Bab 1
3962Please respect copyright.PENANA0AZpiuKulY
Sinta Wardhani berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangan dirinya yang masih basah setelah mandi pagi. Usia 27 tahun, tapi tubuhnya terasa semakin matang dan haus perhatian. Kulit kuning langsatnya mulus berkilau di bawah cahaya lampu, payudaranya yang montok ukuran E-cup terasa berat dan penuh, putingnya yang kecil seperti puting segar mengeras sedikit karena hembusan AC. Pinggulnya lebar, melengkung sempurna, dan di antara kedua paha yang padat, bagian intimnya yang pink sensitif sering kali sudah basah hanya karena angin sejuk menyapu kulit. Ia menghela napas panjang, tangannya menyusuri perut rata lalu turun ke bawah, menyentuh lembut bibir memeknya yang mudah merespons.
3962Please respect copyright.PENANAxqPsaXaDEb
Hanya sentuhan ringan saja sudah membuatnya menggigit bibir. Sudah berapa lama ia merasa seperti ini? Frustrasi yang menggerogoti dari dalam.
3962Please respect copyright.PENANAODyGMLHEpM
Pernikahannya dengan Rendra memasuki tahun ketiga. Rendra, pria berusia 29 tahun dengan tubuh kurus dan pekerjaan kantor yang biasa-biasa saja, memang mencintainya. Tapi cinta saja tidak cukup di ranjang. Malam-malam mereka selalu berakhir sama: Rendra yang cepat lelah, kontolnya yang hanya 13 cm dan sering kali tidak cukup keras, serta orgasme yang ia pura-pura rasakan. Sinta selalu tersenyum setelahnya, mengelus rambut suaminya sambil dalam hati berteriak minta lebih. Ia ingin direnggut, diisi penuh, diguncang hingga kakinya gemetar tak bisa berdiri. Tapi ia setia. Setidaknya, sampai beberapa minggu lalu.
3962Please respect copyright.PENANAG5GzdMrcX3
“Sayang, sarapan sudah siap?” suara Rendra memanggil dari dapur.
3962Please respect copyright.PENANAkiCg8J2KaJ
Sinta mengenakan daster tipis yang menempel di tubuhnya, tanpa bra. Payudaranya bergoyang lembut saat ia berjalan. Rendra menatapnya sekilas, tersenyum tipis, tapi tatapannya tidak lagi lapar seperti dulu. Mereka makan dalam diam. Rendra membahas pekerjaan, proyek baru, deadline. Sinta hanya mengangguk, pikirannya melayang ke pagar belakang rumah mereka.
3962Please respect copyright.PENANAA2gCADjuyr
Pak Haris. Tetangga sebelah yang pindah enam bulan lalu.
3962Please respect copyright.PENANAJywH8QZDSC
Pria itu tinggi 182 cm, bertubuh kekar berotot karena rutin fitness. Usia 38 tahun, kulitnya sawo matang, dan senyumnya selalu menyimpan sesuatu yang gelap. Setiap kali bertemu di halaman, tatapannya tidak pernah malu-malu menelusuri lekuk tubuh Sinta. Ia sering menyapa dengan suara berat, “Pagi, Bu Sinta. Hari ini tambah cantik saja.”
3962Please respect copyright.PENANA5e4Cps6YPk
Hari ini, seperti biasa, Sinta pergi ke halaman belakang untuk menyiram tanaman. Daster tipisnya sedikit basah kena air, menempel di payudara dan pinggul. Ia membungkuk untuk memetik daun kering, dan ia merasakan tatapan itu lagi. Dari balik pagar kayu yang agak renggang, Pak Haris berdiri tanpa baju atas, otot dada dan perutnya terpampang jelas. Keringat pagi membuat kulitnya mengkilap.
3962Please respect copyright.PENANA7mIShMkW0N
“Pagi, Sinta,” sapanya, suara rendah dan intim, seolah hanya untuknya. “Lagi sibuk ya pagi-pagi?”
3962Please respect copyright.PENANA66RDS8noWX
Sinta menegakkan tubuh, merasa pipinya panas. “Pagi, Pak Haris. Iya, tanaman ini perlu dirawat.”
3962Please respect copyright.PENANA2uUEyJXOeJ
Mata Pak Haris turun ke dada Sinta. Daster basah membuat bentuk puting putingnya samar terlihat. Pria itu tersenyum miring. “Hati-hati, Bu. Kalau terlalu membungkuk begitu, nanti ada yang tidak tahan melihatnya.”
3962Please respect copyright.PENANA07iOHsU1b0
Jantung Sinta berdegup kencang. Ada getaran aneh di perut bawahnya. Ia tahu seharusnya marah atau malu, tapi malah ada kehangatan yang menyebar. “Pak Haris suka bercanda,” balasnya pelan, mencoba tersenyum.
3962Please respect copyright.PENANAXsvBUK7RX3
“Bukan bercanda,” jawab Pak Haris sambil mendekat ke pagar. “Saya lihat Bu Sinta setiap hari. Tubuh seperti ini… sayang sekali kalau hanya dinikmati orang yang tidak tahu cara menghargainya.”
3962Please respect copyright.PENANAXeEInosT1M
Kata-kata itu seperti cambuk halus. Sinta merasakan memeknya berdenyut pelan, mulai mengeluarkan sedikit kelembapan. Ia cepat memalingkan muka. “Saya sudah punya suami, Pak.”
3962Please respect copyright.PENANAYSlikTQY6c
“Ya, saya tahu,” kata Pak Haris sambil tertawa pelan. “Tapi suami Bu Sinta kelihatan… kurang sibuk di rumah. Kalau butuh bantuan apa saja, panggil saja saya. Pagar ini tipis, suaranya bisa terdengar.”
3962Please respect copyright.PENANAQDSWyKBkSA
Sinta buru-buru masuk rumah, napasnya tersengal. Tubuhnya panas. Ia duduk di sofa, kakinya agak gemetar. Rendra sudah berangkat kerja sejak tadi. Rumah sepi. Pikirannya kembali ke Pak Haris. Kontolnya pasti besar, pikirnya tanpa bisa dicegah. Tubuh kekarnya, suaranya yang dalam, tatapan yang seolah ingin melahapnya. Berbeda sekali dengan Rendra.
3962Please respect copyright.PENANA7d0ux8FQKe
Malam harinya, Rendra pulang lelah. Setelah makan malam, ia mencoba mendekati Sinta di kamar. Tangan kurusnya meremas payudara istrinya dengan lembut, hampir ragu. Sinta berusaha merespons, membuka kakinya. Tapi saat Rendra memasukinya, hanya ada sedikit sensasi. Gerakannya cepat, pendek, dan dalam dua menit ia sudah mengeluarkan cairannya yang tipis. Sinta berbaring diam, menatap langit-langit sambil merasakan kekosongan yang menyakitkan. Rendra langsung tertidur, mendengkur pelan.
3962Please respect copyright.PENANARUvqxIGnuQ
Sinta bangun tengah malam. Ia ke dapur mengambil air, lalu keluar ke halaman belakang karena tidak bisa tidur. Udara malam sejuk. Bulan purnama menerangi pagar. Ia melihat bayangan Pak Haris di teras sebelah. Pria itu merokok, tatapannya langsung tertuju pada Sinta yang hanya memakai daster tipis tanpa celana dalam.
3962Please respect copyright.PENANAvvM2hFgbKd
“Kamu tidak bisa tidur, Sinta?” tanya Pak Haris pelan. Ia memanggil tanpa “Bu” kali ini, lebih intim.
3962Please respect copyright.PENANActKt68qN5O
Sinta seharusnya masuk rumah. Tapi kakinya melangkah mendekat ke pagar. “Iya, Pak. Panas.”
3962Please respect copyright.PENANAvfhCsMtFRI
Pak Haris tersenyum. “Panas di dalam atau di luar?” Ia mendekatkan wajah ke celah pagar. Bau tubuh pria itu—campuran sabun, keringat, dan sesuatu yang maskulin—masuk ke hidung Sinta. Membuat kepalanya pusing.
3962Please respect copyright.PENANAZQ7LmcPUQc
“Pak… jangan begini,” bisik Sinta, tapi suaranya lemah.
3962Please respect copyright.PENANA3tSCta7WRZ
Tangan Pak Haris menyusup lewat celah pagar, menyentuh lengan Sinta. Kulitnya kasar dan panas. “Saya tahu kamu butuh lebih, Sinta. Tubuhmu ini dibuat untuk dinikmati dengan benar. Bukan dengan yang kecil dan cepat selesai.”
3962Please respect copyright.PENANA6ERmEJml6y
Kata-kata kotor itu membuat memek Sinta langsung banjir. Ia bisa merasakan cairannya mengalir pelan ke paha. Payudaranya naik turun cepat. Pak Haris tertawa pelan melihat reaksi itu.
3962Please respect copyright.PENANA0ibzWmWJsg
“Sentuh sendiri kalau mau. Biar saya lihat,” godanya.
3962Please respect copyright.PENANApvWzwlWJbv
Sinta menggeleng, tapi tangannya sudah turun sendiri, menyentuh bibir memeknya yang licin. Ia menggigit bibir menahan erangan saat jarinya menyentuh kristoriskecil yang membengkak. Pak Haris menatap tanpa berkedip, nafasnya berat.
3962Please respect copyright.PENANAiQbmsPMZgN
“Bagus… seperti itu. Bayangkan ini tangan saya, atau lebih besar lagi,” bisiknya. “Saya punya yang jauh lebih besar dari suamimu. Tebal, panjang, berurat. Bisa isi kamu sampai penuh, sampai perutmu terasa kembung.”
3962Please respect copyright.PENANAljQ2ZZPZzf
Sinta mendesah pelan. Gerakannya semakin cepat. Sensasi panas menyebar dari pusat tubuhnya. Kakinya gemetar. Pak Haris terus berbicara kotor, mendeskripsikan apa yang ingin ia lakukan padanya—meremas payudara, menjilat puting, memasukkan lidahnya yang panas ke dalam memek Sinta, lalu memukul pantatnya sambil menusuk dari belakang.
3962Please respect copyright.PENANAetxcMvq6Ew
Orgasme kecil datang tiba-tiba. Sinta menekan mulutnya sendiri, tubuhnya kejang pelan. Cairan beningnya menetes ke lantai teras. Pak Haris tersenyum puas.
3962Please respect copyright.PENANAIlChb0vE6e
“Besok lagi, Sinta. Saya tunggu. Dan lain kali… jangan cuma jari.”
3962Please respect copyright.PENANAzi5ljGztJY
Sinta buru-buru masuk rumah, hati berdebar campur rasa bersalah. Tapi rasa bersalah itu cepat luntur saat ia berbaring di samping Rendra yang tertidur pulas. Malam itu ia tidur dengan mimpi basah yang panas—tubuhnya digantung, diisi sesuatu yang sangat besar, sambil suaminya menonton dari sudut kamar.
3962Please respect copyright.PENANAFRdhSGOfci
Pagi berikutnya, Sinta kembali ke halaman. Kali ini ia sengaja memakai tank top ketat dan celana pendek. Pak Haris sudah menunggu. Percakapan mereka semakin berani. Tangan pria itu kembali menyusup pagar, kali ini berani meremas payudara Sinta sebentar. Sensasi kasar jarinya membuat puting Sinta mengeras seketika.
3962Please respect copyright.PENANAgPNK4IBZKI
“Kamu sudah basah lagi, ya?” tanya Pak Haris sambil tertawa pelan. “Aroma kamu sampai tercium ke sini.”
3962Please respect copyright.PENANAwQO3zLdBiI
Sinta malu, tapi tidak menolak saat tangan itu turun lebih rendah, menyentuh pinggulnya. Jantungnya berdegup kencang. Risiko ketahuan Rendra ada, tapi justru itu yang membuatnya semakin terangsang.
3962Please respect copyright.PENANAJVF6OizuAS
Hari-hari berikutnya, teasing itu semakin intens. Pak Haris mulai mengirim pesan singkat lewat nomor yang entah bagaimana ia dapatkan. Deskripsi vulgar tentang apa yang ingin ia lakukan pada tubuh Sinta. Sinta membacanya di kamar mandi, tangannya sibuk di bawah sana.
3962Please respect copyright.PENANAHnAzCtnfmf
Suatu sore, saat Rendra lembur, Sinta “tidak sengaja” membiarkan pintu belakang terbuka. Pak Haris masuk sebentar. Mereka hanya berpelukan dan berciuman liar di dapur. Lidah pria itu kuat, menjelajahi mulut Sinta sambil tangannya meremas pantatnya kasar. Sinta merasakan benda keras besar menekan perutnya lewat celana Pak Haris. Ukuran itu membuat matanya melebar.
3962Please respect copyright.PENANAc15XesBnHp
“Itu baru separuhnya, sayang,” bisik Pak Haris di telinganya. “Bayangkan ini masuk ke dalam memekmu yang sempit.”
3962Please respect copyright.PENANAKSMNpC9FVO
Sinta hampir menyerah saat itu juga. Tapi ia masih menolak penetrasi penuh. “Belum… belum sekarang, Pak.”
3962Please respect copyright.PENANAkDLz0Jm8aB
Pak Haris tersenyum sabar tapi matahya penuh kelaparan. “Oke. Tapi ingat, saya sudah merekam sedikit tadi. Pelukan kita yang panas. Kalau kamu kabur, suamimu akan lihat betapa murahnya kamu.”
3962Please respect copyright.PENANAnXgK5uD1zF
Sinta terkejut, tapi anehnya justru semakin basah. Blackmail kecil itu seperti pintu yang terbuka ke dunia baru.
3962Please respect copyright.PENANAXqp6VXykvC
Malam itu, saat Rendra tidur, Sinta berbaring dengan pikiran berkecamuk. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini berbahaya. Tapi tubuhnya sudah tidak bisa bohong lagi. Ia menginginkan kontol besar Pak Haris. Ia menginginkan kehinaan itu. Dan entah kenapa, bayangan Rendra yang mungkin suatu saat menonton membuatnya merinding nikmat.
3962Please respect copyright.PENANAaUUBxBHqto
Di rumah sebelah, Pak Haris tersenyum sendiri sambil memutar rekaman video pendek di ponselnya. Tubuh Sinta yang bergoyang, desahannya yang tertahan, aroma tubuhnya yang manis. Ia sudah tidak sabar menghancurkan pernikahan itu pelan-pelan.
3962Please respect copyright.PENANArsmbbRJayq
Dan begitulah awal kehancuran yang indah.
3962Please respect copyright.PENANApZJzsur8AQ


