Bab 4: Desahan Diam di Bawah Meja Rapat
531Please respect copyright.PENANAPEOA26kVDI
Pagi berikutnya, Vina berdiri di depan cermin apartemennya dengan tatapan kosong. Jam menunjukkan pukul 06.45. Tubuhnya masih terasa pegal dan sensitif setelah malam panjang di ruang CEO. Memeknya terasa agak bengkak dan setiap gerakan membuatnya mengingat hantaman kontol Adrian yang tebal. Apelnya juga masih terasa meregang bekas anal plug yang bergetar semalaman. sperma kental Adrian seolah masih menempel di dalam rahimnya, meski ia sudah membersihkan diri berkali-kali.
531Please respect copyright.PENANAbK6VaUmO5j
Andi, pacarnya, masih tidur di kamar. Vina menatap wajah damai pria itu dengan rasa bersalah yang menusuk dada. “Maaf, Andi… aku terjebak,” bisiknya pelan. Tapi saat mengingat perintah Adrian — rok pendek tanpa celana dalam — memeknya justru berdenyut pelan dan mulai basah lagi. Vina membenci tubuhnya sendiri yang begitu responsif.
531Please respect copyright.PENANAJl1hlsOhnp
Ia memilih rok hitam ketat yang lebih pendek dari biasanya, hanya sepuluh senti di atas lutut. Tanpa celana dalam. Setiap hembusan AC kantor nanti pasti akan terasa langsung di memek pinknya yang sensitif. Bra lace tipis dan kemeja putih ketat melengkapi penampilannya. Payudara F-cupnya terlihat lebih menonjol hari ini. Rambut hitam sebahu disisir rapi, tapi make-up tebal untuk menutupi lingkar mata karena kurang tidur.
531Please respect copyright.PENANA8yeDs4Fiu7
Sepanjang perjalanan ke kantor, Vina duduk gelisah di kursi mobil. Angin dari AC meniup roknya, menyentuh langsung bibir memeknya yang sudah mulai lembab. Ia menggigit bibir, berusaha menahan desahan kecil yang hampir keluar.
531Please respect copyright.PENANAUYkkoSFMot
Sesampainya di lantai kantor, rekan kerja menyapa seperti biasa. Vina tersenyum profesional, berpura-pura semuanya normal. Tapi di dalam, hatinya berdegup kencang. Ponselnya bergetar.
531Please respect copyright.PENANA9Dl1U9cDk5
Adrian: Ruang rapat VIP pukul 08.30. Duduk di sebelah kanan saya. Jangan terlambat.
531Please respect copyright.PENANAoeittqGqmg
Vina tiba di ruang rapat VIP tepat waktu. Ruangan itu luas, meja panjang kayu mahoni, kursi kulit empuk, dan dinding kaca buram yang bisa dikunci. Beberapa senior sudah duduk, termasuk Kevin (32 tahun, spesialis oral) dan Reza (35 tahun, paling kasar). Mereka tersenyum tipis saat melihat Vina, seolah sudah tahu sesuatu.
531Please respect copyright.PENANA0oefk4Ogta
Adrian masuk terakhir, tampan dan berwibawa seperti biasa. Ia duduk di ujung meja, memberi isyarat Vina duduk tepat di sebelah kanannya. Begitu rapat dimulai dan presentasi proyek dimulai, Adrian menurunkan tangan kanannya di bawah meja, meletakkannya di paha Vina.
531Please respect copyright.PENANASmyzJmCpMt
Sentuhan itu seperti listrik. Vina menegang, berusaha fokus pada slide presentasi di depan. Tangan Adrian naik perlahan di bawah rok pendeknya, jari-jarinya menyentuh langsung memek yang sudah basah tanpa penghalang.
531Please respect copyright.PENANAMo6NZw7sjK
“Basah sekali,” bisik Adrian sangat pelan, hanya Vina yang mendengar. Jari tengahnya menyusuri celah memek pink Vina, mengoleskan cairan yang melimpah ke kristorisyang sudah membengkak.
531Please respect copyright.PENANA8yoyyOuNDY
Vina mencengkeram pena di tangannya kuat-kuat. Wajahnya tetap tenang, tapi napasnya mulai berat. Jari Adrian memutar pelan di ceri-nya, menekan, lalu memasukkan satu jari ke dalam memek yang tight. Gerakan mengaduk lambat di bawah meja membuat suara kecil basah yang hanya Vina dan Adrian yang sadari.
531Please respect copyright.PENANAKkMPynoB4E
*Slosh… slosh…*
531Please respect copyright.PENANAs6BrhT8sfn
Kevin yang duduk di seberang sesekali melirik, senyumnya semakin lebar. Ia sepertinya curiga.
531Please respect copyright.PENANAUfYCRI7zow
Adrian menarik jarinya yang basah, lalu menekan paha Vina sebagai isyarat. Vina mengerti. Dengan hati berdegup kencang, ia perlahan turun dari kursi, merangkak di bawah meja rapat yang luas. Ruang di bawah meja gelap dan sempit, bau karpet bercampur aroma cologne Adrian yang kuat.
531Please respect copyright.PENANAPco1FHfH58
Adrian membuka resleting celananya tanpa suara. kontolnya yang sudah setengah tegang melompat keluar, panas dan berdenyut di depan wajah Vina. Bau maskulin yang kuat memenuhi hidung Vina, membuat kepalanya pusing.
531Please respect copyright.PENANAZsMaIuyGR2
“Mulai,” bisik Adrian dari atas meja sambil tetap mendengarkan presentasi seolah tidak ada apa-apa.
531Please respect copyright.PENANAVaMQagnm1l
Vina membuka mulutnya. Lidahnya menyentuh kepala kontol Adrian yang besar dan hangat. Rasa asin sedikit manis pra-sperma langsung terasa. Ia menjilat pelan mengelilingi kepala itu, lalu membuka mulut lebih lebar untuk memasukkan setengah panjangnya.
531Please respect copyright.PENANAMe6bOC95Bs
“Glk…” Suara kecil tersumbat keluar dari tenggorokannya. Adrian menekan kepala Vina pelan dengan tangan kirinya di bawah meja, mendorong kontolnya lebih dalam.
531Please respect copyright.PENANA1ZBUXyWA22
Vina berusaha menahan muntah saat kontol Adrian menyentuh tenggorokannya. Air liurnya menetes deras ke lantai. Ia mulai menggerakkan kepala maju mundur, mengisap dengan rakus sambil lidahnya menari di batang tebal yang berurat. Suara isapan basah kecil terdengar di telinganya sendiri: *Slurp… gluck… slurp…*
531Please respect copyright.PENANAa1EqVyvkJA
Di atas meja, Adrian berbicara dengan suara tenang dan berwibawa tentang target kuartal, tangan kanannya sesekali menekan kepala Vina lebih dalam. Kevin dan Reza bertukar pandang, tersenyum mengerti.
531Please respect copyright.PENANAOOYCXgali4
Vina semakin bersemangat meski malu. Memeknya tanpa celana dalam semakin banjir, cairannya menetes ke karpet. Ia mengisap lebih dalam, menelan hampir seluruh panjang kontol Adrian hingga hidungnya menempel di perut pria itu. Bau keringat maskulin dan feromon membuat nafsunya semakin tinggi.
531Please respect copyright.PENANA1VV7yQW9OY
Adrian mulai menggerakkan pinggulnya pelan, fucking mulut Vina dengan irama lambat tapi dalam. Air liur Vina menetes ke dagunya, membasahi kontol Adrian yang semakin tegang.
531Please respect copyright.PENANAsUPNg4WfrJ
Tiba-tiba, Reza bertanya sesuatu tentang data. Saat Adrian menjawab, ia menekan kepala Vina kuat-kuat, menahan kontolnya di tenggorokan Vina selama beberapa detik. Vina mengejang, matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan sebisa mungkin.
531Please respect copyright.PENANA7PyQjZA64d
Baru setelah Adrian selesai bicara, ia melepaskan tekanan. Vina menarik napas lega sambil terus mengisap dengan lebih rakus. Lidahnya menekan urat-urat di bawah kepala kontol, tangannya meremas pelan buah Adrian yang berat.
531Please respect copyright.PENANAqnGWbzMEGY
“Bagus… seperti itu,” bisik Adrian sangat pelan.
531Please respect copyright.PENANAIZLbrT3JH1
Kenikmatan memberi pelayanan di tempat berbahaya ini membuat Vina semakin basah. Ia merasa seperti pelacur murahan, tapi sensasi itu justru membuat ceri-nya berdenyut minta perhatian. Tangan kirinya turun ke memeknya sendiri, menggosok pelan sambil terus mengisap kontol bosnya.
531Please respect copyright.PENANARqK1foP5Vu
Adrian mulai bernapas lebih berat meski suaranya tetap tenang. Pinggulnya bergerak lebih cepat. kontolnya berdenyut di mulut Vina, semakin tebal.
531Please respect copyright.PENANAdIHepBZl02
Vina tahu Adrian hampir mencapai puncak. Ia mengisap lebih kuat, kepalanya bergerak cepat, lidahnya menari liar. *Slurp slurp slurp gluck!*
531Please respect copyright.PENANAbkJohEuHXP
Dengan erangan rendah yang hampir tak terdengar, Adrian menekan kepala Vina dalam-dalam dan menyemprotkan sperma panasnya langsung ke tenggorokan Vina. Semprotan demi semprotan kental dan asin memenuhi mulutnya. Vina menelan sebisa mungkin, tapi sebagian meluap dari sudut bibirnya, menetes ke dagu dan kemejanya.
531Please respect copyright.PENANAOmeiv7H91X
Adrian menahan kepala Vina beberapa saat lagi, menikmati denyutan terakhir. Kemudian ia melepaskan. Vina membersihkan kontol Adrian dengan lidahnya yang patuh, menjilat hingga bersih setiap tetes sperma yang tersisa.
531Please respect copyright.PENANAjPvISqmA0W
Di atas meja, rapat berlanjut seperti biasa. Vina tetap meringkuk di bawah meja selama sepuluh menit lagi, napasnya tersengal, mulutnya penuh rasa sperma Adrian, memeknya banjir dan berdenyut minta disentuh.
531Please respect copyright.PENANAKHMriomtJW
Akhirnya Adrian memberi isyarat dengan kakinya. Vina merangkak keluar pelan, kembali duduk di kursinya dengan wajah merah, riasan sedikit rusak, dan dagu yang masih agak basah. Ia berusaha tersenyum profesional saat rapat selesai.
531Please respect copyright.PENANAJE0aivUcha
Kevin mendekat saat yang lain keluar, berbisik di telinga Vina, “Besok giliran saya yang mencoba mulutmu, cantik.”
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 531Please respect copyright.PENANAqoj3wxeSDs
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah531Please respect copyright.PENANAS8q1S7muJW
531Please respect copyright.PENANAcjJPxjwm4J
531Please respect copyright.PENANAL2caPBbKrd


