Bab 4: Kebangunan Tubuh Baru
1749Please respect copyright.PENANASj2mWsQg8x
Rina merasa dirinya mengapung dalam kabut tebal yang hangat. Suara bip mesin monitor samar-samar masuk ke telinganya, bercampur dengan aroma antiseptik yang tajam dan sedikit manis. Kelopak matanya berat, seperti tertindih beban yang tak terlihat. Perlahan, ia mencoba membuka mata.
1749Please respect copyright.PENANARrjXAmKolN
Cahaya ruangan terasa terlalu terang. Rina mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Langit-langit putih dengan lampu LED tertanam menyilaukan pandangannya. Tubuhnya terasa aneh—berat di bagian dada, hangat di wajah, dan ada denyutan halus di seluruh tubuhnya.
1749Please respect copyright.PENANAS5OzfsOalA
“Rina… kamu sudah bangun,” suara lembut Dr. Lena terdengar di sampingnya.
1749Please respect copyright.PENANAFoLQZlERVs
Rina menoleh pelan. Lehernya kaku. Dokter cantik itu tersenyum, memeriksa infus di tangan Rina. Di belakang Dr. Lena, Victor berdiri dengan tangan di saku, matanya penuh kepuasan. Andi duduk di kursi dekat tempat tidur, wajahnya pucat pasi, tangannya mengepal di pangkuan.
1749Please respect copyright.PENANAFY9AZkOUIs
“Berapa… lama aku tidur?” tanya Rina, suaranya serak. Bibirnya terasa penuh dan asing saat bergerak.
1749Please respect copyright.PENANAmGE0gQHQSy
“Hampir tujuh jam,” jawab Dr. Lena. “Operasi berjalan sangat sukses. Sekarang coba duduk perlahan. Kita lihat hasilnya.”
1749Please respect copyright.PENANA6Ewc9vaIrG
Perawat membantu Rina duduk. Begitu tubuhnya tegak, Rina langsung merasakan perbedaan yang mencolok. Dada-nya terasa sangat berat, penuh, dan tegang. Ia menunduk, dan napasnya tertahan.
1749Please respect copyright.PENANALRLtNVtGNY
Payudaranya yang dulu sedang kini telah berubah menjadi dua bukit besar, montok, dan sempurna berbentuk tetesan air. Ukuran H-cup yang dramatis. Kulitnya mulus mengkilap, dengan puting yang lebih besar dan berwarna lebih gelap, berdiri tegak meski ruangan dingin. Setiap hembusan napas membuat payudara itu naik-turun berat, menarik kulit di sekitarnya.
1749Please respect copyright.PENANAwKcmpGfkAM
“Oh Tuhan…” bisik Rina, tangannya naik pelan menyentuhnya. Sentuhan jari pertamanya membuat gelombang listrik menjalar langsung ke bawah perut. Putingnya—sekarang seperti dua buah puting matang yang sensitif—langsung mengeras hebat. Rasa panas dan geli bercampur menjadi satu, begitu intens hingga Rina menggigit bibir bawahnya yang terasa jauh lebih tebal dan lembut.
1749Please respect copyright.PENANAxKtVqdZhqL
“Bibir injector sudah selesai,” jelas Dr. Lena sambil tersenyum. “Kami beri filler premium. Bentuknya lebih penuh, sensual, dan sangat cocok untuk… berbagai aktivitas.”
1749Please respect copyright.PENANA9xcvZFHTvJ
Rina menyentuh bibirnya. Memang terasa beda. Lebih tebal, lebih empuk, seperti selalu siap untuk dicium atau… hal lain. Wajahnya di cermin yang dibawa perawat terlihat seperti boneka mahal. Mata masih sama, tapi keseluruhan wajahnya kini terlihat lebih menggoda, lebih nakal.
1749Please respect copyright.PENANAI6BWq7hqIa
Victor mendekat, berdiri tepat di samping tempat tidur. Tangan besarnya terulur, menyentuh payudara Rina dengan berani. Jempolnya mengusap puting kiri Rina pelan.
1749Please respect copyright.PENANAOMfZaONLQC
“Ahh!” Rina mengeluarkan desahan kecil yang tak terkendali. Sensasi itu luar biasa. Bukan sekadar sentuhan biasa—setiap gerakan jari Victor seperti aliran listrik langsung ke inti tubuhnya. Memeknya yang masih alami langsung bereaksi, mengeluarkan kelembapan hangat yang membuat celana rumah sakit tipisnya basah.
1749Please respect copyright.PENANA3R2OGWdpG0
“Lihat responsnya, Andi,” kata Victor dengan nada puas, tanpa menoleh ke suami Rina. “Puting baru ini sudah super sensitif. Bayangkan nanti saat aku mengisapnya berlama-lama.”
1749Please respect copyright.PENANA8MYREeDNw9
Andi tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bahunya gemetar. Air mata mengalir diam-diam di pipinya. Ia melihat payudara istrinya yang dulu hanya miliknya kini disentuh orang lain dengan begitu mudah, dan istrinya malah mendesah.
1749Please respect copyright.PENANA6oitnlNtje
Dr. Lena memeriksa jahitan yang hampir tak terlihat di bawah payudara Rina. “Pembengkakan akan turun dalam 3-5 hari. Tapi sensitivitas sudah optimal. Kami juga sudah suntikkan enhancer hormon dan saraf pertama. Libidonya akan mulai naik dalam 24 jam ke depan.”
1749Please respect copyright.PENANAwTEseav5R1
Rina masih terengah-engah karena sentuhan Victor. Payudaranya terasa panas, berat, dan penuh. Setiap kali ia bergerak, keduanya bergoyang berat, menarik kulit dan membuat putingnya bergesekan dengan kain baju rumah sakit. Sensasi itu membuat paha Rina tanpa sadar saling menggesek.
1749Please respect copyright.PENANAkMH3uTCbF1
“Aku… terasa aneh sekali,” bisik Rina. Suaranya lebih rendah, lebih seksi karena bibir baru.
1749Please respect copyright.PENANAnSJ3NZtcX7
Victor tersenyum lebar. Ia menarik kursi dan duduk di depan Rina. “Ini baru permulaan, Sayang. Besok kita mulai tahap pengujian. Tapi malam ini, kamu boleh pulang dulu. Istirahat di rumah. Rasakan tubuh baru kamu.”
1749Please respect copyright.PENANAoFBncJQiDd
Andi akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar. “Pak Victor… tolong, jangan sentuh dia lagi hari ini. Dia baru operasi.”
1749Please respect copyright.PENANApn0qb3M0AF
Victor tertawa pelan. “Andi, Andi… kamu masih belum paham. Rina sekarang milik program ini. Dan tubuhnya sudah mulai merasakan apa yang seharusnya ia rasakan sejak lama.”
1749Please respect copyright.PENANAYPoUs4jJlC
Victor memberi isyarat pada perawat untuk meninggalkan ruangan. Hanya tersisa mereka berempat. Dr. Lena memeriksa sekali lagi, lalu ikut keluar, meninggalkan Victor, Rina, dan Andi.
1749Please respect copyright.PENANAkRPyMVp4DU
“Rina, berdirilah,” perintah Victor lembut tapi tegas.
1749Please respect copyright.PENANAmwOdvE7OgE
Rina turun dari tempat tidur dengan bantuan. Kakinya agak lemas. Begitu berdiri, payudara besar itu bergoyang berat, menarik tubuhnya ke depan. Ia merasakan berat yang baru, sensasi penuh yang asing tapi entah mengapa… sangat nikmat. Ia berjalan pelan ke cermin besar di dinding.
1749Please respect copyright.PENANArsrZMeTK1V
Bayangan di cermin membuat Rina terpana. Tubuhnya masih ramping di pinggang, tapi dada dan wajahnya sudah berubah drastis. Bibir tebalnya terbuka sedikit, mata berkaca-kaca antara kaget dan… gairah. Ia menyentuh payudaranya sendiri dengan kedua tangan. Meremas pelan. Sensasi itu begitu kuat hingga lututnya hampir goyah.
1749Please respect copyright.PENANAfbD9vFM3HI
“puting-puting ini sangat responsif ya,” bisik Victor di belakangnya. Tangan pria itu memeluk Rina dari belakang, kedua telapak tangannya menangkup payudara besar itu dari bawah, meremasnya dengan kuat tapi terkontrol.
1749Please respect copyright.PENANAtn5ychTS6G
Rina mendesah panjang. “Ahh… panas… berat sekali…” Tubuhnya gemetar. Ia merasakan kontol Victor yang sudah mengeras menekan bokongnya dari belakang. Ukuran itu jelas jauh lebih besar dari milik Andi. Rasa panas dan tekanan itu membuat memek Rina berdenyut.
1749Please respect copyright.PENANAOvXz3wXCKc
Andi berdiri di sudut, tak berdaya. “Rina… Sayang…”
1749Please respect copyright.PENANAKnLA1M3LbC
Rina menoleh ke suaminya. Matanya berkaca-kaca. “Andi… ini… rasanya sangat berbeda. Setiap sentuhan… seperti listrik. Aku takut… tapi juga…”
1749Please respect copyright.PENANAlcF2VRpze1
Victor memilin kedua puting Rina sekaligus. Rina menjerit kecil, kakinya gemetar hebat. Cairan hangat mengalir di paha dalamnya. Ia orgasme ringan hanya dari rangsangan puting saja—sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.
1749Please respect copyright.PENANAAZuuYOro1q
“Lihat, Andi,” kata Victor bangga. “Istri kamu baru saja cum hanya dari putingnya. Bayangkan nanti saat aku masukkan yang besar ke dalamnya.”
1749Please respect copyright.PENANAgvG7PrjGiW
Rina bernapas tersengal. Wajahnya merah, bibir tebalnya basah. Ia merasa malu karena orgasme di depan suaminya, tapi tubuh barunya haus akan lebih. Victor melepaskan pelukannya, tapi sebelum pergi ia berbisik di telinga Rina:
1749Please respect copyright.PENANAD38R6JZhgh
“Malam ini di rumah, rasakan tubuhmu sendiri. Besok, aku akan uji seberapa dalam modifikasi ini bekerja.”
1749Please respect copyright.PENANAi918UtyBgb
Victor dan Dr. Lena keluar, meninggalkan suami-istri itu. Andi langsung mendekat, memeluk Rina hati-hati agar tidak menyentuh dada istrinya terlalu keras.
1749Please respect copyright.PENANA469eYBAXED
“Maafkan aku, Rin… maafkan aku,” bisik Andi sambil menangis.
1749Please respect copyright.PENANA0R5MfgETZF
Rina membelai rambut suaminya. Payudaranya yang besar menekan dada Andi. Sensasi itu lagi-lagi membuatnya mendesah pelan. “Aku masih mencintaimu, Andi. Tapi… tubuh ini… sudah berubah. Aku merasa panas sekali di dalam.”
1749Please respect copyright.PENANA1WE22bnf0P
Mereka pulang dengan mobil Victor yang dikirimkan. Sepanjang perjalanan, Rina gelisah di kursi. Setiap getaran mobil membuat payudaranya bergoyang, putingnya bergesekan dengan bra khusus pasca operasi yang masih longgar. Ia beberapa kali harus menahan desahan.
1749Please respect copyright.PENANAa4MxjEjJaJ
Sesampainya di apartemen, Rina langsung ke kamar mandi. Ia melepas baju di depan cermin besar. Tubuh barunya terpapar sepenuhnya. Payudara H-cup yang sempurna, bibir tebal, dan wajah yang jauh lebih cantik dan menggoda.
1749Please respect copyright.PENANAE3KS6BoMlD
Ia menyentuh dirinya sendiri. Jari-jarinya memilin puting, meremas dada yang berat. Sensasi itu begitu intens. Rina duduk di pinggir bathtub, membuka kaki, dan menyentuh memeknya yang sudah banjir. Satu sentuhan di klitoris saja membuat tubuhnya kejang hebat. Orgasme kedua datang dengan cepat, cairan bening menyembur kecil ke lantai keramik.
1749Please respect copyright.PENANAripKZ5jYgh
“Andi…” panggil Rina dengan suara lemah setelah orgasme.
1749Please respect copyright.PENANAv5OFj7dhAS
Andi masuk, melihat istrinya telanjang dengan tubuh baru yang menggoda, wajah memerah karena kenikmatan. Hatinya hancur, tapi kontol kecilnya di dalam celana mencoba mengeras—hanya untuk diingatkan betapa lemahnya ia.
1749Please respect copyright.PENANAO4hFIUPsjf
Rina menatap suaminya dengan mata berkabut gairah. “Peluk aku malam ini… tapi pelan. Payudaraku masih sakit… tapi juga sangat enak disentuh.”
1749Please respect copyright.PENANAScxoHVfHP5
Malam itu, untuk pertama kalinya, Andi merasakan betapa berbeda tubuh istrinya. Saat ia mencoba mengisap puting Rina, istrinya langsung menjerit kenikmatan dan orgasme lagi. Rina harus menahan diri agar tidak meminta lebih kasar.
1749Please respect copyright.PENANAt86yaPCPZ0
Di luar jendela, malam Jakarta terasa semakin gelap. Rina memeluk Andi sambil menyentuh payudaranya sendiri pelan-pelan. Ia tahu, besok “pengujian” yang sesungguhnya akan dimulai.
1749Please respect copyright.PENANAhMUQPrSqAk
Dan bagian dalam dirinya yang dulu pemalu mulai berbisik pelan: *Aku ingin tahu seberapa jauh ini bisa terasa nikmat.*
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 1749Please respect copyright.PENANAhlfgS7YvBU
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah
1749Please respect copyright.PENANAKvP5N9KjBU
1749Please respect copyright.PENANAFCnMHY9HPA
1749Please respect copyright.PENANAqSdixO1xLG


