Beberapa minggu berlalu sejak proyek OSIS itu selesai. Meskipun ketegangan halus antara Reyhan dan Ummi Sarah membekas di kepalanya, fokus remaja berandalan itu mendadak terbagi ketika sebuah keluarga baru pindah ke rumah tepat di sebelah kediaman orang tuanya.
Selama ini, rumah di samping kanan rumah Reyhan selalu kosong. Namun, suasana sepi itu berubah ketika sebuah truk pindahan besar datang membongkar muatan.
Sore itu, Reyhan baru saja pulang sekolah. Seperti biasa, penampilannya urakan; kemeja putihnya dikeluarkan, tas ransel hanya dicangklongkan di satu bahu, dan wangi sisa asap rokok dari tongkrongan masih samar menempel di bajunya. Saat ia hendak melangkah masuk ke dalam pagar rumahnya, pandangannya terhenti pada sosok wanita yang sedang berdiri di halaman sebelah, memberikan instruksi kepada para kuli angkut.
Wanita itu adalah Tante Maya, ibu rumah tangga berumur kepala tiga akhir yang baru saja pindah dari luar kota bersama suaminya yang merupakan seorang kontraktor sibuk.
Berbeda jauh dengan Ummi Sarah yang serba tertutup dan teduh, Tante Maya memancarkan pesona kedewasaan yang jauh lebih berani dan modern. Sore yang gerah itu, ia mengenakan celana jins ketat yang membingkai pinggulnya dengan sempurna, dipadukan dengan kaus v-neck putih berbahan tipis yang mempertegas lekuk tubuhnya yang matang dan terawat. Rambutnya yang dicat cokelat madu dicepol asal-asalan ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang berkeringat halus terkena terik matahari.
Reyhan menghentikan langkahnya di dekat pembatas tembok setinggi pinggang. Sisi nakal dan kepercayaan diri yang tinggi dari modal kartu kredit unlimited serta karisma berandalannya langsung mengambil alih. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok pembatas, lalu sengaja berdeham pelan untuk menarik perhatian.
Tante Maya menoleh. Begitu melihat remaja tetangga sebelahnya sedang memperhatikannya, sebuah senyuman ramah namun terkesan menggoda langsung terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah natural.
"Eh, sore... kamu anak sebelah, ya?" tanya Tante Maya, suaranya terdengar renyah dan santai, khas wanita kota yang supel dan tidak canggung.
"Iya, Tante. Saya Reyhan," jawab Reyhan dengan nada suara rendah andalannya. Matanya dengan berani menatap langsung ke arah Tante Maya, melakukan penilaian cepat dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa rasa ragu sedikit pun.
Tante Maya berjalan mendekat ke arah tembok pembatas, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Gerakan itu secara otomatis membuat kaus tipis yang dikenakannya sedikit terangkat, menampilkan siluet tubuhnya yang begitu proporsional di mata Reyhan.
"Salam kenal ya, Reyhan. Tante Maya. Duh, pindahan sore-sore begini ternyata gerah banget ya di komplek ini," ujar Tante Maya sambil mengibaskan tangannya di depan leher, sebuah gestur kasual yang justru membuat darah muda Reyhan berdesir hebat. Tatapan mata Tante Maya yang tajam seolah bisa membaca bahwa remaja di hadapannya bukanlah tipe "anak baik-baik" yang biasa ketakutan melihat wanita dewasa.
"Memang lagi gerah, Tante. Tapi kalau Tante butuh bantuan buat angkat barang yang ringan di dalam, saya lagi luang kok," sahut Reyhan sambil melemparkan senyum tipis di sudut bibirnya.
Tante Maya terkekeh pelan, binar jenaka terpancar dari matanya yang berwibawa namun menantang. "Wah, boleh juga nih. Kebetulan suami Tante masih di luar kota sampai minggu depan, dan Tante agak kewalahan nata ruang tengah sendirian. Kamu beneran gak keberatan bantu Tante di dalam?"
Mendengar kata "sendirian" dan "di dalam", insting berandalan Reyhan langsung bergejolak hebat. Di dalam kepalanya, skenario baru yang jauh lebih liar dari sekadar urusan proposal OSIS mulai tersusun rapi. Tetangga barunya ini jelas menawarkan jenis permainan yang sama sekali berbeda.
Tante Maya adalah definisi nyata dari seorang wanita matang yang tahu betul cara merawat aset terbaiknya. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga akhir, bentuk badannya sama sekali tidak kehilangan pesona, justru memancarkan aura sensualitas yang jauh lebih berani dan matang jika dibandingkan dengan cewek-cewek seumuran Reyhan di sekolah.
Dari jarak sedekat itu di balik tembok pembatas, mata nakal Reyhan langsung menangkap setiap detail lekuk tubuh tetangga barunya tanpa ada yang terlewat.
Melihat bagaimana kaos tipis itu mencetak jelas setiap lekuk bagian atas tubuh Tante Maya saat ia bergerak, Reyhan sampai harus menelan ludah diam-diam. Jika Ummi Sarah adalah sosok suci yang menantang untuk diruntuhkan pertahanannya, maka tubuh matang dan gerak-gerik Tante Maya sore ini adalah godaan terang-terangan yang siap melahap akal sehatnya kapan saja.
Reyhan melangkah melewati pintu masuk rumah Tante Maya yang masih setengah terbuka. Di dalam, suasananya tampak cukup berantakan dengan beberapa kardus besar yang menumpuk di sudut ruangan. Namun, udara sejuk dari AC yang baru saja dinyalakan langsung menyambut kulitnya yang gerah, membawa aroma vanila manis yang pekat dari dalam rumah.
"Taruh aja tas kamu di atas meja itu, Rey," suara Tante Maya terdengar dari arah ruang tengah.
Reyhan meletakkan tas ranselnya, lalu berjalan menyusul ke dalam. Ia mendapati Tante Maya sedang berdiri di samping sebuah sofa kulit hitam berdesain mewah yang posisinya masih agak miring, belum pas menghadap ke arah TV.
Dari belakang, pemandangan itu membuat Reyhan sengaja memperlambat langkahnya. Celana jins ketat yang dikenakan Tante Maya membingkai lekuk pinggulnya dengan sangat sempurna saat wanita itu membungkuk sedikit untuk mencoba mendorong ujung sofa.
"Duh, berat juga ya ternyata," keluh Tante Maya sambil menegakkan tubuhnya kembali. Ia berbalik dan mendapati Reyhan sudah berdiri tidak jauh di belakangnya. "Nah, Rey. Tolong bantuin Tante geser sofa ini sedikit ke kanan ya, biar lurus sama karpetnya."
"Oke, Tante. Biar saya yang angkat bagian yang berat," jawab Reyhan dengan nada suara rendah andalannya.
Reyhan mengambil posisi di ujung sofa yang berlawanan, membuat posisi mereka kini saling berhadapan. Saat mereka mulai mengangkat dan menggeser sofa tersebut, kaus v-neck putih yang dikenakan Tante Maya sedikit melonggar karena posisi tubuhnya yang membungkuk, memberikan sudut pandang yang sangat terbuka bagi mata nakal Reyhan untuk mengintip aset berharga di balik kerah rendah tersebut. Reyhan sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, tatapannya merekam setiap detail dengan berani.
Setelah sofa terpasang di posisi yang pas, Tante Maya langsung mengembuskan napas lega dan mengibaskan kerah kaosnya untuk mengusir rasa gerah. Gerakan itu membuat aroma feminin yang hangat dari tubuhnya kembali menguar, memenuhi jarak di antara mereka yang kini hanya tersisa dua langkah.
"Hah... untung ada kamu, Rey. Kalau enggak, bisa encok Tante sendirian di sini," ucap Tante Maya sambil tersenyum manis, matanya melirik tajam ke arah Reyhan dengan binar yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekati meja bar kecil yang membatasi ruang tengah dan dapur. "Kamu mau minum apa? Tante cuma punya sirup atau air dingin, soalnya belum sempat belanja bulanan."
"Air dingin aja cukup, Tante. Yang penting bisa bikin adem," sahut Reyhan sambil berjalan menyusul, menyandarkan kedua lengannya di atas meja bar, menatap langsung ke arah Tante Maya yang sedang membuka kulkas.
Tante Maya mengambil sebotol air dan sepasang gelas, lalu menuangkannya dengan gerakan yang santai. Saat ia menyodorkan gelas itu kepada Reyhan, jemari mereka sengaja dibiarkan bersentuhan. Berbeda dengan Ummi Sarah yang langsung menarik diri karena panik, Tante Maya justru tidak menjauhkan tangannya. Ia tetap memegang gelas tersebut selama beberapa detik, membiarkan kulit mereka saling bergesekan, sambil menatap langsung ke dalam mata Reyhan dengan senyuman yang terkesan menantang.
"Ini minumnya. Jadi... selain pinter bantuin tetangga baru, kamu biasanya sibuk ngapain aja kalau sore begini, Rey?" tanya Tante Maya dengan nada suara yang sengaja direndahkan, seolah-olah obrolan mereka di dalam rumah yang sepi ini sudah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih intim.
Reyhan menerima gelas itu tanpa sedikit pun memutuskan kontak mata. Ditengah keheningan rumah yang sepi, ia meneguk air dingin tersebut hingga tandas, membiarkan beberapa tetes air mengalir di sepanjang rahang dan lehernya yang urakan. Sifat berandalannya yang didukung karisma alami dan rasa percaya diri yang tinggi kini benar-benar mengambil alih kendali.
Ia menaruh gelas kosong itu kembali ke atas meja bar dengan bunyi dentingan halus, lalu memajukan tubuhnya. Kedua lengan kekarnya bertumpu di atas permukaan meja kayu, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma vanila yang manis dan kehangatan tubuh Tante Maya bisa ia rasakan dengan sangat nyata.
"Biasanya saya nongkrong, Tante. Tapi sore ini, kayaknya nemenin Tante di sini jauh lebih seru," ucap Reyhan. Nada suaranya sengaja dibuat berat dan merayap pelan, terdengar sangat berani untuk ukuran cowok seumurannya.
Tante Maya tidak mundur. Wanita matang itu justru melipat kedua tangannya di atas meja bar, sedikit condong ke depan sehingga bagian dadanya yang padat tertekan samar di tepi meja, membuat belahan kaos v-neck putihnya terekspos lebih dalam di hadapan mata nakal Reyhan.
"Oh ya? Seru karena bantuin angkat sofa, atau ada hal lain?" goda Tante Maya dengan binar jenaka yang menantang di kedua matanya. Ia seolah sengaja memancing sejauh mana keberanian remaja tetangganya ini.
Mendapat lampu hijau yang begitu terang, Reyhan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tangan kanannya bergerak maju di atas meja bar. Dengan gerakan yang lambat namun pasti, ujung jemarinya mulai menyentuh pergelangan tangan Tante Maya yang halus. Kulit mereka bertemu, dan kali ini Reyhan tidak hanya menyentuh tipis, ia dengan berani mengusapkan ibu jarinya di atas kulit pergelangan tangan wanita itu, memberikan belaian lembut yang penuh maksud.
Tante Maya sempat menahan napas sekilas saat merasakan sentuhan berani itu, namun seulas senyum tipis yang penuh kepuasan justru terbit di bibirnya. Ia tidak menarik tangannya. Tatapan mata mereka berdua terkunci dalam ketegangan emosional yang kian memuncak di dalam rumah yang kosong tanpa suami Tante Maya tersebut.
"Tante tahu sendiri jawabannya," bisik Reyhan, matanya perlahan turun menatap bibir merah Tante Maya sebelum kembali mengunci manik mata wanita dewasa di hadapannya itu. Sisi rebel di dalam diri Reyhan tahu, permainan kali ini jauh lebih bebas dan panas dari apa yang pernah ia bayangkan.
Kringgg! Kringgg!
Suara dering telepon genggam yang begitu nyaring mendadak memecah keheningan intim di dalam rumah tersebut. Bunyi yang sangat keras itu bergaung dari atas meja bar, tepat di sebelah gelas kosong milik Reyhan.
Sentuhan berani jemari Reyhan di pergelangan tangan Tante Maya seketika terputus. Ketegangan sensual yang baru saja terbangun di antara mereka seolah runtuh dalam sekejap, menyisakan kecanggungan yang mendadak menyeruak di udara.
Tante Maya tersentak, lalu buru-buru menarik tangannya untuk mengambil ponsel layar sentuh yang masih terus bergetar hebat. Begitu matanya membaca nama yang tertera di layar, ekspresi menggoda di wajah wanita matang itu langsung berubah drastis menjadi lebih formal dan sedikit tegang.
"Aduh, sebentar ya, Rey... Suami Tante telepon," ucap Tante Maya dengan suara yang mendadak kembali ke nada bicaranya yang biasa. Ia melempar pandangan penuh sesal sekaligus isyarat agar Reyhan memberikan ruang privat untuknya.
Sambil menggeser tombol hijau di layarnya, Tante Maya melangkah menjauh beberapa meter menuju sudut ruang tengah dekat jendela, memunggungi Reyhan.
"Halo, Pa? Iya, ini Mama sudah di rumah baru... Iya, barang-barang sudah mulai ditata kok," terdengar suara Tante Maya yang berubah menjadi sangat manis dan patuh di telepon, berbanding terbalik dengan pembawaannya yang menantang beberapa detik lalu.
Reyhan berdiri sendirian di meja bar, mengembuskan napas kasar karena frustrasi. Sisi berandalannya mengutuk dalam hati atas gangguan yang merusak momen emasnya. Ia merapikan kemeja OSIS-nya yang agak berantakan, menyadari bahwa atmosfer liar yang tadi sempat menguasai ruangan kini sudah sepenuhnya menguap.
Melihat Tante Maya yang tampak asyik mengobrol panjang lebar di telepon sambil sesekali tertawa kecil melayani suaminya, Reyhan tahu bahwa permainan sore ini sudah selesai. Ia mengambil tas ranselnya dari meja, menyampirkannya di satu bahu, lalu berjalan pelan mendekati Tante Maya untuk berpamitan lewat isyarat tangan.
Tante Maya menoleh, menurunkan ponselnya sebentar dari telinga sambil berbisik tanpa suara, "Makasih ya, Rey," dibarengi dengan sebuah kedipan mata samar yang seolah menjanjikan bahwa kelanjutan cerita mereka masih bisa berlanjut di hari lain.
Reyhan hanya membalasnya dengan senyum tipis yang penuh arti sebelum melangkah keluar melewati pintu, kembali ke rumahnya sendiri dengan adrenalin yang masih tersisa di dada.
Malam harinya, Reyhan kembali berada di kamarnya. Lagu rock alternatif dari Pearl Jam tetap mengalun pelan dari speaker bluetooth, namun kali ini pikiran remaja itu jauh lebih penuh daripada malam-malam sebelumnya. Pikirannya bercabang, diperebutkan oleh dua sosok wanita dewasa yang memiliki pesona yang bertolak belakang.
Di satu sisi, ada Ummi Sarah. Bayangan keanggunan sang ustadzah dalam balutan gamis longgar dan aroma lembut minyak kesturi yang menenangkan masih menempel kuat di memorinya. Mengingat kembali bagaimana ia berhasil menyentuh lengan gamis wanita sholehah itu dan melihat rona merah di pipinya memberikan kepuasan tersendiri bagi sisi pemberontak di dalam diri Reyhan. Ada tantangan besar untuk meruntuhkan tembok ketenangan seorang wanita yang begitu dihormati.
Namun di sisi lain, Tante Maya menawarkan permainan yang jauh lebih berani dan tanpa basa-basi. Kilasan bentuk tubuh matang sang tetangga baru—mulai dari lekuk pinggulnya yang padat di balik celana jins ketat, hingga belahan kaos v-neck putihnya yang mengekspos kulit mulusnya—terus berputar di kepala Reyhan. Kedipan mata penuh arti di akhir panggilan telepon sore tadi seolah menjadi jaminan bahwa gerbang di rumah sebelah selalu terbuka untuknya kapan saja sang suami pergi ke luar kota.
Reyhan bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela kamar. Saat membuka tirai, pandangannya langsung tertuju pada jendela rumah sebelah yang berjarak hanya beberapa meter dari kamarnya. Lampu di ruang tengah rumah Tante Maya masih menyala, memantulkan bayangan samar di balik gorden tipis.
Sebuah senyuman licik terukir di wajah urakan Reyhan. Remaja itu mengambil sebatang rokok, menyalakannya, dan mengembuskan asapnya ke udara malam yang dingin. Hidup di antara dua pilihan yang sama-sama menggoda ini membuat adrenalin berandalannya terpacu maksimal. Entah rumah Fikri atau rumah sebelah yang akan ia datangi lebih dulu besok sore, satu hal yang pasti: Reyhan tidak akan membiarkan kedua wanita dewasa itu lepas dari radar kenakalannya.5865Please respect copyright.PENANA981qOPs8y6


