Bab 1: Pertemuan di Ruang VIP
357Please respect copyright.PENANApvJZnAxtRe
Sinta menatap pantulan dirinya di cermin lift apartemennya. Kulit sawo matangnya terlihat segar setelah mandi malam, rambut hitam lurus panjangnya tergerai rapi hingga pinggang. Tubuh rampingnya dibalut dress hitam sederhana yang menonjolkan payudara D-cup-nya tanpa terlalu vulgar. Usianya 26 tahun, sudah mandiri, bekerja sebagai marketing manager di perusahaan konsultan bisnis ternama di Jakarta. Tapi malam ini, seperti biasa, ada rasa hampa yang menggerogoti hatinya.
357Please respect copyright.PENANAYPQLeFtUUq
“Kenapa rasanya selalu kurang?” gumamnya pelan sambil menghela napas.
357Please respect copyright.PENANApSzuV4zVs2
Ia sudah lelah dengan kencan-kencan biasa yang berakhir di ranjang biasa-biasa saja. Pria-pria yang terlalu sopan, terlalu lembut, terlalu takut mengambil kendali. Sinta tak pernah berani mengakui pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa di balik sikap mandirinya, ada sesuatu yang gelap dan panas yang ingin ditaklukkan.
357Please respect copyright.PENANAWEqfyLNqL6
Malam itu ia harus menghadiri acara makan malam bisnis di hotel bintang lima di kawasan Sudirman. Sebagai perwakilan perusahaan, ia harus tampil profesional. Tapi begitu memasuki ruang VIP yang mewah dengan pencahayaan temaram, tatapannya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam yang seolah bisa membaca pikirannya.
357Please respect copyright.PENANA8OdcQXGgKD
Alex.
357Please respect copyright.PENANAg62IT6Uw1n
Pria itu berdiri di ujung meja panjang, tinggi, berpostur tegap dengan bahu lebar dan otot yang terbentuk jelas di balik kemeja hitamnya. Usianya 29 tahun, pengusaha properti dan investasi yang namanya sering muncul di majalah bisnis. Wajahnya dingin, calculative, dengan senyum tipis yang tak pernah sampai ke matanya.
357Please respect copyright.PENANAe2iktA8YlA
“Miss Sinta, saya Alex. Senang akhirnya bertemu langsung,” suaranya rendah, dalam, dan penuh otoritas. Tangan besarnya menjabat tangan Sinta lebih lama dari seharusnya. Hangat. Kuat. Menguasai.
357Please respect copyright.PENANAQcuB5Sdqzr
Sinta merasakan getaran kecil menjalar dari telapak tangannya hingga ke perut bawahnya. “Senang bertemu, Pak Alex.”
357Please respect copyright.PENANA2WGvlmVRfP
Sepanjang pertemuan, Alex duduk di seberangnya. Tatapannya jarang lepas dari wajah Sinta, bahkan saat membahas angka-angka kontrak jutaan dolar. Setiap kali Sinta berbicara, pria itu mendengarkan dengan intensitas yang membuat lututnya terasa lemas. Bukan tatapan biasa. Tatapan seorang predator yang sedang menilai mangsanya.
357Please respect copyright.PENANAaAAnyf2W38
Setelah presentasi selesai dan para tamu lain mulai pamit, Alex mendekat. Ia berdiri di belakang kursi Sinta, membungkuk sedikit hingga bibirnya hampir menyentuh telinga wanita itu.
357Please respect copyright.PENANAkSwVe8hu3J
“Kamu terlihat bosan dengan semua obrolan ini,” bisiknya pelan, suaranya seperti beledu gelap. “Tubuhmu bilang lain. Payudaramu naik turun lebih cepat sejak tadi. Apa kamu sedang membayangkan sesuatu yang lebih… menarik?”
357Please respect copyright.PENANAGrT0CeiJtL
Sinta tersentak. Wajahnya memerah hebat. Ia menoleh, tapi Alex sudah kembali berdiri tegak dengan ekspresi tenang seolah tak pernah mengatakan apa-apa.
357Please respect copyright.PENANAayfcJxpjLG
“Ayo, saya antar kamu ke mobil,” kata Alex santai, seolah tawaran itu biasa saja.
357Please respect copyright.PENANAjd0bgIXlx6
Di koridor menuju lift, Alex meletakkan tangan di punggung bawah Sinta. Tekanannya ringan, tapi penuh kepemilikan. Jari-jarinya sesekali menyentuh garis pinggul wanita itu. Sinta merasa dadanya sesak. Panas. Ada kelembapan yang mulai muncul di antara pahanya, padahal pria ini hampir tak menyentuhnya secara vulgar.
357Please respect copyright.PENANAS5s0TbAD1o
Di dalam lift yang kosong, Alex menekan tombol stop mendadak. Lampu lift redup. Ruangan sempit itu terasa semakin pengap.
357Please respect copyright.PENANA6UwQXGmNe0
“Kamu wanita yang menarik, Sinta,” ujar Alex sambil mendekat. Tubuh tingginya menjulang di depan Sinta. “Mandiri di luar, tapi aku bisa lihat ada bagian dalam dirimu yang ingin ditundukkan. Yang ingin dipatahkan dan dibuat menangis kenikmatan.”
357Please respect copyright.PENANAZMVdBkez2e
Tangan Alex naik, ibu jarinya menyentuh dagu Sinta, memaksa wanita itu mendongak menatapnya. Napas mereka bercampur. Bau maskulin mahal dari parfum Alex membuat kepala Sinta pusing.
357Please respect copyright.PENANAx0hg6KlEvp
“Bayangkan saja dulu,” bisik Alex lagi, suaranya semakin rendah. “Bayangkan kontolku yang tebal dan panas masuk pelan-pelan ke dalam memekmu yang sudah basah seperti sekarang. Aku tidak akan lembut. Aku akan membuatmu memohon.”
357Please respect copyright.PENANA0oMLQAVDlg
Sinta menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kakinya gemetar. Ia merasakan cairan hangat mulai merembes ke celana dalamnya. Malu yang luar biasa bercampur dengan hasrat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
357Please respect copyright.PENANAXaLBZMOZLz
Alex tersenyum tipis melihat reaksi itu. Ia menekan tombol lift lagi, seolah tak terjadi apa-apa.
357Please respect copyright.PENANAWnroKNpvKJ
“Pikirkan tawaran kerjasama kita,” katanya saat pintu lift terbuka. “Bukan hanya bisnis. Tapi yang lebih… dalam.”
357Please respect copyright.PENANAuvrKcN9bdk
Sinta keluar dari lift dengan langkah goyah. Jantungnya berdegup kencang. Di parkiran, ia melihat Alex masuk ke mobil mewah hitamnya tanpa menoleh lagi. Tapi tatapan dingin pria itu masih terasa membakar punggungnya.
357Please respect copyright.PENANApwAitRvCYu
Malam itu, saat Sinta akhirnya sampai di apartemennya, ia langsung merebahkan diri di ranjang. Tangannya menyelinap ke bawah rok, menyentuh memeknya yang sudah banjir. Saat jari tengahnya menyentuh kristoris yang membengkak, ia mendesah keras.
357Please respect copyright.PENANAauUyPdp02s
“Ahh… sial…”
357Please respect copyright.PENANAV9rWvkVjba
Bayangan wajah dingin Alex dan bisikannya yang kotor terus berputar di kepalanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Sinta menyentuh dirinya sendiri dengan liar, membayangkan tangan besar pria itu yang menguasainya sepenuhnya.
357Please respect copyright.PENANAX5pt7Wab2W
Ia tidak tahu bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari kehancurannya yang manis. Dan bahwa ada pria lain, Budi, yang sebentar lagi akan masuk ke dalam permainan ini dengan cara yang jauh lebih brutal.
357Please respect copyright.PENANAfoZ6ILHeCG
357Please respect copyright.PENANAvSJkIU7x9m
357Please respect copyright.PENANASImLXRxhvQ


