"Maksud Mbah, apa saya harus pergi dari tempat ini?" tanyaku gelisah, aku merasa takut harus meninggalkan tempat ini walau aku sempat menyesal datang ke tempat ini. Tapi kenapa aku sekarang malah menjadi takut. Padahal dulu aku akan bersorak kegirangan saat diusir dari pondok.
"Ndak ada yang akan mengusir kamu dari tempat ini, karena tanah yang kamu pijak, langit tempatmu bernaung adalah milik Allah dan Aku tidak mempunyai hak untuk mengusirmu." jawab Mbah Kholil, suaranya pelan namun terdengar sangat jelas. Perlahan aku memberanikan diri melihat wajahnya yang tenang, wajah yang tidak pernah berprasangka buruk walau sesulit apapun situasi yang sedang di hadapinya.
"Lalu?" tanyaku lagi masih belum mengerti arah pembicaraanya yang penuh dengan makna, terlalu berat untuk seorang residivis yang otaknya dipenuhi tipu muslihat licik seperti aku.
"Kamu bebas tinggal di sini sampai kapanpun yang kamu mau, apa lagi kamu mempunyai dasar yang cukup untuk mempelajari agama." kata Mbah Kholil dengan senyum yang menyejukkan hatiku.
"Jadi Mbah tidak akan mengusir aku?" tanyaku lagi untuk memastikan.
"Tidak, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sekeras apapun kamu berlari semuanya akan sia sia dan kalaupun kedatanganmu untuk meminta pertolonganku maka kamu datang ke tempat yang salah, aku tidak bisa menolongmu. Karena aku sendiri butuh pertolongan Allah, aku masih berlindung dari semua tipu daya jin dan manusia, tipu daya syetan yang terkutuk." jawab Mbah Kholil membuatku semakin takluk dengan pemahamannya yang luar biasa.
"Terimakasih Mbah, saya ingin memahami agama lebih dalam lagi!" jawabku yakin, entah nanti setelah situasinya aman.
"Kenapa kamu tidak mengajak Dewi sekalian ke sini untuk ikut bertobat, Zak..!" tanya suara Nyai Jamilah dari dalam, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya yang cantik.
"Ech itu, saya nggak tahu..!" jawabku gugup, kenapa baru mendengar suaranya saja sudah hatiku berdesir aneh mengingatkanku saat pertama kali naksir teman sekelasku saat SMP.
"Ya sudah, kamu bisa pergi." kata Mbah Kholil membuatku merasa malu dengan kelakuanku.
"Inggih, Mbah." kataku sambil mencium tangan Mbah Kholil yang tetap tersenyum melepas kepergianku.
===========
"Mbah Kholil bicara apa, Zak?"tanya Farhan dan Rahmat berbarengan saat aku masuk ke dalam kamar.
" Nggak apa apa, cuma nanya masalah keluarga Nyari Jamilah di Bogor." jawabku sambil merebahkan tubuh di tikar dan menjadikan tanganku sebagai bantal.
"Och..!" kata Rahmat ikut merebahkan tubuhnya di sampingku. Di kamar hanya ada kami bertiga, santri yang lain mungkin sedang menghafal di masjid.
"Farhan, emang benar kamu sering ngintip?" tanyaku penasaran dengan kebenaran yang dituduhkan Nabila dan Shinta, dilihat dari gelagatnya aku sangat yakin itu benar sekali.
"Bukan cuma aku saja, Rahmat juga sering. Di sini satu satunya hiburan ya ngintip santri wanita." jawab Farhan tanpa merasa bersalah, seolah itu adalah hal yang wajar dilakukannya.
"Hiburan kok zina mata !" seruku heran. Selama di sini aku harus membiasakan diri bicara layaknya aku seorang santri sungguhan yang faham agama.
"Selama kamu mondok, apa kamu tidak pernah mengintip atau mencuri buah buahan dari masyarakat sekeliling pondok? Pasti kamu anak orang kaya jadi tidak pernah mencuri." tanya Farhan heran.
"Kalau ngintip sich sudah jadi hibi, kalau mencuri buah buahan tidak pernah." jawabku jujur, selama mondok di Bogor aku tidak pernah mencuri buah buahan karena aku mempunyai bekal yang cukup dari kiriman orang tuaku. Ayahku bukan orang miskin, walau tidak bisa dikatakan kaya. Yang jelas ayahku seorang pekerja keras yang bisa memenuhi kebutuhan kami sekeluarga.
Lalu kenapa aku justru menjadi seorang perampok sedangkan ayahku masih sanggup membiayaiku. Satu satunya kelemahan ayahku adalah kasar dan emosional, dia dengan mudahnya menggunakan tangan saat marah dan semuanya tidak sesuai dengan keinginannya.
"Berarti kamu punya cukup uang untuk makan selama mondok, sedangkan kami harus berhemat atau menahan lapar karena kehabisan uang." kata Rahmat membuyarkan lamunanku.
"Aku bukan anak orang kaya, ayahku seorang pedagang sayur di pasar dan penghasilannya cukup untuk kami sekeluarga." jawabku karena percakapan kami sudah melenceng dari soal mengintip santri wanita, pasti santri wanita yang mereka intip cantik.
"Nur itu pasti cantik, cantik mana dengan Nabila dan Shinta?" tanyaku berusaha menghindar pembicaraan tentang orang tuaku, rasanya menyakitkan.
"Sama cantiknya, tapi payudara Nur lebih besar." jawab Rahmat terlihat antusias saat mengatakan payudara Nur. Benar, ternyata Rahmat dan Farhan setali tiga uang, sama gilanya.
Tanpa sadar aku tersenyum membayangkan kejadian saat aku mondok di Sadeng, ada dua orang teman yang selalu mengikuti ke manapun aku pergi, termasuk mengintip. Entah ke mana mereka sekarang, bisa saja sekarang mereka sudah menjadi Ustad seperti harapan ke dua orang tua mereka, sedangkan aku selalu saja mengecewakan ke dua orang tua yang sudah bersusah payah membesarkanku.
"Aku ketiban pulung, seharusnya Rahmat yang diomelin Nabila dan Shinta karena dia yang sebenarnya ngintip Nur. Kalau aku belum sempat, sudah ketahuan oleh Nur." kata Farhan mengomel. Wajahnya yang jelek jadi semakin jelek saja.
"Hahaha, barang siapa yang bersekutu dalam sebuah kejahatan walau dia bukan pelaku utama nya, maka dia akan mendapatkan balasan yang sama dengan si pelaku. Hahahahaha...!" Rahmat tertawa terbahak bahak dan aku ikut tertawa lepas membayangkan kejadian tadi.
Tiba tiba aku terdiam kaget, sejak tadi aku sudah tertawa dua kali. Kapan aku terakhir tertawa? Setahun, dua tahun bahkan empat tahun yang lalu saat aku berada di pondok pesantren aku bisa tertawa lepas seperti sekarang. Setelah keluar pesantren, dunia hitam merenggut tawa dalam hidupku. Aku tidak bisa tertawa, bahkan senyum pun harus aku paksakan demi sebuah formalitas dalam pergaulan atau bisa juga sebagai topeng yang menutupi kehidupanku.
========
Hari ke dua, bisa kulalui dengan mudah. Aku seperti menemukan kehidupan baru yang selama ini sempat hilang dari hidupku, sesuatu yang sangat berharga yaitu tawaku. Rahmat dan Farhan berhasil mengembalikan tawa yang sempat hilang dari hidupku. Walau usia mereka lebih muda empat tahun dariku, tapi cara berpikir mereka lebih dewasa.
"Ke mana, Far ?" tanyaku ke Farhan yang sedang bersiap pergi.
"Wis, kamu ikut saja." jawab Farhan tidak mau menerangkan tujuannya.
"Buat apa plastik? Kita nggak nunggu Rahmat?" tanyaku curiga melihat Rahmat memasukkan kresek hitam yang cukup besar ke dalam lipatan sarungnya.
"Ngambil mangga sudah banyak yang mengkal, lumayan bisa buat beberapa hari. Rahmat lagi pulang dulu, bekalnya sudah habis." kata Farhan berjalan mendahuluiku yang terpaksa mengikutinya.
"Mengambil mangga di mana?" tanyaku berjalan di sisinya.
"Di kebun Mbah Kholil." jawab Farhan, langkahnya semakin cepat. Matanya berkeliling melihat situasi aman, persis gayaku saat akan mencuri.
"Sudah bilang?" tanganku untuk memastikan dugaanku, Farhan akan mencuri mangga.
"Nanti kita minta sama pohonnya, semua yang ada di atas bumi adalah milik Allah dan hanya kepada Allah tempat kita meminta. Meminta ke Makhluk yang dhoif ( Lemah ) itu syirik ( menyekutukan Allah )." Jawab Farhan membuatku hampir tertawa lepas kalau saja aku tidak melihat seorang gadis cantik dari kejauhan, kecantikan yang mampu menarik semua kesadaranku.
Aku terkejut saat Farhan menarik tanganku dengan keras, mengajakku berbelok ke arah semak semak. Aku ingin protes tapi tidak jadi melihat wajah Farhan yang tegang, aku mengikutinya bersembunyi. Sepertinya gadis cantik itu adalah Nur, itu sebabnya Farhan ketakutan.
"Jangan di sini.!" kataku pelan menarik tangan Farhan menjauh dari jalan yang akan dilalui oleh Nur, menghindar adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan dari pada harus bersembunyi dengan resiko diketahui.
"Kamu, kenapa harus takut kalau bukan kamu yang melakukannya waktu itu?" tanyaku heran setelah kami jauh dari jalan yang dilewati Nur.
"Itu tadi, Nur." jawab Farhan, nafasnya tidak beraturan bukan karena lelah, tapi karena rasa takutnya.
"Aku tahu, makanya kamu mengajakku bersembunyi." jawabku tenang. Pengalaman sebagai seorang pencuri yang beralih menjadi seorang perampok membuatku bisa menebak setiap kejadian yang sedang terjadi dengan ceumum..
"Kamu sudah pernah lihat Nur?" tanya Farhan heran. Dia menatapku curiga.
"Nggak perlu lihat dulu, dari tingkahmu yang ketakutan dan berusaha sembunyi, aku sudah bisa nebak." kataku tertawa geli melihatnya yang takjub. Ketakjuban yang sama yang diperlihatkan oleh teman temanku di Pesantren dulu, bagaimana aku berhasil meyakinkan mereka tentang berbagai macam ilmu yang kupelajari, walau itu semua bohong. Aku melakukannya agar mempunyai pengikut yang bisa kusuruh sesuka hatiku dan juga agar aku ditakuti oleh mereka.
"Bohong, kamu pasti punya hizib Asror, makanya kamu bisa tahu." kata Farhan mengaitkan tebakanku yang tepat dengan Hizib yang biasa kami amalkan di pondok pesantren, semacam ilmu kebatinan di kalangan umum.
"Sudah, nggak usah bahas masalah itu. Kita mau nyuri mangga di mana?" tanyaku berusaha menyudahi perdebatan kami yang akan menjadi panjang, Farhan pasti akan tetap pada pendiriannya, begitu pula aku.
"Itu...!" jawab Farhan menunjuk pohon mangga yang buahnya lebat, kami hanya perlu meloncati parit untuk sampai sana.
"Ayo....!" aku mendahului Farhan ke arah pohon mangga, ini adalah petualangan baru yang memacu adrenalin. Mencuri buah mangga milik Mbah Kholil, bahkan untuk berpikir pun aku tidak berani. Bagiku seorang guru harus sangat dihormati agar hidup menjadi lebih berkah, walau pada kenyataannya aku bukanlah santri yang baik bahkan bisa dikatakan sangat buruk.
"Sssst, ada orang...!" kataku sambil menoleh ke arah Farhan yang berjalan di belakangku. Apa mereka juga seperti kami, sedang mencuri buah mangga yang tumbuh subur. Perlahan aku berjalan mengendap endap di antara pohon pohon yang tumbuh subur, aku belum bisa melihat siapa yang sedang bicara. Semakin dekat pohon mangga, semakin jelas aku mendengar suara orang yang sedang bicara.
"Zak, itu suara Nabila dan Shinta..!" kata Farhan wajahnya langsung pucat. Aku hanya mengangguk sambil mencari tempat persembunyian yang aman sebelum ke dua gadis itu melihat kehadiran kami, situasinya akan menjadi lebih sulit dibandingkan kemarin.
"Beneran kamu sempat ngintip santri baru itu waktu mandi?" tanya Shinta ke Nabila. Sekarang aku bisa melihat punggung mereka yang sedang duduk di bawah pohon mangga beralaskan koran.
"Iya, beneran. Serem." kata Nabila mengangkat bahunya. Gila, ternyata suara yang aku dengar adalah suara Nabila, bagaimana bisa gadis cantik itu mengintipku yang sedang mandi. Tapi bukan alasan Nabila yang menjadi perhatianku, kalau benar dia mengintip dia pasti tahu tato yang ada di tubuhku. Celaka dua.
"Apanya yang seram? Itunya gede?" tanya Shinta membuatku menahan nafas, aku tahu yang dimaksud Nabila adalah tato yang memenuhi tubuhku. Tato yang dengan sudah payah aku sembunyikan.
"Ingat, ini rahasia kita. Kamu jangan bilang bilang, kamu harus bersumpah Demi Allah, nanti aku akan kasih tahu." jawab Nabila memaksa Shinta untuk bersumpah.
Celaka, sebentar lagi orang akan tahu tentang tato di tubuhku dan bukan hal yang tidak mungkin berita ini akan terdengar oleh Nyai Jamilah dan atas anjuran dari Nyai Jamilah, aku akan benar benar diusir dari pesantren. Seorang buronan seperti aku sangat tidak pantas berada di Pesantren. Aku menoleh ke arah Farhan, teman yang baru aku kenal kemarin. Tapi aku seperti sudah mengenalnya sangat lama, teman yang sudah membuat tawaku kembali. Sayang, sebentar lagi aku harus kembali berpisah dengannya.
"Iya, pasti kamu mau bilang itunya gede." kata Shinta tetap dengan dugaannya yang memang benar, kontol ku menurut para cewek pelacur yang pernah tidur denganku mengatakan, kontolku yang terbesar yang pernah masuk memek mereka. Tapi aku tahu, bukan itu maksud Nabila.
"Bukannnnnn, kamu ngeyel amat sudah aku bilang bukan itunya." kata Nabila jengkel.
"Iya, lalu apanya yang serem..?" tanya Shinta setengah memaksa.
"Iya, kamu sumpah Demi Allah dulu." kata Nabila tetap pada pendiriannya.
"Memangnya kalau aku tidak mau bersumpah, kenapa?" tanya Shinta heran, sepenting itukah sehingga Shinta memaksanya bersumpah.
"Nabila memangnya lihat, apa?" tanya Farhan berbisik di telingaku. Aku menoleh ke arah Farhan sambil menggelengkan kepala, aku masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Nabila.
"Aku takut nanti kamu cerita ke orang tentang apa yang sudah aku lihat, lalu beritanya terdengar Nyai Jamilah. Ich, aku bisa diusir dari pindok karena sudah berani ngintip cowok, mau dikemanakan mukaku diusir dari pondok gara gara ngintip. Belum lagi kemarahan orang tuaku, ini benar benar aib." kata Nabila mengatakan alasannya, membuatku menarik nafas legar, rahasia tatoku akan tersimpan rapat, jadi aku tidak perlu khawatir.
Tapi ada Farhan, bagaimana kalau justru Farhan yang akan menyebarkan berita tentang tatoku setelah mendengar percakapan Nabila dan Shinta? Aku harus segera mengajak Farhan pergi dari sini sebelum Nabila mengatakan apa yang dilihatnya.
"Kita pergi dari sini, yuk...!" ajakku pelan, sebelum Nabila bicara tentang apa yang dilihatnya.
"Sebentar lagi.." Farhan menolak ajakanku, dia lebih tertarik dengan percakapan Nabila dan Shinta membuatku panik. Aku belum tahu watak Farha, apa dia bisa jaga rahasia atau sebaliknya orang yang senang menyebarkan gosip murahan.
"Ayokk..!" kataku tidak bisa mengontrol suaraku agar tetap berbisik.
"Hei, siapa itu.?" teriak Shinta yang mendengar suaraku membuatku dan Farhan menjadi panik.
ns216.73.217.39da2


