Bab 2: Obrolan yang Berbahaya
6904Please respect copyright.PENANAwaKBj4xDP2
Maya tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Tubuhnya gelisah di bawah selimut tipis. Setiap kali memejamkan mata, bayangan tonjolan besar di celana pendek Satria kembali muncul, membuat memeknya berdenyut pelan dan basah. Andi tidur pulas di sampingnya, napasnya teratur setelah sesi cepat yang lagi-lagi meninggalkan Maya menggantung. Hanya 12 cm yang tak pernah cukup. Maya menggigit bibir, tangannya menyelinap ke bawah, menyentuh memek yang sudah licin. Tapi ia berhenti sebelum mencapai puncak. Ia ingin sesuatu yang lebih. Sesuatu yang nyata.
6904Please respect copyright.PENANA3Ovt4tn7tc
Pagi berikutnya, Andi kembali berangkat pagi-pagi sekali. “Aku pulang malam lagi, Sayang. Maaf ya,” katanya sambil mencium kening Maya sekilas. Maya hanya tersenyum, tapi di dalam hatinya ada kelegaan yang aneh. Begitu pintu tertutup, ia langsung mandi air hangat. Air mengalir di atas payudara montoknya, membuat puting di puncaknya mengeras. Ia membayangkan tangan besar Satria meremasnya, lidah pria itu menjilat kristorissensitifnya hingga ia gemetar.
6904Please respect copyright.PENANAIMJbW2PN6O
Setelah mandi, Maya memilih pakaian dengan lebih teliti. Tank top putih tipis yang agak ketat di dada, ditambah rok pendek katun yang menempel di pinggul lebarnya. Ia keluar ke halaman belakang rumah, pura-pura membersihkan taman kecil di sana. Angin sejuk pagi menyapu kulitnya, tapi panas di perutnya tak kunjung reda.
6904Please respect copyright.PENANAi3vNu1p8Y7
Dari balkon rumah sebelah, Satria sudah memperhatikannya. Pria itu turun melalui tangga samping dan mendekat ke pagar pembatas yang rendah di halaman belakang. Hari ini ia memakai kaos ketat hitam yang memperlihatkan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna. Celana training abu-abu longgar, tapi Maya tahu apa yang tersembunyi di baliknya.
6904Please respect copyright.PENANAhKDD08Gfen
“Pagi lagi, Maya yang cantik,” sapa Satria dengan suara rendah yang langsung membuat bulu kuduk Maya berdiri. “Kelihatan semakin segar hari ini. Roknya bagus, bikin pinggulmu kelihatan… menggoda.”
6904Please respect copyright.PENANAwix9fJeGts
Maya merasa wajahnya memanas. Ia berbalik menghadap Satria, berusaha tersenyum biasa. “Pagi, Mas Sat. Lagi santai ya hari ini?”
6904Please respect copyright.PENANAEp49DljkVR
Satria menyandarkan lengan berototnya di pagar, tubuh tingginya membungkuk sedikit ke depan. Aroma tubuhnya yang maskulin—campuran sabun mandi segar dan feromon pria dewasa—terbawa angin ke hidung Maya. “Rina lagi ke Singapura sampai minggu depan. Rumah sepi. Kamu juga sendirian kan? Andi sibuk terus.”
6904Please respect copyright.PENANArLn8zVQrD6
Maya mengangguk pelan. Jarak mereka hanya sekitar satu meter, cukup dekat untuk melihat urat-urat di lengan Satria dan tonjolan yang mulai terlihat di celananya. “Iya… dia sering lembur. Aku biasa kok sendiri.”
6904Please respect copyright.PENANALJq6LRzct3
Satria tersenyum miring, matanya turun ke payudara Maya yang naik-turun karena napasnya yang mulai memburu. “Wanita seksi seperti kamu nggak boleh biasa sendirian. Harusnya ada yang nemenin… yang bisa kasih perhatian penuh. Yang bisa bikin kamu merasa penuh dan puas.”
6904Please respect copyright.PENANACebPOfQi2o
Kata-kata itu diucapkan pelan, hampir seperti bisikan. Maya merasa memeknya langsung berkontraksi, mengeluarkan cairan hangat yang mulai membasahi celana dalam tipisnya. Bau tubuhnya sendiri yang mulai terangsang samar-samar tercium, manis dan menggoda. Ia menggeser kaki, berusaha meredakan denyutan di antara pahanya.
6904Please respect copyright.PENANA2ovSYz1Abq
“Mas Sat… ngomongnya pelan-pelan dong. Nanti ada yang dengar,” bisik Maya, tapi ia tak beranjak menjauh. Malah ia mendekat sedikit ke pagar.
6904Please respect copyright.PENANAyJbUj5nOQh
Satria tertawa pelan, suara berat yang menggetarkan dada Maya. “Bu RT lagi sibuk gosip di grup WA kok. Lagian, aku cuma ngomong yang sebenarnya. Lihat kamu setiap hari… pinggul lebar, payudara montok, kulit kuning langsat yang pasti enak disentuh. Aku yakin Andi nggak tahu cara memuaskan kamu yang sebenarnya.”
6904Please respect copyright.PENANAUS0j8Jd1w7
Maya tersentak. Kata-kata kotor itu membuat putingnya semakin keras, menekan kain tank top hingga terlihat jelas. “Kamu… tahu apa tentang aku dan Andi?”
6904Please respect copyright.PENANAz4cesVsxCn
Satria menatap langsung ke matanya, tatapan dominan yang membuat Maya merasa lemah. “Aku lihat caramu berjalan. Caramu memandang aku. Tubuhmu butuh yang lebih besar, Maya. Butuh yang bisa meregang memekmu sampai penuh, sampai kamu gemetar dan nangis kenikmatan. Bukan yang cepat selesai dan meninggalkanmu basah tapi lapar.”
6904Please respect copyright.PENANAicleRoFq52
Kata-kata itu seperti pukulan langsung ke perut Maya. Lututnya gemetar. Ia membayangkan kontol monster Satria yang tebal berurat itu mendorong masuk pelan, meregang dinding memeknya yang sensitif, menyentuh titik-titik yang tak pernah disentuh Andi. Cairan panas semakin deras keluar, membasahi paha dalamnya sedikit.
6904Please respect copyright.PENANAKAjeua08Hi
Tiba-tiba angin meniup daun kering dari pohon di halaman. Beberapa jatuh ke rambut Maya. Satria melihat itu dan langsung bertindak. Ia melompati pagar rendah dengan mudah, tubuh atletisnya mendekat ke Maya.
6904Please respect copyright.PENANAXS0olDb2sU
“Biar aku bantu,” katanya lembut, tapi nada suaranya penuh nafsu. Tangan besarnya terulur, jari-jarinya menyentuh rambut Maya di dekat telinga, lalu turun ke bahu. Sentuhan itu seperti listrik. Panas, kuat, dan penuh janji. Jari Satria sengaja menyapu kulit bahu Maya yang terbuka, lalu turun ke pinggulnya saat “membantu” membersihkan daun di rok Maya.
6904Please respect copyright.PENANAqAwnT1U6E4
“Mas Sat…” desah Maya pelan. Tubuhnya bergetar. Jari pria itu menyentuh pinggul lebarnya, meremas pelan melalui kain rok. Sensasi itu membuat memeknya berdenyut hebat, cairan mengalir deras hingga ia khawatir akan menetes ke lantai.
6904Please respect copyright.PENANARch3XqwijN
Satria mendekatkan wajahnya, napas hangatnya menyapu telinga Maya. “Kamu sudah basah ya sekarang? Aku bisa bau aromamu yang manis. memekmu pasti sudah lapar banget pengen diisi kontol yang beneran.”
6904Please respect copyright.PENANAmlD3UgWIPg
Maya menggigit bibir kuat-kuat hingga hampir berdarah. Air matanya hampir keluar karena campuran rasa bersalah dan nafsu yang membara. “Ini salah… aku istri orang. Kamu juga suami orang.”
6904Please respect copyright.PENANA2MmRfJgi0A
“Tapi tubuhmu jujur,” balas Satria sambil tersenyum. Tangan kanannya masih di pinggul Maya, ibu jarinya mengusap pelan naik-turun, mendekati belahan bokong. “Lihat ini, pinggulmu pas banget di tanganku. Bayangin kalau aku pegang pinggul ini sambil dorong masuk dari belakang. Pelan… tapi dalam. Sampai perutmu kembung penuh sperma panas.”
6904Please respect copyright.PENANA66nq9kMU8p
Suara Satria rendah, penuh dirty talk yang halus tapi mematikan. Maya merasa kakinya hampir tak kuat menopang tubuh. Ia bersandar sedikit ke dada Satria, merasakan otot keras pria itu. Aroma keringat ringan dan kelelakian Satria memenuhi penciumannya, membuat kepalanya pusing kenikmatan.
6904Please respect copyright.PENANAjhedTV37oD
Mereka berdiri seperti itu beberapa saat, tangan Satria menjelajah pinggul dan pinggang Maya dengan gerakan “tak sengaja” yang disengaja. Jari-jarinya naik ke bawah payudara, hampir menyentuh puting yang sudah sangat keras, tapi berhenti di sana. Godaan yang menyiksa.
6904Please respect copyright.PENANAq8r7z1Kguj
“Malam ini Rina nggak ada. Datang ke garasi belakangku jam 8. Aku tunggu kamu,” bisik Satria tepat di telinga Maya sebelum mundur selangkah. Tonjolan di celananya sekarang sangat jelas, panjang dan tebal, menekan kain training hingga bentuk kepalanya hampir terlihat.
6904Please respect copyright.PENANAXSNoDvAdVx
Maya mundur dengan napas tersengal. “Aku… nggak janji.”
6904Please respect copyright.PENANAIiyJ78xc1u
Tapi keduanya tahu itu hanya kata-kata. Maya kembali ke rumah dengan kaki gemetar. Sepanjang siang ia berusaha mengalihkan pikiran. Membersihkan rumah, menonton TV, bahkan mencoba menelepon Laras temannya untuk mengobrol. Tapi setiap beberapa menit, bayangan tangan Satria di pinggulnya dan kata-kata kotor pria itu kembali muncul.
6904Please respect copyright.PENANA4gMTMeE7ZU
Sore menjelang, Maya mandi lagi. Kali ini ia menyentuh dirinya sendiri di bawah shower. Jari-jarinya memainkan kristorisyang bengkak, membayangkan lidah Satria di sana. Ia hampir mencapai orgasme, tapi berhenti. Ia ingin menunggu. Ingin yang asli.
6904Please respect copyright.PENANAxy6O8qd6hn
Jam 7.45 malam, Maya mengenakan dress rumah longgar tanpa bra. Andi menelepon bilang ia lembur sampai larut. Maya bilang ia akan tidur cepat. Lalu ia keluar melalui pintu belakang, hati berdegup kencang. Rasa bersalah menusuk dadanya seperti jarum, tapi nafsu jauh lebih kuat. Kakinya melangkah menuju garasi belakang rumah Satria yang agak tersembunyi.
6904Please respect copyright.PENANAfOAheoqjoj
Satria sudah menunggu di sana. Lampu garasi redup, pintu setengah tertutup. Ia berdiri tanpa baju atas, tubuh kekarnya berkilau di bawah cahaya temaram. Senyumnya penuh kemenangan saat melihat Maya datang.
6904Please respect copyright.PENANANVdSqM8QDi
“Kamu datang juga,” katanya sambil mendekat. Tangan besarnya langsung memeluk pinggang Maya, menariknya masuk ke dalam garasi. Bau oli mobil bercampur aroma tubuh Satria yang kuat memenuhi udara.
6904Please respect copyright.PENANAjnahBv10cf
“Mas… ini salah,” bisik Maya, tapi tangannya sudah naik ke dada bidang Satria, merasakan otot yang panas dan keras.
6904Please respect copyright.PENANAUcQknuB9Ic
Satria menunduk, bibirnya hampir menyentuh bibir Maya. “Salah yang enak, Maya. Malam ini aku akan tunjukkan bedanya kontol kecil suamimu dengan kontol besar milikku. Siap merasakan yang beneran meregang?”
6904Please respect copyright.PENANArVXEoR6iQu
Maya tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, air matanya menetes karena campuran rasa bersalah dan antisipasi yang membara. Tubuhnya sudah siap. memeknya sudah banjir. Dan Satria tahu itu.
6904Please respect copyright.PENANAJQZywJYFUZ
Obrolan di pagar telah membawa mereka ke titik tanpa kembali.
6904Please respect copyright.PENANAYoHijInxos


