Bab 1: Hutang yang Tak Terbayar
1975Please respect copyright.PENANA1Hnnv1pDH0
Malam itu udara Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Hujan deras mengguyur jendela apartemen kecil mereka di pinggiran kota, menciptakan irama monoton yang seolah ikut menekan dada Rina Pramesti. Wanita berusia 26 tahun itu berdiri di depan kompor, mengaduk sup ayam sederhana yang menjadi menu malam mereka. Rambut hitamnya yang lurus panjang diikat asal, beberapa helai menempel di leher yang berkeringat karena panas dapur. Tubuhnya yang alami—payudara sedang, pinggang ramping, dan pinggul yang lembut—masih memancarkan kecantikan sederhana yang membuat Andi selalu bangga dulu.
1975Please respect copyright.PENANAowo0aTvOQb
Rina menghela napas panjang. Sudah tiga bulan terakhir, ketegangan ini semakin menjadi. Andi, suaminya yang berusia 28 tahun, semakin sering pulang larut dengan wajah pucat dan mata kosong. Pekerjaannya sebagai manajer proyek di perusahaan properti milik Mr. Victor Hartono dulu terlihat menjanjikan. Gaji besar, bonus, dan janji promosi. Tapi semuanya berubah saat proyek mega-mall gagal total karena masalah izin dan korupsi internal. Andi yang ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek kini terjerat hutang pribadi yang jumlahnya sudah mencapai miliaran rupiah. Hutang yang seolah tak ada ujungnya.
1975Please respect copyright.PENANAHV0kez5Ej8
Pintu apartemen terbuka dengan suara klik lemah. Andi masuk, jasnya basah kuyup, dasi longgar, dan bahunya merosot seperti membawa beban dunia. "Rina... aku pulang," katanya pelan, suaranya hampir hilang ditelan suara hujan.
1975Please respect copyright.PENANAK5LjDG9WiB
Rina langsung berbalik, tersenyum lembut meski hatinya cemas. Ia mendekat, membantu Andi melepas jas dan sepatu. Tubuh mereka bersentuhan sebentar, cukup untuk mengingatkan Rina pada kehangatan yang dulu selalu ada di antara mereka. Andi mencium kening istrinya, tapi ciumannya dingin. "Maaf, telat lagi. Rapat dengan Bos Victor... panjang."
1975Please respect copyright.PENANAgSdzxHao64
Mereka duduk di meja makan kecil. Sup ayam mengepul, tapi nafsu makan Andi sepertinya sudah hilang. Rina menyentuh tangan suaminya. "Cerita dong, Sayang. Berapa lagi yang harus kita bayar?"
1975Please respect copyright.PENANAcXk03SZjII
Andi menggeleng, matanya menghindari tatapan Rina. "Total hutang perusahaan yang ditanggungku... hampir tiga setengah miliar. Victor bilang kalau tidak dibayar dalam dua minggu, dia akan laporkan ke polisi dan sita semua aset kita. Rumah orang tua, tabungan, bahkan apartemen ini."
1975Please respect copyright.PENANAxF72o8EUxf
Rina merasa dunia berputar. Tangan halusnya gemetar saat memegang sendok. Dulu mereka adalah pasangan biasa yang bahagia. Rina bekerja sebagai desainer grafis freelance, Andi naik jabatan. Mereka menikah dua tahun lalu dengan pesta sederhana, penuh harapan. Sekarang, semuanya terancam lenyap karena satu kesalahan proyek.
1975Please respect copyright.PENANADZzPTd7fhG
"Aku sudah coba nego, Rin. Tapi Victor... dia bukan orang yang mudah diajak kompromi," lanjut Andi dengan suara bergetar. "Dia bilang ada 'jalan keluar' lain. Tapi dia tidak jelaskan apa."
1975Please respect copyright.PENANAxZ961LFkYA
Malam itu mereka berbaring di tempat tidur, saling memeluk dalam diam. Rina menyandarkan kepala di dada Andi, mendengar detak jantung suaminya yang cepat. Tangan Andi mengusap punggung istrinya, turun ke pinggul. Biasanya sentuhan itu akan berlanjut jadi keintiman hangat, tapi malam ini Andi hanya memeluk erat, seolah takut Rina akan hilang.
1975Please respect copyright.PENANAOqIeo9JrUY
"Kita akan lewati ini bareng-bareng," bisik Rina, mencoba tegar. "Aku istri kamu, Andi. Apa pun yang terjadi."
1975Please respect copyright.PENANAZ4SRrL22GC
Keesokan paginya, telepon berdering saat Rina sedang mandi. Andi mengangkatnya dengan tangan dingin. Suara berat Mr. Victor Hartono terdengar di seberang.
1975Please respect copyright.PENANAIl1rKthwkR
"Andi, sore ini jam 4 datang ke kantor saya. Bawa istri kamu. Kita bicara soal hutang itu secara pribadi."
1975Please respect copyright.PENANAuTD6Cr0Reb
Andi ingin menolak, tapi ancaman dalam nada Victor membuatnya hanya bisa menjawab "Baik, Pak."
1975Please respect copyright.PENANAQq4P7qT8Au
Rina keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh. Kulitnya masih basah, rambut menetes air. "Siapa, Sayang?"
1975Please respect copyright.PENANA6359an5K53
"Bos Victor. Kita disuruh ke kantor sore ini... berdua."
1975Please respect copyright.PENANAOopHac9X8x
Wajah Rina memucat, tapi ia mengangguk. Ia memilih dress sederhana berwarna krem yang sedikit ketat di dada dan pinggul, menonjolkan lekuk alaminya tanpa terlalu vulgar. Andi memandang istrinya dengan campuran cinta dan cemas. "Kamu cantik sekali, Rin."
1975Please respect copyright.PENANAweau6lV2FX
Sore itu, mobil mereka memasuki gedung kantor mewah di kawasan Sudirman. Lift naik ke lantai paling atas, menuju ruangan pribadi Mr. Victor Hartono. Pintu kayu mahoni terbuka, memperlihatkan ruang kerja luas dengan pemandangan kota yang memukau.
1975Please respect copyright.PENANAO0PfVHDPTA
Mr. Victor berdiri di balik meja kerjanya. Pria 43 tahun itu tinggi, 185 cm, tubuh kekar terlatih, rambut sedikit beruban di pelipis, dan aura kekuasaan yang menekan. Matanya tajam, tersenyum tipis saat melihat Rina masuk di belakang Andi.
1975Please respect copyright.PENANAgrR9VWnYsN
"Ah, akhirnya. Duduklah," kata Victor dengan suara dalam yang tenang tapi penuh wibawa.
1975Please respect copyright.PENANA9FnZBEWqK9
Andi dan Rina duduk di sofa kulit. Victor tidak langsung ke topik hutang. Ia mengobrol ringan, menanyakan kabar Rina, pekerjaannya sebagai desainer. Sepanjang percakapan, mata Victor sering melirik ke arah dada Rina yang naik-turun karena gugup, ke leher jenjangnya, dan ke bibir alami yang penuh.
1975Please respect copyright.PENANAbe5849Ib0N
"Rina, kamu sangat cantik," puji Victor tiba-tiba, tanpa malu. "Andi beruntung sekali punya istri seperti kamu. Kulit mulus, tubuh proporsional... masih alami, belum disentuh sentuhan modern."
1975Please respect copyright.PENANAVoIH3HBVwl
Rina merasa pipinya panas. Ada getaran aneh di perutnya mendengar pujian itu. Andi menggenggam tangan istrinya erat, tapi diam saja.
1975Please respect copyright.PENANAmTxFD7xNzU
Victor lalu berdiri, berjalan mendekat. Ia menuangkan whiskey ke tiga gelas. "Hutang kalian besar. Sangat besar. Tapi saya bukan orang kejam. Saya punya tawaran. Bayar tunai... atau ikut 'Program Khusus' saya. Program modifikasi yang akan mengubah hidup kalian."
1975Please respect copyright.PENANAv2YylvK58W
Andi mengerutkan kening. "Apa maksudnya, Pak?"
1975Please respect copyright.PENANABUX7ZUKWz2
Victor tersenyum lebar, matanya tidak lepas dari Rina. "Kamu akan tahu nanti. Tapi ingat, Rina... tubuh seorang wanita adalah aset paling berharga. Apalagi jika dimodifikasi dengan benar. Payudara lebih penuh, bibir lebih menggoda, sensitivitas yang berlipat ganda... bayangkan betapa bahagianya seorang wanita yang bisa merasakan kenikmatan berkali-kali lipat."
1975Please respect copyright.PENANANvs0hbledW
Rina merasa napasnya tertahan. Kata-kata Victor seperti tangan tak kasat mata yang menyentuh tubuhnya. Ia menunduk, tapi lututnya tanpa sadar sedikit merapat. Andi terlihat marah tapi tak berdaya, wajahnya merah padam karena cemburu dan ketakutan.
1975Please respect copyright.PENANAk9qzzXMLfW
Victor mendekat lebih lagi, berdiri tepat di depan Rina. Aroma parfum mahalnya yang maskulin memenuhi ruangan. "Pikirkan baik-baik. Dua minggu. Kalau tidak, saya akan ambil semuanya. Termasuk... kehormatan kalian berdua."
1975Please respect copyright.PENANAGwK9W800sv
Tangan Victor menyentuh dagu Rina sebentar, mengangkat wajahnya pelan. Sentuhan itu hangat, kuat, dan penuh kuasa. "Kamu punya potensi besar, Rina. Jangan sia-siakan."
1975Please respect copyright.PENANAIDFgGiEle7
Andi ingin berdiri, tapi Victor hanya melirik tajam, membuatnya kembali duduk. Rina merasa jantungnya berdegup kencang. Ada campuran takut, marah, dan... sesuatu yang asing, seperti getaran panas di bawah perut yang membuatnya malu sendiri.
1975Please respect copyright.PENANAQZsWAwDXTD
Pertemuan itu berakhir dengan Victor memberikan dokumen tebal berisi rincian hutang dan "opsi alternatif" yang masih samar. Di mobil dalam perjalanan pulang, suasana hening mencekam.
1975Please respect copyright.PENANAlmBv7Lm1w4
"Apa yang dia maksud dengan modifikasi, Rin?" tanya Andi dengan suara gemetar.
1975Please respect copyright.PENANAmiBtgacmrT
Rina menggeleng, tangannya memegang dokumen erat. "Aku tidak tahu... tapi matanya tadi... seperti mau menelan aku hidup-hidup."
1975Please respect copyright.PENANAuLLrEQ7NXP
Malam itu di rumah, Andi mencoba bercinta dengan Rina untuk melepas ketegangan. Ia mencium leher istrinya, tangannya meraba payudara sedang Rina dengan lembut. Rina mencoba merespons, mendesah pelan saat jari Andi menyentuh puncak dadanya yang mengeras. Tapi pikiran Rina melayang ke kata-kata Victor tadi. Bayangan payudara lebih besar, sensasi yang lebih kuat... membuatnya basah lebih cepat dari biasanya.
1975Please respect copyright.PENANAC3Rw88V19b
"Andi... pelan saja," bisik Rina saat suaminya masuk ke dalamnya. Gerakan Andi biasa saja, kontolnya yang 11 cm terasa cukup untuk mereka selama ini. Tapi kali ini, Rina tanpa sadar membayangkan sesuatu yang lebih besar, lebih kuat. Ia mencapai klimaks dengan cepat, tapi air matanya jatuh karena rasa bersalah.
1975Please respect copyright.PENANAzdFFKsZcsA
Andi menyelesaikan dengan cepat, lalu memeluk istrinya. "Maaf... aku lemah sekali."
1975Please respect copyright.PENANAmA0Rxv5gfC
Rina membelai rambut suaminya. "Kita akan cari jalan keluar. Bersama."
1975Please respect copyright.PENANAh7tSjayVgh
Tapi di dalam hati Rina, benih ketakutan bercampur rasa penasaran sudah tumbuh. Victor bukan hanya bos. Ia adalah predator yang sudah memilih mangsanya.
1975Please respect copyright.PENANAFSW6GDquJg
Hujan masih turun deras di luar jendela. Rina memandang langit malam yang gelap, tidak tahu bahwa ini hanyalah awal dari transformasi yang akan menghancurkan dan membangun kembali dirinya dalam bentuk yang paling gelap dan nikmat.
1975Please respect copyright.PENANA2Qd6bq3R7B
1975Please respect copyright.PENANAxkVWF3gGy7
1975Please respect copyright.PENANA4VVNdDkZ4r


