Wajah cantiknya kini berada sangat dekat, dengan rambut hitam yang terikat acak-acakan membingkai senyuman miring yang penuh kemenangan di bibirnya. Tatapan matanya yang bulat berkilat jenaka, mengunci pandanganku yang membeku kaku dengan rona merah padam yang menjalar hebat di sekujur wajahku, menikmati kepasrahan mutlak dari rahasia bejatku yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
213Please respect copyright.PENANA5ny2N7KDH1
"Mulai sekarang kau akan menuruti apa yang kuinginkan, oke?"
213Please respect copyright.PENANAOjU7m72q24
Judy sedikit mendongakkan wajah cantiknya, memperlebar senyuman penuh kemenangan yang terukir di bibirnya yang kemerahan. Tatapan matanya yang bulat berbinar tajam dengan kilatan dominasi yang mutlak. Helaian rambut hitamnya yang terikat berantakan membingkai pipinya yang masih menyisakan rona merah samar, sementara tali tank top putih tipisnya melorot sedikit di bahunya seiring posisi tubuhnya yang condong mengunci seluruh gerakanku di atas lantai keramik yang dingin.
213Please respect copyright.PENANAeoXeVzu5tQ
"Kau mau aku melakukan semua yang kau katakan?"
213Please respect copyright.PENANAxklMQQSHao
Suaraku terdengar sedikit bergetar saat aku bertanya dari posisi merangkak kaku di lantai keramik abu-abu apartemen. Aku menatapnya yang duduk berjongkok di hadapanku dengan lutut terbuka lebar, mengenakan tank top putih tipis dan celana pendek ungu yang memperlihatkan lekuk tubuh intimnya dengan begitu dekat. Judy tidak langsung menjawab, melainkan hanya mengulas senyum miring yang penuh kemenangan di bibirnya. Tatapan matanya yang bulat tampak berkilat jenaka di bawah temaram lampu dapur mini, mengunci ekspresi wajahku yang memerah pasrah tanpa memberikan ruang sedikit pun bagiku untuk membantah keinginannya.
213Please respect copyright.PENANAN1n2FuqZOR
Jantungku berdegup kencang, berpacu liar memukul rongga dada seiring dengan kesepakatan mutlak yang akhirnya tertulis secara gamblang di atas selembar kertas putih kaku, mengunci seluruh kebebasanku di bawah ancaman yang tidak bisa kuhindari. Judul besar tertera di bagian atas permukaan kertas tersebut dengan cetakan huruf yang kaku dan tegas.
213Please respect copyright.PENANAtz78ChaQdJ
KONTRAK BUDAK
213Please respect copyright.PENANAb09660xUHd
Isi dari lembaran itu tertulis dengan sangat mendetail, membagi setiap poin tuntutan yang harus kupenuhi tanpa celah.
213Please respect copyright.PENANAQ9RSzykWqn
KONTRAK BUDAK
213Please respect copyright.PENANA7p6dxTWpbC
SEAN KIM ADALAH BUDAK JUDY
213Please respect copyright.PENANAezdyzbedYO
JIKA SEAN GAGAL MEMENUHI PERINTAH DARI JUDY, MAKA JUDY AKAN MENGATAKAN SEMUANYA PADA LUKE
213Please respect copyright.PENANAOrLmmU6F3h
SEAN AKAN MELAKUKAN APAPUN YANG DIPERINTAHKAN OLEH JUDY
213Please respect copyright.PENANABP5LuppUTz
Di bagian bawah kertas, tertulis kolom nama penanggung jawab dan pihak yang terikat. Nama Pemilik diisi oleh Judy dengan goresan tanda tangan melingkar yang tampak acak-acakan di sampingnya. Tepat di bawahnya, kolom Budak tertulis atas namaku, Sean.
213Please respect copyright.PENANAMaWRws18tX
Jemariku yang gemetar bergerak lambat, memegang sebuah pulpen hitam dengan ujung logam yang terasa dingin di antara selipan jariku. Dengan tarikan napas panjang yang terasa sangat berat menekan dada, aku menggoreskan ujung tinta di atas permukaan kertas, membubuhkan tanda tangan garis meliukku secara pasrah tepat di samping namaku. Lembaran kesepakatan itu kini resmi mengikatku, menandai awal dari hilangnya kendali atas hidupku sendiri di dalam apartemen ini.
213Please respect copyright.PENANA1xRiodHVaa
Aku perlahan mengangkat pulpen hitam dari atas permukaan kertas, menjauhkan ujung logamnya dengan gerakan tangan yang terasa kaku dan berat.
213Please respect copyright.PENANAvFdegQNdUI
"Judy... aku sudah menandatangani kontraknya..."
213Please respect copyright.PENANAOxVmjMk6W8
Suaraku terdengar pelan dan pasrah saat aku berbicara dari posisi berlutut di atas lantai keramik abu-abu. Aku menundukkan tubuh bagian atas, bertumpu pada lutut dan satu tanganku di lantai, menatap lembaran kertas putih yang kini tergeletak di hadapanku. Di sudut sofa kulit krem, Judy duduk bersandar dengan santai, memperhatikan gerak-gerikku dari atas.
213Please respect copyright.PENANAdr8wXtfw0T
"Sudah?"
213Please respect copyright.PENANAZRLDHDZCGs
Judy menyahut singkat, suaranya mengalun datar tanpa beban. Ia mengubah posisi duduknya di atas sofa kulit krem, menyilangkan kedua kakinya yang mulus hingga celana pendek ungu tipisnya tersingkap sedikit, sementara lengannya bersendekep erat di bawah dada. Tank top putih ketat bertuliskan CRUSH membungkus padat payudaranya sewaktu ia menatapku dengan sorot mata yang penuh kendali.
213Please respect copyright.PENANAKItUQZcWUF
"Kalau begitu lepas celanamu."
213Please respect copyright.PENANAXKat497k0I
Perintah lugas itu meluncur begitu saja dari bibir Judy, memecah keheningan ruangan dengan intonasi yang dingin dan tidak menerima bantahan.
213Please respect copyright.PENANArYm1RRHQzD
Aku seketika mematung, kepalaku mendongak kaku menatap wajah cantiknya yang dibingkai rambut hitam terikat berantakan. Tatapanku terpaku dengan rahang yang sedikit terbuka dan mata membelalak lebar karena terkejut. Saraf-saraf di sekujur tubuhku menegang hebat, sementara rona merah padam mulai menjalar kembali memenuhi pipiku yang basah oleh sisa keringat dingin, menyadari sepenuhnya bentuk kepatuhan pertama yang harus kuberikan di bawah ikatan kontrak gila ini.
213Please respect copyright.PENANA1UPIxG0CeK
"A-apa?!"
213Please respect copyright.PENANA6PKfSAQ0Ll
Pekikan kaget meluncur begitu saja dari tenggorokanku yang mendadak tercekat. Aku tersentak kaku di tempat dudukku di atas lantai, menatap ke arah meja kerja di belakang dengan rahang yang setengah terbuka dan mata membelalak lebar, tak percaya dengan tuntutan vulgar yang baru saja melintasi indra pendengaranku. Butiran keringat dingin berukuran besar seketika merembes keluar dari pori-pori kulit dahiku, mengalir melewati pelipis dan membasahi rambut hitamku yang berantakan.
213Please respect copyright.PENANAXU14pkFQ7a
"Kau gak denger? Buka celanamu, budak!"
213Please respect copyright.PENANARGm8TQpU4s
Judy mencondongkan wajah cantiknya ke depan, menatapku lurus-lurus dengan seulas senyuman miring yang begitu mengintimidasi sekaligus provokatif. Sorot matanya yang bulat tampak berkilat penuh dominasi mutlak, benar-benar menikmati kepanikan yang terpancar jelas di wajahku. Tali tank top putih tipisnya yang longgar sedikit meregang di sekitar bahunya sewaktu ia menegaskan perintah gila itu tanpa sedikit pun keraguan.
213Please respect copyright.PENANANEl7NkNlbe
"Tapi... aku gak bisa melakukan hal itu..."
213Please respect copyright.PENANAyDaBC5wpkm
Suaraku terdengar sangat lirih dan serak, keluar dengan nada gemetar yang pasrah dari posisi bersujud kaku di dekat kaki sofa kulit krem tempatnya bersandar. Aku menatap sosoknya dengan wajah yang memerah padam karena rasa malu yang teramat sangat, mencoba mencari sedikit belas kasihan di tengah kepungan harga diriku yang kian runtuh.
213Please respect copyright.PENANA9Gq3uia3bN
"Kenapa tidak?" Judy menyahut dingin, tetap mempertahankan posisi duduknya yang angkuh dengan melipat kakinya yang mulus di atas sofa kulit, mengunci seluruh pembelaanku dengan sebuah pertanyaan pendek yang mematikan, menuntut kepatuhan total atas lembaran kontrak yang baru saja kububuhi tanda tangan. "Bukankah tadi celanamu terbuka saat melihatku?"
213Please respect copyright.PENANAfU1DSIHSyY
Suara Judy terdengar sangat santai namun menusuk, membuatku langsung tergagap kaku.
213Please respect copyright.PENANAzz8mY2IDdI
"G-gak, aku..."
213Please respect copyright.PENANAkv1jWEZtQG
"Kau juga menyentuh punyamu sendiri!!"
213Please respect copyright.PENANAx2P9lJwAb8
Tuduhan telak itu meluncur dari bibirnya, membuatku mendadak menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahku terasa terbakar hebat, rona merah padam menjalar memenuhi seluruh pipi dan keningku seiring dengan urat kekesalan samar yang berkedut di pelipis. Butiran keringat dingin bercucuran semakin deras melewati pelipis dan membasahi rambut hitamku yang berantakan. Aku hanya bisa mematung kaku di depan sofa, meremas jemariku sendiri karena tidak mampu lagi menyusun kata untuk membantah kebenaran yang memalukan itu.
213Please respect copyright.PENANAmPfaRZ1ejp
"Okelah kalau kau gak mau..."
213Please respect copyright.PENANAifuPOJrwcn
Judy mendadak mengubah intonasi suaranya menjadi sangat ringan, seolah-olah ia menyerah begitu saja dengan keputusasaanku. Namun, gerakan tubuhnya seketika membuat jantungku hampir copot. Ia kembali meraih ponsel hitam dengan logo apel tergigit miliknya, menempelkan benda itu ke telinga kirinya dengan gerakan santai yang sangat provokatif sembari bersandar di sofa kulit krem. Atasan tank top putih tipis bertuliskan CRUSH meregang kencang menonjolkan belahan payudaranya yang padat saat ia memiringkan kepala, menatapku lurus dengan seulas senyuman licik yang membingkai wajah cantiknya, bersiap melakukan ancaman yang paling kutakuti jika kepatuhanku tidak segera diberikan.
213Please respect copyright.PENANAgf5fLlnPwF
Gadis ini benar-benar licik!
213Please respect copyright.PENANAvUHrEnOtKg
Umpatan itu merayap hebat di dalam benakku, membakar sisa harga diri yang masih kupertahankan. Aku menatap sudut bibir ranumnya yang terbuka sedikit, menempelkan ponsel pintar berwarna hitam itu ke telinganya dengan ketenangan yang menyiksa, memojokkanku tanpa ampun.
213Please respect copyright.PENANAV82HyEBPS7
"Ugh!"
213Please respect copyright.PENANAQXIFQGMCqC
Dorongan kepanikan yang mutlak membuat tubuhku bergerak di luar kendali logikaku sendiri. Dengan satu sentakan cepat, aku langsung melompat berdiri dari posisi berlutut di lantai. Jemari tangan kananku mencengkeram erat pinggiran karet celana panjang kaus abu-abu gelap yang kukenakan, menariknya ke bawah secara agresif hingga melewati batas pinggul dan membiarkannya merosot kaku ke bawah paha, sekaligus ikut melorotkan celana dalamku.
213Please respect copyright.PENANAWbLuUCm93p
Pemandangan mendadak itu seketika membuat ketegangan di antara kami berbalik. Judy yang semula bersandar angkuh langsung tersentak mundur, menyandarkan punggungnya ke bantal sofa kulit dengan mata membelalak lebar dan mulut terbuka mendadak karena terkejut. Kedua telapak tangannya terangkat kaku di depan dada tank top putih bertuliskan CRUSH miliknya, menatap lurus ke arah bagian bawah tubuhku yang kini terekspos sepenuhnya tanpa sehelai benang pun tepat di hadapan wajahnya.
213Please respect copyright.PENANAK1kloR6wue
"Njir..."
213Please respect copyright.PENANATVo56z9EYV
Gumam lirih itu lolos begitu saja dari belahan bibir Judy yang sedikit terbuka. Wajah cantiknya seketika merona merah padam, gumpalan warna kemerahan yang pekat menjalar cepat memenuhi kedua pipinya sewaktu ia membeku di atas sofa kulit. Sepasang matanya membelalak lebar, memancarkan kombinasi rasa terkejut dan gugup yang amat sangat menatap lurus ke arah depanku.
213Please respect copyright.PENANAoQ6tVeT1e9
Tepat di hadapan wajahnya yang terpaku, penisku yang sudah menegang keras kini terayun pelan di udara, menggantung sepenuhnya bebas setelah celana panjang kaus abu-abu gelapku melorot turun tertahan di pangkal paha. Siluet kejantananku yang panas dan berdenyut samar itu tampak begitu nyata dan vulgar di bawah siraman temaram lampu apartemen, bergoyang mengikuti ritme napasku yang masih memburu tidak beraturan.
213Please respect copyright.PENANA362TxYeo0J
Judy perlahan mengalihkan pandangannya sedikit ke arah samping, mencoba memutus kontak visual langsung yang terasa begitu intim dan menyesakkan tersebut. Namun, rona merah di pipinya justru semakin matang dan memanas, butiran keringat halus mulai merembes keluar di sekitar pelipis dan lehernya sewaktu tali tank top putih tipisnya bergoyang pelan mengikuti helaan napasnya yang kian berat menahan gejolak kecanggungan yang mendadak menguasai ruang tengah.
213Please respect copyright.PENANAMLrdHrTacc
"Siapa yang menyuruhmu lepas dalamannya juga, dasar bodoh!"
213Please respect copyright.PENANAiaPKKomgEF
Judy mendadak berteriak dengan wajah yang memerah padam karena rasa malu yang meluap. Tubuhnya bergerak menyentak dari atas sofa, mengangkat kaki kanannya dan melayangkan tendangan telak yang mendarat pas di pantatku yang telanjang. Satu tangannya mencengkeram pinggiran celana pendek ungunya sendiri sewaktu ia meluapkan amarahnya.
213Please respect copyright.PENANA2RfgUsnYOS
"Ow! Kau bilang nyuruh lepas!"
213Please respect copyright.PENANAMYxEWDLJyn
Aku memekik kesakitan, tubuhku terdorong ke depan dengan posisi menunduk kaku menahan hantaman kakinya di pantatku, sementara celana panjang kaus abu-abu gelapku masih melorot kusut di sekitar pergelangan kaki.
213Please respect copyright.PENANAE99Aa8WjkQ
"Pakai lagi! Dasar jorok!"
213Please respect copyright.PENANAiFDZdUyyc5
Judy terus memaki tanpa membiarkanku membela diri. Dengan gerakan impulsif yang cepat, jemari tangannya meraih bantal sofa bermotif geometris abu-abu di dekatnya lalu melemparkannya secara agresif ke arah wajahku. Bantal itu melesat cepat di udara dan langsung menghantam telak bagian depan kepalaku, membuat pandanganku tertutup sepenuhnya oleh kain bantal yang tebal.
213Please respect copyright.PENANAaNvKgKIU9P
"Pakai... pakai lagi celanamu!"
213Please respect copyright.PENANA9Iq0FAWWFK
Judy berteriak histeris sembari mengangkat satu tangannya di depan wajah, memalingkan pandangannya ke arah lain dengan urat saraf kemarahan yang berkedut jelas di pelipisnya. Rambut hitamnya yang dikuncir berantakan bergoyang seiring napasnya yang memburu hebat karena rasa canggung yang amat sangat.
213Please respect copyright.PENANA4LyhbVmJMj
"Ugh! Menjijikkan, aku mau tidur dulu."
213Please respect copyright.PENANAYCi6PPnWTl
Kalimat ketus itu menjadi salam penutupnya malam ini. Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar di atas lantai keramik, ia segera membalikkan badannya yang terbalut tank top putih tipis bertuliskan CRUSH, melangkah cepat meninggalkan aku yang masih kebingungan memegangi bantal di tengah ruang tengah yang kembali sunyi.
213Please respect copyright.PENANA05jokjgfG4
Aku hanya bisa berdiri mematung membelakangi lorong sembari buru-buru menarik kembali celana dalam dan celana panjang kaus abu-abu gelapku ke atas pinggul. Dari sudut mata, aku melihat punggung Judy yang terbalut tank top putih tipis bergerak menjauh dengan langkah kaku, bokongnya yang terbungkus celana pendek ungu ketat bergoyang pelan seiring langkahnya yang tergesa-gesa mendekati ambang pintu kamar. Butiran keringat dingin masih tersisa di pelipis dan leherku, membuatku tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
213Please respect copyright.PENANAkva9DmBYks
Tepat sebelum jemarinya meraih gagang pintu, Judy mendadak menghentikan langkahnya dan memutar setengah tubuhnya ke arahku, memberikan tatapan tajam yang menusuk. Wajah cantiknya menoleh ke belakang, membingkai sepasang mata bulat yang menatapku lurus dengan sorot mata yang sangat mengintimidasi. Pipi mulusnya masih merona merah padam akibat sisa gejolak kecanggungan erotis yang baru saja terjadi di antara kami.
213Please respect copyright.PENANAziQyn26fR3
"Kalo sampe gak ada es krim saat aku bangun nanti, aku akan memotong burungmu."
213Please respect copyright.PENANANPOrtgycXB
Ancaman sadis itu meluncur begitu saja dengan intonasi yang dingin dan penuh penekanan dari celah bibirnya. Aku seketika menelan ludah dengan susah payah, merasakan sensasi ngilu yang mendadak menyengat penisku di balik celana.
213Please respect copyright.PENANARtducnHcF5
Belum sempat aku merespons, ia langsung berbalik secepat kilat dan melangkah masuk ke dalam kamar, lalu membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman nyaring yang menggema di seluruh sudut apartemen yang sunyi.
213Please respect copyright.PENANAPQmCx8JihB
Aku hanya bisa terpaku menatap pintu kayu cokelat yang kini telah tertutup rapat di depanku. Kepala belakangku yang berambut hitam berantakan terasa kaku, sementara beberapa butir peluh terakhir menetes melewati tengkukku yang menegang. Aku berdiri mematung di tengah ruangan setelah dentuman pintu kamar Judy mereda. Kedua lenganku tergantung lemas di sisi tubuh seiring pandanganku yang menunduk kosong menatap lantai keramik abu-abu. Tak jauh di depanku, lembaran kertas putih berisi kontrak budak itu tergeletak begitu saja dengan sebuah pulpen yang berada di dekatnya, seolah mengejek nasibku.
213Please respect copyright.PENANApkR6DaCZfx
"Sialnya hidupku."
213Please respect copyright.PENANAJV3QtfrZyd
Bisikan keputusasaan itu lolos begitu saja dari celah bibirku yang mendadak terasa kelu. Mataku menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong yang sepenuhnya kehilangan semangat hidup. Setitik keringat dingin mengalir lambat melewati pipiku yang pucat, meratapi kenyataan pahit bahwa malam ini aku tidak hanya kehilangan harga diriku, tetapi juga resmi menyerahkan seluruh kebebasan hidupku ke tangan gadis gila itu.213Please respect copyright.PENANA3LmmRgpGFG


