Bab 2: Kesepakatan Pertama
2844Please respect copyright.PENANAhwdobetlqH
Malam berikutnya, jam menunjukkan pukul 08.45. Rina Anggraini berdiri di depan cermin kamar tidur dengan tangan yang dingin dan berkeringat. Ia sudah berganti pakaian tiga kali. Akhirnya ia memilih dress hitam sederhana yang panjangnya sampai lutut, tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang menggoda. Payudara E-cupnya terasa sesak di balik kain, pinggul lebarnya membuat dress itu menempel sempurna di bokongnya yang bulat.
2844Please respect copyright.PENANAj4RDpTQkkf
Andi sudah tertidur lelap di sofa ruang televisi setelah makan malam. Suaminya yang lemah itu bahkan tidak curiga ketika Rina bilang ia mau ke rumah tetangga untuk "mengurus urusan ibu-ibu kompleks". Rina menatap wajah Andi yang damai dengan hati yang teriris. "Maafkan aku, Mas..." bisiknya pelan sebelum keluar rumah.
2844Please respect copyright.PENANALJAk6WxdQx
Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Setiap langkah kakinya menuju rumah Pak Bambang terasa berat. memek pink di antara pahanya sudah terasa hangat dan sedikit lembab sejak sore tadi, meski ia berusaha keras untuk tidak memikirkannya. Tubuhnya mengkhianati pikirannya.
2844Please respect copyright.PENANAzCTnPKbqMf
Rumah Pak Bambang terlihat megah dengan lampu taman yang menyala redup. Pintu depan terbuka sedikit seolah sudah menunggunya. Rina mengetuk pelan. Tak lama kemudian, Pak Bambang muncul dengan kaos oblong ketat yang memperlihatkan dada kekarnya dan celana pendek longgar.
2844Please respect copyright.PENANAVIyVGMc3b9
"Datang tepat waktu. Bagus," kata Pak Bambang dengan senyum licik. Matanya langsung menelusuri tubuh Rina dari atas ke bawah seperti predator. "Masuklah."
2844Please respect copyright.PENANAjpfAfsp6vF
Rina melangkah masuk. Bau parfum mahal bercampur aroma tubuh pria dewasa langsung menyeruak ke hidungnya. Pak Bambang mengunci pintu dan langsung memegang pinggang Rina dari belakang, menariknya hingga punggung Rina menempel di dada bidangnya.
2844Please respect copyright.PENANA03BXGtHEQw
"Kamu gemetar, Bu Rina," bisik Pak Bambang di telinga Rina. Napas panasnya menyapu daun telinga perempuan itu, membuat bulu kuduknya berdiri. "Takut atau sudah basah?"
2844Please respect copyright.PENANAcXxxNzj5wV
"Tolong, Pak... saya benar-benar tidak mau," suara Rina bergetar. Air mata mulai menggenang lagi.
2844Please respect copyright.PENANAXJiVc0v6kQ
Pak Bambang tertawa pelan. Tangan besarnya merayap naik, meremas payudara kiri Rina dari luar dress dengan kuat. Remasan itu cukup keras hingga Rina mendesah kecil.
2844Please respect copyright.PENANABszfRjmvtW
"Ahh..."
2844Please respect copyright.PENANA6PqjVyoXSx
"Lihat? Tubuhmu sudah jujur," ejek Pak Bambang. "Ayo ke basement. Malam ini kita mulai kesepakatan yang sebenarnya."
2844Please respect copyright.PENANA6dRQY0R7RW
Ia menuntun Rina menuruni tangga basement yang tertutup rapat. Begitu pintu basement terbuka, Rina terkejut. Ruangan itu luas, diterangi lampu redup berwarna merah keunguan, ada tempat tidur besar dengan rantai di keempat sudutnya, rak penuh alat-alat aneh yang belum ia mengerti, dan cermin besar di dinding.
2844Please respect copyright.PENANAL0DkbW7vMu
Pak Bambang mendorong Rina hingga berdiri di tengah ruangan. Ia duduk di kursi besar seperti singgasana, menyilangkan kaki.
2844Please respect copyright.PENANAHyNnBw1S07
"Lepaskan bajumu. Pelan-pelan. Aku mau menikmati pemandangan," perintahnya dengan suara berat.
2844Please respect copyright.PENANAtl28Dq5p5J
Rina berdiri gemetar. Dengan tangan yang hampir tak bisa dikendalikan, ia menurunkan resleting dress-nya. Kain hitam itu meluncur turun ke lantai, memperlihatkan bra hitam berenda dan celana dalam yang sudah basah di bagian tengah.
2844Please respect copyright.PENANAShvDy1ZpCZ
Pak Bambang mengusap dagunya. "Lebih indah dari yang aku bayangkan. Payudara besar, pinggul lebar, kulit putih mulus. Suami kamu benar-benar bodoh kalau tidak memanfaatkan ini setiap malam."
2844Please respect copyright.PENANAAa6q82ImX6
Ia berdiri, mendekati Rina. Tangan kasarnya membelai perut rata Rina, lalu naik ke belakang, membuka kaitan bra dengan satu gerakan. Payudara E-cup Rina melompat keluar, penuh dan berat, dengan puting kecil yang sudah mengeras karena udara dingin basement.
2844Please respect copyright.PENANAc8xDn7idmz
Pak Bambang langsung menunduk. Mulutnya yang panas melingkupi salah satu puting Rina, mengisap kuat sambil lidahnya memutar-mutar.
2844Please respect copyright.PENANAMEj9m4byIQ
"Nghh! Ahh... Pak... jangan..." Rina menggigit bibir bawahnya keras. Sensasi panas dan basah dari mulut Pak Bambang membuat lututnya lemas. Getaran nikmat menjalar dari dada ke perut bawahnya.
2844Please respect copyright.PENANAhFgGFcIxqR
Pak Bambang mengisap lebih rakus, bergantian antara kedua puting yang semakin membengkak dan merah. Suara isapan basah terdengar jelas di ruangan sunyi itu. *Slurp... slurp...*
2844Please respect copyright.PENANA734quDNdzJ
Tangan kanannya turun ke celana dalam Rina, menyusup masuk. Jarinya langsung merasakan memek yang sudah banjir cairan orgasme.
2844Please respect copyright.PENANA79IIWkoTBe
"Basah sekali. Bau manis khas perempuan yang bergairah," gumam Pak Bambang sambil mengusap kristoris Rina dengan gerakan melingkar lambat dan penuh tekanan.
2844Please respect copyright.PENANAbEK6ZwCXfV
Tubuh Rina mengejang hebat. Kakinya gemetar, hampir tak mampu berdiri. Cairan hangat terus keluar dari memeknya, membasahi paha dalamnya.
2844Please respect copyright.PENANAOHysUoLkLx
"Pak... saya mohon... hentikan..." air mata Rina jatuh ke pipinya, tapi pinggulnya justru maju sedikit, mencari sentuhan lebih dalam.
2844Please respect copyright.PENANA346PGU9qZz
Pak Bambang menarik celana dalam Rina hingga ke bawah, memperlihatkan memek pink yang licin dan mengkilap. Ia duduk kembali di kursi, menarik Rina hingga berdiri di antara kedua kakinya.
2844Please respect copyright.PENANAuKzQq9WvE6
"Sekarang berlutut."
2844Please respect copyright.PENANA40vy3ByQOC
Rina ragu, tapi ancaman video itu lebih menakutkan. Ia berlutut di lantai yang dingin. Wajahnya tepat di depan celana Pak Bambang yang sudah menonjol hebat.
2844Please respect copyright.PENANAnFaHQxdzMP
" Keluarkan kontol saya."
2844Please respect copyright.PENANAq6Vtw9qPLa
Dengan tangan gemetar, Rina menurunkan resleting. Sebuah kontol besar, tebal, dan berurat muncul, panjang sekitar 18 cm dengan kepala yang besar dan berwarna gelap. Bau maskulin yang kuat langsung memenuhi hidung Rina.
2844Please respect copyright.PENANAxq1E4JfT3Z
"Ini pertama kalinya kamu lihat yang sebesar ini, kan?" tanya Pak Bambang sambil memegang kontolnya sendiri dan menepuk-nepuk pipi Rina dengan kepalanya yang panas.
2844Please respect copyright.PENANAu7Sx98GwQO
Rina mengangguk pelan, wajahnya merah padam karena malu.
2844Please respect copyright.PENANAPcIbGm5gz8
"Peluk dengan kedua tanganmu dulu. Rasakan panas dan tebalnya."
2844Please respect copyright.PENANAk1b7MRX4Gi
Rina patuh. Kedua tangannya memeluk kontol itu. Panasnya luar biasa, denyutannya kuat, dan tebalnya membuat jari-jarinya hampir tak bisa bertemu. Rina merasa memeknya semakin berdenyut hebat hanya karena memegangnya.
2844Please respect copyright.PENANA1YPx0g3PS1
"Sekarang cium ujungnya. Lalu jilat pelan."
2844Please respect copyright.PENANAgTQzd3zWa5
Rina mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh kepala kontol yang sudah mengeluarkan cairan bening. Rasa asin sedikit pahit memenuhi lidahnya saat ia menjilat pelan dari bawah ke atas.
2844Please respect copyright.PENANAhJP7rxvorw
"Bagus... sekarang buka mulutmu lebar-lebar."
2844Please respect copyright.PENANA7THCkhEL35
Pak Bambang memegang kepala Rina dengan kedua tangan, lalu mendorong kontolnya masuk ke mulut hangat Rina. Hanya masuk setengahnya saja sudah memenuhi mulut dan menyentuh tenggorokan.
2844Please respect copyright.PENANAD2LxQ7otac
"Gghh... hkkk..." Rina tersedak, air liurnya langsung meleleh deras ke dagu dan menetes ke payudaranya.
2844Please respect copyright.PENANA2rWDuE2Grw
Pak Bambang mendesah nikmat. "Hisap lebih kuat. Gunakan lidahmu. Bayangkan ini adalah pekerjaanmu sekarang."
2844Please respect copyright.PENANAJO5D7HNeOP
Ia mulai memompa pelan, keluar masuk mulut Rina dengan irama yang terkendali. Suara basah *gluck... gluck... slurp* memenuhi basement. Air mata Rina terus mengalir, tapi matanya mulai berkaca-kaca karena sensasi aneh yang muncul di perut bawahnya.
2844Please respect copyright.PENANAWCT2Dssrav
Setelah hampir sepuluh menit oral yang melelahkan, Pak Bambang menarik Rina berdiri. Ia meletakkan Rina di atas meja besar, membuka lebar kedua kakinya. memek pink Rina terpampang jelas, sudah sangat basah hingga cairan orgasmenya menetes ke meja.
2844Please respect copyright.PENANAxBgnZeAjem
Pak Bambang mengambil sebuah anal plug kecil dari rak, melumurinya dengan cairan orgasme, lalu perlahan memasukkannya ke anal Rina.
2844Please respect copyright.PENANAKP04ziLEk0
"Ahhh! Sakit... Pak!" Rina menjerit kecil. Sensasi penuh dan meregang di belakang membuatnya mengejang.
2844Please respect copyright.PENANAFvqF3cQRoY
"Ini baru pemanasan," kata Pak Bambang sambil memutar plug itu pelan. "Besok kita pakai yang lebih besar."
2844Please respect copyright.PENANAGqBWkFcpXZ
Ia lalu berlutut, wajahnya tepat di depan memek Rina. Lidahnya yang tebal menjilat dari bawah ke atas, menyapu seluruh celah memek dan berhenti di kristoris yang membengkak.
2844Please respect copyright.PENANAiOjiJ2z3i8
"Nngghhh!!" Rina menjerit. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja. Sensasi lidah panas itu terlalu kuat. Pak Bambang mengisap kristoris dengan rakus sambil dua jarinya memompa masuk ke dalam memek yang sempit dan panas.
2844Please respect copyright.PENANAJvIB85uOO0
Cairan Rina keluar semakin banyak. Bau manis khas perempuan yang bergairah memenuhi udara basement. Pak Bambang menjilat dan mengisap tanpa henti selama hampir dua puluh menit, membawa Rina ke ambang klimaks berkali-kali tapi selalu menghentikan tepat sebelum meledak.
2844Please respect copyright.PENANAwcCC1uoulg
"Pak... saya mohon... sudah... ahh... saya tidak tahan..." Rina menangis sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tubuhnya basah keringat, payudaranya naik turun cepat.
2844Please respect copyright.PENANAT24V2RMVvL
Pak Bambang berdiri. kontolnya yang besar dan basah oleh air liur Rina menempel di memek Rina, menggesek-gesek pelan di celahnya tanpa memasukkan.
2844Please respect copyright.PENANA6YJktO5fx8
"Rasakan bedanya dengan kontol suami kamu yang kecil itu," bisik Pak Bambang kotor. Ia menggesek lebih kuat, kepala kontolnya menekan kristoris Rina berulang-ulang.
2844Please respect copyright.PENANAUMBw73HKoU
Rina tak tahan lagi. Tubuhnya mengejang hebat. cairan orgasme orgasme menyembur keluar dari memeknya, membasahi kontol Pak Bambang dan lantai.
2844Please respect copyright.PENANAN1t6mxttpu
"Aaahhhhh!!!"
2844Please respect copyright.PENANA2h18mLwrOm
Orgasme pertama yang begitu kuat membuat kakinya gemetar tak terkendali, air mata mengalir deras, dan suaranya pecah menjadi erangan panjang.
2844Please respect copyright.PENANA1zOGdzVWcc
Pak Bambang tersenyum puas. Ia belum memasukkan kontolnya sepenuhnya malam ini. Ia hanya mengoleskan sperma yang keluar dari ujung kontolnya ke memek Rina yang masih berdenyut.
2844Please respect copyright.PENANAwWtLu9DyXq
"Ini baru malam pertama," katanya sambil menepuk pipi Rina pelan. "Besok training akan lebih berat. Pulanglah. Besok malam jam 8 tepat kembali ke sini."
2844Please respect copyright.PENANAEMVlexj6Wv
Rina berjalan pulang dengan kaki yang masih gemetar. Celana dalamnya basah kuyup, analnya masih terasa penuh oleh plug kecil, dan pikirannya kacau balau. Rasa malu, bersalah, dan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan bercampur aduk.
2844Please respect copyright.PENANACvGG2CO9nf
Saat masuk ke kamar, Andi masih tidur. Rina berbaring di samping suaminya, tubuhnya masih panas. Di dalam hati, ia tahu hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.
2844Please respect copyright.PENANA1ypyTqdp1S


