"Ingat, besok kita bertemu di kota, jangan sampai Rahmat tahu aku di sini." katoa bergerak cepat meninggalkan Surti yang berusaha menelan habis pejuhku sebelum Rahmat tiba.
Aku berjalan dengan cara mengendap endap agar Rahmat tidak melihat kehadiranku walau resikonya aku akan kembali nyasar ke hutan karena belum mengenal medan di tempat ini. Tepat seperti dugaanku, aku bukannya mendekati pondok justru semakin menjauhi pondok. Setelah berjuang keras mencari jalan pulang, akhirnya aku bisa kembali ke pondok tepat pada saat suara Adzan Isya. Aku menarik nafas lega.
Aku berjalan ke arah belakang menghindari masjid agar tidak ada yang melihatku, kenapa aku kembali berlaku seperti seorang maling yang mengendap endap takut ketahuan. Sampai kamar aku mengambil baju dan sarung bersih serta handuk dan peralatan mandi lainnya, masih ada waktu mandi dan mengikuti pengajian agar Kyai Amir tidak curiga. Semuanya kulakukan dengan cepat, semoga tidak ada orang di kamar mandi sehingga tidak ada yang mengetahui tentang tatoku.
Tepat dugaanku, semua santri sedang berada di masjid sehingga aku bisa tenang mandi tanpa takut ada yang melihat tato di punggung dan dadaku. Segar sekali air yang mengguyur tubuhku setelah kejadian yang melelahkan tadi sehingga aku tidak menyadari ada sepasang mata yang melihatku dari atas dinding.
"Mas Zaka..!" seru seorang wanita membuatku nyaris berteriak kaget, reflek aku melihat ke atas. Siapa santriwati yang berani terang terangan mengintipku walau suaranya sudah sangat tidak asing buatku.
"Kamu, kenapa ngintip?" tanyaku lega setelah mengetahui siapa yang mengintipku, ternyata Nabila.
"Ada apa pagi, kamu belum puas?" tanyaku pelan menggoda Nabila.
"Sembarangan kalau ngomong. Kamu ditunggu Shinta di belakang pondok." jawab Nabila meninggalkanku.
Sebenarnya apa masalah yang sedang kuhadapi, membuatku bingung. Semuanya berubah dengan cepat, satu masalah belum selesai, tambah masalah lainnya. Masa bodoh, lebih baik aku mandi membersihkan hadast besar.
=================
"Ada masalah apa kamu memanggilku, bukankah masalah aibmu akan ditutup oleh Ahmad?" tanyaku menatap Shinta yang duduk di bale bale bambu di bawah sinar bulan purnama, suasana yang sebenarnya sangat romantis apabila kami adalah sepasang kekasih. Tapi yang kurasakan sebaliknya, aku tidak merasa nyaman.
"Ahmad tidak bersalah apa apa, dia hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan aku tidak mau." jawab Shinta pelan sambil mempermainkan jemarinya untuk mengusir kegelisahanya. Kegelisahan yang terdengar dari nada suaranya yang gemetar.
Kakkkk kakkkk. Suara apa itu? Aku menatap sekelilingku, apa ada orang yang kembali mengintip perbuatan kami atau hanya suara burung gagak yang terbang melintas. Perhatianku kembali tertuju ke Shinta yang duduk gelisah, beberapa kali dia merubah posisi duduknya.
"Lalu aku harus bagaimana !" jawabku jengkel, setelah yakin suara tadi adalah suara burung gagak yang terbang melintas. Kenapa urusan sepele harus berlarut larut seperti ini. Kehidupan yang menurutku sangat aneh. Di kota kota besar, duduk berduaan dengan seorang gadis di tempat sepi bukanlah aib, kecuali gadis itu hamil di luar nikah.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab atas semua aib yang terpaksa harus aku tanggung." jawab Shinta tegas. Ultimatum yang sudah sejak tadi aku duga akan terucap dari bibirnya yang sensual.
"Tidak bisa, Kiai Amir dan Ahmad sudah memutuskan begitu." kataku. Shinta tiba tiba menarikku hingga jatuh menindih tubuhnya.
"Tolongggg...!" Shinta berteriak keras saat aku menindihnya membuatku berusaha bangun tapi Shinta malah memelukku dengan erat.
"Lepaskan Shinta, kurang ajar kamu..!" aku bangkit berdiri kaget dengan suara bentakan yang sangat keras. Belum lagi aku sadar, sebuah pukulan keras mendarat di wajahku disusul dengan pukulan lain yang datang dari arah samping.
"Tunggu, ada apa ini? Kenapa kalian memukulku?" kataku berusaha melindungi diri dari pukulan demi pukulan yang datang menghantam wajah dan tubuhku. Aku berusaha menghindar dan menangkis sambil melihat siapa orang yang memukulku.
"Ayo kita gebukin, santri baru kurang ajar seperti ini harus kita kasih pelajaran biar kapok."
"Kita laporin ke Kyai Amir biar tahu rasa."
"Kita usir saja, bikin malu pondok."
"Tapi dia saudaranya Nyai Jamilah."
Suara riuh terdengar tidak jelas, aku berusaha menutupi wajahku dari hantama. Pukulan yang datangnya bertubi tubi. Aku berteriak meminta ampun tapi percuma, orang itu semakin beringas memukuliku.
"Berhenti, ada apa ini?" sebuah suara yang keras menyelamatkanku dari pukulan demi pukulan yang mengenaiku. Aku berusaha bangki bamu tubuhku terlalu sakit sehingga aku kembali terjatuh, duduk menahan sakit di tanah.
Semua terdiam, memandang pria yang baru saja datang. Pandangan mataku terhalang oleh beberapa orang yang sudah memukuliku. Dengan menahan sakit dan berpegangan ke orang yang sudah memukuliku, aku berdiri melihat orang yang baru saja datang. Kyai Amir, pantas mereka langsung berhenti memukuliku. Orang yang kupegang tangannya, hanya menoleh sebentar ke arahku. Aku tidak mengenalnya.
"Ini Pak Yai, santri baru ini sedang berbuat tidak pantas terhadap Shinta." jawab orang yang kupegang tangannya.
"Berbuat tidak pantas bagaimana?" tanya Kyai Amir menghampiriku, dua orang santri yang berdiri di hadapanku segera menyingkir ke samping sehingga Kyai Amir berhadapan denganku. Aku menunduk tidak berani menatap wajahnya.
"Dia mau memeluk dan Pak Yai, hiks hiks hiks.....!" jawab Shinta terisak isak, sekilas aku melihat Shinta dipeluk oleh Nabila. Fitnah, ini fitnah yang sangat kejam.
"Tidak Pak Yai, saya tidak melakukannya." kataku berusaha membela diri, walau kemungkinannya mereka tidak akan percaya.
"Kami jadi saksinya, Pak Yai...!" jawab lima orang santri yang baru saja memukuliku, habislah sudah nasibku.
"Bawa dia ke rumahku, malam ini tidak ada pengajian." kata Kyai Amir tegas. Dua orang langsung memegang tanganku mengikuti Kyai Amir tanpa berani melihat ke arah kerumunan Santri dan santriwati.
"Duduk...!" kata Kyai Amir setelah kami sampai di rumah kediamannya.
Aku duduk, begitu pula dengan Shinta duduk agak jauh dariku, beberapa orang santri yang sudah .memukulku ikut duduk di kiri kananku, mereka yang akan menjadi saksi apa yang sudah terjadi.
"Nur, coba kamu panggil Nyai Jamilah, kita akan menunggu Nyai Jamilah sebelum memutuskan apa yang akan kita lakukan." kata Kyai Amir.
"Nggih, Pak Yai." jawab Nur santriwati yang sering diintip oleh Rahmat.
"Saya tidak melakukan apa apa terhadap Shinta, Pak Yai...!" kataku berusaha menerangkan kejadian yang sebenarnya.
"Saya jadi saksinya. Pak Yai.!" kata orang yang duduk di samping kiri dan kanan berbarengan.
"Saya juga..!" jawab beberapa prang semakin memojokkanku.
"Kita tunggu Nyai Jamilah, dia harus tahu kelakuan saudara sepupunya ini." jawab Kyai Amir tegas membuatku tidak berani menyanggah perkataan-ya lagi.
Menunggu Nyai Jamilah datang, rasanya waktu berjalan sangat lambat, apalagi sambil menahan rasa sakit di wajah dan
tubuhku yang terkena bogem mentah para santri yang mengeroyok ku tadi. Sekilas aku melihat Shinta yang menunduk dan menangis pelan dipeluk oleh istri Kyai Amir.
"Assalam nu'alaikum..!" suara Nyai Jamilah yang sudah sangat aku kenal menghentikan kasak kusuk para santri yang berkumpul di depan rumah Kyai Amir.
"Wa 'alaikum salah, monggo Nyai, Pinarak. ( mari silahkan duduk Nyai.)" jawa Kyai Amir tanpa berani menatap wajah Nyai Jamilah ibu tiri yang usianya jauh lebih muda
"Ada apa ini rame rame, sehingga aku dipanggil?" tanya Nyai Jamilah, mendengar suaranya membuat rasa sakit di tubuhku berkurang jauh.
"Begini Nyai, beberapa orang santri memergoki Zakaria sedang berbuat asusila terhadap Shinta sehingga mereka memukulinya. Untuk lebih jelasnya kita tanya Shinta lebih dahulu sebagai korbannya. Shinta, coba kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kyai Amir membuatku menaruh harapan agar Shinta jujur dan mengatakan hal yang sebenarnya telah terjadi.
"Maaf Pak Kyai dan Nyai, dalam hal ini sayalah yang bersalah."jawab Shinta menangis terisak isak. Kamu semua diam, menunggu Shinta meneruskan ceritanya. Harapanku semakin besar mendengar kalimat pembuka Shinta yang mengakui kesalahannya.
"Saya yang sudah mengajak Mas Zaka bertemu untuk membicarakan masalah aib kami karena tersesat di hutan." kembali Shinta menangis membuatku jengkel kenapa dia begitu cengeng hingga tidak pernah menyelesaikan ceritanya sampai selesai dan aku mendapatkan vonis tidak bersalah.
"Bukankah sudah diputuskan, Ahmad yang akan menikahimu?" tanya Kyai Amir heran. "Besok Ahmad pulang untuk mengabarkan kedua orang tuanya untuk segera melamar kamu. Bukan begitu, Ahmad?" tanya Kyai Amir menoleh ke arah Ahmad yang baru kusadari kehadirannya.
"Iya benar, besok saya pulang untuk mengabarkan kedua orang tua saya buat melamar Shinta." jawab Ahmad, aku bisa melihat jelas kebahagiaan di wajahnya.
"Sa saya tidak mau, Mas Ahmad tidak bersalah. Saya tidak mau membuat Mas Ahmad mendapatkan aib karena menikahi saya." jawab Shinta kembali menangis,
"Aku tidak keberatan, dek Shinta. Karena aku mencintaimu.....ehhhh hal itu bukan masalah, sudah kewajibanku untuk menutup aib saudara seiman." jawab Ahmad meralat perkataannya.
"Coba teruskan ceritamu, Shinta." kata Nyai Jamilah tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita Shinta.
"Akku minta Mas Zaka untuk bertanggung jawab menikahiku setelah apa yang dilakukannya di hutan." kembali Shinta menangis membuatku ketakutan kalau sampai Shinta menceritakan kejadian di hutan, ditambah lagi dengan kejadian tadi. Habislah aku.
Kami semua terdiam, menunggu Shinta meneruskan perkataanya. Aku menunduk gelisah, kalau saja ada peluang untuk melarikan diri dari tempat ini pasti sudah kulakukan sejak tadi. Tempat ini sudah menjadi neraka bagiku, tanpa sadar aku mengelus pipiku yang lebam terkena bogem mentah para santri yang rutin berlatih ilmu bela diri. Ya, salah satu ekstrakulikuler wajib di sini adalah pencak silat.
"Tapi Mas Zaka malah marah karena merasa tidak berbuat apa apa selama di hutan, dia dia memeluk dan.....!"
"Itu bohong Pak Yai, yang dikatakan Shinta bohong." aku berkata keras membuat semua orang terkejut dan memandangku marah.
"Jangan kurang ajar kamu bicara seperti itu di hadapan Pak Yai, jaga sopan santunmu." bentak Ahmad membuatku sadar, perkataanku yang keras justru semakin membuat posisiku semakin sulit.
"Mamamaaf, Pak Kyai." kataku. Seharusnya aku bisa mengendalikan diri bukannya terpancing oleh perkataan Shinta. Apa yang dikatakan Shinta benar, cuma waktu dan tempatnya yang sengaja dirubah.
"Aku lebih percaya apa dikatakan Shinta, tidak mungkin dia sengaja memaksamu bertanggung jawab kalau tidak terjadi apa apa diantara kalian. Aku harus mengambil keputusan yang berat, semoga Nyaris menyetujuinya." kata Kyai Amir pelan, suaranya tidak terpengaruh oleh bentakanku tadi.
"Saya serahkan semua keputusan ke Yai, apapun keputusannya akan saya terima." jawab Nyai Jamilah membuatku semakin tidak berkutik. Ke mana lagi aku harus bersembunyi? Atau aku menyerah saja, kembali ke Bogor dan menebus semua kesalahanku di dalam penjara beberapa tahun.
"Zaka, kamu harus menikahi Shinta, ini adalah keputusan terbaik untuk kalian. Setelah menikah, kalian tidak boleh tinggal di sini." kata Kyai Amir memberiku hukuman yang jauh dari dugaanku.
"Tapi Pak Yai, saya keberatan, seharusnya Zaka diusir dari sini." kata Ahmad berusaha membatalkan keputusan Kyai Amir.
"Ini keputusan dengan pertimbangan matang, apa kamu mau menentangnya?" tanya Kyai Amir tenang.
"Ma maaf, Pak Yai." jawab Ahmad lesu, keinginanya untuk menikahi Shinta hilang dalam sekejap.
"Mak maksud Pak Yai?" tanyaku tidak percaya dengan hukuman yang aku terima.
"Kamu harus menikahi Shinta." kata Kyai Amir tegas.
Menikahi Shita kelihatannya sangatlah mudah kalau aku bukan seorang buronan. Sebelum menikah ada tata caranya seperti orang tuaku yang harus datang untuk melamar mempelai wanita dan lain lainnya. Aku tidak bisa pulang menemui kedua orang tuaku untuk meminta mereka melamar Shinta, karena Polisi pasti terus mengawasi rumah orang tuaku.
"Kenapa kamu diam? Kamu tidak punya pilihan lain, atau aku terpaksa membawa masalah ini ke ranah hukum." kata Kyai Amir membuatku terkejut.
"Sayyyya bersedia Pak Yai, tapi sa sa saya sudah berjanji tidak akan pulang ke Bogor sebelum berhasil lulus menjadi Hafidz. Bagaimana caranya saya melamar Shinta tanpa orang tua?" tanyaku lega setelah berhasil mengutarakan apa yang menjadi beban pikiranku.
"Janji adalah hutang, apa lagi terhadap ke dua orang tuamu. Karena kamu masih Famili Nyai Jamilah ibu tiriku, biarlah aku yang akan mewakili keluargamu." jawab Kyai Amir membuatku menarik nafas lega, dalam sekejap semua masalahku selesai.
"Ahmad, ajak semuanya kembali ke kamar masing masing. Zaka dan Shinta tetap di sini. Kita akan membicarakan beberapa hal." kata Kyai Amir tegas, wibawanya sangat terasa olehku.
"Baik Pak Yai." jawab Ahmad berusaha menyimpan kekecewaanya, mimpinya untuk menikahi Shinta hancur dalam sekejap. Suasana rumah Kyai Amir yang tadinya ramai kembali sunyi setelah Ahmad memerintahkan semua Santri kembali ke kamarnya.
"Shinta, besok kamu pulang dengan diantar Nabila untuk mengabarkan ayahmu, aku sendiri yang akan .melamarmu." kata Kyai Amir setelah suasana sudah kembali tenang.
"Nggih Pak Yai, terimakasih." jawab Shinta tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya setelah tuntutannya berhasil.
Tapi bagiku itu adalah musibah, menikah saat aku menjadi seorang pelarian bukanlah pilihan yang menyenangkan. Setelah menikah pasti aku tidak bisa lagi tinggal di pondok, mau tidak mau aku harus tinggal di desa yang mayoritas masyarakatnya saling mengenal satu sama lainnya dan aku akan dikenal oleh seluruh masyarakat desa dalam waktu singkat. Kalau sudah begitu polisi akan dengan mudah menemukanku.
"Pak Yai, apa setelah menikah saya masih bisa tinggal dan belajar di sini?" tanyaku putus asa.
"Tidak bisa, mau tidur dimana kalian berdua kalau masih mondok?" tanya Kyai Amir seperti dugaanku.
"Bagaimana kalau kita ijinkan Zaka dan Shinta tetap tinggal di sini, mereka bisa bikin rumah sederhana di belakang sambil mengawasi kebun mangga, lagi pula kita masih membutuhkan tenaga Shinta untuk membantu mengajar di pondok karena kita kekurangan tenaga pengajar." usul Nyai Jamilah membuatku mempunyai harapan kembali untuk tetap bersembunyi di sini.
"Kalau begitu aku setuju, di daerah sini banyak bambu yang bisa digunakan untuk membuat sebuah rumah bilik yang kokoh sehingga bisa menghemat biaya pembuatan." kata Kyai Amir membuatku menarik nafas lega.
=============
"Shinta, aku antar kamu sampai terminal, ya.!" kataku mencegat Shinta dan Nabila yang akan pulang.
"Nggak usah, Mas." jawab Shinta berusaha menolakku. Nabila hanya menunduk melihat kehadiranku, mungkin dia ingat kegilaan kami di gubuk kemarin sore
"Nggak apa apa, sekalian aku mau ambil uang di kantor Pos." kataku berbohong. Memang hari ini aku akan ke kota untuk bertemu Surti sekaligus berusaha menghubungi Dewi untuk menanyakan situasi di Bogor. Selama di tempat ini HPku mati total karena tidak adanya jaringan walaupun Rahmat sudah menganjurkan ganti operator selular, tapi aku tidak berani melakukannya karena proses registrasi yang mengharuskanku mengisi data dataku. Itu sama artinya polisi akan dengan mudah melacak keberadaanku.
"Ya sudah." jawab Shinta, sejak tadi dia hanya menunduk tidak berani menatap wajahku. Entah apa yang sedang dirasakan dan dipikirkannya.
Aku mengikuti Shinta dan Nabila yang berjalan mendahuluiku, serasa bermimpi Shinta akan segera menjadi istriku. Benar benar kejadian yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, terjadi begitu saja tanpa rencana menikah dengan seorang wanita yang baru kukenal beberapa hari. Jantungku tiba tiba berdebar kencang, adrenalinku meningkat, uni pengalaman yang menurutku sangat luar biasa. Pengalaman yang tidak akan dialami oleh pria lain selain aku.
"Rumah kamu dari sini jauh, nggak?" tanyaku berusaha mencairkan suasana yang sangat kaku. Aneh, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang calon istriku, usianya berapa, apa nama lengkapnya, dimana rumahnya dan lain sebagainya.
"Dua kali naik angkutan umum." jawab Shinta singkat tanpa memberi tahu nama daerahnya, walaupun Shinta memberi tahu nama daerahnya pun aku tidak akan tahu.
"Jauh..!" seruku pada diri sendiri. Topik apa lagi yang bisa mencairkan suasana seperti layaknya calon suami istri.
"Lumayan jauh, nanti juga kamu akan tahu." jawab Shinta singkat.
Akhirnya kami sampai di jalan raya desa, hanya beberapa sepeda motor yang lewat membawa rumput dan hasil pertanian lain. Kami menunggu angkutan umum tanpa bicara, larut dalam pikiran kami masing masing. Dari belokan muncul elf yang berhenti tepat di hadapan kami, aku membiarkan Shinta dan Nabila naik lebih dahulu.
"Kamu nggak usah antar aku sampai rumah, cukup sampai sini saja." kata Shinta setelah kami sampai di kota kecamatan.
"Iya, hati hati di jalan. Ini buat ongkos...!" kataku memberi Shinta uang 50 ribu.
"Nggak usah, aku bukan istrimu." jawab Shinta mengabaikan uang yang berada di tanganku.
"Sebentar lagi kamu akan jadi, istriku." jawabku bersikeras.
"Nanti saja, aku akan menerima uang dari kamu setelah menikah. Assalam mu'alaikum." kata Shinta menarik tangan Nabila meninggalkanku.
"Wa'alaikum salam." jawabku singkat sambil mengantongi uang 50 ribu. Percuma berdebat dengan seorang santri yang memegang teguh norma agama.
Aku segera naik angkutan umum yang ke arah kota kabupaten, lumayan lama perjalanan yang kutempuh, hampir satu jam karena mobil berjalan lambat mencari penumpang. Sampai tempat yang sudah kujanjikan dengan Surti, ternyata wanita itu belum datang, terpaksa aku menunggunya di sebuah warung bakso.
Aku menyalakan HP, setelah menunggu cukup lama tidak ada notifikasi pemberitahuan di WA. Berarti Dewi sama sekali tidak berusaha menghubungiku. Aneh, padahal biasanya dia sangat rajin menghubungiku lewat Wa. Aku membuka kontak WA dan melihat status Dewi yang menurutku sangat aneh.
Pergi jauh, jangan pernah hubungi aku lagi. Rasa sakit di hatiku tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Pergi, pergilah dari hidupku, bukankah kamu ingin terbang bebas seperti burung.
Aneh, kenapa statusnya seperti ini. Setahuku Dewi tidak pernah dekat dengan seorang pria selain denganku. Bodoh, statusnya ditujukan kepadaku, itu artinya dia diawasi polisi dan dicurigai membantu pelarianku. Akhirnya aku membatalkan niatku menghubungi Dewi, aku matikan hp.
Satu jam aku menunggu, sepertinya Surti tidak akan datang. Tapi aku masih berusaha bersabar hingga setelah 30 menit lagi, kesabaranku habis. Ini artinya aku dalam masalah besar karena Surti tidak datang. Perhitungan meleset.
Bahaya kalau Surti benar benar tidak datang, dia bisa menyebarkan kejadian yang terjadi di gubuk ke setiap orang. Maka dalam sekejap habislah nama baik Nyai Jamilah, seharusnya kemarin aku tidak meninggalkannya begitu saja sehingga rencanaku gagal total. Semuanya sekarang menjadi kacau.
"Berapa mas, bakso dua mangkok dan Teh manis dua.?" tanyaku.
"Empat puluh ribu, Mas. Temannya nggak jadi datang, mas?" tanya tukang bakso mengambil uang 50.000 dan mengembalikan 10.000.
"Sepertinya dia sedang ada urusan mendadak." jawabku singkat. Berharap Surti datang, penantian yang terasa sia sia.
Saat aku akan keluar dari warung bakso, aku melihat seorang polisi melintas membuatku sport jantung ketakutan, bagaimana kalau photoku sudah tersebar di setiap kantor polisi, habislah aku.
"Kenapa, Mas?" tanya penjual bakso heran melihatku masuk kembali.
"Di sini ATM terdekat di mana, Mas?" tanyaku menyebutkan nama Bank. Padahal aku sudah tahu letak ATM karena aku melewatinya.
"Och, jalan dulu ke perempatan terus belok kiri mas." jawab penjual bakso.
"Terimakasih Mas," kataku segera keluar karena polisi sudah tidak terlihat lagi olehku. Kewaspadaanku meningkat, mataku terus mengawasi keadaan sekelilingku, siap siaga apabila ada polisi yang melihatku. Untung saja sarung dan baju koko serta peci membuatku terlihat seperti santri pada umumnya sehingga orang tidak terlalu memperhatikanku.
Aku berjalan menuju ATM seperti petunjuk tukang bakso. Sebentar lagi aku akan menikah sehingga aku memerlukan banyak uang untuk biaya. Sampai ATM, aku memasukkan kartu ATM ke mesin. Kenapa aku sebodoh ini, walau ini adalah ATM milik Dewi, polisi pasti akan terus mengawasi penarikan uang tunai dari ATM Dewi. Menggunakan ATM ini sangat merugikan dan membahayakan keadaanku.
Uang yang kumiliki tinggal dua juta, pemberian dari Dewi. Ke mana aku harus mencari tambahan biaya nikah? Kepalaku seperti mau pecah karena tidak menemukan solusi, lebih baik aku kembali ke pondok dan menceritakan keadaan keuanganku ke Nyai Jamilah, mungkin dia bisa membantuku. Aku yakin Nyai Jamilah akan bersedia membantuku.
Dengan langkah gontai aku berjalan ke arah tempat pemberhentian angkutan umum yang akan membawaku kembali ke pondok. Sampai pondok aku melihat keramaian yang tidak wajar, banyak orang bergerombol di depan rumah Kyai, sepertinya penduduk desa
"Ada apa ini?" tanyaku ke seorang santri yang kukenal wajahnya, namun aku belum mengenal namanya.
"Itu Mas, Rahmat dan wanita dari desa ditemukan mati di gubuk dalam keadaan bugil." jawab Santri itu membuatku sangat terkejut.
"Apa.!" aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.
"Rahmat dan wanita desa ditemukan mati di gubuk dalam keadaan bugil." santri itu mengulang perkataannya dengan suara lebih keras.
"Innalillahi, apa mereka dibunuh? Siapa yang membunuhnya?" gumamku. Pikiranku tiba tiba menjadi kosong.
"Sepertinya begitu Mas, masih diperiksa oleh polisi." kata Santri itu memandangku heran.
"Emangnya Mas Zaka dari mana, kok tidak tahu penemuan mayat Rahmat?" tanya Santri itu memandangku curiga.
"Aku dari kantor Pos, ngambil uang." jawabku berbohong.
"Dun, giliran kamu dipanggil polisi..!" kata seorang Santri yang keluar dari kerumunan orang yang berkumpul di depan Rumah Kyai Amir.
"Polisi?" tanyaku pucat mendengar kata Polisi.
"Iya, semua santri dimintai keterangan." jawa Santri yang baru saja selesai dimintai keterangan oleh Polisi.
"Kok baru kelihatan, Mas?" tanya Santri itu memandangku curiga.
"Mengambil uang di kantor Pos." jawabku pelan.
"Mas Zaka, sekalian ke rumah Kyai Amir, biar cepat selesai..!" kata Ahmad tiba tiba muncul di hadapanku.
"Pak Kyai manggil saya, Mas?" tanyaku lemas, kakiku tiba tiba saja gemetar.
"Bukan, Polisi memerlukan keterangan semua santri." jawab Ahmad seperti bunyi sasakala tanda datangnya kiamat.
ns216.73.217.69da2


