Kalian lagi, kalian lagi. Mau apa sich, senang amat membuntuti kami?" tanya Shinta ketus. Matanya yang indah melotot, berusaha menakuti kami. Gertakan yang tidak akan mempan buatku.
Lain Shinta, lain pula dengan Nabila yang menunduk ketakutan. Wajahnya yang chubby terlihat pucat sambil menggigit bibir., jari jari tangannya bergerak berusaha mengusir rasa takut. Keadaan berbalik cepat, aku berada di atas angin dan harus mengintimidasi mereka supaya tidak bocor sehingga rahasia tato di tubuhku tidak bocor ke orang lain yang artinya petaka buatku.
"Berarti yang kemarin ngintip aku mandi, kamu ya?" tanyaku menatap wajah cantik Nabila yang semakin ketakutan. Sebenarnya aku tidak tega melihat Nabila ketakutan seperti itu, tapi aku juga tidak mau rahasia tatoku tersebar yang berakibat aku harus meninggalkan pesantren. Aku belum siap kalau harus meninggalkan pesantren saat ini.
"Jangan kurang ajar kamu, nuduh orang sembarangan." bentak Shinta berusaha melindungi Nabila yang berdiri ketakutan di belakangnya.
"Aku tidak menuduh, tapi aku dengar obrolan kalian tadi. Aku bisa lapor ke Mbah Kholil kelakuan kalian yang sangat tidak pantas." kataku mulai mengancam, hal yang biasa aku lakukan terhadap korban perampokanku.
"Ja jangan." kata Nabila hampir menangis mendengar ancamanku yang hanyalah sebuah gertakan belaka, aku tidak bodoh sehingga melaporkan kelakuan Nabila. Aku melihat ada sesuatu yang bisa aku manfaatkan.
"Jangan macam macam, kamu santri baru di sini sudah mau nyari gara gara." bentak Shinta masih berusaha melindungi Nabila yang memegang tangannya ketakutan dan tidak berani menatap wajahku yang hampir tertawa geli melihatnya.
Tapi pengalamanku menjadi seorang perampok, tentu tidak akan terpengaruh oleh hal seperti ini. Wajah ketakutan korban adalah sesuatu yang membuat adrenalinku terpacu semakin panas. Mengingatkanku saat ayahku marah dan memakiku dengan kata kata kasar sehingga membuatku meringkuk ketakutan di lantai, ada dendam yang ingin aku tumpahkan ke orang lain sehingga mengalami nasib seperti yang pernah aku alami, meringkuk ketakutan di lantai dan meminta ampun. Ada sebuah kepuasan tersendiri, kepuasan karena sudah bisa membalaskan sakit hatiku ke orang lain.
"Kamu juga sudah bersekongkol dengan temanmu Nabila, seharusnya kamu tahu setiap orang yang bersekutu atau menutupi kedzoliman orang lain, dosa sama besarnya dengan si pelaku. Bagaimana kalau Mbah Kholil tahu seorang hafizhoh melakukan perbuatan tercela dan kamu berusaha menutupinya." kataku tenang, aku semakin mengintimidasi kedua gadis ini. Kegarangan Shinta langsung hilang begitu mendengar perkataanku.
"Akkk akku tidak tahu apa apa..!" kata Shinta gugup, wajahnya menjadi pucat pasi.
"Aku dengar yang kalian bicarakan, aku siap jadi saksi." kata Rahmat yang sejak tadi diam ikut bicara. Dia mulai bisa melihat situasi yang sangat menguntungkan, secara tidak langsung aku melihat Farhan menjadi pengikutku.
"Jangannnn!" seru Shinta terkejut, posisinya mulai terjepit, situasi yang sangat tidak menguntungkan.
"Apanya yang jangan?" tanyaku tenang, tidak ada yang perlu ditakutkan karena situasi sudah aman. Aku yakin untuk sementara waktu tato di tubuhku akan tetap aman, walau tidak ada bangkai yang terus bisa disembunyikan.
"Kita damai..!" kata Shinta, baru aku sadar dia lebih menonjol sifatnya yang berusaha mati matian membela Nabila, padahal posisinya sendiri tidak menguntungkan.
"Maksudnya?" tanyaku sengaja mengulur waktu. Aku masih ingin berlama lama memandangi wajah ke dua gadis cantik yang semakin lama kulihat, semakin menarik. Wajah wajah alim yang selalu menjaga sikap dan pandangannya, berbeda sekali dengan gadis gadis yang bisa kubayar untuk bisa memuaskan hasrat birahiku bahkan sangat jauh berbeda dengan Dewi yang berani merengek untuk dipuaskan birahinya.
"Rahasia kamu aman, asalkan rahasia Devi juga aman." kata Shinta berusaha mengajakku berdamai.
"Emang rahasia apa yang ada pada diriku? Mbah Kholil sudah lebih dulu tahu." kataku tersenyum geli. Aku yakin mbah Kholil tahu aku adalah buronan, dia sudah menyinggung masalah itu.
"Itttu..." Shinta tidak meneruskan perkataannya, dia sudah kalah telak. Tidak ada lagi tawar menawar yang bisa mereka tawarkan padaku.
"Mbah Kholil tidak akan mengusirku karena dimanapun kita berpijak, di bawah manapun kita bernaung semuanya adalah bumi dan langit Allah. Mbah Kholil tidak punya hak mengusirku." jawabku menirukan ucapan Mbah Kholil kemarin dan aku yakin, semua santri sudah hafal dengan kalimat dari Mbah Kholil dari sudut pandang yang berbeda.
"Ya Allah...!" seru Nabila, tubuhnya lunglai tidak bertenaga dan dia jatuh terduduk. Nabila menangis terisak membuatku tiba tiba merasa iba, padahal selama ini aku tidak pernah menaruh iba terhadap korban korbanku.
"Jangan nangis, Mbah Kholil pasti tidak akan mengusir kamu." kata Shinta memeluk Nabila, berusaha menghibur sahabatnya itu. Hiburan yang sia sia, tangisan Nabila justru semakin keras membuatku panik, bagaimana kalau ada yang mendengar suara tangisan Nabila? Satu masalah belum selesai dan akan ditambah masalah lainnya.
"Aku janji tidak akan melaporkan masalah ini, asalkan...!" kataku berusaha meredakan tangis Nabila.
"Kamu janji nggak akan melaporkan ini, janji demi Allah..!" kata Nabila dengan suara terisak. Dia menatapku penuh harap.
"Apa syaratnya?" tanya Shinta yang mendengar jelas kalimatku tanpa ada yang terlewat.
"Nanti aku kasih tahu, sekarang kamu jangan nangis. Kalau ada yang tahu mereka malah curiga." kataku. Tanpa sadar aku mengusap wajah Nabila yang basah oleh air mata.
"Jangan kurang ajar kamu, bukan muhrim." kata Shinta menepiskan tanganku yang sedang mengusap pipi Nabila yang sangat halus, pipi yang tidak pernah tersentuh make up.
"Mas Zaka, ada orang..!" seru Farhan berbisik, namun suaranya ikut terdengar oleh Nabila dan Shinta yang terlihat pucat ketakutan.
"Kita pergi..!" kataku pelan. Tanpa berpikir panjang aku berjalan cepat ke arah jalan setapak yang aku tidak tahu menuju ke mana. Farhan mengikutiku dari belakang. Kami berjalan cepat menghindari orang yang datang dari arah pondok. Aneh, semakin jauh, semakin banyak pohon dan semak semak, jalan setapak semakin kecil ditumbuhi rumput liar. Masa bodoh, aku tidak mau orang yang datang melihatku bersama Nabila yang sedang menangis dan mereka pasti akan menduga Nabila menangis karena perbuatanku.
"Aduhhhhh, Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un!" suara Nabila berteriak kesakitan, reflek aku menoleh ke arahnya. Sejak kapan Nabila dan Shinta mengikuti ku? Aku tidak menyadarinya, karena pikiranku fokus menghindari orang yang datang.
"Soalnya aku lihat Mbah Kholil.." jawab Shinta berusaha menolong Nabila bangun.
"Aduhhhhh sakitttt...!" teriak Nabila kembali duduk sambil memegang pergelangan kakinya. Sepertinya terkilir, tapi aku tidak berani menolong karena yang kuhadapi seorang santriwati yang sangat menjaga auratnya.
"Aduh, bagaimana ini, kita sudah terlalu jauh masuk hutan..!" kata Farhan terlihat panik.
"Masa? Kita kan belum lama jalan." kataku heran melihat keadaan sekelilingku yang dipenuhi pohon pohon liar yang tumbuh tidak beraturan dipenuhi oleh semak semak tinggi.
"Iya, kita sudah jalan setengah jam lebih, masa kamu tidak sadar?" tanya Farhan heran.
"Kenapa kalian yang sudah lama tinggal di sini tidak memberitahuku?" tanyaku jengkel. Aku sama sekali tidak sadar berjalan begitu lama, bahkan aku sama sekali tidak sada Nabila dan Shinta mengikutiku.
Ini soal kebiasaanku setiap kali melakukan pencurian dan perampokan, aku akan berlari sejauh mungkin dari Tempat Kejadian Perkara untuk menghilangkan jejak. Kadang kadang aku berlari tanpa tujuan sehingga menemukan tempat yang kurasa aman, wajar kalau sekarangpun aku berjalan menjauhi TKP selama setengah jam lebih.
"Aku takut diusir karena sudah sering kena hukum Mbah Kholil, makanya aku lupa memperingatkan kamu." jawab Farhan tertawa kecil.
"Kamu kenapa terus ngikutin aku?" tanyaku ke Shinta yang menyerah menolong Nabila bangun. Karena setiap kali Nabila berdiri, dia kembali duduk menahan sakit.
"Kan sudah aku bilang, aku melihat yang datang adalah Mbah Kholil." jawab Shinta jengkel. Dia berjongkok sambil memijat kaki Nabila yang sedang kesakitan.
"Lalu, apa masalahnya?" tanyaku heran.
"Kalau Mbah Kholil nanya, kenapa Nabila nangis, aku harus jawab apa?" tanya Nabila.
"Nabila jatuh, atau apa saja." kataku jengkel. Hal sepele seperti itu kenapa tidak bisa mereka lakukan.
"Kamu pikir kami bisa berbohong ke Mbah Kholil? Kamu pikir , kami bisa membohongi Mbah Kholil? Hei, kami berbeda dengan kamu yang sudah biasa berbohong, kami tidak pernah bohong karena akan menghapus pahala hafalan Qur'an kami." jawab Shinta ketus.
"Aduhhhh. Sakit, kenapa kalian malah bertengkar." kata Nabila kembali menangis, aku tidak tahu dia menangis karena sakit, ketakutan atau menyesal sudah mengikutiku masuk hutan.
"Jalan pelan pelan, kita pulang." kata Shinta kembali berusaha membantu Nabila bangun, sekarang aku baru menyadari kondisi Nabila yang kesakitan membuatku merasa iba.
"Aduhhhh, sakiitttt..!" kata Nabila menggigit bibir menahan sakit saat mulai jalan tertatih tatih. Rasa sakit rupanya tidak mampu ditahannya, dia limbung dan jatuh sehingga Shinta tidak mampu menahan beban berat tubuhnya ikut terjatuh nyaris menindih Nabila.
"Kita istirahat ke gubuk yang ada di sana, aku pulang nyari bantuan." kata Farhan menunjuk ke arah jalan setapak yang tidak terlihat karena tertutup semak semak liar.
"Jangannnn!" cegah Nabila dan Shinta berbarengan membuatku merasa jengkel kenapa mereka terlalu bodoh dan memegang teguh aturan dalam kondisi seperti ini. Mereka seharusnya berpikir rasional.
"Sudah, kita ke gubuk untuk istirahat. Atau aku gendong kamu pulang ke Pondok." kataku tegas, sudah saatnya aku mengambil keputusan apalagi aku melihat suasana yang semakin gelap, sebentar lagi pasti hujan. Kami harus mencari tempat berteduh. Aku melihat jam, sudah jam 2:30. Tanpa menunggu jawaban dari kedua gadis yang merepotkan itu, aku mengangkat Nabila yang sedang duduk dengan kaki tertekuk.
"Lepassss....!" teriak Nabila kaget, dia berusaha melepaskan diri dari gendonganku sehingga nyaris membuatnya terjatuh. Reflek tangannya memeluk leherku sehingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang alami tanpa parfum. Aroma yang membuatku merasa nyaman, jauh sekali dibandingkan aroma parfum yang menusuk hidung.
"Buruan, kita cari tempat berteduh." kata Shinta untuk pertama kali dia tidak protes dengan apa yang kulakukan, bahkan sepertinya dia malah mendukung keputusanku menggendong Nabila yang jelas jelas kesulitan berjalan.
"Ikuti aku..!" seru Farhan yang rupanya sangat mengenal daerah ini, dia berjalan mendahuluiku.
"Kamu jalan di depanku." kataku ke Shinta karena merasa bertanggung jawab melindunginya. Di tempat seperti ini bisa saja ada binatang hutan yang mencelakainya tanpa sempat aku melindunginya.
Benar seperti yang dikatakan Farhan, kurang lebih setelah kami berjalan seratus meter, ada sebuah gubuk yang biasa digunakan beristirahat. Sebenarnya aku merasa janggal, kenapa ada gubuk di tengah hutan dan fungsinya untuk apa? Aku terpaksa menyimpan rasa ingin tahuku yang tidak berguna. Perlahan aku meletakkan tubuh Nabila di atas bale bale bambu, berbarengan dengan hujan yang turun dengan derasnya.
"Alhamdulillah, untung kita sudah sampai sini." kata Shinta menarik nafas lega.
Aku tidak memperdulikan Shinta, aku semakin penasaran dengan gubuk seluas 3 x 3 meter, kenapa ada ditengah hutan? Otakku sebagai seorang residivis beranggapan, tempat ini adalah tempat persembunyian penjahat.
"Aduh, sakitttt..!" kembali Nabila merintih kesakitan. Sementara keadaan sekeliling kami semakin gelap dan hujan semakin deras disertai petir membuat Shinta beberapa kali mengucapkan istighfar. Hujan lebat di hutan sangat berbeda dengan di rumah, suaranya bergemuruh menakutkan siapa saja yang belum terbiasa.
"Aku pijit kakimu, sepertinya terkilir." kataku tanpa meminta persetujuan, aku memegang telapak kaki Nabila yang halus dan tanpa memberinya aba aba aku menarik kaki Nabila sambil kuputar agar posisi sendinya kembali ke tempat semula.
"Astaghfirullah, sakitttt... Ya Allah !" Nabila berteriak histeris menyaingi suara gemuruh hujan yang menakutkan. Aku bersyukur pernah mempelajari ilmu silat Cimande dan sedikit belajar pijat Cimande yang terkenal bisa menyambung tulang yang patah, sehingga aku bisa menolong Nabila mengembalikan sendinya yang terkilir.
"Aku harus ke pondok mencari bantuan..!" kata Farhan tanpa menunggu jawaban dia meloncat turun ke bawah guyuran hujan deras.
"Farhan, masih hujan..!" aku berusaha mencegah Farhan yang terus berjalan cepat meninggalkan kami. Hebat, solidaritasnya cukup tinggi sehingga tidak memperdulikan hujan angin disertai petir. Bukan petir yang membuatku takut, tapi dahan patah bisa mencelakai Farhan.
"Kamu nggak usah khawatir, Farhan tahu seluk beluk hutan ini bahkan dia sering bermalam di sini dengan Rahmat." kata Shinta membuatku heran kenapa dia tahu tentang hal itu.
"Kamu tahu dari mana?" tanyaku penasaran. Nabila kulihat merebahkan tubuhnya mepet pada dinding.
"Kakimu masih sakit?" tanyaku iba. Aneh, kenapa aku sekarang mempunyai rasa iba dengan penderitaan orang. Shinta ikut menatap Nabila, sama sepertiku dia ingin tahu keadaan sahabatnya.
"Alhamdulillah sudah mendingan, kamu punya ilmu sangkal putung, ya?" tanya Nabila takjub.
"Sangkal putung itu, apa?" tanyaku tidak mengerti.
"Ilmu untuk menyambung tulang yang patah, di sini namanya sangkal putung." kata Shinta menerangkan.
"Och begitu, aku pernah belajar ilmu Cimande." jawabku bangga, kebanggaan yang sia sia karena kedua gadis ini tentu tidak tahu Cimande. Cimande yang sengaja aku pelajari untuk membuatku semakin ditakuti.
Suara petir membuat Shinta terkejut, tanpa sadar dia memelukku dengan erat, sehingga aku bisa merasakan payudaranya yang lunak menekan tubuhku. Aku balas memeluknya, memeluk tubuh santriwati yang tidak pernah tersentuh pria. Keberuntungan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku mencium kepalanya yang tertutup jilbab lebar, kapan lagi aku mendapatkan kesempatan seperti ini.
"Astaghfirullah, apa yang kalian lakukan?" tegur Nabila menyadarkan Shinta, dia berontak dari pelukanku.
"Ma maaf...!" kata Shinta gugup, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seharusnya Nabila membiarkan moment tadi, memeluk tubuh indah santriwati yang tertutup rapat. Aku sudah bosan dengan tubuh seorang pelacur.
"Farhan lama, ya...!" kataku berusaha mencairkan suasana yang berubah menjadi kaku.
"Jauh, apalagi dalam kondisi seperti ini." jawab Nabila duduk bersandar pada dinding. Matanya terang terangan menatapku, tatapannya terasa aneh.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Kamu sepertinya sudah sering ngintip, ya?" tanyaku teringat kembali dengan percakapan Nabila dan Shinta.
"Bukan aku saja, Shinta juga suka ngintip." jawab Nabila membuatku terbelalak takjub, ternyata hobi mengintip bukan hanya monopoli santri pria, bahkan santri wanita pun mempunyai kecenderungan yang sama.
"Ehhh, aku baru sekali...!" jawab Shinta gugup, dia menyembunyikan wajahnya di dengkul. Berbeda dengan Nabila yang sudah mulai berani menatapku, mungkin karena merasa aku sudah mengetahui rahasianya.
"Punyaku gede, ya..!" kataku menatap Nabila membuat gadis itu menunduk malu.
"Aku nggak liat itu mu, tapi liat.,!"
"Ingat, kamu sudah janji tidak akan mengatakan hal itu. Aku bisa melaporkanmu ke Mbah Kholil sudah mengintipku mandi." kataku mengingatkan janjinya di bawah pohon mangga.
"Iyyya, kamu juga sudah janji tidak akan lapor." kata Nabila gelisah.
"Kamu harus menepati janjimu, Mas. Janji adalah hutang." kata Shinta menatap air hujan yang tidak menunjukkan tanda tanda reda.
"Aku bilang nggak akan melaporkan Nabila asalkan Nabila mau memenuhi keinginanku." jawabku dengan jantung berdebar kencang, aku ragu untuk mengutarakan keinginanku.
"Apa?" tanya Nabila pelan, suaranya tertutup oleh bunyi petir yang memekakkan telinga.
"Kamu tadi bilang apa?" tanyaku setelah suara petir hilang.
"Aku harus apa?" tanya Nabila, suaranya nyaris tidak terdengar.
Aku kembali ragu untuk mengatakan apa yang terpikir olehku. Kedatanganku ke sini untuk bersembunyi bukannya menambah masalah yang sedang kuhadapi. Resikonya terlalu besar apa bila rencanaku gagal.
"Kok kamu malah diam? Asal kamu tidak minta macam macam pasti aku kabulkan." kata Nabila tegas, rupanya dia sudah melihat gelagat buruk yang ada di dalam otakku.
"Kamu janji, kalau kamu menolak keinginanku ini tetap jadi rahasia kita." aku memaki kebodohanku, kenapa harus bicara begitu. Ke mana kegarangannku yang selalu berhasil menakut nakuti korbanku.
"Iya, aku janji." jawab Nabila cepat, rupanya dia menyadari kondisiku yang tertekan.
"Coba sekarang apa yang kamu mau?" tanya Shinta membuatku semakin tertekan. Bodoh, kenapa aku harus mengatakan niatku di hadapan Shinta, itu artinya seperti oray neangan panggebuk ( Ular yang datang untuk dipukul kayu ).
"Nanti saja, kita obrolin berdua." kataku mengulur waktu. Hujan mulai reda.
"Bilang sekarang, atau tidak sama sekali." kata Shinta membuatku jengkel, kenapa dia lebih dominan, sedangkan urusanku dengan Nabila.
"Aku nggak ada urusan dengan kamu, Shin." kataku jengkel, tidak seharusnya dia ikut campur urusan kami.
"Urusanku, urusan Shinta juga." jawaban Nabila membuatku tidak berkutik.
"Sekarang, katakan syaratnya?" kembali Shinta mendesak, membuatku marah.
"Aku pengen ngentot denganmu...!" seruku jengkel dan saat aku menyadari apa yang baru saja aku ucapkan sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
ns216.73.217.39da2


