Bab 1: Pertemuan di Kafe Sudut
591Please respect copyright.PENANAHGr9Jilmm6
Sinta duduk di sudut kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan, jari-jarinya menari lincah di atas layar laptop. Usianya 25 tahun, tapi wajahnya masih terlihat polos seperti gadis yang baru lulus kuliah. Kulit kuning langsatnya bersinar lembut di bawah cahaya lampu hangat kafe. Rambut panjang bergelombangnya terikat longgar, beberapa helai jatuh menutupi pipinya yang halus. Tubuhnya atletis ramping—payudara C-cup yang proporsional, pinggul yang cukup menggoda tanpa berlebihan. Sebagai graphic designer freelance, hari-harinya diisi deadline klien, kopi hitam, dan kesepian yang semakin menggerogoti.
591Please respect copyright.PENANAC2jAbAgmJn
Malam ini, seperti biasa, ia bekerja sendirian. Proyek logo untuk startup kecil sudah hampir selesai, tapi pikirannya melayang. Sudah berapa lama ia tidak disentuh? Sudah berapa lama memeknya tidak merasakan kehangatan yang sesungguhnya? Sinta menggigit bibir bawahnya, merasa malu dengan pikiran itu sendiri. Ia selalu merasa bersalah setiap kali imajinasinya melayang ke hal-hal terlarang. Tubuhnya terlalu sensitif. Hanya sentuhan ringan di lengan saja sudah membuat kristoris berdenyut pelan. Itu kelemahannya—dan entah kenapa, ia mulai menyukainya.
591Please respect copyright.PENANAnIPpOjk5T9
Pintu kafe berdenting pelan. Seorang pria tinggi tegap masuk, membawa aura dingin yang langsung membuat beberapa pengunjung menoleh. Alex. Usianya 30 tahun, CEO startup teknologi yang sedang naik daun. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, mata tajam di balik kacamata tipis, dan rambut rapi yang menunjukkan kepribadiannya yang terkontrol. Ia memesan espresso hitam tanpa gula, lalu matanya tertuju pada Sinta yang duduk sendirian di sudut.
591Please respect copyright.PENANAeskIq5f2OS
Alex mendekat dengan langkah mantap. “Boleh duduk di sini? Semua meja lain penuh,” katanya dengan suara rendah, tenang, tapi penuh wibawa.
591Please respect copyright.PENANAHTOJvpTQ2E
Sinta mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. “Oh… ya, silakan.”
591Please respect copyright.PENANAtJQiDJRcD0
Ia duduk di depan Sinta, aroma kopi dan parfum mahal pria itu langsung menyelimuti meja kecil mereka. Sinta merasa dadanya sedikit sesak. Pria ini terlalu… intens. Mata Alex menelusuri wajahnya dengan lambat, seolah sedang membaca buku yang menarik.
591Please respect copyright.PENANAvULwyGIgHM
“Kamu sering ke sini?” tanya Alex sambil menyesap kopinya.
591Please respect copyright.PENANAmkRvbTU96N
“Kadang-kadang. Tempatnya tenang, cocok buat kerja,” jawab Sinta, mencoba tersenyum sopan. Tapi jari-jarinya di keyboard mulai gemetar ringan.
591Please respect copyright.PENANAlJyESFQ7s6
Alex tersenyum tipis. “Kamu graphic designer, ya? Dari cara kamu fokus ke layar, sepertinya pekerjaan yang butuh banyak imajinasi.”
591Please respect copyright.PENANAMNpgZwSiAG
Sinta mengangguk. Percakapan berlanjut ringan—tentang Jakarta yang macet, deadline, dan hobi. Tapi perlahan, nada Alex berubah. Ia condong sedikit ke depan, suaranya lebih rendah.
591Please respect copyright.PENANA2F3HiUsYkZ
“Kamu punya mata yang polos sekali,” gumamnya. “Tapi aku yakin, di balik itu ada sesuatu yang jauh lebih… panas.”
591Please respect copyright.PENANANrMxNVBZsr
Sinta merasa pipinya memanas. “Maksudnya?”
591Please respect copyright.PENANAv30yqax6ll
Alex tertawa pelan. Jarinya menyentuh punggung tangan Sinta yang berada di atas meja, hanya sekilas, tapi sentuhan itu seperti aliran listrik. Kulit Sinta langsung merinding. “Kamu tipe yang mudah merespons, kan? Tubuhmu kelihatan sensitif. Aku bisa lihat dari cara kamu menggigit bibir saat gugup.”
591Please respect copyright.PENANAqyySB9rU0u
Sinta menarik tangannya pelan, tapi memeknya sudah mulai terasa hangat. Ia meremas paha sendiri di bawah meja, berusaha menenangkan getaran kecil yang muncul. “Kamu… terlalu berani bicara seperti itu sama orang baru.”
591Please respect copyright.PENANAqAFix4LI14
“Namaku Alex,” katanya, mengulurkan tangan dengan senyum dingin yang justru membuat Sinta sulit bernapas. “Dan aku jarang salah membaca orang.”
591Please respect copyright.PENANArvPUytk7O1
Sinta menerima jabat tangan itu. Genggaman Alex kuat, hangat, dan sedikit lama. Saat melepaskan, ibu jarinya mengusap pelan telapak tangan Sinta. Sensasi itu langsung menjalar ke dada, membuat putingnya mengeras pelan di balik bra tipis. Sinta menahan napas. *Kenapa tubuhku bereaksi secepat ini?*
591Please respect copyright.PENANAYQXfS0DQ7O
Mereka berbincang hampir satu jam. Alex bercerita sedikit tentang pekerjaannya—bagaimana ia suka mengendalikan segala hal, dari bisnis hingga… hal-hal pribadi. Kata-katanya selalu punya makna ganda. Setiap kali Sinta tertawa, mata Alex turun ke bibirnya, ke lehernya, ke lekukan payudaranya yang naik-turun pelan.
591Please respect copyright.PENANAj0uMAud8PP
“Bayangkan,” kata Alex tiba-tiba, suaranya hampir berbisik, “kalau tangan ini menyentuh lebih dari sekadar punggung tanganmu. Aku penasaran seberapa basah memekmu hanya dengan kata-kata saja.”
591Please respect copyright.PENANAUlH7IZQGtp
Sinta tersentak. Matanya melebar, campuran malu dan gairah yang aneh. “Kamu gila… kita baru ketemu.”
591Please respect copyright.PENANATalCKFXNmy
“Tapi kamu tidak pergi,” balas Alex dengan mata menyipit puas. “Itu artinya bagian dari dirimu ingin mendengar lebih banyak.”
591Please respect copyright.PENANAHTvTq1ovFJ
Sinta merasa cairan hangat mulai membasahi celananya. memeknya berdenyut pelan, kristoris membengkak sensitif hanya karena kata-kata pria asing ini. Ia menekan paha lebih kuat, berusaha menahan sensasi itu. Bau kopi bercampur aroma tubuh Alex membuat kepalanya pusing.
591Please respect copyright.PENANAU08ikW3xyo
Alex melanjutkan dengan suara tenang tapi penuh kendali. “Aku bisa bayangkan tubuhmu yang ramping ini gemetar. Payudaramu yang indah, puting-putingnya mengeras minta dihisap. Dan memekmu… pasti sudah banjir cairan orgasme sekarang.”
591Please respect copyright.PENANA8MjjXuVONj
Sinta menutup mulutnya dengan tangan, napasnya tersengal pelan. Kakinya gemetar di bawah meja. Ia merasa malu luar biasa—malu karena pria ini bisa membaca tubuhnya dengan begitu mudah, malu karena ia menikmatinya. Air matanya hampir jatuh karena campuran emosi yang kuat.
591Please respect copyright.PENANAqTliiGxTix
“Aku… harus pulang,” gumam Sinta, suaranya bergetar. Tapi ia tidak langsung berdiri.
591Please respect copyright.PENANAnEcq4ZtSVu
Alex tersenyum. Ia mengeluarkan kartu nama dan meletakkannya di depan Sinta. “Hubungi aku kalau kamu ingin merasakan lebih dari sekadar kata-kata. Aku sabar… tapi aku juga tahu cara membuat wanita seperti kamu memohon.”
591Please respect copyright.PENANAjmtMBSeZr3
Sinta mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. Saat ia bangkit, Alex berdiri juga dan mendekat. Tubuhnya yang tinggi membuat Sinta merasa kecil. Alex membungkuk sedikit, bibirnya hampir menyentuh telinga Sinta.
591Please respect copyright.PENANASGaYvpGr76
“Malam ini, saat kamu sendirian di tempat tidur, sentuh memekmu dan bayangkan tanganku yang melakukannya. Aku yakin kamu akan mencapai orgasme hanya dengan itu.”
591Please respect copyright.PENANAqDT1oWAiSE
Sinta berjalan keluar kafe dengan kaki lemas. Udara malam Jakarta terasa dingin di kulitnya yang panas. Di dalam taksi, ia menekan paha rapat-rapat, mencoba menahan denyutan yang semakin kuat. Pikirannya penuh dengan Alex—wajah dinginnya, suaranya, sentuhannya.
591Please respect copyright.PENANA7nA8QtrGqt
Sesampainya di apartemen kecilnya, Sinta langsung masuk kamar. Ia membuka baju, berdiri di depan cermin. Payudaranya terlihat penuh, puting-putingnya sudah keras dan gelap. Ia menyentuhnya pelan, mendesah. Tangan kanannya turun ke memeknya yang sudah sangat basah. Cairan cairan orgasmenya melumuri jari-jarinya saat ia mengusap kristoris yang membengkak.
591Please respect copyright.PENANACegvzIOPCy
“Ahh…” desahnya pelan. Bayangan Alex menguasai pikirannya. Ia membayangkan pria itu memegangnya kuat, membisikkan kata-kata kotor di telinganya. Jari-jarinya bergerak lebih cepat, masuk-keluar dari memeknya yang panas dan licin.
591Please respect copyright.PENANAgSOEpEpv8d
Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak kuat menopang. Dalam hitungan menit, gelombang orgasme pertama menyapu dirinya. cairan orgasmenya menyembur pelan ke jari, tubuhnya kejang, air mata malu dan kenikmatan mengalir di pipinya.
591Please respect copyright.PENANA0V7v2hHD8K
Sinta ambruk ke tempat tidur, napasnya tersengal. Ia memandang kartu nama Alex di meja samping.
591Please respect copyright.PENANAjPXMaTl2ga
“Apa yang sedang aku lakukan…” bisiknya. Tapi di dalam hati, ia sudah tahu—ia ingin lebih.
591Please respect copyright.PENANAA62pr4t0TF
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Sinta tidur dengan senyum kecil di bibir, meski rasa bersalah masih menggerogoti. Ia tidak tahu bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari jurang gelap yang akan menelan seluruh dirinya.
591Please respect copyright.PENANAIMt3dnln0e
591Please respect copyright.PENANAoBZ0yzyJ6R
591Please respect copyright.PENANASOYmkv2RIN


