Bab 2: Pilihan yang Tak Ada
1711Please respect copyright.PENANAEA2aVPfPZq
Malam semakin larut saat mobil mereka memasuki parkiran apartemen. Hujan masih turun tanpa henti, membasahi jalanan Jakarta yang lengang. Rina duduk diam di kursi penumpang, dokumen tebal dari Victor masih tergenggam erat di pangkuannya. Kata-kata bos suaminya itu terus bergema di kepalanya: modifikasi, tubuh wanita sebagai aset, payudara lebih penuh, sensitivitas berlipat ganda. Setiap kali ia mengingat sentuhan dagu Victor tadi, ada gelombang panas aneh yang menjalar dari perut ke bawah.
1711Please respect copyright.PENANANZOlllKqxs
Andi mematikan mesin mobil. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras. “Kita bicara di dalam saja,” katanya pelan, suaranya serak.
1711Please respect copyright.PENANAaOJ0xoM3li
Mereka naik lift dalam diam. Udara di antara mereka terasa berat, penuh ketakutan dan amarah yang tertahan. Begitu pintu apartemen tertutup, Andi langsung meledak.
1711Please respect copyright.PENANAhhn3F4aEYR
“Dia gila! Modifikasi apa? Dia pikir kita ini barang dagangan?!” Andi berjalan mondar-mandir di ruang tamu, tangannya menarik rambut dengan kasar. “Tiga setengah miliar, Rin! Kalau tidak dibayar, kita bangkrut total. Orang tua kita juga kena imbas.”
1711Please respect copyright.PENANAHRpPq2MWuE
Rina meletakkan dokumen di meja, lalu duduk di sofa. Dress kremnya sedikit naik hingga memperlihatkan paha mulusnya. Ia merasa lelah, tapi otaknya berputar cepat. “Aku tahu, Sayang. Tapi… apa pilihan kita? Kamu bilang sendiri, Victor bukan orang yang main-main. Dia punya koneksi di mana-mana.”
1711Please respect copyright.PENANAiWoTDb2pPH
Andi berhenti berjalan dan berlutut di depan istrinya. Tangannya memegang kedua lutut Rina, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mau kamu jadi korban. Aku suamimu, seharusnya aku yang melindungi kamu. Bukan sebaliknya.”
1711Please respect copyright.PENANAKk0ofDQYLj
Rina menyentuh pipi Andi dengan lembut. Jari-jarinya yang halus merasakan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di wajah suaminya. “Kamu sudah berusaha, Andi. Aku lihat setiap malam kamu tidak tidur memikirkan ini. Kalau aku bisa membantu… kenapa tidak?”
1711Please respect copyright.PENANAARQ9aK3m7e
Mereka pindah ke kamar tidur. Lampu temaram menyala, menerangi tempat tidur yang sudah menjadi saksi banyak malam keintiman mereka. Rina melepas dress-nya perlahan, hanya menyisakan bra dan celana dalam berwarna hitam sederhana. Tubuh alaminya terpapar: payudara sedang yang pas di genggaman Andi, pinggang ramping, dan bokong yang lembut.
1711Please respect copyright.PENANAHszcEOd8iA
“Andi… peluk aku,” bisik Rina.
1711Please respect copyright.PENANAUa2QcVO8bE
Andi mendekat, memeluk istrinya dari belakang. Bibirnya mengecup leher Rina, menghirup aroma sabun mandi yang masih menempel. Tangan Andi naik ke payudara istrinya, meremas lembut melalui bra. Rina mendesah pelan, tubuhnya merespons sentuhan suaminya. Putingnya mengeras di bawah kain bra, sensitif terhadap jari-jari Andi yang memilin pelan.
1711Please respect copyright.PENANAAjot4Be99Y
“Kamu masih milikku, Rin,” gumam Andi di telinga istrinya, suaranya penuh kepemilikan yang rapuh. Ia melepas bra Rina, membiarkan payudara istrinya bebas. Mulutnya langsung menyusu salah satu puncak dada, lidahnya berputar di sekitar puting yang mengeras. Rina menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas rambut Andi.
1711Please respect copyright.PENANAFjUEMhdhTc
Sensasi itu hangat dan familiar. Rina merasakan kelembapan mulai mengumpul di antara pahanya. Tapi malam ini, pikirannya melayang. Ia membayangkan tangan yang lebih besar, lebih kuat, dan suara berat Victor yang memuji tubuhnya. Rasa bersalah langsung menyergap, tapi justru membuatnya semakin basah.
1711Please respect copyright.PENANAXZLp8JzEg5
“Andi… sentuh aku di bawah,” pinta Rina dengan suara gemetar.
1711Please respect copyright.PENANAPMooGh7A0z
Andi menurunkan celana dalam istrinya. Jari tengahnya menyusuri celah yang sudah licin. “Kamu sudah sangat basah…” bisiknya, campuran bangga dan sedih. Ia memasukkan satu jari, lalu dua, bergerak perlahan sambil ibu jarinya mengusap titik sensitif di atas. Rina mendesah lebih keras, pinggulnya bergerak mengikuti irama jari suaminya.
1711Please respect copyright.PENANAI2btDsHxXN
Mereka berbaring di tempat tidur. Andi naik ke atas tubuh Rina, mencium bibirnya dalam-dalam. Lidah mereka saling menari, penuh keputusasaan. Rina merasakan kontol Andi yang sudah mengeras menyentuh pahanya. Hanya 11 sentimeter, tapi malam ini ia butuh kehangatan itu.
1711Please respect copyright.PENANAk8mcTTD4h3
“Masuklah, Sayang,” bisik Rina di telinga Andi.
1711Please respect copyright.PENANAY3SqhTr2Ju
Andi mendorong masuk perlahan. Rina merasakan tekanan familiar yang memenuhi dirinya. Gerakan Andi lembut pada awalnya, lalu semakin cepat seiring nafsu yang membara. Suara basah percintaan mereka memenuhi kamar, bercampur dengan desahan Rina dan napas berat Andi.
1711Please respect copyright.PENANAfTYdCvqQ29
“Lebih dalam… ahh…” Rina melengkungkan punggungnya. Ia membayangkan sesuatu yang lebih besar, lebih tebal, yang bisa meregangkannya hingga batas. Bayangan itu membuatnya orgasme lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya mengejang, dinding dalamnya berdenyut kuat di sekitar kontol Andi, mengeluarkan cairan hangat yang membasahi seprai.
1711Please respect copyright.PENANAHlv3oxtmly
Andi tidak tahan lama. Beberapa saat kemudian ia pun meledak di dalam, menyemburkan cairannya dengan erangan tertahan. Mereka berpelukan setelahnya, keringat bercampur, napas masih tersengal.
1711Please respect copyright.PENANAC7pkYBG4UY
Tapi setelah kenikmatan memudar, realitas kembali menghantam.
1711Please respect copyright.PENANA3koquum7tI
“Andi… aku akan lakukan program itu,” kata Rina tiba-tiba, suaranya tegas meski matanya basah.
1711Please respect copyright.PENANAZMc0frdGZw
Andi bangkit duduk. “Rina, tidak! Aku tidak izinkan.”
1711Please respect copyright.PENANApt9QjNkWuV
“Apa alternatifnya? Lihat kita sekarang. Apartemen ini, masa depan kita, orang tua kita… semuanya akan lenyap. Victor bilang modifikasi itu hanya sementara, kan? Hanya untuk bayar hutang. Setelah itu kita bisa mulai lagi.”
1711Please respect copyright.PENANAkiZte7exNM
Andi menangis diam-diam. Ia memeluk istrinya erat sekali. “Aku takut kehilangan kamu, Rin. Aku cemburu hanya karena dia melihatmu saja tadi.”
1711Please respect copyright.PENANASg4hFKXURa
Rina membelai punggung suaminya. “Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku tetap istrimu. Ini hanya… transaksi. Tubuhku untuk kebebasan kita.”
1711Please respect copyright.PENANAZ8s7k0FemF
Mereka berbicara hingga dini hari. Andi mencoba segala argumen, tapi hutang yang mencekik membuatnya tak berdaya. Rina, yang biasanya pemalu, kini menunjukkan ketegaran yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Di dalam hatinya, ada rasa penasaran yang semakin besar. Bagaimana rasanya memiliki tubuh yang lebih sempurna? Lebih sensitif? Lebih diinginkan?
1711Please respect copyright.PENANAkoPot3gQae
Pagi harinya, setelah semalaman hampir tidak tidur, Andi akhirnya mengangguk lemah.
1711Please respect copyright.PENANAe8UaSsEYE3
“Baiklah… kita hubungi Victor hari ini juga.”
1711Please respect copyright.PENANAwRZ9Y3ZwNV
Rina merasa campuran lega dan takut. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, memandang tubuh alaminya. Payudaranya yang sedang, bibir biasa, kulit yang belum sempurna. “Mungkin ini yang terbaik,” bisiknya pada bayangannya.
1711Please respect copyright.PENANAL8RX193NZP
Siang itu, Andi menelepon Victor. Suara bosnya terdengar puas di seberang telepon.
1711Please respect copyright.PENANA6QUszHWYqk
“Bagus. Besok pagi jam 9, bawa Rina ke alamat yang saya kirim. Klinik pribadi saya. Jangan telat.”
1711Please respect copyright.PENANAVMIiSwFaMY
Malam sebelum hari H, Rina dan Andi berusaha menikmati waktu mereka. Andi lagi-lagi memeluk istrinya dengan penuh cinta. Kali ini foreplay mereka lebih lama. Andi menjilat setiap inci tubuh Rina, dari leher, turun ke payudara, lalu ke pusar, hingga ke celah basah yang sudah siap menyambut. Lidahnya bekerja telaten di titik sensitif Rina, membuat istrinya menjerit kecil dan mencengkeram seprai.
1711Please respect copyright.PENANA2l3s8CyWTF
Rina orgasme dua kali hanya dari oral suaminya. Tubuhnya gemetar, cairan bening mengalir deras. Saat Andi akhirnya masuk, Rina memeluknya erat, berbisik berulang kali, “Aku mencintaimu, Andi. Selamanya.”
1711Please respect copyright.PENANAJWRqVk6eEl
Tapi saat kenikmatan datang, benak Rina kembali melayang ke besok. Ke klinik rahasia. Ke tangan Victor yang kuat. Ke janji tubuh baru yang lebih responsif.
1711Please respect copyright.PENANAejj1ocn6mi
Hujan telah berhenti. Malam Jakarta terasa hening, seolah menahan napas menanti badai yang akan datang.
1711Please respect copyright.PENANA18sISDJjar
Rina memejamkan mata, tangannya memegang tangan Andi erat. Besok, segalanya akan berubah.
1711Please respect copyright.PENANANw58jp9kYd


