Bab 1: Awal yang Manis dengan Rasa Lapar yang Baru
1816Please respect copyright.PENANAODeX511hZi
Malam itu udara Jakarta terasa lebih lembab dari biasanya. Di apartemen kecil mereka di kawasan Kemang, lampu kamar tidur menyala redup dengan cahaya kuning keemasan yang lembut. Rina berbaring di atas tempat tidur king size, punggungnya bersandar pada tumpukan bantal. Perutnya yang sudah mulai membuncit di usia kehamilan empat bulan terlihat jelas di balik gaun tidur satin tipis berwarna burgundy. Kulit sawo matangnya bersinar halus di bawah cahaya lampu, rambut hitam panjangnya tergerai di bahu.
1816Please respect copyright.PENANAXtTsT6YLIm
Dika masuk ke kamar sambil membawa segelas air hangat yang sudah dicampur sedikit sperma, sesuai permintaan Rina tadi sore. Ia tersenyum lembut melihat istrinya. Dika adalah pria biasa berusia 29 tahun, bertubuh sedang, berkacamata, dan bekerja sebagai staf marketing di sebuah perusahaan consumer goods. Wajahnya selalu memancarkan kelembutan yang membuat Rina dulu jatuh cinta padanya.
1816Please respect copyright.PENANAhojkSoeyk1
"Minum dulu, Sayang. Biar bayinya sehat," kata Dika sambil duduk di pinggir tempat tidur.
1816Please respect copyright.PENANAB2p5hhrzzm
Rina menerima gelas itu dengan senyum manis. Bibirnya yang penuh menyentuh pinggiran gelas, meneguk perlahan. Setelah selesai, ia mengembalikan gelas ke tangan suaminya dan langsung meraih tangan Dika, meletakkannya di atas perutnya yang membulat.
1816Please respect copyright.PENANAx2ItJIANA3
"Sentuh di sini," bisik Rina pelan. Suaranya sudah mulai berubah, ada nada manja yang lebih dalam. "Perutku terasa panas akhir-akhir ini. Bayinya aktif sekali malam ini."
1816Please respect copyright.PENANAEyBs0PE0XJ
Dika mengusap perut istrinya dengan lembut, gerakan melingkar yang penuh kasih sayang. Kulit Rina terasa hangat dan sedikit tegang di bawah telapak tangannya. Ia bisa merasakan sedikit denyutan kecil di dalam sana, gerakan bayi yang masih sangat halus.
1816Please respect copyright.PENANAU8AsTAacrD
Tapi malam ini, sesuatu terasa berbeda.
1816Please respect copyright.PENANAe7axTlN00u
Rina mendesah pelan saat tangan Dika mengusap. Matanya setengah terpejam. Payudaranya yang semakin membengkak karena kehamilan terlihat menonjol di balik gaun satin, putingnya mulai mengeras sedikit menyembul.
1816Please respect copyright.PENANAtpVt2RxrTH
"Dika..." panggil Rina dengan suara rendah. "Bukan seperti itu. Gosok lebih keras."
1816Please respect copyright.PENANAyxockVdowu
Dika terkejut sebentar. Biasanya ia selalu mengusap dengan sangat lembut karena takut menyakiti istri dan bayinya. Tapi kali ini nada Rina terdengar berbeda, lebih mendesak.
1816Please respect copyright.PENANAKvu2mt99L8
"Lebih keras bagaimana?" tanya Dika hati-hati.
1816Please respect copyright.PENANAAIbW3Upmbq
Rina menggenggam tangan suaminya dan menekannya lebih kuat ke perutnya sendiri. "Begini. Tekan sambil mengusap. Aku suka rasanya... ada sensasi hangat yang naik ke dada."
1816Please respect copyright.PENANAq8RKxelGta
Dika menurut. Telapak tangannya menekan lebih dalam, mengusap perut Rina dengan gerakan lebih kuat. Ia merasakan kulit istrinya yang halus dan hangat, serta sedikit kekencangan otot di bawah lapisan lemak kehamilan. Rina menggigit bibir bawahnya, napasnya mulai sedikit lebih cepat.
1816Please respect copyright.PENANACGdRPCpkXD
"Ahh... iya, seperti itu," erang Rina pelan. "Leherku juga... cium di sini."
1816Please respect copyright.PENANAJWQwDilxZO
Dika mendekatkan wajahnya. Bau harum tubuh Rina yang bercampur lotion kehamilan dan sedikit keringat malam langsung memenuhi penciumannya. Ia mengecup leher istrinya yang jenjang, lalu menjilat pelan dengan lidahnya. Rina langsung menggelinjang. Tangannya meraih rambut Dika, menekan kepala suaminya lebih dalam ke lehernya.
1816Please respect copyright.PENANANP2PuwqcRT
"Cium lebih kuat, Sayang. Hisap sedikit," pinta Rina.
1816Please respect copyright.PENANAeMijTqEkI5
Dika menuruti. Bibirnya mengisap kulit leher Rina dengan lembut tapi penuh perhatian, meninggalkan jejak merah samar. Tangan kanannya terus mengusap dan menekan perut istrinya sesuai permintaan. Semakin lama, gerakan Rina semakin gelisah. Pahanya saling bergesekan pelan di bawah gaun satin.
1816Please respect copyright.PENANAK9kxo3OLJE
Rina merasakan gelombang panas yang aneh menyebar dari perutnya yang hamil ke seluruh tubuh. Payudaranya terasa penuh dan berat, sensitif sekali. Setiap hembusan napas Dika di lehernya membuat "puting" di puncak payudaranya semakin mengeras.
1816Please respect copyright.PENANAN9Izkmuf1H
"Dika... aku ngidam yang aneh akhir-akhir ini," bisik Rina di antara erangan kecil. "Hormon ini membuatku... lapar sekali. Bukan lapar makanan. Lapar sentuhanmu."
1816Please respect copyright.PENANATD7M3AxWsI
Dika merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mencintai Rina dengan sepenuh hati, tapi melihat istrinya yang biasanya manis dan lembut mulai berubah seperti ini membuatnya campur aduk antara khawatir dan terangsang.
1816Please respect copyright.PENANAZjiERbHqwK
"Apa yang kamu inginkan malam ini?" tanya Dika sambil terus menciumi leher dan tulang selangka Rina.
1816Please respect copyright.PENANAGEePAExvpH
Rina menarik wajah suaminya agar menatap matanya. Pupil Rina melebar, ada api yang baru menyala di sana.
1816Please respect copyright.PENANAxWpjSWhpSx
"Aku ingin kamu membuka gaunku pelan-pelan. Lalu usap perutku sambil menciumi payudaraku. Jangan lembut terus, Dika. Aku mau merasakan kekuatanmu sedikit."
1816Please respect copyright.PENANANw0PWN6tRk
Dika menelan ludah. Tanganannya gemetar sedikit saat menarik tali gaun satin Rina. Kain tipis itu meluncur turun, memperlihatkan tubuh Rina yang sedang berubah karena kehamilan. Payudaranya yang dulu sudah besar kini semakin membengkak, penuh, dengan vena halus yang terlihat di kulit sawo matang. Perutnya membulat indah, pusarnya mulai menonjol sedikit.
1816Please respect copyright.PENANA0brLNhMW8c
Dika menunduk, mencium payudara kiri Rina dengan penuh rasa hormat. Lidahnya menyentuh puncak yang sudah keras. Rina langsung mendesah keras.
1816Please respect copyright.PENANAOfjR3CFunP
"Ssshh... hisap lebih kuat. Aku suka rasa sakit kecilnya."
1816Please respect copyright.PENANAQEjQkx9L26
Dika mengisap lebih dalam. Rasa manis kulit Rina bercampur dengan bau tubuhnya yang semakin harum karena hormon kehamilan. Tangan kirinya terus mengusap perut Rina dengan gerakan kasar yang diminta, sesekali menekan lebih kuat hingga Rina menggelinjang.
1816Please respect copyright.PENANAD1RvSdDgHn
Rina meraih tangan Dika yang bebas dan membawanya ke antara pahanya. "Sentuh di sini juga. memekku sudah basah sekali."
1816Please respect copyright.PENANAkZ6iEF5Bqr
Jari Dika menyentuh bagian intim Rina yang sudah licin dan hangat. Cairan tipis sudah membasahi celahnya. Ia mengusap perlahan di awal, lalu semakin cepat sesuai erangan Rina yang semakin liar.
1816Please respect copyright.PENANAhK9SEoTMaK
"Ahh... Dika... lebih dalam jarinya," pinta Rina sambil menggoyang pinggulnya pelan. Perut besarnya naik turun mengikuti gerakan.
1816Please respect copyright.PENANAw77BfP9aPe
Dika memasukkan satu jari, lalu dua. Ia merasakan dinding dalam Rina yang panas dan berdenyut, memeluk jarinya erat. Suara basah "schlup schlup" kecil terdengar setiap jarinya bergerak keluar masuk.
1816Please respect copyright.PENANA3QVv4Cgttm
Rina memejamkan mata, menikmati setiap sensasi. Panas dari perutnya, dingin dari udara AC yang menyentuh kulit basahnya, rasa sakit manis di payudaranya yang dihisap, dan penuh di bawah sana. Kakinya mulai gemetar pelan.
1816Please respect copyright.PENANAoKHMeGux2C
"Terus... jangan berhenti menggosok perutku," erangnya.
1816Please respect copyright.PENANA1eHyoJ3YTY
Dika melakukan semuanya sekaligus. Mulut di payudara, tangan mengusap perut kasar, jari yang lain bergerak di dalam "memek" Rina. Bau intim yang manis dan sedikit asin mulai memenuhi udara kamar.
1816Please respect copyright.PENANAjE23UQKMY3
Rina merasakan gelombang pertama orgasme mendekat. Tubuhnya menegang, perutnya terasa kencang. Ia meraih bahu Dika, kuku jarinya menekan kulit suaminya.
1816Please respect copyright.PENANA34La7vC5e3
"Aku mau keluar... jangan berhenti... ahh!"
1816Please respect copyright.PENANAQmyEZ9hL0F
Tubuh Rina bergetar hebat. Cairan hangat memancar sedikit membasahi tangan Dika. Napasnya tersengal, air mata tipis mengalir di sudut matanya karena intensitasnya. Perutnya berdenyut pelan, bayi di dalamnya seolah ikut bergerak.
1816Please respect copyright.PENANAGFDpZSdKMD
Dika menatap istrinya dengan campuran kagum dan khawatir. Rina yang manis biasanya tidak pernah seaktif ini.
1816Please respect copyright.PENANAtSp9A5DSGh
Setelah orgasme reda, Rina menarik Dika ke dalam pelukannya. Perut besarnya menekan perut Dika. Ia mencium bibir suaminya dalam-dalam, lidah mereka saling menari.
1816Please respect copyright.PENANAoErJaB7hmh
"Terima kasih, Sayang," bisik Rina. "Ini baru permulaan. Aku merasa semakin lapar setiap hari. Besok aku mungkin akan minta lebih."
1816Please respect copyright.PENANAzxdStUb3tf
Dika hanya bisa mengangguk pelan sambil mengelus rambut istrinya. Dalam hati ia berjanji akan menuruti apa pun yang Rina inginkan. Tapi ia juga mulai merasakan sedikit ketakutan. Istri yang dulu lembut ini mulai menunjukkan sisi baru yang lebih gelap dan haus.
1816Please respect copyright.PENANABofgqQJeHG
Malam itu mereka tidur dalam pelukan. Perut Rina yang hamil bersandar di dada Dika. Tapi di dalam mimpi Rina, bayangan-bayangan kasar dan liar sudah mulai muncul. Ngidamnya baru saja dimulai.
1816Please respect copyright.PENANAKAUh45V0GX
Pagi harinya, saat matahari menyelinap melalui tirai, Rina bangun dengan senyum kecil di bibir. Ia mengusap perutnya sendiri, merasakan gerakan bayi. Lalu ia menoleh ke Dika yang masih tidur.
1816Please respect copyright.PENANAZywB0lzRZD
"Besok malam aku mau lebih kasar lagi," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Dan kamu harus bisa memberikannya padaku, Dika."
1816Please respect copyright.PENANA0qkX40qrxp
1816Please respect copyright.PENANAoQSkDweaRp
1816Please respect copyright.PENANAM3FYoVvdT1


