Bab 3: Lidah Tara yang Belajar dan Orgasme yang Mengguncang
1122Please respect copyright.PENANAIPsHs199L2
Pagi setelah malam penuh kenikmatan itu, Tara terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas. Cahaya matahari pagi menyusup melalui tirai tipis kamar kosan. Tubuhnya lengket oleh keringat kering dan sisa cairan yang belum sepenuhnya kering. memeknya masih terasa berdenyut pelan, sensitif sekali setiap kali ia menggerakkan paha. Di sampingnya, Rere sudah bangun, bersandar di kepala ranjang sambil memandangnya dengan senyum dominan yang membuat Tara merasa seperti mangsa.
1122Please respect copyright.PENANA3J7rvA5Rjf
“Pagi, sayang. Masih gemetar?” tanya Rere sambil mengusap pipi Tara dengan ibu jarinya. Suaranya pagi itu terdengar lebih dalam, penuh kepuasan.
1122Please respect copyright.PENANAUJuDM2Q49d
Tara mengangguk malu, pipinya langsung memerah. “Kak Rere… semalam itu… aku nggak percaya aku bisa… begitu.”
1122Please respect copyright.PENANAr9s2kdhsKO
Rere tertawa pelan dan menarik Tara ke dalam pelukannya. Tubuh atletisnya yang tinggi menutupi tubuh ramping Tara sepenuhnya. Payudara D-cup Rere menekan payudara C-cup Tara, putingnya yang sudah mengeras terasa hangat. “Kamu orgasme paling indah yang pernah aku lihat. Tubuh kamu sangat responsif. memek pink kamu banjir sperma sampai seprai basah.”
1122Please respect copyright.PENANAWkXi810okZ
Kata-kata kotor itu membuat Tara menunduk, tapi juga membuat cairan hangat kembali mengalir pelan dari dalam memeknya. Rere mencium keningnya, lalu bibirnya, lidahnya menyusup masuk dengan lembut pagi ini, berbeda dengan kelaparan semalam.
1122Please respect copyright.PENANAWrsFeHxW3D
Sepanjang hari di kampus, Tara sulit berkonsentrasi. Setiap kali duduk, ia merasakan memeknya yang masih sensitif bergesekan dengan celana dalam. Pikirannya terus kembali ke lidah Rere yang menjilat kristoris dengan rakus. Dina, teman kuliahnya, sempat bertanya kenapa wajahnya merah seharian, tapi Tara hanya bisa tersenyum gugup dan mengelak.
1122Please respect copyright.PENANAABa2N428z5
Malam harinya, suasana kamar kembali tegang penuh antisipasi. Lampu kamar dimatikan, hanya menyisakan lampu meja kecil yang redup. Rere duduk di ranjangnya hanya memakai kaos oversized tanpa celana dalam. Paha atletisnya terbuka lebar, memperlihatkan memeknya yang sudah dicukur bersih dan mengkilap karena sudah basah.
1122Please respect copyright.PENANAOoWPPlIxQr
“Sekarang giliran kamu, Tara,” kata Rere dengan nada perintah yang lembut tapi tegas. “Kamu harus belajar memuaskan kakak. Ayo mendekat.”
1122Please respect copyright.PENANA7czJTRxW1r
Tara merangkak mendekat dengan lutut gemetar. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa di tenggorokan. Aroma manis dan sedikit asin dari memek Rere sudah tercium dari jarak setengah meter. Wanginya lebih kuat daripada miliknya sendiri, dewasa dan menggoda.
1122Please respect copyright.PENANA89TfupOHA0
“Jangan takut. Mulai dari mencium dulu,” bisik Rere sambil mengusap rambut bob Tara.
1122Please respect copyright.PENANAEDUCA0cAUg
Tara menunduk, bibirnya menyentuh paha dalam Rere yang halus. Kulitnya hangat dan sedikit asin karena keringat. Ia mencium pelan naik ke atas, semakin dekat ke memek yang sudah membengkak. Bibir luar memek Rere tebal dan mengkilap, kristoris lebih besar dan menonjol dibanding milik Tara.
1122Please respect copyright.PENANAIyRHOks8Cv
Rere menghela napas panjang saat bibir Tara akhirnya menyentuh bibir memeknya. “Ya… seperti itu… cium dulu pelan.”
1122Please respect copyright.PENANAq9utJbS9Ka
Tara mencium lembut, merasakan kelembapan hangat yang lengket di bibirnya. Rasa manis asin langsung menyentuh lidahnya saat ia menjilat pelan untuk pertama kali. Rere mendesah rendah, tangannya mencengkeram rambut Tara.
1122Please respect copyright.PENANACb5VXMT28F
“Lidah kamu keluar lebih panjang, sayang. Jilat dari bawah ke atas… pelan dulu.”
1122Please respect copyright.PENANA9WtLLJtDdi
Tara menurut. Lidahnya yang kecil dan hangat menjilat panjang dari lubang memek Rere hingga ke kristorisyang bengkak. *Slurp…* Suara basah kecil terdengar. Rasa Rere lebih kuat, lebih kaya, membuat Tara merasa pusing karena gairah. Ia menjilat lagi, lebih berani, lidahnya memutar di sekitar kristorisRere.
1122Please respect copyright.PENANAaQ336Y0FZK
“Ahh… bagus… kamu cepat belajar,” puji Rere sambil menggoyang pinggulnya pelan. “Isap kristoriskakak sekarang.”
1122Please respect copyright.PENANAWEygHLB2vQ
Tara mengisap kristorisRere dengan lembut, lidahnya menekan dan memutar. Suara isapan basah *slurp slurp* semakin keras. Tangan Rere menekan kepala Tara lebih dalam, membuat hidung Tara menempel ke memek yang basah. Cairan Rere mengalir ke mulut Tara, ia menelan tanpa sadar, rasanya hangat dan sedikit asin-manis.
1122Please respect copyright.PENANAIl4tTQ5Jw4
Rere mulai mendesah lebih keras. “Masukkan lidah ke dalam… ya… seperti itu… dalam-dalam…”
1122Please respect copyright.PENANAMCeo2UbMNc
Tara menyusupkan lidahnya ke lubang memek Rere yang panas dan berdenyut. Dinding dalamnya lembut, berlipat, dan sangat basah. Ia menjilat ke segala arah, menikmati getaran dinding yang merespons setiap gerakan lidahnya. Tangan Rere mencengkeram seprai, pinggulnya naik turun pelan menggesek wajah Tara.
1122Please respect copyright.PENANAMPfJlERMcV
“Enak… lidah kamu manis… ahh… lebih cepat sekarang!”
1122Please respect copyright.PENANAJ5YGujZ5bk
Tara semakin bersemangat. Ia menjilat lebih cepat, dua jarinya ikut memainkan kristorisRere sambil lidahnya memompa di dalam memek. Suara basah *squish squish* memenuhi kamar sempit. Bau gairah keduanya bercampur kuat, membuat udara terasa lembab dan panas.
1122Please respect copyright.PENANAP44qYHBgQQ
Rere tiba-tiba menarik Tara naik. “Cukup. Sekarang aku mau buat kamu orgasme lagi sambil kamu jilat aku.”
1122Please respect copyright.PENANARe2QpYcu0J
Rere membalik posisi. Ia berbaring telentang, menarik Tara hingga posisi 69. memek Rere tepat di wajah Tara, sementara wajah Rere berada di bawah memek Tara yang sudah banjir lagi.
1122Please respect copyright.PENANAaAlH2ktYmm
“Makan memek kakak sambil aku makan punya kamu,” perintah Rere.
1122Please respect copyright.PENANADpqTlZzcSr
Mereka mulai bersamaan. Lidah Tara kembali menyerbu memek Rere dengan lapar, sementara lidah Rere menjilat kristorisTara dengan ganas. Sensasi saling menjilat membuat keduanya mendesah keras ke dalam memek masing-masing. Suara *slurp slurp* basah dan desahan tertahan memenuhi ruangan.
1122Please respect copyright.PENANAW7Uyts5ttH
Rere memasukkan dua jari ke memek Tara, memompa kasar dan cepat. “memek kamu sangat sempit… masih rapat banget… ahh… jilat lebih dalam!”
1122Please respect copyright.PENANAna9knvc3GH
Tara menangis kenikmatan, air matanya jatuh ke paha Rere. Kakinya gemetar hebat di sekitar kepala Rere. Rere menambah satu jari lagi, tiga jari sekarang memompa memek Tara dengan ritme brutal. Suara *squish squish squish* sangat basah.
1122Please respect copyright.PENANAqkr1PPooVd
Tara merasa perutnya penuh, memeknya meregang maksimal. Panas dan dingin bergantian menyerang tulang punggungnya. kristorisTara berdenyut liar di mulut Rere.
1122Please respect copyright.PENANADTRiztGY0u
“Aku… Kak… aku mau lagi… ahhhh!” Tara berteriak ke dalam memek Rere.
1122Please respect copyright.PENANARXpq7UQ8YW
Rere tidak berhenti. Ia mengisap kristorisTara kuat sambil tiga jarinya memompa semakin cepat, jempolnya menekan kristorisdari luar. Tubuh Tara menegang total. Kakinya lurus kaku, jari kakinya melengkung parah. memeknya berdenyut hebat di sekitar jari Rere.
1122Please respect copyright.PENANAv02ZPATtvY
Orgasme kedua Tara datang seperti badai. “AAAAAHHHHH!!” jeritannya tertahan di memek Rere. sperma bening memancar kuat sekali dari memeknya, membasahi seluruh wajah Rere. Tubuhnya kejang-kejang hebat, perutnya naik turun cepat, air mata mengalir deras. Getaran itu berlangsung hampir satu menit penuh, lebih kuat dari semalam.
1122Please respect copyright.PENANA41RjdAO6TE
Rere juga mencapai puncaknya tak lama kemudian. Pinggulnya menekan wajah Tara kuat, memeknya berdenyut dan mengeluarkan banyak cairan hangat ke mulut Tara. “Ya… minum sperma kakak… bagus sekali…”
1122Please respect copyright.PENANAt4n1zEo4me
Keduanya tergeletak lemas, saling memeluk dalam posisi yang kacau. Napas mereka tersengal, tubuh lengket oleh keringat dan sperma. Rere menarik Tara ke atas, menciumnya dalam, mengecap rasa sperma mereka yang bercampur di lidah.
1122Please respect copyright.PENANA386zZOwB5j
“Kamu hebat untuk pemula,” puji Rere sambil mengusap air mata Tara dengan lembut. “Besok kita pakai mainan. Aku mau lihat memek kamu diregangkan kontol besar.”
1122Please respect copyright.PENANAbo3r7cEBTD
Tara hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya masih bergetar sisa orgasme. Di dalam hatinya, ada badai emosi: rasa bersalah karena melakukan ini dengan sesama perempuan, malu karena begitu haus kenikmatan, tapi di atas semua itu ada ketagihan yang sudah mulai tumbuh kuat. Ia merasa dirinya bukan lagi gadis polos yang dulu.
1122Please respect copyright.PENANAj01B2XAhAZ
Rere memeluknya erat, berbisik di telinga, “Kamu sudah milik aku sekarang, Tara. Jangan coba-coba lari.”
1122Please respect copyright.PENANAs6Vfcvqdpb
Di kamar kosan yang sempit, di bawah cahaya lampu redup, dua tubuh perempuan saling menempel, napas mereka pelan-pelan tenang. Malam itu menandai langkah besar Tara menuju dunia nafsu yang gelap dan adiktif.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 1122Please respect copyright.PENANATSnjBlZsf2
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah1122Please respect copyright.PENANAq1dxPhryFR
1122Please respect copyright.PENANAYYkr0AWYjv


