Bab 1: Godaan di Pagar
7624Please respect copyright.PENANAk147cs7iKB
Maya Pramesti berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangan dirinya sendiri dengan tatapan yang kosong. Usianya baru 28 tahun, tapi pagi ini ia merasa jauh lebih tua. Kulit kuning langsatnya masih halus dan cerah, payudaranya yang montok berukuran D-cup terlihat sempurna di balik tank top tipis yang ia pakai untuk tidur. Pinggulnya yang lebar dan bokongnya yang kencang adalah hasil dari olahraga rutin yang ia lakukan sendirian. Tapi mata itu… mata itu terlihat lelah.
7624Please respect copyright.PENANALLXMYEpsrd
Dua tahun menikah dengan Andi Pramesti seharusnya menjadi masa-masa bahagia. Andi pria yang baik, stabil secara finansial, dan selalu menyayanginya. Tapi di balik semua itu, ada kekosongan yang semakin hari semakin menggerogoti Maya. Malam-malam mereka di ranjang selalu sama. Andi akan menciumnya sekilas, menyentuh payudaranya dengan cepat, lalu masuk begitu saja. Hanya 12 cm yang tak pernah membuat Maya merasa penuh. Tak ada foreplay yang panjang, tak ada godaan yang membuat tubuhnya bergetar. Maya sering berpura-pura mencapai puncak hanya agar suaminya tidak merasa bersalah. Setelah itu, Andi akan langsung tertidur, meninggalkan Maya terbaring dengan tubuh yang masih panas dan basah, tapi tak terpuaskan.
7624Please respect copyright.PENANASUuSBVp6zU
Pagi itu, seperti biasa, Andi sudah berpakaian rapi untuk ke kantor. Ia mencium pipi Maya sekilas.
“Sayang, malam ini aku lembur lagi ya. Ada proyek besar,” kata Andi sambil tersenyum.
7624Please respect copyright.PENANAiaFNcidmUe
Maya hanya mengangguk, tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan.”
7624Please respect copyright.PENANA6IKtQ2BzxH
Begitu pintu rumah tertutup, Maya menghela napas panjang. Ia berjalan ke dapur, membuat kopi untuk dirinya sendiri. Tubuhnya terasa panas meski pendingin ruangan menyala. Sudah berbulan-bulan ia mencoba memuaskan diri sendiri dengan jari-jarinya, tapi itu tak pernah cukup. Maya mendambakan sesuatu yang lebih besar, lebih kuat, yang bisa membuat memeknya meregang dan berdenyut hebat hingga air matanya keluar.
7624Please respect copyright.PENANA6NbLKnJ8Tx
Ia keluar ke halaman depan rumah untuk menyiram tanaman, mengenakan celana pendek ketat dan tank top longgar yang sedikit memperlihatkan belahan payudaranya. Udara pagi di kompleks perumahan itu masih sejuk. Suara burung dan angin ringan menyapa telinganya. Saat itulah ia melihatnya.
7624Please respect copyright.PENANA2KXbRBy41D
Satria Wijaya, tetangga sebelah, sedang berdiri di pagar pembatas rumah mereka. Pria berusia 35 tahun itu tinggi sekali, 183 cm, dengan tubuh atletis kekar hasil latihan rutin di ruang fitness kompleks. Kemeja polo ketatnya menempel di dada bidang dan lengan berotot. Kulitnya kecokelatan, wajahnya tampan maskulin dengan rahang tegas dan senyum yang selalu terlihat berbahaya.
7624Please respect copyright.PENANAJALFWpWJdh
“Pagi, Maya,” sapa Satria dengan suara bariton yang dalam. Matanya langsung menatap Maya dari atas ke bawah, tak malu-malu.
7624Please respect copyright.PENANAxdiTmU2TqC
“Pagi, Mas Sat,” jawab Maya, berusaha menjaga nada suaranya tetap biasa. Tapi ia merasakan getaran kecil di perutnya saat tatapan Satria berhenti lebih lama di payudaranya yang naik-turun karena gerakan menyiram tanaman.
7624Please respect copyright.PENANAEQ4oAJjL3Z
Satria tersenyum miring. Ia mengenakan celana pendek olahraga yang cukup longgar, tapi hari ini sepertinya ia sengaja tidak memakai underwear. Saat ia bergeser sedikit untuk menyandarkan tangan di pagar, tonjolan besar dan tebal di selangkangannya terlihat jelas. Bentuknya panjang, berurat, dan menekan kain celana dengan kuat. Maya langsung merasa pipinya panas. memeknya berdenyut sekali, cairan hangat mulai mengalir pelan di celana dalamnya.
7624Please respect copyright.PENANANzu79pld4D
“Baru bangun ya? Kelihatan segar sekali,” kata Satria sambil menatap langsung ke mata Maya. “Andi sudah berangkat?”
7624Please respect copyright.PENANAYd1J1TPuR8
“Sudah, Mas. Lembur lagi katanya,” jawab Maya. Suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba mengalihkan pandangan, tapi matanya kembali tertarik ke tonjolan itu. Ukuran itu… mustahil. Jauh berbeda dengan milik Andi.
7624Please respect copyright.PENANAGkbpZQuVRi
Satria tertawa pelan, suara rendah yang membuat bulu kuduk Maya berdiri. “Kasihan. Istri cantik seperti kamu ditinggal sendirian terus. Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang aja ya. Aku sering di rumah, Rina lagi sering traveling ke luar kota untuk kerja.”
7624Please respect copyright.PENANAuBMqK0zsme
Kata-kata itu terdengar biasa, tapi nada suaranya penuh arti. Maya merasa puting di puncak payudaranya mengeras, menekan kain tank top. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha menahan gelombang panas yang naik ke wajahnya.
7624Please respect copyright.PENANAHWAsRCvFwU
“Terima kasih, Mas Sat. Aku… biasa saja kok,” balas Maya, tapi kakinya sudah terasa lemas. Ia memutar tubuh sedikit untuk melanjutkan menyiram, tapi gerakan itu justru membuat pinggul lebarnya terlihat lebih jelas dari samping.
7624Please respect copyright.PENANAwmSZMk2EOZ
Satria tak beranjak. Ia terus memperhatikan. Saat Maya membungkuk sedikit untuk menyiram pot bunga rendah, celana pendeknya naik dan memperlihatkan garis bokongnya yang bulat kencang. Satria menggeser pinggulnya lagi, membuat kontol monster di celananya semakin terlihat menonjol. Ia bahkan mengangkat satu tangan untuk mengusap dagunya, sengaja memperlihatkan tonjolan itu lebih jelas.
7624Please respect copyright.PENANAMq79R3BEPI
Maya melirik. Jantungnya berdegup kencang. Ia bisa membayangkan bagaimana benda sebesar itu akan meregang memeknya, mendorong masuk pelan hingga perutnya terasa penuh. Bayangan itu membuat cairan hangat semakin banyak keluar, membasahi celana dalamnya. Bau tubuhnya sendiri yang mulai terangsang samar-samar tercium olehnya.
7624Please respect copyright.PENANASTlXkQiXvE
“Rumah kamu bagus ya, Maya. Taman belakangnya juga. Kadang aku lihat kamu dari balkon atas,” ujar Satria santai, tapi matanya penuh nafsu. “Kamu suka pakai baju rumah yang… nyaman begitu. Cocok banget sama tubuhmu.”
7624Please respect copyright.PENANARvwmVbYZfe
Maya berdiri tegak, napasnya mulai memburu. “Mas Sat… jangan ngomong begitu. Nanti Bu RT dengar, gosipnya panjang.”
7624Please respect copyright.PENANAAwvs5sEkKP
Satria tertawa lagi, kali ini lebih dalam. Ia mendekatkan tubuhnya ke pagar hingga jarak mereka hanya satu meter. Aroma maskulinnya—campuran sabun mandi, keringat ringan, dan sesuatu yang kuat—menyapu hidung Maya. “Bu RT memang suka gosip. Tapi aku suka yang berani. Kamu kelihatan seperti wanita yang butuh… perhatian lebih.”
7624Please respect copyright.PENANAwxxajmVrLy
Kata “perhatian lebih” diucapkan dengan nada rendah yang penuh arti. Maya merasa lututnya hampir goyah. memeknya berdenyut-denyut sekarang, sensitif sekali hingga gesekan kain celana dalam saja sudah membuatnya ingin mendesah. Ia membayangkan lidah Satria menjilat kristoriskecil di puncak memeknya, jari-jari tebal pria itu memasukkan plug ke anal belakangnya sambil bisik kata-kata kotor.
7624Please respect copyright.PENANAFxHCsPLK9o
“Aku… harus masuk dulu, Mas. Ada yang harus dikerjakan,” kata Maya cepat, berusaha kabur dari godaan itu.
7624Please respect copyright.PENANA6dROQcTZSm
Tapi saat ia berbalik, tangan Satria menyentuh pagar tepat di depannya. Bukan menyentuh Maya langsung, tapi cukup dekat hingga Maya merasakan panas tubuh pria itu. “Kapan-kapan kita ngobrol lagi di belakang ya. Lebih privat. Aku punya koleksi puting bagus dari perjalanan. Mau coba?”
7624Please respect copyright.PENANAjEu16gJeKV
Maya mengangguk pelan tanpa sadar. “Mungkin… nanti ya.”
7624Please respect copyright.PENANAVKHPpvPQOp
Ia berjalan masuk rumah dengan cepat, tapi sebelum menutup pintu, ia melirik sekali lagi. Satria masih berdiri di sana, tersenyum lebar, dengan tonjolan besar di celananya yang tak disembunyikan sama sekali. Maya menutup pintu, bersandar di baliknya, dan menghela napas panjang.
7624Please respect copyright.PENANA1rAMjmqmX0
Tangan kanannya tanpa sadar turun ke selangkangan. Ia menyentuh memeknya yang sudah sangat basah. Satu sentuhan saja membuatnya mendesah pelan. “Ya Tuhan… apa yang aku lakukan,” bisiknya.
7624Please respect copyright.PENANALKv5CBJ0NP
Sepanjang pagi itu, Maya tak bisa berhenti memikirkan Satria. Saat membersihkan rumah, ia membayangkan tubuh kekar itu menindihnya. Saat mandi, air hangat yang mengalir di payudaranya terasa seperti lidah Satria. Ia hampir mencapai puncak hanya dengan jari-jarinya sambil membayangkan kontol monster 21 cm itu, tebal berurat, yang akan membuat perutnya kembung penuh.
7624Please respect copyright.PENANA3GLoiPgS6m
Sore harinya, saat Andi masih di kantor, Maya duduk di teras belakang. Dari sana ia bisa melihat balkon rumah Satria. Pria itu muncul di sana, tanpa baju, hanya memakai celana pendek. Ia melambai ke arah Maya dengan senyum yang penuh janji.
7624Please respect copyright.PENANALJ1VIrV6LN
Maya balas melambai, hatinya berdegup kencang. Rasa bersalah mulai muncul, tapi nafsu yang baru bangkit jauh lebih kuat. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan, ia merasa hidup. Tubuhnya merespons hanya dengan tatapan dan senyuman dari tetangga.
7624Please respect copyright.PENANACzwbhheNSJ
Malam itu, saat Andi pulang dan mencoba bercinta seperti biasa, Maya berpura-pura menikmati. Tapi di dalam pikirannya, ia membandingkan segalanya dengan Satria. Saat Andi selesai dalam waktu singkat, Maya berbaring dengan mata terbuka, memeknya masih basah dan lapar.
7624Please respect copyright.PENANA53YCebxhrb
Ia tahu, godaan ini baru permulaan. Dan ia sudah tak sabar menunggu langkah berikutnya.
7624Please respect copyright.PENANAd7xPEh7xwT


