Ada apa, Nur?" tanya Nyai Nur berusaha bersikap tenang sambil menunjuk ke kolong ranjang.
Aku bergerak cepat masuk kolong ranjang sementara Nyai Nur segera memakai baju gamis yang tergantung di dinding, tanpa memakai jilbab Nyai Nur membuka jendela.
"Kirain saya ada apa apa, Nyai soalnya kami mendengar Nyai berteriak." kata Nur.
"Ada kecoa, kalian jam segini kok masih keluyuran?" tanya Nyai Nur.
"Kan Nyai Nur minta ditemani..!" kata Nur heran.
"Eh iya, tunggu di depan..!" kata Nyai Nur menutup jendela.
Aku menunggu gelisah di kolong ranjang, kenapa Nyai Nur malah menyuruh Nur dan sepertinya Nur tidak sendiri. Aku mengurungkan niatku dari kolong ranjang mendengar percakapan Nyai Nur dan Nur, siapa itu yang datang bersama Nur? Nyai Jamilah, aku mengenali suaranya, mau apa mereka datang ke sini.
"Ada apa Nyai, sepertinya penting?" tanya Nyai Nur heran dengan kedatangan Nyai Jamilah ke rumahnya malam malam. Pasti akan ada hal penting yang akan dibicarakannya.
"Nur, kamu tunggu di ruang depan, aku mau bicara berdua dengan Nyai Nur." kata Nyai Jamilah menyuruh Nur menunggu di luar. Berarti benar dugaanku ada hal penting yang mau disampaikan Nyai Jamilah.
"Iya, Nyai." jawab Nur singkat.
"Ada apa, Nyai?" tanya Nyai Nur heran setelah kepergian Nur je ruang tamu.
Hening, aku tidak mendengar kedua wanita cantik itu, sepertinya mereka bicara bisik bisik sehingga suaranya tidak sampai di telingaku.
"Ayo Nyai, kita bicara di dalam." kata Nyai Jamilah. Suara pintu kamar dibuka dari luar, dari kolong ranjang aku hanya melihat dua pasang kaki berjalan menghampiri. Suara ranjang terasa jelas di telinga saat kedua wanita cantik itu duduk membuat papan yang menjadi alas kasur bergesekan.
"Apa yang mau Nyai bicarakan, semuanya sudah saya katakan." kata Nyai Nur tenang. Hening, Nyai Jamilah tidak langsung menjawab pertanyaan Nyai Nur, seperti sedang berpikir akan memulai percakapan dari mana.
"Nyai tidak menceritakan hal ini ke Kyai Amir, kan?" tanya Nyai Jamilah memulai percakapan setelah terdiam beberapa saat sehingga aku hanya bisa mendengar suara gerakan ranjang. Aku tegang menunggu apa yang akan mereka bicarakan dan aku akan menjadi saksi rahasia yang seharusnya tidak aku ketahui.
"Cerita apa, Nyai?" tanya Nyai Nur, suaranya terdengar datar tanpa emosi. Dua wanita yang sama cantik dan sama alimnya dengan dua karakter yang berbeda. Dua wanita yang telah kunikmati memeknya walau aku belum sempat memasukkan kontolku ke memek Nyai Nur.
"Tentang......... Tentang apa yang Nyai lihat." jawab Nyai Jamilah, suaranya bergetar gelisah, gerakan tubuhnya menimbulkan bunyi kreket akibat gesekan kayu papan pada ranjang.
"Tentang apa yang kulakukan dengan Zakaria di kebun, aku memang salah, aku khilaf. Tapi Nyai harus tahu alasannya kenapa aku melakukan hal itu." jawab Nyai Jamilah. Kembali ranjang bergoyang saat salah satu diantara wanita itu bergerak.
"Karena Zakaria bekas pacar Nyai, itu sebabnya Nyai berzina dengannya?" Nyai Nur berusaha menebak hubunganku dengan Nyai Jamilah.
"Bukan, kami tidak mempunyai hubungan apa apa. Karena sejak saya menikah dengan Mbah Kholil, beliau tidak pernah menyentuhku. Aku dianggap tidak pernah ada, Mbah Kholil terlalu asik dengan hatinya." jawab Nyai Jamilah membuka rahasia terbesar dalam hidupnya.
Aku mendengar percakapan mereka dengan gelisah, terjebak di kolong ranjang tanpa berani bergerak. Mengingatkanku saat menjadi seorang maling dengan sahabatku si Tompel. Hmm, bagaimana sekarang nasibnya di penjara?
"Mbah Kholil tidak pernah menyentuh Nyai Jamilah, kenapa bisa? " tanya Nyai Nur heran.
"Seperti yang kamu tahu, Mbah Kholil sedang tidak sadar, semua perhatian dan cintanya sudah diserahkan pada Allah, karena alasan itu pula Kyai Amir mengambil alih urusan di pondok." jawab Nyai Jamilah, gerakkan ranjang lebih keras dari pada tadi.
"Karena itu, Nyai?" tanya Nyai Nir pelan, seakan dia tidak mau aku ikut mendengar percakapan mereka.
"Ya karena alasan itu aku melakukan zina dengan Jaka, hal yang tidak terlalu aneh. Aku justru merasa heran kenapa Nyai Nur bisa selingkuh dengan almarhum Rahmat, padahal aku percaya Kyai Amir normal." kata Nyai Jamilah membuat Nyai Nur sangat terkejut.
"Ma maksud Nyai_ apa?" tanya Nyai Nur, suaranya gemetar.
"Aku tidak sengaja melihat kalian berzina di kamar mandi, itu yang membuatku khilaf sehingga nekat mengajak Zakaria berzina. Kita sama sama berdosa, Nyai." jawab Nyai Jamilah berhasil membalikkan keaadaan dalam waktu singkat.
"Nyai, ini cuma rahasia kita berdua,." kata Nyai Nur setelah sekian lama terdiam mendengar pengakuan Nyai Jamilah yang pasti sangat mengejutkannya.
"Deal, ini cuma jadi rahasia kita berdua dan kita harus saling mendukung." jawab Nyai Jamilah tertawa kecil, entah apa yang sedang dirasakannya saat sedang tertawa.
"Nyai, apa yang dirasakan saat maaf, ngentot dengan Zakaria?" tanya Nyai Nur membuatku hampir tertawa geli mendengarnya.
"Masa kamu nggak tahu rasanya, kan kamu lebih berpengalaman dari padaku, kamu sudah pernah dua kali melahirkan." jawab Nyai Jamilah tertawa geli dengan pertanyaan Nyai Nur yang dianggapnya lucu.
"Iya, tapi aku belum pernah merasakan yang sebesar itu." jawab Nyai Nur.
"Kok kamu tahu kontol Zakaria gede?" tanya Nyai Jamilah curiga.
"Ech itu, kata almarhum Rahmat yang cerita." jawab Nyai Nur menemukan cara berbohong yang tepat.
"Pertama kali sakit, tapi makin lama makin enak, rasanya seperti ada yang mengganjal di memek semalaman." jawab Nyai Jamilah membuatku senang karena Nyai Jamilah bisa menikmati kontolku. Nyai Nur seharusnya bisa merasakan keperkasaan kontol superku.
"Sudah Nyai, aku harus pulang. Nanti aku akan menyuruh salah seorang santriwati menemani Nyai malam ini." kata Nyai Jamilah berpamitan.
"Eh, nggak usah Nyai. Saya sudah biasa ditinggal sendiri oleh Pak Yai." jawab Nyai Nur mencegah salah seorang santriwati menemaninya.
"Benar Nyai tidak apa apa sendirian?" tanya Nyai Jamilah heran karena Nyai Nur menolak untuk ditemani.
"Iya Nyai, aku nggak apa apa." jawav Nyai Nur mengantar Nyai Jamilah ke luar.
Setelah aku mendengar suara Nyai Jamilah mengajak Nur pulang, aku segera keluar dari kolong ranjang dengan perasaan lega. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang berseprei putih sambil menarik nafas panjang menikmati aroma mawar, sepertinya Nyai Nur terbiasa membuat kamarnya berbau harum karena Rosul suka dengan wewangian. Aku sengaja tiduran tanpa memakai sarungku sehingga Nyai Nur bisa melihat kontolku yang masih tetap tegang merindukan lobang memeknya.
"Zaka, apa apan kamu ?" tanya Nyai Nur yang sudah kembali melihatku tiduran dengan kontol mengacung tegak siap memberinya kenikmatan yang belum pernah didapatkannya dari pria lain
"Pengen ngentot Nyai Nur yang cantik..!" jawabku santai sambil mengocok kontolku.
"Aku nggak mau dientot kontol kamu, nanti memekku robek..!" jawab Nyai Nur, matanya tidak beranjak dari kontolku yang siap tempur.
"Kalau nggak mau ngentot, isepin biar ngecrot. Tapi memek Nyai juga sudah aku jilatin sampe ngecrot." jawabku tidak mau mengalah. Kapan lagi aku bisa memek Nyai Nur.
"Iya, yang penting bisa ngecrot..!" jawabku kegirangan melihat Nyai jamilah mendekati kontolku, seakan ingin mengetahui seberapa panjang kontolku, Nyai Nur
445Please respect copyright.PENANAqAy2iROjwB
Cerita nya lanjut di sini gan - - > KLIK INI
445Please respect copyright.PENANAGp8Ce99m1Z


