Setelah ledakan kenikmatan ronde keempat yang panjang dan melelahkan, tubuh kami berdua ambruk dalam pelukan yang lengket dan hangat. Laksmi masih berada di atas tubuhku sesaat, memeknya yang sudah sangat penuh dan meluap masih memeluk batang kejantananku yang mulai melunak di dalamnya. Cairan campuran kami menetes pelan dari celah persatuan kami, membasahi paha dan seprai sutra di bawah.
1886Please respect copyright.PENANARPq0ARNrQy
Laksmi mendesah panjang, napasnya hangat menyapu leherku. Payudaranya yang besar dan berat menekan dada ku dengan lembut, putingnya yang masih mengeras menyapu kulitku setiap kali ia bernapas. “Arkan… aku benar-benar habis… tubuhku rasanya remuk, tapi rasanya… luar biasa,” bisiknya dengan suara serak yang lemah.
1886Please respect copyright.PENANAsRPP7cEYaS
Aku membelai punggungnya yang halus dan basah oleh keringat, jari-jariku menelusuri tulang belakangnya yang lentik hingga ke bokong montok yang masih memerah bekas tamparan. “Aku juga… aku nggak pernah sesering ini dalam satu malam. Kamu… membuatku gila, Laksmi.”
1886Please respect copyright.PENANAm6e9oRHrmp
Ia mengangkat kepalanya sedikit, mencium bibirku dengan lembut, penuh kelelahan tapi masih penuh kasih sayang terlarang. Lidah kami hanya saling menyentuh pelan, tanpa nafsu liar lagi — hanya keintiman setelah badai. “Tidur yuk… aku capek sekali. Peluk aku erat-erat.”
1886Please respect copyright.PENANA5HryXCXsau
Aku mengangguk. Dengan gerakan pelan, aku membalik tubuh kami tanpa melepaskan pelukan. Laksmi berbaring di sampingku, kepalanya di dada ku, satu kakinya yang jenjang dan mulus melingkar di paha ku. Aku menarik selimut sutra tipis menutupi tubuh telanjang kami berdua. Bau seks yang pekat masih memenuhi kamar, bercampur dengan aroma parfum vanila Laksmi dan keringat tubuh kami.
1886Please respect copyright.PENANA4toIrZY4V3
“Kamu hangat…” gumam Laksmi sambil semakin merapatkan tubuhnya. Payudaranya menempel di rusukku, bokong montoknya menyentuh pinggul ku. “Jangan pergi ya… tidur di sini sampai sore.”
1886Please respect copyright.PENANAfv9NbMWCHm
“Aku nggak ke mana-mana,” jawabku pelan sambil mencium keningnya.
1886Please respect copyright.PENANAYFYEPV2dfk
Kami jatuh tertidur hampir bersamaan. Keletihan setelah berjam-jam foreplay, penetrasi, dan orgasme berulang membuat kami tenggelam ke dalam tidur yang dalam dan tanpa mimpi. Hanya ada napas kami yang pelan dan saling menyatu, tubuh saling menempel seperti dua jiwa yang baru saja menemukan pelabuhan terlarang.
1886Please respect copyright.PENANAtZeiAa1lR9
---
1886Please respect copyright.PENANAO76MVnn5BX
Matahari sudah tinggi di langit Jakarta ketika aku terbangun. Cahaya sore yang keemasan menyusup melalui celah tirai, menerangi kamar utama yang mewah itu dengan cahaya lembut. Jam di dinding menunjukkan pukul 16.47. Kami tidur hampir sepuluh jam.
1886Please respect copyright.PENANAK5tri7IUpO
Tubuhku terasa pegal di mana-mana, tapi ada kepuasan aneh yang mendalam. Laksmi masih tertidur pulas di pelukanku. Posisinya hampir tidak berubah — kepalanya di dada ku, rambut hitamnya yang acak-acakan tersebar di bahuku, satu tangannya memeluk pinggangku, dan kakinya yang jenjang masih melingkar di pahaku.
1886Please respect copyright.PENANAB74bed5QYp
Aku menatapnya lama. Di bawah cahaya sore, tubuhnya terlihat semakin indah. Payudaranya yang besar dan penuh naik-turun pelan mengikuti napasnya, areola cokelat mudanya terlihat jelas, putingnya sedikit mengeras karena udara sejuk AC. Kulitnya yang kuning langsat berkilau samar karena sisa keringat malam tadi. Bokong montoknya terpapar sebagian, masih ada bekas merah samar di kulit putihnya. Paha dalamnya yang mulus sedikit terbuka, memperlihatkan memeknya yang masih sedikit bengkak dan mengkilap sisa cairan kering.
1886Please respect copyright.PENANAzvcTNwzeXr
Aku merasa kejantananku mulai bereaksi lagi hanya dengan melihatnya. Tapi aku menahan diri. Aku hanya membelai rambutnya pelan, menikmati kehangatan tubuhnya.
1886Please respect copyright.PENANAhfgCRAHa8E
Laksmi menggeliat pelan beberapa menit kemudian. Matanya terbuka perlahan, cokelatnya yang tajam masih kabut oleh sisa tidur. Ia tersenyum ketika menyadari aku sedang menatapnya.
1886Please respect copyright.PENANACIJy4Tk4U4
“Pagi… eh, sore,” gumamnya dengan suara serak yang menggemaskan. Ia meregangkan tubuhnya seperti kucing, payudaranya terangkat indah, bokongnya bergeser di pahaku. “Aku tidur seperti orang mati. Kamu juga?”
1886Please respect copyright.PENANASz9wgcopmo
“Iya. Capek banget. Tapi enak banget tidur peluk kamu,” jawabku sambil mencium keningnya.
1886Please respect copyright.PENANASsFJW1OZPU
Laksmi tertawa kecil. Ia bergeser naik sedikit, mencium bibirku lembut. Ciuman pagi—atau sore—yang lambat dan manis. Lidah kami saling menyapa pelan, tanpa terburu-buru. Tangan Laksmi membelai dada ku, turun ke perut, lalu berhenti di batang kejantananku yang sudah setengah tegang.
1886Please respect copyright.PENANAvKeN6PXNVw
“Masih bisa ya?” tanyanya nakal sambil menggenggamnya pelan, mengocok dengan gerakan sangat lambat.
1886Please respect copyright.PENANAcX8C8lRt5n
“Aku selalu bisa buat kamu,” jawabku sambil meremas payudaranya yang berat.
1886Please respect copyright.PENANAEwogFHm3t9
Kami berbaring saling berhadapan, saling menatap dalam diam yang nyaman. Jari-jariku menelusuri pinggangnya, naik ke payudaranya, memainkan putingnya dengan lembut. Laksmi mendesah pelan, matanya setengah terpejam.
1886Please respect copyright.PENANAjWMsmS3YTI
“Arkan… semalam itu gila. Aku nggak nyangka bisa orgasme sebanyak itu,” katanya pelan. “Kamu beda dengan Budi. Dia kasar dan kuat, tapi kamu… kamu perhatian. Lama. Bikin aku merasa diinginkan sepenuhnya.”
1886Please respect copyright.PENANAVUmsOTeV73
“Aku memang menginginkanmu sejak lama,” aku mengaku. “Setiap kali ketemu di kantor, aku selalu bayangin ini.”
1886Please respect copyright.PENANAReAo1sSOZb
Laksmi tersenyum, ia mendekatkan wajahnya, menciumku lagi lebih dalam. Tangan kami saling menjelajah dengan santai. Aku memainkan memeknya yang masih lengket dengan dua jari, mengaduk pelan. Ia mengocok batangku dengan gerakan lambat yang nikmat.
1886Please respect copyright.PENANAxHNjmwHOSw
Kami tidak langsung ke penetrasi. Foreplay sore ini berlangsung sangat lama dan lembut. Aku menjilat payudaranya dengan penuh kasih sayang, menghisap putingnya bergantian sambil jari-jariku terus bermain di memeknya yang mulai basah lagi. Laksmi menjilat leherku, dada ku, lalu turun ke perutku, akhirnya mengambil batangku ke dalam mulutnya dengan lembut.
1886Please respect copyright.PENANASugkfdPXHn
Ia mengisap pelan, lidahnya menari di sekitar kepala batangku, sesekali menelan lebih dalam dengan gerakan yang santai. “Enak…” bisiknya di antara isapan. “Rasanya masih ada campuran kita semalam.”
1886Please respect copyright.PENANAz2wD1JPIO9
Aku menariknya naik, membalik posisinya, dan menjilat memeknya dengan rakus tapi lembut. Lidahku menelusuri setiap lipatan yang masih sensitif, membersihkan dan merangsangnya kembali. Laksmi mendesah panjang, bokongnya bergoyang pelan di wajahku.
1886Please respect copyright.PENANAFU4Q9FpQYq
Kami saling oral dalam posisi 69 selama hampir dua puluh menit, penuh desahan pelan dan belaian lembut. Tidak ada kekerasan, hanya kenikmatan yang dalam dan lambat.
1886Please respect copyright.PENANAhjMMJoxFl4
Akhirnya, setelah foreplay yang panjang dan penuh kelembutan, Laksmi naik ke atas tubuhku lagi dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh kendali. Tubuh telanjangnya yang masih agak lengket oleh sisa keringat dan cairan malam sebelumnya terlihat begitu memukau di bawah cahaya sore yang keemasan. Payudaranya yang besar, penuh, dan berat bergoyang lembut saat ia mengangkat pinggulnya, putingnya yang gelap dan mengeras menunjukkan betapa sensitifnya ia masih setelah sekian ronde.
1886Please respect copyright.PENANAKXEre2ha9Z
Ia memegang batang kejantananku yang sudah keras sepenuhnya dengan tangan kanannya yang lembut, mengarahkannya ke celah memeknya yang masih basah dan sedikit bengkak. Dengan sangat pelan, hampir menyiksa, ia menurunkan pinggulnya. Kepala batangku yang panas menyentuh bibir memeknya yang tebal dan montok, menggesek pelan di antara celah yang licin sebelum mulai membelah dinding dalamnya.
1886Please respect copyright.PENANAzXGmHNsXpn
“Ahh… masih pas sekali…” desahnya panjang, matanya setengah terpejam menikmati setiap senti yang masuk. “Rasanya… mengisi bagian yang kosong di dalam diriku… pelan-pelan ya, Arkan… aku mau merasakan setiap inci kontolmu.”
1886Please respect copyright.PENANACrFet1wrQm
Sentimeter demi sentimeter batangku menghilang ke dalam memeknya yang hangat, licin, dan masih agak longgar karena aktivitas sebelumnya. Dinding dalamnya yang lembut dan panas memelukku erat, seolah menyambut kedatanganku dengan pelukan yang penuh kerinduan. Ketika akhirnya seluruh batangku tenggelam hingga pangkal, Laksmi mendesah lega, bokong montoknya menyentuh paha ku dengan lembut.
1886Please respect copyright.PENANAtCJrIhnYnH
Kami bercinta di sore hari dengan irama yang sangat lambat dan intim. Laksmi menggoyang pinggulnya naik-turun dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah waktu berhenti hanya untuk kami berdua. Setiap kali ia turun, memeknya menelan batangku sepenuhnya, dan setiap kali ia naik, bibir memeknya yang tebal menarik batangku dengan enggan, seolah tak ingin melepaskan.
1886Please respect copyright.PENANAMy8tfNt07N
“Kamu enak sekali di dalam aku…” bisiknya sambil menatap mataku dalam-dalam, rambut hitamnya tergerai di bahu telanjangnya. “Lebih lembut dari Budi… lebih dalam dari yang kubayangkan… ahh… rasakan memekku yang masih penuh sisa kamu semalam…”
1886Please respect copyright.PENANAOMq8M3qrxY
Payudaranya yang indah bergoyang lembut di depan wajahku, naik-turun mengikuti irama pinggulnya yang anggun. Aku menangkup keduanya dengan kedua tangan, meremas pelan dengan penuh kekaguman, ibu jariku memainkan putingnya yang mengeras. Laksmi mendesah nikmat, punggungnya melengkung sedikit, membuat bokong montoknya semakin menekan pahaku.
1886Please respect copyright.PENANABeVBtOEvAh
Aku menariknya lebih dekat, mencium bibirnya dalam-dalam. Ciuman kami lambat, penuh nafsu yang terpendam, lidah kami saling menari dengan lembut. “Kamu cantik sekali, Laksmi,” bisikku di antara ciuman. “Payudaramu sempurna… bokongmu yang montok ini… memekmu yang basah dan hangat… semuanya milikku sore ini.”
1886Please respect copyright.PENANA8vSVCPr2GX
Laksmi tersenyum nakal, pinggulnya terus bergerak pelan. “Iya? Memekku ini milikmu? Meski tadi malam digenjot Budi sampai banjir?” Ia sengaja menggoyang pinggulnya dengan gerakan memutar, membuat kepala batangku menggesek dinding dalamnya yang sensitif. “Tapi sekarang… hanya kontolmu yang aku rasakan… ahh… di situ… pelan saja… nikmati aku.”
1886Please respect copyright.PENANAGRtFWstAkq
Kami terus bergerak dalam irama yang sama — lambat, dalam, dan penuh perasaan. Aku meremas bokongnya yang kenyal dengan dua tangan, membantunya naik-turun. Jari-jariku sesekali menyelinap ke celah bokongnya, menyentuh lubang kecil di belakang yang berkedut. Laksmi mengerang pelan setiap kali aku melakukannya.
1886Please respect copyright.PENANAOww2GwdMNh
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, payudaranya kini tepat di depan mulutku. Aku menghisap puting kirinya dengan lembut, lidahku menari di sekitar areola yang lebar, sesekali menggigit pelan. Laksmi mendesah lebih keras, irama pinggulnya mulai sedikit lebih cepat, tapi tetap penuh kendali.
1886Please respect copyright.PENANAZujq50fFdz
“Iya… hisap putingku… gigit pelan… aku suka… payudaraku sensitif sekali setelah semalam…” erangnya.
1886Please respect copyright.PENANA7foTEoXXuz
Kami saling bisik kata-kata manis dan kotor yang bercampur aduk. “Memekmu begitu basah… mengisap kontolku dengan rakus,” kataku sambil meremas payudaranya lebih kuat.
1886Please respect copyright.PENANAB79tcSohrI
“Karena kontolmu enak… mengisi aku penuh… buat aku lupa segalanya…” balasnya sambil mencium leherku.
1886Please respect copyright.PENANAE8D4nPwRLm
Lama sekali mereka bergerak dalam posisi ini. Laksmi orgasme pertama di ronde sore ini datang secara perlahan. Tubuhnya mengejang pelan, memeknya berkedut kuat di sekeliling batangku, cairannya yang hangat mengalir deras membasahi selangkangan kami. Ia menahan erangannya di leherku, giginya menggigit pelan kulitku.
1886Please respect copyright.PENANA6J8cHJSIAi
“Tahan… jangan keluar dulu… aku mau lama…” pintanya setelah orgasme pertama reda.
1886Please respect copyright.PENANAE72WOM9xnu
Aku membalik posisi kami tanpa melepaskan penyatuan. Kini aku di atas, tapi tetap dengan irama lambat. Aku menghantam pelan tapi dalam, setiap dorongan membuat payudaranya bergoyang indah. Kakinya yang jenjang dan mulus melingkar di pinggangku, tumitnya menekan punggungku.
1886Please respect copyright.PENANAybeGE0pF5n
Kami berganti lagi ke spooning, berbaring menyamping. Aku memeluknya dari belakang, satu tangan meremas payudaranya, tangan lain menggosok klitorisnya yang bengkak sambil batangku bergerak pelan di dalam memeknya. Posisi ini terasa sangat intim, napas kami bercampur, bibirku menyapu tengkuknya.
1886Please respect copyright.PENANA6oLJNEbYCT
“Arkan… aku cum lagi…” desahnya. Orgasme keduanya datang lebih kuat, tubuhnya gemetar di pelukanku, memeknya memerah batangku dengan ritme yang manja.
1886Please respect copyright.PENANANpdnhcJwIH
Kami kembali ke cowgirl. Kali ini Laksmi lebih liar sedikit, bokong montoknya naik-turun dengan anggun tapi lebih dalam. Payudaranya bergoyang lebih kuat. Aku duduk, memeluk pinggangnya, menghisap payudaranya bergantian sambil ia terus menunggangiku.
1886Please respect copyright.PENANA23g1HL0DHs
“Kontolmu berdenyut di dalam… aku suka… isi aku lagi… buat memekku penuh sperma kamu…” bisiknya kotor di telingaku.
1886Please respect copyright.PENANAuZmSkeDOEe
Laksmi orgasme ketiga dan keempat berturut-turut di posisi ini. Tubuhnya sudah gemetar hebat, tapi ia terus bergerak, seolah tak ingin berhenti. Akhirnya, setelah hampir satu jam penuh bercinta lambat dan intim di berbagai posisi, aku merasakan puncakku mendekat.
1886Please respect copyright.PENANALnJ1lfFgzg
“Di dalam lagi… cum di dalam memekku, Sayang…” pintanya dengan suara lemah penuh kerinduan.
1886Please respect copyright.PENANArSq2nEBiKI
Dengan beberapa hantaman pelan tapi dalam, aku meledak di dalam tubuhnya. Sperma panasku menyembur pelan tapi banyak, memenuhi rahimnya yang sudah penuh. Laksmi orgasme terakhir bersamaku, memeknya menggenggamku kuat, cairannya bercampur dengan spermaku yang meluap keluar.
1886Please respect copyright.PENANAnvjwFikMQ9
Kami ambruk kembali ke tempat tidur, saling berpelukan erat. Napas kami tersengal pelan.
1886Please respect copyright.PENANAfi0DeTz1e9
Laksmi mencium dada ku lembut. “Ini yang terbaik… pelan dan lama… aku merasa benar-benar dicintai.”
1886Please respect copyright.PENANAW8suDajnMo
Tapi saat kami masih saling peluk dalam keheningan sore, terdengar suara pintu mobil di halaman. Budi kembali setelah pergi sebentar tadi.
1886Please respect copyright.PENANAZcO5UXueqc
Laksmi menatapku dengan senyum yang kembali nakal.1886Please respect copyright.PENANASG6fAAU50J


