Di lantai lorong, Judy semakin menurunkan tubuhnya. Ia merendahkan dadanya hingga hampir menyentuh lantai keramik, menekuk kedua sikutnya untuk mendekatkan wajah ke arah ceceran cairan kental milikku. Rambut hitamnya yang diikat acak-acakan menjuntai ke bawah, helai-helainya hampir menyentuh genangan putih pekat tersebut. Ia menghirup dalam-dalam, mengendus cairan itu dengan saksama, menggerakkan hidungnya pelan untuk mengenali aroma asing yang mendadak muncul di depan pintu kamarnya.
320Please respect copyright.PENANAL7a4eP5ADV
Judy terdiam mematung dalam posisi merangkak yang intim itu. Matanya yang tersembunyi di balik helaian rambut hitam menatap lekat-lekat pada bercak putih yang mengilat di bawah cahaya lampu. Napasnya yang hangat berembus pelan di atas cairan tersebut, menciptakan keheningan panjang yang mengekam di antara kami. Ia tidak bersuara sedikit pun, tetap membiarkan wajahnya berada hanya beberapa sentimeter di atas lantai, mencoba mencerna keanehan aroma pemutih khas sperma yang baru saja diendusnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
320Please respect copyright.PENANAdEYSIyYytd
Judy perlahan mengangkat wajahnya dari lantai, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengalihkan pandangan tajamnya ke arah ruang tengah. Rambut hitamnya yang berantakan tergerai menutupi sebagian pipinya yang masih kemerahan, sementara tatapan matanya berubah menjadi dingin dan penuh selidik, langsung menusuk ke arah sofa tempatku bersembunyi.
320Please respect copyright.PENANAfuuEHNS3f7
Aku langsung membalikkan tubuhku dengan cepat di atas sofa, menarik selimut bermotif geometris abu-abu hingga menutupi seluruh punggung dan kepalaku, berpura-pura tidur dalam posisi meringkuk kaku menghadap dinding.
320Please respect copyright.PENANAjH3TS29HF7
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku sedang tertidur. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku sedang tertidur..."
320Please respect copyright.PENANAc2fN4iDjjZ
Kalimat itu terus kurapalkan berulang-ulang seperti mantra di dalam pikiranku yang berdegup kencang tak beraturan. Keringat dingin merembes membasahi bantal saat sebuah bayangan hitam panjang perlahan bergerak mendekat, berayun pelan di atas selimutku seiring dengan langkah kaki yang mendekati sofa.
320Please respect copyright.PENANAw3OKB0wg1H
Sebuah suara dingin yang datar tiba-tiba memecah keheningan malam tepat di atas kepalaku.
320Please respect copyright.PENANAoOxJZLSxp3
"Gak usah bertingkah lagi tidur kau ya, brengsek"
320Please respect copyright.PENANACeCPLowDrT
Judy berdiri tepat di sisi sofa, bersedekap kedua lengannya di bawah dada dengan gestur yang sangat intimidatif. Tank top putih tipis bertuliskan CRUSH itu meregang kencang, menonjolkan belahan payudaranya yang padat yang naik turun seiring napasnya yang mulai stabil. Rambut hitamku yang diikat berantakan membingkai wajahnya yang kini dihiasi seringai tipis penuh kemenangan, lengkap dengan urat kemarahan samar yang berkedut di pelipisnya.
320Please respect copyright.PENANAOEBey2903I
Aku tetap bergeming di balik selimut bermotif geometris abu-abu, menyembunyikan wajahku dalam-dalam ke atas bantal. Butiran keringat sedari tadi terus merembes keluar dari pori-pori kulitku, membasahi dahi dan rambut hitamku yang menempel kaku. Jantungku berpacu begitu bising di dalam rongga dada, membuatku harus menahan napas sekuat tenaga agar sandiwara bodoh ini tidak buyar.
320Please respect copyright.PENANA9tHlTU7lYm
"..."
320Please respect copyright.PENANAY2EkIvh7CC
"Oh, jadi kau tetap berpura-pura tidur?"
320Please respect copyright.PENANApBZ2uPVWas
Suara Judy terdengar sangat dekat, bergetar pelan di atas kepalaku bersamaan dengan langkah kakinya yang bergeser sedikit, menapak di atas lantai keramik abu-abu yang dingin tepat di samping sandaran sofa.
320Please respect copyright.PENANA9Jzvbtxv8J
"Kalo kau gak bangun sampe hitungan ke tiga, aku akan menendang biji burungmu."
320Please respect copyright.PENANAfcTT1ScTt4
Ancaman lugas itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang tersenyum miring. Aku tersentak kecil di balik kain selimut, merasakan sensasi ngilu yang tiba-tiba menjalar di selangkanganku, menyadari sepenuhnya bahwa posisi meringkukku saat ini sama sekali tidak aman dari jangkauan kakinya. Kepalaku dipenuhi kepanikan luar biasa seiring kesadaranku yang menegang kaku di balik selimut bermotif geometris abu-abu ini.
320Please respect copyright.PENANAHEIEsoMIfa
"Satu..."
320Please respect copyright.PENANAYulQOJU1TM
Suara Judy terdengar dingin dan datar, bergema pelan di ruang tengah yang remang. Dari balik kain selimut, aku tahu dia masih berdiri tegak di samping sofa dengan tangan bersendekep dada, menatapku tanpa ampun. Kain celana pendek ungu tipis yang melekat di pinggulnya bergoyang pelan seiring perubahan tumpuan kakinya yang bersiap mengambil ancang-ancang.
320Please respect copyright.PENANAucEjHyA9EM
"Dua..."
320Please respect copyright.PENANAkO34XcKNaa
Keringat dingin semakin deras mengalir membasahi dahi dan rambut hitamku. Otakku berputar cepat, mencoba menimbang situasi mengerikan yang sedang mengancam selangkanganku. Di tengah ketakutan yang amat sangat, ingatan tentang desahan Maddie dan pacarnya di kamar sebelah mendadak melintas, memicu gejolak kebingungan yang bercampur baur di dalam dadaku. Saraf-saraf di sekujur tubuhku menegang hebat, menghitung sisa detik yang terasa berjalan begitu lambat.
320Please respect copyright.PENANAjzdFT2Gp7B
"Tiga..!"
320Please respect copyright.PENANAvbqufE7rQE
Sentakan ketakutan yang luar biasa membuat tubuhku bergerak refleks. Aku langsung bangkit dan melempar selimut ke samping, memosisikan tubuhku terduduk menyandar pada bantalan sofa krem dengan gerakan menyentak yang kaku. Kedua mataku membelalak lebar, memancarkan kepanikan mutlak dengan urat-urat saraf di wajah yang menegang, sementara butiran keringat sebesar biji jagung bercucuran membasahi seluruh mukaku yang memerah padam menatap sosoknya yang berdiri tepat di depanku.
320Please respect copyright.PENANAsz3zGOayQu
Judy menghentakkan kaki kanannya yang telanjang, menapak tepat di atas bantal sofa di antara celah kedua pahaku yang terbuka. Hentakan itu membuat ujung jari kakinya yang halus menekan kain sofa dengan kuat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari penisku yang masih menegang tegang di balik celana panjang kaus abu-abu gelap bertali serut longgar.
320Please respect copyright.PENANAQT9sNwAPQm
"H-hey, Judy..."
320Please respect copyright.PENANAMznrdp47N4
Suaraku bergetar parau. Kedua telapak tanganku bertumpu kaku ke belakang di atas permukaan kulit sofa krem untuk menahan posisi tubuhku yang setengah bersandar. Aku menatapnya dengan rahang agak terbuka dan mata membelalak panik.
320Please respect copyright.PENANA9NpsUpk7z8
"Nyenyak?"
320Please respect copyright.PENANA0pCAeWs8OB
Judy menyilangkan kedua lengannya di bawah dada dengan angkuh, menekan tangannya ke atas tank top putih tipis bertuliskan CRUSH yang melekat ketat di payudaranya yang padat. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arahku, menatapku lurus dari atas dengan sorot mata penuh selidik yang dingin dari balik helaian rambut hitamnya yang terikat berantakan.
320Please respect copyright.PENANAF3x5HUOW9z
"Kenapa kau membangunkanku? Apa yang terjadi?"
320Please respect copyright.PENANA7didPZXiMg
Aku mencoba memutar otak, mengangkat tangan kananku dengan kaku untuk menggosok mataku demi memperpanjang sandiwara konyol ini. Jemariku bergerak mengusap kelopak mataku yang basah oleh peluh halus yang terus mengucur di sepanjang pelipis dan dahi. Aku berusaha keras memasang ekspresi bingung seolah baru saja terjaga dari tidur lelap, meskipun degup jantungku masih berpacu liar memukul rongga dada menatap paha mulusnya yang terekspos jelas di balik celana pendek ungu tipis, sangat dekat dengan posisi dudukku.
320Please respect copyright.PENANArdNHR5NibG
"Aktingmu jelek, hentikan sikapmu itu."
320Please respect copyright.PENANAAhuAMObhJ5
Kalimat dingin itu meluncur telak dari bibir Judy. Ia menurunkan sedikit pandangannya, tetap mempertahankan posisi kakinya yang menapak dominan di atas bantal sofa, mengunci seluruh gerakanku dengan tatapan meremehkan yang membuat nyaliku seketika menciut habis.
320Please respect copyright.PENANASGqcuH3YYu
"Katakan yang sejujurnya!"
320Please respect copyright.PENANAEGN3Evcb0F
Sebuah sentakan keterkejutan membuat bahuku menegang kaku, menempel pada sandaran sofa krem saat Judy mendadak menurunkan kakinya dari sofa lalu menggeser tubuhnya untuk duduk di sampingku. Jarak kami kini begitu dekat di atas permukaan kulit sofa. Paha mulusnya yang terekspos di balik celana pendek ungu tipis hampir bersentuhan dengan kain selimut bermotif geometris abu-abu yang menumpuk kusut di antara kami. Atasan tank top putihnya bergoyang pelan mengikuti perubahan posisinya, menonjolkan belahan payudaranya yang padat tepat di sampingku.
320Please respect copyright.PENANAOJ2sN0lSrV
"Apa kau..."
320Please respect copyright.PENANAzrFANuyCPu
Judy mengulurkan tangan kanannya yang lentik secara perlahan, menapakkan telapak tangannya di atas kain selimut abu-abu yang menutupi area selangkanganku. Jemarinya mencengkeram permukaan kain dengan gerakan perlahan namun pasti, seolah sedang meraba kehangatan yang tertinggal atau mencari bukti tersembunyi yang tertahan di balik selimut tipis tersebut.
320Please respect copyright.PENANAMvqJFWGzQo
"...bertingkah seperti tak melakukan apapun?"
320Please respect copyright.PENANAkcjgLrR0Pf
Judy mencondongkan seluruh tubuh bagian atasnya ke arahku, mengunci posisiku yang bersandar kaku pada sudut sofa. Wajah cantiknya kini berada sangat dekat dengan mukaku, membingkai sorot matanya yang tajam dan dingin dari balik helaian rambut hitamnya yang terikat berantakan. Senyum miring yang provokatif terukir di bibirnya, sementara butiran keringat halus tampak berkilau di pipi dan lehernya, menambah kesan intim sekaligus mengintimidasi yang membuat napas serta detak jantungku memburu tidak karuan di bawah tatapannya.
320Please respect copyright.PENANAzUok9jMrkF
"A-apa yang kau katakan...?"
320Please respect copyright.PENANAe5LEWVN4cU
Suaraku terdengar bergetar kaku dan sangat pelan, keluar dari celah bibirku yang mendadak kering. Aku mencoba memundurkan kepalaku, menekan punggungku lebih dalam ke sudut sofa krem sewaktu posisi tubuh Judy semakin mendominasi di depanku. Ia berlutut di atas permukaan sofa dengan satu kaki lainnya menapak di lantai, condong ke arahku hingga tank top putihnya meregang tipis di depan mataku.
320Please respect copyright.PENANAg2pJU3CBlN
"Kamu masturbasi, kan?"
320Please respect copyright.PENANAWDKysg2MJL
Pertanyaan lugas itu keluar begitu saja dari bibir Judy, memecah keheningan malam dengan intonasi yang sangat menuntut. Wajah cantiknya maju beberapa sentimeter lebih dekat, menatapku lurus-lurus tanpa berkedip. Mata bulatnya yang tajam terkunci tepat pada manik mataku, sementara helaian rambut hitamnya yang berantakan menjuntai tipis di sekitar keningnya, membingkai ekspresi seriusnya yang dingin tanpa menyisakan celah bagiku untuk menghindar.
320Please respect copyright.PENANA01ggxRe3cj
"Tidak..."
320Please respect copyright.PENANAdsTItAfkVz
Pikiran bawah sadarku seketika menciut, rasanya seluruh keberanianku seolah melayang keluar dari tubuh karena ketakutan. Aku hanya bisa menyahut dengan satu kata bantahan yang terdengar sangat lemah dan tidak meyakinkan, sementara rona merah di pipiku semakin memanas di bawah tekanan tatapannya yang seakan sudah mengetahui seluruh kebenaran bejatku malam ini. Aku memalingkan wajah ke samping dengan kaku, menolak bertatapan langsung dengannya. Mataku membelalak lebar, sementara keringat dingin mengalir semakin deras di pelipis dan leherku. Bibirku terkatung sedikit, gemetar menahan debaran jantung yang serasa mau copot karena ketakutan yang amat sangat.
320Please respect copyright.PENANAId8QWPJVoG
"Beneran?"
320Please respect copyright.PENANARorY2n2Wi9
Judy memiringkan wajahnya, menatapku dari samping dengan sorot mata yang sedikit merendah. Helaian rambut hitamnya jatuh menjuntai di depan pipi, membingkai tatapannya yang datar dan dingin seolah tidak mempercayai satu kata pun yang keluar dari mulutku.
320Please respect copyright.PENANAKaRoAiw0IE
"Kau yakin?"
320Please respect copyright.PENANAxVbvKz7H0P
Judy mendadak menegakkan tubuhnya, berbalik membelakangiku lalu melangkah maju mendekati area dapur mini. Tangannya bergerak meraih sebuah ponsel hitam dari atas meja counter. Tank top putih ketatnya yang bertuliskan CRUSH tampak menonjol di bagian dada saat ia membungkuk kecil untuk memeriksa layar ponselnya yang menyala terang. Aku hanya bisa menatap punggungnya dari atas sofa dengan benak yang dipenuhi tanda tanya dan kebingungan.
320Please respect copyright.PENANAfOMWAulpw8
Dia memanggil siapa? Jangan bilang Luke...
320Please respect copyright.PENANAQNJ5Nfb9Lm
Ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan mendadak menyergap pikiranku. Butiran keringat mengalir melewati pipiku yang tegang saat mataku terpaku pada jemari lentik Judy yang mulai menekan tombol di layar ponsel, mengarahkan benda itu ke dekat telinganya dengan ekspresi tenang yang justru terasa sangat mengancam kelangsungan hidupku.
320Please respect copyright.PENANAgy1WOlYJ59
Judy memegang ponsel gelap dengan logo apel tergigit di tangan kanannya, mengarahkan jemarinya di atas layar sebelum menempelkan benda itu ke telinga kiri. Atasan tank top putih tipis meregang kencang saat dia mengangkat lengan, menonjolkan kebulatan payudaranya yang padat dari balik kerah pakaiannya yang longgar. Rambut hitamnya yang dikuncir acak-acakan bergoyang pelan mengikuti gerakan kepalanya yang menoleh ke samping.
320Please respect copyright.PENANAbW0ijC1jop
"Hey, Luke."
320Please respect copyright.PENANAdWPRAgH6FB
Suara Judy meluncur datar tanpa beban, memecah keheningan di antara kami dengan menyebut nama kakak laki-lakinya yang paling kutakuti. Sebuah suara berat dari seberang telepon segera menyahut dengan intonasi yang keras hingga terdengar samar dari tempatku duduk.
320Please respect copyright.PENANAz9ixzjAj28
"Oi Judy, apa kabar?"
320Please respect copyright.PENANAZ38ojOYTfe
Judy menarik sedikit sudut bibirnya, mengulas senyum tipis penuh kemenangan yang terasa amat dingin. Tatapannya melirik tajam ke arahku dari sudut mata, sementara payudaranya yang menyembul di balik tank top putih naik turun seiring hela napasnya yang teratur, menikmati kepanikan mutlak yang kini menguasai seluruh tubuhku.
320Please respect copyright.PENANADFc3m18FZJ
Judy, maaf! Maafkan aku!
320Please respect copyright.PENANANDbEf6Yuth
Pikiran penuh kepasrahan itu meledak di dalam kepalaku, membuatku gemetar hebat di atas sofa tanpa mampu bersuara, menyadari bahwa hidupku berada di ujung tanduk jika rahasia ini sampai terbongkar ke telinga Luke. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjatuhkan tubuhku dari atas sofa, bersujud di atas lantai keramik abu-abu yang dingin tepat di hadapan kedua kakinya yang telanjang. Aku menyatukan kedua telapak tangan di depan kening, menundukkan kepala sedalam-dalamnya hingga rambut hitamku yang basah oleh peluh hampir menyentuh lantai. Keringat dingin bercucuran deras dari pelipis dan tengkukku, membasahi kemeja polo katun hijau lumut yang kukenakan seiring tubuhku yang gemetar hebat menahan ketakutan yang mutlak.
320Please respect copyright.PENANALMcm47h3ZT
"Oh, gpp, aku pikir nomornya salah."
320Please respect copyright.PENANAm8kFjarqxq
Suara Judy terdengar mengalun santai dari atas kepalaku, berbicara kembali pada ponsel di telinganya. Kalimat itu seketika membuat gerakanku kaku, jantungku berdegup kencang menanti kelanjutan interaksinya. Suara berat Luke di seberang sana kembali terdengar samar, menyahut singkat sebelum sambungan terputus.
320Please respect copyright.PENANALgybKJUl5g
"Yah, okelah, aku mau tidur dulu."
320Please respect copyright.PENANAgQCx8GSEJG
Judy menurunkan ponselnya dari telinga dengan gerakan jemari yang lambat dan tenang. Ia membalikkan tubuhnya yang terbalut tank top putih tipis, memperlihatkan lekuk pinggul dan paha mulusnya yang terekspos jelas di balik celana pendek ungu tipis sewaktu ia mulai melangkah menjauhiku menuju ambang pintu kamarnya.
320Please respect copyright.PENANAVl2ywZod7K
Aku perlahan mengangkat kepalaku dari posisi bersujud, menatapnya dengan tatapan yang masih dipenuhi sisa kepanikan yang luar biasa. Rahangku agak terbuka dengan urat saraf wajah yang berangsur rileks, sementara beberapa butir peluh terakhir mengalir melewati pipiku yang merona kemerahan.
320Please respect copyright.PENANAQ2jzb4fT5d
"M-makasih Jud-"
320Please respect copyright.PENANAaBROMSRycL
Kalimat itu meluncur lirih dan terbata-bata dari celah bibirku, menyuarakan rasa lega yang amat sangat karena rahasia bejatku malam ini tidak sampai terbongkar ke telinga kakaknya yang mengerikan. Namun, kata-kataku terputus seketika. Mataku kembali membelalak lebar, terkunci sepenuhnya pada pemandangan intim yang mendadak tersaji tepat di depan wajahku.
320Please respect copyright.PENANASKrCpHhQ7U
Judy tidak melanjutkan langkahnya ke kamar, melainkan berbalik dan menjatuhkan tubuhnya hingga duduk berjongkok dengan kedua lutut terbuka lebar tepat di hadapanku yang masih terduduk di lantai. Posisi itu membuat celana pendek ungu tipis berbahan katun lembut yang dikenakannya meregang ketat, menonjolkan bentuk gundukan vaginanya dengan sangat jelas. Tekstur kain celana yang tipis mengikuti lekuk belahan intimnya di bagian tengah, menciptakan siluet sensual yang begitu dekat hingga aroma tubuhnya yang bercampur keringat halus langsung menyengat indra penciumanku.
320Please respect copyright.PENANAioCmb6Y6iJ
"Jadi..."
320Please respect copyright.PENANAzTtRcud8CE
Suara Judy mengalun rendah dan penuh riak provokasi. Ia mencondongkan tubuh bagian atasnya ke depan, menumpukan kedua lengan di atas lututnya yang terbuka. Tank top putih ketat yang membungkus tubuhnya melorot rendah, memperlihatkan belahan payudaranya yang padat dan ranum bergoyang pelan seiring napasnya yang tertahan.320Please respect copyright.PENANAgkCdkSbLRf


