Bab 2: Godaan yang Menyelinap di Siang Bolong
5403Please respect copyright.PENANA4nCOa4YsyN
Pagi berikutnya, sinar matahari menyusup melalui celah gorden kamar Laras, menerangi wajahnya yang masih tampak lelah karena tidur gelisah semalam. Tubuh montoknya terasa berat saat bangun dari tempat tidur. Payudaranya yang besar bergoyang lembut di balik kaos tipis saat ia meregangkan badan. Kulit sawo matangnya terasa panas, seolah sisa mimpi panas semalam masih menempel di setiap inci tubuhnya.
5403Please respect copyright.PENANABgQXcJcR1k
Laras melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan pagi. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan Reno yang terus muncul di pikirannya. “Ini nggak boleh, Laras… kamu istri Andi,” gumamnya pada diri sendiri sambil berjalan ke dapur. Tapi saat menyeduh kopi, tangannya masih ingat betul sentuhan hangat jari Reno semalam.
5403Please respect copyright.PENANAWbo0ZSr6vm
Hari itu cuaca cukup terik. Laras memutuskan membersihkan halaman depan rumah kontrakannya yang kecil. Ia mengenakan tank top longgar berwarna putih yang sedikit ketat di bagian dada, ditambah celana pendek rumah yang memperlihatkan paha mulusnya yang montok. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi, beberapa helai menempel di leher karena keringat.
5403Please respect copyright.PENANAS8LdjYSNB1
Baru saja ia menyapu halaman, suara gerbang rumah sebelah terbuka. Reno muncul dengan penampilan santai tapi tetap menawan. Kaos polo hitam yang melekat sempurna di dada kekarnya, celana pendek olahraga, dan sepatu sneakers. Ia membawa tangga lipat yang dipinjam semalam.
5403Please respect copyright.PENANAxg7YYJK7pn
“Laras, pagi,” sapa Reno dengan suara dalam yang rendah, senyumnya lebar dan penuh pesona. “Makasih tangganya. Sudah saya perbaiki lampunya.”
5403Please respect copyright.PENANAMi6FP16NRZ
Laras tersenyum kikuk, berusaha terlihat biasa. “Oh, iya Mas Reno. Sama-sama.”
5403Please respect copyright.PENANAIpJNspGhQh
Reno tidak langsung masuk ke rumahnya. Ia meletakkan tangga di samping pagar, lalu berjalan mendekat ke halaman Laras. Matanya dengan terang-terangan menyusuri tubuh Laras dari ujung kaki hingga payudaranya yang naik-turun karena napasnya yang mulai memburu.
5403Please respect copyright.PENANAW25czxQt2h
“Kamu kelihatan… semakin cantik setiap hari,” kata Reno pelan, nadanya penuh kekaguman. “Andi beruntung banget punya istri seperti kamu. Montok di tempat yang pas, kulitnya mulus, pinggulnya… wah, bikin orang susah ngalihin pandangan.”
5403Please respect copyright.PENANAJJH7e27qDr
Laras merasa wajahnya memanas. Pujian itu terlalu langsung. Tapi anehnya, bukannya marah, ia justru merasakan gelenyar hangat di perut bawahnya. “Mas Reno bisa saja… jangan bercanda pagi-pagi.”
5403Please respect copyright.PENANAR0nqmRvfk3
“Aku nggak bercanda,” Reno mendekat lebih dekat, hingga Laras bisa mencium aroma sabun mandi dan parfum mahalnya yang maskulin. “Kamu tahu nggak, Laras? Wanita seusia kamu yang ditinggal suami merantau biasanya butuh perhatian lebih. Butuh sentuhan. Butuh… pelepasan.”
5403Please respect copyright.PENANAfEsyOOJ83z
Kata-kata itu seperti racun manis yang meresap ke dalam pikiran Laras. Ia mundur selangkah, tapi punggungnya sudah menyentuh dinding rumah. Reno terus mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal satu langkah.
5403Please respect copyright.PENANAaeUh8Q1qfV
“Mas… ini nggak benar,” bisik Laras, suaranya bergetar. Tapi matanya tidak bisa lepas dari dada kekar Reno.
5403Please respect copyright.PENANABd4t7Ta32k
Reno tersenyum tipis. Tangannya terulur pelan, menyentuh lengan Laras dengan lembut, lalu naik ke bahu. “Kamu tegang sekali. Lihat, ototmu kaku begini. Andi sudah lama nggak pulang, kan? Tubuh kamu pasti kangen disentuh.”
5403Please respect copyright.PENANA6sHLkqItMn
Jari Reno yang kasar dan kuat mulai memijat bahu Laras dengan gerakan lambat dan terampil. Laras ingin menolak, tapi sensasi pijatan itu terlalu nikmat. Tubuhnya yang sensitif langsung merespons. Putingnya mengeras di balik tank top tipis, terlihat jelas menonjol.
5403Please respect copyright.PENANAI8DsXlBU0j
“Mas Reno… hentikan…” protes Laras lemah, tapi suaranya justru terdengar seperti erangan kecil.
5403Please respect copyright.PENANAvavuj06zUV
Reno tidak berhenti. Ia membalik tubuh Laras perlahan hingga menghadap dinding, lalu kedua tangannya bekerja memijat pundak dan punggung Laras dari belakang. Tubuh kekarnya menempel ringan di punggung Laras, membuatnya merasakan kehangatan dan kekerasan yang mulai muncul di balik celana Reno.
5403Please respect copyright.PENANAvGEpdy7QRu
“Kamu harum sekali,” bisik Reno di telinga Laras. Napas hangatnya menyapu daun telinga, membuat Laras merinding hebat. “Payudaramu besar dan kencang… pinggulmu lebar sempurna untuk digenggam. Aku sudah lama memperhatikan kamu, Laras.”
5403Please respect copyright.PENANAFSTZy8Aedw
Tangan Reno bergerak lebih berani. Ia merayap ke samping, menyentuh sisi payudara Laras dari luar tank top. Laras menggigit bibir kuat-kuat saat telapak tangan Reno yang besar meremas pelan salah satu payudaranya yang montok. Sensasi itu membuat lututnya lemas.
5403Please respect copyright.PENANAf3rfV83wu0
“Ahh… Mas… jangan…” desah Laras, tapi tubuhnya justru condong ke belakang, menempel lebih erat pada Reno.
5403Please respect copyright.PENANASxT5bquWp5
Reno tersenyum puas. Ia meremas lebih kuat, ibu jarinya mengusap puting yang sudah mengeras melalui kain tipis. Laras merasakan panas yang membakar dari dada hingga ke memeknya yang mulai basah. Cairan hangat mulai merembes keluar, membasahi celana dalamnya.
5403Please respect copyright.PENANAuoaACt6xJH
“Kamu sudah basah ya?” tanya Reno dengan nada kotor di telinga Laras. “Tubuhmu jujur sekali. Meski mulut bilang tidak, tapi memekmu pasti sudah banjir sekarang.”
5403Please respect copyright.PENANAj0c2evQK2N
Laras menggeleng lemah, air mata malu mulai menggenang di matanya. Tapi Reno tidak memberi kesempatan mundur. Ia membalik tubuh Laras lagi, lalu mencium lehernya dengan rakus. Lidahnya menjilat kulit sawo matang Laras, meninggalkan jejak basah yang panas.
5403Please respect copyright.PENANAskAMxzTsHQ
“Mmmhh…” Laras tidak bisa menahan erangan. Tangannya mencengkeram kaos Reno.
5403Please respect copyright.PENANATxbNAr38ft
Reno mengangkat tank top Laras hingga payudaranya yang besar terbebas. Dua bola montok berwarna sawo matang dengan puting cokelat gelap yang mengeras sempurna. Reno menatapnya dengan lapar sebelum menunduk dan menyedot satu puting dengan mulutnya yang panas.
5403Please respect copyright.PENANAKFuLVaJ7pe
“Ooohh…!” Laras melengkungkan punggung. Sensasi lidah Reno yang berputar di sekitar putingnya, sesekali menggigit pelan, membuatnya gila. Tangan Reno meremas payudara satunya lagi dengan kuat, sementara tangan yang lain turun ke celana pendek Laras.
5403Please respect copyright.PENANAkOcO1lcKeZ
Jari Reno menyusup masuk, langsung menemukan memek Laras yang sudah sangat basah dan panas. Dua jarinya mengusap bibir memek yang membengkak, lalu menemukan kristoris kecil di atasnya yang sudah tegang.
5403Please respect copyright.PENANAhl97jhwJrW
“Kamu sangat sensitif,” bisik Reno sambil terus mengisap puting. “Cuma disentuh gini saja sudah banjir begini.”
5403Please respect copyright.PENANAHcqdN4JvsH
Laras gemetar hebat. Kakinya melemah. Reno membopongnya masuk ke rumah, menutup pintu dengan kaki, lalu membaringkannya di sofa ruang tamu. Ia menarik celana pendek dan celana dalam Laras sekaligus, memperlihatkan memek mulus yang sudah mengkilap oleh cairan bening kental.
5403Please respect copyright.PENANAKq6iuxQuO5
Reno berlutut di depan sofa, membuka lebar paha Laras yang montok. Bau harum khas gairah wanita memenuhi udara. Ia menunduk dan menjilat pelan dari bawah ke atas, menikmati rasa manis asin cairan Laras.
5403Please respect copyright.PENANAG7ovWzMRLl
“Ahhh… Mas Reno… itu… kotor…” Laras menangis, tapi tangannya justru menekan kepala Reno lebih dalam.
5403Please respect copyright.PENANAKTtoeqQh7h
Lidah Reno bekerja dengan ahli. Ia menjilat, menghisap, dan memasukkan lidahnya ke dalam lubang memek yang berdenyut. Sesekali ia menggigit lembut kristoris Laras, membuat tubuh Laras kejang-kejang kecil. Laras orgasme pertama datang begitu cepat. Tubuhnya melengkung hebat, cairan bening menyembur kecil ke mulut Reno.
5403Please respect copyright.PENANAxsi5RhUtYh
“Oooohhh… aku… keluar…!” jerit Laras, kakinya gemetar hebat di bahu Reno.
5403Please respect copyright.PENANAfzD9aALcno
Tapi Reno tidak berhenti. Ia terus menjilat sampai Laras orgasme kedua yang lebih kuat. Air mata Laras mengalir deras. Rasa bersalah terhadap Andi bercampur dengan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
5403Please respect copyright.PENANAskb9t2WaIh
Reno bangkit, membuka resleting celananya. kontolnya yang sudah keras dan tebal muncul, berdenyut di depan wajah Laras. Tapi ia tidak memasukkannya. Ia hanya menggesekkan kepala kontolnya di bibir memek Laras yang basah, menggoda tanpa penetrasi penuh.
5403Please respect copyright.PENANAgaR3VJIoOd
“Kamu mau nggak, Laras? Mau kontolku masuk ke dalam memekmu yang sempit ini?” tanya Reno dengan suara serak.
5403Please respect copyright.PENANAcKfIPAAeDn
Laras menggeleng sambil menangis, tapi pinggulnya justru bergerak pelan menggesek kontol Reno. Sensasi panas, tebal, dan berdenyut itu membuatnya gila.
5403Please respect copyright.PENANAfOlGEivq3j
Reno tersenyum licik. Ia menggesek lebih cepat, kepala kontolnya menekan kristoris Laras berulang kali. Laras orgasme lagi untuk ketiga kalinya hanya dari gesekan itu. Tubuhnya kejang hebat, cairan orgasmenya membasahi kontol Reno.
5403Please respect copyright.PENANAZLxeHf76wF
“Aku… nggak tahan lagi…” isak Laras.
5403Please respect copyright.PENANA5E96d3n17G
Reno membungkuk, mencium bibir Laras dalam-dalam sambil terus menggesek. “Ini baru permulaan, Sayang. Aku akan buat kamu ketagihan. Tubuhmu ini milikku sekarang.”
5403Please respect copyright.PENANANR3prtYLAv
Mereka terus berpelukan di sofa, Reno masih menggoda tanpa penetrasi penuh, membiarkan Laras merasakan kenikmatan terlarang yang semakin dalam. Siang itu, rumah kecil di Depok dipenuhi erangan dan desahan yang semakin sulit ditahan.
5403Please respect copyright.PENANAZQLAT4cyzM


