Bab 2: Ciuman Pertama yang Membakar
1188Please respect copyright.PENANAVCUBF5r1OO
Malam setelah hujan deras itu, suasana kamar kosan terasa lebih pengap dari biasanya. Tara berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit yang retak. Jantungnya masih berdegup kencang sejak Rere mencium pipinya semalam. Bibir Rere yang hangat dan basah itu seperti meninggalkan jejak panas yang tak mau hilang. Tara menggigit bibir bawahnya, mencoba mengusir bayangan tersebut, tapi semakin ia usir, semakin kuat bayangan itu kembali.
1188Please respect copyright.PENANAZeL5Zt5dPJ
Di ranjang sebelah, Rere berbaring menyamping menghadap Tara. Matanya terbuka dalam kegelapan, memperhatikan gadis kecil itu dengan tatapan lapar yang tertahan. Tubuh atletisnya yang tinggi 170 cm terasa gelisah. Payudaranya yang D-cup naik turun pelan mengikuti napas. Ia sudah terbiasa mengendalikan nafsu, tapi Tara dengan tubuh ramping, payudara C-cup kencang, dan wajah imut polos itu seperti magnet yang sulit ditolak.
1188Please respect copyright.PENANAF7QBKkINh0
“Tara…” panggil Rere pelan, suaranya serak dan rendah.
1188Please respect copyright.PENANARJFh3Wqqea
“Ya, Kak?” jawab Tara, suaranya hampir bergetar.
1188Please respect copyright.PENANAD2azqbLZiQ
“Kamu nggak bisa tidur ya? Aku juga.”
1188Please respect copyright.PENANAhEc3nElJ5u
Rere bangkit duduk, lalu tanpa permisi naik ke ranjang Tara. Kasur sempit itu langsung terasa penuh. Tubuh Rere yang hangat menempel di samping Tara. Aroma tubuhnya yang maskulin bercampur manis keringat ringan langsung menyeruak ke hidung Tara. Tangan Rere menyentuh lengan Tara, mengusap pelan ke atas hingga bahu, lalu turun lagi.
1188Please respect copyright.PENANAWB1UPv11kQ
“Kamu gemetar,” bisik Rere di telinga Tara. Napas hangatnya menyapu kulit sensitif di sana, membuat bulu roma Tara berdiri. “Takut?”
1188Please respect copyright.PENANAVsxGTJxgJe
Tara menggeleng pelan, tapi tubuhnya mengatakan sebaliknya. “Aku… cuma penasaran.”
1188Please respect copyright.PENANArTwO9dHnHO
Rere tersenyum miring dalam gelap. Tangan besarnya yang lembut namun tegas berpindah ke pinggang Tara, menarik tubuh ramping itu lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. “Penasaran apa? Sama aku? Sama yang aku lakuin setiap malam?”
1188Please respect copyright.PENANA2BT9AEifo1
Tara mengangguk kecil. Pipinya terasa panas sekali. Rere tidak membuang waktu. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menyiksa, ia mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bersentuhan dulu, lalu bibir Rere menyentuh bibir Tara dengan lembut. Ciuman pertama itu ringan, hanya tekanan hangat yang basah. Tapi Tara merasa seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik.
1188Please respect copyright.PENANAX19mEsQH9e
“Hmm…” desah Rere pelan di antara ciuman. Lidahnya menyelinap keluar, menjilat pelan bibir bawah Tara, meminta izin masuk. Tara membuka mulutnya sedikit, dan lidah Rere langsung menyusup masuk, menari liar dengan lidah Tara yang masih malu-malu. Suara kecupan basah terdengar kecil di kamar sempit itu. *Cup… slurp…*
1188Please respect copyright.PENANAY1iVKupN7S
Rasa lidah Rere manis gurih, bercampur aroma mint pasta gigi yang masih tersisa. Tara merasa kepalanya pusing. Tangan Rere naik ke dada Tara, meremas payudara C-cup yang kencang itu di atas baju tidur tipis. Jempolnya memutar pelan di sekitar puting yang sudah mengeras.
1188Please respect copyright.PENANAyeatqZhFEq
“Ahh… Kak Rere…” Tara mengeluh pelan, suaranya manja dan gemetar.
1188Please respect copyright.PENANAokmyrbUm8b
“Enak ya?” bisik Rere sambil menggigit pelan bibir bawah Tara. “puting kamu udah keras banget. Pasti memeknya juga sudah basah.”
1188Please respect copyright.PENANAWOp3pBaXKe
Tara tidak bisa menjawab. Rere menarik baju tidur Tara ke atas, memperlihatkan payudara putih mulus dengan puncak merah muda yang tegak. Rere menunduk, lidahnya menjilat puting kiri Tara dengan gerakan melingkar lambat. Panas lidah itu kontras dengan udara malam yang sejuk, membuat Tara melengkungkan punggungnya. Rere mengisap kuat, *slurp*, sambil tangan kanannya meremas payudara yang satu lagi.
1188Please respect copyright.PENANAJ2OWCJUaPL
Sensasi itu membuat Tara merasa seperti meleleh. Cairan hangat mulai mengalir deras dari memeknya yang pink sensitif, membasahi celana dalam katun tipisnya. Bau manis khas gairah perempuan mulai memenuhi kamar.
1188Please respect copyright.PENANAC5errR5tTk
Rere terus menurunkan ciumannya. Ia menciumi perut rata Tara, menjilat pusar, lalu berhenti di pinggiran celana dalam. “Boleh aku lihat memek kamu?” tanya Rere dengan suara serak penuh nafsu.
1188Please respect copyright.PENANAf5v9haRhHp
Tara ragu sebentar, tapi rasa penasaran dan api di perutnya menang. Ia mengangguk pelan. Rere menarik celana dalam Tara turun dengan satu gerakan lambat. memek pink Tara yang mulus dan sudah banjir cairan terpapar di udara. Bibir memeknya mengkilap, kristoris kecil tapi sudah bengkak dan berdenyut.
1188Please respect copyright.PENANAssD5gKJ0Tq
“Cantik banget…” puji Rere sambil menarik napas dalam, menghirup aroma manis Tara yang polos. “Wanginya enak. Manis dan segar.”
1188Please respect copyright.PENANARAoP5jEqKN
Rere membuka paha Tara lebar-lebar. Tubuh atletisnya menindih pelan agar Tara tidak bisa menutup kakinya. Mulut Rere mendekat perlahan. Napas hangatnya menyapu memek Tara dulu, membuat gadis itu menggelinjang. Kemudian lidah Rere menyentuh bibir luar memek dengan jilatan panjang dari bawah ke atas.
1188Please respect copyright.PENANAqmZT6h7Mfo
“Ahhh!” Tara menjerit kecil, tangannya mencengkeram seprai. Sensasi lidah yang basah dan hangat itu luar biasa. Rere menjilat pelan, menikmati setiap tetes cairan yang keluar. Lidahnya menari di sekitar kristoris memutar, menekan, lalu mengisap pelan.
1188Please respect copyright.PENANAwh4YFiRHKD
*Slurp… slurp…*
1188Please respect copyright.PENANAavOXNNxrNM
Suara jilatan basah memenuhi kamar. Rere semakin dalam. Lidahnya menyusup masuk ke lubang memek Tara yang sempit dan panas, menjilat dinding dalamnya yang berdenyut. Tangan Rere memegang paha Tara kuat-kuat, menjaga agar tetap terbuka lebar. Sesekali ia menampar pelan paha dalam Tara, *plak*, membuat sensasi panas dan sakit bercampur kenikmatan.
1188Please respect copyright.PENANAOdEeswQ3xn
Tara merasa dunia berputar. Kakinya gemetar hebat. Perutnya naik turun cepat. “Kak… ahh… enak… apa ini… hah… hah…”
1188Please respect copyright.PENANAWOI8KiI2NH
Rere mengangkat wajahnya sebentar, bibirnya basah oleh cairan Tara. “Ini baru awal, sayang. Kamu bakal ketagihan.” Lalu ia kembali menyerang kristorisTara dengan isapan kuat sambil memasukkan satu jari ke dalam memek yang sudah sangat licin.
1188Please respect copyright.PENANAxbvavsng2X
Jari Rere yang panjang bergerak keluar masuk pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara *squish… squish…* basah terdengar jelas. Tara merasa memeknya penuh, meregang, dan berdenyut liar. Panas di perutnya semakin naik seperti gelombang yang tak terbendung.
1188Please respect copyright.PENANArwjf0HKXOi
“Kak Rere… aku… aku mau… ahhh!” Tara menangis pelan. Air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya.
1188Please respect copyright.PENANA7xOJCubDwT
Rere tidak berhenti. Lidahnya memutar cepat di kristorissementara dua jarinya sekarang memompa kasar di dalam memek. Getaran hebat datang. Tubuh Tara menegang total, kakinya lurus kaku, jari kakinya melengkung. memeknya berdenyut kuat sekali di sekitar jari Rere.
1188Please respect copyright.PENANAAHiWeLngRz
“Aaaahhhhh!!” Tara berteriak tertahan saat orgasme pertamanya menghantam seperti tsunami. Cairan sperma bening memancar keluar dari memeknya, membasahi mulut Rere dan seprai. Tubuhnya kejang-kejang hebat, air mata mengalir deras, napasnya tersengal-sengal.
1188Please respect copyright.PENANA1dNvtCyWtN
Rere terus menjilat pelan sampai getaran Tara reda, membersihkan setiap tetes sperma dengan lidahnya yang rakus. Rasa manis asin Tara membuat Rere mendesah puas.
1188Please respect copyright.PENANAzan5msWsBz
Setelah itu, Rere naik ke atas, memeluk Tara yang masih gemetar. Tubuh mereka lengket oleh keringat. Rere mencium kening Tara lembut, kontras dengan tindakannya yang kasar tadi.
1188Please respect copyright.PENANARPsEh7J5WC
“Kamu orgasme paling cantik yang pernah aku lihat,” bisik Rere sambil mengusap air mata Tara. “Besok kita lanjut lagi ya? Kamu harus belajar jilat memek kakak juga.”
1188Please respect copyright.PENANAkyHc0pNUWw
Tara hanya bisa mengangguk lemah. Tubuhnya masih bergetar hebat. Di dalam hatinya, ada campuran rasa bersalah, malu, dan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Polosnya sudah retak parah. Rere tersenyum puas dalam gelap, tangannya masih mengusap punggung Tara pelan.
1188Please respect copyright.PENANAWe7DY2SG3U
Malam itu, untuk pertama kalinya, Tara tidur dalam pelukan Rere. Aroma tubuh mereka bercampur, napas mereka saling menghangatkan. Di kamar kosan sempit itu, batas antara teman sekamar dan sesuatu yang lebih gelap sudah mulai kabur.
1188Please respect copyright.PENANAATEhApINdZ
Tara tahu, ini baru permulaan.
1188Please respect copyright.PENANAExQUwEzYW3


