Hari yang dinanti sekaligus mendebarkan bagi Nisa akhirnya tiba. Setelah menghabiskan satu minggu penuh madu di rumah orang tua, kini saatnya ia melangkah keluar untuk menunaikan kewajiban sejati sebagai seorang istri. Sesuai dengan kesepakatan keluarga sebelum pernikahan, Nisa akan diboyong oleh Fahmi untuk tinggal sementara di rumah orang tua suaminya. Bagi Nisa, ini adalah sebuah langkah besar. Menjadi menantu baru berarti harus siap membuka lembaran adaptasi yang menuntut kesabaran, kepekaan, dan ketulusan hati.
1684Please respect copyright.PENANA4eFPeQEgsb
Pagi itu, udara masih terasa sangat bersih ketika mobil yang membawa mereka berdua perlahan memasuki pelataran sebuah rumah joglo modern yang tampak asri. Rumahnya tidak terlalu besar, namun halaman depannya ditata sangat rapi, penuh dengan tanaman hias dan pohon mangga yang rindang. Suasana di sekitar lingkungan tersebut terasa tenang, khas daerah pinggiran kabupaten yang masih kental dengan nuansa kekeluargaan.
1684Please respect copyright.PENANAM9kkO3QVFv
Fahmi mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Nisa yang duduk di sampingnya dengan jemari yang saling bertautan di atas pangkuan. Fahmi tahu, sedari tadi istrinya itu lebih banyak diam dan meremas kain gamisnya sendiri, tanda bahwa rasa tegang sedang melanda jantung.
1684Please respect copyright.PENANA0yxt2QzmuA
“Dek Nisa,” panggil Fahmi dengan suara yang sangat lembut, memecah keheningan di dalam kabin mobil.
1684Please respect copyright.PENANA94JlB8wo0f
Nisa menoleh, mencoba menyembunyikan senyum kakunya. "Iya, Mas?"
1684Please respect copyright.PENANAuJHR50OU6S
Fahmi mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Nisa yang terasa agak dingin. "Tenang saja. Ibu dan Ayah orangnya sangat baik. Kamu tidak perlu merasa tertekan atau merasa seperti orang asing di sini. Mulai hari ini, rumah ini juga rumahmu. Mas akan selalu ada di sampingmu."
1684Please respect copyright.PENANAoFNt6zNsQm
"Iya, Mas. Nisa hanya... Nisa takut kalau nanti ada sikap atau tutur kata Nisa yang kurang berkenan di hati Ibu dan Ayah. Nisa masih banyak kekurangan dalam mengurus rumah tangga," aku Nisa jujur, menyampaikan kekhawatiran yang mengganjal di dadanya.
1684Please respect copyright.PENANA7BymBzi4v4
Fahmi tersenyum hangat, sebuah senyuman yang selalu berhasil meruntuhkan dinding kecemasan di hati Nisa. "Ibu tahu kamu anak yang salihah. Ayah juga orangnya tidak banyak menuntut. Kuncinya cukup jadi dirimu sendiri yang sopan seperti biasanya. Ayo, kita turun sekarang."
1684Please respect copyright.PENANA29a8PtBHWB
Belum sempat mereka melangkah ke teras, pintu depan rumah sudah terbuka lebar. Sosok wanita paruh baya dengan daster panjang yang rapi dan jilbab instan berjalan tergesa-gesa keluar dengan wajah yang cerah. Beliau adalah Ibu mertua Nisa. Di belakangnya tampak seorang pria paruh baya bertubuh tegap namun memiliki raut wajah yang sangat tenang dan teduh, melangkah dengan santai. Beliau adalah Ayah mertua Nisa.
1684Please respect copyright.PENANA7xdwW2QUT5
“Ya Ampun, menantuku yang cantik sudah datang!” seru Ibu mertuanya dengan nada suara yang penuh kehangatan, langsung merentangkan kedua tangan menyambut Nisa.
1684Please respect copyright.PENANAYDbLgnojhG
Nisa segera melangkah maju, membungkukkan badannya dengan takzim untuk menyalami tangan ibu mertuanya, lalu mencium punggung tangan tersebut dengan penuh rasa hormat. Namun, Nisa belum sempat menegakkan tubuhnya, Ibu mertuanya sudah menariknya ke dalam pelukan yang erat dan hangat. Pelukan yang terasa sangat tulus, meruntuhkan sebagian besar rasa takut yang sempat terlintas di benak Nisa sejak semalam.
1684Please respect copyright.PENANAqrS2hGJj2o
"Bagaimana perjalanannya, Nduk? Capek tidak? Fahmi menyetirnya tidak ngebut, kan?" tanya Ibu mertuanya bertubi-tubi sambil mengelus pipi Nisa dengan penuh kasih sayang.
1684Please respect copyright.PENANA1v9U0Sx6mA
Nisa tersenyum lembut, menggeleng pelan. “Alhamdulillah tidak capek, Bu. Mas Fahmi menyetirnya sangat hati-hati kok.”
1684Please respect copyright.PENANA4S2qMpJksR
Nisa kemudian beralih ke Ayah mertuanya. Pria sepuh itu berdiri tegak dengan senyuman tipis yang sangat berwibawa namun menyejukkan. Nisa membungkuk dan mencium punggung tangan Ayah mertuanya dengan penuh takzim.
1684Please respect copyright.PENANAFCztgQ8VSj
“Selamat datang di rumah yang sederhana ini, Nisa. Semoga kamu betah di sini,” ucap Ayah mertuanya dengan nada suara yang sangat kalem dan datar, namun terasa sangat tulus. Beliau adalah tipe pria yang tidak banyak bicara, mirip seperti Fahmi, namun pancaran matanya menunjukkan tanggung jawab dan kebijaksanaan yang besar.
1684Please respect copyright.PENANAMJ1LuBib3f
"Terima kasih, Ayah. Mohon bimbingannya, karena Nisa masih harus banyak belajar dari Ayah dan Ibu," jawab Nisa dengan tuturan kata yang sangat sopan, memohon maaf sebagai bentuk rasa hormat.
1684Please respect copyright.PENANAcDJrQoDq0u
"Sudah-sudah, ayo masuk dulu. Di luar udaranya mulai panas. Ibu sudah buatkan teh hangat dan beberapa camilan di dalam," ajak Ibu mertuanya sambil menggandeng tangan Nisa, seolah mengabaikan Fahmi yang sedang sibuk mengeluarkan dua koper besar dari bagasi mobil.
1684Please respect copyright.PENANAjKMS7QCwDZ
Fahmi yang melihat hal itu hanya bisa mengguncangkan kepala sambil tersenyum lebar. “Ibu, ini anak kandungnya ditinggal begitu saja di luar?” goda Fahmi.
1684Please respect copyright.PENANAE5Qfqdx8xV
Ibu mertuanya menoleh sebentar sambil tertawa kecil. "Kamu kan sudah hafal jalan masuk rumah, Fahmi. Urus saja pembelimu itu, Ibu mau menemani Nisa dulu."
1684Please respect copyright.PENANAzmtYkdnNwi
Percakapan ringan itu seketika mencairkan suasana. Nisa dibawa masuk ke dalam ruang tamu yang tertata rapi. Rumah yang didominasi oleh perabotan kayu jati yang terawat dengan baik, memberikan kesan hangat dan nyaman. Mereka kemudian duduk bersama di kursi panjang.
1684Please respect copyright.PENANALBYZKQlf77
“Nisa,” kata Ibu mertuanya sambil menyodorkan segelas teh hangat. "Kamar kalian sudah Ibu rapikan sejak kemarin lusa. Spreinya sudah diganti yang baru, bantal-bantalnya juga sudah Ibu jemur biar empuk. Pokoknya kalau ada yang kurang nyaman, bilang saja sama Ibu ya? Jangan sungkan, sekarang kamu sudah jadi anak Ibu juga."
1684Please respect copyright.PENANA63oj6tFtgq
“Terima kasih banyak Bu. Ibu repot-repot sekali,” ucap Nisa dengan perasaan tidak enak hati karena merasa telah merepotkan mertuanya.
1684Please respect copyright.PENANAClTLRf4W6Z
"Sama sekali tidak repot, Nduk. Ibu malah senang sekali sekarang rumah ini ada perempuan lagi selain Ibu. Biasanya Ibu hanya mengurus dua laki-laki pendiam ini," ujar Ibu mertuanya sambil melirik ke arah suami dan Fahmi yang baru saja masuk membawa koper.
1684Please respect copyright.PENANAENxPOJfI2V
Ayah mertuanya yang sedang menyeruput teh hanya tersenyum tipis mendengar sindiran halus dari istrinya. Beliau meletakkan kursinya perlahan, lalu menatap Fahmi. "Fahmi, bawa koper istrimu ke kamar dulu. Biar Nisa bisa beristirahat dan menata pakaiannya."
1684Please respect copyright.PENANA16nDGtQdrg
“Baik, Ayah,” jawab Fahmi patuh. Ia kemudian menatap Nisa. “Dek, Mas bawa ke kamar dulu ya.”
1684Please respect copyright.PENANANlJQEZeqqT
Nisa mengangguk. Setelah koper dipindahkan, Ibu mertuanya mengantar Nisa untuk melihat kamar baru mereka. Kamarnya cukup luas, terletak di bagian tengah rumah, dengan jendela besar yang menghadap ke kebun samping. Udara di dalam kamar terasa sejuk dan wangi bunga melati, mirip dengan suasana kamar pengantin Nisa di rumah orang tua.
1684Please respect copyright.PENANAffjz8KWWxt
Setelah Ibu mertuanya kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang, Nisa dan Fahmi tinggal berdua di dalam kamar. Nisa mulai membuka koper dan mengeluarkan pakaian-pakaiannya untuk ditata di dalam lemari kayu yang telah dikosongkan sebagian oleh Fahmi.
1684Please respect copyright.PENANAWcdPmbJ8gG
Fahmi mendekati Nisa dari belakang, lalu melingkarkan lengan di pinggang Nisa dengan lembut, mengecup bahu istrinya yang tertutup kain daster panjang dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana? Ibu dan Ayah sangat baik kan? Mas tidak bohong."
1684Please respect copyright.PENANAfQGzRjtUiG
Nisa misalkan badannya di dalam dekapan Fahmi, menatap dada suaminya sambil tersenyum lega. "Iya, Mas. Ibu sangat perhatian, dan Ayah meskipun pendiam tapi auranya sangat menenangkan. Nisa merasa sangat bersyukur."
1684Please respect copyright.PENANArURfxJz30O
"Alhamdulillah. Mas juga bersyukur melihat kamu bisa langsung dekat dengan Ibu," kata Fahmi sambil merapikan beberapa helai rambut Nisa yang sedikit berantakan. "Sekarang, kita bereskan ini dulu, setelah itu kita makan siang bersama keluarga baru kita."
1684Please respect copyright.PENANAnt6Hfl6N3B
---
1684Please respect copyright.PENANA42tqFtBteo
Hari-hari berikutnya berjalan dengan rutinitas baru yang mulai terbentuk. Nisa adalah tipe wanita yang cekatan dan tidak bisa diam. Meskipun Ibu mertuanya sering kali melarang Nisa untuk bekerja berat di rumah, Nisa selalu mencari cara untuk bisa membantu. Baginya, berbakti kepada mertua adalah bagian dari baktinya kepada suami.
1684Please respect copyright.PENANAdKcydYTR3o
Setiap pagi, setelah menunaikan ibadah salat Subuh berjamaah bersama Fahmi di kamar, Nisa langsung ditarik menuju dapur. Di sana, ia biasanya sering melihat Ibu mertuanya sedang memotong sayuran atau menyiapkan bumbu untuk masakan hari itu. Ibu mertua Nisa memang memiliki aktivitas yang cukup padat setiap paginya; beliau bekerja sebagai pedagang pakaian dan kebutuhan kain di pasar tradisional yang jaraknya cukup dekat dari rumah, sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan sepeda motor.
1684Please respect copyright.PENANAcUnZPNFoac
Ini masih pagi sekali, kamu istirahat saja dulu di kamar sama Fahmi,” ujar Ibu mertuanya ketika melihat Nisa masuk ke dapur dengan rambut yang membungkus rapi dan celemek yang sudah terpasang.
1684Please respect copyright.PENANA31pQ12AXPZ
Nisa manis tersenyum, langsung mengambil pisau dari tangan Ibu mertuanya dengan sopan. "Tidak apa-apa, Bu. Nisa sudah biasa bangun selai segini. Biar Nisa saja yang melanjutkan pemotongan sayurnya, Ibu bisa menyiapkan hal yang lain."
1684Please respect copyright.PENANArbhYu42QgF
Ibu mertuanya menatap Nisa dengan binar mata yang penuh rasa bangga. "Ya Allah, Fahmi benar-benar tidak salah pilih istri. Ya sudah, kalau begitu kita masak sayur lodeh hari ini ya, kesukaan Ayah dan Fahmi."
1684Please respect copyright.PENANAlMLfOpE6n0
Nanti Ibu beri tahu ya takaran bumbunya, biar rasanya bisa sama bertahan dengan yang biasa Ayah dan Mas Fahmi makan, kata Nisa sambil mulai memotong labu siam dengan cekatan.
1684Please respect copyright.PENANAwQLyJyooZg
Rutinitas pagi itu selalu berjalan dengan penuh kehangatan. Sebelum jam enam pagi, seluruh masakan biasanya sudah siap di atas meja makan. Setelah itu, Ibu mertuanya akan bersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Biasanya, Ayah mertuanya akan mengantarkan sang Ibu menggunakan sepeda motor sebelum dia sendiri bersiap-siap pergi ke sawah. Ayah mertua Nisa adalah seorang petani yang memiliki beberapa petak sawah sendiri di ujung desa, sebuah pekerjaan yang beliau tekuni dengan penuh ketekunan meskipun usianya sudah tidak lagi muda.
1684Please respect copyright.PENANANiovGXexpl
Setelah Ibu mertuanya berangkat ke pasar dan Fahmi bersiap-siap berangkat bekerja di *dealer* motor kabupaten, rumah joglo tiba-tiba menjadi sangat sepi. Fahmi biasanya berangkat sekitar jam tujuh pagi setelah mencium kening Nisa dan memberikan beberapa pesan penuh perhatian.
1684Please respect copyright.PENANAHrqhYptaBX
"Dek, Mas berangkat kerja dulu ya. Kalau di rumah sendirian dan ada apa-apa, langsung telepon Mas. Jangan capek-capek mengurus rumah, kalau lelah istirahat saja," pesan Fahmi setiap pagi di depan pintu.
1684Please respect copyright.PENANAM7cPtdHmnl
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, semoga berkah hari ini," jawab Nisa sambil mencium punggung tangan Fahmi dengan penuh takzim.
1684Please respect copyright.PENANAv4tpG0vDIW
Kini, di rumah itu hanya tersisa Nisa dan Ayah mertuanya. Ayah mertuanya biasanya baru akan berangkat ke sawah sekitar jam setengah delapan, setelah memastikan semua peralatan pertaniannya siap. Keseharian Nisa setelah ditinggal oleh suami dan ibu mertuanya adalah mengurusi seluruh keperluan rumah tangga, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci pakaian, hingga menyiram tanaman di halaman.
1684Please respect copyright.PENANA4uHr0ZY7Wz
Namun, ada satu tugas baru yang mulai disukai Nisa, yaitu menyiapkan perbekalan makanan dan minuman untuk Ayah mertuanya. Setiap pagi, sebelum Ayah mertuanya berangkat, Nisa akan dengan cekatan menyiapkan sebuah botol termos besar berisi air putih dingin dan wadah rantam berisi nasi serta lauk-pauk untuk makan siang di sawah.
1684Please respect copyright.PENANAMfr48JUJRK
Suatu pagi, saat Ayah mertuanya sedang memakai sepatu bot karetnya di teras belakang, Nisa berjalan mendekat sambil membawa botol termos dan rantang makanan tersebut.
1684Please respect copyright.PENANAQV7k21WA7c
"Ayah, ini perbekalan untuk di sawah sudah Nisa siapkan. Air minumnya sudah Nisa isi penuh dengan air dingin dari kulkas, biar segar kalau diminum siang nanti," ucap Nisa dengan nada suara yang sangat lembut, menyerahkan bungkusan kain berisi rantang itu kepada Ayah mertuanya.
1684Please respect copyright.PENANA5zhhVI35lZ
Ayah mertuanya menghentikan aktivitasnya sejenak, mendongak dan menatap cucunya dengan pandangan yang teduh. Beliau menerima perbekalan itu dengan tangan yang kasar penuh kapalan, ciri khas seorang pekerja keras.
1684Please respect copyright.PENANA3TvSIuFxZV
"Terima kasih banyak, Nisa. Kamu repot-repot setiap pagi membuatkan ini untuk Ayah. Biasanya dulu Ayah hanya membawa air seadanya kalau Ibu tidak sempat masak," kata Ayah mertuanya dengan suara yang sangat kalem, namun ada nada haru di dalamnya.
1684Please respect copyright.PENANAU2YufqDhuq
"Sama sekali tidak repot, Ayah. Ini sudah menjadi kewajiban Nisa sebagai menantu di rumah ini. Semoga makanannya cocok di lidah Ayah ya," jawab Nisa sambil memerintah wajahnya dengan senyum tulus.
1684Please respect copyright.PENANA42704KJmaF
Pasti cocok. Masakanmu tidak kalah enak dari masakan Ibu, puji Ayah mertuanya singkat sebelum berdiri dan menyampirkan cangkulnya di bahu. "Ayah berangkat dulu, Nisa. Kalau mengunci pintu dari dalam saja ya."
1684Please respect copyright.PENANA9KSHYzdflx
"Baik, Ayah. Hati-hati di jalan," pungkas Nisa, mengiringi kepergian Ayah mertuanya dengan pandangan mata yang penuh rasa hormat.
1684Please respect copyright.PENANAS0zzXJEbao
---
1684Please respect copyright.PENANAWTzklGmH7C
Seiring berjalannya waktu, adaptasi Nisa di rumah tersebut semakin matang. Karena Ibu mertuanya pulang dari pasar selalu menjelang sore hari, Nisa lebih banyak menghabiskan waktu siang hari di rumah sendirian. Namun, jika cuaca di sawah sedang terlalu terik atau pekerjaan menanam padi sedang senggang, Ayah mertuanya sering kali pulang lebih awal, biasanya menjelang jam dua siang.
1684Please respect copyright.PENANAV43eueove3
Hal ini membuat Nisa dan Ayah mertuanya menjadi lebih sering bertemu dan berinteraksi di waktu siang. Pada minggu-minggu awal, suasana di antara mereka berdua memang terasa agak kaku karena sifat Ayah mertuanya yang sangat pendiam dan jarang memulai percakapan. Namun, Nisa yang selalu bersikap sopan dan penuh perhatian perlahan-lahan mampu mencairkan kekakuan tersebut.
1684Please respect copyright.PENANA4ku1PorjSL
Saat Ayah mertuanya pulang awal, Nisa selalu dengan sigap menyambut di pintu belakang, langsung mengambilkan handuk kecil untuk mengelap keringat atau segera membuatkan gelas teh manis hangat tanpa perlu diminta. Hal-hal kecil namun penuh perhatian itu membuat Ayah mertuanya merasa sangat dihargai. Mereka mulai sering berkumpul di ruang tengah, membahas tentang cuaca, perkembangan padi di sawah, atau sesekali Ayah mertuanya menceritakan masa kecil Fahmi yang ternyata juga seorang anak yang penurut dan pendiam. Hubungan antara mertua dan menantu itu tumbuh menjadi sebuah ikatan keluarga yang sangat harmonis, penuh dengan rasa hormat dan mulai diselingi candaan ringan yang menghibur.
1684Please respect copyright.PENANAWndc05VuO1
Hingga suatu hari, di pertengahan musim kemarau yang sangat panjang, sebuah kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya terjadi, menguji ketenangan hati Nisa di rumah baru tersebut.
1684Please respect copyright.PENANAlp0Ks0xl4m
Siang itu, matahari bersinar sangat terik di atas kepala, membuat suhu udara di dalam rumah joglo terasa sangat panas dan gerah menyengat. Kipas angin di ruang tengah berputar dengan maksimal, namun tetap tidak mampu mengeluarkan rasa gerah yang membuat tubuh mudah berkeringat. Karena merasa rumah berada dalam keadaan kosong dan tidak akan ada tamu yang datang, Nisa memutuskan untuk mengganti pakaian gamis tebalnya dengan pakaian yang lebih santai agar bisa bekerja dengan lebih nyaman.
1684Please respect copyright.PENANAvx1bd55fbj
Nisa mengenakan daster polos berbahan katun tipis berwarna hijau muda. Daster itu dibuat dengan potongan yang cukup longgar, namun karena bahannya yang tipis dan panjangnya hanya sedikit di atas lutut, pakaian itu tergolong cukup terbuka bagi seorang Nisa yang biasanya selalu tampil tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Nisa berpikir, toh di rumah tidak ada siapa-siapa, jadi tidak akan ada yang melihatnya.
1684Please respect copyright.PENANA0FgZismLSk
Nisa sedang sibuk membersihkan ruang tengah. Keringat tipis mulai bermunculan di leher, dada atas, dan punggung karena hawa musim kemarau yang menyengat, membuat bahan daster katun yang tipis itu perlahan-lahan mulai agak menempel pada permukaan kulit tubuh yang berisi. Saat itu, Nisa sedang memegang sapu, berjongkok dan menungging untuk menjangkau tumpukan debu yang tersembunyi di bawah kolong meja kayu yang rendah.
1684Please respect copyright.PENANA01XvqNQzg9
Posisi tubuhnya yang menungging itu sengaja tanpa membuat daster tipisnya tertarik ketat ke atas, memperjelas lekuk bentuk bokong dan ukurannya yang besar dan berisi. Karena daster itu melekat akibat keringat, garis pakaian dalam atau celana dalam yang dikenakan Nisa tercetak dengan cukup jelas di balik bahan kain yang tipis tersebut. Nisa begitu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak menyadari situasi di sekitarnya.
1684Please respect copyright.PENANAhSi9VwsTCj
Tiba-tiba, terdengar suara derit pintu belakang yang dibuka perlahan. Ayah mertuanya ternyata pulang awal hari itu lewat pintu belakang, seperti kebiasaan beliau jika ingin langsung membersihkan diri dari tanah sawah. Langkah kaki Ayah mertuanya terhenti mendadak tepat di pembatas antara dapur dan ruang tengah.
1684Please respect copyright.PENANAmndFJBoTVD
Ayah mertuanya tergeletak di tempatnya berdiri. Botol termos kosong yang dipegangnya hampir saja terlepas dari tangan. Untuk pertama kalinya sejak Nisa tinggal di rumah itu, sang Ayah mertua melihat menantunya berpakaian sangat terbuka di dalam rumah. Pandangan mata pria sepuh itu tanpa sengaja muncul pada posisi menantunya yang sedang menungging, menampilkan betis hingga paha bagian bawah yang putih bersih dan mulus, serta lekuk tubuh bagian belakang yang tercetak jelas akibat daster yang basah oleh keringat.
1684Please respect copyright.PENANA1sK8RzeQ7s
Nisa yang mendengar suara langkah kaki dan derit botol langsung tersentak kaget. Ia segera bangkit dan berdiri tegak badannya dengan cepat. Wajahnya seketika berubah menjadi merah padam karena rasa malu yang teramat sangat. Jantungnya berdegup kencang, terasa sangat kikuk dan canggung terlihat baju basah seperti itu oleh Ayah mertuanya sendiri.
1684Please respect copyright.PENANAkzB8siTX35
Nisa dengan gugup menarik ujung dasternya ke bawah, mencoba menutupi bagian pahanya yang terekspos. "A... Ayah? Sudah pulang?" tanya Nisa dengan suara yang terbata-bata, matanya menunduk ke dalam, tidak berani menatap mata mertuanya.
1684Please respect copyright.PENANAb0hm4FFN29
Ayah mertuanya juga tampak salah tingkah. Pria sepuh yang biasanya selalu tenang itu berdehem beberapa kali, mengalihkan perhatian ke arah dinding untuk menjaga adab dan menghormati menantunya.
1684Please respect copyright.PENANA9KS4KiZ6tG
“Iya, Nisa… Ayah pulang sebentar,” jawab Ayah mertuanya dengan suara yang terdengar agak kaku, mencoba mengontrol kelancarannya. "Air minum Ayah di sawah sudah habis sama sekali. Cuaca di luar luar biasa panas hari ini, tenggorokan Ayah rasanya sangat kering."
1684Please respect copyright.PENANATrpUhvnHGl
Nisa yang masih merasa sangat malu, mencoba menguasai dirinya dan memberikan alasan yang logis atas kemunculan siang itu. "Maafkan Nisa, Ayah... Nisa tidak tahu Ayah mau pulang jam segini. Di dalam rumah hawanya sangat panas dan gerah karena musim kemarau, jadi Nisa terpaksa memakai daster ini supaya bisa lebih leluasa menyapu. Biasanya Nisa tidak pernah berpakaian seperti ini..." ucap Nisa dengan nada suara yang bergetar pelan, merasa sangat puas sekaligus canggung.
1684Please respect copyright.PENANA9JHkSI4RmX
Ayah mertuanya mengangguk perlahan, masih dengan pandangan yang dialihkan ke arah dapur. Beliau sangat mengerti posisi menantunya dan tidak ingin membuat Nisa merasa semakin terpojok atau ketakutan di rumah sendiri. Sifat kalemnya kembali mengambil alih situasi.
1684Please respect copyright.PENANAIiXditGBq7
Iya, tidak apa-apa, Nisa. Ayah mengerti, memang cuacanya sedang tidak keruan panasnya, kata Ayah mertuanya dengan nada suara yang melembut, mencoba menenangkan hati menantunya yang sedang panik. "Ayah ke dapur dulu ya, hanya ingin mengambil air dingin untuk mengisi botol yang kosong ini. Setelah itu Ayah langsung kembali lagi ke sawah untuk menyelesaikan sisa pekerjaan."
1684Please respect copyright.PENANAwdASOxuwPj
“B...biar Nisa saja yang ambilkan airnya, Ayah,” tawar Nisa refleks, hendak melangkah menuju kulkas di dapur.
1684Please respect copyright.PENANAgeDMY0I9Pm
"Tidak usah, Nisa, jangan apa-apa. Kamu terus saja menyapunya. Ayah bisa ambil sendiri," tolak Ayah mertuanya dengan halus namun tegas, berjalan melewati ruang tengah menuju dapur tanpa menatap ke arah tubuh Nisa lagi demi menjaga batasan moral yang suci di antara mereka.
1684Please respect copyright.PENANAIfq4hmbkae
Nisa berdiri mematung di ruang tengah, mendengarkan suara gemericik air yang dituangkan ke dalam botol di dapur. Rasa malu di hatinya perlahan berganti dengan rasa kagum yang mendalam atas sikap dewasa dan bijaksana yang dibawakan oleh Ayah mertuanya. Pria sepuh itu benar-benar menjaga pandangan dan kehormatannya sebagai seorang mertua, tidak memanfaatkan situasi ketidaknyamanan tersebut, dan memilih untuk segera kembali ke sawah demi memberikan ruang bagi Nisa untuk merapikan kembali penampilannya. Kejadian siang itu menjadi sebuah rahasia kecil yang tak terucapkan, namun semakin mempertegas betapa keluarga tempat Nisa bernaung saat ini adalah keluarga yang dipenuhi dengan nilai-nilai adab yang tinggi.1684Please respect copyright.PENANAyfZBcg9baG


