Bab 2: Lapar yang Semakin Membara di Pagi yang Hangat
1626Please respect copyright.PENANA0VRCw57DQE
Pagi berikutnya sinar matahari Jakarta menyusup lembut melalui celah tirai kamar apartemen mereka. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat, tapi Rina sudah terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa panas meski AC menyala pelan. Perutnya yang membuncit di usia kehamilan empat bulan terasa lebih berat dari biasanya, tapi justru memberi sensasi penuh yang anehnya menyenangkan. Ia mengusap permukaan perutnya yang mulus dengan telapak tangan, merasakan kulit sawo matangnya yang semakin sensitif.
1626Please respect copyright.PENANAwVxLZ8UVN1
Dika masih tertidur di sampingnya, napasnya teratur. Wajah lembut suaminya itu selalu membuat Rina merasa aman, tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ngidam semalam belum sepenuhnya hilang. Malah terasa semakin kuat, seperti api kecil yang kini mulai membesar di dalam perut dan dada.
1626Please respect copyright.PENANAZa5YMinlIn
Rina bergeser mendekat. Payudaranya yang semakin membengkak bergesekan pelan dengan lengan Dika. Sensasi itu langsung membuat "puting" di puncak payudaranya mengeras. Ia mendesah pelan, lalu meraih tangan suaminya dan meletakkannya kembali ke perutnya yang hangat.
1626Please respect copyright.PENANA5rNflLYHTT
"Dika... bangun," bisik Rina manja, tapi ada nada mendesak di dalamnya.
1626Please respect copyright.PENANAR8OlES63be
Dika membuka mata perlahan, tersenyum saat melihat wajah istrinya yang cantik. "Pagi, Sayang. Kamu sudah bangun? Mau sarapan apa hari ini?"
1626Please respect copyright.PENANArzbaqKlb5b
Rina tidak langsung menjawab. Ia menekan tangan Dika lebih kuat ke perutnya, menggerakkan telapak tangan suaminya dengan gerakan melingkar yang kasar. "Bukan sarapan makanan. Aku masih ngidam yang semalam. Perutku panas sekali. Gosok lagi seperti tadi malam... tapi lebih lama."
1626Please respect copyright.PENANAoRmNl3LrrH
Dika terkejut melihat intensitas di mata Rina. Biasanya istrinya adalah tipe yang lembut dan pemalu dalam hal intim, tapi kehamilan ini seolah membuka pintu baru. Ia menurut, duduk bersandar di kepala tempat tidur lalu menarik Rina ke pangkuannya. Perut besar Rina kini menempel di perut Dika, memberi tekanan hangat yang intim.
1626Please respect copyright.PENANAdyJrr43xa4
Tangan Dika mengusap perut istrinya dengan gerakan lebih kuat dari semalam. Kulit Rina terasa sangat halus dan hangat, hampir panas. Setiap kali telapak tangannya menekan lebih dalam, Rina menggigit bibir dan mendesah panjang.
1626Please respect copyright.PENANAuXMLUqiDnH
"Ahh... iya... seperti itu. Tekan lebih kuat, Dika. Aku suka merasakan tekanannya di dalam," erang Rina. Suaranya sudah mulai serak karena gairah pagi.
1626Please respect copyright.PENANAverGqndB3T
Dika merasakan jantungnya berdegup kencang. Bau tubuh Rina pagi ini begitu memabukkan — campuran aroma sabun mandi malam sebelumnya, lotion kehamilan yang manis, dan sedikit bau keringat alami yang muncul karena hormon. Ia menunduk, mencium leher Rina dengan lembut di awal, lalu mengikuti permintaan istrinya dengan mengisap lebih kuat hingga meninggalkan jejak merah muda di kulit sawo matang itu.
1626Please respect copyright.PENANAMK87MfRIRA
Rina meraih gaun tidurnya sendiri dan menariknya ke atas hingga terlepas sepenuhnya. Tubuh telanjangnya kini terpapar di depan Dika. Payudaranya yang besar dan penuh terlihat semakin berat, dengan vena halus kebiruan yang terlihat jelas di bawah kulit. "puting"-nya sudah berdiri tegak, gelap dan menggoda.
1626Please respect copyright.PENANAfuWZEW7An1
"Hisap payudaraku," pinta Rina tanpa malu. "Mulai dari yang kiri. Jangan lembut saja. Aku mau merasakan gigitan kecilmu."
1626Please respect copyright.PENANA56eXvX7eJx
Dika menuruti dengan penuh kasih. Mulutnya membuka lebar, menangkap puncak payudara kiri Rina. Lidahnya berputar pelan di sekitar "puting" yang keras itu, lalu mengisap kuat. Rasa manis kulit Rina memenuhi mulutnya. Tangan kirinya terus menggosok perut istrinya dengan gerakan kasar melingkar, sesekali menekan bagian bawah perut dekat pusar yang menonjol.
1626Please respect copyright.PENANA11RQT5is3s
Rina mengerang panjang. Tubuhnya menggelinjang di pangkuan Dika. Ia merasakan panas yang menyebar dari payudaranya yang dihisap ke seluruh dada, lalu turun ke perut dan lebih bawah lagi. "memek"-nya sudah mulai basah, cairan hangat perlahan keluar membasahi paha dalamnya.
1626Please respect copyright.PENANAfuMuV2tXTb
"Lebih kuat, Dika... gigit pelan 'puting'-ku," desak Rina sambil menekan kepala suaminya ke dadanya.
1626Please respect copyright.PENANAgw0s1Xd8nz
Dika menggigit ringan puncak payudara itu. Rina langsung menjerit kecil karena campuran sakit dan kenikmatan. Kakinya gemetar pelan, jari kakinya menekuk. Perut besarnya naik turun mengikuti napasnya yang semakin cepat.
1626Please respect copyright.PENANAxIfGENo2Zv
Setelah beberapa menit menghisap bergantian kedua payudara, Rina mendorong Dika hingga berbaring telentang. Ia naik ke atas tubuh suaminya, posisi duduk dengan perut hamilnya menekan dada Dika. "Aku mau kamu menjilat lebih bawah sekarang. Tapi pelan-pelan dulu, bangun nafsuku lama-lama."
1626Please respect copyright.PENANA2dcehZMdwt
Dika melihat "memek" Rina yang sudah mengkilap karena cairan. Bau intim yang manis dan sedikit asin memenuhi hidungnya. Ia memegang pinggul istrinya dengan lembut, lalu menjulurkan lidahnya. Mulai dari paha dalam, menjilat pelan ke atas hingga menyentuh bibir luar yang sudah basah.
1626Please respect copyright.PENANAyxj4cNU0Ze
Rina mendesah lega. "Iya... jilat 'ceri'-ku dulu. Putar lidahmu di sana."
1626Please respect copyright.PENANAufiA3zUOwF
Lidah Dika menemukan titik sensitif kecil itu dan berputar pelan mengelilinginya. Rasa asam-manis cairan Rina memenuhi mulutnya. Ia menjilat dengan ritme yang lambat tapi stabil, sesekali menyedot pelan. Tangan kanannya tetap mengusap perut Rina yang besar dari bawah, menekan-naikkan dengan gerakan yang semakin berani.
1626Please respect copyright.PENANAAzxX3hFmVX
Sensasi bagi Rina luar biasa. Panas lidah Dika di "ceri"-nya, tekanan tangan di perut hamilnya, dingin udara AC yang menyentuh payudaranya yang basah oleh air liur, dan getaran kecil bayi di dalam perut yang seolah ikut merasakan semua ini. Ia mulai menggoyang pinggulnya pelan, menggesekkan "memek"-nya ke wajah Dika.
1626Please respect copyright.PENANA51dXJ7hnbZ
"Masukkan jari... dua sekaligus," pinta Rina dengan suara parau.
1626Please respect copyright.PENANAXnrZFR1Uja
Dua jari Dika meluncur masuk ke dalam kehangatan yang licin. Dinding dalam Rina memeluk jarinya erat, berdenyut-denyut. Suara basah "schlup... schlup..." terdengar jelas setiap jari bergerak keluar masuk. Rina semakin liar, pinggulnya bergerak lebih cepat.
1626Please respect copyright.PENANA1xcAwBxDrN
"Ahh... Dika... kamu enak sekali... jangan berhenti... perutku semakin panas!"
1626Please respect copyright.PENANAYb7XemtvwG
Dika merasa "kontol"-nya sendiri sudah sangat keras di balik celana pendeknya. Tapi ia fokus sepenuhnya pada istri dan ngidamnya. Ia menambah kecepatan jari dan lidahnya, menghisap "ceri" Rina dengan lebih kuat sambil terus menekan perut istrinya.
1626Please respect copyright.PENANAZMyGQMtUzO
Rina merasakan gelombang orgasme pertama pagi itu mendekat. Tubuhnya menegang, perut besarnya kencang sekali. Kakinya gemetar hebat di samping kepala Dika. Air matanya mengalir sedikit karena intensitas kenikmatan.
1626Please respect copyright.PENANAqrcAo6n8O5
"Aku keluar... ahh! Terus... jangan berhenti!!"
1626Please respect copyright.PENANAyD2vKxLSYG
Tubuh Rina bergetar keras. Cairan hangat memancar membasahi mulut dan jari Dika. "memek"-nya berdenyut-denyut kuat, memeluk jari suaminya. Napasnya tersengal-sengal, payudaranya naik turun cepat.
1626Please respect copyright.PENANAjDQXKmfseY
Tapi Rina belum puas. Setelah orgasme reda, ia turun dari wajah Dika dan menarik celana pendek suaminya hingga "kontol" Dika melompat keluar, sudah keras dan berdenyut. Rina memandangnya dengan mata lapar.
1626Please respect copyright.PENANAySJgH0OpsD
"Sekarang giliranmu masuk," kata Rina sambil menggenggam "kontol" suaminya. "Tapi pelan dulu. Aku mau merasakan setiap senti masuk ke dalam 'memek'-ku yang hamil ini."
1626Please respect copyright.PENANAavFQDYYpnC
Ia naik kembali ke pangkuan Dika, memposisikan diri. Ujung "kontol" menyentuh bibir "memek"-nya yang masih basah dan sensitif. Rina menurunkan tubuhnya perlahan, merasakan sensasi meregang yang penuh dan panas. Perut besarnya menekan perut Dika saat "kontol" masuk semakin dalam.
1626Please respect copyright.PENANAaX4qqewauc
"Ohh... penuh sekali... rasanya beda saat hamil begini," erang Rina. Matanya setengah terpejam menikmati sensasi.
1626Please respect copyright.PENANA8tq0g2I19k
Dika merasakan kehangatan ketat yang luar biasa. Ia memegang pinggul Rina, membantu gerakan naik turun istrinya. Setiap kali Rina turun, perutnya bergesekan dengan tubuh Dika, memberi tekanan ekstra yang membuat Rina semakin liar.
1626Please respect copyright.PENANAqmlfpQTAXN
Mereka bergerak semakin cepat. Suara tabrakan kulit "plak... plak..." bercampur dengan erangan Rina yang semakin kencang. Dika sesekali menampar ringan bokong Rina sesuai isyarat istrinya, membuat suara "plak" yang nyaring dan meninggalkan bekas merah samar.
1626Please respect copyright.PENANArFu1f2RJyt
Rina membungkuk, mencium Dika dalam-dalam sambil terus menggoyang pinggulnya. "Kamu milikku, Dika. Semua ini milikku. Aku mau kamu isi 'memek'-ku sampai penuh."
1626Please respect copyright.PENANA9637iipYrc
Dika merasa terangsang sekaligus terintimidasi oleh perubahan Rina. Tapi ia mencintai istrinya terlalu dalam untuk menolak. Ia mendorong "kontol"-nya lebih dalam, menyentuh titik paling sensitif di dalam Rina.
1626Please respect copyright.PENANA20pYxn31EJ
Gelombang orgasme kedua datang lebih kuat. Rina menjerit pelan, tubuhnya kejang hebat. "memek"-nya berdenyut kuat, memeras "kontol" Dika. Tak lama kemudian Dika juga mencapai puncak, melepaskan "sperma" hangat yang memenuhi dalam Rina.
1626Please respect copyright.PENANAipZgTPhCtS
Cairan putih kental menetes keluar saat Rina mengangkat tubuhnya. Ia mengusap "memek"-nya sendiri, tersenyum puas melihat "sperma" suaminya yang keluar.
1626Please respect copyright.PENANApjG03wAKdp
"Itu enak sekali," bisik Rina sambil berbaring di samping Dika, perut besarnya naik turun. "Tapi aku masih lapar, Sayang. Malam nanti aku mau lebih kasar lagi. Aku ingin kamu genggam perutku sambil masuk dari belakang."
1626Please respect copyright.PENANACxmE3l1Lnz
Dika mengangguk pelan, mengelus rambut istrinya. Dalam hatinya ada campuran rasa cinta, khawatir, dan gairah yang aneh. Istri yang dulu manis ini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih haus, dan lebih egois. Tapi ia tahu, ia tidak akan bisa menolak.
1626Please respect copyright.PENANA43kYniBNBU
Sepanjang hari itu, Rina terus menggoda Dika dengan sentuhan kecil di perut dan payudaranya sendiri saat Dika bekerja dari rumah. Setiap kali Dika lewat, Rina akan meraih tangannya dan meletakkannya di perutnya sambil berbisik, "Ingat ya, malam ini lebih keras."
1626Please respect copyright.PENANA3l4TV2QmJq
Saat sore menjelang, Rina sudah merencanakan apa yang akan ia minta selanjutnya. Ngidamnya baru saja mulai, dan ia merasa semakin kuat setiap jamnya.
1626Please respect copyright.PENANAfg1TiXEjpj
1626Please respect copyright.PENANAR5PLKg7tsy
1626Please respect copyright.PENANAo8J31sb8Ed


