Sesampainya di kamarnya sendiri, Reyhan langsung melempar tas ranselnya ke lantai dan merebahkan tubuh di atas kasur. Sisa aroma parfum Tante Maya masih samar-samar tercium di kemejanya, namun fokus pikiran Reyhan sudah sepenuhnya beralih. Bayangan wajah teduh Ummi Sarah yang panik dua hari lalu justru semakin kuat mengusik sisi berandalannya.
Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel, dan langsung membuka aplikasi WhatsApp. Jari-jarinya menggulir layar mencari nama kontak "Ummi Sarah".
Reyhan terdiam sejenak, memutar otak untuk menyusun kalimat yang pas. Melakukan pendekatan kepada seorang ustadzah membutuhkan taktik yang sangat rapi. Kalimatnya tidak boleh terlalu agresif yang bisa memicu alarm kewaspadaan, namun harus cukup personal untuk menjaga agar perhatian Ummi Sarah tidak lepas darinya.
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, jemarinya mulai lincah mengetik di atas layar:
"Assalamu'alaikum, Ummi. Mohon maaf mengganggu waktunya malam-malam. Tadi sore di sekolah saya sempat mengobrol dengan Fikri tentang kelanjutan proposal kemarin, dan saya ingat masukan dari Ummi soal nota transportasi yang belum lengkap."
"Kebetulan besok sore sepulang sekolah saya luang, Ummi. Rencananya saya mau mampir lagi untuk mengantarkan nota revisinya sekalian memastikan tidak ada data yang salah lagi. Apakah besok sore Ummi ada di rumah? Terima kasih sebelumnya, Ummi."
Reyhan membaca ulang pesan tersebut. Sempurna. Pesan itu dibungkus dengan alasan tanggung jawab organisasi yang sangat sopan, namun intinya tetap sama: ia sedang meminta kesempatan untuk kembali bertamu ke rumah saat Fikri mungkin belum pulang.
Ia menekan tombol kirim. Indikator centang satu berubah menjadi centang dua.
Reyhan meletakkan ponselnya di atas dada, menatap langit-langit kamar dengan senyuman tipis yang licik. Ia tahu betul bahwa dengan mengirimkan pesan ini, ia kembali melemparkan umpan tarik-ulur yang akan membuat sang ustadzah terjebak dalam dilema antara tanggung jawab dan kegelisahan batinnya sendiri.
Sekitar sepuluh menit berlalu dalam keheningan kamar. Reyhan hampir mengira pesannya hanya akan dibaca tanpa dibalas, sampai akhirnya ponsel di atas dadanya bergetar dua kali.
Dzt... Dzt...
Sebuah balasan masuk dari Ummi Sarah. Reyhan segera mengangkat ponselnya ke depan wajah, membaca baris kalimat yang diketik dengan penuh kehati-hatian oleh sang ustadzah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Nak Reyhan. Alhamdulillah kalau revisinya sudah siap. Tapi besok sore kebetulan Ummi ada jadwal mengisi pengajian majelis taklim di luar komplek sampai menjelang magrib. Kalau mau mengantarkan berkas, titipkan saja ke Fikri di sekolah ya, Nak. Biar nanti Fikri yang bawa pulang ke rumah."
Reyhan membaca pesan itu sambil menaikkan satu alisnya. Sebuah senyuman geli muncul di sudut bibirnya.
"Ditolak halus," gumam Reyhan dalam hati.
Sisi berandalan Reyhan tahu persis apa yang sedang terjadi di seberang sana. Ummi Sarah sedang mencoba membangun benteng pertahanan. Wanita dewasa itu sadar akan bahaya laten yang mengintai jika mereka kembali berduaan di rumah, dan opsi "menitipkan lewat Fikri" adalah tameng terbaik yang bisa beliau gunakan untuk menjaga jarak.
Namun, menyerah begitu saja bukan gaya Reyhan. Justru penolakan halus seperti ini yang membuat darah mudanya semakin tertantang. Ia langsung mengetik balasan dengan ritme yang cepat, memainkan taktik psikologis andalannya untuk meruntuhkan keraguan Ummi Sarah.
"Oh begitu, baik Ummi. Maaf ya Ummi jadi merepotkan. Sebenarnya tadi Fikri yang minta saya langsung ketemu Ummi, karena besok sore Fikri ada jadwal latihan basket sampai malam untuk persiapan turnamen antar-sekolah, jadi dia takut berkasnya malah kotor atau hilang di tasnya."
"Tapi tidak apa-apa kalau Ummi sedang sibuk. Kalau boleh, bagaimana kalau saya antarkan setelah Ummi selesai pengajian saja? Kebetulan rumah saya searah dengan rute majelis taklim, jadi saya bisa sekalian jemput atau tunggu Ummi di sana supaya berkasnya bisa langsung selesai malam itu juga. Bagaimana, Ummi?"
Reyhan menekan tombol kirim dan melempar kembali ponselnya ke samping bantal. Kalimat yang ia susun benar-benar mengunci ruang gerak Ummi Sarah. Dengan membawa nama kesibukan Fikri dan menawarkan bantuan "menjemput" atau "menunggu" setelah pengajian, Reyhan mengubah situasi dari sekadar urusan administrasi biasa menjadi sebuah perhatian personal yang sangat berani.
Kini bola panas kembali berada di tangan Ummi Sarah, memaksa sang ustadzah untuk berpikir keras di dalam kamarnya yang sunyi, menghadapi kelicikan taktik remaja yang perlahan-lahan mulai memangkas jarak aman di antara mereka.
Di dalam kamar tidurnya, Ummi Sarah menatap layar ponsel yang menyala dengan perasaan yang campur aduk. Jantungnya berdegup lebih kencang saat membaca baris demi baris pesan balasan dari Reyhan. Penawaran untuk "menjemput" atau "menunggu" selepas pengajian terasa begitu lugas, berani, dan meruntuhkan batasan formal yang selama ini ia pertahankan.
"Astaghfirullah..." desis Ummi Sarah pelan.
Beliau berjalan gelisah di samping ranjang, meremas jemarinya sendiri. Alasannya menolak tadi sengaja dibuat demi menghindari situasi berduaan di rumah, namun kelicikan argumen Reyhan yang membawa nama Fikri dan menawarkan pertemuan di luar rumah justru membuatnya semakin tersudut. Jika ia menolak lagi dengan alasan yang dicari-cari, itu sama saja menunjukkan bahwa dirinya sengaja menghindar karena ketakutan—sebuah pengakuan tak tertulis bahwa ia terpengaruh oleh pesona remaja itu.
Namun, jika ia menerima tawaran tersebut, artinya ia membiarkan Reyhan melangkah satu tahap lebih dekat masuk ke dalam ruang pribadinya.
Setelah lima menit dalam kebimbangan yang menyiksa, dengan tangan yang sedikit bergetar, Ummi Sarah akhirnya mengetik balasan. Beliau memilih jalan tengah yang dirasa paling aman untuk menjaga wibawanya sebagai seorang ustadzah:
"Tidak perlu repot-repot menjemput, Nak Reyhan. Ummi pergi bersama ibu-ibu pengurus majelis taklim yang lain menggunakan mobil jempan. Tapi kalau berkas itu memang sangat mendesak untuk ditandatangani besok malam, silakan datang ke rumah setelah Isya saja. Jam segitu insya Allah Ummi sudah di rumah dan Fikri juga mungkin sudah pulang latihan."
Pesan dikirim. Ummi Sarah menarik napas dalam-dalam, berharap kehadiran Fikri setelah Isya bisa menjadi benteng penyelamat yang sesungguhnya.
Sementara itu, di seberang sana, ponsel Reyhan bergetar. Begitu membaca balasan tersebut, sebuah tawa renyah yang penuh kemenangan lolos dari bibir cowok urakan itu.
Reyhan tahu betul, jam pulang latihan basket Fikri selalu molor karena sesi evaluasi pelatih yang panjang. Ummi Sarah mengira ia telah mengamankan situasi dengan memilih waktu setelah Isya, padahal sebenarnya sang ustadzah baru saja membuka pintu rumahnya sendiri untuk masuk ke dalam jebakan waktu yang telah Reyhan perhitungkan matang-matang.
"Sampai ketemu besok malam, Ummi," bisik Reyhan licik sambil mengetik balasan singkat: "Baik, Ummi. Terima kasih banyak. Besok setelah Isya saya ke rumah."
Malam itu, setelah mengirimkan pesan terakhir, Ummi Sarah tidak bisa langsung memejamkan mata. Kamar tidurnya yang tenang justru terasa mencekam oleh badai pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Rasa khawatir yang teramat sangat mulai merayap, mencengkeram hatinya dengan begitu kuat.
Ada beberapa lapisan kekhawatiran yang membuat sang ustadzah begitu gelisah.
Sebagai seorang pemuka agama yang dihormati di komplek dan majelis taklim, nama baik adalah segalanya. Ummi Sarah sangat tahu betapa kejamnya lidah manusia jika melihat seorang remaja laki-laki bertamu ke rumah seorang janda di malam hari—terlepas dari alasan urusan OSIS. Pikiran tentang bagaimana jika ada tetangga yang melihat Reyhan datang, atau bagaimana jika Fikri ternyata pulang terlambat, membuat dadanya terasa sesak.
Kekhawatiran terbesar Ummi Sarah sebenarnya bersumber dari dalam dirinya sendiri. Beliau merasa sangat berdosa dan munafik. Di siang hari, beliau berdiri di depan mimbar menasihati para wanita untuk menjaga pandangan dan batasan dengan lawan jenis. Namun di malam hari, hatinya justru dibuat gundah gulana hanya karena pesan WhatsApp dari seorang anak remaja.
"Ya Allah, apakah ini ujian atas keimananku? Mengapa hati ini begitu lemah?" ratihnya dalam doa yang lirih.
Ummi Sarah bukanlah wanita naif. Sebagai orang dewasa, beliau bisa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dari cara Reyhan menatapnya dan bagaimana cara anak itu memanipulasi keadaan agar bisa menemuinya. Remaja itu terlalu berani, terlalu tenang, dan memiliki aura dominan yang membahayakan. Ummi Sarah khawatir dirinya tidak akan mampu mempertahankan ketegasannya jika kembali dihadapkan pada situasi yang intim seperti dua hari lalu.
Beliau bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekati jendela kamar yang menghadap ke halaman depan. Di bawah temaram lampu jalan, komplek perumahan itu tampak begitu sepi.
Ummi Sarah memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak merasa kedinginan. Jam dinding terus berdetak, perlahan tapi pasti membawa malam menuju hari esok. Dan di dalam benak sang ustadzah, bayangan hari esok setelah Isya terasa seperti sebuah tebing curam yang harus ia lalui dengan penuh risiko.
Keesokan harinya di sekolah, atmosfer di sekitar Reyhan terasa berbeda. Jika biasanya ia menghabiskan waktu istirahat dengan tertawa urakan di kantin bersama komplotannya atau sekadar merokok sembunyi-sembunyi di belakang lab, siang ini ia lebih banyak diam.
Reyhan duduk di sudut area smooking area warung belakang sekolah, menyandarkan punggungnya ke dinding kusam sambil memandangi asap rokok yang mengepul dari jemarinya. Matanya menyipit, fokus menatap layar ponsel yang menampilkan ruang obrolan terakhirnya dengan Ummi Sarah.
Isi kepalanya sedang berputar, berpikir keras menyusun strategi untuk nanti malam.
Reyhan tahu betul bahwa langkahnya nanti malam setelah Isya tidak akan semudah insiden hujan dua hari lalu. Ummi Sarah sudah memasang alarm kewaspadaan tinggi. Dari hasil analisisnya, ada dua hambatan utama yang harus ia taklukkan.
Ummi Sarah sengaja memilih waktu setelah Isya karena mengira Fikri sudah pulang. Reyhan langsung mengingat jadwal latihan basket sekolah. Biasanya, anak-anak basket baru bubar jam delapan malam, ditambah nongkrong dan perjalanan, Fikri paling cepat sampai rumah jam sembilan atau setengah sepuluh.
Siasat: Reyhan harus tiba tepat setelah Isya—sekitar jam setengah delapan. Ia punya waktu golden time sekitar 60 hingga 90 menit sebelum Fikri menampakkan batang hidungnya.
Nanti malam, Ummi Sarah pasti akan bersikap sangat formal, kaku, dan mungkin sengaja menjaga jarak duduk sejauh mungkin. Jika Reyhan langsung agresif seperti kepada Tante Maya, Ummi Sarah akan langsung ketakutan dan mengusirnya.
Jemari Reyhan mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu warung. Ia menarik napas dalam, memantapkan sebuah rencana yang sangat halus.
Nanti malam ia tidak boleh memakai pakaian berandalan. Ia memutuskan akan memakai kemeja koko polos berpotongan modern miliknya dan menyisir rapi rambutnya. Ia harus berpenampilan seperti "anak baik-baik yang bertanggung jawab" untuk menurunkan defensifitas sang ustadzah.
Begitu tiba, ia akan bersikap sangat sopan dan fokus pada berkas proposal. Ia akan membiarkan Ummi Sarah merasa "menang" dan aman di awal pertemuan.
Saat suasana sudah mulai cair dan aman, barulah ia akan melemparkan umpan kecil. Bukan sentuhan fisik, melainkan sebuah pertanyaan atau tatapan mata yang sengaja dibuat layu dan butuh bimbingan—memanfaatkan naluri keibuan dan jiwa penolong seorang ustadzah untuk menarik wanita itu mendekat secara sukarela.
"Rey! Woi, malah melamun! Rokok lu mau ngebakar jari tuh!" teriakan salah satu temannya membuyarkan lamunan Reyhan.
Reyhan tersentak kecil, mematikan puntung rokoknya yang sudah memendek ke dalam asbak. Sebuah senyuman licik kembali terukir di wajah tampannya. Rencana sudah matang di kepala. Sekarang, ia tinggal menunggu matahari terbenam dan membiarkan permainan malam ini berjalan sesuai ritme yang sudah ia rancang.
Gema takbir dari masjid komplek baru saja usai menandakan waktu Isya telah masuk. Di dalam kamarnya, Ummi Sarah sedang berdiri di depan cermin besar, merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit dingin akibat gelombang kecemasan yang tak kunjung surut sejak sore.
Malam ini, beliau bersiap dengan sangat matang—bukan bersiap untuk menyambut tamu dengan suka cita, melainkan bersiap memasang benteng pertahanan yang paling kokoh.
Ummi Sarah sengaja memilih gamis longgar berwarna hitam pekat berbahan kain wolfis tebal yang sama sekali tidak membentuk lekuk tubuh. Beliau memadukannya dengan khimar (jilbab besar) instan syar'i berwarna abu-abu tua yang menjuntai panjang hingga ke betisnya. Tidak ada bros hiasan, tidak ada sedikit pun polesan bedak atau wewangian di tubuhnya. Beliau ingin menampilkan sosok ustadzah yang paling formal, kaku, dan berjarak, demi mengintimidasi keberanian remaja berandalan itu.
Setelah menunaikan salat Isya dengan doa yang lebih panjang dari biasanya, Ummi Sarah melangkah ke ruang tamu. Beliau sengaja menyalakan semua lampu—mulai dari lampu utama yang terang benderang hingga lampu teras luar. Tidak boleh ada sudut remang-remang di rumah ini malam ini.
Beliau kemudian mengatur posisi duduk. Proposal OSIS diletakkan tepat di tengah-tengah meja kaca yang panjang. Ummi Sarah memilih duduk di kursi tunggal (kursi sudut), yang secara posisi terpisah jarak yang cukup jauh dan terhalang oleh meja dari sofa panjang—tempat yang kemungkinan besar akan ditempati oleh Reyhan nanti.
Sambil menunggu, jemari Ummi Sarah dengan cepat membuka ponselnya, memeriksa ruang obrolan dengan anak laki-lakinya.
"Fikri, ini sudah selesai Isya. Latihan basketnya sudah beres, Nak? Langsung pulang ya, jangan nongkrong dulu. Ini temanmu, Reyhan, mau mengantarkan berkas revisi ke rumah."
Status pesan tersebut masih bercentang dua abu-abu—menandakan ponsel Fikri mungkin sedang aktif namun belum dibaca karena sang anak masih berada di lapangan.
Melihat hal itu, dada Ummi Sarah kembali berdesir agak kencang. Beliau menaruh ponselnya di atas meja tepat di samping proposal, lalu melipat kedua tangannya di atas pangkuan, mencoba mengatur ritme napasnya yang mulai memburu.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu depan terdengar begitu tegas dan berirama di tengah kesunyian malam. Jantung Ummi Sarah rasanya seperti melompat kecil. Tamu yang ia cemaskan telah tiba tepat waktu. Dengan mengucap basmalah berkali-kali di dalam hati untuk menguatkan mentalnya, Ummi Sarah bangkit berdiri dan berjalan pelan menuju pintu utama.
Ummi Sarah menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya sebelum memutar kunci dan membuka pintu jati yang tebal itu perlahan.
Begitu daun pintu terbuka, sosok yang berdiri di ambang teras seketika membuat Ummi Sarah terpaku sejenak. Antisipasi mental yang sudah beliau bangun sejak siang seolah membentur dinding kosong. Di hadapannya, tidak ada Reyhan si berandalan urakan dengan kemeja lecek yang kancing atasnya terbuka, tidak ada aroma asap rokok yang pekat, dan tidak ada tatapan liar yang intimidatif.
Reyhan berdiri di sana dengan sangat rapi. Ia mengenakan kemeja koko modern berlengan panjang warna putih gading polos yang pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya yang biasa berantakan kini disisir rapi ke belakang dengan sedikit minyak rambut, mempertegas dahi dan alisnya yang tebal. Di tangan kanannya, ia memegang map dokumen dengan sikap yang sangat sopan.
"Assalamu'alaikum, Ummi," sapa Reyhan. Suaranya terdengar rendah, lembut, dan penuh takzim, lengkap dengan senyuman santun yang menghias wajah tampannya.
"Wa... wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Ummi Sarah, sedikit terbata karena terkejut dengan perubahan drastis ini. "Nak Reyhan. Silakan, masuk."
"Terima kasih, Ummi. Mohon maaf sekali lagi kalau kedatangan saya malam-malam begini mengganggu waktu istirahat Ummi," ucap Reyhan sambil melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk, tanda hormat yang sangat ideal bagi seorang anak muda di depan orang tua.
Siasat pertama Reyhan berhasil sempurna. Melihat penampilan dan tutur kata Reyhan yang begitu islami dan santun, alarm kewaspadaan di kepala Ummi Sarah otomatis mengendur beberapa tingkat. Rasa cemas yang membayangnya sejak sore perlahan digantikan oleh rasa sungkan.
Ummi Sarah mempersilakan Reyhan duduk di sofa panjang, sementara beliau sendiri mengambil posisi di kursi tunggal yang sudah ia siapkan—terpisah jarak meja kaca yang cukup lebar.
"Fikri belum pulang, Nak Reyhan. Tadi Ummi hubungi, katanya masih di sekolah," ucap Ummi Sarah, sengaja membuka obrolan dengan menyebut nama anaknya sebagai pengingat batasan di antara mereka.
"Oh, iya Ummi. Tadi pas saya jalan ke sini, anak-anak basket memang baru mulai sesi evaluasi dengan pelatih. Biasanya bisa sampai jam sembilan lewat," sahut Reyhan tenang. Ia meletakkan map dokumennya di atas meja dengan rapi, lalu menatap Ummi Sarah dengan binar mata yang sengaja dibuat polos dan penuh hormat. "Makanya saya langsung ke sini, Ummi. Takutnya kalau kemalaman, malah makin tidak sopan bertamu ke rumah Ummi."
Ummi Sarah mengangguk pelan, merasa alasan Reyhan sangat masuk akal. Beliau meraih map tersebut. "Baiklah, mana berkas revisinya? Biar Ummi periksa sekarang supaya kamu juga bisa cepat pulang untuk istirahat."
Reyhan mengangguk, namun alih-alih membiarkan Ummi Sarah membaca sendiri, ia sedikit memajukan tubuhnya ke tepi sofa, menopang sikunya di atas lutut.
"Itu di halaman tiga, Ummi. Bagian nota transportasi yang kemarin Ummi koreksi. Saya sudah perbaiki rinciannya, tapi sejujurnya... ada beberapa poin format yang saya masih agak kurang yakin apakah sudah sesuai dengan standar yang Ummi maksud atau belum. Kalau boleh, mohon arahannya ya, Ummi," ucap Reyhan dengan nada suara yang sengaja dibuat agak merendah, seolah ia adalah seorang murid yang benar-benar butuh bimbingan dan perlindungan dari sang guru.
Umpan kedua telah dilempar. Dengan memosisikan diri sebagai anak yang "butuh bimbingan", Reyhan secara halus memancing naluri keibuan dan jiwa pengajar Ummi Sarah untuk menurunkan jarak yang sudah wanita itu batasi dengan ketat.
Ummi Sarah membuka map tersebut dan mulai membaca lembaran halaman ketiga yang ditunjukkan oleh Reyhan. Fokusnya kini terbagi antara deretan angka di atas kertas dan kehadiran remaja pria di hadapannya. Ruang tamu yang terang benderang oleh pendar lampu putih menciptakan atmosfer yang sekilas terasa aman, namun bagi Ummi Sarah, keheningan malam ini justru membuat setiap suara kecil terdengar begitu jelas.
"Untuk bagian ini..." Ummi Sarah memulai penjelasannya dengan suara yang diusahakan se-formal mungkin. "Sebenarnya formatnya sudah jauh lebih rapi dari yang kemarin, Nak Reyhan. Hanya saja, penulisan nomor agendanya harus disesuaikan dengan kode surat keluar yang baku."
Beliau mendongak untuk menatap Reyhan, berniat memberikan instruksi lebih lanjut. Namun, begitu pandangan mereka bertemu, Ummi Sarah mendapati Reyhan tidak sedang memperhatikan kertas di atas meja. Remaja itu sedang menatapnya dengan lurus, sepasang matanya yang tajam tampak begitu teduh dan penuh perhatian di bawah sorotan lampu ruang tamu.
"Ah... iya, Ummi. Mohon maaf kalau masih ada yang keliru," sahut Reyhan lembut, suaranya terdengar rendah dan tenang. Ia sengaja tidak langsung merespons bahasan proposal, melainkan menjaga ritme tatapan mereka agar tetap terkunci. "Saya sengaja belajar pelan-pelan, karena saya tidak mau mengecewakan kepercayaan yang Ummi berikan ke anak-anak OSIS. Khususnya ke saya."
Kata-kata yang dibungkus rasa tanggung jawab itu entah mengapa terdengar begitu personal di telinga Ummi Sarah. Ada penekanan halus pada kalimat terakhirnya yang membuat dada sang ustadzah kembali berdesir samar.
Ummi Sarah refleks memundurkan sedikit posisi duduknya ke sandaran kursi tunggal, mencoba mengembalikan jarak aman yang mulai terasa mengikis. Ia meremas pinggiran map dokumen dengan jemarinya yang mulai terasa dingin. "Itu sudah menjadi tugas Ummi untuk membimbing kalian. Jadi, tidak perlu merasa terbebani seperti itu."
"Tapi bimbingan dari Ummi itu beda," balas Reyhan lagi, kali ini dengan sebuah senyuman tipis yang sangat santun namun menyimpan kilatan percaya diri di matanya. Ia menggeser posisi duduknya sedikit lebih maju ke tepi sofa, memperpendek jarak diagonal di antara kursi mereka tanpa terkesan agresif. "Format yang di sebelah sini, apakah penomorannya ditulis langsung di kolom utama, atau dibuat catatan kaki baru, Ummi?"
Reyhan mengulurkan tangan kanannya, menunjuk ke arah salah satu baris di dokumen tersebut. Posisi tangannya kini berada di tengah meja kaca, sangat dekat dengan tempat jemari Ummi Sarah bertumpu. Siasat halus Reyhan berjalan perlahan namun pasti; ia membiarkan profesionalitas tugas sekolah menjadi jembatan yang secara psikologis menarik perhatian sang ustadzah untuk terus condong ke arahnya, mengabaikan fakta bahwa jarum jam di dinding terus bergerak mendekati angka delapan malam, dan Fikri masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang.
Melihat jarum jam dinding di ruang tamu sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam, Reyhan tahu waktu golden time-nya sebelum Fikri pulang tidak banyak lagi. Ia harus menaikkan intensitas permainannya sekarang. Sisi berandalannya yang cerdik mulai bergerak lebih agresif, namun tetap dibungkus dengan kehalusan yang mematikan.
"Coba Ummi lihat sebelah sini, yang bagian catatan kaki ini saya masih agak bingung," ucap Reyhan.
Kali ini, Reyhan tidak lagi sekadar menunjuk dari seberang meja. Dengan gerakan yang sangat natural seolah-olah murni karena urusan tulisan yang terlalu kecil, Reyhan bangkit dari sofa panjang dan memutari meja kaca. Sebelum Ummi Sarah sempat bereaksi atau melarangnya, Reyhan sudah mengambil posisi duduk di lengan kursi tunggal yang diduduki sang ustadzah—atau lebih tepatnya, bertumpu tepat di samping posisi duduk Ummi Sarah.
Aksi berani itu seketika memangkas jarak di antara mereka menjadi nol. Aroma minyak rambut Reyhan yang maskulin dan segar langsung menyergap indra penciuman Ummi Sarah, mengusir dominasi udara dingin AC di ruangan itu.
"Nak Reyhan, kembali ke sofa..." kalimat Ummi Sarah tertahan di tenggorokan.
Suaranya tercekat. Tubuh sang ustadzah seketika menegang kaku di dalam balutan gamis wolfis hitamnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa bertalu-talu di dadanya. Beliau ingin bangkit, namun posisi tegap Reyhan yang condong di sampingnya secara psikologis mengunci ruang geraknya.
Reyhan tidak menyentuh fisik Ummi Sarah secara langsung, namun ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk ikut membaca dokumen di pangkuan wanita itu. Posisi ini membuat bahu tegap Reyhan hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari khimar abu-abu tua yang dikenakan Ummi Sarah.
"Yang ini, Ummi..." bisik Reyhan. Suaranya sengaja diturunkan menjadi sangat berat, dalam, dan serak, bergaung tepat di samping telinga Ummi Sarah yang tertutup kain jilbab.
Ummi Sarah bisa merasakan kehangatan embusan napas Reyhan di permukaan kulit lehernya yang sensitif. Sentuhan tidak langsung itu memberikan efek kejut yang luar biasa; seluruh tubuh Ummi Sarah meremang hebat. Jemarinya yang memegang map dokumen bergetar samar, membuat lembaran kertas di tangannya bergemerisik pelan.
"Kalau format penulisan yang ini salah, nanti seluruh proposalnya bisa ditolak sama pembina ya, Ummi?" tanya Reyhan lagi.
Ia perlahan memalingkan wajahnya ke samping, membuat jarak wajah mereka kini begitu dekat. Mata tajam dan nakal milik Reyhan menatap langsung ke arah samping wajah Ummi Sarah, memperhatikan bagaimana rona merah padam mulai menjalar di pipi sang ustadzah dan bagaimana deru napas wanita berwibawa itu kini menjadi sangat pendek dan memburu.
Reyhan mengunci pandangannya pada bibir Ummi Sarah yang tampak sedikit kelu. Sisi liar di dalam diri Reyhan tersenyum puas; benteng pertahanan kokoh yang dibangun sang ustadzah sejak sore tadi kini mulai retak dan runtuh di bawah intensitas tekanannya yang kian memuncak.
Tepat saat ketegangan di antara mereka mencapai puncaknya—di mana Ummi Sarah sudah memejamkan mata dengan napas yang memburu pasrah—Reyhan justru menarik tubuhnya kembali.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan halus, ia berdiri dari lengan kursi tunggal tersebut. Langkahnya mundur dua tindak, mengembalikan jarak beberapa meter yang aman di antara mereka. Sisi berandalan Reyhan sangat paham taktik psikologis: jika ia terus menekan, Ummi Sarah akan panik dan ingatan akan dosa akan langsung memicu mekanisme pertahanan alaminya untuk mengusir Reyhan. Namun dengan mundur tiba-tiba, ia meninggalkan rasa hampa dan kebingungan di benak wanita dewasa tersebut.
Reyhan kembali duduk di sofa panjang seberang meja, menyandarkan punggungnya dengan santai seolah tindakan beraninya beberapa detik lalu hanyalah ketidaksengajaan yang murni karena urusan berkas.
"Ah, sepertinya kalau lewat catatan kaki memang terlalu rumit ya, Ummi? Lebih baik saya ikuti saran awal Ummi saja, ditulis langsung di kolom utama," ucap Reyhan dengan nada suara yang mendadak kembali normal, sopan, dan penuh takzim. Wajahnya kembali menampilkan binar murid yang penurut.
Ummi Sarah perlahan membuka matanya. Sentakan mendadak dari hilangnya kedekatan intim tadi membuat hatinya terasa kosong seketika. Beliau menatap Reyhan yang kini duduk rapi di seberangnya dengan perasaan campur aduk—antara lega yang luar biasa karena kehormatannya terjaga, namun juga ada rasa sesak yang aneh karena ritme jantungnya telanjur dipacu begitu tinggi.
Beliau membetulkan posisi duduknya yang sempat kaku, jemarinya merapikan ujung khimar abu-abu tuanya dengan canggung. Rona merah di pipinya masih tersisa, dan deru napasnya butuh beberapa saat untuk kembali stabil.
"I-iya, Nak Reyhan. Di kolom utama saja... itu jauh lebih aman dan ringkas," sahut Ummi Sarah, suaranya masih sedikit bergetar dan kehilangan wibawa tenangnya yang biasa.
Reyhan tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Taktik tarik-ulur ini sukses besar. Dengan memberikan jarak kembali, ia tidak hanya menurunkan kecurigaan Ummi Sarah yang mungkin mengira dirinya hanya "terlalu dekat tanpa sengaja", tetapi juga menanamkan benih kegelisahan yang jauh lebih dalam di pikiran sang ustadzah untuk malam-malam berikutnya
3896Please respect copyright.PENANAtCADIGhVm4
3896Please respect copyright.PENANAK9224nwQRF


