Keesokan paginya, matahari telah terbit tinggi menyinari kompleks bangunan apartemen. Cahaya terang benderang memapar dinding-dinding beton luar bangunan di bawah langit biru yang cerah. Namun, ketenangan pagi itu seketika hancur berkeping-keping oleh sebuah lengkingan suara yang menggelegar dahsyat dari dalam unit apartemenku.
153Please respect copyright.PENANA1G9FAcVGy0
"WOY SIALAAAAN! MANA ES KRIMKU?!!"
153Please respect copyright.PENANA6812E2Swms
Aku yang masih terlelap nyaman di atas bantal sofa hanya bisa melenguh pelan dengan mata yang terpejam rapat. Semburat merah samar sisa tidur masih menempel di pipiku, sementara sedikit air liur mengering di sudut bibirnya yang terbuka kecil. Kesadaranku yang masih separuh kosong belum sepenuhnya menangkap petaka besar yang siap melanda hidupku akibat melupakan perintah pertama dari pemilik kontrak gila itu.
153Please respect copyright.PENANAkCyjf5XM9U
"Aku udah bilang kan tadi malam?!!"
153Please respect copyright.PENANAua4iHoPEhQ
Lengkingan suara itu seketika merenggut sisa kesadaranku. Mataku mendadak terbuka lebar, mendapati sosok Judy sudah berdiri tegak di atasku, menatapku lurus dengan pandangan yang penuh amarah. Dari posisiku yang masih telentang kaku di atas sofa dengan bantal abu-abu, sudut pandangku langsung mengarah ke atas menatap tubuhnya yang menjulang intim namun begitu mengancam. Ia masih mengenakan pakaian tadi malam; tank top putih ketat bertuliskan CRUSH dan celana pendek ungu tipis yang membungkus ketat paha mulusnya seiring ia berdiri dengan kedua kaki terbuka lebar mencengkeram lantai keramik abu-abu.
153Please respect copyright.PENANAuAp2acTnS6
"J-Judy..."
153Please respect copyright.PENANAShuWXS4hdU
Suaraku tercekat di tenggorokan, gemetar hebat menahan rasa syok yang mendadak melumpuhkan seluruh tubuhku. Di bawah siraman cahaya pagi yang terang benderang dari arah dapur, jemari tangan kirinya mencengkeram sebuah gunting kecil bergagang merah jambu. Kilatan logam tajam di ujung gunting itu memantulkan cahaya lampu apartemen, berkilau dingin tepat di depan wajahku seolah siap mewujudkan ancaman sadisnya tadi malam tanpa sedikit pun keraguan.
153Please respect copyright.PENANAl4ji1WQUOc
Tuntutannya menyambar telak, membuatku refleks menatap lurus ke arah jemarinya yang sedang menggenggam alat pemotong itu tepat di depan mataku. Butiran keringat dingin berukuran besar seketika merembes keluar membanjiri pelipis dan keningku sewaktu aku menyadari posisi maut yang kini sedang mengintai kejantannanku.
153Please respect copyright.PENANAf5WzT5ZRo8
"Tenanglah, aku akan belikan!"
153Please respect copyright.PENANA6xf9pyBsxB
Pekikan panik lolos begitu saja dari belahan bibirku sewaktu aku mendongakkan kepala dengan wajah pucat padam dan mata membelalak lebar seolah mau copot. Jantungku berpacu gila-gilaan menatap ujung tajam gunting yang dipegangnya, meratapi keteledoranku yang melupakan es krim pesanannya dan mencoba menawar waktu demi menyelamatkan aset paling berharga dalam hidupku dari amukan gadis gila ini.
153Please respect copyright.PENANA0jDtXjl29m
Aku hanya bisa meringis pasrah dengan bibir yang terbuka kaku di atas bantal sofa bermotif geometris abu-abu, mengatupkan gigi rapat-rapat menahan luapan kepanikan yang luar biasa. Butiran keringat dingin berukuran besar membanjiri seluruh area dahi, pipi, hingga ke leher kaus abu-abuku seiring dadaku yang naik turun berdegub kencang menatap sosoknya yang berada tepat di atasku.
153Please respect copyright.PENANA8iLVm1RJzs
Bukannya melunakkan amarah karena janjiku, gerakan tangan Judy justru semakin agresif dan tak terduga. Dengan satu sentakan cepat menggunakan tangan kirinya, ia langsung menyambar ujung selimut bermotif geometris abu-abu yang menutupi bagian bawah tubuhku dan menariknya ke atas hingga desiran kainnya terdengar kencang, tersingkap sepenuhnya di udara. Atasan tank top putih tipis bertuliskan CRUSH miliknya meregang kencang menonjolkan belahan payudaranya yang padat saat ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku dengan sepasang mata bulat yang memancarkan ekspresi dingin tanpa ampun.
153Please respect copyright.PENANACZqQtMtltj
Namun, tepat setelah selimut itu tersingkap, gerakan Judy seketika membeku kaku di tempat. Alisnya yang semula menukik tajam mendadak mendatar, digantikan oleh sepasang mata yang membelalak lebar dengan mulut yang sedikit terbuka karena terkejut setengah mati. Sepasang matanya terpaku lurus menatap ke arah bagian bawah tubuhku di balik celana, menyadari sebuah reaksi biologis yang tidak bisa kusembunyikan di balik siraman cahaya fajar pagi ini yang langsung memotong seluruh rentetan amarahnya dalam sekejap mata.
153Please respect copyright.PENANAQVGsXo8iut
Pemandangan di balik selimut yang tersingkap itu benar-benar mengkhianati rasa takutku. Di balik celana panjang kaus abu-abu gelap yang kukenakan, penisku tampak menegang keras, mencuat tegak membentuk gundukan tenda yang sangat besar dan kentara di area selangkangan. Reaksi alami tubuh khas laki-laki di pagi hari itu berdiri kokoh menantang arah pandangannya, menghancurkan sisa-sisa wibawa intimidasi yang coba ia bangun sejak tadi.
153Please respect copyright.PENANAJNz82Q2NcM
"K-kenapa kau malah ngaceng?!"
153Please respect copyright.PENANATaybK5G0Pa
Gagapan tak terduga itu lolos begitu saja dari belahan bibir Judy yang terbuka lebar. Kemarahan berapi-apinya dalam sekejap meleleh, berganti dengan luapan rasa canggung erotis yang luar biasa hebat. Wajah cantiknya yang mencondong ke depan seketika merona merah padam; garis-garis kemerahan yang pekat menjalar cepat memenuhi kedua pipi hingga ke hidungnya sewaktu ia membeku menatap tonjolan di selangkanganku. Butiran keringat halus mulai merembes keluar di pelipisnya seiring sepasang matanya yang bulat membelalak gugup, menatapku dengan kombinasi rasa syok dan salah tingkah yang amat sangat.
153Please respect copyright.PENANAgg7qfHFmTG
"Karena aku baru bangun tidur..."
153Please respect copyright.PENANAMJDxjhWNCG
Pembelaan lirih yang sepenuhnya pasrah itu meluncur begitu saja dari mulutku, meratapi pengkhianatan biologis tubuhku sendiri yang justru mengeras tegang di saat sebilah gunting maut sedang mengancam keberadaannya di tengah keheningan ruang tengah pagi ini.
153Please respect copyright.PENANACmFjF7yJL3
Aku hanya bisa mengubah posisiku menjadi duduk menyandarkan punggung pada bantalan sofa, menundukkan kepala dengan raut wajah yang sepenuhnya pasrah dan malu. Sepasang mataku menatap kosong ke arah lantai keramik abu-abu, sementara tonjolan besar di balik celana panjang kaus abu-abu gelapku masih mencuat tegak tanpa bisa diredam, mengekspos pengkhianatan biologis tubuhku di bawah siraman cahaya pagi. Beberapa butir keringat dingin masih merembes di pelipisku akibat sisa ketegangan yang bercampur aduk dengan rasa canggung.
153Please respect copyright.PENANAcWJvKEjTWX
"Kau ini hewan kah?! Dikit-dikit horny!!"
153Please respect copyright.PENANARTZSMuxRIN
Makian ketus Judy kembali menggema di dalam ruangan, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya sendiri yang mendadak memuncak setelah melihat reaksiku. Dari balik dinding apartemen yang berdiri kokoh di bawah cerahnya langit pagi, pertengkaran konyol kami terus berlanjut memecah keheningan kompleks luar.
153Please respect copyright.PENANAlwab9Zqqad
"Tapi... mau gimana lagi..."
153Please respect copyright.PENANAlU3OjHYqrj
Pembelaan lirihku terdengar sangat putus asa, meratapi kenyataan bahwa respons alami tubuh pria di fajar hari bukanlah sesuatu yang bisa kukendalikan dengan logika.
153Please respect copyright.PENANARSL5alskUd
"Njirlah, napasmu jadi sangat berat."
153Please respect copyright.PENANAN0WYzmVon7
Gumam kejengkelannya menjadi penutup momentum canggung tersebut. Judy melangkah mundur dengan urat saraf kekesalan yang masih kentara, membiarkan atmosfer di dalam ruang tengah apartemen kembali diselimuti oleh kecanggungan erotis yang berat seiring napasku yang masih memburu tidak beraturan menahan rasa malu yang amat sangat.
153Please respect copyright.PENANAQfSWgrCgtp
Malam kembali berganti, menyelimuti kompleks gedung apartemen bertingkat yang berdiri kokoh di bawah langit gelap gulita. Bulan purnama yang bersinar terang benderang menggantung statis di antara taburan bintang, memancarkan cahaya keperakan yang sunyi ke arah jendela-jendela unit yang sebagian besar sudah meredup.
153Please respect copyright.PENANA1vHGGQFfkr
Aku akan mengusir dia dari rumahku..!
153Please respect copyright.PENANA9V0kyXsNOH
Tekad bulat yang sempat hancur dan ternoda oleh kecanggungan sepanjang hari itu kini mendadak bangkit kembali dengan intensitas yang jauh lebih kuat. Aku berdiri tegak membelakangi ruangan, tepat di depan pintu keluar apartemen yang tertutup rapat di bawah temaram lampu selasar. Sebuah tas ransel hitam tebal bertuliskan logo segitiga sudah bertumpu kokoh di kedua pundakku, menandakan kesiapanku untuk menghadapi segala konsekuensi demi merebut kembali hak milikku yang sah.
153Please respect copyright.PENANAGMcwbhBSRw
Aku akan melakukannya, dengan cara apapun.....!
153Please respect copyright.PENANAqOas9fhD6x
Sorot mataku menajam seketika, terpaku lurus menatap daun pintu di depanku dengan tatapan penuh kepastian yang tak tergoyahkan. Alis pendekku menukik tegas di atas sepasang mata yang memancarkan kilat keseriusan mutlak, sementara beberapa butir keringat dingin tipis tampak merembes di sekitar pelipis dan pipiku. Kegugupan dan rasa takut akan ancaman gunting atau pesona erotis gadis gila itu telah sepenuhnya kukubur dalam-dalam; malam ini, petualangan baruku untuk menendangnya keluar dari zona nyamannya resmi dimulai.
153Please respect copyright.PENANA56Z89nrSPY
Tanpa ragu sedikit pun, aku mengulurkan tangan kananku ke depan. Jemariku langsung mencengkeram kuat permukaan tuas gagang pintu logam abu-abu gelap, bersiap untuk membukanya demi menjalankan rencana besarku malam ini.
153Please respect copyright.PENANAiCpet86rjb
Tunggu, aku belum siap!
153Please respect copyright.PENANAGV7rtHkYmp
Namun sebelum tanganku sempat menekan tuas tersebut, tuas gagang pintu itu mendadak bergerak turun dengan sendirinya dari arah luar disertai bunyi klik mekanis yang berat. Suara benturan mekanisme kunci logam yang keras seketika bergema di selasar yang sunyi, membuat jemari tanganku refleks tersentak mundur di udara karena terkejut setengah mati. Seberkas cahaya terang dari lorong luar langsung menerobos masuk melalui celah pintu yang mulai terdorong terbuka lebar.
153Please respect copyright.PENANAPG2VXN47FU
"Ah!"
153Please respect copyright.PENANAxybFmsRxZJ
Pekikan pelik itu lolos begitu saja saat daun pintu terbuka sepenuhnya. Saraf-saraf di sekujur tubuhku mendadak membeku kaku dengan butiran keringat dingin yang langsung merembes deras di pelipis dan leherku. Di ambang pintu, di bawah siraman cahaya lorong, berdiri seorang gadis berambut pirang panjang lurus dengan poni yang tertata rapi.
153Please respect copyright.PENANAdN3VV8cIBD
Gadis itu memiliki sepasang mata bulat berwarna ungu yang jernih, menatapku lurus dengan ekspresi datar yang polos namun menyiratkan rasa heran. Rona merah samar menghiasi kedua pipinya yang mulus sewaktu ia mendapati aku sudah berdiri menghadangnya di depan pintu dengan tas ransel yang masih bertengger di pundak, memotong total momentum keberanianku dalam sekejap mata.
153Please respect copyright.PENANAZDx2TjWZEc
"Judy dan aku sedang minum, ayo gabung!" kata Maddie.
153Please respect copyright.PENANA6XDMfoLi1M
"Huh? Okay..."
153Please respect copyright.PENANAZvFNbWpDhD
Gumam kebingungan itu keluar begitu saja dari celah bibirku saat aku berdiri terpaku di ambang pintu masuk. Rencana besarku untuk mengusir Judy malam ini seketika hancur berantakan setelah mendapati seorang gadis berambut pirang sudah berdiri di depanku, memegang mesra lenganku sembari tersennyum ramah. Di bawah siraman cahaya lampu selasar, posisi berdiri kami yang begitu rapat di atas lantai keramik abu-abu membuatku benar-benar mati kutu, tak mampu melangkah maju ataupun mundur.
153Please respect copyright.PENANAtupTlR6oQa
Waduh, payudaranya!!
153Please respect copyright.PENANARleTDMtHH8
Pikiran mesum itu mendadak meledak di dalam kepalaku seiring pandanganku yang refleks turun ke bawah. Dari jarak dekat ini, belahan dada gadis pirang itu terekspos dengan sangat padat dan kencang di balik balutan gaun merah muda ketat berpotongan rendah yang dikenakannya. Wangi tubuhnya yang menyeruak dipadukan dengan pemandangan vulgar tepat di depan mataku membuat sisa keberanianku menguap entah ke mana.
153Please respect copyright.PENANAU7wSJMkVD8
"Hey, jangan pikirin dia. Aku selalu benci dari caranya melihatku."
153Please respect copyright.PENANAdjS63hZa5J
"Okay..."
153Please respect copyright.PENANASXZYyz0vxB
Atmosfer tegang itu akhirnya mencair beberapa saat kemudian di dalam kamar. Di atas lantai kayu abu-abu, sebuah nampan biru bermotif polkadot putih menyajikan sepiring wafel kotak yang tertata rapi, dikelilingi oleh beberapa botol hijau Soju yang sebagian sudah kosong tergeletak di lantai.
153Please respect copyright.PENANApfLAe51Zwe
"Kau bisa melakukan banyak hal ya, Maddie," puji Judy santai.
153Please respect copyright.PENANAexl8V2d2aj
"Makasih, Judy," balas gadis pirang itu.
153Please respect copyright.PENANAE0V55G7WcS
Sementara mereka berdua asyik mengobrol sembari duduk bersila di atas lantai, aku hanya bisa duduk kaku di samping mereka sembari menenggak minuman dari cangkir kertas putih. Rona merah kecanggungan langsung menjalar memenuhi kedua pipiku disertai sebutir keringat dingin yang menetes di pelipis.
153Please respect copyright.PENANA6L7FfjDOWb
Aku melewatkan kesempatanku berbicara pada Judy...
153Please respect copyright.PENANAgn9QkUlhII
Pikiran pasrah itu meratapi kegagalanku untuk menegosiasikan kembali kontrak budak gila kami.
153Please respect copyright.PENANA9plmw363ZY
Ngomong-ngomong...
153Please respect copyright.PENANAkYn9hJxyO1
Kupikir payudaranya Judy sudah besar, tapi... punya temennya jauh lebih besar.
153Please respect copyright.PENANAtRASXxrsoH
Sembari terus meneguk minumanku untuk menutupi rasa salah tingkah, sepasang mataku diam-diam kembali membuat perbandingan nakal di dalam benak. Pandanganku bergeser dari dada Judy yang terbungkus kaus singlet bergaris biru-putih ketat, beralih sepenuhnya mengunci gundukan payudara Maddie yang luar biasa padat menonjol di balik gaun merah mudanya. Lekukan dada dewasanya yang sensual terpampang begitu nyata dalam jarak sedekat ini, membuat debaran jantungku kembali berpacu liar di tengah pesta minuman keras yang tak terduga malam ini.
153Please respect copyright.PENANAf1LL8jSFcS
Momen keheningan saat aku menatap dada Maddie mendadak pecah ketika Judy menoleh ke arahku. Di bawah lampu kamar, sepasang mata bulat milik Judy menatapku tajam dengan alis mendatar. Garis-garis merah kekesalan langsung menghias kedua pipinya yang mulus, menyadari ke mana arah pandanganku barusan.
153Please respect copyright.PENANA1gjk055ZeY
"Apa yang kau lihat?" tanya Judy ketus.
153Please respect copyright.PENANAfLZy6jO3kJ
Pffft!
153Please respect copyright.PENANAEz0wbTeA1A
Pertanyaan itu membuatku tersentak kaku hingga menyemburkan sedikit minuman dari cangkir kertas putih yang kupegang. Aku membelalak panik dengan butiran keringat dingin yang mendadak bercucuran deras membasahi dahi dan pipiku. Dari posisi duduk di seberang mereka, aku berusaha keras menyembunyikan rasa salah tingkahku yang tertangkap basah.
153Please respect copyright.PENANAMxMh9H6qgn
"Bukan apa-apa kok..." gumamku lirih sembari memalingkan wajah. Setitik keringat dingin mengalir di pipiku yang terasa panas akibat malu.
153Please respect copyright.PENANAPUulWEZgIY
"Kau pasti mikirin hal itu kan? Dasar cowok menjijikkan! Ambilin aku minum!" bentak Judy dengan alis menukik tajam penuh kejengkelan. Rona merah di pipinya semakin pekat, sementara tangannya yang bebas bersedekep kaku menonjolkan bagian dadanya yang terbalut kaus singlet bergaris.
153Please respect copyright.PENANAOwT6r0s6h4
"O-okay..."
153Please respect copyright.PENANAIKBh1zwRbi
Aku hanya bisa pasrah menerima perintahnya. Sembari tanganku bergerak mengambil botol hijau Soju yang tergeletak di lantai, hatiku terus menggerutu meratapi nasib gila malam ini.
153Please respect copyright.PENANAQq0inmiQ0F
Njir, kok malah jadi seperti ini sih... Aku harus mengusirnya segera!
153Please respect copyright.PENANAiIVkDNKuqe
Garis-garis merah kemarahan bercampur malu kini ikut membakar wajahku yang basah oleh keringat dingin. Aku meremas botol Soju itu erat-erat, bertekad mencari celah untuk bisa terlepas dari dominasi gadis kejam ini.
153Please respect copyright.PENANAdBXmKlXWdM
"Oh iya, apa kau punya pacar, Sean? Aku barusan putus sama cowokku!" ucapan Maddie tiba-tiba memecah ketegangan. Gadis berambut pirang itu menoleh ke arahku dengan ekspresi kasual seolah pertanyaan sensitif tersebut adalah hal biasa.
153Please respect copyright.PENANAALP1D8FBdE
"Hah? A-aku belum punya sih," jawabku terbata-bata dengan mata membelalak heran. Pipi sebelah kiriku mendadak kembali memerah samar disertai rembesan keringat dingin baru yang muncul di pelipis akibat tidak siap menerima pertanyaan frontal dari gadis seseksi Maddie.
153Please respect copyright.PENANAKmlAcKB4Jv
Tapi... bukankah kamu tadi malam asyik berhubungan intim sama cowokmu?
153Please respect copyright.PENANAtd6x28CMo3
Pikiran ganjil itu melintas begitu saja di kepalaku, mengingat keributan yang sempat kudengar sebelumnya.
153Please respect copyright.PENANABHCFOTjKmG
Judy yang duduk di samping Maddie langsung melirik temannya dengan senyuman miring yang meremehkan. Butiran keringat canggung tampak masih menempel di pipi merahnya saat ia bertanya, "Maddie, apa yang kau lihat dari dia?"
153Please respect copyright.PENANAMvN5xSfgVL
Maddie hanya menatap Judy dengan wajah polos dan rona merah tipis di pipinya. "Kenapa? Dia imut loh," balas Maddie santai, membuat gundukan payudaranya yang besar kembali bergoyang samar di balik potongan gaun merah mudanya yang ketat, meninggalkan atmosfer kamar yang semakin dipenuhi intrik kecanggungan erotis di antara kami bertiga.153Please respect copyright.PENANAVuv6pQft0u


