Derit pintu belakang yang tertutup rapat menandai kedatangan Ayah mertua kembali ke sawah. Suasana di dalam rumah joglo itu seketika melesat kembali ke dalam kesunyian, namun kali ini dengan getaran canggung yang tertinggal di udara. Nisa masih berdiri mematung di posisi terakhirnya, memegang gagang sapu erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya penopang tubuh yang tiba-tiba lemas.
1439Please respect copyright.PENANAu9L2rZqPHo
Jantungnya masih berdegup kencang, memukul-mukul dinding dada dengan ritme yang tidak keruan. Wajahnya yang putih alami kini terasa panas, merona merah pekat hingga ke ujung telinga. Rasa malu yang teramat sangat teringat. Sebagai seorang wanita yang sejak kecil dididik untuk selalu menjaga pandangan, memakai pakaian yang longgar, dan menutupi dada serta seluruh lekuk tubuhnya dengan rapat, kejadian beberapa menit lalu terasa seperti sebuah kejutan besar yang mengejutkan harga dirinya.
1439Please respect copyright.PENANArxkTDqXY9z
“Ya Ampun…” bisik Nisa pelan, menutup wajahnya dengan sebelah tangan yang bebas.
1439Please respect copyright.PENANAlHlOXpkzqa
Ia melirik ke bawah, menatap daster hijau muda tipis yang menempel di tubuhnya. Kain katun itu memang terasa sangat nyaman untuk menghadapi musim kemarau, namun di bawah sorot cahaya siang yang menembus jendela, daster itu menjelma menjadi pakaian yang terlalu berani untuk ukuran menantu baru di hadapan sang mertua. Nisa segera meletakkan sapunya dengan terburu-buru. Tanpa membuang waktu lagi, ia setengah berlari ke kamar tidur utama, mengunci pintunya dari dalam, dan langsung membuka lemari pakaian.
1439Please respect copyright.PENANA8y0tOCa3tQ
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Nisa menyambar sepotong gamis katun panjang berwujud longgar dan sebuah jilbab instan yang menutup dada dengan rapi. Ia menanggalkan daster tipis tersebut, seolah ingin segera menghapus memori visual tentang bentuk tubuhnya yang sempat tercetak jelas karena keringat siang itu. Setelah berpakaian rapi dan tertutup seperti biasa, Nisa duduk di tepi kasur, menarik napas panjang berulang kali untuk menenangkan jiwa yang tergoncang.
1439Please respect copyright.PENANAZRfdCNqdnb
“Ayah pasti tidak sengaja,” gumam Nisa, mencoba menanamkan pikiran positif di kepalanya. "Beliau pulang hanya karena kehabisan air minum. Cuaca memang sangat panas."
1439Please respect copyright.PENANA3MqUYEiDt9
Nisa mengingat kembali bagaimana ekspresi wajah Ayah mertuanya tadi. Pria sepuh itu sama sekali tidak muncul yang kurang terbuka atau penuh selidik. Sebaliknya, dia justru terlihat sangat bersalah, buru-buru mengalihkan perhatian, dan berbicara dengan nada yang tetap tenang serta penuh wibawa demi menjaga perasaan menantunya. Kedewasaan sikap Ayah mertuanya itulah yang perlahan-lahan mengubah rasa panik di hati Nisa menjadi rasa takjub dan hormat yang semakin menebal. Beliau benar-benar sosok laki-laki yang memegang teguh adab kesopanan, tetap seperti Fahmi.
1439Please respect copyright.PENANAwcJ7MbP0DY
Setelah merasa emosinya benar-benar stabil, Nisa kembali keluar kamar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertunda. Ia membersihkan sisa debu di ruang tengah, mengepel lantai hingga mengkilap, dan memastikan seluruh sudut rumah dalam keadaan rapi sebelum Ibu mertuanya pulang dari pasar. Bagaimanapun, hidup harus terus berjalan, dan ia tidak boleh membiarkan kecanggungan suatu saat mewujudkannya sebagai menantu yang berbakti.
1439Please respect copyright.PENANADWo1udqfS2
Matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar jingga yang hangat di sela-sela pohon mangga di halaman depan. Sekitar jam empat sore, suara mesin sepeda motor terdengar berhenti di pelataran rumah. Nisa yang sedang menyetrika pakaian di ruang tengah segera berdiri dan berjalan menuju pintu depan untuk menyambut Ibu mertuanya yang baru saja pulang dari pasar tradisional.
1439Please respect copyright.PENANAvAC0Clf4c8
"Assalamu'alaikum, Nisa..." suara Ibu mertuanya terdengar renyah dari luar, membawa aroma khas pasar yang bercampur dengan kehangatan keibuan.
1439Please respect copyright.PENANA3KxuBAVbj6
“Wa'alaikumussalam, Ibu,” jawab Nisa sambil membuka pintu lebar-lebar. Ia segera membungkuk, mengambil tangan kanan Ibu mertuanya, dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
1439Please respect copyright.PENANA8V7EasLI0R
Ibu mertuanya membawa sebuah kantong belanjaan besar berisi sisa kain yang tidak terjual serta beberapa bungkus jajanan pasar. "Ini Nduk, Ibu bawakan kue cucur dan nagasari kesukaanmu. Tadi di pasar ada langganan Ibu yang baru bikin, masih hangat."
1439Please respect copyright.PENANAaDzenrGzV9
"Ibu repot-repot sekali. Terima kasih banyak Bu. Mari kantongnya biar Nisa yang dibawakan ke dalam," ucap Nisa dengan tuturannya yang selalu lembut.
1439Please respect copyright.PENANAqGxwOJQP8p
Mereka berdua berjalan menuju dapur. Ibu mertuanya langsung duduk di kursi meja makan sambil memijat perlahan betisnya yang tampak kelelahan setelah seharian berdiri melayani pembeli di pasar. Nisa yang peka melihat hal itu segera mengambil segelas air putih dingin dari kulkas dan menyerahkannya kepada sang Ibu.
1439Please respect copyright.PENANA07eKjv8cD1
"Minum dulu, Bu. Pasti di pasar panas sekali hari ini," kata Nisa penuh perhatian.
1439Please respect copyright.PENANALFPta6Cer6
"Terima kasih, Nisa. Memang, kemarau tahun ini luar biasa menyengat. Di dalam pasar rasanya seperti di dalam pengukusan," ujar Ibu mertuanya setelah meneguk air hingga tandas. Beliau menampilkan Nisa yang tampil rapi dengan gamis dan jilbabnya. “Kamu sendiri seharian di rumah bagaimana, Nduk? Tidak kesepian, kan?”
1439Please respect copyright.PENANAGACACrqrRo
Mendengar pertanyaan itu, teringat Nisa tiba-tiba melesat kembali pada kejadian siang hari bersama Ayah mertuanya. Detak jantungnya sempat berdesir halus, namun dengan cepat ia menguasai diri agar tidak menunjukkan gelagat yang aneh di depan Ibu mertuanya.
1439Please respect copyright.PENANAO0Rahx7ynY
"Alhamdulillah tidak sama, Bu. Banyak pekerjaan rumah yang Nisa selesaikan. Tadi... tadi siang Ayah juga sempat pulang sebentar untuk mengisi air minum yang habis di sawah," jawab Nisa dengan nada sewajar mungkin.
1439Please respect copyright.PENANAEzwQyhmU5i
Ibu mertuanya mengangguk-angguk maklum. "Oh iya, Ayahmu itu kalau musim panas memang minumnya banyak sekali. Kadang-kadang pelupa, bawa botol kecil saja ke sawah padahal panasnya seperti ini. Untung sekarang ada kamu di rumah yang bisa membantu menyiapkan airnya. Dulu sebelum ada kamu, Ibu sering was-was kalau dia dehidrasi di tengah sawah."
1439Please respect copyright.PENANAedu6cw9c2U
“Nisa senang bisa membantu, Bu.Sudah jadi tugas Nisa,” sahut Nisa sambil tersenyum tulus. Ada kelegaan besar di hati melihat Ibu mertuanya berbicara dengan sangat santai, menandakan bahwa kejadian siang itu memang murni sebuah ketidaksengajaan yang tidak perlu dibesar-besarkan.
1439Please respect copyright.PENANAokR3JZ2IWP
"Ya sudah, Ibu mau mandi dulu biar segar. Setelah itu kita siapkan makan malam bersama, ya. Sebentar lagi Fahmi dan Ayahmu juga pasti pulang," kata Ibu mertuanya sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
1439Please respect copyright.PENANAdSOxGArq6v
Nisa menenangkan Ibu mertuanya dengan perasaan hangat. Berada di tengah keluarga ini membuatnya sadar bahwa ketulusan dan keterbukaan adalah fondasi utama yang membuat rumah tangga mereka begitu kokoh dan damai.
1439Please respect copyright.PENANAUk1OEhlXEH
---
1439Please respect copyright.PENANAmuLYRcVzUI
Menjelang magrib, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di rumah. Fahmi pulang dengan wajah yang lelah namun langsung cerah begitu melihat Nisa menyambutnya di depan pintu dengan senyuman terbaiknya. Setelah semua selesai membersihkan diri dan menunaikan ibadah salat Magrib berjamaah yang diimami oleh Ayah mertua di ruang tengah, mereka semua berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam yang telah disiapkan oleh Nisa dan Ibunya.
1439Please respect copyright.PENANARIoEXkXXZ5
Suasana makan malam berjalan dengan sangat khidmat namun tetap santai. Sayur lodeh labu siam buatan Nisa yang dipadukan dengan bumbu resep rahasia dari Ibu mertua menjadi menu utama malam itu, ditemani tempe goreng garing dan sambal terasi yang menggugah selera.
1439Please respect copyright.PENANAg4iMj236mz
"Fahmi, bagaimana pekerjaan di *dealer* hari ini? Ada banyak unit yang keluar?" tanya Ayah mertua membuka percakapan, suara yang berat dan kalem memadukan kedamaian yang damai.
1439Please respect copyright.PENANA84gsFTUBWI
Fahmi meletakkan sendoknya perlahan, menunjukkan adab berbicara yang baik di depan orang tua. "Alhamdulillah Ayah. Hari ini ada tiga unit motor matic yang berhasil dikirim ke konsumen. Bulan ini targetnya agak tinggi, tapi syukurlah tim di lapangan bekerja dengan sangat cekatan."
1439Please respect copyright.PENANAsvPGBQawH7
"Baguslah kalau begitu. Yang penting selalu jaga kejujuran dalam berbisnis. Jangan pernah menipu konsumen hanya demi mengejar target," nasehat Ayah mertua dengan nada yang datar namun sarat akan makna kehidupan.
1439Please respect copyright.PENANAV7lHzrMFkQ
“Iya, Ayah. Fahmi selalu ingat pesan Ayah,” jawab Fahmi patuh. Ia kemudian menoleh ke arah Nisa yang duduk di sana, lalu beralih menatap Ibunya. “Ibu, bagaimana cara menjual kain di pasar hari ini?”
1439Please respect copyright.PENANAuYI4WBYN5y
Ibu mertuanya tersenyum lebar. "Alhamdulillah tadi ada rombongan ibu-ibu pengajian dari desa tetangga yang memborong kain seragam. Lumayan bisa buat nambah-nambah hemat. Oh iya, masakan lodeh ini enak sekali, Ayah. Ini Nisa yang potong sayurnya dan bantu meracik bumbunya tadi pagi."
1439Please respect copyright.PENANAft85NABDqn
Mendengar namanya disebut, Nisa menundukkan kepalanya, tersenyum malu-malu. “Nisa masih belajar, Bu. Masih banyak meniru takaran dari Ibu.”
1439Please respect copyright.PENANAcio29NSDAv
Ayah mertua yang sedari tadi diam menikmati makanannya, sedikit mendongak. Pandangan matanya sempat bertemu dengan mata Nisa untuk sepersekian detik, sebuah momen pertama kali mereka saling tatap setelah kejadian siang hari di ruang tengah. Tidak ada kilatan kegelapan yang berlebihan, hanya ada kegelapan seorang ayah kepada anaknya.
1439Please respect copyright.PENANAxEVmasA0oy
"Masakan Nisa memang enak. Pas di lidah," puji Ayah mertua singkat namun padat. Pujian itu terdengar sangat tulus di telinga Nisa, membuat rasa khawatir yang sempat tersisa di lubuk hati benar-benar sirna. Ayah mertuanya terbukti tidak mengubah sikap atau menjadi kaku; beliau tetap menjadi sosok pelindung yang kalem dan bijaksana.
1439Please respect copyright.PENANAJAsJMEvuX2
Fahmi yang mendengar pujian itu langsung menggenggam tangan Nisa di bawah meja, meremasnya dengan lembut seolah ikut bangga atas pencapaian istrinya di mata sang Ayah. “Wah, kalau Ayah sudah memuji begitu, berarti Mas harus siap-siap bikin betah makan di rumah terus ini, Dek,” goda Fahmi dengan volume suara yang cukup terdengar oleh seluruh meja.
1439Please respect copyright.PENANArqImWG9MCV
“Mas Fahmi ini ada-ada saja,” bisik Nisa pelan, wajahnya merona merah akibat godaan suami di depan kedua mertuanya.
1439Please respect copyright.PENANAvDa6x5rvRQ
Ibu mertuanya tertawa renyah melihat kemesraan pengantin baru itu. "Sudah-sudah, habiskan dulu makannya. Setelah ini Nisa dan Ibu yang membereskan meja, kalian para laki-laki bisa beranda di teras depan sambil menikmati udara malam."
1439Please respect copyright.PENANAycWCHVX0Ez
Malam semakin larut ketika Nisa dan Fahmi akhirnya masuk ke dalam kamar tidur mereka. Di luar, angin malam musim kemarau berembus perlahan, menggoyang dedaunan pohon mangga dan menciptakan bayangan yang merambat di balik tirai jendela. Setelah mengunci pintu kamar, Fahmi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, melepaskan seluruh pena yang menumpuk setelah seharian penuh mengurus administrasi dan melayani pelanggan di *dealer*.
1439Please respect copyright.PENANAzu34wrXhoi
Nisa berjalan menuju meja rias, melepas jilbab instannya hingga rambut hitam panjangnya kembali terurai dengan indah. Ia menyisir rambutnya perlahan, memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Pikirannya kembali melayang pada dinamika hari ini—dari momen paling tidak nyaman dalam hidupnya hingga kehangatan makan malam keluarga yang begitu menenangkan.
1439Please respect copyright.PENANA2CB0JwXOi6
Fahmi memperhatikan setiap gerakan istrinya dari atas kasur. Matanya dipenuhi dengan rasa kagum dan cinta yang mendalam. Ia bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Nisa dengan langkah tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Nisa dari belakang. Fahmi menyandarkan dagunya di bahu Nisa sambil menatap pantulan wajah istrinya di cermin rias.
1439Please respect copyright.PENANACeIEKuSpIJ
"Dek..." panggil Fahmi lirih, suaranya terdengar sangat seksi dan penuh kerinduan di telinga Nisa.
1439Please respect copyright.PENANAZh6CnQAo1p
Nisa meletakkan sisirnya, menyentuh lengan Fahmi yang melingkari perutnya. "Iya Mas? Ada apa? Wajah Mas terlihat sangat lelah."
1439Please respect copyright.PENANAEMEtPzGLiS
Fahmi mengecup leher bagian samping Nisa yang tidak tertutup rambut dengan kelembutan yang dalam, membuat Nisa sedikit merinding karena sensasi geli yang menyenangkan. "Lelah Mas langsung hilang begitu masuk kamar dan melihat kamu seperti ini. Kamu tahu, Dek? Seharian di kantor, Mas sering tidak fokus karena selalu memikirkan kamu di rumah."
1439Please respect copyright.PENANAUqzJ9E70nG
Nisa idealnya berada di dalam dekapan Fahmi, menatap bidang suaminya dengan membentuk mata yang teduh. "Mas ini pintar sekali merayu sekarang, ya. Belajar dari mana?"
1439Please respect copyright.PENANAtdTmw0X7no
Fahmi tertawa kecil, mengecup ujung hidung Nisa dengan gemas. Mas tidak merayu, ini jujur dari hati yang paling dalam. Mas sangat bersyukur melihat bagaimana kamu bisa membawa diri dengan sangat baik di depan Ayah dan Ibu. Tadi Ayah sampai memuji masakanmu, itu jarang sekali terjadi, Dek. Ayah itu orang yang sangat pelit pujian kalau soal makanan.
1439Please respect copyright.PENANApYEO2ZGK6B
Nisa tersenyum, menyembunyikan wajahnya di dada Fahmi, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu berhasil membuatnya merasa aman. "Ayah dan Ibu sangat baik, Mas. Nisa yang harusnya bersyukur karena diterima dengan tangan terbuka di sini. Nisa berjanji akan terus belajar menjadi menantu dan istri yang baik untuk keluarga ini."
1439Please respect copyright.PENANAuyqpeRmHwG
Fahmi mengeratkan pelukannya, mengelus punggung Nisa dengan penuh kasih sayang. "Kamu sudah lebih dari cukup, sayang. Sekarang, sudah malam, bagaimana kalau kita menunaikan 'tugas' malam kita?" goda Fahmi sambil menatap mata Nisa dengan pemandangan yang penuh gairah yang halal.
1439Please respect copyright.PENANAhzA0RSbWU9
Wajah Nisa kembali merona merah, namun kali ini bukan karena rasa malu seperti siang tadi bersama Ayah mertua, melainkan karena getaran cinta yang membuncah untuk suami. "Iya, Mas... Nisa siap," jawab Nisa dengan suara yang hampir menyerupai bisikan yang sangat pasrah.
1439Please respect copyright.PENANAaWND5y3Rsp
Fahmi membimbing Nisa menuju kasur pengantin mereka yang empuk. Di bawah temaram lampu kamar yang temaram, mereka kembali menyatu dalam keintiman yang suci, melanjutkan babak-babak awal pernikahan mereka dengan penuh kelembutan, saling memberi dan menerima kasih sayang dalam ikatan yang dirida oleh Sang Pencipta. Bagi Nisa, setiap jengkal ujian dan kecanggungan di siang hari selalu menemukan penawarnya yang paling sempurna di dalam pelukan hangat suami di malam hari. Perjalanan adaptasi di rumah mertua ini baru saja dimulai, dan Nisa tahu, dengan fondasi adab serta cinta yang kuat, tidak ada hambatan yang tidak bisa mereka lewati bersama.1439Please respect copyright.PENANAS6mKjtFXYS


