Sinar matahari di bulan Agustus memancarkan belas kasihan, membakar permukaan tanah dan membuat dedaunan pohon mangga di halaman depan rumah joglo itu meranggas pasrah. Musim kemarau kali ini terasa jauh lebih panjang dan kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di dalam rumah, hawa panas seperti tertahan di bawah langit-langit kayu yang tinggi, menciptakan atmosfer yang gerah sejak jam sepuluh pagi.
10307Please respect copyright.PENANA9WY4b8Hudm
Nisa berdiri di depan wastafel dapur, menyeka keringat yang menetes di pelipisnya dengan ujung handuk kecil yang tersampir di bahu. Pagi tadi, seperti biasa, Ibu mertuanya sudah berangkat ke pasar tradisional sejak subuh setelah membantu Nisa meracik bumbu dasar. Fahmi juga sudah memacu sepeda motornya menuju *dealer* kabupaten dengan kemeja rapi yang baru saja disetrika Nisa semalam. Kini, rumah besar itu kembali ke dalam kesunyiannya yang akrab.
10307Please respect copyright.PENANAlwBalHiLes
Namun, bagi Nisa, kesunyian hari ini terasa sedikit berbeda. Kejadian kemarin siang, saat Ayah mertuanya tanpa sengaja melihatnya dalam kondisi pakaian longgar dan daster tipis yang basah oleh keringat, masih menyisakan riak kecil di dinding pikirannya. Meskipun makan malam kemarin berjalan lancar dan penuh adab, ada rasa sungkan yang tak kasat mata setiap kali Nisa memandangi pintu belakang rumah, tempat biasanya Ayah mertuanya muncul.
10307Please respect copyright.PENANAVWUOEjCADX
Nisa menarik napas panjang, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang menurutnya tidak pantas. "Fokus, Nisa. Hari ini ada banyak cucian dan lantai rumah harus dipel dengan air karbol agar terasa lebih sejuk," gumamnya pada diri sendiri.
10307Please respect copyright.PENANAyZ5NHO8Uyz
Ia mulai bergerak cekatan. Dengan gamis katun polos berwarna abu-abu longgar dan jilbab instan hitam yang menutup dada dengan sempurna, Nisa mulai mengurusi rumah. Sifatnya yang kalem dan teratur membuat segala pekerjaan terasa ringan, meskipun keringat kembali membasahi punggung akibat hawa kemarau yang semakin menyengat menjelang tengah hari.
10307Please respect copyright.PENANAdWanwcbdTm
Sekitar jam setengah satu siang, udara di luar rumah seolah-olah bergetar karena saking panasnya. Angin yang berembus tidak membawa kesejukan, melainkan hawa kering yang membuat kulit terasa perih. Dari arah dapur, terdengar suara derit pintu pagar bambu di belakang rumah, diikuti oleh langkah kaki yang berat dan terseret.
10307Please respect copyright.PENANAAPjkOE4bKh
Nisa yang sedang melipat pakaian di ruang tengah langsung berputar. Jantungnya berdesir halus. Ia tahu itu adalah langkah kaki Ayah mertuanya. Benar saja, pria paruh baya bertubuh tegap itu melangkah masuk lewat pintu belakang. Wajahnya yang legam terpapar matahari terlihat sangat lelah, dan topi capingnya sudah digantung di dinding luar.
10307Please respect copyright.PENANAze2F4FIaMn
"Ayah? Sudah pulang?" tanya Nisa, segera berdiri dan mencapai batas ruang tengah dengan tutur kata yang sangat lembut dan sopan seperti biasanya.
10307Please respect copyright.PENANAbzmg2tmTY2
Ayah mertuanya menghentikan langkahnya, meletakkan cangkul di sudut teras dalam, lalu menatap Nisa dengan pandangan mata yang teduh namun menyiratkan rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang dari kejadian kemarin. "Iya, Nisa. Di sawah tidak ada angin sama sekali. Tanah sudah terlalu keras untuk dicangkul, jadi Ayah putuskan untuk pulang lebih awal sebelum asar."
10307Please respect copyright.PENANASw3OItXmld
Nisa melihat botol termos besar yang dibawa Ayah mertuanya sudah kosong sama sekali. "Ayah pasti sangat kehausan. Tolong duduk dulu di kursi tengah, Ayah. Biar Nisa buatkan es sirup coco pandan yang segar. Tadi pagi Ibu sempat membelikan es batu kemasan sebelum ke pasar."
10307Please respect copyright.PENANAYZztGeCUF8
Ayah mertuanya tersenyum tipis, sebuah guratan ramah di wajahnya yang biasanya sangat kalem dan kaku. "Terima kasih, Nisa. Tenggorokan Ayah rasanya seperti berpasir karena debu di jalan tadi."
10307Please respect copyright.PENANAJQVbXEoKcm
Nisa dengan cekatan melangkah ke dapur. Ia mengambil gelas kaca besar, memasukkan beberapa bongkah es batu, lalu menuangkan sirup merah dan air dingin dari kulkas. Saat mengaduk minuman itu, Nisa bisa mendengar suara helaan napas panjang Ayah mertuanya yang sedang meluruskan kaki di kursi kayu jati ruang tengah. Ada rasa haru di hati Nisa melihat betapa kerasnya pria sepuh itu bekerja demi menghidupi keluarga dan menjaga kebersamaan mereka.
10307Please respect copyright.PENANASgDOOgz6CI
Nisa berjalan kembali ke ruang tengah sambil membawa nampan berisi segelas es sirup dan sepiring kue nagasari sisa tadi sore. Ia meletakkannya di atas meja dengan posisi membungkuk, sangat menjaga adab agar tidak meninggi di depan orang tua.
10307Please respect copyright.PENANAoharKVaiWk
“Ini diminum dulu, Ayah. Semoga bisa menghilangkan rasa gerahnya,” ucap Nisa lembut, tetap menunduk dengan takzim.
10307Please respect copyright.PENANAB0tIW0mecv
Ayah mertuanya meraih gelas tersebut, meminumnya dengan beberapa tegukan besar hingga menyisakan setengah. Ia mendesah lega, meletakkan gelas itu kembali ke atas meja, lalu menatap menantunya yang kini duduk di kursi sebelah dengan jarak yang sangat sopan.
10307Please respect copyright.PENANAmJb2eyQPGH
“Nisa…” panggil Ayah mertuanya, suaranya terdengar sangat dalam dan berwibawa di kenyamanan siang itu.
10307Please respect copyright.PENANAiJP1WUqn3N
Nisa mendongak sedikit. "Iya, Ayah? Ada yang kurang?"
10307Please respect copyright.PENANA5dR8rPDVIV
Pria sepuh itu mengokohkan kepala. "Bukan soal minuman ini. Ayah hanya... Ayah ingin meminta maaf soal kejadian kemarin siang. Ayah benar-benar tidak sengaja langsung masuk tanpa mengetuk pintu luar terlebih dahulu. Ayah tidak ingin membuat merasa tidak nyaman atau takut tinggal di rumah ini."
10307Please respect copyright.PENANAjf4ihOaejP
Mendengar penuturan yang sangat jujur dan penuh kebesaran hati dari mertuanya, perasaan canggung yang sempat mengganjal di dada Nisa tiba-tiba runtuh. Air mukanya melunak, dan sebuah senyuman tulus terukir di bibir.
10307Please respect copyright.PENANABN1h0Zs41l
"Astaga, Ayah... tidak perlu meminta maaf. Nisa yang segeranya memohon maaf karena kemarin siang berpakaian kurang pantas di dalam rumah," jawab Nisa dengan nada yang sangat rendah, tulus dari lubuk hati. "Nisa tahu Ayah pulang hanya karena kehabisan udara. Nisa sama sekali tidak berpikir macam-macam, Ayah. Sikap Ayah yang langsung mengalihkan pandangan kemarin justru membuat Nisa merasa sangat dihormati dan dilindungi sebagai anak sendiri."
10307Please respect copyright.PENANADqNZmSujuF
Ayah mertuanya menatap Nisa dengan binar mata yang dipenuhi rasa lega dan haru. Sebagai pria yang sangat kalem dan jarang panjangnya, penjelasan Nisa yang begitu sopan dan dewasa menjadi penyejuk yang luar biasa bagi hatinya.
10307Please respect copyright.PENANAwAWOAoYMFO
“Syukur kalau kamu berpikir begitu, Nisa,” ucap Ayah mertuanya sambil mengangguk-angguk perlahan. "Ibu sering bercerita kalau kamu adalah wanita yang sangat menjaga kehormatan. Ayah bangga Fahmi bisa mendapatkan istri sepertimu. Di zaman sekarang, sangat jarang ada anak muda yang memiliki rasa malu dan adab sepertimu."
10307Please respect copyright.PENANA2eiz4ZAWXv
“Semua ini berkat bimbingan orang tua Nisa, Ayah, dan sekarang Nisa juga berharap bisa terus belajar dari Ayah dan Ibu di rumah ini,” sahut Nisa, merasakan kehangatan kekeluargaan yang semakin mengental di antara mereka.
10307Please respect copyright.PENANAE0DTP2kN4E
“Ayah ini hanya petani tua, tidak banyak yang bisa mengajar,” gurau Ayah mertuanya singkat, sebuah candaan langka yang membuat Nisa tertawa kecil secara spontan. Kebersamaan di siang hari yang panas itu perlahan-lahan mengikis habis sisa-sisa jarak dan kecanggungan, mengubahnya menjadi sebuah ikatan batin antara ayah dan anak perempuan kandung yang saling menyayangi.
10307Please respect copyright.PENANA7V6houeYGS
Sore harinya, langit kemarau mulai meredupkan intensitas cahayanya, berganti dengan semburat warna ungu dan jingga yang indah di ufuk barat. Suara langkah kaki dan derit motor yang familiar kembali terdengar di halaman depan. Ibu mertua Nisa pulang dari pasar dengan wajah yang sedikit lelah namun tetap ceria, disusul beberapa menit kemudian oleh Fahmi yang baru saja menyelesaikan syif bekerja di *dealer*.
10307Please respect copyright.PENANAtC8MjJ7BbT
Suasana rumah hidup kembali. Nisa segera menyambut suaminya di depan pintu, melakukan ritual suci yang tidak pernah ia rindukan: mencium punggung tangan Fahmi dengan penuh takzim, sementara Fahmi membalasnya dengan kecupan lembut di kening yang selalu berhasil menghapus seluruh lelah Nisa setelah seharian mengurus rumah.
10307Please respect copyright.PENANAdKYVf4Bi9L
“Hari ini di rumah aman, Dek?” tanya Fahmi sambil berjalan beriringan ke kamar mereka, tangannya melingkari mesra di bahu Nisa.
10307Please respect copyright.PENANAgNfADcd7wf
“Alhamdulillah aman, Mas. Tadi siang Ayah pulang awal karena di sawah sangat panas, jadi Nisa sempat menemaninya berjongkok sebentar di ruang tengah,” jawab Nisa jujur, tanpa ada lagi beban rahasia atau kecanggungan yang disembunyikan.
10307Please respect copyright.PENANAoCIIKCWaSZ
Fahmi tersenyum lega mendengar hal itu. "Baguslah. Mas senang kalau kamu makin akrab sama Ayah. Ayah itu kalau sudah cocok sama orang, biar pendiam sebenarnya sangat perhatian."
10307Please respect copyright.PENANANgufYbnikZ
Usai mandi dan menunaikan ibadah salat Magrib berjamaah, keluarga itu kembali berkumpul di meja makan. Malam ini, Nisa memasak ayam goreng bumbu ketumbar dan sayur bening bayam yang segar, sangat cocok untuk meredakan sisa hawa panas siang hari. Kebersamaan di meja makan itu dilalui dengan penuh kehangatan, diiringi cerita Ibu mertua tentang dinamika pembeli di pasar yang terkadang lucu dan menguji kesabaran.
10307Please respect copyright.PENANAEnXVBTqZca
Ketika malam semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh, Fahmi dan Nisa akhirnya pamit untuk masuk ke dalam kamar tidur mereka. Di luar, angin malam berembus tipis, menggoyang tirai jendela kamar yang dibiarkan sedikit terbuka agar udara sejuk bisa masuk.
10307Please respect copyright.PENANAWVVezh7e0Q
Fahmi mengunci pintu kamar dari dalam, lalu memutar istrinya yang sedang duduk di depan meja rias, perlahan melepas jilbab instannya hingga rambut hitam panjangnya yang harum terurai jatuh di bahunya yang bidang. Fahmi berjalan mendekat, setiap langkahnya dipenuhi dengan gairah suci seorang suami yang selalu mendamba belaian sang istri setelah seharian berpisah karena tugas duniawi.
10307Please respect copyright.PENANA1eZkRl1DzB
Ia memeluk Nisa dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara leher dan rambut Nisa yang wangi. “Dek… Mas rindu sekali,” bisik Fahmi, terdengar terdengar berat dan serak, memancarkan getaran asmara yang halal dan penuh berkah.
10307Please respect copyright.PENANAMoATwojUKb
Nisa berada di bawahnya, menatap mata suaminya dengan yang kini tidak ada lagi rasa kaku atau takut seperti malam-malam awal pernikahan mereka. Selama seminggu lebih ini, penyatuan batin mereka telah membuat Nisa memahami bahwa tubuh dan jiwa adalah pakaian bagi Fahmi, begitu pula sebaliknya.
10307Please respect copyright.PENANAfWAp4cDr52
"Nisa juga rindu, Mas," jawab Nisa pelan, tangannya bergerak lembut merapikan rambut depan Fahmi yang sedikit berantakan.
10307Please respect copyright.PENANA6dUzsImYWp
Fahmi tidak membuang waktu lagi. Ia membimbing Nisa menuju kematian pengantin mereka yang empuk. Di bawah temaram lampu kamar yang minim, mereka kembali menyatu dalam keintiman dewasa yang penuh dengan kelembutan, keikhlasan, dan doa yang tak putus-putusnya agar hubungan mereka selalu terjaga dalam kebaikan dunia dan akhirat. Bagi Nisa, setiap sudut rumah baru ini, dengan kebaikan mertua dan cinta kasih suami, adalah surga kecil yang nyata, tempat ia belajar menjadi wanita seutuhnya di bawah rida Sang Pencipta.10307Please respect copyright.PENANARBBw6oMqw1


