Bab 2
3567Please respect copyright.PENANAYBT4wQjdno
Sinta Wardhani duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Sudah dua hari sejak ciuman liar di dapur bersama Pak Haris. Bibirnya masih terasa panas setiap kali mengingat lidah pria itu yang kuat menjelajahi mulutnya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya seperti kabut tebal, tapi setiap kali ingatan itu muncul, memeknya langsung berdenyut dan mengeluarkan kelembapan hangat. Ia mencoba fokus pada pekerjaan rumah, tapi tubuhnya sudah tidak patuh lagi.
3567Please respect copyright.PENANA3p7ldqp6Sc
Rendra pulang sore itu dengan wajah lelah seperti biasa. “Sayang, hari ini capek banget,” katanya sambil mencium pipi Sinta sekilas. Ia bahkan tidak memperhatikan tank top ketat yang dipakai istrinya, yang sengaja dipilih agar payudara E-cupnya terlihat semakin montok. Malam itu mereka hanya menonton televisi. Rendra tertidur di sofa sebelum jam sembilan. Sinta menatap suaminya dengan campuran kasih sayang dan kekecewaan yang mendalam.
3567Please respect copyright.PENANAGe2n2xXGhv
“Maafkan aku, Ren…” bisiknya pelan sebelum bangkit dan berjalan ke halaman belakang.
3567Please respect copyright.PENANAxNJyFIahjX
Malam itu angin sejuk bertiup. Pak Haris sudah berdiri di balik pagar, seolah tahu Sinta akan datang. Tubuh kekarnya hanya memakai kaos oblong tipis dan celana pendek. Tonjolan besar di selangkangannya terlihat jelas bahkan di bawah cahaya remang lampu taman.
3567Please respect copyright.PENANAIbxqhScLIh
“Kamu datang juga,” kata Pak Haris dengan suara rendah yang berat. “Sudah tidak tahan ya, Sinta?”
3567Please respect copyright.PENANAVMMSFlUXcX
Sinta menggigit bibir. “Pak… ini salah. Kita harus berhenti.”
3567Please respect copyright.PENANA19t1ngsno1
Pak Haris tertawa pelan, suaranya seperti gemuruh lembut. Ia menyusupkan tangan melalui celah pagar yang lebih lebar, langsung meraih pinggang Sinta dan menariknya mendekat hingga payudaranya menekan pagar kayu. “Salah? Tapi memekmu pasti sudah banjir sekarang. Aku bisa mencium aromanya yang manis dari sini.”
3567Please respect copyright.PENANAwD1DyGCgqY
Tangan kasar pria itu naik ke bawah tank top Sinta, meremas payudara kanannya dengan kuat. Jari-jarinya mencubit puting puting yang sudah mengeras, memilinnya pelan hingga Sinta mendesah tertahan. Sensasi panas dan sedikit sakit bercampur menjadi kenikmatan yang membuat lututnya lemas. Bau tubuh Pak Haris — campuran keringat pria dewasa, sabun mandi, dan hasrat maskulin — memenuhi indra penciumannya, membuat kepalanya pusing.
3567Please respect copyright.PENANA8K9RibpGTA
“Pak… jangan di sini…” bisik Sinta, tapi tangannya justru memegang lengan Pak Haris, seolah takut dilepaskan.
3567Please respect copyright.PENANAuecYpSNv8n
“Masuk ke garasi aku. Pintu belakang terbuka,” perintah Pak Haris tegas.
3567Please respect copyright.PENANACjxpVgSNGr
Sinta tahu ini gila. Rendra tidur di dalam rumah, pagar hanya beberapa meter. Tapi kakinya melangkah sendiri. Ia menyelinap ke garasi Pak Haris yang gelap dan pengap. Bau oli mesin dan bau tubuh pria dewasa bercampur di udara. Begitu pintu tertutup, Pak Haris langsung menekannya ke dinding dingin.
3567Please respect copyright.PENANAZSLIZXG48t
Ciuman kali ini lebih brutal. Lidahnya menyerbu mulut Sinta, menghisap, menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Tangan pria itu menarik tank top ke atas, membiarkan payudara montok Sinta terbebas. Ia meremas keduanya kasar, mulutnya turun ke puting kiri, menghisap kuat sambil lidahnya berputar di puncak yang sensitif. Suara “slurp… slurp…” basah terdengar jelas di garasi sepi.
3567Please respect copyright.PENANADNWJc2gMX6
“Aaahh… Pak…” erang Sinta. Tubuhnya melengkung. memeknya sudah sangat basah, cairan beningnya membasahi celana pendek tipisnya.
3567Please respect copyright.PENANAwpZlUlCByU
Pak Haris tertawa di antara hisapan. “Lihat ini. Putingmu keras sekali. Suamimu jarang mainin ini ya?” Ia menggigit pelan, membuat Sinta menjerit kecil. Tangan pria itu turun, menyusup ke celana pendek Sinta, menemukan memek yang licin dan panas. Dua jarinya langsung meluncur masuk dengan mudah.
3567Please respect copyright.PENANAaODul8w4ek
“Begitu basahnya… memek ini memang dibuat untuk kontol besar, bukan yang kecil milik suamimu,” bisik Pak Haris sambil menggerakkan jarinya keluar masuk dengan irama cepat. Suara “chup… chup… chup…” cairan terdengar memalukan. Sinta menggigit bahu Pak Haris agar tidak berteriak. Kakinya gemetar hebat, perutnya mengejang.
3567Please respect copyright.PENANARfjge8bsgW
Ia mencapai orgasme pertama dengan cepat. Cairan minyak beningnya menyembur pelan membasahi telapak tangan Pak Haris. Matanya berkaca-kaca, air mata kenikmatan jatuh ke pipi.
3567Please respect copyright.PENANAo4T3eqruDM
Tapi Pak Haris tidak berhenti. Ia menarik celana Sinta hingga jatuh ke mata kaki, lalu berlutut. Lidahnya yang panas dan kasar menjilat memek Sinta dengan lapar. Ia menghisap kristoriskecil yang membengkak, menariknya pelan dengan bibir, lalu mendorong lidahnya masuk ke dalam lubang yang berdenyut. Rasa asin-manis cairan Sinta memenuhi mulutnya.
3567Please respect copyright.PENANAqHSOVLv1lR
Sinta memegang kepala Pak Haris, pinggulnya bergerak sendiri menggesek wajah pria itu. “Ah… enak… lidah Pak… lebih dalam…” desahnya tanpa sadar. Rasa bersalahnya sudah hampir lenyap, tergantikan oleh gelombang kenikmatan.
3567Please respect copyright.PENANAJR4FIgHEKX
Pak Haris bangkit, membuka celana pendeknya. kontolnya yang sudah mengeras melompat keluar — 21 cm, tebal, berurat menonjol, kepala berwarna gelap mengkilap oleh cairan awal. Ukuran itu membuat Sinta terbelalak. Jauh berbeda dengan milik Rendra.
3567Please respect copyright.PENANATUOZhZPjMc
“Ini yang kamu inginkan kan?” tanya Pak Haris sambil menggoyang kontolnya di depan wajah Sinta. “Cium dulu.”
3567Please respect copyright.PENANA5C3QKPmIY0
Sinta berlutut tanpa diperintah. Tangan kecilnya memegang pangkal yang tak bisa melingkar sempurna. Ia mencium kepala kontol yang panas, lalu menjilatnya pelan. Rasa asin dan maskulin memenuhi lidahnya. Pak Haris memegang rambutnya, mendorong pelan hingga separuh kontol masuk ke mulut Sinta. Tenggorokannya terasa penuh, matanya berair.
3567Please respect copyright.PENANAKvg39WRTQu
“Bagus… hisap lebih kuat. Bayangkan ini nanti masuk ke memekmu.”
3567Please respect copyright.PENANAMCedN8yynn
Sinta berusaha memuaskan dengan mulut dan tangan. Suara isapan basah dan erangan Pak Haris memenuhi garasi. Tiba-tiba Pak Haris menariknya berdiri, membalik tubuh Sinta, dan membungkukannya di atas mesin cuci. Pantat montok Sinta terangkat tinggi.
3567Please respect copyright.PENANAWuDzA8qThl
Ia merasakan kepala kontol monster itu menggesek bibir memeknya yang basah. Panas, tebal, dan sangat berat. “Pak… pelan… terlalu besar…” pinta Sinta dengan suara gemetar.
3567Please respect copyright.PENANAOfrY1gfCTO
“Terlalu besar tapi kamu basah sekali,” jawab Pak Haris sambil menekan masuk perlahan. Hanya kepalanya saja sudah membuat Sinta merasa meregang luar biasa. Dinding memeknya ditarik lebar, sensasi penuh dan sedikit perih bercampur nikmat yang tak pernah ia rasakan.
3567Please respect copyright.PENANAUNhX6Vs6yk
Baru separuh masuk, suara langkah terdengar di luar garasi. Pak Haris cepat menutup mulut Sinta dengan telapak tangannya yang besar dan menekannya lebih dalam. Sinta menjerit tertahan saat kontol itu menusuk lebih jauh. Air matanya mengalir. Perutnya terasa penuh meski belum seluruhnya masuk.
3567Please respect copyright.PENANAdwM4lWlnY7
Itu hanya kucing liar. Tapi Pak Haris sudah merekam semuanya lewat kamera kecil yang tersembunyi di rak garasi — sejak Sinta masuk tadi. Rekaman yang jelas menunjukkan wajah Sinta yang penuh kenikmatan, mulutnya yang mengisap kontol monster, dan saat ia dibungkukkan dengan rela.
3567Please respect copyright.PENANAaqm4AWcNAa
Setelah ancaman bahaya berlalu, Pak Haris menarik kontolnya keluar dengan suara “plop” basah. Ia tidak menyelesaikan penetrasi malam itu. Ia memaksa Sinta berlutut lagi dan menyemburkan sperma panasnya ke wajah dan payudara Sinta. sperma kental yang banyak, berbau kuat, menetes dari dagu Sinta.
3567Please respect copyright.PENANAQ59vewLG2c
“Besok malam, kamu datang ke rumah aku. Kalau tidak, rekaman ini akan sampai ke suamimu, ke orang tuamu, bahkan ke grup kompleks,” ancam Pak Haris sambil mengusap spermanya ke bibir Sinta. “Mengerti?”
3567Please respect copyright.PENANA24IorQ6TL8
Sinta mengangguk lemah, tubuhnya masih gemetar karena orgasme dan ketakutan. Ia membersihkan diri sebisanya, lalu menyelinap pulang. Rendra masih tidur di sofa. Sinta mandi lama di kamar mandi, air mata bercampur dengan air shower. Tapi saat ia menyentuh memeknya yang masih berdenyut, ia orgasme lagi hanya dengan mengingat ukuran kontol Pak Haris.
3567Please respect copyright.PENANA1hTpcOdTjm
Keesokan harinya, pesan dari Pak Haris datang: “Malam ini jam 8. Pakai rok pendek tanpa celana dalam. Dan jangan coba kabur.”
3567Please respect copyright.PENANAlPoqL0MQLn
Sinta seharian gelisah. Ia berbohong pada Rendra bahwa ia akan arisan ke rumah Bu RT. Rendra percaya begitu saja. Malam itu, dengan hati berdebar, Sinta menyelinap ke rumah Pak Haris melalui pintu belakang.
3567Please respect copyright.PENANAEXAaASwZUR
Rumah Pak Haris lebih besar dan sepi. Begitu Sinta masuk ruang tamu, Pak Haris sudah menunggu dengan senyum dingin. Ia langsung memutar rekaman di televisi besar. Video itu jelas: Sinta berlutut mengisap kontolnya, wajah penuh kenikmatan, erangannya yang mesum.
3567Please respect copyright.PENANA9juVEZysaL
“Lihat ini, Sinta. Istri setia yang sebenarnya lonte,” kata Pak Haris sambil tertawa. “Mulai sekarang kamu milik aku. Setiap kali aku mau, kamu harus datang dan melayani. Mengerti?”
3567Please respect copyright.PENANAFeblGOetrs
Sinta menangis, tapi tubuhnya sudah panas lagi. “Pak… tolong jangan sebarkan…”
3567Please respect copyright.PENANAIgyQv9M2jR
Pak Haris mendekat, menarik rok Sinta ke atas, menemukan memeknya yang sudah basah tanpa celana dalam. “Kamu basah lagi. Tubuhmu jujur, Sinta. Kamu ketagihan kontol besar ini.”
3567Please respect copyright.PENANAj4cZ7MgJ44
Ia mendorong Sinta ke sofa, membuka kakinya lebar. Kali ini tidak ada pemanasan lama. Kepala kontol monster menekan masuk dengan satu dorongan kuat. Sinta menjerit keras. Sensasi meregang luar biasa, perih, penuh, dan nikmat menyakitkan membuat pandangannya berkunang. kontol itu masuk hampir seluruhnya, menekan dinding paling dalamnya.
3567Please respect copyright.PENANASp2As1IYT4
“Terlalu… besar… aaahh!” jerit Sinta. Kakinya gemetar hebat, air matanya mengalir deras.
3567Please respect copyright.PENANAs9Nd6Hv1yh
Pak Haris mulai bergerak. Setiap dorongan menghasilkan suara “plak… plak… plak…” basah dan kuat. Payudara Sinta bergoyang liar. Ia meremas keduanya sambil terus menusuk.
3567Please respect copyright.PENANAWuY4Yt0fgB
“Katakan kamu milik aku sekarang,” perintahnya sambil mempercepat.
3567Please respect copyright.PENANA9qP0EMghdj
Sinta, di antara erangan dan air mata, akhirnya menyerah. “Aku… milik Pak Haris… memekku milik kontol Pak Haris… aaahh!”
3567Please respect copyright.PENANA6n1gEPArs7
Orgasme keduanya datang lebih hebat. Dinding memeknya berdenyut liar menggenggam kontol yang sedang menusuknya. Cairan minyaknya menyembur keluar membasahi sofa. Pak Haris terus menghantam hingga ia sendiri mencapai klimaks, menyemburkan sperma panas yang banyak ke dalam perut Sinta hingga terasa kembung.
3567Please respect copyright.PENANAFSI86H7TzB
Setelah itu, Sinta terbaring lemas, sperma bercampur cairannya menetes dari memek yang merah dan bengkak. Pak Haris mengusap kepalanya seperti hewan peliharaan.
3567Please respect copyright.PENANAkAJ2ZLVnLr
“Ini baru permulaan, Sinta. Besok… akan lebih brutal.”
3567Please respect copyright.PENANA0WEZKMhtec
Sinta pulang larut malam dengan kaki gemetar. Rendra menyambutnya dengan senyum polos. “Arisannya seru ya, Sayang?”
3567Please respect copyright.PENANAofVM1O8k5A
Sinta hanya tersenyum lemah, sementara di dalam tubuhnya masih terasa panas sperma Pak Haris yang tersisa. Rasa bersalahnya semakin tipis, digantikan oleh ketagihan yang mulai tumbuh.
3567Please respect copyright.PENANAriy4yAFTOm
Dan blackmail yang baru saja dimulai akan segera menghancurkan segalanya.
3567Please respect copyright.PENANAP3yR4hPrX5


