENANAUNx16nDbwM
Umpatan penuh kelegaan sekaligus kejengkelan itu meledak kaku di dalam benakku. Aku refleks menarik tubuh bagian atasku sedikit mundur, membiarkan sepasang mataku membelalak lebar dengan urat-urat kepanikan yang masih tersisa jelas di sekitar kelopak mata. Rahangku bergetar samar menahan sisa rasa syok, sementara telapak tangan kananku terangkat melindungi dada, meratapi betapa tipisnya jarak antara rencanaku yang bejat dan ancaman kehancuran harga diriku jika gadis gila ini mendadak terbangun tadi.
162Please respect copyright.PENANA4xAKE0KlRd
Aku perlahan menurunkan kembali kedua belah tanganku yang sempat terangkat panik. Dari posisi berdiri kaku di dekat sudut tempat tidur, pandanganku kembali tertuju pada sosoknya.
162Please respect copyright.PENANAgcSeAR6LxY
"Huh?"
162Please respect copyright.PENANAegcJImJ2zJ
Gumam kebingungan lolos begitu saja dari celah bibirku saat emosi syok dalam dadaku perlahan mulai mereda. Sepasang mataku menatap lurus ke depan, sementara butiran keringat dingin masih merembes padat memenuhi pelipis dan pipiku yang tegang. Rasa heran mendadak menyeruak, menggantikan ketakutan yang sempat melumpuhkan logikaku beberapa saat lalu.
162Please respect copyright.PENANAhabcZQDH7s
Dia tidur dengan boneka beruang...
162Please respect copyright.PENANAGK1wfLZ1X1
Kesadaran itu membuat sudut pandangku melunak saat memperhatikan wajah terlelapnya dari dekat. Di atas bantal, di bawah siraman temaram lampu kamar, Judy tampak meringkuk damai sembari menenggelamkan separuh wajah cantiknya pada permukaan boneka beruang cokelat bulat yang didekapnya erat.
162Please respect copyright.PENANAtH6kCGxMyZ
"Mm... nggnh..."
162Please respect copyright.PENANApkamRH52KK
Sebuah lenguhan kecil yang terdengar sangat lembut keluar dari belahan bibirnya yang terbuka sedikit, menyisakan rona merah samar yang masih menghiasi kedua pipi mulusnya. Helaian rambut hitamnya yang terikat berantakan membingkai ekspresi polosnya yang tampak begitu kontras dengan tabiat kejam dan dominan yang ia tunjukkan di ruang tengah tadi, membuatku terpaku diam meratapi sisi lain dari gadis yang kini resmi menjadi pemilik hidupku.
162Please respect copyright.PENANACR4cMFgUE9
Lucunya... dia masih seperti anak kecil...
162Please respect copyright.PENANARrOD1hqp1i
Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terulas di bibirku yang bergetar pelan. Ketegangan yang sempat mencengkeram dadaku perlahan mencair, digantikan rasa geli melihat kontras tabiat kejamnya tadi dengan ekspresi polosnya saat mendekap boneka beruang. Kelopak mataku terpejam lembut, menikmati momen ketenangan singkat ini sementara sisa butiran keringat dingin masih menempel samar di pipiku.
162Please respect copyright.PENANAN4uNkWAabD
Tapi tubuhnya tidak seperti anak kecil...
162Please respect copyright.PENANAoFLTT0uWrb
Pandanganku mendadak turun dan kembali terkunci pada area sensitif di bawah pinggulnya. Di bawah siraman cahaya kebiruan kamar, celana dalam renda transparan ungu muda kebiruan yang melekat ketat itu menampilkan bentuk pangkal pahanya dengan begitu penuh dan nyata. Detail motif brokat bunga serta pita kecil di bagian depan pakaian dalam itu mengekspos lekuk tubuh dewasanya yang sensual, langsung membuyarkan pikiran lugu yang baru saja melintas di kepalaku.
162Please respect copyright.PENANAZ7vd794qlR
Oh, oke... aku yakin suatu saat dia pasti akan pergi meninggalkan tempat ini.
162Please respect copyright.PENANAXx2sbP5VYM
Memilih untuk tidak menuruti dorongan hasrat gila yang kian memuncak, aku perlahan melangkah mundur ke arah ambang pintu. Dengan kepala menunduk pasrah dan raut wajah yang kembali diselimuti sisa kecemasan, tanganku bergerak menutup kembali daun pintu kayu cokelat itu secara perlahan hingga terdengar suara klik pelan dari lidah kunci yang menyatu, mengunci keheningan kamarnya.
162Please respect copyright.PENANAwz60QdZSJ4
Aku melangkah mundur sepenuhnya dari ambang kamar, membiarkan jemariku terlepas dari gagang pintu bulat yang baru saja kututup rapat. Aku berdiri kaku di atas lantai keramik abu-abu dengan kedua lengan yang tergantung lemas. Pikiran mengenai es krim dan ancaman sadisnya sebelum tidur tadi masih membayangi kepalaku, namun rasa lelah yang teramat sangat akhirnya memaksa tubuhku untuk kembali merangkak ke atas sofa kulit krem di ruang tengah, menarik selimut abu-abu, dan membiarkan kesadaranku perlahan tenggelam dalam lelap.162Please respect copyright.PENANArUJE5Pc5gA


