Meskipun strategi melalui grup koordinasi OSIS sempat terlintas di kepalanya, pada akhirnya jalur yang jauh lebih mulus justru terbuka lebar berkat kepolosan Fikri sendiri. Sebagai ketua panitia yang sering keteteran mengurus administrasi, Fikri adalah bidak paling sempurna yang bisa dimanfaatkan Reyhan tanpa perlu memancing kecurigaan sedikit pun. Berkat anak polos itu Reyhan mendapatkan kontak whatsapp ibunya yang montok.
Siang itu, suasana ruang OSIS terasa cukup gerah. Fikri duduk di depan komputer sambil mengacak rambutnya frustrasi, dikelilingi oleh tumpukan kertas kuitansi dan nota yang berantakan. Di seberangnya, Reyhan duduk dengan santai, satu kakinya diangkat ke atas lutut, sambil memutar-mutar sebuah pulpen di jemarinya.
"Duh, pusing gua, Han. Ini data kontak supplier sembako dari pasar induk yang direkomendasiin Ummi kemarin belum dikirim ke HP gua," keluh Fikri sambil bersandar lemas pada kursi kerjanya. "Gua mau nanya langsung ke Ummi, tapi baterai HP gua bener-bener drop total, mati dari sejam yang lalu. Mana casan gua ketinggalan di rumah lagi."
Mendengar keluhan itu, insting nakal Reyhan langsung menangkap sebuah peluang emas. Sisi berandalannya yang cerdik segera menyusun kalimat taktis.
"Ya udah, pakai HP gua aja dulu kalau mau telepon atau nge-WA Ummi lo," sahut Reyhan dengan nada suara yang sengaja dibuat datar dan sewajar mungkin, seolah-olah ia hanya sekadar menawarkan bantuan antar teman. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya ke arah Fikri setelah membuka kunci layarnya.
Fikri menatap Reyhan dengan mata berbinar lega. "Wah, penyelamat lo, Han! Sini, gua ketik nomor Ummi gua dulu, gua gak hafal soalnya. Tapi gua inget urutan angkanya di buku catatan gua."
Fikri mengambil ponsel Reyhan, lalu dengan cepat mengetikkan sebelas digit angka di menu panggilan. Remaja berkacamata itu kemudian menekan tombol simpan dan mengetikkan nama kontak tersebut: "Ummi Sarah".
"Nih, Han, udah gua save di HP lo. Gua kirim pesan lewat WA lo ya, numpang kuota bentar buat minta sharecontact atau foto kartu nama supplier-nya," kata Fikri sambil jemarinya dengan lincah mengetik pesan singkat di aplikasi WhatsApp milik Reyhan.
"Ummi, ini Fikri pakai WA-nya Reyhan. HP Fikri mati total. Mau minta nomor kontak supplier beras pasar induk yang kemarin Ummi bilang dong, Mi. Mau dicatat buat anggaran."
Tidak butuh waktu lama, ponsel di tangan Fikri bergetar. Sebuah balasan masuk dari Ummi Sarah, lengkap dengan kiriman kontak yang diminta.
"Wa'alaikumussalam. Iya ini Fikri, nomornya Ummi kirim ya. Langsung dicatat, jangan lupa nanti HP-nya di-cas kalau sudah sampai rumah," balas Ummi Sarah dengan ketikan yang rapi dan penuh perhatian keibuan.
"Sip, udah dikirim sama Ummi! Makasih banyak ya, Han. Ini HP lo," ucap Fikri sambil mengembalikan ponsel tersebut kepada Reyhan dengan wajah tanpa beban, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kunci akses pribadi ibunya kepada cowok paling bermasalah di sekolah.
Reyhan menerima kembali ponselnya. Ia menatap layar yang masih menampilkan ruang obrolan dengan nama kontak "Ummi Sarah" di bagian atas. Sebuah senyuman kepuasan yang tipis dan licik terukir di sudut bibirnya. Berkat kepolosan Fikri, nomor pribadi sang ustadzah kini sudah resmi bersarang di dalam daftar kontaknya, siap menjadi senjata baru bagi Reyhan untuk melancarkan aksi-aksi nakal berikutnya.
Siasat Reyhan untuk mendekati Ummi Sarah berlanjut ke tahap yang jauh lebih berani. Bermodalkan nomor WhatsApp yang berhasil ia dapatkan berkat kepolosan Fikri, Reyhan mulai menyusun rencana untuk menciptakan situasi di mana ia bisa berduaan lagi dengan sang ustadzah tanpa gangguan dari siapa pun.
Suatu sore, Reyhan sengaja menunggu momen di mana Fikri sedang menghadiri rapat evaluasi OSIS tingkat wilayah di sekolah lain—sebuah agenda yang ia tahu pasti akan menyita waktu Fikri hingga larut malam. Setelah memastikan situasi aman, Reyhan mengirimkan sebuah pesan singkat namun manipulatif ke nomor pribadi Ummi Sarah.
"Assalamu'alaikum, Ummi. Mohon maaf mengganggu. Ini Reyhan. Saya sedang di jalan arah rumah Ummi mau mengantarkan sisa berkas LPJ sembako yang dititipkan Fikri tadi siang. Kata Fikri harus ditandatangani Ummi sore ini juga karena besok mau diserahkan ke pihak sekolah. Fikri bilang dia gak keburu pulang karena rapatnya molor sampai malam. Saya boleh langsung mampir ke rumah, Ummi?"
Pesan tersebut dirancang sesempurna mungkin agar membawa nama Fikri dan kepentingan organisasi, membuat Ummi Sarah tidak memiliki alasan untuk menolak tugas administrasi yang mendesak itu. Tidak butuh waktu lama, sebuah balasan masuk.
"Wa'alaikumussalam, Nak Reyhan. Oh begitu, ya sudah silakan ke rumah saja. Ummi kebetulan sedang luang di rumah," balas Ummi Sarah.
Reyhan tersenyum puas. Ia segera memacu motor matic-nya menuju komplek perumahan Fikri. Sore itu langit tampak mendung tebal, mendukung suasana sepi yang memang ia harapkan.
Sesampainya di sana, Ummi Sarah menyambutnya dengan ramah seperti biasa, masih dengan gamis panjangnya yang anggun. Beliau mempersilakan Reyhan masuk ke ruang tamu dan langsung menyodorkan pulpen untuk memeriksa berkas yang dibawa.
Di sinilah jebakan psikologis Reyhan dimulai. Berkas yang ia bawa sebenarnya sengaja dibuat memiliki banyak kesalahan ketik dan kekurangan data pada bagian lampiran nota yang sengaja ia sembunyikan di lembar paling belakang.
"Ummi, sepertinya ada nota pembelian yang terselip di lembar belakang, coba tolong diperiksa dulu apakah angkanya sudah cocok dengan pengeluaran majelis taklim kemarin," ucap Reyhan dengan nada suara rendah yang tenang, sambil menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat di sofa beludru tersebut.
Saat Ummi Sarah mulai fokus membalik lembar demi lembar kertas dengan kening berkerut, perhatian beliau sepenuhnya teralihkan oleh kerumitan angka-angka palsu yang dibuat Reyhan. Di saat yang sama, hujan deras tiba-tiba turun mengguyur komplek, menciptakan suara gemuruh di atap yang meredam atmosfer di dalam rumah, sekaligus mengunci mereka berdua dalam situasi yang kian terisolasi dari dunia luar.
Suara hujan yang deras di luar seolah menciptakan dinding pembatas yang memisahkan ruang tamu itu dari dunia luar. Di dalam ruangan, atmosfer mendadak terasa lebih padat. Aroma minyak kesturi yang menenangkan dari tubuh Ummi Sarah kembali berpadu dengan udara dingin yang perlahan merayap masuk.
Ummi Sarah masih tampak serius meneliti lembar demi lembar nota di bagian belakang proposal. Keningnya berkerut, dan jemarinya yang halus sesekali membolak-balik kertas, mencoba mencocokkan angka-angka yang sebenarnya telah dimanipulasi oleh Reyhan. Tanpa dia sadari tatapan mesum Reyhan tengah menelusuri setiap inchi wajahnya. Reyhan menelan ludahnya sendiri melihat dari dekat wajah yang bening, hidung yang bangir, dada yang penuh milik ibu temannya itu.
"Nak Reyhan, ini bagian nota transportasinya kok tidak ada cap resminya, ya? Lalu angka di sini sepertinya berbeda dengan yang dilaporkan Fikri kemarin," ucap Ummi Sarah tanpa menoleh, suaranya terdengar lembut namun tetap menyiratkan ketelitian seorang ustadzah yang terbiasa mengurus administrasi.
Reyhan tidak langsung menjawab. Sisi berandalannya melihat ini sebagai momen yang paling tepat. Bukannya menjauh atau memberikan penjelasan dari jarak aman, Reyhan justru sengaja memajukan tubuhnya. Ia bergeser beberapa sentimeter di atas sofa beludru itu, memangkas jarak di antara mereka hingga lengan kemejanya kini hampir bersentuhan dengan kain gamis longgar Ummi Sarah.
"Yang mana, Ummi? Coba saya lihat," bisik Reyhan. Nada suaranya sengaja direndahkan, terdengar berat dan sangat dekat di telinga Ummi Sarah.
Reyhan mengulurkan tangan kanannya, berpura-pura menunjuk baris angka di atas kertas yang sedang dipegang oleh Ummi Sarah. Namun, gerakan tangan itu sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga punggung tangannya menyentuh pelan sisi lengan Ummi Sarah.
Sentuhan halus itu seketika membuat gerakan tangan Ummi Sarah yang sedang memegang kertas terhenti. Wanita dewasa itu tersentak kecil. Kesadarannya yang semula terfokus penuh pada angka-angka anggaran langsung ditarik kembali ke realitas bahwa jarak di antara mereka sudah terlampau dekat—bahkan lebih dekat daripada pertemuan mereka yang pertama.
Ummi Sarah menolehkan wajahnya sedikit untuk menatap Reyhan, berniat untuk mengingatkannya agar menjaga jarak. Namun, karena posisi tubuh Reyhan yang sudah condong ke depan, gerakan menoleh itu justru membuat wajah mereka kini berhadapan dalam jarak yang sangat intim.
Mata teduh Ummi Sarah langsung terkunci oleh tatapan berani dan tajam dari manik mata Reyhan. Di bawah temaram lampu ruang tamu dan suara riuh hujan di luar, keheningan mendalam kembali menguasai mereka berdua, menguji keteguhan pertahanan sang ustadzah di hadapan siasat remaja yang penuh keberanian ini.
Ummi Sarah terpaku. Napasnya tertahan selama beberapa detik saat menyadari seberapa dekat jarak wajah mereka. Ada riak kepanikan yang sangat jelas di binar matanya yang biasanya teduh, bercampur dengan kebingungan menghadapi situasi yang sama sekali tidak ia duga akan terulang kembali.
Reyhan tahu betul, jika ia terus maju saat ini, Ummi Sarah pasti akan langsung membentengi diri dengan ketegasan seorang pemuka agama. Siasat terbaiknya adalah taktik andalannya: tarik ulur. Ia harus memberi ruang agar sang ustadzah merasa aman, sekaligus meninggalkan rasa penasaran dan desir aneh yang membekas.
Sebelum Ummi Sarah sempat membuka mulut untuk menegurnya, Reyhan dengan sangat tenang menarik kembali tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat kedua tangannya di dada, dan memasang wajah polos tanpa dosa—seolah-olah kedekatan mereka tadi hanyalah sebuah ketidaksengajaan murni karena urusan dokumen.
"Oh, iya ya, Ummi. Sepertinya saya salah menyelipkan nota yang itu. Harusnya yang ada cap resminya ada di tas saya," ucap Reyhan dengan nada suara yang kembali santai dan biasa, memecah ketegangan intens yang baru saja menyelimuti ruangan.
Ummi Sarah seperti baru saja ditarik kembali ke permukaan setelah tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Beliau buru-buru memundurkan posisi duduknya hingga merapat ke ujung sofa, menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali detak jantungnya yang berantakan. Jari-jarinya yang sedikit bergetar tampak merapikan ujung jilbab bergo abu-abunya dengan canggung.
"I-iya... kalau begitu, sebaiknya dicari lagi nanti bersama Fikri," ujar Ummi Sarah, suaranya agak tersendat di awal sebelum kembali dipaksakan tegas. Beliau meletakkan bundelan berkas itu di atas meja kaca dengan gerakan yang agak tergesa-gesa, tidak berani lagi menatap langsung ke arah mata Reyhan.
Melihat reaksi tersebut, Reyhan hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya. Sisi nakalnya sangat puas melihat bagaimana seorang wanita dewasa yang begitu dihormati bisa dibuat salah tingkah hanya dengan permainan ritme duduk dan tatapan mata.
"Ya sudah kalau begitu, Ummi. Karena hujannya juga sudah mulai reda dan berkasnya harus saya rapikan lagi, saya pamit pulang dulu saja. Biar nanti sisanya saya koordinasikan langsung lewat WA sama Fikri," kata Reyhan sambil bangkit berdiri dan menyampirkan tas ranselnya di satu bahu.
Ummi Sarah ikut bangkit berdiri, mengangguk pelan dengan sikap yang berusaha kembali formal, meski rona merah samar di pipinya masih belum sepenuhnya hilang. "Iya, Nak Reyhan. Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mengantarkan berkasnya."
Reyhan berjalan menuju pintu keluar, namun tepat sebelum melangkah melewati ambang pintu, ia berbalik sebentar. Ia melemparkan sebuah tatapan hangat yang sengaja dibuat sedikit lebih lama, dibarengi dengan senyuman tipis penuh arti yang seolah mengirimkan pesan rahasia bahwa obrolan mereka sore ini belum benar-benar selesai. Dan dengan sengaja dia memastikan Ummi Sarah sadar tatapannya bermain di sekitar wajah dan dada ustadzah itu. Setelahnya, ia memacu motornya membelah sisa hujan, meninggalkan Ummi Sarah sendirian di ruang tamu yang kini mendadak terasa sangat sepi.
Selepas kepergian Reyhan, suasana rumah kembali sunyi, hanya menyisakan suara sisa-sisa rintik hujan yang membasahi halaman. Namun, ketenangan di dalam dada Ummi Sarah sama sekali tidak bisa kembali seperti semula.
Beliau berjalan pelan menuju sofa, lalu terduduk lemas di atas beludru tempat mereka berdua baru saja berada. Pandangannya kosong menatap bundelan kertas proposal di atas meja kaca. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan kain gamis di lengan kanannya—tempat di mana punggung tangan Reyhan sempat mendarat dengan begitu tenang namun berani.
Pikiran Ummi Sarah benar-benar dilanda kebingungan yang luar biasa. Sebagai seorang wanita yang dihormati dan ustadzah yang setiap hari mengajarkan tentang batasan dan kesucian diri, beliau merasa sangat bersalah atas apa yang baru saja terjadi. Ada perasaan berdosa yang mendalam karena membiarkan seorang remaja, teman dari anaknya sendiri, berada dalam jarak yang terlampau intim hingga menggoyahkan keteguhannya.
"Astaghfirullahal'adzim... Apa yang sebenarnya terjadi denganku?" bisik Ummi Sarah dalam hati, suaranya bergetar saat jemarinya beralih memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening.
Beliau mencoba merasionalkan keadaan. Berulang kali beliau meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukan Reyhan hanyalah ketidaksengajaan seorang anak muda yang ceroboh saat memeriksa dokumen. Namun, nurani kecilnya tidak bisa berbohong. Tatapan mata tajam Reyhan yang mengunci manik matanya, serta senyuman tipis di ambang pintu tadi, bukanlah gestur dari seorang anak yang polos. Itu adalah tatapan seorang laki-laki yang sadar penuh akan apa yang sedang dilakukannya.
Yang membuat Ummi Sarah semakin bingung dan ketakutan adalah reaksinya sendiri. Mengapa saat jarak itu terkikis, beliau tidak langsung berdiri dan menegurnya dengan tegas? Mengapa ada beberapa detik di mana tubuhnya seolah terkunci, membiarkan desir aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merayap di dalam dada?
Di tengah pergulatan batinnya, pandangan Ummi Sarah beralih ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layar ponsel itu menampilkan ruang obrolan WhatsApp dengan nama "Reyhan" yang baru saja tersimpan beberapa waktu lalu berkat Fikri. Kontak yang semula tersimpan murni untuk urusan koordinasi logistik pesantren kini mendadak terasa seperti sebuah beban misterius yang siap bergetar kapan saja.
Ummi Sarah menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir segala pikiran yang berkecamuk dan beristighfar berkali-kali. Namun, jauh di lubuk hatinya, ketakutan baru mulai muncul: beliau tahu, ujian terberatnya kini bukan lagi menghadapi ratusan jamaah di majelis taklim, melainkan bagaimana menjaga benteng hatinya sendiri saat remaja berandalan itu kembali datang berkunjung.
Malam kian larut, namun kegelisahan Ummi Sarah justru makin menjadi. Setelah menunaikan salat Isya dan membaca Al-Qur'an untuk menenangkan hati, beliau duduk di tepi ranjangnya. Di dalam rumah yang sepi karena Fikri belum juga pulang dari rapat OSIS, keheningan malam justru membuat ingatan tentang sore tadi berputar lebih jernih di kepalanya.
Dzt... Dzt...
Ponsel yang diletakkan di atas nakas bergetar pelan. Suara getaran yang samar itu terasa begitu mengejutkan di tengah kesunyian kamar. Dengan jantung yang mendadak berdegup lebih kencang, Ummi Sarah meraih ponselnya. Layar menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan WhatsApp baru.
Dari Reyhan.
Dengan tangan yang sedikit ragu, Ummi Sarah membuka kunci layar dan membaca pesan tersebut.
"Assalamu'alaikum, Ummi. Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya malam-malam. Saya cuma mau mengabari kalau saya sudah sampai di rumah dengan aman. Terima kasih banyak untuk waktunya sore tadi, Ummi. Maaf kalau tadi saya sempat kurang sopan atau membuat Ummi tidak nyaman waktu memeriksa berkas. Saya benar-benar tidak sengaja karena buru-buru. Selamat istirahat, Ummi."
Ummi Sarah menatap layar ponsel itu lama sekali. Kalimat yang dikirimkan Reyhan terdengar begitu santun, penuh tata krama, dan berisi permohonan maaf yang sangat tulus. Pesan itu seolah memvalidasi pemikiran rasionalnya bahwa semua yang terjadi sore tadi memang murni ketidaksengajaan.
Namun, di sinilah letak kelihaian taktik tarik ulur Reyhan. Dengan mengirimkan pesan seolah-olah dia yang merasa bersalah, Reyhan justru berhasil "mengikat" pikiran Ummi Sarah agar terus memikirkannya.
Ummi Sarah menghela napas lega, namun ada rasa canggung yang mendalam. Beliau merasa tidak enak hati jika tidak membalas pesan santun dari teman anaknya tersebut. Jari-jarinya yang lentik mulai mengetik balasan di atas layar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Nak Reyhan. Alhamdulillah kalau sudah sampai rumah dengan selamat. Tidak apa-apa, Ummi paham tadi situasinya memang sedang terburu-buru karena urusan laporan. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tetap semangat bantu Fikri urus OSIS ya."
Setelah menekan tombol kirim, Ummi Sarah langsung membalikkan ponselnya di atas kasur, seolah takut melihat apakah akan ada balasan instan lagi. Beliau menarik selimut hingga sebatas dada, mencoba memejamkan mata.
Sementara itu, di kamar sebelah rumah Tante Maya yang berjarak beberapa kilometer dari sana, Reyhan sedang berbaring santai di ranjangnya sambil mengembuskan asap rokok terakhirnya ke arah langit-langit. Begitu melihat balasan dari Ummi Sarah di layar ponselnya, sebuah senyuman penuh kemenangan terukir di wajah urakannya.
Siasatnya berhasil sempurna. Ummi Sarah tidak hanya memikirkan kejadian sore tadi, tetapi kini hubungan komunikasi mereka sudah bergeser dari sekadar urusan formal OSIS menjadi sebuah obrolan pribadi malam hari. Sisi berandalan Reyhan tahu, umpan pertamanya telah ditelan dengan baik, dan benteng pertahanan sang ustadzah perlahan tapi pasti mulai memiliki celah.
Apabila Ummi Sarah adalah sebuah benteng tinggi yang harus didekati dengan siasat halus dan kesabaran ekstra, maka Tante Maya adalah wilayah tanpa hukum tempat Reyhan bisa melepaskan insting berandalannya secara ugal-ugalan. Wanita matang itu menyukai permainan yang berani, dan Reyhan tahu persis cara melayaninya.
Dua hari setelah insiden "botol dingin" di tembok pembatas, sebuah kesempatan emas kembali datang. Sore itu, sekitar jam empat, Reyhan baru saja turun dari motornya di halaman rumah. Ia melihat mobil SUV putih milik suami Tante Maya tidak ada di garasi—sebuah pertanda mutlak bahwa pria itu sedang dinas luar kota lagi.
Saat Reyhan hendak melangkah masuk ke rumahnya, pintu utama rumah sebelah terbuka. Tante Maya keluar ke teras, mengenakan dress rumahan berbahan satin tipis warna merah marun yang panjangnya hanya sebatas paha. Potongan kerah low-cut di bagian dadanya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang anggun saat ia hendak mengambil paket di pagar depan.
Melihat targetnya, Reyhan urung masuk ke rumah. Ia bersandar di tiang kanopi terasnya, melipat tangan di dada, dan memandangi Tante Maya dari atas sampai bawah dengan tatapan lapar yang sama sekali tidak disembunyikan.
"Paket terus, Tante. Gak mau pesan kurir pribadi aja biar bisa diantar langsung sampai kamar?" seru Reyhan, memecah sepi sore itu dengan nada suara rendah yang serak khas cowok perokok.
Tante Maya yang sedang membawa kotak paket kecil menoleh. Begitu melihat gaya urakan Reyhan yang sedang menatapnya intens, senyum sensual langsung mengembang di bibirnya. Bukannya masuk, ia justru melangkah anggun mendekati tembok pembatas setinggi pinggang mereka.
"Kurir pribadi? Emangnya ada kurir yang mau dibayar pakai senyuman aja, Rey?" goda Tante Maya, menaruh paketnya di atas tembok lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Reyhan dengan binar mata yang menantang.
Reyhan terkekeh pelan. Ia melepas sandarannya pada tiang teras, berjalan santai mendekat hingga kini mereka hanya dibatasi oleh tembok semen tipis tersebut. Jarak yang dekat membuat aroma parfum vanila Tante Maya yang manis berbaur dengan kehangatan kulitnya langsung menyergap indra penciuman Reyhan.
"Kalau kurirnya saya, bayarnya jangan pakai senyuman dong, Tante. Kurang adil," sahut Reyhan berani. Tangan kanannya bergerak naik, memegang permukaan tembok pembatas, tepat hanya beberapa sentimeter dari jemari Tante Maya.
"Oh ya? Terus maunya dibayar pakai apa, hmm?" bisik Tante Maya. Ia sengaja memajukan tubuhnya, bersandar pada tembok sehingga gaun satin tipisnya tertekan di pinggiran semen, mempertegas lekuk dadanya yang padat dan berisi tepat di bawah pandangan Reyhan.
Reyhan tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang penuh percaya diri, matanya turun menatap bibir merah ranum Tante Maya, lalu turun lagi ke belahan gaunnya yang terbuka, sebelum kembali mengunci manik mata wanita dewasa itu. Jari telunjuk Reyhan bergerak, dengan berani mengusap pelan punggung tangan Tante Maya yang halus.
"Tante tahu sendiri saya sukanya apa," bisik Reyhan, suaranya dalam dan penuh intimidasi seksual yang matang untuk cowok seumurannya.
Tante Maya menahan napasnya sekilas, matanya sedikit meredup menerima sentuhan berani itu. Alih-alih menarik tangannya seperti yang selalu dilakukan Ummi Sarah saat panik, Tante Maya justru membalikkan telapak tangannya, membiarkan jemari kasarnya dan jemari Reyhan saling bertautan di atas tembok pembatas.
"Sore ini panas banget ya, Rey... Suami Tante juga baru pulang lusa," ucap Tante Maya dengan nada suara yang mendadak berubah serak dan manja, memberikan kode keras yang sangat benderang. "Tante mau masuk ke dalam, gerah. Kamu... gak mau bantuin Tante cek AC di dalam? Kayaknya agak rusak."
Sebuah senyuman licik dan penuh kemenangan terukir di wajah tampan berandal Reyhan. Umpan telah dilempar, dan tantangan di rumah sebelah kini benar-benar siap untuk ia eksekusi.
4840Please respect copyright.PENANASVWLDgjiLs
4840Please respect copyright.PENANAGiqn68ufus


