Bab 2: Api di Ruang Latihan
498Please respect copyright.PENANAUEvSlO07U8
Pagi berikutnya, Sinta terbangun dengan tubuh masih terasa lemas akibat orgasme malam sebelumnya. memeknya masih agak sensitif setiap kali ia bergerak. Bayangan Alex dan bisikan kotornya terus mengganggu pikiran. Rasa malu membakar pipinya saat ia mengingat bagaimana ia memuaskan diri sendiri sambil menyebut nama pria asing itu. “Aku harus keluar rumah,” gumamnya pada diri sendiri. Ia memutuskan pergi ke gym langganannya di kawasan Senayan, berharap keringat dan olahraga bisa membersihkan pikiran yang kotor itu.
498Please respect copyright.PENANAFdXXQJVHrP
Sinta memakai sport bra ketat berwarna hitam yang menonjolkan bentuk payudara C-cupnya dan legging yoga yang membalut pinggul proporsional serta bokongnya yang kencang. Rambut panjang bergelombangnya diikat kuda, kulit kuning langsatnya terlihat segar meski ada lingkar hitam tipis di bawah matanya karena kurang tidur. Ia tiba di gym sekitar pukul sepuluh pagi, saat pengunjung masih sepi.
498Please respect copyright.PENANAUX2Kv44mHx
Begitu masuk, aroma keringat bercampur parfum dan musik elektronik mengisi ruangan. Sinta mulai dengan pemanasan di treadmill. Tubuhnya bergerak ritmis, payudaranya naik turun pelan mengikuti langkah. Ia mencoba fokus pada napas, tapi pikirannya kembali ke Alex—sentuhan tangannya, suaranya yang dingin namun membakar.
498Please respect copyright.PENANAYP3EZxSZ3j
“Hei, form lo bagus, tapi pinggulnya masih kurang stabil.”
498Please respect copyright.PENANAGPT5zupXyA
Suara berat dan kasar menyentak Sinta dari lamunan. Ia menoleh dan melihat seorang pria tinggi kekar berdiri di samping treadmill. Budi. Usianya 28 tahun, pemilik gym sekaligus personal trainer. Tubuhnya sangat berotot, kulit sawo matang mengkilap karena keringat, otot dada dan lengan menonjol di balik tank top ketat. Senyumnya lebar, penuh percaya diri, dengan tatapan yang langsung menelanjangi.
498Please respect copyright.PENANAI7iZcythFR
“Baru pertama kali lihat lo di sini jam segini,” kata Budi sambil menyilangkan tangan, otot lengannya menggembung. “Nama gue Budi. Mau gue bantu latihan hari ini? Gratis buat yang cantik kayak lo.”
498Please respect copyright.PENANANvfSUVIZ9P
Sinta tersipu. Pria ini sangat berbeda dengan Alex. Kalau Alex dingin dan calculative, Budi panas, kasar, dan langsung. “Sinta. Biasanya gue latihan sendiri, tapi… boleh juga.”
498Please respect copyright.PENANA66hc1BOsQN
Budi langsung mengambil alih. Ia memindahkan Sinta ke area beban ringan. Setiap gerakan, tangan besarnya menyentuh pinggul, punggung, atau paha Sinta untuk “memperbaiki posisi”. Sentuhannya kuat, penuh tenaga, dan sengaja lama.
498Please respect copyright.PENANAxgKbtO3E2z
“Punggung lurus, pinggul dorong ke belakang,” perintah Budi sambil berdiri tepat di belakang Sinta saat ia melakukan hip thrust. Tubuh Budi menempel rapat. Sinta bisa merasakan kehangatan kulitnya dan tonjolan keras di balik celana pendek trainer itu menekan bokongnya. “Gitu… enak banget rasanya, ya? Badan lo pas banget buat dipegang keras.”
498Please respect copyright.PENANAyGSWEqfUxw
Sinta menggigit bibir. Keringat mulai mengalir di antara payudaranya. memeknya yang masih sensitif dari malam sebelumnya mulai berdenyut lagi. “Pak Budi… itu terlalu dekat,” bisiknya pelan, suara malu bercampur gairah.
498Please respect copyright.PENANAp8YNPKI2qq
Budi tertawa rendah, napasnya menyapu telinga Sinta. “Dekat? Ini masih belum apa-apa, Sayang. Gue bisa bikin lo gemetar cuma dengan tangan ini.” Tangan kanannya turun pelan, mengusap sisi paha dalam Sinta saat ia mengangkat beban. Jari-jarinya hampir menyentuh lipatan memek yang sudah mulai basah di balik legging tipis.
498Please respect copyright.PENANAypnLYfWrkf
Latihan berlanjut hampir satu jam. Setiap latihan squat, Budi memegang pinggul Sinta dari depan, wajahnya tepat di depan dada Sinta. Setiap deadlift, dadanya menempel di punggung Sinta, kontolnya yang sudah setengah keras menekan celah bokongnya. Bau keringat maskulin Budi yang kuat bercampur aroma tubuh Sinta yang manis membuat kepala Sinta pusing.
498Please respect copyright.PENANAN9Mk6K4TVP
“Lo sensitif banget ya?” gumam Budi saat mereka istirahat di bangku. Ia menyodorkan botol air, tapi tangannya sengaja menyentuh puting Sinta yang mengeras menembus sport bra. “Lihat nih, puting lo udah pada ngaceng dari tadi. memek lo pasti udah banjir cairan orgasme sekarang.”
498Please respect copyright.PENANAWEtst0DUsq
Sinta tersentak, wajahnya merah padam. “Jangan bicara seperti itu di sini…” tapi suaranya lemah. Tubuhnya malah merespons. kristoris di puncak memeknya berdenyut keras, cairan orgasme hangat mulai merembes keluar, membasahi celana dalamnya.
498Please respect copyright.PENANAkhAKnEIlJM
Budi tersenyum ganas. “Ruang ganti staff sepi. Ikut gue.” Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Sinta masuk ke koridor belakang gym. Pintu ruang ganti staff ditutup, dan Budi langsung mendorong Sinta ke dinding.
498Please respect copyright.PENANANfdk97pggk
“Gue udah ngaceng dari tadi liat lo gerak-gerak di depan gue,” kata Budi kasar sambil mencium leher Sinta. Bibirnya panas, lidahnya menjilat keringat di kulit kuning langsat itu. Tangan besarnya meremas payudara Sinta dengan kuat, jempolnya memutar puting yang sudah keras. “Payudara lo enak banget dipegang. Bayangin kalau gue hisap sampe lo nangis.”
498Please respect copyright.PENANAZzBBICuTfo
Sinta mendesah keras. “Ahh… Pak Budi… pelan…” Tapi pinggulnya malah maju, menggesek tonjolan kontol Budi yang sudah sangat keras. Sensasi panas dari tubuh kekar pria itu membuatnya lemas. Bau keringat Budi yang maskulin kuat menusuk hidungnya, membuat memeknya semakin licin.
498Please respect copyright.PENANAcD6Ghi2ycH
Budi menarik sport bra Sinta ke atas, melepaskan payudaranya yang indah. Ia langsung menunduk, menghisap puting kiri dengan rakus. Suara *slurp* basah dan kuat terdengar. Lidahnya berputar, sesekali menggigit pelan hingga Sinta menjerit kecil. Tangan kanannya turun ke legging, menyusup masuk, dan langsung menemukan memek yang sudah banjir.
498Please respect copyright.PENANA59jTRJhMv2
“Wah, basah banget nih memek lo. kristoris kecilnya udah gede dan licin. Lo emang pelacur kecil yang suka diraba kasar, ya?” kata Budi sambil memasukkan dua jari sekaligus ke dalam memek Sinta yang panas dan sempit. Jari-jarinya bergerak kasar, keluar masuk dengan suara *plok plok* cairan cairan orgasme.
498Please respect copyright.PENANAwAf3U06eEp
Kaki Sinta gemetar hebat. Ia memegang bahu Budi yang lebar untuk tumpuan. Air mata malu mengalir di pipinya, tapi kenikmatan membuatnya tak bisa berhenti. “Saya… malu… tapi enak sekali… ahh!”
498Please respect copyright.PENANASGIvuKJC8U
Budi menambah satu jari lagi, meregangkan memek Sinta. “Bayangin nanti kontol gue yang gede ini masuk ke sini. Lo pasti bakal jerit minta ampun.” Ia mempercepat gerakan jarinya, ibu jarinya menekan kristoris dengan ritme yang sempurna. Tubuh Sinta kejang, cairan orgasmenya menyembur membasahi tangan Budi dan lantai ruang ganti.
498Please respect copyright.PENANAZFelKAzt07
Orgasme pertama datang begitu kuat. Sinta menjerit tertahan, kakinya hampir ambruk. Perutnya bergetar, memeknya berdenyut-denyut menggenggam jari Budi. Budi terus memompa jarinya pelan sambil menghisap puting, memperpanjang gelombang kenikmatan itu hingga Sinta menangis.
498Please respect copyright.PENANAJH09KJqWlI
“Bagus… lo orgasme cuma dengan jari gue,” puji Budi bangga. Ia menarik jari-jarinya yang licin dengan cairan orgasme Sinta, lalu menempelkannya ke bibir Sinta. “Jilat. Rasain cairan orgasme lo sendiri.”
498Please respect copyright.PENANAGiQTthlb9R
Sinta patuh dengan mata berkaca-kaca, lidahnya menjilat jari Budi yang asin dan manis. Rasa malunya semakin dalam, tapi ketagihan sudah mulai tumbuh.
498Please respect copyright.PENANA8dDTmCKJPU
Budi melepaskan celana pendeknya. kontolnya melompat keluar—besar, tebal, dengan urat-urat menonjol dan kepala yang mengkilap. “Sekarang lo balas. Hisap kontol gue sambil gue pegang kepala lo.”
498Please respect copyright.PENANAyekDnqBKrD
Sinta berlutut di lantai ruang ganti. Mulutnya yang kecil membuka lebar, mencoba memasukkan kontol Budi yang panas dan berdenyut. Bau maskulin yang kuat memenuhi hidungnya. Budi memegang rambut Sinta dan mendorong pelan, memasukkan setengah kontolnya ke mulut hangat itu.
498Please respect copyright.PENANAjJJRxm6R2T
“Enak… mulut lo sempit dan basah. Hisap lebih dalam, Sayang. Gue mau lihat lo ngiler.”
498Please respect copyright.PENANAy1z5zQwRDj
Sinta berusaha, lidahnya berputar di kepala kontol, menjilat cairan bening yang keluar. Suara *gluck gluck* basah terdengar saat Budi mulai memompa pinggulnya perlahan. Air liur Sinta menetes ke payudaranya yang masih terbuka.
498Please respect copyright.PENANAJu7rL6aUiF
Setelah beberapa menit, Budi menarik Sinta berdiri, membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Ia menurunkan legging Sinta hingga lutut, lalu menggesekkan kontolnya di celah memek yang licin dari belakang.
498Please respect copyright.PENANAQbR1YxOYaA
“Gue belum masukin hari ini,” bisik Budi di telinga Sinta. “Tapi lo harus datang lagi besok. Gue mau bikin memek lo rusak sampe lo cuma mikirin kontol gue.”
498Please respect copyright.PENANAgWsIUeVC7G
Ia menggesek lebih kuat, kepala kontolnya menekan kristoris berulang kali. Sinta orgasme lagi hanya dengan gesekan itu, tubuhnya gemetar hebat, cairan orgasmenya menyembur ke paha dan kontol Budi.
498Please respect copyright.PENANAHEViKgFHdL
Budi akhirnya melepaskan pelukannya, tapi sebelumnya ia menampar pelan bokong Sinta *plak!* “Pulanglah. Besok gue tunggu. Dan jangan berani lo puasin diri sendiri malam ini. memek lo milik gue sekarang.”
498Please respect copyright.PENANAuaq0EFVEO5
Sinta berpakaian dengan tangan gemetar. Tubuhnya masih bergetar, memeknya basah dan berdenyut. Saat keluar gym, ia merasa kakinya lemas. Dua pria dalam dua hari—Alex dengan kontrol dinginnya, Budi dengan kekasaran panasnya. Pikirannya kacau, tapi ada getaran aneh di dada: ketakutan bercampur kegembiraan gelap.
498Please respect copyright.PENANA2DjeagcTxV
Ia tidak tahu bahwa keduanya akan segera bertemu dan memperebutkannya.
498Please respect copyright.PENANAfAePp7iFRi
Malam itu, meski dilarang Budi, Sinta tetap menyentuh dirinya di kamar. Tapi kali ini, ia membayangkan kedua pria itu bersama—satu dingin mengendalikan, satu kasar menghancurkan. Orgasmenya lebih kuat dari sebelumnya.
498Please respect copyright.PENANA2bzCEw9oPj


