"Hei, kenapa kamu menamparku?" tanyaku jengkel sambil memegang pipiku yang panas bekas telapak tangan Shinta, seperti yang selalu dinyanyikan Betharia Sonata. Gadis secantik dia ternyata tamparannya sangat keras dan menyakitkan.
"Jaga mulutmu, kamu pikir kami cewek apa? Kami ini santri yang selalu menjaga aurat dan syahwat kami." jawab Shinta marah karena permintaanku memang sangatlah tidak pantas.
"Kalau itu syaratnya, jawabanku tidak. Kamu boleh lapor ke Mbah Kholil, kami akan pergi dan cari pondokan lain agar tidak bertemu wajah bejadmu. Pikiranmu sama kotornya dengan tato di tubuhmu." kata Nabila, rahasia tatoku akhirnya terbongkar tanpa bisa kucegah, Nabila membuka rahasiaku karena kemarahannya yang tersulut oleh permintaanku. Kesalahannya yang kecip tidak sebanding dengan permintaanku yang mengada ada.
"Apa, Santri baru ini punya tato!" seru Shinta membuatku terbungkam. Aku berusaha menahan kemarahanku yang akan memperparah keadaanku.
"Kenapa kamu membuka rahasiaku? Ini adalah aib, apakah kamu tidak pernah diajari untuk menutup aib saudara semuslimmu?" tanyaku menahan marah, aku harus menekan mereka dengan pengetahuan agamaku yang cetek agar rahasiaku tidak semakin tersebar. Aku harus mengalah sementara waktu, menekan birahiku terhadap kedua gadis cantik ini.
"Kamu yang cari masalah." jawab Nabila ketus, bersamaan dengan datangnya suara petir terbesar yang seperti membelah bumi.
"Astaghfirullah......!" Nabila dan Shinta berteriak histeris, mereka saling berangkulan ketakutan.
Aku menatap iri, kenapa Shinta tidak merangkulku seperti tadi agar mencairkan suasana yang berubah menjadi kaku karena permintaanku yang terburu buru. Seharusnya aku bisa menyusun rencana lebih matang agar bisa menikmati tubuh kedua gadis cantik ini. Kebodohan yang seharusnya tidak kulakukan, kedua gadis ini akan semakin menjauh dariku.
Aku ikut menjauh dari kedua gadis itu, duduk bersender ke dinding bilik yang sudah mulai reyot. Mataku berkeliling melihat suasana hutan yang terasa mencekam dan membuatku gelisah, kesunyian membuatku tidak menyukai hutan maupun alam pedesaan. Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 4 : 30, hampir dua jam Farhan meninggalkan kami. Di hutan, jam Empat seperti sudah mendekati Manghrib karena sinar tidak bisa menembus rimbunnya daun daun. Hari semakin gelap, aku kesulitan melihat jam yang melingkar di tanganku. Kenapa Farhan belum juga datang dengan bantuan yang dijanjikannya, semoga saja dia tidak apa apa. Aku melihat Nabila dan Shinta duduk berdempetan, mereka sepertinya swmakin ketakutan setelah mendengar permintaanku.
"Kok Farhan belum juga datang, ya.!" kata Nabila memecahkan keheningan yang terjadi cukup lama setelah pertengkaran singkat kami.
"Jangan jangan Farhan nyasar!" kataku semakin gelisah. Berada di tengah hutan dengan kedua gadis santriwati yang cantik, bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Syahwatku sewaktu waktu bisa membutakan akal sehatku dan memperkosa mereka, itu artinya aku semakin jauh terperosok dalam masalah yang lainnya.
"Tidak mungkin, Farhan sudah sangat hafal daerah ini, dia sering ke luar masuk ke sini dengan Rahmat untuk mencari kayu bakar buat kebutuhan podok." jawab Shinta menyanggah dugaanku.
"Bisa saja Farhan tertimpa batang pohon atau digigit ular, semuanya bisa terjadi." kataku bergidik ngeri membayangkan kejadian yang baru saja kuucapkan.
"Dasar gendeng, bukannya berpikir positif malah menakut nakuti orang. Ingat, ucapan adalah doa." kata Shinta mengomel.
"Aku takutttt...!" kata Nabila memeluk Shinta. Suasana semakin gelap, sebentar lagi mata kami tidak akan bisa melihat apa apa. Gelap gulita tanpa cahaya.
"Tenang, ada aku." kataku berusaha menenangkan Nabila yang sangat ketakutan. Aku harus bisa mendapatkan rasa sjmpatik dari mereka.
"Justru aku takut sama kamu, bisa saja.... Ya Allah, lindungi kami dari kezholimin manusia." kata Nabila pelan, tapi suaranya tetap terdengar jelas olehku, apa lagi hujan sudah mulai berhenti.
"Jangan takut, aku tidak akan memperkosa kalian." jawabku jengkel. Memang benar aku seorang perampok, tapi aku bukan pemerkosa. Aku selalu membayar setiap wanita yang melayani nafsu seksku, kecuali Dewi.
"Omongan orang bertato tidak bisa dipercaya. Ngaku beriman, tapi tubuhnya di gambar. Itukan ciri ciri orang munafik." jawab Shinta ketus membuatku nyaris tidak bisa menahan diri. Kalau saja saat ini aku sedang tidak bersembunyi dari kejaran polisi, dia pasti sudah kuperkosa tanpa belas kasihan.
"Kita pulang, yuk..!" ajak Nabila setelah hujan berhenti atau mungkin belum. Daun daun pada pohon yang tumbuh liar menahan air hujan langsung jatuh ke permukaan tanah, tapi itu bukan berarti hujan sudah berhenti sama sekali. Sulit untuk memastikannya di tengah hitan seperti ini.
"Gelap, kita tidak bisa melihat jalan, nanti malah nyasar." jawab Shinta menyadarkanku, suasana sudah semakin gelap. Aku terbenam di tengah hutan bersama dua gadis cantik, entah apa yang akan terjadi apa bila Farhan tidak kembali untuk menolong kami.
"Tapi kita harus pulang..!" kata Nabila putus asa.
Suasana sudah benar benar gelap, aku menyalakan rokok, api muncul dari korek menerangi tempat ini sebelum akhirnya kembali gelap, sekali kali saat aku menghisap rpkok, ada sedikit cahaya dari ujung rokok yang kuhisap.
"Mas, kenapa kamu tidak membuat api unggun?" tanya Shinta menyadarkanku apa yang harus aku lakukan dalam situasi seperti sekarang.
"Iya...!" jawabku bersemangat. Tapi nanti dulu. Ke mana aku harus mencari kayu bakar sedangkan tempat ini sudah sangat gelap dan basah oleh sisa sisa air hujan. Kalaupun aku bisa mendapatkan ranting atau kayu atau apa pasti dalam keadaan basah, tidak mungkin bisa aku bakar.
"Bikin kayu bakar pakai, apa?" tanyaku putus asa.
"Pakai kayu donk, masa pake baju kamu." jawab Shinta ketus. Aku menoleh ke arahnya, sia sia karena wajahnya sudah mulai tidak terlihat olehku.
"Bagaimana aku nyari kayu bakar, melihat kamu yang besar saja aku tidak bisa. Lalu bagaimana caranya aku mencari kayu bakar yang tidak terlihat." jawabku mengikuti suara Shinta yang ketus.
Shinta ataupun Nabila terdiam mendengar jawabanku yang tidak bisa mereka sanggah. Kegelapan ini terasa sangat tidak nyaman, begitu mencekam. Kami hanya bisa mendengar suara serangga yang berbunyi nyaring seakan ingin mentertawakan kami yang terjebak di sebuah gubuk yang berada di tengah hutan.
"Kenapa kamu tidak mencari kayu bakar tadi..!" kata Shinta seperti menyalahkanku dan aku tidak berniat untuk beradu mulut dengannya, sudah tidak ada gunanya. Aku turun dari gubuk menimbulkan bunyi bambu yang berderit kencang dan mengagetkanku.
"Mas Zaka, mau ke mana?" tanya Nabila panik mengetahui aku turun dari suara dan gerakkan bambu yang didudukinya.
Aku tidak mengacuhkan pertanyaan Nabila. Aku menyalakan korek api dan mengarahkannya ke bawah bale bale, siapa tahu ada sesuatu yang bisa aku bakar untuk menerangi tempat ini dan mengusir hawa yang semakin dingin. Alhamdulillah, aku melihat setumpuk ranting kering yang sepertinya sengaja di simpan untuk bermalam di tempat ini, kondisi tanah di bawah gubuk memang di buat lebih tinggi agar tidak terendam air saat hujan. Benar benar gubuk yang sangat mencurigakan, karena di sebelah gubuk ada tungku tanah liat untuk memasak. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang.
"Ada kayu bakar...!" kataku kegirangan, kami tidak akan melewati malam dalam keadaan gelap gulita.
"Alhamdulillah, buru nyalakan api." kata Nabila dan Shinta berbarengan.
"Oke, Tuan Putri." jawabku berusaha mengusir kecanggunganku setelah perdebatan tadi. Aku mengambil ranting kering dan juga sabut kelapa kering yang banyak berserakan, aku membawanya ke tungku yang akan kugunakan untuk menyalakan api. Suprise, ternyata ada panci dan penggorengan, ember berisi air dan gelas kaleng serta dua buah lampu minyak tanah dari toples kecil dan kaleng.
"Sekarang kita punya lampu dan bisa masak air." kataku berteriak kegirangan. Aku segera menyalakan lampu dari toples kecil dan ada gantunganya.
"Alhamdulillah...!" Nabila dan Shinta terlihat lega melihatku menggantung lampu.
Aku kembali ke tungku untuk memasak air, saat mengambil air dari ember itulah aku menemukan beras di dalam plastik yang ditaruh di atas tutup ember, ini semua rejeki anak sholeh, perut kami tidak akan kelaparan.
"Bil, kita shalat Maghrib." kata Shinta mengusik keasikanku menyalakan api untuk memasak air. Shalat, kembali menjadi kegiatan rutinku sejak menginjakkan kaki di pondok.
"Iya, kita tayamum saja, kamu tidak shalat Mas?." tanya Nabila membuyarkan lamunanku.
"Kalian dulu, tempatnya tidak cukup." kataku beralasan.
==≠========
Kita makan..!" kataku meletakkan nasi dan ikan asin yang kutemukan, tidak banyak memang namun cukup untuk mengganjal perut kami yang kelaparan.
[IMG]
"Alhamdulillah...!" kami berbarengan mengucapkan hamdalah setelah dalam sekejap nasi yang tidak seberapa habis berpindah ke perut kami.
Setelah makan, aku duduk melamun melihat keadaan sekelilingku yang sangat gelap, cahaya lampu yang kugantung tidaklah cukup membuat sekeliling kami menjadi terang. Aku tidak tahu, apakah aku beruntung terjebak di tengah hutan dengan dua gadis cantik atau justru sebuah petaka karena setiap saat aku bisa berubah menjadi monster yang akan memperkosa mereka.
"Sepertinya Farhan tidak akan kembali." kata Shinta membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya yang duduk di sebelahku. Aku menoleh ke belakang, Nabila sudah meringkuk di belakang Shinta.
"Iya, seharusnya kalian tidak mengikutiku sehingga kalian tidak tertimpa nasib sial seperti sekarang terjebak di tengah hutan." kataku menatap Shinta, kecantikannya semakin menonjol di cahaya lampu yang remang remang.
[IMG]
"Istighfar, jangan bilang sial. Semuanya terjadi atas kehendakNya dan kita tidak boleh berburuk sangka apa lagi mengatakan kata sial." kata Shinta memperingatkanku.
"Aku mau kencing," kataku mengacuhkan perkataannya, perkataan khas santri yang penuh dengan nasehat.
"Aku ikut, aku juga pengen kencing." kata Shinta mengikutiku berjalan ke samping gubuk, aku berbalik ke arahnya.
"Kamu mau lihat aku kencing?" tanyaku menggoda, gairahku bangkit tidak terkendali melihat Shinta berdiri di hadapanku di tempat seperti ini.
"Jangan sembarangan, aku juga mau kencing." bentak Shinta membuatku tertawa, kenapa gadis ini tidak sadar. Tidak mungkin kami kencing bersama kecuali dia sengaja memancingku.
"Kamu tidak malu kencing bareng, atau jangan jangan..?" aku semakin menggoda Shinta, berusaha menekan gejolak gairah yang setiap saat bisa membuatku lupa diri.
"Jangan kurang ajar, aku tidak akan lihat kamu dan kamu jangan lihat aku kencing." jawab Shinta kembali ketus, gadis ini terlalu lugu sehingga dia tidak sadar bahaya yang sedang mengintai.
"Ya sudah, aku dulu." kataku tidak mau membuat keributan yang akan membangunkan Nabila. Aku membelakangi Shinta, sengaja aku berlama lama membuka resleting dan kancing celana, barulah aku mengeluarkan kontolku yang sudah tegang.
"Lama amat, gantian aku sudah nggak tahan." protes Shinta melihatku berlama lama.
"Kamu bisa kencing di sebelah sana, aku nggak akan bisa lihat kamu karena gelap." kataku menunjuk ke arah sampingku, ada sebuah pohon besar yang bisa digunakannya membuang hajat.
"Awas, kamu jangan ngintip." kata Shinta menghampiri pohon besar yang berjarak dua meter dari tempatku berdiri.
"Sudah aku bilang tidak akan bisa lihat karena gelap." jawabku melihat ke arah Shinta, samar samar aku melihat Shinta mengangkat rok lebar dan menurunkan celana dalamnya dengan cepat dan kemudian berjongkok. Aku menyesal, kenapa kejadiannya di tempat gelap sehingga aku tidak bisa melihatnya. Seharusnya momen seperti ini terjadi di tempat terang sehingga aku bisa melihat semuanya.
"Mas, tolong ambilkan air buat cebok." kata Shinta membuyarkan lamunanku.
"Iya..!" jawabku tanpa memasukkan kontolku yang bergoyang saat berjalan cepat mengambil air dari ember menggunakan batok kelapa yang dijadikan gayung.
"Jangan lihat !" kembali Shinta melarangku untuk melihat ke arahnya, hal yang tidak aku perdulikan.
Aku tetap berada di tempatku sampai Shinta selesai membersihkan memeknya dan berdiri, aku yang sudah sangat kalap bergerak cepat merangkul Shinta dari belakang dan meremas payudaranya dengan kasar.
"Zakaria, apa yang kamu lakukan....!" Shinta meronta berusaha melepaskan diri, tapi tenagaku lebih kuat merangkul payudaranya yang ternyata cukup besar.
"Aku nggak akan merkosa kamu, cuma ingin megang payudara kamu..!" kataku sambil membekap mulutnya dengan tangan kiri agar tidak berteriak membangunkan Nabila. Tangan kananku terus meremas payudaranya dengan kasar sambil menciumi lehernya yang tertutup jilbab.
"Aduhhhh...!" aku berteriak kesakitan saat Shinta berhasil menggigit tanganku yang membekap mulutnya.
"Lepas, nanti aku berteriak...!" kata Shinta mengancam sambil berusaha meronta melepaskan diri.
Ancaman yang sedikit banyak mempengaruhiku, refleks aku melepaskan Shinta karena takut dia akan berteriak. Shinta langsung berbalik menghadapku dan aku baru sadar dengan kebodohanku tidak akan ada yang akan mendengar teriakan Shinta kecuali Nabila dan aku yakin bisa menaklukkan ke dua santriwati cantik ini untuk melayani syahwat yang sudah membutakan akal sehatku. Persetan dengan semua resiko yang harus aku alami, kontolku yang sudah keluar dari sangkarnya membutuhkan memek Shinta untuk memuaskan dahaganya.
"Istighfar. mas.. Jangan biarkan setan mengotori hatimu.!" kata Shinta sambil menaikkan celana dalam yang berada di balik rok lebarnya.
Kesempatan yang tidak aku sia siakan, aku mendorong Shinta ke arah pohon besar yang berada di belakangnya. Aku bergarak cepat mengangkat rok lebarnya dan berjongkok sebelum Shinta tersadar dari rasa terkejut, wajahku sudah terbenam di selangkanganggya, berusaha menggapai memeknya.
"Astaghfirullah hal azdim, apa yang kamu lakukan?" teriak Shinta menjambak rambutku agar menjauh dari memeknya yang masih basah oleh air. Beruntung, rambut cepakku membuatnya tidak berhasil menjambak rambutku.
Kepalaku semakin terbenam maraih memeknya, lidahku menjulur berhasil menyentuh itilnya yang terselip di celah sempit yang aku yakin sangat indah saat melihatnya di tempat terang. Aku menarik celana dalam Shinta yang berada di atas dengkul dan menariknya dengan cepat hingga mata kakinya, aku mengangkat satu kaki Shinta membuatnya hampir jatuh kalau saja tidak berpegangan pada kepalaku.
"Astaghfirullah, dosa jangan lakukan ini....,!" seru Shinta putus asa saat lidahku menyentuh memeknya yang belum tersentuh oleh siapapun, aku pria beruntung yang berhasil menyentuhnya dengan paksa, lidahku berusaha menggapai lobang sempit yang harus menampung kontolku malam ini walau resikonya aku akan diusir dari pondok. Resiko yang menurutku sangat sepadan.
"Jangannnn!" seru Shinta putus asa saat lidahku berhasil menyentuh selaput daranya, jari jempolnya menggesek itilnya. Sayang seribu kali sayang, ditempat gelap aku tidak bisa melihat bentuk memek Shinta, suatu saat aku menikmati memek Shinta di tempat terang agar aku bisa puas mengagumi keindahan memeknya. Ya, waktunya akan segera tiba setelah aku berhasil merobek selaput dara Shinta malam ini, harus berhasil.
"Mas Zaka, Nabila, Shinta kalian masih ada di sana?" suara teriakkan orang memanggil kami membuatku terkejut dan melepaskan Shinta.
Refleks aku berdiri mencari sumber suara beberapa orang yang memanggil kami saling bersahutan. Aku menoleh ke arah Shinta yang segera memakai celana dalamnya.
"Kami di sini...!" teriak Shinta membuatku sangat panik, bagaimana kalau dia menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi kepada mereka, maka itu artinya bencana buatku.
Shinta bergerak cepat meninggalkanku yang berdiri mematung menatap kepergian Shinta. Dari arah jalan setapak, aku melihat sebuah senter bergerak semakin dekat.
"Alhamdulillah kalian tidak apa apa..!" kata Ahmad yang memimpin rombongan 5 orang Santri mencari kami.
"Mana Farhan?" tanyaku heran karena tidak melihat Farhan bersama mereka.
"Farhan tidak bisa ke sini, tadi waktu pulang dia terjatuh sehingga kakinya terkilir." jawab Ahmad menerangkan kejadian yang menimpa Farhan.
=============
"Kok kamu bisa jatuh?" tanyaku keesokan harinya, pertanyaan yang sebenarnya hanya untuk menenangkan kegelisahanku.
Bagaimana kalau Shinta melaporkan kelakuanku yang sudah melecehkannya semalam, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Mbah Kholil padaku. Diusir adalah hukuman yang sangat ringan, tapi kalau masalah ini sampai ke Polisi maka pelarianku hanya berakhir sia sia.
"Kamu dari tadi gelisah, ada apa?" tanya Farhan balik bertanya kepadaku. Andai Farhan tidak ada di kamar dan hanya aku sendiri, aku sudah berkemas sejak tadi pagi dan pergi dari pondok sebelum masalahku berlanjut ke kantor polisi.
"Tidak ada apa apa, cuma lagi kangen Ibuku saja." jawabku berpaling dari wajah Farhan, jangan sampai dia membaca ekspresi wajahku. Aku melihat kaki Farhan yang bengkak dilumuri tumbukan beras kencur yang baunya memenuhi ruangan.
"Seharusnya kemarin kamu tidak perlu meninggalkan kami untuk mencari pertolongan." kataku menyesli tindakan bodoh Farhan sehingga terjadilah peristiwa yang tidak akan terjadi kalau Farhan tidak meninggalkan kami.
"Kalau aku tidak pulang duluan, aku takut kena hukum Mbah Kholil lagi. Aku sudah terlalu sering dihukum, Mbah Kholil pasti mempunyai batas kesabaran." jawab Farhan membela diri dari kesalahan yang aku bebankan kepadanya.
"Mas Zaka, dipanggil Mbah Kholil," kata Ahmad yang masuk membawa berita yang membuatku semakin panik, habislah aku.
"Iiiiiya, Mas...!" jawabku gugup tidak berani menatap wajahnya.
Aku keluar dengan langkah yang seperti melayang, kakiku seperti menginjak ruangan hampa, aku merasa seperti narapidana mati yang berjalan mendatangi regu eksekutor yang akan menembaknya mati. Bahkan saat aku berpapasan dengan Rahmat yang baru datang, aku tetap berjalan seperti mayat hidup hingga tepukan keras di pundak menyadarkanku.
"Mas, kenapa aku tanya berkali kali kok diam saja?" tanya Rahmat heran. Dia menatapku penuh selidik.
"Oh, nggak apa apa." jawabku buru buru meninggalkan Rahmat sebelum dia mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan. Aku sudah pasrah, apapun yang akan terjadi, semuanya adalah kesalahanku yang terlalu bodoh.
"Asssalam mu'alaikum...!" aku mengucapkaan salam di depan pintu rumah Mbah Kholil yang terbuka lebar. Aku nyaris tidak bisa bernafas melihat Shinta dan Nabila duduk mengapit Nyai Jamilah. Habislah sudah, semuanya sudah berakhir. Satu satunya harapanku semuanya diselesaikan dengan cara damai tanpa membawa pihak kepolisian.
"Wa 'alaikum salam..... Masuk Zaka..!" jawab Mbah Kholil, si hakim yang akan segera menjatuhkan vonis atas semua perbuatanku yang tidak termaafkan.
ns216.73.217.69da2


