Malam itu, alam seolah ingin menguji keteguhan hati penghuni rumah joglo setelah rentetan kejadian kejanggalan yang terjadi belakangan ini. Baru saja jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika seluruh aliran listrik di desa tersebut tiba-tiba padam secara serentak. Kegelapan yang pekat langsung menelan setiap sudut ruangan, menyisakan kesunyian yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
1444Please respect copyright.PENANAnOaEB6FQoU
Fahmi malam itu ternyata belum pulang karena ada urusan darurat di kantor cabang kabupaten, sedangkan Ibu mertua sudah tertidur lelap di kamarnya sejak kelelahan pulang dari pasar. Nisa yang berada di dalam kamar pengantinnya terbangun karena hawa kamar yang tiba-tiba berubah menjadi sangat pengap tanpa putaran kipas angin. Tenggorokannya terasa kering dan terbakar akibat hawa kemarau yang masih tersisa di dalam dinding rumah.
1444Please respect copyright.PENANAZ9TXbzLGNn
“Mas Fahmi belum pulang, lampu malah mati,” bisik Nisa perlahan sambil meraba-raba meja rias untuk mencari korek api dan sebatang lilin kecil.
1444Please respect copyright.PENANAlRBMRlXwJZ
Setelah menyalakan lilin, Nisa memutuskan untuk keluar menuju dapur demi mengambil gelas air dingin. Ia hanya mengenakan baju tidur daster katun tipis berwarna biru muda, namun kali ini ia tetap mengenakan pakaian dalamnya lengkap demi menjaga kesopanan jikalau ada anggota keluarga lain yang terbangun. Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, tangan kirinya membawa lilin kecil yang cahayanya bergoyang ditiup angin, Nisa berjalan melewati koridor tengah menuju dapur.
1444Please respect copyright.PENANADme56DHLNX
Cahaya lilin yang temaram itu sama sekali tidak mampu mengeluarkan seluruh ruangan yang luas dan dipenuhi sekat kayu jati. Bayangan benda-benda besar memanjang di dinding, menciptakan ilusi yang menakjubkan pemandangan mata.
1444Please respect copyright.PENANAsHuOsclTbS
Pada saat yang bersamaan, dari arah pintu belakang, Ayah mertua ternyata juga terbangun karena alasan yang sama. Pria sepuh itu merasa haus dan berjalan tanpa membawa penerangan apa pun, mengandalkan hafalannya terhadap tata letak rumah yang sudah ditinggalinya selama puluhan tahun. Beliau melangkah dalam kegelapan total, tidak menyadari bahwa menantunya juga sedang berjalan menuju titik yang sama.
1444Please respect copyright.PENANANWCM0VkmnN
Tepat di kelokan tiang penyangga utama yang membatasi ruang tengah dan dapur, kejadian malang itu terjadi. Karena fokus Nisa beragam untuk menjaga agar api lilinnya tidak mati akibat hembusan angin dari ventilasi, ia tidak melihat ada bayangan kecil besar yang datang dari arah berlawanan.
1444Please respect copyright.PENANAk8aeTWMzEy
*BRUKK!*
1444Please respect copyright.PENANAMPRGOZRGa4
Tubuh tinggi Nisa bertubrukan dengan sangat keras dengan bidang dada dan kokoh milik Ayah mertuanya. Tabrakan yang mendadak itu membuat Nisa kehilangan keseimbangan. Lilin di tangan terlepas, jatuh ke lantai dan langsung mati seketika, melemparkan mereka berdua ke dalam kegelapan yang mutlak.
1444Please respect copyright.PENANAYphElNaUMP
Dalam ketakutan karena merasa akan terjatuh ke lantai air mani, Nisa secara refleks meraih apa saja yang ada di depannya untuk berpegangan. Sementara itu, Ayah mertua yang juga terkejut akibat benturan tiba-tiba itu langsung mengulurkan kedua tangan kekarnya ke depan demi menahan orang yang menabraknya agar tidak terjatuh.
1444Please respect copyright.PENANAFDcoxif0pF
Namun, karena kondisi yang gelap dan pergerakan yang sama-sama tidak terencana, posisi tangan mereka mendarat di tempat yang salah. Kedua telapak tangan kasar Ayah mertua yang lebar terbuka bermaksud menahan bahu, justru mendarat tepat dan mencengkeram bagian depan tubuh Nisa, menyentuh payudara wanita muda itu secara penuh. Sentuhan fisik yang sangat intim itu terhalang oleh kain baju tidur daster tipis dan cup *bra* kencang yang dikenakan oleh Nisa.
1444Please respect copyright.PENANAa2zHi4iOR5
Untuk beberapa detik yang terasa sangat lama, waktu seolah-olah membeku di dalam kegelapan dapur. Keduanya sama-sama mematung. Ayah mertua bisa merasakan kehangatan, kelembutan, dan bentuk melingkar yang padat di balik telapak tangan, sementara Nisa merasakan sentuhan tangan pria yang begitu kokoh menekan bagian paling sensitif dari kehormatannya.
1444Please respect copyright.PENANA2kvNuy8P2D
Nisa adalah orang yang pertama kali sadar karena rasa terkejut yang luar biasa. Ia langsung menarik tubuhnya mundur dengan cepat hingga punggung membentur lemari makan.
1444Please respect copyright.PENANAIow970zZay
"Astaga! Ayah?!" pekik Nisa dengan suara yang bergetar hebat penuh dengan rasa kaget dan malu yang membuncah di dada.
1444Please respect copyright.PENANAqE8OZhokci
Ayah mertua yang menyadari posisi tangannya baru saja menyentuh bagian tubuh menantunya yang sangat terlarang, langsung menarik kedua tangannya kembali dengan gugup. Pria sepuh yang biasanya selalu tenang dan berwibawa itu tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya gemetar hebat. Rasa bersalah yang teramat sangat menyerang batinnya di dalam kegelapan.
1444Please respect copyright.PENANAw0ETMi0xRT
"Astaga... Nisa? Kamu Nisa?" tanya Ayah mertua dengan suara yang serak, terbata-bata karena dilanda rasa bersalah yang luar biasa. "Maafkan Ayah, Nisa!, Ayah tidak melihat ada orang di sini. Ayah mengira... Ayah hanya bermaksud menahan tubuhmu agar tidak terjatuh."
1444Please respect copyright.PENANAAwgxPkYl5x
Nisa memegangi dadanya yang naik turun tidak beraturan, air matanya hampir saja menetes karena rasa malu yang teramat sangat sebagai seorang wanita yang salihah. "I...iya, Ayah. Nisa yang salah. Nisa tidak melihat Ayah berjalan dari arah depan karena cahaya lilinnya terlalu kecil dan mati. Nisa minta maaf, Ayah."
1444Please respect copyright.PENANAR1ap80sVey
"Ayah yang minta maaf, Nanda. Ayah benar-benar tidak sengaja. Sungguh, Ayah tidak bermaksud kurang membukamu," sahut Ayah mertua dengan nada yang sangat penuh penyesalan, tangan meraba-raba dinding untuk mencari pegangan karena merasa kepalanya tiba-tiba pening akibat ketegangan moral tersebut.
1444Please respect copyright.PENANATkHhnGaLZR
"Iya, Ayah. Nisa tahu Ayah tidak sengaja. Nisa... Nisa kembali ke kamar dulu, Ayah," ucap Nisa dengan suara yang hampir menghilang karena menahan tangis malu.
1444Please respect copyright.PENANAXOUzAyRMD3
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Nisa berjalan terburu-buru dalam kegelapan, meraba dinding koridor hingga berhasil masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia mengunci pintu dengan rapat, melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Sentuhan tangan Ayah mertuanya di dada tadi meninggalkan bekas sensasi hangat yang aneh yang membuat Nisa merasa sangat Berdosa sekaligus bingung bagaimana harus mengisyaratkan esok hari.
1444Please respect copyright.PENANALYzYCpbLrF
Keesokan harinya, hawa canggung sisa malam pemadaman listrik masih terasa menggantung, namun rutinitas rumah tangga harus tetap berjalan. Menjelang siang hari, cuaca musim kemarau kembali menunjukkan kegarangannya. Setelah selesai memasak untuk makan siang dan membersihkan seluruh ruangan rumah hingga mengkilap, tubuh Nisa kembali dibanjiri oleh keringat yang pekat. Karena merasa sangat gerah dan lengket, ia memutuskan untuk mandi siang demi menyegarkan badannya.
1444Please respect copyright.PENANA5SdRDBVcpc
Setelah selesai mandi, Nisa kembali ke kamarnya dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, sepotong *bra* berwarna putih bersih dan celana dalam katun tipis yang senada. Ia sengaja memakai baju belum karena ingin membalurkan losion tubuh terlebih dahulu di depan cermin riasnya yang besar, mengira situasi rumah aman seperti biasa.
1444Please respect copyright.PENANACOInDdUKgZ
Namun, di luar rumah, Ayah mertua ternyata kembali pulang lebih awal dari sawah seperti biasa untuk mengisi ulang botol air minumnya yang telah kosong. Pria sepuh itu melangkah masuk lewat pintu belakang dengan langkah tanpa suara yang khas.
1444Please respect copyright.PENANADiCN6ifZ82
Tepat saat Nisa berjalan mendekati lemari kayu besarnya untuk mengambil gamis bersih, ia melihat ada sesuatu yang bergerak cepat dari celah bawah lemari. Seekor tikus yang berukuran cukup besar tiba-tiba keluar dan berlari ke arah kakinya.
1444Please respect copyright.PENANA0jrUO4tHPR
"Aaaakkk! Tikus!!! Tolong ada tikus!" teriak Nisa secara refleks dengan suara yang sangat melengking, dilanda ketakutan luar biasa karena ia memang memiliki fobia yang parah terhadap hewan pengerat tersebut.
1444Please respect copyright.PENANAIpZXePP1rv
Ayah mertua yang baru saja meletakkan botol termosnya di dapur, langsung terkejut mendengar teriakan histeris menantunya yang terdengar sangat ketakutan dari arah kamar tengah. Tanpa berpikir panjang dan didorong oleh insting protektif seorang kepala keluarga, pria sepuh itu langsung berlari cepat menuju kamar Nisa.
1444Please respect copyright.PENANAFfciRFT3tb
*BRAKK!*
1444Please respect copyright.PENANAXngMIAwhXl
Ayah langsung mertua mendorong pintu kamar yang kebetulan tidak terkunci rapat siang itu. "Ada apa, Nisa?! Di mana yang berbahaya?!" teriak Ayah mertua sambil melangkah masuk dengan sigap.
1444Please respect copyright.PENANAHoHQdI7NYV
Namun, langkah kaki Ayah mertua tiba-tiba terkunci di atas lantai air mani. Pandangan matanya langsung di bawah, dan mulutnya sedikit terbuka karena rasa terkejut yang luar biasa melihat kondisi menantunya di dalam kamar.
1444Please respect copyright.PENANAO5XpUOkgl3
Nisa berdiri dekat ranjang, dalam kondisi yang sangat terbuka dan minim. Wanita muda itu hanya mengenakan pakaian dalam berupa *bra* dan celana dalam katun putih saja. Karena posisi tubuhnya yang tegang dan tegang, seluruh keindahan fisik Nisa yang selama ini tertutup rapat oleh gamis-gamis tertutup kini terekspos secara vulgar di hadapan sang ibu mertua.
1444Please respect copyright.PENANAWXYk1HMwjq
Ayah mertua membelalakkan matanya. Tubuhnya yang tiba-tiba ternyata sangat indah; berisi, padat, namun kencang di setiap lekukannya. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan pakaian dalam putih yang dikenakannya. Pandangan pria sepuh itu tanpa sengaja mengatur bagian payudara Nisa yang menyembul padat di balik *bra* yang menopangnya dengan kencang, serta lekuk bokongnya yang besar, bulat, dan berisi yang tercetak jelas dari samping karena posisi Nisa yang agak membungkuk menutup lantai.
1444Please respect copyright.PENANAJKBOfu7o7q
Untuk beberapa detik, Ayah mertua terkejut, kagum dengan kekaguman estetika yang primitif sebagai seorang pria normal melihat keindahan tubuh wanita muda dari jarak sedekat itu. Namun, Nisa yang menyadari kehadiran mertuanya langsung berteriak lagi, kali ini bercampur antara takut pada tikus dan rasa malu yang luar biasa karena tubuh polosnya dilihat.
1444Please respect copyright.PENANA6lA7dQ98RI
"Ayah! Itu tikusnya masuk ke bawah lemari! Tolong, Ayah!" teriak Nisa sambil menunjuk ke arah kolong lemari, wajahnya sudah memerah padam seperti kepiting rebus. Ia terlalu panik dengan tikus hingga lupa untuk langsung menyambar handuk yang ada di atas kasur.
1444Please respect copyright.PENANAVpVu6lQhDX
Ayah mertua berusaha menguasai fokusnya, menekan getaran liar di dalam dadanya. “I…iya, di bawah lemari? Biar Ayah cari,” jawab Ayah mertua dengan suara yang tiba-tiba parau.
1444Please respect copyright.PENANApVkq43jKFY
Pria sepuh itu langsung tergeletak di lantai semen, mengurung kepalanya dalam-dalam untuk melihat ke arah kolong lemari yang gelap. Namun, karena posisi tanah liatnya berada tepat di samping tempat Nisa berdiri tegak, pandangan mata Ayah mertuanya saat mendongak sedikit untuk memeriksa sudut lemari justru kembali menangkap pemandangan yang membuat jantungnya seolah tak henti-hentinya berdetak.
1444Please respect copyright.PENANAcDkUfc7Cz3
Tepat di depan matanya, dalam jarak tidak sampai setengah meter, terletak di bagian pangkal paha Nisa yang dibalut celana dalam katun putih tipis. Karena posisi Nisa yang mendekatkan kedua kakinya akibat ketakutan, kain celana dalam yang tipis itu menarik ketat, terlihat dengan sangat jelas bentuk bagian depan atau pangkal paha menantunya yang tampak cembung menonjol ke depan. Tekstur kain yang ketat itu bahkan mencetak bagian halus organ intim atau vagina wanita muda itu dengan sangat simetris.
1444Please respect copyright.PENANA54YMKarO6l
Ayah mertua disambut total di lantai. Matanya seolah terkunci pada keindahan yang sangat terlarang itu. Ada sensasi panas yang tiba-tiba menjalar dari perut bagian bawah menuju dada, sebuah gairah lelaki yang sudah puluhan tahun tertidur kini terusik hebat oleh pemandangan menantunya sendiri.
1444Please respect copyright.PENANAOK92YIrFmt
Nisa yang akhirnya menyadari arah pandangan mata Ayah mertuanya yang menatap ke arah pangkal pahanya, langsung tersadar dari ketakutannya terhadap tikus. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar selembar handuk mandi besar yang diletakkan di atas kasur, lalu melilitkannya ke seluruh tubuh dari dada hingga menutup rapat paha di bawahnya.
1444Please respect copyright.PENANAzoXVJjYVBO
“Ayah… Nisa sudah pakai handuk,” bisik Nisa dengan nada suara yang bergetar hebat, menahan rasa malu yang rasanya ingin membuat dirinya menghilang dari muka bumi.
1444Please respect copyright.PENANAAgVOLruRTK
Ayah mertua langsung tersentak sadar, bagaikan dibangunkan dari mimpi buruk yang penuh dosa. Beliau buru-buru berdiri dengan wajah yang memerah, membuang mukanya ke arah jendela kamar dengan napas yang agak memburu.
1444Please respect copyright.PENANAUzn9Dm3wXn
"Ah... iya, Nisa. Maaf, Ayah tadi terlalu fokus mencari gerak-gerik tikus itu," ucap Ayah mertua, mencoba mencari alasan rasional untuk menutupi ketertegunannya tadi, meskipun suaranya terdengar sangat kaku dan tidak meyakinkan. "Tikusnya...seperti tikus itu sudah lari lewat celah belakang lemari yang menembus ke lubang angin luar. Sudah tidak ada di bawah sini."
1444Please respect copyright.PENANAY3GjswEqnF
Nisa memeluk erat lilitan handuk di dadanya, kepalanya menunduk ke dalam hingga jilbabnya yang tidak terpasang membuat rambut panjangnya menutupi wajahnya yang memerah. "I...iya, Ayah. Terima kasih sudah membantu melihatnya. Maaf Nisa merepotkan dan... dan berteriak tidak sopan tadi."
1444Please respect copyright.PENANAGUePZEGBDO
Ayah mertua berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawa dan ketenangan jiwa yang baru saja porak-poranda akibat ujian visual siang ini. Beliau melangkah mundur perlahan menuju pintu kamar tanpa sekali pun berani menatap ke arah tubuh Nisa lagi.
1444Please respect copyright.PENANAUzevxTLj8b
"Tidak apa-apa, Nisa. Lain kali kalau ada apa-apa, kunci pintunya agar aman," kata Ayah mertua dengan nada suara yang diusahakan tetap kalem dan datar, meskipun getaran aneh di dalamnya tidak bisa disembunyikan. "Ayah... Ayah mau ambil botol air minum di dapur dulu, setelah itu Ayah langsung kembali ke sawah. Kamu segeralah berpakaian yang rapi."
1444Please respect copyright.PENANAIl5NYAbURp
"Baik, Ayah. Hati-hati di jalan," jawab Nisa dengan suara yang hampir menyerupai bisikan yang sangat kikuk.
1444Please respect copyright.PENANAn52PPA5wEF
Ayah mertua melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu itu dengan rapat. Begitu berada di luar, pria sepuh itu bersandar di dinding koridor, menarik napas dalam-dalam berulang kali sambil beristigfar di dalam hati. Bayangan bentuk tubuh, bagian payudara, hingga cetakan celana dalam cucunya siang itu benar-benar melekat kuat dalam ingatannya, menjadi sebuah ujian batin terbesar dalam hidupnya sebagai seorang mertua yang harus ia bawa kembali ke tengah sunyinya ladang sawah.1444Please respect copyright.PENANA4ufaUsyWx6


