Bab 1: Malam Kesepian yang Membara
5666Please respect copyright.PENANAP0O6HJAFhS
Malam itu hujan deras mengguyur kawasan kontrakan di pinggir Depok. Air mengalir deras di atap seng rumah kecil Laras, menciptakan irama monoton yang justru membuat hatinya semakin gelisah. Laras duduk di tepi tempat tidur, tubuh montoknya hanya dibalut kaos longgar milik Andi dan celana pendek tipis. Kulit sawo matangnya terasa lengket karena udara lembab. Rambut hitam panjangnya tergerai acak-acakan setelah mandi sore tadi.
5666Please respect copyright.PENANAVaQf0p81Rj
Sudah tiga bulan Andi merantau ke Malaysia. Kontrak kerjanya sebagai teknisi di sebuah pabrik elektronik membuat Laras harus belajar hidup sendirian di usia 27 tahun. Awalnya ia kuat. Ia sibuk membersihkan rumah, memasak untuk bekal besok, dan sesekali menonton drama Korea untuk mengusir sepi. Tapi malam-malam seperti ini selalu menjadi neraka tersendiri.
5666Please respect copyright.PENANAu6lMNfJF3B
Payudaranya yang berukuran D-cup terasa berat dan sensitif. Setiap kali ia berbaring, putingnya yang mengeras karena dingin AC menyapu kain kaos, mengirim getaran kecil ke perut bawahnya. Laras menggigit bibir bawahnya. Ia merasa malu dengan pikirannya sendiri. Tangan kanannya tanpa sadar turun, menyentuh paha dalam yang hangat.
5666Please respect copyright.PENANA5qizhpgp74
"Kenapa harus sekarang..." gumamnya pelan.
5666Please respect copyright.PENANAdE9rhkSZgA
Telepon bergetar di sampingnya. Nama Andi muncul di layar. Laras buru-buru mengangkatnya, suaranya dibuat semanis mungkin.
5666Please respect copyright.PENANANX5ZE2GYzz
"Halo, Sayang... Sudah makan malam?" tanya Laras lembut.
5666Please respect copyright.PENANA1kcGmiBh2k
Di seberang, suara Andi terdengar lelah tapi penuh kasih. "Baru saja, Sayang. Kerja lembur lagi hari ini. Kamu gimana? Sehat?"
5666Please respect copyright.PENANAGgrOyEHxiF
Laras menelan ludah. Ia berbaring miring, satu tangannya memeluk bantal Andi yang masih menyisakan aroma suaminya. "Sehat kok. Rumah sepi banget tanpa kamu. Kangen..."
5666Please respect copyright.PENANACk29Yky7u1
Andi tertawa pelan. "Aku juga kangen. Sabar ya, kontrak ini cuma enam bulan lagi. Nanti aku pulang bawa oleh-oleh banyak buat istriku yang cantik."
5666Please respect copyright.PENANAMDhL01fM21
Mereka berbincang hampir dua puluh menit. Andi bercerita tentang pekerjaannya, makanan aneh yang ia coba, dan betapa ia merindukan tubuh hangat Laras. Laras hanya mendengarkan sambil sesekali menjawab. Tapi di dalam hatinya, gelombang kesepian semakin besar. Saat Andi akhirnya mengucapkan "Selamat tidur, Sayang. Aku cinta kamu," Laras hanya bisa menjawab dengan suara bergetar.
5666Please respect copyright.PENANAF1KZXnBQTi
Begitu telepon ditutup, Laras menatap langit-langit kamar yang gelap. Matanya basah. Tubuhnya panas. Ia menyelipkan tangan ke dalam celana pendeknya, menyentuh bagian intim yang sudah mulai lembab. Jari tengahnya mengusap pelan bibir memeknya yang halus, membayangkan itu adalah Andi. Tapi semakin ia berusaha, semakin ia merasa kosong. Orgasme yang ia kejar tak kunjung datang. Hanya frustrasi yang semakin menumpuk.
5666Please respect copyright.PENANAZnkt0EmNha
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan.
5666Please respect copyright.PENANApTJvjo11Yl
Laras tersentak. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Siapa yang datang malam-malam begini?
5666Please respect copyright.PENANAFiVsfpuNFf
Ia buru-buru merapikan pakaian, mengenakan kardigan tipis untuk menutupi payudaranya yang bergoyang saat berjalan, lalu membuka pintu sedikit.
5666Please respect copyright.PENANA7QwJQdW0rv
Di depan pintu berdiri Reno, tetangga sebelah rumah mewahnya. Pria 32 tahun itu berdiri tegap dengan tubuh kekar berbalut kaos hitam ketat dan celana training. Rambutnya disisir rapi, senyumnya lebar dan penuh percaya diri. Bau parfum mahal langsung menyeruak ke hidung Laras.
5666Please respect copyright.PENANAKb6GO4DQ8l
"Maaf ganggu malam-malam, Bu Laras. Lampu teras saya mati total. Bisa pinjam tangga sebentar? Saya lupa beli yang baru," kata Reno dengan suara dalam yang tenang.
5666Please respect copyright.PENANAHvf7zXz6L5
Laras ragu sejenak. Ia tahu Reno adalah pengusaha sukses yang sering bepergian. Jarang terlihat, tapi saat muncul, selalu sopan dan dermawan. Beberapa kali Reno memberi Laras buah-buahan atau makanan saat Andi baru berangkat.
5666Please respect copyright.PENANAcGN9UO1gfb
"Ah... iya, Mas Reno. Tunggu sebentar ya," jawab Laras.
5666Please respect copyright.PENANAPAICzkceVr
Ia membiarkan pintu terbuka lebar saat mengambil tangga lipat dari gudang kecil. Reno tidak langsung masuk, tapi matanya jelas menyusuri tubuh Laras dari atas ke bawah. Payudara montok yang naik turun karena napas gelisah, pinggul lebar yang bergoyang pelan saat berjalan, dan paha mulus yang terlihat dari celana pendek.
5666Please respect copyright.PENANATj1gIJFu7w
Saat Laras menyerahkan tangga, jari Reno sengaja menyentuh punggung tangan Laras lebih lama dari seharusnya. Sentuhan itu hangat dan kuat.
5666Please respect copyright.PENANAnrUwn0QGz3
"Terima kasih, Laras. Sendirian terus ya malam ini?" tanya Reno sambil tersenyum miring.
5666Please respect copyright.PENANAlaqJgY32Ao
"Iya... Andi masih di Malaysia," jawab Laras pelan, matanya menunduk.
5666Please respect copyright.PENANAdJUI8t4YKr
Reno mengangguk pelan. "Harusnya susah ya ditinggal suami lama-lama. Wanita secantik kamu nggak pantas kesepian begini."
5666Please respect copyright.PENANA2ZxI4PsObs
Pujian itu seperti listrik kecil yang menyentuh dada Laras. Ia merasa pipinya memanas. "Ah, biasa saja kok, Mas."
5666Please respect copyright.PENANAQfJoJoMsS6
Reno tidak langsung pergi. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Laras dengan pandangan yang semakin dalam. "Kalau butuh apa-apa, bilang aja ya. Saya sering di rumah sekarang. Bisa nemenin ngobrol, atau bantu apa saja. Siapa tahu... kamu butuh pelukan hangat di malam hujan begini."
5666Please respect copyright.PENANAYDuDnhuOEJ
Kata-kata itu terdengar biasa, tapi nada suaranya rendah dan penuh arti. Laras merasakan denyutan aneh di perut bawahnya. Ia buru-buru menggeleng.
5666Please respect copyright.PENANAhuRF1g3OwS
"Enggak usah, Mas. Saya baik-baik saja."
5666Please respect copyright.PENANAPcJIDt6QsN
Reno tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Oke. Tapi ingat, Laras... wanita seksi seperti kamu nggak boleh terlalu lama kelaparan. Bisa sakit nanti."
5666Please respect copyright.PENANAE1aXNyoPEZ
Ia mengedipkan sebelah mata sebelum berbalik membawa tangga.
5666Please respect copyright.PENANA0Y5IKHw4Xq
Laras menutup pintu dengan tangan gemetar. Punggungnya bersandar di daun pintu. Napasnya memburu. Ia bisa merasakan cairan hangat mulai membasahi celana dalamnya hanya karena beberapa kalimat Reno. Tubuhnya yang sensitif bereaksi keras terhadap aura dominan pria itu.
5666Please respect copyright.PENANAJsFYnNHRnQ
Ia kembali ke kamar, membaringkan diri. Kali ini tangannya tidak bisa ditahan lagi. Laras menarik kaosnya ke atas, membiarkan payudaranya yang montok terbebas. Jari-jarinya memilin puting yang sudah mengeras seperti batu, sambil bayangan wajah Reno dan suaranya yang dalam berputar di kepala.
5666Please respect copyright.PENANAToYGY3Phui
"Ohh..." desahnya pelan.
5666Please respect copyright.PENANAO9wIz2f9en
Jarinya turun lagi ke celana pendek, menyusup masuk, menemukan memeknya yang sudah banjir sperma. Ia membayangkan tangan Reno yang besar dan kuat menyentuhnya di sana. Gerakannya semakin cepat. Lututnya terbuka lebar. Tubuhnya melengkung. Tapi saat hampir mencapai puncak, ia berhenti tiba-tiba.
5666Please respect copyright.PENANAKio3vS802u
"Andi... maafkan aku," bisiknya dengan air mata menetes.
5666Please respect copyright.PENANATJrbihE1aL
Laras menarik tangannya yang basah, merasa bersalah sekaligus frustrasi yang luar biasa. Malam itu ia tidur dengan gelisah, mimpi-mimpi panas tentang tetangga kekarnya yang baru saja menggodanya.
5666Please respect copyright.PENANAqESMJ3BYYu
Sementara itu, di rumah sebelah, Reno duduk di ruang kerjanya sambil tersenyum puas. Ia sudah lama memperhatikan Laras. Tubuh montok, wajah cantik, dan kesepian yang terpancar jelas. Reno tahu persis jenis wanita seperti Laras — sensitif, mudah terangsang, dan siap dikuasai jika disentuh dengan benar.
5666Please respect copyright.PENANAQSyPillROc
Ia menuang segelas whiskey, membayangkan bagaimana ia akan perlahan merusak kesetiaan Laras. Langkah pertama sudah dimulai malam ini.
5666Please respect copyright.PENANAxgVcJPOpAE
Hujan semakin deras di luar, seolah ikut merayakan awal dari kehancuran sebuah rumah tangga yang tampak sempurna.
5666Please respect copyright.PENANA1nrYblugnI
5666Please respect copyright.PENANATrQzDrsDMD
5666Please respect copyright.PENANAGPADwx10yo


