Suasana sore itu terasa begitu teduh. Suara anak-anak yang mengaji di TPA seberang komplek terdengar lamat-lamat, berpadu dengan semilir angin yang menggoyang dedaunan pohon mangga di halaman rumah Fikri. Reyhan berdiri di depan pagar, menenteng sebuah map berisi berkas proposal kegiatan OSIS yang harus mereka selesaikan sore ini.
Remaja itu mengetuk pintu kayu yang tertutup rapat sambil mengucap salam, "Assalamu'alaikum..."
Tidak butuh waktu lama hingga terdengar langkah kaki halus dari dalam. Pintu terbuka perlahan, dan seketika itu juga, kalimat lanjutan yang sudah disiapkan di kepala Reyhan mendadak menguap begitu saja. Bukan Fikri yang membukakan pintu, melainkan ibunya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," sebuah suara yang begitu lembut, jernih, dan menenangkan menyapa telinga Reyhan.
Di hadapannya kini berdiri Ummi Sarah. Di sekolah dan lingkungan kecamatan, wanita itu sangat dihormati sebagai seorang ustadzah yang cerdas dan bersahaja. Namun, menyaksikannya dari jarak sedekat ini membuat Reyhan langsung terpaku.
Sore itu, Ummi Sarah tampak begitu anggun dalam kesederhanaannya. Beliau mengenakan gamis longgar berwarna khimar khalanis yang senada dengan jilbab panjangnya yang menjuntai rapi menutupi dada. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, namun memancarkan pesona alami yang begitu sejuk dipandang—tipe kecantikan yang teduh, seolah memancarkan aura ketenangan dari dalam hati yang terjaga. Aromanya pun sangat khas, wangi lembut minyak kesturi yang menenangkan dan tidak menyengat.
Beliau tersenyum tulus, membuat sudut-sudut matanya menyipit ramah. "Eh, nak Reyhan. Mau cari Fikri, ya?"
"I-iya, Ummi. Mau ngerjain proposal OSIS yang kemarin," jawab Reyhan, mendadak merasa sangat santun dan sedikit gugup di hadapan wanita seberwibawa beliau.
Ummi Sarah mengangguk pelan, lalu membuka pintu lebih lebar. Gerakannya yang tenang dan penuh tata krama selalu berhasil membuat siapa saja merasa segan sekaligus kagum.
"Fikri lagi anter kakaknya sebentar. Masuk dulu saja, tunggu di ruang tamu. Di luar anginnya sedang kencang," ucap beliau sembari mempersilakan Reyhan masuk dengan isyarat tangan yang sopan.
Saat melangkah melewati beliau masuk ke dalam rumah yang harum dan tenang itu, entah mengapa jantung Reyhan berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Berada di dekat wanita sesholehah, anggun, dan berkharisma Ummi Sarah selalu menghadirkan debaran yang berbeda di dalam dada remaja itu.
Reyhan melangkah masuk dengan canggung, berusaha menjaga sikap sesopan mungkin. Ruang tamu rumah Fikri tertata sangat rapi; sebuah kaligrafi ayat kursi berbahan kuningan tergantung megah di dinding utama, mempertegas atmosfer rumah yang religius dan menenangkan.
"Silakan duduk, Nak Reyhan. Ummi ambilkan minum dulu, ya," ujar Ummi Sarah sembari tersenyum ramah sebelum berlalu ke arah dapur.
Reyhan mendudukkan diri di sofa, meletakkan map proposal di atas meja kaca. Pandangannya sempat mengikuti langkah kaki yang anggun itu. Gerakan gamis panjang Ummi Sarah yang melambai halus menyapu lantai menyisakan keharuman kesturi yang menempel di indra penciuman Reyhan. Sulit dipungkiri, ada pesona kedewasaan yang begitu memikat dari sosoknya—bukan tipe yang mengumbar, melainkan kecantikan yang terjaga dan justru membuat penasaran.
Tak lama kemudian, Ummi Sarah kembali dengan nampan berisi segelas es sirup melon dan sepiring camilan ringan. Beliau meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang sangat anggun.
"Diminum dulu, mumpung segar. Di luar pasti gerah," ucap beliau. Namun, bukannya langsung kembali ke dalam, Ummi Sarah justru mendudukkan diri di sofa tunggal yang terletak agak menyerong dari tempat Reyhan duduk, menjaga jarak aman yang islami namun tetap terasa hangat.
"Fikri bilang, kalian sedang sibuk mempersiapkan acara santunan anak yatim untuk bulan depan, ya?" tanya beliau, membuka obrolan. Tatapan matanya yang teduh kini terarah lurus kepada Reyhan.
"I-iya, Ummi. Ini baru menyusun anggaran dan jadwal acaranya," jawab Reyhan agak gugup. Entah mengapa, ditatap sedekat ini oleh seorang ustadzah secantik beliau membuat konsentrasi Reyhan agak buyar.
Ummi Sarah memajukan sedikit tubuhnya, tertarik dengan topik tersebut. Gerakan itu membuat jarak di antara mereka mengikis beberapa puluh sentimeter. Reyhan bisa melihat dengan jelas betapa halusnya kulit wajah beliau yang bersih tanpa celah, serta binar cerdas di kedua matanya.
"Boleh Ummi lihat proposalnya? Kebetulan Ummi sering mengurus acara serupa di majelis taklim, mungkin ada beberapa masukan yang bisa membantu kalian," pintanya dengan nada lembut yang terasa begitu persuasif.
"Tentu, Ummi. Ini..." Reyhan menyodorkan map tersebut.
Saat Ummi Sarah mengulurkan tangannya untuk menerima map, jemari mereka tidak sengaja bersentuhan selama sepersekian detik. Kulit tangan wanita itu terasa begitu halus dan dingin. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang langsung membuat jantung Reyhan berdesir hebat.
Ummi Sarah tampaknya menyadari kegugupan Reyhan. Beliau menarik map itu, lalu membuka lembar demi lembar dokumen dengan tenang, sementara Reyhan terpaku, berjuang keras menyembunyikan debaran dada yang kian tidak keruan di samping wanita sedewasa dan seanggun dirinya.
Kalau ada yang bilang hidup ini harus lurus-lurus saja seperti penggaris, fix orang itu belum pernah merasakan serunya jalan zigzag.
Nama remaja itu Reyhan. Di sekolah, nama Reyhan mungkin sudah sejajar dengan legenda lokal di ruang BK. Tiap kali ada razia rambut, razia HP, atau sidak parkiran motor, ia hampir selalu ada di barisan depan. Baju seragam keluar dari celana sudah seperti kewajiban baginya. Telat masuk gerbang? Tenang, tembok belakang sekolah setinggi dua meter itu sudah seperti tangga pribadi untuknya.
Di luar sekolah, hidup Reyhan jauh lebih liar. Motor matic yang sudah dimodifikasi knalpotnya sering ia pacu tengah malam bersama anak-anak riding. Nongkrong di coffee shop sampai subuh, lalu balik ke rumah saat bokap dan nyokapnya bahkan tidak sadar bahwa ia semalaman berada di luar. Rumahnya sepi, tidak ada yang merasa kehilangan.
Soal perempuan juga tidak pernah menjadi masalah bagi Reyhan. Walau penampilannya dekil, tidak terawat, kusam, berkulit hitam, dan mukanya penuh jerawat, perempuan mana yang tidak bisa ia dapatkan? Dengan uang, semua urusan beres. Untuk itu, ia sangat berterima kasih pada papanya yang memfasilitasi sebuah kartu kredit unlimited.
Sampai akhirnya ia mengetuk pintu rumah Fikri sore itu.
Ada sensasi aneh yang mendesir di dadanya. Di depan wanita sholehah dan seberwibawa beliau, Reyhan merasa kotor. Namun di saat yang sama, ada sisi nakal di dalam dirinya yang membisikkan sesuatu yang gila: Gimana rasanya bikin ustadzah seanggun ini kehilangan ketenangannya karena cowok berandalan?
"Nak Reyhan, ini bagian anggaran dana untuk konsumsi sepertinya bisa sedikit dipangkas," suara lembut Ummi Sarah memecah lamunan Reyhan.
Beliau menunjuk ke arah baris angka di kertas proposal dengan jari telunjuknya yang lentik. Karena posisi sofa yang agak serong, Reyhan sengaja memajukan tubuhnya, pura-pura ingin melihat lebih jelas bagian yang dimaksud oleh wanita itu.
Sekarang, jarak di antara mereka cuma tersisa sekitar tiga puluh sentimeter. Dekat sekali. Dari jarak sesedekat ini, wangi minyak kesturi yang menenangkan dari tubuh Ummi Sarah makin terasa, bercampur dengan aroma ruangan yang sejuk. Reyhan bukannya fokus ke angka-angka di kertas, malah sibuk memperhatikan profil samping wajah wanita itu. Garis rahangnya lembut dan halus, bulu matanya lentik alami, dan ada tahi lalat kecil di dekat sudut bibirnya yang membuat beliau kelihatan makin manis saat sedang serius seperti ini.
"Gimana, Ummi? Bagian mana yang dipotong?" tanya Reyhan dengan nada suara yang sengaja dibuat serendah dan sesopan mungkin—sisi karismatik yang biasa ia pakai untuk menggaet perempuan otomatis keluar, tetapi kali ini dalam versi yang lebih halus.
Ummi Sarah menoleh ke arah Reyhan, berniat menjelaskan. Begitu beliau berbalik, wajah mereka langsung berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Reyhan bisa melihat binar jernih di kedua mata wanita itu. Untuk sesaat, gerakan Ummi Sarah tertahan. Ada kilat keterkejutan di tatapannya, mungkin beliau tidak menyangka kalau Reyhan bakal memajukan tubuh sedekat ini.
Reyhan tidak mundur selangkah pun. Yang ada, ia malah melemparkan senyum tipis, menatap langsung ke manik mata Ummi Sarah dengan berani.
"Kalau dipotong dari konsumsi, takutnya anak-anak panti nanti gak kebagian paket sembako yang lengkap, Ummi," lanjut Reyhan, sengaja memberikan argumen yang terdengar peduli dan dewasa agar wanita itu tidak berpikir bahwa dirinya cuma sekadar modus.
Ummi Sarah berkedip pelan, lalu menarik napas halus sebelum kembali menguasai keadaan. Sebuah senyuman tulus kembali terukir di bibirnya, meski Reyhan sempat menangkap ada sedikit rona merah yang samar di pipinya yang putih bersih.
"Masya Allah, Nak Reyhan ternyata pemifikirannya sangat mulia," ucap beliau, suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari sebelumnya. "Maksud Ummi, bukan paket sembakonya yang dikurangi, tapi kita bisa cari opsi supplier beras yang lebih murah tapi kualitasnya tetap bagus. Kebetulan Ummi punya kenalan di pasar induk."
"Oh, begitu..." Reyhan mengangguk-angguk, sengaja mengulurkan tangan untuk membalik halaman proposal. Saat itulah, punggung tangannya sengaja dibiarkan menyentuh tipis lengan gamis wanita itu.
Ummi Sarah tidak langsung menarik diri, tetapi beliau sedikit membenarkan posisi duduknya, membuat jarak mereka kembali merenggang beberapa sentimeter. Gerakannya sangat halus, seolah-olah berusaha menjaga batasan tanpa ingin membuat Reyhan merasa tersinggung.
"Nanti Ummi buatkan daftarnya, ya. Nak Reyhan bisa catat," ujar beliau sambil menatap Reyhan dengan pandangan teduh, namun kali ini ada semacam ketegasan seorang ustadzah yang tersirat di sana—seolah beliau tahu ada sesuatu yang 'nakal' di balik sikap sopan remaja itu sore ini.
Brak!
Suara pagar besi yang digeser dengan kasar dari arah depan seketika memecah ketegangan yang sempat terbangun di antara Reyhan dan Ummi Sarah.
"Assalamu'alaikum! Ummi, Fikri pulang. Duh, maaf ya lama, tadi antrean di tempat fotokopi panjang banget," suara cempreng Fikri terdengar dari teras, disusul suara derap langkah kakinya yang terburu-buru masuk ke dalam rumah.
Mendengar suara anaknya, Ummi Sarah langsung memundurkan posisi duduknya dengan sangat tenang dan natural. Beliau merapikan ujung jilbab panjangnya yang sempat agak bergeser, lalu menoleh ke arah pintu masuk dengan senyum keibuan yang seolah menghapus semua atmosfer intens beberapa detik lalu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Nah, itu Fikri sudah datang," ucap Ummi Sarah, suaranya kembali terdengar jernih dan stabil, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau beliau baru saja dibuat gugup oleh cowok berandalan seperti Reyhan.
Fikri muncul di ruang tamu sambil menenteng kresek plastik berisi kertas jilid dan beberapa lembar modul. Begitu melihat temannya sudah anteng di sofa, mukanya langsung masygul. "Eh, Han! Udah lama lo? Sori banget ya, tadi abang fotokopinya sekalian nyari kembalian makanya lama."
"Gak apa-apa, Fik. Santai aja," jawab Reyhan sambil memamerkan senyum paling watados (wajah tanpa dosa) sedunia. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat kaki, dan kembali ke mode santainya yang biasa. "Lagian gue gak bosen kok, tadi lagi dibantu sama Ummi buat koreksi anggaran dana konsumsi."
Fikri menaruh belanjaannya di meja, lalu menatap ibunya dengan tatapan kagum. "Wah, beneran Ummi? Makasih ya, Ummi. Si Reyhan ini emang kalau bikin anggaran suka asal tembak harganya, untung ada Ummi yang koreksi."
"Iya, tadi Nak Reyhan pemikirannya sudah bagus, cuma perlu sedikit efisiensi saja," ujar Ummi Sarah lembut. Beliau kemudian mengambil nampan kosong yang tadi digunakannya. "Ya sudah, kalian teruskan belajarnya ya. Fikri, temani Reyhan. Ummi mau ke belakang dulu bersiap-siap buat shalat Maghrib."
"Iya, Ummi," sahut Fikri patuh.
Sebelum benar-benar melangkah ke area dalam rumah, Ummi Sarah sempat berbalik badan dan mengangguk santun ke arah Reyhan.
"Iya, Ummi. Terima kasih banyak bantuannya," jawab Reyhan sambil melemparkan pandangan penuh arti.
Malam itu, suasana di kamar Reyhan berbanding terbalik 180 derajat dari ketenangan rumah Fikri. Alunan musik rock alternatif dari Pearl Jam terdengar pelan dari speaker bluetooth di sudut ruangan. Reyhan sendiri hanya berbaring telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya yang temaram. Di luar, sisa rintik hujan sore tadi masih terdengar samar, membawa hawa dingin yang kian menusuk.
Biasanya, jam segini grup WhatsApp anak-anak riding sudah ramai mengajaknya nongkrong atau sekadar keliling kota mencari angin. Namun malam ini, entah mengapa, remaja badung itu sama sekali tidak berminat menyentuh kunci motornya. Ia bahkan sengaja membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di meja belajar, mengabaikan layarnya yang sesekali menyala karena notifikasi yang masuk.
Pikiran Reyhan sedang macet. Dan penyebabnya hanya satu: Ummi Sarah.
Reyhan memiringkan badannya, menekuk satu tangan untuk bantalan kepala. Setiap kali ia memejamkan mata, memori sore tadi di rumah Fikri langsung berputar otomatis di otaknya. Sulit baginya untuk melupakan bagaimana anggunnya wanita itu saat berjalan, atau bagaimana lembut dan jernihnya suara sang ustadzah saat memanggil namanya, "Nak Reyhan..."
Reyhan mengembuskan napas kasar, lalu tersenyum-senyum sendiri di tengah kegelapan kamar.
Sebagai cowok yang biasa dikelilingi cewek-cewek seumuran yang bergaya serba blak-blakan, sosok Ummi Sarah benar-benar seperti oase yang asing baginya. Wanita itu adalah seorang ustadzah—sosok matang yang pembawaannya tenang, sopan, dan sangat terjaga. Ditambah lagi statusnya sebagai istri yang baik sekaligus ibu dari temannya sendiri. Namun, justru karena status dan batas-batas suci itulah yang membuat pikiran nakal Reyhan makin liar malam ini.
Gejolak gairah di dalam dirinya kian terusik setiap kali bayangan tentang ibu temannya itu melintas. Pikiran liar Reyhan bahkan mulai melangkah terlalu jauh. Sesuatu dalam selangkangannya menggeliat saat dia membayangkan kontol kotornya menodai wajah suci sang ustadzah.
Ia teringat kembali momen ketika jarak mereka hanya tersisa tiga puluh sentimeter di sofa sore tadi. Reyhan masih bisa mengingat dengan detail wangi minyak kesturi yang elegan dari tubuh wanita itu, sebuah ingatan yang membuat ketegangannya kian memuncak.
Ummi Sarah mungkin seorang ustadzah yang biasa berceramah di depan ratusan jamaah dengan penuh wibawa. Namun sore tadi, Reyhan yakin betul bahwa ia sempat berhasil membuat ketenangan wanita dewasa itu sedikit goyah. Sentuhan singkat di lengan gamis Ummi Sarah saat ia pura-pura membalik halaman proposal bahkan masih terasa menyisakan sengatan halus di ujung jarinya.
Reyhan tersenyum tipis. Sisi rebel di dalam dirinya justru makin tertantang. Pertemuan sore tadi jelas bukan yang terakhir karena proyek OSIS mereka masih panjang. Dan satu hal yang pasti, setiap kali ada kesempatan untuk bertamu ke rumah Fikri, Reyhan tidak akan menyia-nyiakan sedetik pun untuk bisa berada di dekat Ummi Sarah lagi.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat bagi Reyhan, namun setiap detiknya diisi oleh rencana-rencana kecil yang tersusun rapi di kepalanya. Pertemuan di rumah Fikri waktu itu benar-benar mengubah fokusnya. Sesi nongkrong malam yang biasa ia lakukan mulai sering ia lewatkan, diganti dengan lembar-lembar proposal OSIS yang mendadak ia pelajari dengan tekun—bukan karena ia mendadak rajin, melainkan karena ia butuh alasan yang logis untuk kembali bertamu.
Kesempatan itu akhirnya datang tiga hari kemudian, saat jam istirahat kedua di sekolah.
Fikri sedang sibuk merapikan catatan kas di ruang OSIS ketika Reyhan berjalan masuk dengan gaya santainya yang khas, seragam keluar dan tangan menyelinap di saku celana.
"Fik," panggil Reyhan sambil mendudukkan diri di pinggir meja kerja Fikri. "Anggaran dana buat sembako kemarin kan udah kita rombak berdasarkan saran dari Ummi. Tapi, kayaknya ada beberapa poin di bagian transportasi logistik yang masih rancu. Gimana kalau nanti sore kita bedah lagi di rumah lo?"
Fikri mendongak, membenarkan posisi kacamata minusnya. Ia tampak sedikit terkejut melihat inisiatif Reyhan yang tidak biasa. "Sore ini? Boleh sih. Tapi gue ada jadwal piket kelas dulu setelah bel pulang. Lo kalau mau duluan ke rumah gue gak apa-apa, sekalian kasih tahu Ummi kalau gue telat dikit."
Sebuah senyuman kemenangan tertahan di sudut bibir Reyhan. Skenario yang ia harapkan justru tercipta dengan sendirinya tanpa perlu banyak usaha.
"Oke, santai. Gue bisa duluan ke rumah lo biar gak buang-buang waktu," jawab Reyhan datar, berusaha menyembunyikan letup kegembiraan di dadanya.
Sore itu, sekitar pukul empat, motor matic dengan knalpot modifikasi milik Reyhan kembali terparkir di depan pagar rumah Fikri. Hawa sore kali ini tidak terlalu terik, langit sedikit berawan, menciptakan atmosfer yang lebih sunyi dari biasanya. Suara anak-anak mengaji di seberang komplek belum terdengar karena jam TPA belum dimulai.
Reyhan merapikan rambutnya lewat kaca spion, sengaja membiarkan dua kancing teratas kemeja OSIS-nya terbuka, menampilkan kesan urakan yang maskulin. Ia melangkah mantap ke arah teras dan mengetuk pintu kayu itu.
"Assalamu'alaikum," ucapnya dengan nada suara yang sengaja diatur agar terdengar berat dan tenang.
Hanya butuh beberapa ketukan sampai pintu tersebut terbuka. Dan seperti dejavu, sosok anggun Ummi Sarah kembali muncul di balik pintu. Sore ini, beliau mengenakan gamis berwarna biru dongker dengan jilbab instan bergo berwarna abu-abu muda yang senada. Wajahnya yang tanpa riasan tetap memancarkan pesona matang yang meneduhkan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Ummi Sarah. Matanya sempat melebar sekilas, terkejut melihat kehadiran Reyhan yang datang seorang diri. "Eh, Nak Reyhan. Sendirian? Fikri-nya mana?"
Reyhan langsung memasang wajah sopan, sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan buatan. "Iya, Ummi. Fikri tadi bilang ada piket kelas dulu setelah pulang sekolah, jadi dia agak telat. Dia nyuruh saya buat duluan ke sini biar bisa langsung mulai cicil kerjaan proposalnya."
Ummi Sarah terdiam sejenak, melirik ke arah jalanan komplek yang sepi sebelum kembali menatap Reyhan. Ada keraguan yang melintas sangat cepat di mata teduhnya—sebuah batasan naluriah dari seorang ustadzah ketika harus menerima tamu laki-laki di rumah yang sedang kosong. Namun, mengingat Reyhan adalah teman akrab anaknya dan urusan mereka adalah kegiatan amal OSIS, beliau akhirnya tersenyum tulus.
"Oh, begitu. Ya sudah, mari masuk dulu, Nak Reyhan. Tidak enak bicara di pintu," ucap Ummi Sarah sambil membuka pintu lebih lebar, mempersilakan remaja badung itu melangkah masuk ke dalam teritorinya sekali lagi.
Begitu langkahnya melewati ambang pintu, Reyhan langsung menyadari satu hal: rumah itu sedang sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kakak Fikri ataupun sang ayah. Atmosfer sunyi ini adalah panggung sempurna yang sudah ia bayangkan sejak beberapa hari lalu.
Siasat pertama Reyhan dimulai dari cara ia menempatkan diri. Di ruang tamu, bukannya memilih kursi kayu tunggal yang terpisah jauh, ia langsung berjalan menuju sofa panjang berbahan beludru—sofa yang sama tempat mereka duduk berdekatan tempo hari. Ia meletakkan tasnya di sisi kanan, sengaja menyisakan ruang kosong yang cukup luas di sisi kirinya, berharap Ummi Sarah akan duduk di sana untuk memeriksa berkas.
"Silakan duduk, Nak Reyhan. Ummi buatkan minum sebentar, ya," ucap Ummi Sarah dengan nada lembutnya yang selalu terdengar konsisten, sebelum beliau berbalik menuju dapur.
Begitu sosok wanita itu menghilang di balik sekat ruang tengah, Reyhan segera beraksi. Ia mengeluarkan laptop dan tumpukan kertas proposal dari dalam tas. Siasat keduanya adalah "umpan." Ia sengaja membuka halaman anggaran logistik yang sengaja ia buat berantakan dan membingungkan tadi malam. Ia menambahkan beberapa angka khayalan yang tidak masuk akal pada kolom transportasi, jaminan yang pasti akan memancing perhatian seorang ustadzah yang jeli dalam urusan administrasi majelis.
Tak lama kemudian, Ummi Sarah kembali membawa segelas teh manis hangat di atas nampan kecil. Saat beliau meletakkannya di atas meja, Reyhan sengaja tidak langsung mengambilnya. Ia justru memasang raut wajah yang tampak sangat frustrasi, jemarinya memijat pelipis sambil menatap layar laptop dengan kening berkerut dalam.
"Ada kendala, Nak Reyhan?" tanya Ummi Sarah. Naluri keibuan dan sifat penolongnya langsung terpancing melihat tamunya tampak kesulitan.
"Ini, Ummi..." Reyhan menghela napas panjang, sengaja mendesah pelan untuk menunjukkan beban pikiran yang berat. "Saya agak buntu di bagian kalkulasi sewa mobil logistik buat distribusi sembako. Angkanya gak ketemu terus dari semalam. Fikri juga belum datang, saya takut malah salah bikin."
Ummi Sarah berdiri di dekat meja, menatap layar laptop dengan penuh rasa ingin tahu. "Boleh Ummi lihat?"
"Tentu, Ummi. Silakan," jawab Reyhan cepat.
Disinilah siasat utama Reyhan berjalan. Bukannya berdiri dan menyerahkan laptop itu, Reyhan tetap duduk di sofa panjang dan menggeser laptopnya ke tengah. Ruang kosong di sisi kirinya kini menjadi satu-satunya tempat yang paling logis bagi Ummi Sarah jika ingin melihat angka-angka di layar dengan jelas.
Ummi Sarah sempat ragu selama dua detik. Sebagai seorang ustadzah yang paham betul tentang batasan khalwat (berdua-duaan dengan non-mahram), beliau biasanya sangat menjaga jarak. Namun, melihat wajah Reyhan yang tampak begitu polos dan "butuh bimbingan", pertahanan formalitas itu perlahan melunak.
Dengan gerakan yang sangat anggun, Ummi Sarah akhirnya mendudukkan dirinya di ujung sofa panjang yang sama. Meskipun beliau sudah berusaha mengambil jarak sekitar setengah meter, posisi duduk yang sejajar ini sudah merupakan kemenangan besar bagi insting nakal Reyhan.
Aroma minyak kesturi yang hangat dan menenangkan itu kembali menyergap indra penciuman Reyhan, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Yang mana yang membingungkan, Nak Reyhan?" Ummi Sarah mendekatkan wajahnya ke arah layar, membaca baris demi baris angka yang sengaja dimanipulasi oleh Reyhan.
Reyhan tidak langsung menjawab. Ia sengaja memajukan tubuhnya, berpura-pura menunjuk salah satu kolom di layar dengan jarinya. Gerakan itu secara otomatis memotong jarak di antara mereka hingga kini bahu urakan milik Reyhan hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari lengan gamis biru dongker yang dikenakan Ummi Sarah. Dari samping, Reyhan bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana dada wanita matang itu naik turun dengan teratur saat bernapas. Dia membasahi bibirnya dengan lidah, membayangkan bisa meremas, menjilat, dan menodai payudara suci ummahat itu.
"Ini, Ummi... bagian biaya operasional supir dan bensinnya. Apa tidak terlalu besar?" bisik Reyhan. Nada suaranya sengaja dibuat rendah, berat, dan merayap pelan, sebuah intonasi yang biasa ia gunakan untuk memikat wanita, namun kini dikemas dalam balutan diskusi formal.
Ummi Sarah menoleh untuk memberikan penjelasan. Namun, karena jarak yang sudah terpangkas begitu dekat, wajah mereka kembali berhadapan secara langsung. Jaraknya kini begitu intim, hingga Reyhan bisa merasakan embusan napas hangat Ummi Sarah menerpa kulit wajahnya.
Detak jantung di dalam ruangan yang sunyi itu mendadak terasa berpacu lebih cepat. Keheningan yang tercipta di antara mereka berdua seolah mengunci gerakan Ummi Sarah untuk beberapa detik. Tatapan mata teduh sang ustadzah terpaku pada manik mata Reyhan yang menatapnya dengan begitu berani—sebuah tatapan yang tidak semestinya dilemparkan oleh seorang murid kepada orang tua temannya.
Reyhan tahu, ini adalah momen krusial dari seluruh siasat gilanya. Sisi pemberontak di dalam dirinya menolak untuk mundur.
Sambil tetap mempertahankan kontak mata yang intens, Reyhan perlahan menggerakkan tangan kanannya yang semula berada di dekat laptop. Dengan gerakan yang sangat halus, hampir menyerupai ketidaksengajaan yang terencana, jemari Reyhan menyentuh punggung tangan Ummi Sarah yang tengah bertumpu di atas permukaan sofa.
Kulit tangan wanita dewasa itu terasa begitu halus dan hangat. Sentuhan itu tidak dilepaskan oleh Reyhan; ia justru membiarkan kulit mereka saling bersentuhan selama beberapa detik, memberikan tekanan lembut yang menyiratkan maksud yang jauh lebih dalam dari sekadar diskusi proposal.
Ummi Sarah tersentak kecil. Sentuhan fisik itu seketika meruntuhkan kekosongan yang sempat mengunci kesadarannya. Rona merah yang jauh lebih pekat kini menjalar di sepasang pipinya yang putih bersih. Sebagai seorang wanita yang peka dan dihormati, beliau jelas tahu bahwa batas suci di antara mereka baru saja dilanggar.
"Nak... Nak Reyhan," suara Ummi Sarah terdengar bergetar, kehilangan intonasi tenangnya yang biasa.
Beliau dengan cepat menarik tangannya dari jangkauan jemari Reyhan, lalu bergegas memundurkan posisi duduknya hingga merapat ke ujung lengan sofa. Napasnya terdengar sedikit memburu di balik jilbab bergo abu-abunya. Tangan yang baru saja disentuh oleh Reyhan kini menggenggam erat ujung kain gamisnya sendiri, seolah berusaha menetralisir desir aneh yang sempat mampir di sana.
Reyhan tidak mengejar, ia tahu kapan harus menarik ulur permainan. Ia mempertahankan posisi duduknya, lalu memasang senyum tipis di sudut bibir—sebuah senyuman penuh kemenangan yang mempertegas kesan nakal di wajahnya yang penuh jerawat.
"Maaf, Ummi. Saya cuma mau ambil pulpen di dekat tangan Ummi tadi," ucap Reyhan santai, beralibi sambil meraih sebuah pulpen yang memang sengaja ia letakkan di dekat posisi tangan Ummi Sarah sebelumnya. Suaranya tetap tenang, sangat kontras dengan kepanikan yang kini melanda sang ustadzah.
Ummi Sarah berusaha keras menguasai kembali wibawanya. Beliau memperbaiki posisi duduknya menjadi sangat tegak, merapikan jilbabnya yang sebenarnya tidak berantakan, dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya.
"Ya... ya sudah. Kalau begitu, sebaiknya... sebaiknya kita tunggu Fikri datang saja untuk melanjutkan ini," ujar Ummi Sarah, suaranya berusaha ditegaskan, kembali ke mode seorang guru agama yang sedang memberikan batasan tegas. Namun, binar matanya yang sempat goyah tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ketenangan sucinya baru saja diuji oleh keberanian cowok berandalan di hadapannya.
Brak!
Suara pagar besi yang digeser dengan tergesa-gesa dari arah luar kembali memecah keheningan intens di dalam ruang tamu. Disusul oleh suara derap langkah kaki yang setengah berlari, Fikri muncul di ambang pintu dengan napas yang agak terengah-engah. Wajahnya tampak penuh keringat, dan seragam sekolahnya terlihat sedikit berantakan setelah menyelesaikan tugas piket kelasnya.
"Assalamu'alaikum! Duh, maaf banget, Han, Ummi... Fikri telat," ucap Fikri sambil menaruh tas sekolahnya di lantai dengan sembarangan. "Tadi setelah piket, ban sepeda motor tiba-tiba kurang angin, jadi terpaksa mampir ke tukang tambal ban dulu di depan komplek."
Mendengar suara sang anak, Ummi Sarah seketika bangkit berdiri dari ujung sofa. Gerakannya kali ini terasa sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah-olah kehadiran Fikri adalah sebuah penyelamat yang paling dinantikannya untuk keluar dari situasi menegangkan bersama Reyhan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Ummi Sarah. Suaranya sudah kembali terkendali, meski sisa rona merah samar di pipinya belum sepenuhnya hilang. Beliau merapikan kembali kain gamisnya dengan jemari yang masih sedikit kaku. "Tidak apa-apa, Fik. Ini Nak Reyhan juga baru saja mulai melihat-lihat berkasnya."
Fikri melangkah masuk, langsung mendudukkan diri di kursi kayu tunggal yang berada di seberang meja kaca. Ia sama sekali tidak menyadari atmosfer aneh yang sempat terbangun di ruangan itu beberapa saat lalu. Pandangan Fikri beralih ke arah Reyhan yang masih duduk santai di sofa panjang dengan pulpen di tangannya.
"Lo udah nemu bagian yang membingungkan belum, Han?" tanya Fikri sambil menarik laptop Reyhan agar menghadap ke arahnya.
"Udah, Fik. Tadi sempat dibantu sedikit sama Ummi buat nyari jalan keluarnya," jawab Reyhan dengan nada suara yang sangat tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, melipat satu kakinya, dan melemparkan senyum santai yang tampak sangat polos ke arah Fikri—sebuah akting yang sempurna dari seorang cowok berandalan yang sudah biasa menyembunyikan kenakalannya.
Ummi Sarah yang berdiri di dekat pembatas ruang tengah menatap Reyhan sekilas saat mendengar jawaban remaja itu. Ada binar ketegasan sekaligus sedikit kecemasan di mata teduhnya, seolah beliau sedang memperingatkan Reyhan secara tersirat agar tidak melewati batas lagi di depan anaknya.
"Ya sudah, Fikri ditemani temannya belajar. Ummi mau ke belakang dulu untuk menyiapkan makan," ucap Ummi Sarah dengan suara lembutnya yang kembali berwibawa. Beliau mengangguk pelan ke arah mereka berdua sebelum membalikkan badan dan melangkah anggun menuju area dapur.
Begitu sosok Ummi Sarah menghilang di balik sekat rumah, Fikri langsung memajukan tubuhnya dan berbisik pada Reyhan, "Gila, beruntung banget lo dapet masukan langsung dari Ummi. Biasanya beliau sibuk banget sama urusan majelis taklim. Ayo, sekarang kita kelarin bagian transportasi ini sebelum Maghrib!"
Reyhan hanya terkekeh pelan, meraih kembali kertas proposalnya. Meskipun matanya kini terarah pada lembar-lembar tugas OSIS bersama Fikri, pikiran nakal di kepalanya justru sedang tersenyum puas. Siasat halusnya sore ini telah berhasil memberikan goresan kecil pada ketenangan sang ustadzah, dan ia tahu, pertahanan suci itu perlahan-lahan mulai bisa ia sentuh.
BERSAMBUNG
Chatseks/phoneseks buat binor, janda, anak sekolah. Privacy aman, dijamin ketagihan. 0877780214237464Please respect copyright.PENANAt7vhgY3Win


