Minggu-minggu berikutnya berjalan bergulir seperti aliran air yang tenang di antara himpitan bebatuan sungai. Musim kemarau seolah-olah mencapai puncaknya di akhir bulan ini, meninggalkan jejak tanah yang pecah-pecah di area persawahan dan debu-debu halus yang beterbangan setiap kali angin kering berembus melewati halaman. Rumah joglo modern milik keluarga Fahmi tetap berdiri kokoh sebagai tempat bernaung, namun hawa panas yang terjebak di dalam ruangan kayu itu terkadang membuat siapa saja kehilangan kesabaran jika tidak memiliki ketulusan hati yang kuat.
9993Please respect copyright.PENANApCHi2i7ijS
Nisa, wanita muda yang kini semakin matang dalam mengemban dirinya sebagai seorang istri dan menantu, terus menjalani hari-hari dengan penuh kepuasan. Sifatnya yang sangat kalem, tutur katanya yang lembut, dan adabnya yang selalu merendahkan pandangan telah membuatnya menjadi permata baru di dalam rumah tersebut. Ibu mertuanya tidak henti-hentinya memuji kecekatan Nisa kepada para tetangga di pasar tradisional, sementara Fahmi selalu pulang dengan binar mata penuh kerinduan setiap sore hari setelah menyelesaikannya di *dealer* sepeda motor.
9993Please respect copyright.PENANAwERRNIBxHz
Namun, tinggal bersama mertua di tengah musim kemarau yang ekstrem terkadang menghadirkan situasi-situasi tak terduga yang menguji ketenangan batin. Siang itu, waktu baru saja menunjukkan pukul satu belas lewat tiga puluh menit. Matahari di luar seperti berada tepat di atas ubun-ubun, memancarkan panas yang menyengat hingga membuat udara di dalam rumah terasa sangat pengap. Nisa baru saja menyelesaikannya membersihkan seluruh ruang tengah, menyetrika tumpukan pakaian, dan menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam nanti.
9993Please respect copyright.PENANAvFS9NVbKqQ
Keringat dingin membasahi seluruh permukaan kulitnya, membuat gamis katun panjang yang dikenakannya terasa sangat tidak nyaman dan menempel di tubuh. Rasa gerah yang luar biasa itu membuat kepalanya sedikit pening. Nisa melirik ke arah luar melalui jendela dapur; suasana sangat sepi. Ibu mertuanya dipastikan masih sibuk dengan para pelanggan kain di pasar, sedangkan Fahmi sedang berada di tengah-tengah rapat bulanan di kantor kabupaten. Berpikir bahwa rumah benar-benar dalam keadaan kosong dan aman seperti biasanya, Nisa memutuskan untuk mandi di siang hari.
9993Please respect copyright.PENANAn9lfbQSdj1
Ia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah, dekat dengan area dapur. Karena terburu-buru oleh rasa gerah yang sudah tidak terganggu, Nisa hanya membawa selembar handuk katun putih bersih berukuran sedang yang biasa ia gunakan, tanpa membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Ia berpikir akan langsung kembali ke ruangan yang terkunci untuk berganti pakaian dengan leluasa setelah tubuhnya segar kembali.
9993Please respect copyright.PENANAmjYRcGk8Bb
Di dalam kamar mandi, Nisa membiarkan udara dingin dari bak mandi mengguyur tubuhnya berulang kali. Suara gayung yang mencebur ke dalam air dan gemericik air yang jatuh menghantam lantai semen terdengar berirama, memecah kesunyian rumah joglo tersebut. Nisa menikmati setiap detiknya, membasuh leher, bahu, dan seluruh tubuhnya dengan sabun mandi beraroma ekstrak melati putih yang sangat pekat dan wangi, aroma khas yang selalu menjadi pilihan setianya sejak malam pertama pernikahan.
9993Please respect copyright.PENANA8NoI2fo0VO
Sementara itu, di bawah terik matahari sawah yang membakar kulit, Ayah mertua Nisa terpaksa menghentikan aktivitasnya lebih cepat dari jadwal biasanya. Botol termos besar yang dibawanya dari rumah sudah kosong sejak satu jam yang lalu. Rasa haus yang mencekik dan tenggorokan yang terasa kering seperti berpasir membuat pria paruh baya bertubuh tegap itu tidak mampu lagi melanjutkan pekerjaan mencangkul tanah sawah yang kian memaksa.
9993Please respect copyright.PENANAhgMGJTWQcl
Dengan langkah yang perlahan dan nafas yang agak terengah-engah, Ayah mertua berjalan pulang melewati jalur setapak di antara pohon-pohon jati yang meranggas. Pikirannya hanya tertuju pada air putih dingin di dalam kulkas rumah untuk membasuh dahaganya. Seperti kebiasaan yang sudah berjalan bertahun-tahun, beliau selalu masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang yang langsung terhubung dengan area dapur, agar tanah dan lumpur dari sawah tidak mengotori lantai ruang tamu depan.
9993Please respect copyright.PENANAj1y9WcQXMO
*Krieeek...*
9993Please respect copyright.PENANAS7GUjyRCPq
Pintu belakang kayu yang berat itu terbuka perlahan. Ayah mertua melangkah masuk ke dalam area dapur yang sejuk. Beliau meletakkan botol termos kosongnya di atas meja makan kayu, lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil kompres udara dingin. Setelah meneguk air tersebut hingga setengahnya, rasa segar seketika menjalar di dada pria sepuh itu. Beliau menarik sebuah kursi kayu di meja dapur, lalu duduk bersandar di sana untuk menghela napas sejenak, mengistirahatkan tubuh yang lelah sebelum berniat kembali lagi ke sawah setelah asar nanti.
9993Please respect copyright.PENANA9uGMlLoasp
Saat itulah, di tengah keheningan dapur, telinga Ayah mertua menangkap suara gemericik udara yang perlahan mulai berhenti dari arah kamar mandi yang berada tepat di sudut dapur. Dia mengira istrinya mungkin pulang awal dari pasar karena sepi pembeli, atau mungkin Fahmi yang sedang mendapat jam istirahat siang. Sebagai pria yang sangat kalem dan menjunjung privasi tinggi, dia tetap duduk tenang di kursinya, menunggu orang di dalam kamar mandi itu keluar.
9993Please respect copyright.PENANAgvvJFEMo15
Namun, beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dengan bunyi klik yang pelan.
9993Please respect copyright.PENANA2jPgRzVsSC
Langkah kaki yang keluar dari kamar mandi terdengar sangat ringan dan halus. Ayah mertua secara refleks menoleh ke arah sumber suara. Pada detik itulah, waktu seolah-olah berhenti berputar di dalam dapur rumah joglo tersebut, dan mata pria sepuh itu tiba-tiba membelalak lebar karena rasa terkejut yang luar biasa.
9993Please respect copyright.PENANAwns5pOxoJX
Sosok yang keluar dari kamar mandi ternyata bukanlah istrinya ataupun Fahmi, melainkan Nisa.
9993Please respect copyright.PENANAANk8BlEUlT
Wanita muda itu keluar dalam kondisi yang sangat di luar dugaan. Karena tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi, Nisa hanya mengenakan selembar handuk katun putih yang dililitkan erat menutupi dada. itu Handuk tergolong cukup pendek untuk ukuran wanita yang biasa tampil tertutup rapat; lilitannya hanya mampu menutupi tubuh tinggi Nisa dari batas atas dada hingga sebatas paha bagian atas saja.
9993Please respect copyright.PENANA3KGbDpgbSM
Pemandangan itu seketika mengekspos bagian tubuh Nisa yang selama ini tersembunyi di balik gamis-gamis longgarnya yang tebal. Kulit pundaknya yang putih bersih dan mulus tampak berkilau karena sisa-sisa butiran air mandi yang belum mengering. Di balik lilitan handuk yang agak ketat di bagian dada, tanpa sengaja terlihat sepasang tali pakaian dalam berwarna krem yang samar-samar menyembul, menandakan bahwa di balik handuk itu, Nisa masih mengenakan pakaian dalamnya yang tercetak cukup kencang.
9993Please respect copyright.PENANAyJwbgxcNld
Lebih dari itu, potongan handuk yang berada di atas berlutut terlihat dengan sangat jelas bentuk kaki Nisa yang putih, mulus, serta paha bagian bawahnya yang berisi namun tampak kencang dan padat. Rambut hitam panjang yang basah kuyup dibiarkan terurai di satu sisi bahu, meneteskan sisa air yang membasahi permukaan handuk di bagian dada atasnya.
9993Please respect copyright.PENANATbN6jdPxyJ
Nisa yang sedang melangkah keluar sambil mengeringkannya dengan ujung jemari, seketika membeku di tempat. Matanya yang bulat melebar sempurna saat melihat sosok Ayah mertuanya sedang duduk di kursi meja dapur, menatap ke arah dengan pandangan mata yang membelalak kaget.
9993Please respect copyright.PENANA7OHkOwFPiN
Suasana di dapur itu tiba-tiba berubah menjadi sangat tidak nyaman dan menegangkan. seolah-olah udara-olah dipenuhi kabut kecanggungan yang luar biasa pekat. Nisa merasa darahnya berdesir hebat, dan dalam sekejap, seluruh permukaan wajahnya hingga ke leher berubah warna menjadi merah padam akibat rasa malu yang teramat sangat, jauh lebih besar daripada kejadian di ruang tengah beberapa minggu lalu. Ia secara refleks menyilangkan kedua tangan di depan dada, mencoba menarik ujung bawah handuknya agar bisa menutupi pahanya yang terekspos, namun hal itu justru membuat lilitan di bagian atas dada semakin menegangkan.
9993Please respect copyright.PENANAFeQztyfVBT
"A... Ayah?!" bisik Nisa dengan suara yang bergetar hebat, hampir tidak keluar dari tenggorokannya.
9993Please respect copyright.PENANAGEVylxdzex
Ayah mertua yang menyadari kekhilafannya karena sempat menatap menatap cucunya selama beberapa detik, langsung tersentak sadar. Pria sepuh itu dengan terburu-buru mengalihkan pandangan matanya ke arah lantai air mani, wajahnya yang legam kini menyiratkan rasa bersalah dan salah tingkah yang luar biasa. Beliau berdehem keras beberapa kali untuk menetralisir rasa kikuk yang menyerang ingatan.
9993Please respect copyright.PENANAEWvYGSfnet
“Astagfirullah… Nisa, maafkan Ayah,” ucap Ayah mertua dengan suara yang terdengar kaku dan sedikit terbata-bata, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya selalu tenang dan berwibawa. "Ayah... Ayah benar-benar tidak tahu kalau kamu sedang berada di dalam kamar mandi. Ayah pulang hanya untuk mengisi air minum yang habis dan bermaksud istirahat sebentar di dapur ini sebelum kembali ke sawah."
9993Please respect copyright.PENANA9o0c0pgB5M
Nisa yang masih berdiri gemetar di dekat pintu kamar mandi, mencoba mengatur napasnya yang memburu akibat rasa panik dan malu yang bercampur aduk. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung jari kakinya yang masih basah.
9993Please respect copyright.PENANACRvCGNYsL0
"N... Nisa yang memohon maaf, Ayah," jawab Nisa dengan suara yang sangat lirih dan penuh rasa kikuk. "Nisa benar-benar tidak tahu kalau Ayah mau pulang jam segini. Karena cuaca di luar dan di dalam rumah terasa sangat gerah menyengat sejak pagi, Nisa terpaksa mandi siang untuk mengunjungi badan. Dan karena mengira rumah kosong, Nisa tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi... Nisa minta maaf, Ayah."
9993Please respect copyright.PENANABVjy6nUZdS
Di tengah dialog yang sarat akan rasa canggung tersebut, hawa panas musim kemarau seolah-olah membawa sebuah elemen lain ke dalam ruangan dapur. Angin tipis yang berembus dari pintu belakang yang terbuka, tanpa sengaja mengeluarkan uap hangat yang keluar dari tubuh Nisa yang baru selesai mandi. Aroma wangi sabun mandi ekstrak melati yang sangat segar, harum, dan feminim dari tubuh wanita muda itu seketika menguar luas, memenuhi seluruh rongga udara di dalam dapur kecil tersebut, bahkan hingga mencapai tempat duduk Ayah mertua.
9993Please respect copyright.PENANAKGQQdbbj1V
Aroma melati yang begitu pekat dan memikatnya, berpadu dengan pemandangan visual keindahan fisik menantunya yang sempat terlihat sekilas tadi, tanpa diduga membuat batin Ayah mertua yang selama puluhan tahun hidup dalam ketenangan batin sempat terusik momen. Pria sepuh itu merasakan sebuah getaran aneh yang membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Untuk sepersekian detik, dia merasa sedikit terpesona dan kagum akan pesona kemudaan dan kesucian yang terpancar dari tubuh menantunya yang selama ini selalu tersembunyi rapat di balik kain-kain panjang.
9993Please respect copyright.PENANAPTKEwJX87A
Namun, sebagai seorang pria yang memiliki fondasi iman yang kuat, kedewasaan yang matang, serta rasa hormat yang tinggi terhadap institusi pernikahan anaknya, Ayah mertua dengan cepat menepis getaran pembohong tersebut dari dalam pikirannya. Dia melirik sekilas, beristigfar di dalam hati, dan langsung mengingat sosoknya sebagai pelindung keluarga yang bijaksana. Beliau tahu, batasan suci antara mertua dan menantu tidak boleh dinodai oleh pikiran-pikiran yang salah, sempit apa pun itu.
9993Please respect copyright.PENANApqZEX2MyAa
Ayah mertua berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat berhati-hati, tetap menjaga agar pandangan sama sekali tidak mengarah ke tubuh Nisa yang hanya berbalut handuk. Beliau mengambil botol termosnya yang kini sudah terisi udara dingin, lalu berjalan perlahan menuju pintu belakang.
9993Please respect copyright.PENANAY8LgADFyTy
"Sudah, tidak apa-apa, Nisa. Jangan merasa bersalah. Ini murni ketidaksengajaan di antara kita karena cuaca yang memang terlalu panas," kata Ayah mertua dengan nada suara yang telah kembali me dan lembut penuh wibawa, berusaha meredakan ketakutan di hati cucunya. "Sekarang, segeralah kamu masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian yang nyaman agar tidak masuk angin. Ayah akan langsung kembali ke sawah sekarang juga untuk melanjutkan pekerjaan."
9993Please respect copyright.PENANA9Th9PLCH95
"I...iya, Ayah. Terima kasih," jawab Nisa dengan suara yang sangat pelan, masih menghalanginya dengan takzim.
9993Please respect copyright.PENANAD6UqS954a0
Ayah mertua melangkah keluar melewati pintu belakang, menutupnya dengan perlahan, meninggalkan Nisa yang perlahan-lahan mulai bisa menghela napas lega di dalam dapur. Begitu suara langkah kaki suaminya sang mertua menjauh, Nisa segera setengah berlari menuju kamarnya, mengunci pintu, dan bersandar di balik daun pintu dengan jantung yang masih berdebar. Kejadian siang itu kembali menjadi sebuah rahasia tak tertulis di antara mereka, sebuah momen yang menguji kedewasaan, namun di sisi lain semakin memperlihatkan betapa kuatnya adab dan rasa hormat yang dijaga oleh keluarga tersebut di bawah perlindungan nilai-nilai kesucian yang mulia.9993Please respect copyright.PENANAd6nk1uuXHP


