Bab 3: Malam yang Tak Berakhir – Gelombang Kedua
556Please respect copyright.PENANA1WfmIPHuxy
Vina masih tergeletak lemas di atas meja kerja Adrian, napasnya tersengal-sengal. sperma kental yang baru saja disemprotkan Adrian masih menetes pelan dari memeknya yang merah dan bengkak. Tubuhnya berkeringat, payudara F-cupnya naik turun mengikuti irama napas yang belum stabil. Kakinya gemetar hebat, lututnya lemas seperti jelly. Rasa penuh dan hangat di dalam perut bawahnya membuatnya sadar betapa dalam Adrian telah menandai dirinya.
556Please respect copyright.PENANA3733lbdTfH
Adrian berdiri di belakangnya, kontolnya yang masih setengah tegang menggesek pelan bokong Vina yang memerah bekas tamparan. Ia tersenyum puas melihat tubuh cantik karyawan barunya yang sudah rusak nikmat.
556Please respect copyright.PENANA2qfeOTZRJY
“Belum selesai, Vina. Malam ini baru permulaan. Saya ingin melihat seberapa dalam kamu bisa hancur,” bisik Adrian dengan suara rendah yang penuh kuasa.
556Please respect copyright.PENANADnA9VwypwN
Vina mencoba bangkit, tapi Adrian menekan punggungnya kembali ke meja dingin. “Pak… saya sudah… sudah tidak kuat…” suaranya pecah, campuran antara tangis dan desahan sisa orgasme.
556Please respect copyright.PENANA5KTtegpvKL
Adrian tertawa pelan. Ia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil. Di dalamnya terdapat anal plug berukuran sedang dengan permukaan mengkilap dan sebuah remote kecil. “Kamu pikir saya hanya akan memasukkan kontol sekali saja? Angkat bokongmu.”
556Please respect copyright.PENANAQNRdafxfNY
Vina menggigil. Rasa malu membakar wajahnya, tapi tubuhnya yang sangat responsif sudah mulai bereaksi lagi. Memeknya berdenyut pelan, mengeluarkan campuran cairan orgasminya dan sperma Adrian. Dengan patuh, ia mengangkat pinggulnya sedikit.
556Please respect copyright.PENANAFhhQBia1Ed
Adrian menuangkan sedikit minyak pelumas dingin ke celah apel Vina yang masih virgin. Sensasi dingin itu membuat Vina mengejang kecil. “Pak… itu… itu tempatnya kotor…” bisiknya malu.
556Please respect copyright.PENANAjYsMIuWi1i
“Semua lubangmu milik saya sekarang,” jawab Adrian tegas. Ujung anal plug yang dingin dan licin mulai menekan lubang apel Vina. Adrian memutarnya pelan, memberi tekanan bertahap.
556Please respect copyright.PENANAZVtOl4pKaP
“Ngghhh… ahh… sakit… penuh…” Vina menggigit lengan sendiri. Rasa meregang yang aneh dan asing menyebar di belakangnya. Plug itu semakin masuk, semakin tebal, meregang dinding apelnya yang sensitif. Ketika bagian terlebar melewati otot sphincter, Vina menjerit kecil. Plug itu terkunci sempurna di dalam, hanya menyisakan pangkal berlian kecil di luar.
556Please respect copyright.PENANAHK5WPT0jE7
Sensasi penuh di belakang membuat memek Vina semakin berdenyut. Adrian menekan remote. Plug itu mulai bergetar pelan di dalam apel Vina.
556Please respect copyright.PENANAYx4pL5Vu7v
“Ahh! Getarannya… terlalu dalam…” Kaki Vina gemetar hebat. Getaran itu menjalar ke memeknya, membuat cairan bening kembali menetes ke lantai.
556Please respect copyright.PENANAcuXRNgsnIr
Adrian membalik tubuh Vina hingga telentang di meja. Payudara besarnya terpapar sempurna. Ia menunduk, mulutnya menyedot puting kiri Vina dengan rakus. Lidahnya menari di sekitar anggur yang mengeras, sesekali menggigit pelan. Tangan kanannya meremas payudara kanan, sementara tangan kirinya kembali mengaduk memek Vina yang sudah banjir.
556Please respect copyright.PENANAWnclQuCowa
Suara cipratan basah terdengar jelas. *Slosh… slosh… slosh.* Bau aroma seks memenuhi ruangan mewah itu — campuran keringat, cairan intim Vina yang manis-asin, dan cologne Adrian yang maskulin.
556Please respect copyright.PENANArn3Hvpau8S
“Rasa putingmu manis sekali,” gumam Adrian di antara isapan. Ia menarik puting Vina dengan gigi, membuat Vina melengkungkan punggungnya. Getaran anal plug semakin kuat. Vina merasa perut bawahnya penuh dari dua arah — getaran di apel dan jari Adrian di memek.
556Please respect copyright.PENANAhoZOL3WYh6
“Pak… saya mau keluar lagi… tolong… izinkan saya…” Vina memohon dengan suara parau, air mata mengalir di pipinya.
556Please respect copyright.PENANALVXzPi4q67
“Belum. Tahan. Saya ingin kamu memohon lebih rendah,” kata Adrian sambil mempercepat gerakan jarinya. Tiga jari tebalnya mengaduk memek Vina dengan kasar, ibu jarinya menekan kristorisyang sudah membengkak keras.
556Please respect copyright.PENANASUUmryk52D
Vina menangis semakin keras. Tubuhnya bergetar seperti daun di angin kencang. Sensasi panas, dingin dari getaran plug, sakit meregang, dan kenikmatan yang membakar membuat pikirannya kosong. Ia hanya bisa mendesah mesum tanpa kendali.
556Please respect copyright.PENANAOVDdlOPHVo
Adrian akhirnya menarik jarinya. Ia berdiri di antara kedua paha Vina yang terbuka lebar, kontolnya sudah kembali mengeras sepenuhnya, kepala besarnya mengkilap oleh cairan. Ia menggesekkan kontol itu di celah memek Vina yang banjir, menekan kristorisVina berulang kali.
556Please respect copyright.PENANAw3k4UeFOAz
“Katakan dengan jelas, Vina. Katakan kamu ingin kontol bosmu menghancurkan memek murahanmu sambil plug menggetarkan apelmu.”
556Please respect copyright.PENANAaNWpJkCvog
Vina menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca, penuh malu, takut, dan nafsu yang sudah tak bisa ditahan. “Saya… saya ingin kontol Bapak… menghancurkan memek murahan saya… sambil plug getar di apel saya… tolong… hancurkan saya, Pak Adrian…”
556Please respect copyright.PENANAlxFjQ4oPgJ
Adrian mendorong pinggulnya dengan kuat. kontol tebal 20 cm-nya masuk dalam satu hantaman hingga pangkal. Karena plug di apel, ruang di dalam memek Vina terasa lebih sempit.
556Please respect copyright.PENANAFS1peFOsgS
“Aaaahhhhh!!” Vina menjerit keras. Rasa penuh yang ekstrem membuat matanya membelalak. Ia merasa diregang maksimal dari dua lubang sekaligus. Dinding memeknya menggenggam kontol Adrian dengan rakus, berdenyut-denyut hebat.
556Please respect copyright.PENANAJdFkBJotvH
Adrian mulai menghantam dengan irama kuat dan dalam. Setiap hantaman membuat payudara Vina bergoyang liar. Suara *plak plak plak* basah memenuhi ruangan, bercampur dengan suara getaran plug dan desahan Vina yang tak beraturan.
556Please respect copyright.PENANAVVMHE8s0K1
“Tight sekali… memekmu mengisap kontol saya seperti pelacur professional,” geram Adrian. Tangannya menampar payudara Vina bergantian. *Plak! Plak!* Kulit putih itu memerah indah.
556Please respect copyright.PENANAACYjB6WW10
Vina merasa dunianya berputar. Setiap hantaman kontol Adrian menekan plug di apelnya, membuat getaran semakin terasa. Cairan orgasminya menyembur kecil setiap kali kontol Adrian menyentuh titik G-nya.
556Please respect copyright.PENANAMED7gmlyLb
Adrian menarik keluar kontolnya sebentar, lalu memasukkan kembali dengan lebih kasar. Ia mengangkat kedua kaki Vina ke bahunya, membuat posisi semakin dalam. Hantaman demi hantaman membuat perut Vina sedikit kembung terlihat setiap kali kontol masuk penuh.
556Please respect copyright.PENANAXksJ3cskQT
“Pak… saya… saya mau… cum lagi…!” Vina menjerit.
556Please respect copyright.PENANAgenN9RPvVz
“Kum sekarang! Biarkan saya rasakan memekmu kejang di kontol saya!” Adrian mempercepat ritme, tangannya meremas kristorisVina dengan kasar.
556Please respect copyright.PENANAYo2ZsRFXby
Tubuh Vina mengejang hebat. Kakinya yang berada di bahu Adrian gemetar tak terkendali. Memeknya berdenyut kuat, menyemburkan cairan orgasme bening yang memercik ke perut Adrian. Gelombang kenikmatan itu begitu kuat hingga Vina hampir pingsan, matanya mendongak, lidahnya sedikit terjulur.
556Please respect copyright.PENANANYWoK5TRbZ
Adrian tidak berhenti. Ia terus menghantam selama orgasme Vina, memperpanjangnya hingga Vina menangis karena terlalu nikmat. Akhirnya, dengan erangan rendah yang dalam, Adrian menekan dalam-dalam dan menyemprotkan sperma panasnya lagi ke dalam rahim Vina. Semprotan demi semprotan membuat perut bawah Vina terasa semakin penuh dan hangat. Beberapa sperma meluap keluar bercampur cairan Vina sendiri.
556Please respect copyright.PENANAqx615cov19
Adrian menarik kontolnya perlahan. Memek Vina yang sudah merah dan longgar sedikit terbuka, mengeluarkan campuran sperma putih kental yang mengalir ke meja. Plug di apelnya masih bergetar pelan.
556Please respect copyright.PENANAAVS4gwN1av
Vina terbaring lemas, tubuhnya berkeringat, air mata mengalir, tapi ada senyum kecil yang tak sadar terbentuk di bibirnya. Rasa malu masih ada, tapi kenikmatan yang baru ia rasakan jauh lebih kuat dari rasa bersalahnya.
556Please respect copyright.PENANADjyABoatft
Adrian menarik plug itu keluar dengan pelan. Vina menggigil lagi saat plug keluar dari apelnya. Adrian mengusap rambut Vina yang basah keringat dengan lembut yang kontras dengan sikap sadisnya tadi.
556Please respect copyright.PENANAu8Ap7lwLA6
“Ini baru malam pertama, budak kecil. Besok pagi, kamu akan datang dengan rok pendek tanpa celana dalam. Saya akan uji seberapa patuh kamu di bawah meja rapat.”
556Please respect copyright.PENANAqfuFoBFSHx
Vina hanya bisa mengangguk lemah. Ia membersihkan diri dengan tisu yang diberikan Adrian, tapi sperma bosnya masih terasa di dalam tubuhnya. Saat meninggalkan ruangan CEO, langkahnya tertatih, memek dan apelnya terasa panas dan berdenyut.
556Please respect copyright.PENANAAcbtWiI7NX
Di perjalanan pulang, Vina duduk di kursi mobil dengan hati campur aduk. Ia memikirkan Andi yang menunggu di rumah. Tapi setiap kali mengingat hantaman Adrian dan getaran plug tadi, memeknya kembali basah.
556Please respect copyright.PENANAs9i1kHlx2X
Harga dirinya sebagai karyawan ambisius sudah retak parah. Dan retakan itu semakin lebar seiring malam yang panjang ini.
556Please respect copyright.PENANAnXtmQpMg5x


