Bab 2: Godaan Kasar di Kafe Sudut
330Please respect copyright.PENANAvq8uTgSe9T
Keesokan paginya, Sinta terbangun dengan tubuh yang masih panas dan gelisah. Malam sebelumnya ia hampir tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bisikan dingin Alex kembali terngiang, membuat memeknya berdenyut pelan dan basah tanpa sentuhan. Ia sudah berganti celana dalam dua kali semalam karena kelembapan yang tak kunjung reda.
330Please respect copyright.PENANA7VkR3MROGI
“Aku gila,” gumamnya sambil berdiri di depan cermin kamar mandi. Kulit sawo matangnya terlihat memerah di pipi dan leher. Payudara D-cupnya terasa lebih berat dan sensitif, puting-putingnya mengeras hanya karena mengingat tatapan Alex.
330Please respect copyright.PENANAagJ4J9RRFG
Hari itu adalah hari libur, tapi Sinta memutuskan keluar apartemen untuk menenangkan pikiran. Ia memilih kafe kecil yang tenang di daerah Kemang, tempat favoritnya untuk bekerja sambil minum kopi. Rambut hitam panjangnya diikat ponytail sederhana, ia mengenakan blouse putih tipis yang sedikit transparan di bawah sinar matahari dan rok pencil hitam selutut yang membentuk pinggulnya dengan sempurna.
330Please respect copyright.PENANA3Lw0IVZlQR
Begitu memasuki kafe, aroma kopi yang kuat langsung menyambut. Sinta memesan iced latte dan duduk di sudut dekat jendela, mencoba fokus pada laptopnya. Tapi pikirannya melayang lagi ke Alex. Tangan besar itu. Suara rendah yang penuh kuasa. Bayangan kontol tebal yang pria itu gambarkan semalam membuatnya menggesek paha secara tak sadar.
330Please respect copyright.PENANAulUQPNsmYY
“Maaf, kursi ini kosong?”
330Please respect copyright.PENANAxI8VSaiHsZ
Suara berat dan kasar menyentak Sinta dari lamunannya. Ia mendongak dan melihat pria bertubuh sangat besar berdiri di depannya. Tinggi hampir 190 cm, bahu lebar, otot lengan yang menonjol di balik kaos hitam ketat. Kulitnya sedikit lebih gelap dari Alex, wajahnya tegas dengan rahang kuat dan senyum nakal yang penuh nafsu. Itu Budi, 28 tahun, sahabat dekat Alex yang sering terlibat dalam bisnis gelap.
330Please respect copyright.PENANA69x8NXLsrT
“Eh… silakan,” jawab Sinta pelan, mencoba sopan.
330Please respect copyright.PENANAFSCgnC9M2X
Budi duduk tanpa basa-basi, kursi di depannya terasa kecil di bawah tubuh kekarnya. Matanya langsung menelusuri tubuh Sinta tanpa malu-malu, berhenti lama di payudaranya yang naik-turun karena napas yang mulai tak teratur.
330Please respect copyright.PENANAd3v8oH7vHh
“Kamu Sinta, kan? Yang ketemu Alex semalam di acara bisnis,” kata Budi langsung, suaranya rendah tapi vulgar. “Dia cerita sedikit. Katanya ada cewek cantik yang tubuhnya langsung basah hanya dari bisikan.”
330Please respect copyright.PENANAPFJ6pNFCQY
Sinta tersentak. Wajahnya memanas seketika. “Maaf… Anda siapa?”
330Please respect copyright.PENANAYAf1D4xF1O
“Budi. Teman Alex yang paling dekat,” jawabnya sambil menyeringai lebar. “Dan dari cara kamu duduk sekarang, kayaknya memekmu lagi banjir ya? Paha kamu nggak diam dari tadi.”
330Please respect copyright.PENANA0lz4mcnhEn
Sinta mengatupkan kakinya rapat-rapat, tapi gerakan itu justru membuatnya semakin sadar betapa lembab celana dalamnya. Bau tubuh Budi yang maskulin kuat — campuran keringat segar dan parfum mahal — membuat kepalanya pusing. Berbeda dengan Alex yang dingin dan calculative, Budi terasa kasar, brutal, dan tak terkendali.
330Please respect copyright.PENANA70oBTnRCQR
Budi menyandarkan tubuhnya ke depan, tangan besarnya terulur dan tanpa izin meletakkan di atas paha Sinta di bawah meja. Tekanannya berat, jari-jarinya meremas pelan daging paha yang lembut.
330Please respect copyright.PENANAcqshMcPFKP
“Jangan pura-pura kaget,” bisik Budi sambil tertawa pelan. “Alex mungkin suka main pelan-pelan, tapi aku beda. Aku suka langsung masuk. Bayangin aja kontolku yang lebih tebal dan kasar ini ngebor memekmu sampai kamu nangis minta ampun.”
330Please respect copyright.PENANAsQD6sYGkAW
Sinta menggigit bibir bawahnya kuat. Jantungnya berdegup liar. Tangan Budi naik perlahan ke bawah roknya, jari telunjuknya menyentuh pinggir celana dalam yang sudah basah. Ia merasakan getaran hebat di perut bawahnya. Malu yang luar biasa membuat kristoris semakin membengkak dan berdenyut.
330Please respect copyright.PENANAjiF3SEawTe
“Di sini… ada orang,” desah Sinta pelan, suaranya bergetar.
330Please respect copyright.PENANAY9NAUyaEsD
“Memang itu yang bikin seru,” jawab Budi sambil menyeringai. Jarinya terus bergerak, menekan kain celana dalam tepat di atas kristoris Sinta. Gerakan memutar yang lambat tapi kuat. “Basah banget. Bau manis memekmu sampai ke sini. Kamu suka ya, diperlakukan kasar di tempat umum?”
330Please respect copyright.PENANAsW1myavDxI
Sinta mencengkeram pinggir meja. Kakinya gemetar pelan. Cairan hangat terus keluar dari memeknya, membasahi jari Budi. Inner monolognya berputar liar: *Kenapa aku nggak bisa nolak? Tubuhku panas sekali… dia lebih vulgar dari Alex… tapi rasanya enak…*
330Please respect copyright.PENANA8WSDn2yVKo
Budi menarik tangannya sebentar, lalu dengan santai menjilat jarinya yang basah di depan Sinta. “Manis. Enak. Aku mau langsung jilatin memekmu di belakang kafe ini kalau kamu izinin.”
330Please respect copyright.PENANAvqPe0i5NMr
Sinta hampir mendesah keras. Ia cepat-cepat menutup mulutnya. Payudaranya terasa penuh dan putingnya mengeras menusuk bra tipis. Budi melihat itu dan tertawa pelan.
330Please respect copyright.PENANAJeEBnWDtgl
“Payudaramu juga ngaceng. Mau aku remas di sini? Atau mau aku ajak ke mobil? kontolku lagi ngaceng keras banget bayangin ngecrot sperma panas ke dalam perutmu.”
330Please respect copyright.PENANAymUHQ7wAPj
Percakapan kotor itu berlangsung hampir dua puluh menit. Budi tak henti-hentinya menggoda, tangannya sesekali kembali meraba paha dan pinggul Sinta di bawah meja. Ia menceritakan dengan vulgar bagaimana ia dan Alex biasa berbagi wanita, bagaimana ia suka memasukkan alat-alat besar dan melihat perut wanita menggembung.
330Please respect copyright.PENANAwyY0kjBMG8
Sinta merasa dunianya berputar. Ia yang biasanya mandiri dan profesional, kini hanya bisa duduk gemetar di depan pria asing yang hampir dua kali lipat lebih brutal. Tapi justru rasa malu dan ketakutan itu yang membuat cairannya semakin deras mengalir.
330Please respect copyright.PENANAHr7dzDrgDn
Akhirnya, Budi berdiri. Ia membungkuk, mencium pipi Sinta dengan kasar sambil berbisik di telinganya:
330Please respect copyright.PENANAkPg9BvvMzt
“Besok malam, Alex mau ketemu kamu lagi. Tapi kalau aku ketemu duluan, aku nggak akan sabar. Aku bakal masukin kontol ini ke analmu juga, sekaligus. Kamu bakal merasa penuh banget sampai nangis.”
330Please respect copyright.PENANANMdeWPUwS9
Budi pergi setelah meninggalkan nomornya di atas meja. Sinta duduk sendirian dengan napas tersengal. memeknya berdenyut kuat, celana dalamnya sudah basah kuyup. Ia buru-buru pulang ke apartemen, dan begitu masuk kamar, ia langsung merebahkan diri di ranjang.
330Please respect copyright.PENANA0jySbZ1enc
Tangan kanannya menyelinap ke bawah rok, dua jari langsung masuk ke dalam memeknya yang licin. Bayangan tangan kasar Budi dan bisikan Alex bercampur aduk di kepalanya.
330Please respect copyright.PENANACOdQR55j8U
“Ahh… sialan… kenapa… rasanya enak banget…” desahnya sambil menggerakkan jari lebih cepat. Tubuhnya melengkung, kakinya terbuka lebar. Orgasme kecil datang dengan cepat, membuatnya menggigit bantal untuk meredam suara.
330Please respect copyright.PENANAB5DqTMRFFk
Tapi ia tahu ini baru permulaan. Dua pria itu sudah menandai dirinya. Dan Sinta, meski ketakutan, sudah mulai merasa ketagihan dengan api gelap yang mereka tawarkan.
330Please respect copyright.PENANAvfIwbGHygy


