Bab 3: Klinik Rahasia
1669Please respect copyright.PENANAlCdx7QWFvt
Pagi berikutnya datang terlalu cepat. Langit Jakarta masih tertutup awan mendung, udara lembab menempel di kulit seperti janji buruk yang belum terucap. Rina berdiri di depan cermin kamar mandi, memandang pantulan dirinya dengan tatapan campur aduk. Ia mengenakan blouse putih sederhana yang agak ketat di dada dan rok hitam selutut yang sopan. Rambutnya diikat ponytail rapi, make-up tipis saja. Ia ingin terlihat biasa, tapi entah mengapa dadanya terasa sesak setiap kali mengingat alamat yang dikirim Victor semalam.
1669Please respect copyright.PENANAhB9fQYfGsH
Andi sudah siap di ruang tamu, wajahnya pucat seperti orang sakit. Kemeja biru mudanya kusut, matanya merah karena hampir tidak tidur. “Kita masih bisa mundur, Rin,” katanya untuk kesekian kalinya, suaranya lemah.
1669Please respect copyright.PENANATVdTr5mpql
Rina mendekat, memeluk suaminya erat. Tubuh Andi terasa dingin. “Kita sudah sepakat, Sayang. Ini demi kita. Dua minggu lagi kalau tidak dibayar, semuanya hilang. Aku kuat. Kamu juga harus kuat.”
1669Please respect copyright.PENANARTUZ0E0wln
Perjalanan menuju klinik memakan waktu hampir satu jam. Alamat yang diberikan Victor berada di kawasan industri mewah di pinggiran Jakarta Selatan, tersembunyi di balik gedung perkantoran tinggi yang terlihat biasa. Mobil mereka melewati gerbang otomatis yang dijaga dua orang berpakaian hitam. Tidak ada papan nama, hanya kamera pengawas yang berputar pelan.
1669Please respect copyright.PENANA9vnHj5DIrG
Begitu masuk ke lobby bawah tanah melalui lift khusus, suasana langsung berubah. Udara terasa steril, berbau antiseptik bercampur aroma lavender yang lembut. Lampu LED putih terang menerangi koridor panjang dengan dinding kaca buram. Beberapa perawat berpakaian serba putih melintas tanpa suara, kepala mereka tertunduk.
1669Please respect copyright.PENANAou2XexErqZ
Seorang pria tinggi berpakaian jas hitam menyambut mereka. “Pak Andi dan Bu Rina? Mr. Victor sudah menunggu. Silakan ikut saya.”
1669Please respect copyright.PENANAa0fQO3rWhH
Mereka diajak masuk ke ruang tunggu pribadi yang mewah. Sofa kulit hitam, lukisan abstrak di dinding, dan sebuah meja dengan botol champagne dingin. Victor sudah duduk di sana, kakinya disilangkan, tersenyum lebar saat melihat Rina.
1669Please respect copyright.PENANAeX4WKpHn7a
“Selamat datang di Klinik Eternity,” kata Victor dengan suara dalam yang tenang. “Tempat di mana mimpi tubuh sempurna menjadi nyata.”
1669Please respect copyright.PENANAOLNm92mOBz
Rina merasa bulu kuduknya berdiri. Victor berdiri, mendekat, dan kembali menyentuh dagu Rina sebentar, mengangkat wajahnya. “Kamu gugup? Bagus. Itu artinya kamu masih sadar apa yang akan terjadi.”
1669Please respect copyright.PENANAWRuvJbW8gx
Dr. Lena muncul dari pintu samping. Wanita berusia sekitar 38 tahun, cantik dengan cara profesional—rambut cokelat pendek rapi, kacamata tipis, dan tubuh langsing di balik jas dokter putih yang ketat. Senyumnya ramah, tapi matanya tajam seperti sedang menilai barang.
1669Please respect copyright.PENANA1VmS8ep1n7
“Rina Pramesti? Saya Dr. Lena, kepala bedah modifikasi di sini. Mari kita mulai dengan pemeriksaan awal.”
1669Please respect copyright.PENANA8CiMNTclm6
Mereka dibawa ke ruang pemeriksaan modern. Kamar itu dilengkapi mesin-mesin canggih, tempat tidur medis dengan stirrup, dan layar besar di dinding. Andi diperbolehkan ikut, tapi wajahnya semakin tegang.
1669Please respect copyright.PENANA6R6cTSsKtf
Dr. Lena meminta Rina melepas pakaian luar hingga tinggal bra dan celana dalam. Rina melakukannya dengan tangan gemetar. Udara ruangan yang dingin membuat kulitnya merinding. Payudaranya yang sedang naik-turun cepat karena napas gugup.
1669Please respect copyright.PENANAffVRBIrnEf
Dokter itu memakai sarung tangan lateks, lalu mulai memeriksa dengan teliti. Jari-jarinya yang dingin menyentuh payudara Rina, meremas pelan, memilin puting hingga mengeras. Rina menggigit bibir, berusaha menahan desahan kecil yang hampir keluar.
1669Please respect copyright.PENANAIUFeUDahs0
“Payudara alami grade A,” kata Dr. Lena sambil mencatat. “Kita bisa tingkatkan ke H-cup dengan implant silikon kohesif terbaik. Tekstur sangat natural, tapi jauh lebih penuh dan berat. Sensitivitas puting akan meningkat 300% setelah saraf dioptimalkan.”
1669Please respect copyright.PENANAZucY8Zb6Y8
Rina merasa panas di wajah. Andi duduk di kursi sudut, tangannya mengepal kuat.
1669Please respect copyright.PENANAv9Q1Z6NVhG
Dr. Lena melanjutkan ke bawah. Ia meminta Rina membuka kaki di stirrup. Jari dokter menyusuri bibir luar yang masih alami, lalu membuka pelan. Rina merasa sangat rentan. Udara dingin menyentuh bagian intimnya yang mulai lembab karena sentuhan profesional itu.
1669Please respect copyright.PENANACe7mZywAYW
“Memek masih sangat tight,” ujar Dr. Lena datar, tapi ada nada puas. “Kedalaman normal. Kita bisa tambah depth implant agar bisa menampung ukuran lebih besar tanpa cedera. Clitoris juga akan kita enlarge sedikit di tahap selanjutnya. Sensitivitasnya akan luar biasa.”
1669Please respect copyright.PENANAupw5rhWIy3
Victor berdiri di samping, memperhatikan setiap detail. Matanya gelap penuh nafsu. “Lihat ini, Andi. Istri kamu punya potensi menjadi masterpiece. Bibir injector untuk blowjob yang sempurna, pantat silicone yang montok, kulit glowing permanen. Setelah suntik libido enhancer, ia akan jadi nympho yang haus sentuhan.”
1669Please respect copyright.PENANAXnUcDSMuiU
Andi ingin protes, tapi Victor hanya melirik dingin. “Kamu sudah setuju. Sekarang tanda tangani dokumen pelepasan tanggung jawab.”
1669Please respect copyright.PENANAfuQVgGbg8w
Dokumen itu tebal. Rina membacanya dengan hati berdegup. Isinya menyatakan bahwa ia menyerahkan tubuhnya untuk serangkaian modifikasi estetika dan fungsional demi pelunasan hutang. Ada klausul “pengujian fungsi” yang samar, tapi Rina tahu artinya.
1669Please respect copyright.PENANAUR1l3ZjVv5
Tangan Rina gemetar saat menandatangani. Andi juga menandatangani dengan air mata menggenang di pelupuk.
1669Please respect copyright.PENANAGBxpvJc7Q0
“Bagus,” kata Victor. “Kita mulai tahap pertama hari ini juga. Payudara dan bibir. Operasi memakan waktu 4-5 jam. Besok pagi kamu sudah bisa lihat hasil awal.”
1669Please respect copyright.PENANAWAuAmzqxcw
Rina dibawa ke ruang persiapan. Perawat menyuntikkan obat penenang ringan. Tubuhnya terasa hangat dan rileks, tapi pikirannya masih jernih. Andi diizinkan menemani sebentar sebelum operasi.
1669Please respect copyright.PENANAqQbtitKerU
“Andi… janji ya, kamu tetap di sini,” bisik Rina sambil memegang tangan suaminya.
1669Please respect copyright.PENANAqUi0ES62vL
“Aku janji. Aku mencintaimu,” jawab Andi, suaranya pecah.
1669Please respect copyright.PENANAtlCJ2bHTxJ
Sebelum dibawa ke ruang operasi, Victor mendekat lagi. Ia membungkuk di dekat telinga Rina. “Bayangkan, besok payudaramu akan penuh dan berat. Setiap sentuhan angin saja akan membuatmu basah. Dan bibir itu… akan sempurna mengulum sesuatu yang besar.”
1669Please respect copyright.PENANABuaq0eJlEp
Napas Victor yang hangat menyapu telinga Rina. Wanita itu merasakan getaran kuat di perut bawahnya. Celana dalamnya mulai lembab. Rasa malu bercampur dengan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sekuat ini.
1669Please respect copyright.PENANAilGjI3KBfe
Dr. Lena tersenyum saat melihat reaksi Rina. “Sudah mulai merespons ya? Bagus. Libido enhancer tahap awal sudah kami masukkan melalui infus. Operasi ini akan berhasil sempurna.”
1669Please respect copyright.PENANAFrAx7IaXgJ
Rina dibaringkan di meja operasi. Lampu terang di atas kepalanya menyilaukan. Ia merasakan jarum infus dingin masuk ke pembuluh nadinya. Kelopak matanya mulai berat.
1669Please respect copyright.PENANAGr5Uf354NF
Sebelum tertidur total, pikiran terakhirnya adalah wajah Andi yang hancur, dan bayangan payudara besar yang akan menjadi miliknya. Tubuhnya yang dulu sederhana akan berubah. Dan entah mengapa, di balik ketakutan itu, ada gelombang kegembiraan gelap yang mulai tumbuh.
1669Please respect copyright.PENANASAluNuoyj4
Di ruang observasi, Andi dipaksa duduk di depan layar yang menampilkan proses operasi secara live. Victor berdiri di belakangnya, tangan besarnya menepuk bahu Andi.
1669Please respect copyright.PENANAegDEZQhcUF
“Saksikan baik-baik, Andi. Ini awal dari perjalanan istri kamu menjadi sesuatu yang jauh lebih baik… dan lebih nakal.”
1669Please respect copyright.PENANAI2JvEIqak7
Pisau bedah pertama menyentuh kulit Rina. Transformasi telah dimulai.
1669Please respect copyright.PENANAlvwAiP7jcc


