Mendengar tawaran yang begitu gamblang, darah muda di dalam tubuh Reyhan berdesir hebat. Adrenalinnya terpacu maksimal. Tanpa menjawab dengan kata-kata, Reyhan melepaskan tautan jemari mereka, lalu dengan satu gerakan tangkas yang menunjukkan kekuatan fisiknya, ia melompati tembok pembatas setinggi pinggang itu dengan mudah.
Bum.
Kedua kakinya mendarat mulus di halaman rumah Tante Maya. Gestur spontan dan berani itu sempat membuat Tante Maya membelalakkan mata karena terkejut, namun sedetik kemudian ekspresi terkejut itu digantikan oleh tawa kecil yang penuh kekaguman atas kenekatan remaja di hadapannya.
"Nekat banget sih kamu, Rey. Kalau ada tetangga yang lihat gimana?" bisik Tante Maya, meskipun nadanya sama sekali tidak terdengar khawatir. Ia berbalik dan melangkah anggun menuju pintu utama yang terbuka, membiarkan gaun satin merah marunnya bergoyang, mengekspos bagian belakang tubuhnya yang membingkai lekuk pinggul dengan sempurna.
"Gak akan ada yang lihat, Tante," sahut Reyhan santai sambil berjalan mengekor di belakangnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Tante Maya langsung menutup pintu kayu yang tebal itu hingga terdengar bunyi klik yang mengunci mereka berdua dari dunia luar. Suasana di dalam rumah tampak sepi, sejuk karena AC ruang tengah sebenarnya menyala dengan baik—membuktikan bahwa alasan "AC rusak" tadi hanyalah sebuah sandiwara pemancing.
Tante Maya berbalik, menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tertutup rapat. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Reyhan yang kini berdiri tegap di hadapannya. Jarak di antara mereka kini tidak lagi terhalang oleh meja bar atau tembok semen; hanya tersisa satu langkah kecil.
"Nah, sekarang kita sudah di dalam. AC-nya sebelah mana yang mau kamu cek dulu, kurir pribadi?" goda Tante Maya dengan nada suara yang sengaja direndahkan, matanya berbinar penuh antisipasi.
Reyhan tersenyum licik, memajukan langkahnya hingga tubuh tinggi tegapnya mengunci pergerakan Tante Maya di depan pintu. Kedua tangannya terangkat, bertumpu pada daun pintu di sisi kiri dan kanan kepala Tante Maya, mengurung wanita matang itu dalam dominasinya. Aroma manis vanila dari tubuh Tante Maya kini bercampur dengan wangi maskulin kemeja Reyhan, memenuhi rongga dada mereka.
"Kayaknya gak ada yang rusak, Tante. Yang ada malah di sini mendadak makin panas," bisik Reyhan, suaranya berat dan serak, tepat berada di depan wajah Tante Maya.
Matanya yang tajam dan nakal perlahan turun, menelusuri leher jenjang Tante Maya, lalu tertuju pada tulang selangka dan belahan gaun satin rendahnya yang naik turun seiring deru napas wanita itu yang mulai memberat. Sisi berandalan Reyhan tahu persis bahwa di dalam rumah yang terkunci ini, kendali permainan sepenuhnya sudah berada di tangannya.
Tante Maya mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata tajam Reyhan. Napasnya yang mulai memburu terasa hangat di permukaan kulit leher Reyhan. Alih-alih merasa terintimidasi oleh dominasi remaja belasan tahun di hadapannya, wanita matang itu justru mengulurkan kedua tangannya, mendaratkannya di atas dada bidang Reyhan yang terbalut kemeja.
Jemari Tante Maya yang lentik bergerak perlahan, meraba tekstur kain kemeja Reyhan sebelum perlahan naik dan mengalungkan lengannya di sekeliling leher cowok itu. Tindakan itu otomatis mengikis sisa jarak yang ada, membuat tubuh mereka yang hanya terhalang selembar kain satin tipis dan kemeja katun saling menempel dengan rapat.
"Oh ya? Kalau makin panas, terus kurir pribadi Tante mau tanggung jawab gimana?" tantang Tante Maya dengan bisikan yang serak dan penuh godaan.
Mendapat lampu hijau yang begitu benderang di dalam rumah yang terkunci rapat, sisi berandalan Reyhan benar-benar terlepas. Tangan kanannya yang semula bertumpu pada daun pintu perlahan turun, bergerak ke arah pinggang Tante Maya. Kulit telapak tangannya yang hangat langsung merasakan kelembutan kain satin merah marun yang membungkus lekuk padat pinggul wanita dewasa tersebut.
Reyhan meremas pelan pinggang itu, menarik tubuh Tante Maya agar semakin merapat tanpa celah ke tubuhnya yang tegap. Sentuhan berani itu membuat Tante Maya melenguh halus, matanya setengah terpejam menikmati ketegasan gerak-gerik Reyhan yang sama sekali tidak ragu-ragu.
Reyhan memiringkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Tante Maya yang dihiasi anting kecil.
"Saya selalu tanggung jawab sama apa yang saya mulai, Tante," bisik Reyhan, suaranya berat, dalam, dan penuh percaya diri yang tinggi. Lalu dengan sekali gerakan dia membalik tubuh Tante Maya membelakanginya. Sambil menggigit kecil telinga perempuan itu, Reyhan juga menekan selangkangannya ke gundukan montok pantat tante Maya. Kontolnya yang sejak tadi sudah tegak maksimal dia gesekkan di belahan pantat yang ranum itu.
"Uhhhh.. " Tante Maya mendesah lirih diperlakukan seperti itu. "Kasar banget ih Mas Kurir.. Mmhhh.. "
Napas panas Reyhan menggelitik telinga Tante Maya saat anak berandalan itu berbisik. "Tante suka ya dikasarin?"
"Suka banget... Ahh!" Ucapan Tante Maya terputus karena Reyhan tiba-tiba menjambak rambutnya, membuat wajahnya mendongak ke arah wajah anak itu.
"Buka mulut lu, Tan." Perintah Reyhan dengan napas memburu, sementara batangnya terus menggesek pantat perempuan sintal itu.
Derap jantung Tante Maya bergemuruh cepat. Apa yang dilakukan Reyhan padanya adalah fantasi liarnya selama ini. Suaminya tak pernah peduli pada fetisnya. Sebagai wanita karir yang sukses dalam jabatan dan finansial, dia selalu dihormati siapapun dan dimanapun. Semua orang menundukkan kepala, semua orang berbicara dengan lembut dan sopan padanya. Tak sekali pun ada yang berani memotong ucapannya saat dia berbicara. Dan sekarang, seorang anak berandal dengan beraninya menghimpit tubuhnya dan menjambak rambutnya, dan dengan kurang ajar memerintah untuk membuka mulutnya. Belum apa-apa liang kewanitaannya sudah basah. Bibir Tante Maya merekah, tak hanya membuka mulut, dia juga menjulurkan lidahnya keluar.
Tante Maya tahu apa yang diinginkan anak muda ini. Jadi saat Reyhan meneteskan liur ke lidahnya, dia menyambutnya, bahkan mengejar sebelum ludah itu jatuh. Dengan nafsu menggelegak Reyhan melumat bibir seksi tetangganya itu.
"Slurppppp... Slurppppp.. Mmmhhhhh.. Ahhh.. Mas Kurir... Shhhh... Mmmpphhh... " Tubuh Tante Maya menggelinjang karena kedua payudaranya diremas dengan brutal.
Lidah kedua insan berbeda usia itu saling melilit, saling menghisap. Lelehan liur turun dari sudut bibir Tante Maya, membasahi pipi dan dagunya. Sementara tangan kiri Reyhan terus menjambak, tangan kanannya meremas buah dadanya sambil sekali memainkan putingnya.
"Uhhhh mas kurir ahhhh, ahhhh.. Ahhhh.. Mmmhhhhhh.. " Desahan Tante Maya mendayu saat Reyhan melepaskan bibirnya dan ganti menjilati leher dan menggigit bahunya.
Tak ingin terlalu lama menikmati pantat Tante Maya, Reyhan kembali membalik tubuh wanita itu. Dan bersamaan dia juga langsung merobek dress satin yang dikenakan Tante Maya, lalu langsung mencaplok buah dada kirinya. Tangan kanan Reyhan meremas bokong semok tetangganya itu dan tangan kiri mencekik pelan lehernya.
"Ahhhh.. Ahhhh.. Mmppphhh.. Ahhh.. " Tante Maya megap-megap diserang sedemikian rupa. "Ahhh.. Papah tolong.. Ahhhh.. Mama diperkosa mas kurir ahhhh... Ahhhhhhhh... "
Kedua buah dada Tante Maya habis diremas, dijilat, dan digigit Reyhan sambil tangan kanannya menggerayangi lubang pantat perempuan semok ini. Campuran keringat dan ludah membuat payudara Tante Maya tampak mengkilat.
Masih sambil menyedot susu menggantung itu, Reyhan dengan cekatan meloloskan baju dan celananya. Saat celana dalamnya terlepas, batangnya yang sedari tadi berontak langsung teracung dengan gagah. Tante Maya tercengang melihat kejantanan anak sekolah ini ternyata lebih berotot dibanding milik suaminya. Begitu juga panjangnya. Kewanitaannya langsung berdenyut membayangkan batang seperkasa itu sebentar lagi akan dipaksa masuk ke tubuhnya.
Dengan menjambak rambut Tante Maya, Reyhan menekan paksa kepala wanita itu turun. Wajahnya kini hanya sejengkal dari batang Reyhan yang berdiri maksimal. "Jilat basah, Tan." Perintah Reyhan sambil menekan bagian belakang kepala Tante Maya. "Jilat! Kenyot bijinya!"
Tante Maya melakukan yang diperintah dengan patuh. Dengan lidah penuh liur dia menjilati buah zakar anak berandal itu berulang-ulang. Dari atas ke bawah dan sebaliknya, lalu berputar-putar. Dia juga menjilat terus ke belakang hingga lubang pantat Reyhan. Anak berandalan itu merem melek keenakan. "Ahhhhhh! Nikmat banget jilatan lu, Tan! Ahhhhhhh... Ahhhh.. Iya di situ.. Ahhhh anjing!"
Walau belum puas tapi ada satu lagi yang harus diservice. Masih dengan menjambak rambut, Reyhan kali ini memasukkan kontolnya ke mulut Tante Maya. Batang itu hanya mampu masuk setengah. Lidah Tante Maya langsung menjilat dan melilit batang kejantanan anak itu. Tak puas, Reyhan menusuk kontolnya hingga kerongkongan Tante Maya membuat perempuan itu kelojotan. Dengan panik dia mendorong paha Reyhan tapi apalah daya seorang perempuan menghadapi laki-laki yang sedang birahi. Cukup dua detik saja Reyhan mencabut kembali kontolnya yang sekarang berlumuran ludah. Tante Maya nyaris muntah namun mampu dia tahan. Ludah kental mengalir dari mulut dan membasahi buah dadanya. Dia terbatuk-batuk di tengah napasnya yang memburu.
Reyhan tak membiarkan Tante Maya beristirahat, jemarinya masuk ke mulut dan memainkan lidahnya. Lalu perlahan dia kembali memasukkan kontol raksasanya ke mulut perempuan setengah baya itu. "Mulut lu aja enak, Tan. Apalagi memek lu.. Shhhhh... Ahhhh... " ucap Reyhan mendesah nikmat.
Dengan kedua tangan menahan kepala Tante Maya, kontol Reyhan menggempur mulutnya tanpa ampun. GROK! GROKK! GROKK! Dia melakukan itu selama lima menit penuh. Wajah putih Tante Maya hingga berubah merah. Saat akhirnya Reyhan berhenti, perempuan itu langsung jatuh bersandar di pintu, hampir kehabisan napas.
Jantung Tante Maya berderap kencang. Campuran lelah dan birahi. Dia tak menyangka Reyhan akan sekasar ini. Dia diperlakukan seperti perempuan murahan yang bisa dipake seenaknya, tapi anehnya dia suka. Tubuh Tante Maya melorot, tenaganya terkuras. Sementara Reyhan berdiri berkacak pinggang di depannya. Dadanya yang banjir keringat naik turun mengatur napas.
"Masa baru pemanasan udah lemes aja, Tan," goda Reyhan.
"Mas kurirnya buas banget. Tante sampe mau pingsan." jawab Tante Maya. Napasnya sudah mulai teratur.
Reyhan mengulurkan tangan membantu Tante Maya berdiri. "Kamar Tante sama si Om di mana?"
Alih-alih menjawab, Tante Maya menggandeng tangan Reyhan menuju kamarnya. Goyangan pantat Tante Maya yang semok, pinggang ramping, dan punggung yang basah oleh keringat makin membuat urat-urat di batang kejantanan Reyhan menggelembung.
PLAKK! Tak tahan, Reyhan menampar bokong Tante Maya yang menggoda. Perempuan itu memekik kaget lalu melirik manja. "Nakal.. "
Reyhan hanya cengengesan.
Begitu pintu kamar dibuka, atmosfer yang berbeda langsung menyergap indra penciuman Reyhan. Kamar Tante Maya memancarkan kemewahan yang intim dan dewasa. Ruangan itu dipenuhi wangi aromaterapi lavender dan sandalwood yang menenangkan namun sensual. Tirai jendela berbahan beludru abu-abu tebal ditutup rapat, menghalau sinar matahari sore dan menyisakan pencahayaan temaram dari sepasang lampu tidur berwarna kuning keemasan di sisi ranjang. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berukuran King Size dengan dipan kayu jati yang kokoh. Kasurnya dibalut oleh sprei dan bed cover berbahan sutra lembut berwarna abu-abu gelap yang tampak sangat rapi, kontras dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Tante Maya melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya menyentuh pinggiran kasur yang empuk. Ia mendudukkan dirinya perlahan di tepi ranjang, lekuk paha mulusnya yang terekspos di bawah pendar lampu temaram tampak sensual.
Reyhan berdiri di ambang pintu kamar. Ia menutup pintu kayu tersebut dengan sapuan tangan ke belakang hingga terdengar bunyi klik yang halus, lalu menguncinya dari dalam. Sebuah poto dengan pigura besar terpampang di dinding di atas kasur. Poto pernikahan Tante Maya dan suaminya. Reyhan tersenyum menatap poto itu.
"Kenapa senyumnya begitu mas kurir?" ucap Tante Maya pelan, hampir hampir seperti desahan.
Reyhan balik menatap Tante Maya. Setiap langkah kaki Reyhan di atas lantai parket kayu kamar itu terasa begitu tenang namun penuh dengan kepastian. Pandangannya tidak lepas dari Tante Maya, mengunci wanita matang itu dalam sorot mata berandalannya yang tajam dan intens.
Tante Maya tetap duduk di tepi ranjang, menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas sprei sutra abu-abu gelap. Kepalanya sedikit mendongak, memperhatikan bagaimana postur tubuh tinggi tegap Reyhan kian mengikis jarak di antara mereka. Senyuman tipis yang sarat akan antisipasi terukir di bibir merah meronanya, sementara deru napasnya mulai terlihat naik-turun dengan ritme yang lebih cepat.
Reyhan berhenti tepat di hadapan Tante Maya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga lutut Reyhan hampir bersentuhan dengan paha mulus Tante Maya. Aroma parfum vanila yang manis dan hangat dari tubuh wanita itu menguar kuat di bawah pendar lampu tidur yang temaram.
Tanpa memutuskan kontak mata, Reyhan perlahan menurunkan tubuhnya. Ia berlutut dengan satu kaki di atas lantai, membuat posisinya kini sejajar dengan Tante Maya yang duduk di tepi kasur. Gerakan yang sengaja dibuat lambat itu justru memberikan tekanan psikologis yang kuat, mempermainkan ritme ketegangan di dalam kamar yang sunyi tersebut.
"Tante... kelihatan lebih cantik kalau lampunya remang-remang begini," bisik Reyhan, suaranya berat dan serak, bergaung pelan di antara keheningan ruangan.
Tangan kanan Reyhan yang hangat bergerak naik, dengan berani mendarat di atas lutut Tante Maya. Jari-jarinya yang panjang perlahan mengusap kulit mulus itu, bergerak naik perlahan menyusuri paha Tante Maya.
Sentuhan langsung itu seketika membuat tubuh Tante Maya meremang. Ia refleks menarik napas dalam-dalam, jemarinya mencengkeram erat sprei sutra di bawahnya untuk menahan gejolak desir yang tiba-tiba menyergap. Binar matanya yang berwibawa kini sepenuhnya meredup, berganti dengan tatapan pasrah yang siap larut dalam kendali remaja berandal di hadapannya.
Permainan anak ini benar-benar tak sebanding dengan usianya, pikir Tante Maya. Dengan sangat perlahan dua tangan Reyhan membuka paha perempuan dewasa itu. Jantung Tante Maya berdegup kencang, menunggu apa yang akan berandal ini lakukan. Jantungnya makin tak karuan menyaksikan wajah Reyhan mendekat dan makin masuk selangkangannya. Dia dapat merasakan hembusan napas panas anak itu di bulu-bulu kemaluannya.
Tante Maya menggigit bibirnya, sebuah sensasi basah terasa di kewanitaannya, bagaikan efek kejut listrik yang menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Reyhan baru saja meneteskan liurnya di liang senggamanya. "Ahhhhh.. Ahhhhh... Mmhhhh... " Desahan syahdu terdengar lirih dari bibir Tante Maya, padahal Reyhan belum melakukan apa pun. Entah apa yang anak berandal itu lakukan di bawah sana, yang jelas Tante Maya makin tak tahan. Dia mengangkat tinggi selangkangannya berharap menyentuh wajah Reyhan, namun anak itu malah menjaga jarak, jelas-jelas menggodanya.
Diamnya anak itu membuatnya frustasi. Dia terus menggoyang selangkangannya naik turun. Di ujung batas penantiannya tiba-tiba saja bibir Reyhan yang basah mencaplok vaginanya. Nyamm! Tante Maya memekik. Tubuhnya bagai disetrum listrik saat lidah Reyhan menyapu bibir kewanitaannya. "Slurppppp! Slurppppp.. "
"Ahhhhh! Ahhhhhhh! Enakkkkkkkkk.... Ahhhhhhhhh... Teruss... "
Tangan Reyhan membuka paha Tante Maya semakin lebar agar dia makin leluasa mengexplorasi. Selesai membasahi liang kenikmatan perempuan itu, Reyhan ganti memanjakan yang lain. Dengan gemas dia gesekkan wajahnya di jembut Tante Maya sambil sesekali menjilati itilnya. Tante Maya bagai melayang ke surga.
"Ahhhh.. Mas kurir.. Shhhhhh.. Nikmatnyaaa.. Ahhhhhh... Ahhhhh.. " Tubuhnya menggelinjang. Kedua tangannya mencengkeram seprai. Sudah lama dia merindukan sensasi ini. Sesekali tubuhnya melenting saat Reyhan dengan nakal menggigit itilnya, atau saat anak itu menjilat basah paha bagian dalamnya. "Uhhhh.. Pinter banget sih kamu mas kurir.. Ahhhhh... Ahhhh.. "
"Suka ya Tan, dijilatin.. " tanya Reyhan sambil melirik poto pernikahan Tante Maya dan suaminya yang tergantung di dinding. Ada kepuasan tersendiri menatap perempuan dalam poto itu saat ini tengah ia nikmati.
"Mmmhhhh... Suka banget mas kurir sayang.. Ahhhh.. Ahhhh.. "
Reyhan bertekad supaya Tante Maya bakal ketagihan, dengan sengaja dia berlama-lama di bawah sana. Dengan jari dia membuka liang kenikmatan Tante Maya lalu lidahnya masuk dan menari di dalam sana, menjilati dindingnya, menyedot itilnya, mengigit, dan menumpahkan air liurnya hingga luber. Sementara telunjuknya bermain di lubang pantat wanita itu. Mengelus dan sesekali menusuk. Tante Maya bagai cacing kepanasan. Tubuhnya menggelinjang hebat sambil meremas susunya sendiri. "Ahhhh.. Ahhhh.. Trusss... Ahhhhh.. "
Reyhan tersenyum licik melihat Tante Maya. Jilatannya perlahan naik ke perut, lalu ke payudara kirinya. Sementara tangan kanannya gemas meremas payudara sebelahnya. Di bawah sana kontolnya dengan semangat menggesek belahan memek Tante Maya. "Istri orang emang selalu enak buat dikontolin.. Ahhhh.. Ahhhh.. " Erang Reyhan. "Mau dimasukin?"
"Mmmhhhh... Mauuu.. Masukin.. Ahhhh... " Tante Maya mendesah.
Tangan kanan Reyhan mengunci kedua tangan Tante Maya di atas kepalanya. Ketiaknya yang terbuka langsung jadi sasaran jilatan Reyhan. Lagi-lagi Tante Maya memekik campuran geli dan nikmat. Di saat itulah kontol Reyhan tanpa aba-aba langsung menusuk memeknya hingga mentok. BLESSSS!!
"Ahhhhhh! Ahhhhhhhhhh! Mass kurir.... Shhhhh... Ahhhhh... Oh Tuhan, enaknya... Ahhhhhhhhhh... Ahhhhhh.. "
Untuk sekian detik Reyhan membiarkan kontolnya diam di dalam sana. Remasan dinding vagina Tante Maya seakan mengurut batang kejantanannya. "Anjing! Memek lu enak banget, Tan... Ahhhhhh... "
Perlahan Reyhan menggerakkan kontolnya dengan gerakan memutar, mengaduk-aduk memek Tante Maya. Tubuh perempuan itu menegang, napasnya memburu. Gerakan itu semakin cepat dan cepat. Setelah mendapatkan momentum yang pas Reyhan merubah gerakan itu menjadi tusukan yang cepat dan brutal.
PLOK! PLOK! PLOK! PLOK!
Irama tusukan itu tak menurun selama dua menit. Tante Maya benar-benar kelojotan dibuatnya. Terlebih saat sambil menggenjotnya, tangan kiri Reyhan mencekik lehernya dan tangan kanannya sesekali menampar susunya. Gelombang kenikmatan berdenyut-denyut di bawah perutnya. Makin lama semakin cepat. Tante Maya tak mampu lagi bertahan, gelombang kenikmatan itu mencapai klimaksnya.
CROTTT! CROTT! CROTTT!!
Cairan kenikmatan menyembur deras saat Reyhan mencabut kontolnya. Tante Maya menjerit nikmat. "Ahhhhhh! Aku keluarrr!!! Ahhhhhhhhhhh!!"
CROTT! CROOOTTTTTT!!
Hari itu Tante Maya dibuat terkapar oleh anak berandalan itu. Entah berapa kali tubuhnya dibolak balik, entah berapa kali pula dia squirting, dia tak ingat lagi.
Napas Tante Maya masih menyisakan ritme yang memburu di tengah keheningan kamar utama yang temaram. Sprei sutra abu-abu gelap yang semula tertata rapi kini tampak berantakan di beberapa sudut, menjadi saksi bisu atas intensitas yang baru saja memenuhi ruangan.
Wanita matang itu berbaring menyamping, menyandarkan kepalanya di atas bantal beludru sambil menatap Reyhan yang kini duduk santai di tepi ranjang. Di bawah pendar lampu tidur yang keemasan, rona merah di pipi Tante Maya dan gurat kelelahan yang manis di wajahnya tidak bisa menyembunyikan satu hal: kepuasan yang mendalam.
Sebagai wanita dewasa yang terbiasa dengan rutinitas pernikahan yang mulai hambar, apa yang baru saja diberikan oleh Reyhan benar-benar berada di luar ekspektasinya. Remaja urakan itu tidak hanya memiliki stamina muda yang prima, tetapi juga kepercayaan diri dan dominasi yang kuat. Reyhan tahu persis kapan harus bergerak tegas dan kapan harus bermain dengan ritme yang lambat, membuat Tante Maya benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Kamu... bener-bener nakal ya, Rey," bisik Tante Maya, suaranya terdengar serak dan manja. Ia mengulurkan tangannya yang lemas, jemarinya bergerak pelan mengusap punggung tegap Reyhan yang masih menyisakan bulir keringat tipis.
Reyhan menoleh sedikit, lalu terkekeh pelan mendengar pujian itu. Sisi berandalannya merasa sangat puas melihat bagaimana seorang wanita dewasa yang biasanya tampil berwibawa dan penuh percaya diri di lingkungan komplek, kini berbaring pasrah dan tak berdaya di hadapannya.
"Kan tadi saya sudah bilang, Tante. Saya selalu tanggung jawab sama apa yang saya mulai," sahut Reyhan santai. Ia meraih kaus oblongnya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya kembali dengan gerakan yang acuh tak acuh namun tetap terlihat karismatik.
Tante Maya tersenyum tipis, merapatkan selimut sutra ke dadanya sambil terus memandangi setiap gerak-gerik remaja di depannya. Ada binar kekaguman sekaligus keterikatan baru di matanya. Permainan sore ini telah mengubah segalanya; bagi Tante Maya, Reyhan bukan lagi sekadar anak tetangga yang suka menggoda di balik tembok pembatas, melainkan sosok yang berhasil memberikan kepuasan nyata yang selama ini ia rindukan.
Di tengah keheningan kamar Tante Maya yang masih diselimuti aroma parfum vanila dan lavender, Reyhan duduk di tepi ranjang sambil mengancingkan kembali kemejanya. Kepuasan dari permainan yang baru saja usai seharusnya membuat pikirannya tenang, namun sebuah kilasan bayangan mendadak melintas di kepalanya, memotong semua rasa percaya diri yang sedang melambung.
Wajah Ummi Sarah tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Bayangan saat sang ustadzah tersentak kecil di sofa ruang tamu dua hari lalu, tatapan matanya yang teduh namun panik saat wajah mereka berdekatan, hingga rona merah samar di balik jilbab bergonya, mendadak terasa begitu nyata. Kontras yang luar biasa ini menghantam isi kepala Reyhan; di satu sisi ada Tante Maya yang begitu terbuka dan berani, namun di sisi lain ada Ummi Sarah yang begitu menjaga kesucian diri, penuh batasan, dan tampak mustahil untuk digapai.
Sisi berandalan Reyhan justru merasakan gejolak adrenalin yang berbeda saat bayangan Ummi Sarah melintas. Tantangan untuk meruntuhkan keteguhan seorang wanita yang begitu dihormati oleh masyarakat dan taat agama terasa jauh lebih memicu jiwa pemberontaknya ketimbang penaklukan yang mudah.
"Rey? Kok malah melamun?" suara serak Tante Maya memecah lamunan singkatnya. Wanita itu menatapnya heran dari balik selimut.
"Enggak apa-apa, Tante. Cuma mikirin tugas sekolah yang belum kelar," sahut Reyhan bohong, sambil menyunggingkan senyum tipis andalannya.
Ia bangkit berdiri, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, lalu berjalan keluar dari kamar tidur utama tersebut. Namun, di setiap langkahnya menuju pintu keluar rumah Tante Maya, pikiran Reyhan sudah tidak lagi berada di sana. Jemarinya merosot ke dalam saku celana, menyentuh permukaan ponselnya. Sisi nakalnya tahu, begitu ia sampai di rumahnya sendiri nanti, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah membuka kembali ruang obrolan WhatsApp dengan nama kontak "Ummi Sarah" dan menyusun kata-kata untuk kembali menguji pertahanan sang ustadzah.
4201Please respect copyright.PENANA9NFtVrXpiG
4201Please respect copyright.PENANAG8iryGPXMd
4201Please respect copyright.PENANAn5kfMZGUc9
4201Please respect copyright.PENANAeig3qnLqzk
4201Please respect copyright.PENANAxxJDzlukXF
4201Please respect copyright.PENANAAg6el63ndj
4201Please respect copyright.PENANADxjZ8YgQxQ
4201Please respect copyright.PENANA9eUueeTtJ6


