Bab 2: Malam Pertama di Meja Kekuasaan
607Please respect copyright.PENANAhGPtFfa6D3
Jam kantor sudah lewat pukul tujuh malam. Lantai eksekutif hampir sepi, hanya tersisa cahaya redup dari ruang CEO yang pintunya sedikit terbuka. Vina berdiri di depan pintu itu selama hampir lima menit, tangannya gemetar hebat sebelum akhirnya mengetuk pelan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di dada. Sepanjang sore tadi, ia tidak bisa konsentrasi bekerja. Setiap kali mengingat jari Adrian yang mengaduk memeknya di meja, cairan hangat kembali membasahi celana dalamnya.
607Please respect copyright.PENANAF8HAn3eGml
“Masuk.”
607Please respect copyright.PENANAVdv7Ls0PJP
Suara Adrian yang rendah dan dingin terdengar dari dalam. Vina menarik napas dalam, mendorong pintu, lalu menutupnya rapat di belakangnya. Ruangan itu sudah berubah suasana. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu meja dan lampu sorot kecil yang menerangi meja kerja besar Adrian. Di layar monitor besar, video Vina masih diputar berulang-ulang dengan volume sedang. Suara desahannya sendiri memenuhi ruangan mewah itu: “Ahh… lebih keras… ya, fuck me…”
607Please respect copyright.PENANAcAvEGPKZ85
Vina merasa wajahnya panas membara. Air mata malu kembali menggenang di pelupuk matanya.
607Please respect copyright.PENANAsgZ1dQ7HMv
Adrian duduk santai di kursi kebesarannya, kemeja hitamnya sudah dibuka dua kancing teratas, memperlihatkan dada bidang berotot. Matanya menatap Vina seperti predator yang sedang menikmati mangsanya.
607Please respect copyright.PENANAfkRZK9NcUp
“Kamu terlambat sepuluh menit, Vina,” kata Adrian pelan, tapi nada ancamannya jelas. “Saya tidak suka menunggu.”
607Please respect copyright.PENANAFTRlf1Eaq1
“Maaf, Pak… saya… saya harus menunggu rekan kerja pulang dulu,” jawab Vina dengan suara bergetar. Ia berdiri di tengah ruangan, tangan mencengkeram tali tasnya kuat-kuat.
607Please respect copyright.PENANASo8OsM9TdN
Adrian berdiri perlahan. Tubuh tingginya 180 cm itu terasa sangat mengintimidasi. Ia berjalan mendekat, lalu tiba-tiba mencengkeram rahang Vina dengan satu tangan besarnya, memaksa Vina mendongak menatapnya.
607Please respect copyright.PENANA1HjZNAMfY8
“Mulai sekarang, tidak ada alasan. Kalau saya panggil, kamu datang. Mengerti?”
607Please respect copyright.PENANAza8P8gSFpO
“Iya, Pak…” bisik Vina.
607Please respect copyright.PENANAQfFh8R1CPG
Adrian tersenyum dingin. Tangan satunya meraih remote dan menaikkan volume video. Desahan Vina yang mesum semakin keras bergema. “Dengar suara kamu sendiri. Begitu murahan. Sekarang, buka semua pakaianmu. Perlahan. Saya ingin menikmati setiap inci tubuh budak baru saya.”
607Please respect copyright.PENANAILrIbuz3IN
Dengan tangan gemetar, Vina mulai membuka kancing kemeja putihnya satu per satu. Ketika kemeja terlepas, bra hitam lace yang menahan payudara F-cup-nya terpapar. Adrian mendesah pelan, matanya gelap penuh nafsu. Vina kemudian membuka resleting rok pensilnya, membiarkannya jatuh ke lantai. Hanya menyisakan bra, celana dalam hitam tipis, dan sepatu hak tinggi.
607Please respect copyright.PENANApQjhABSZZl
“Bra-nya juga. Lepas.”
607Please respect copyright.PENANAcKyLndASc5
Vina membuka kaitan bra di punggungnya. Payudara besarnya yang kencang dan putih langsung melompat keluar, puting pink kecokelatan sudah mengeras karena udara dingin ruangan dan ketegangan. Adrian langsung meraih keduanya dengan kedua tangan, meremas kuat hingga jari-jarinya tenggelam di daging lembut itu.
607Please respect copyright.PENANAmn7SnBdtuS
“Ahh!” Vina menggigit bibirnya. Sensasi panas dan sakit bercampur kenikmatan menyebar dari dada ke perut bawahnya. Adrian memilin putingnya dengan ibu jari dan telunjuk, menariknya pelan lalu melepaskan, berulang-ulang.
607Please respect copyright.PENANASjcBwCbvGI
“Putingmu seperti anggur manis yang matang. Keras sekali. Tubuhmu memang diciptakan untuk di permainkan,” bisik Adrian di telinga Vina sambil terus meremas. Bau cologne maskulinnya bercampur keringat tipis membuat Vina pusing.
607Please respect copyright.PENANAdiPyyYLJcS
Adrian mendorong Vina mundur hingga pinggulnya menyentuh pinggir meja. Ia mengangkat Vina dengan mudah, mendudukkannya di atas meja kerja yang dingin. Permukaan kayu itu terasa dingin di bokong Vina yang panas. Adrian membuka lebar kedua paha Vina, menarik celana dalamnya ke samping dengan kasar.
607Please respect copyright.PENANAFy6SaVHqUw
Memek pink Vina sudah banjir. Bibirnya mengkilap oleh cairan bening kental yang menetes pelan ke meja.
607Please respect copyright.PENANArQSzoM5jFE
“Lihat ini… sudah banjir begini hanya karena diancam. Kamu memang slut alami, Vina,” kata Adrian sambil tertawa rendah. Jari tengahnya menyusuri celah memek yang licin, lalu memasukkan dua jari sekaligus dengan perlahan tapi dalam.
607Please respect copyright.PENANA8IpCUWlsTm
“Ngghh…!” Vina mengejang. Dinding memeknya yang tight langsung menggenggam jari Adrian dengan rakus, berdenyut-denyut. Adrian mengaduknya dengan gerakan memutar, ibu jarinya menekan kristorisVina yang sudah membengkak keras.
607Please respect copyright.PENANACY6vIjLEfM
Suara cipratan cairan terdengar basah setiap kali jari Adrian keluar masuk. *Slosh… slosh…* Aroma manis asin cairan Vina memenuhi udara di antara mereka.
607Please respect copyright.PENANABDWPolgQkf
“Pak… ahh… pelan… saya mohon…” Vina menangis, tapi pinggulnya justru bergerak pelan mengikuti irama jari Adrian.
607Please respect copyright.PENANAWNb2sOpt8Y
“Pelan? Kamu pikir ini permainan? Ini hukuman karena kebodohanmu.” Adrian menambah satu jari lagi, sekarang tiga jari tebal mengaduk memek Vina dengan lebih kasar. Tangannya yang bebas menampar payudara Vina keras. *Plak!*
607Please respect copyright.PENANAhCrp6QcN5k
“Ahh!” Tubuh Vina melengkung. Rasa panas di kulit payudaranya bercampur dengan kenikmatan sakit yang aneh.
607Please respect copyright.PENANAHzw4GqcPCW
Adrian menarik jarinya yang basah kuyup, lalu memaksa Vina membuka mulutnya. “Jilat bersih. Rasakan betapa murahannya memekmu.”
607Please respect copyright.PENANAIEAmCG7jwl
Vina menjilat jari Adrian dengan patuh, lidahnya menari di sekeliling jari yang berlumur cairannya sendiri. Rasa asin manis itu membuatnya semakin malu sekaligus semakin bergairah.
607Please respect copyright.PENANA9YC9K2xBGM
Adrian membuka resleting celananya. kontolnya yang sudah mengeras sempurna melompat keluar — 20 cm panjang, tebal, dengan kepala yang besar dan berurat kuat. Vina menatapnya dengan mata lebar, campuran takut dan kagum.
607Please respect copyright.PENANA4qGnkkAecO
“Berlutut. Isap.”
607Please respect copyright.PENANAxI2MuoEaA7
Vina turun dari meja, berlutut di karpet mewah. Bau maskulin kontol Adrian yang kuat langsung memenuhi hidungnya. Ia membuka mulutnya lebar, mencoba memasukkan kepala kontol itu. Mulutnya terasa penuh sekali.
607Please respect copyright.PENANAtTE6C1EEuh
“Gunakan lidahmu. Hisap lebih dalam,” perintah Adrian sambil memegang rambut Vina. Ia mendorong pinggulnya pelan, memasukkan lebih dalam hingga menyentuh tenggorokan Vina.
607Please respect copyright.PENANAfyMatPMws6
“Glk… glk…” Suara tenggorokan Vina yang tersumbat terdengar mesum. Air liurnya menetes deras ke lantai. Adrian mendesah nikmat, kepalanya mendongak sementara tangannya menekan kepala Vina lebih dalam.
607Please respect copyright.PENANAgGXc8u9xhI
Setelah beberapa menit oral yang brutal, Adrian menarik Vina berdiri, membalik tubuhnya, dan membungkukannya di atas meja. Payudara besar Vina tertekan dinginnya meja. Adrian menendang kaki Vina agar lebih lebar, lalu menggesekkan kontolnya yang basah oleh air liur Vina di celah memek yang sudah banjir.
607Please respect copyright.PENANAlvUCjfq3Sw
“Katakan, Vina. Katakan kamu ingin kontol bosmu menghancurkan memekmu.”
607Please respect copyright.PENANA8NGPLSl4GY
Vina menangis, air matanya jatuh ke meja. Tapi suaranya keluar pecah karena nafsu yang sudah tak terbendung, “Saya… ingin kontol Bapak… menghancurkan memek saya… tolong…”
607Please respect copyright.PENANAnB4Shlb4KP
Adrian tersenyum puas. Ia menekan kepala kontolnya yang besar ke lubang memek Vina yang tight. Dengan satu dorongan kuat, setengah panjangnya masuk sekaligus.
607Please respect copyright.PENANAKmQpKhZ6ng
“Aaahhh!!” Vina menjerit. Rasa penuh dan meregang yang luar biasa membuat matanya membelalak. Dinding memeknya yang sensitif diregang maksimal oleh ketebalan kontol Adrian. Rasa panas, berdenyut, dan sedikit sakit bercampur menjadi satu sensasi yang membuat kakinya gemetar hebat.
607Please respect copyright.PENANAjzj13Ytfkq
Adrian tidak memberi waktu istirahat. Ia mendorong lebih dalam hingga pangkalnya menempel di bokong Vina. “Tight sekali… memekmu menggigit kontol saya seperti pelacur kelaparan.”
607Please respect copyright.PENANAFQbbEmo3Vb
Ia mulai bergerak, awalnya pelan tapi dalam, lalu semakin cepat. Setiap hantaman menghasilkan suara basah *plak plak plak* yang keras karena memek Vina sudah sangat basah. Payudara Vina bergoyang-goyang di atas meja mengikuti irama hantaman.
607Please respect copyright.PENANAf0oqvAAVKt
Adrian meraih rambut Vina, menariknya ke belakang sambil terus menghantam. “Lihat video kamu sendiri di layar. Lihat betapa murahannya kamu.”
607Please respect copyright.PENANA2rkkHMQXLh
Vina memandang layar dengan mata berkaca-kaca. Di layar, dirinya sedang mendesah mesum. Di dunia nyata, ia sedang dihantam kontol bosnya di meja kerja. Rasa hina bercampur kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
607Please respect copyright.PENANApKr9xIQ0M4
Adrian menampar bokong Vina berkali-kali. *Plak! Plak! Plak!* Kulit putih mulus itu mulai memerah. Setiap tamparan membuat memek Vina menggenggam kontol Adrian lebih erat.
607Please respect copyright.PENANAtoYWwOtUnH
“Pak… saya mau… keluar…” Vina merintih, suaranya pecah.
607Please respect copyright.PENANATfXhjV8OXy
“Belum boleh. Tahan!” Adrian mempercepat hantaman, tangannya meraih ke depan dan memilin kristorisVina dengan kasar.
607Please respect copyright.PENANAhQl3T8Ek01
Tubuh Vina mengejang hebat. Kakinya gemetar tak terkendali, cairan bening menyembur keluar dari memeknya yang sedang dihantam. Ia orgasme pertama kali di tangan Adrian, cairan orgasminya memercik ke lantai dan paha Adrian.
607Please respect copyright.PENANAHSuRIu4c4R
Adrian tidak berhenti. Ia terus menghantam selama orgasme Vina, memperpanjang gelombang kenikmatan itu hingga Vina hampir pingsan. Akhirnya, dengan erangan rendah, Adrian menekan dalam-dalam dan menyemprotkan sperma panasnya berkali-kali ke dalam rahim Vina.
607Please respect copyright.PENANAnU1mSquycI
Rasa hangat dan penuh memenuhi perut bawah Vina. sperma kental itu memenuhi hingga sedikit meluap keluar saat Adrian menarik kontolnya.
607Please respect copyright.PENANAvWNMGoPPvT
Vina ambruk di atas meja, napasnya tersengal, tubuhnya berkeringat, memeknya berdenyut-denyut masih terbuka lebar dengan sperma Adrian yang keluar perlahan. Air matanya terus mengalir.
607Please respect copyright.PENANAUc3etlcgto
Adrian menepuk pipinya pelan, suaranya dingin tapi puas. “Ini baru malam pertama, Vina. Besok, kamu akan melayani saya di bawah meja saat rapat pagi. Dan ingat, kalau kamu berani melawan, video ini akan dikirim ke pacar kamu dan seluruh perusahaan.”
607Please respect copyright.PENANAKu2c045tiI
Vina hanya bisa mengangguk lemah. Di dalam hatinya, harga diri dan ambisinya mulai retak. Tapi tubuhnya yang masih bergetar karena orgasme hebat tadi sudah mulai merindukan sentuhan berikutnya.
607Please respect copyright.PENANAFwHVjKBtXr
Adrian merapikan pakaiannya, lalu melempar tisu ke arah Vina. “Bersihkan diri. Pulanglah. Besok pagi, datang lebih awal. Dan jangan pakai celana dalam.”
607Please respect copyright.PENANAJrR7GyhCy1
Vina berjalan keluar ruangan dengan kaki gemetar, sperma Adrian masih menetes pelan di paha dalamnya. Di lift turun, ia melihat wajahnya di cermin — riasan rusak, mata bengkak, tapi ada kilau aneh di matanya yang tak bisa ia jelaskan.
607Please respect copyright.PENANAGDoP2nS31v
Malam itu, di apartemennya, saat Andi memeluknya dengan sayang, Vina hanya bisa berbohong bahwa ia lelah kerja. Tapi di antara kakinya, sensasi penuh dan panas dari sperma Adrian masih terasa jelas.
607Please respect copyright.PENANAzIvc3PnSGe
Transformasinya baru saja dimulai.
607Please respect copyright.PENANAzcRtkvB0fF
607Please respect copyright.PENANApS0P5qqtUn
607Please respect copyright.PENANAletfSBkEg1


