"Akku?" seruku pelan.
"Iya, tinggal kamu, semua santri sudah dimintai keterangan." jawab santri itu meninggalkanku begitu saja.
Aku memandang berkeliling, perhatian semua orang lebih tertuju ke rumah Kyai Amir, kesempatan buatku melarikan diri. Tapi itu akan terasa mencolok dan akan menimbulkan kecurigaan akulah pelakunya. Datang menemui polisi juga bukan pilihan yang bisa dikatakan aman, bisa saja photoku sudah tersebar di setiap kantor polisi karena aku adalah perampok nasabah Bank yang sudah lama menjadi incaran. Semoga itu hanyalah rasa takutku saja, semoga polisi menganggapku sudah mati.
Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan semua keberanianku menghadapi polisi yang akan meminta keterangan, ya polisi hanya akan memintaku keterangan bukan mau menangkapku. Perlahan aku meraba dompet yang berada di kantong celana belakang, untung aku sudah membuang KTP asliku. KTP yang ada di dompetku adalah KTP aspal menggunakan data orang yang sudah mati sebelum adanya rekap e-KTP. Jad identitasku masih aman. Aku menarik nafas lagi dan lagi sehingga aku merasa rileks dan siap memberi keterangan ke Polisi.
"Misi Mas...!" kataku ke gerombolan orang yang menutup jalan ke rumah Pak Kyai Amir. Mereka menoleh lalu memberiku jalan setelah mengenaliku sebagai santri baru yang akan memberi keterangan ke Polisi.
"Permisi Pak, saya santri di sini." kataku mengangguk ke Polisi yang berdiri di depan pintu menghalangi penduduk kamu untuk mendekati rumah Kyai Amir. Jantungku berdebar sangat kencang, berusaha menghindari tatapan matanya yang sangat tajam.
"Kamu belum diperiksa, siapa nama kamu?" tanya Polisi itu.
"Saya Zakaria, baru datang dari kota mengambil uang kiriman di kantor Pos." jawabku berusaha tenang, tenggorokanku terasa kering.
"Silahkan masuk." aku mengangguk dan masuk ke dalam rumah, ada dua orang polisi duduk di hadapan Kyai Amir yang menatapku tajam, atau hanya perasaanku saja.
"Siapa namamu? Coba lihat KTPmu?" kata Polisi yang memegang catatan keterangan semua santri, dia menatapku penuh selidik, setiap bagian tubuhku tidak luput dari perhatiannya. Untung aku sudah bisa mengendalikan diri dan bertingkah biasa agar tidak memancing kecurigaannya.
"Zakaria Ibnu Rahmat, Pak. Ini KTP saya." kataku hampir saja menyebutkan nama Jaka Ardiansyah nama asliku, aku menyerahkan KTP aspalku ke Polisi yang menerimanya.
"Kamu orang Bogor, jauh sekali bisa sampai sini." kata Polisi memandangku, membandingkan wajahku dengan photo yang ada di KTP.
"Zakaria saudara dari Bogor, saya yang menyarankannya mondok di sini." jawab Nyai Jamilah yang ternyata ada disini sejak tadi, membuatku lega tidak perlu menjawab pertanyaan Polisi itu kenapa aku bisa sampai di sini.
"Och begitu, kamu kenal dengan mendiang Rahmat dan wanita yang bersamanya?" tanya Polisi membuatku gelisah, aku harus mengatakan apa yang aku tahu.
"Saya hanya kenal dengan Rahmat, sedangkan dengan wanita yang bersamanya saya tidak kenal." jawabku mulai menemukan ketenangan ku.
"Waktu sebelum kejadian, apa kamu sempat bertemu dengan korban yang bernama Rahmat?" tanya Polisi
"Sempat, dari kami pagi sampai sebelum Ashar kami bersama sama mencari dan membelah kayu bakar." jawabku lancar, jantungku mulai berjalan normal, tidak ada yang perlu ditakuti selama aku tidak bersalah.
"Apa saja yang kalian bicarakan, maksudnya apa korban bercerita tentang teman wanitanya?" tanya polisi.
""Sama sekali tidak pernah menyinggung masalah tersebut." jawabku. Interogasi yang membosankan, aku ingin semuanya segera berakhir.
"Baik, terimakasih, maag Pak Yai sudah membuat anda repot." kata Polisi mengakhiri semua sesi tanya jawab.
"Tidak apa apa, kami akan selalu membantu pihak kepolisian." kata Kyai Amir melepas kepergian Polisi. Setelah Polisi pergi, Kyai Amir menyuruh Ahmad membubarkan kerumunan orang, dalam sekejap tempat ini kembali sepi.
"Ahmad, malam hari ini kita harus ke rumah mendiang Rahmat mengabarkan kejadian ini, malam ini hingga tidak ada pengajian." kata Kyai Amir, dalam sekejap wajahnya semakin tua.
"Saya saja yang pergi, Pak Yai." kata Ahmad keberatan dengan niat Kyai Amir pergi menemui orang tua Rahmat, dia merasa bisa mewakili menyampaikan kabar duka tentang kematian tragis Rahmat.
"Tidak, aku yang pertama kali ditemui orang tua Rahmat saat dia datang ke sini, aku sudah gagal menjaga amanah yang diberikan kedua orang tuanya." jawab Kyai Amir, matanya terlihat berkaca kaca. Begitu hebat rasa tanggung jawab yang dimilikinya membuatku mulai merasa tunduk.
"Baiklah Pak Yai, saya permisi dulu untuk memberitahukan santri yang lain." kata Rahmat berpamitan.
"Kabarkan juga ke para santri, malam ini tidak ada yang keluar pindok, aku akan menugaskan Zaka untuk meronda malam ini. Dia orang baru, jadi dia tidak akan bekerja sama dengan santri lain untuk keluar pondok." kata Kyai Amir membuatku heran, kenapa aku harus meronda mengawasi setiap santri agar tidak keluar dari pondok.
"Nggih Pak Yai, Assalam mu'alaikum..!" jawab Ahmad berpamitan.
"Zaka, aku memberi tugas untuk mengawasi setiap santri agar tidak ada yang keluar pondok, suruh mereka mengaji Yaassin untuk arwah Rahmat, aku percaya padamu." kata Kyai Amir.
"Iya Pak Yai, insya Allah aku akan menjalankan amanah Pak Yai." jawabku gelisah, tanggung jawab kurasa sangat berat. Apa lagi aku santri baru yang belum mengenal semua santri karena selama di sini aku hanya memikirkan keadaanku sendiri, tidak pernah memikirkan maupun memperhatikan santri lain.
"Kapan Pak Yai mau berangkat?" tanya Nyai Nur.
"Sejarang juga..!" jawab Kyai Amir tegas, sekilas aku melihat Nyai Nur seperti keberatan dengan rencana Kyai Amir.
"Berapa hari?" tanya Nyai Nur. Wajar Nyai Nur bertanya berapa hari karena rumah Rahmat di Lamongan, lumayan jauh.
==============
"Kamu disuruh ronda sendiri, sementara yang lain mengaji untuk arwah Rahmat?" tanya Farhan heran, dia memegang Qur'an yang berada di hadapannya.
"Mau bagaimana lagi, aku satu satunya santri yang tajwidnya masih berantakan jadi aku lebih berguna menjaga kalian dari penyusup atau santri yang akan keluar dari pondok." jawabku tertawa setelah menyadari kenapa Pak Yai menyuruhku meronda, bacaan Qur'anku belum terlalu fasih dan kadang salah. Ya, aku lebih berguna menjadi petugas ronda.
"Kamu tidak perlu khawatir, orang yang paling sering menyusup ke luar dari pondok cuma aku dan Rahmat. Rahmat sekarang sudah mati dan kakiku masih sakit. Surti, kenapa dia harus mati dengan cara seperti itu, Yaa Alllah ampuni dosa mereka berdua dan semoga hantu mereka tidak mendatangiku." kata Farhan, matanya melihat sekeliling kamar yang temboknya dipenuhi pakaian yang tergantung tidak beraturan.
"Kalau di tempatku, kalau ada yang meninggal tidak wajar arwahnya akan mendatangi sahabat terdekatnya." kataku menahan tawa melihat wajah Farhan yang menjadi pucat ketakutan.
"Ngawur kamu, orang mati tidak mungkin menjadi hantu karena dia akan dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatannya selama hidup. Yang gentayangan itu Syaitan untuk menyesatkan manusia agar tidak mempercayai adanya siksa kubur." jawab Farhan, matanya semakin liar memperhatikan keadaan kamar yang berantakan.
"Justeru karena yang akan mendatangimu adalah syaithon yang menyerupai Rahmat dan Surti, dia bisa lebih berbahaya." jawabku meninggal kan Farhan yang akan menyambitku dengan bantal.
"Mas, aku meluk..( aku ikut) !" seruan Farhan tidak aku hiraukan. Aku berjalan cepat meninggalkannya sendirian di kamar sedangkan santri lain semuanya berkumpul di masjid sejak ba'da Isya. Farhan terpaksa tetap di kamar karena kakinya masih sakit, padahal sudah beberapa kali aku urut.
Aku berjalan keliling pondok yang lumayan luas, di rumah Mbah Kholil suasa agak ramai karena beberapa santriwati berkumpul menemani Nyai Jamilah yang merasa ketakutan setelah penemuan mayat Rahmat di gubuk, sedangkan Mbah Kholil setahuku masih di masjid, berdzikir dan tidur sebentar tanpa berpindah dari tempatnya. Bangun tidur langsung sholat tahajud, kembali berdzikir hingga memasuki waktu shubuh. Biasanya Mbah Kholil pulang jam 8 pagi, begitu rutinas Mbah Kholil dari cerita para santri.
Setelah memastikan rumah Mbah Kholil aman terkendali, aku ke rumah Kyai Amir untuk memastikan keadaan di sana juga aman. Setahuku Kyai Amir hanya tinggal berdua dengan istrinya Nyai Nur karena dua orang anaknya Mondok di Pesantren yang berada di daerah Tuban.
Keadaan rumah Kyai Amir sangatlah sepi, aku berjalan di samping berusaha mendengar suara dari dalam, suara Nyai Nur yang sedang mengaji atau aktifitas lainnya untuk memastikan kondisinya baik baik saja. Tidak ada suara sama sekali dari dalam rumah membuatku sangat khawatir, aku menempelkan kupingku untuk bisa mendengar lebih jelas tapi sepertinya di dalam tidak ada suara apa apa. Mungkin Nyai Nur sudah tidur karena Kyai Amir sedang tidak ada jadi Nyai Nur bisa tidur lebih awal dari pada biasanya.
Tiba tiba aku mendengar suara mencurigakan dari belakang rumah, dengan berjalan mengendap endap aku menghampiri sumber suara. Suara yang kudengar ternyata berasal dari kamar mandi yang terletak di pekarangan belakang. Apa Nyai Nur sedang mandi atau yang paling masuk akal sedang buang air kecil.
"Siapa itu?" suara Nyai Nur membuatku terkejut karena dia tiba tiba sudah berada di sampingku.
[IMG]
Mataku terbelalak tidak percaya dengan penampilan Nyai Nur hanya memakai sarung panjang untuk menutupi sekujur tubuhnya, suasana gelap justru membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya. Pemandangan yang tidak akan pernah aku lihat lagi, mataku terpaku tidak mampu berkedip.
"Kenapa kamu lihat aku seperti itu? Kamu habis mengintip aku mandi ya?" tanya Nyai Nur menatapku penuh selidik.
"Eng enggak Nyai, saya sedang meronda seperti yang disuruh Pak Yai, saya pikir ada sesuatu ternyata Nyai sedang mandi." kataku berusaha membela diri. Aneh, kenapa Nyai Nur begitu tenang menghadapiku dengan pakaian seperti itu.
"Bohong kamu pasti sengaja mau mengintipku seperti kelakuan Rahmat dan Farhan yang suka mengintipku mandi." kata Nyai Nur membuatku sangat terkejut, ternyata Rahmat dan Farhan sering mengintip Nyai Nur. Wajar dengan bentuk tubuh Nyai Nur yang seperti ini, terutama payudaranya yang membusung besar.
"Sumpah Nyai...!" kataku mulai kesal karena Nyai Nur benar benar tidak mempercayaiku.
"Tentu saja aku tidak akan mempercayaimu setelah apa yang kamu lakukan dengan Nyai Jamilah di bawah pohon mangga beberapa malam yang lalu." jawab Nyai Nur ketus membuatku jantungku nyaris berhenti mendengar apa yang dikatakannya.
"Maksud Nyai? Jangan asal tuduh..!" kataku berusaha mengendalikan diri.
"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu tidak bisa menyangkalnya." jawab Nyai Nur membetulkan kain panjang yang melilit tubuhnya yang kendor sehingga sekilas aku bisa melihat payudaranya secara utuh dengan puting payudara yang sudah mengeras.
"Tolong Nyai, jangan sampai ada yang tahu..!" kataku gelisah, bukan karena takut Nyai Nur akan melaporkan perbuatanku ke Kyai Amir, karena kalau mau pasti apa yang aku lakukan sudah diketahui Kyai Amir. Aku gelisah melihat penampilan Nyai Nur, payudaranya yang menyembul keluar dari sarungnya membuatku sangat terangsang.
"Kita lihat saja nanti, orang seperti kamu tidak bisa diberi hati." jawab Nyai Nur ketus. Entah disengaja atau tidak, kain yang dipakainya terlepas dan aku tidak bisa lagi menahan diri, aku memeluk Nyai Nur yang membungkuk berusaha mengambil kain yang terlepas.
"Appa yang kamu lakukan? Lepaskan...!" kata Nyai Nur berusaha melepaskan diri dariku.
"Saya nggak tahan lihat payudara Nyai...!" kataku semakin mempererat pelukanku. Aku menciumi wajah Nyai Jamilah yang cantik, akal sehatku benar benar sudah hilang.
"Lepaskan, atau aku teriak...!" ancaman Nyai Nur tidak kuhiraukan, tanganku malah hingga di payudaranya yang besar, meremasnya dengan bernafsu.
"Teriak saja Nyai, biar semua semua santri melihat Nyai telanjang." jawabku tenang. Aku melihat gelagat yang menurutku aneh, Nyai Nur sama sekali tidak berteriak bahkan suaranya terlalu pelan untuk seorang wanita yang merasa A dang terancam bahaya. Bahkan rontaannya sama sekali tidak bertenaga.
"Kamu kurang ajar, setelah berhasil kenthu sama Nyai Jamilah, aku mau kamu perkosa..!" kata Nyai Nur berusaha mendorong wajahku yang mulai menciumi permukaan payudaranha yang harum oleh sabun.
Aneh, kenapa Nyai Nur mendorongku tanpa tenaga sehingga kepalaku semakin terbenam dk payudaranya yang besar, payudara terbesar yang pernah aku jamah. Aku semakin bernafsu meremas payudara Nyai Nur, menghisap putingnya dengan rakus karena tidak ada penolakan dari Nyai Nur. Bukan dorongan yang kurasakan, malah Nyai Nur menarik kepalaku semakin terbenam di payudaranya yang besar.
"Santri baru kurang ajar, jangan di sini nanti ada yang melihat." kata Nyai Nur mendorongku dengan bertenaga, sehingga aku yang tidak siap nyaris jatuh ke belakang kalau saja punggungku tidak membentur pohon yang ada di belakangku.
Nyai Nur segera memakai kainnya lagi dengan cepat, lalu berjalan menarik tanganku masuk ke dalam rumah lewat pintu dapur. Nyaris saja aku terjatuh saat kakiku tersandung palang kayu.
"Aduhhh...!" kataku meringis kesakitan.
"Jangan berisik, nanti ada yang dengar." kata Nyai Jamilah terus menarikku masuk ke kamarnya.
"Jangan Nyai...!" seruku menahan langkahku tepat di depan pintu kamar Nyai dan Kyai Amir. Akal sehat ku melarang ku masuk ke dalam kamar Kyai Amir, tidak. Biar bagaimanapun Kyai Amir adalah guruku.
"Jangan di situ, Nyai...!" kataku berusaha mencegah Nyai Nur mengajakku masuk ke dalam kamarnya, kamar yang sakral karena penghuninya adalah orang alim, seorang pemuka agama yang sangat dihormati.
"Nggak apa apa, Yai pulangnya lusa, kita bebas ngentot sepuasnya, salah sendiri kamu sudah berani pegang susuku jadi kamu harus tanggung jawab." kata Nyai Nur tidak peduli dengan penolakanku, dia membuka kain jariknya sehingga aku bisa melihat keindahan tubuhnya yang aku yakin hanya Kyai Amir satu satunya pria yang menyentuhnya.
"Nyai...!" seruku takjub melihat keindahan tubuh Nyai Nur wanita berusia 35 tahun namun keindahan tubuhnya tidak kalah dengan gadis berusia 20 tahun.
"Kamu harus tanggung jawab ngentotin aku sampe memekku dower, sudah hampir 6 bulan Yai tidak pernah ngentotin aku sejak dia punya istri muda." kata Nyai Nur menarik tanganku yang terpesona melihat keindahan tubuhnya yang nyaris sempurna.
"Nyai....!" kataku tidak bisa menolak keinginannya lagi, aku belum cukup gila menolak keindahan tubuh Nyai Nur yang memporak porandakan iman manusia paling alim sekalipun.
Nyai Nur memelukku, bibirnya dengan liar mencari bibirku, hilang sudah rasa malu dari wanita yang membuatku menaruh hormat yang ada hanya nafsu yang membutakan pikiran dan mata hati. Aku membalasnya dengan sangat bernafsu, melumat bibir tipis yang selalu tersenyum ke setiap orang yang ditemuinya. Bibir tipis yang selalu melantunkan ayat ayat suci di setiap waktunya.
Tanganku meraba payudara yang menggantung indah, meremasnya dengan lembut berbeda dengan kebiasaanku yang selalu meremas para pelacur yang aku bayar dengan kasar. Nyai Nur adalah wanita terhormat, dia harus diperlakukan dengan selembut mungkin agar karena dia bukanlah pelacur.
"Kamu suka dengan susuku, Zak?" tanya Nyai Nur memegang tanganku yang asik mempermainkan puting payudaranya yang semakin keras karena rangsangan birahi yang semakin menggila.
"Suka banget Nyai...!" jawabku mendorong Nyai Nur rebah di ranjangnya yang bersprei putih melambangkan kesucian penghuninya.
"Santri nakal, apa kamu seperkasa Rahmat atau malah sebaliknya." kata Nyai Nur membuatku sangat terkejut.
"Nyai sering ngentot dengan Rahmat?" tanyaku nyaris tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Cuma lima kali." jawab Nyai Nur menarik leherku ke arah payudaranya yang terekspos di hadapanku, kalau saja payudaranya bisa bicara dia akan berkata, nikmati aku sepuasmu dan aku tidak mau mengecewakannya.
Dengan rakus aku menjilati semua permukaan payudara Nyai Nur, lidahku bergerak lincah di permukaan payudaranya yang mulus sehingga apabila ada semut yang berjalan di atas permukaannya akan tergelincir jatuh.
"Zakaaaa, uhhhh lidahhhh kamuuuu...!" Nyai Nur merintih lirih dan semakin keras suaranya saat aku mulai menghisap payudaranya dengan raku, menggigit putingnya dengan gigitan lunak. Tanganku bergerilya meraih memeknya yang tercukur tanpa menyisakan bulu. Yang kurasakan hanya permukaan memek kasar akibat cukuran.
"Memekkkkkkk gatel, memek kurang ajar maunya dimasukin kontol....!" Nyai Nur mengoceh tidak jelas saat jariku masuk ke lobangnya yang sudah sangat basah.
"Ennnak Nyai diginiin?" tanyaku sambil mengocok memeknya dengan dua jariku sehingga dalam sekejap jariku sudah basah oleh lendir memeknya.
"Sukkkkaaaa, appp algiii pake kontollllll...!" jerit Nyai Jamilah, tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan membuatku semakin asyik mengocok memeknya, tidak lagi dengan dua jari tapi tiga jari sekaligus masuk ke dalam memeknya.
"Sudddah pakeeee kontol....!" seru Nyai Nur menarik tanganku agar menjauh dari memeknya.
"Apanya yang pake kontol?" tanyaku menggoda Nyai Nur yang seperti kesulitan bernafas akibat diterjang kenikmatan.
"Memeknya...!" jawab Nyai Nur memelas, matanya memandangku sayu, pandangan mata yang dipenuhi birahi.
"kenapa memeknya?" tanyaku semakin menggoda Nyai Nur. Aku memandang memek Nyai Nur dengan takjub, indah sekali bentuknya, warnanya yang merah dan belahannya agak terbuka karena jariku yang baru saja mengocok memeknya.
"Entot pake kontol...!" seru Nyai Nur, suaranya terdengar memelas.
Bukannya menuruti ke.auan Nyai Nur, aku malah membenamkan wajahku di memeknya, menghirup baunya yang memabukkan. Tanganku membuka belahan memeknya agar bisa melihat bagian dalamnya yang sangat merah dan basah oleh lendir birahi.
"Zakkkaaaa, apa yang kamuuuu lakukan? Jijikkkkk.... Ochhhhh gila kok ennnak banget....!" kata Nyai Nur menjambak rambutku yang sedang asik menjilati memekny, menghisap cairan birahinya yang agak asin.
"Sudddah Zakaaaa, entot aku.....! Zakkkkkaaaa ammmmpunnnnn akkkkku kelllluar" jerit Nyai Nur tidak mampu bertahan dari badai orgasme yang menerjangnya. Pinggulnya terangkat sementara tangannya menjambak rambutku.
""Enak Nyai?" tanyaku sambil membuka sarung dan celana dalamku, membebaskan kontolku yang sejak tadi sudah tegang sempurna.
"Enak, makasih Zak kamu pinter. Apa lagi pake kontol..!" kata Nyai Nur membuka matanya yang terpejam saat menikmati orgasme. Matanya langsung melotot melihat kontolku yang sangat besar dan panjang.
"Gillla, kontol Kamu...!" seru Nyai Nur ngeri, tangannya menutup memeknya seakan takut kontolku masuk ke dalamnya
"Kok ditutup, Nyai?" tanyaku heran melihat paha Nyai Nur menjadi rapat sehingga memeknya terlindung.
"Takuttttt, kontol kamu kegedean...!" kata Nyai Nur terus menutupi memeknya dari pandanganku.
"Nggak akan sakit, malah Nyai akan ketagihan." kataku berusaha melebarkan paha Nyai Nur. Aku sudah tidak sabar untuk membenamkan kontolku ke nemek Nyai Nur.
"Kontol kamu kegedean nanti memekku robek. !" kata Nyai Nur berusaha melawan saat aku berusaha melebarkan pahanya.
"Nggak akan sakit, pasti ennnak. Nyai Jamilah saja ketagihan..,!" kataku berusaha membujuk Nyai Nur untuk melebarkan pahanya. Aku menarik tangannya yang berusaha melindungi memeknya dari pandanganku yang seperti serigala lapar.
"Nanti memekku robek, kontol kamu, ya ampunnn seperti pentungan hansip." jawab Nyai Nur berusaha melawan saat aku menarik tangan yang menutupi memeknya. Tenaga Nyai Nur ternyata kuat sehingga aku tidak berhasil menyingkirkan tangannya dari memeknya.
"Buka Nyaiii, aku sudah nggak tahan pengen ngentot." kataku dengan suara memelas.
"Nggak maj, memekku bisa robek dientot kontolmu." jawab Nyai Nur tetap dengan pendiriannya.
"Nggak akan robek Nyai, kontolku tidak sebesar pentungan hansip. Nabila aja sampe keenakan aku entot." kataku kelepasan membawa nama Nabila, seharusnya aku tidak membuka rahasia Nabila di hadapan Nyai Nur.
"Apaaaaa? Kamu sudah pernah ngentot Nabila? Kurang ajar..." kata Nyai Nur sehingga tidak bisa mengontrol suaranya yang terdengar keras membentakku.
"Nyai, Nyai Nur.....ada apa? Nyai tidak apa apakan?" tanya suara wanita dari pintu depan. Gedoran di pintu membuatku terkejut.
"Itu, Nur... Jangan berisik...!" kata Nyai Nur berbisik. Aku hanya mengangguk dengan wajah pucat.
"Nyai Nur, ada apa ?" suara Nur semakin keras memanggil Nyai Nur. Dua wanita yang bernama Nur membuatku semakin gelisah.
"Iyyya. nur, sebentar." jawab Nyai Nur, suaranya pelan, tentu saja Nur tidak akan mendengarnya.
"Nyaii..!" suara gedoran di pintu menghilang. Aku dan Nyai Nur saling berpandangan dengan wajah sama pucatnya.
"Nyaii Nyaiii, ada apa teriak teriak...!" dok dok dok... Suara ketukan di jendela membuatku nyaris tidak bisa bernafas.
ns216.73.217.69da2


