Bab 1: Godaan di Kamar Sempit
1471Please respect copyright.PENANA6UHSFqenU1
Tara Anindya menyeret koper besarnya menyusuri koridor kosan kampus yang sempit dan agak pengap. Bau cat tembok yang sudah mengelupas bercampur aroma masakan dari dapur bersama membuatnya sedikit mual. Tinggi badannya hanya 159 cm, tubuh ramping dengan rambut bob pendek yang bergoyang pelan saat ia berjalan. Wajahnya imut, mata bulat yang masih penuh kepolosan seorang mahasiswi baru berusia 20 tahun. Payudaranya yang kencang berukuran C-cup terasa sedikit berat karena bra yang ia pakai seharian.
1471Please respect copyright.PENANAQZs6ADkOL5
“Kamar 205… ini dia,” gumamnya pelan sambil mendorong pintu yang sudah tidak terkunci.
1471Please respect copyright.PENANAZ6qKUcLyPX
Di dalam kamar berukuran 3x4 meter itu, sudah ada seorang gadis tinggi yang sedang duduk di ranjang sebelah kiri sambil memainkan ponsel. Tingginya sekitar 170 cm, tubuh atletis dengan otot halus di lengan dan perut yang terlihat dari kaos crop top ketat. Rambut pendek hitam acak-acakan, aura cool dan sedikit tomboy yang langsung membuat Tara merasa kecil. Payudaranya D-cup terlihat penuh dan menonjol, kontras dengan pinggang rampingnya.
1471Please respect copyright.PENANAOavXysb9p0
“Kamu Tara ya? Aku Rere. Valerie Pramesti, panggil aja Rere,” kata gadis itu sambil berdiri dan tersenyum lebar. Suaranya dalam, sedikit serak, dan tatapannya langsung menyapu tubuh Tara dari atas ke bawah tanpa malu-malu. “Kecil juga kamu. Lucu.”
1471Please respect copyright.PENANANSol4nU3gW
Tara tersipu, pipinya memerah. “Iya… senang bertemu, Kak Rere. Maaf kalau aku mengganggu.”
1471Please respect copyright.PENANAa9sj2gYs8g
“Gapapa. Kita sekamar, santai aja.” Rere membantu mengangkat koper Tara ke atas tempat tidur yang kosong. Saat membungkuk, aroma tubuh Rere yang segar bercampur sedikit keringat dan parfum maskulin menyentuh hidung Tara. Anehnya, aroma itu membuat Tara merasa hangat di perut.
1471Please respect copyright.PENANAGc0x2FdagP
Malam pertama berlalu biasa saja. Mereka mengobrol ringan tentang jurusan, jadwal kuliah, dan aturan kosan. Rere kuliah semester lima, jurusan yang sama dengan Tara. Ia terlihat santai, sering tertawa, tapi tatapannya selalu lama saat memandang Tara yang sedang membereskan barang.
1471Please respect copyright.PENANAgkuTfD4ERu
Pukul dua dini hari, Tara terbangun karena suara aneh dari ranjang sebelah. Napas berat, desahan pelan yang tertahan, dan suara kain yang bergesekan.
1471Please respect copyright.PENANA7JInlBrNAP
“Hhh… ahh…”
1471Please respect copyright.PENANAN0NEEBgiEg
Tara membeku di tempat tidurnya. Matanya terbuka lebar dalam gelap. Ia bisa mendengar jelas gerakan tangan Rere di bawah selimut. Suara basah yang samar, ritmis, dan desahan yang semakin dalam. Bau manis khas tubuh perempuan yang sedang bergairah mulai menyeruak pelan di kamar sempit itu. Tara merasa wajahnya panas. Jantungnya berdegup kencang. Ia heteroseksual seumur hidupnya, tapi mendengar suara itu membuat sesuatu di dalam perutnya berdenyut aneh.
1471Please respect copyright.PENANAb2Swy1tVbL
Keesokan paginya, Rere bangun seolah tidak terjadi apa-apa. Ia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit pinggang, memperlihatkan bahu lebar dan lekuk payudara yang masih basah. Tetes air mengalir di kulit kecokelatannya.
1471Please respect copyright.PENANAFPxCn0X4Gg
“Pagi, Tara. Tidur nyenyak?” tanya Rere sambil menyisir rambut pendeknya. Matanya menatap Tara yang masih berbaring.
1471Please respect copyright.PENANABCp45FPSrP
“Pagi, Kak… iya,” jawab Tara pelan, berusaha tidak melihat ke arah tubuh Rere yang terpapar.
1471Please respect copyright.PENANAl8d8zRCf1W
Rere tersenyum miring. “Kamu denger semalam?”
1471Please respect copyright.PENANAis81oVVJoz
Tara langsung membeku. “Eh… apa?”
1471Please respect copyright.PENANAdy4Fu3GXyb
“Kamu denger aku lagi enak-enakan sendiri, kan?” Rere tertawa pelan, suaranya santai tapi ada nada menggoda. Ia mendekat ke ranjang Tara, handuknya agak melonggar. “Aku suka banget ngeluarin stres malam-malam. Kamu jangan kaget ya. Biasa aja.”
1471Please respect copyright.PENANAbEQ2lW3Hua
Tara menelan ludah. “Aku… nggak apa-apa kok.”
1471Please respect copyright.PENANAQw7gViNHny
Sejak saat itu, godaan mulai datang pelan-pelan. Rere suka berpakaian minim di kamar. Kadang hanya memakai kaos oversized tanpa bra, sehingga saat ia membungkuk mengambil barang, Tara bisa melihat bayangan gelap di balik kain tipis. Atau saat Rere duduk bersila di ranjang sambil belajar, celana pendeknya naik hingga memperlihatkan paha atletis yang mulus.
1471Please respect copyright.PENANAAicTYNQOod
Suatu sore, setelah kuliah, mereka berdua di kamar. Tara sedang belajar di meja kecil. Rere berbaring di ranjang, memainkan ponsel. Tiba-tiba Rere menghela napas panjang.
1471Please respect copyright.PENANA8942FORSDt
“Capek banget hari ini. Tara, kamu pernah pacaran nggak?”
1471Please respect copyright.PENANALuWb32drUJ
Tara menggeleng. “Pernah sih, waktu SMA. Tapi biasa aja.”
1471Please respect copyright.PENANA7f2Nu7EpZb
Rere tersenyum. “Aku udah sering. Cowok… cewek… semuanya pernah.”
1471Please respect copyright.PENANAGEj6JPHbU8
Tara hampir menjatuhkan pulpen. “Cewek juga?”
1471Please respect copyright.PENANAgmvwMdpMqH
“Iya. Lebih enak malah.” Rere bangkit duduk, matanya mengunci Tara. “Cewek tahu persis di mana titiknya. Lebih sabar, lebih basah, lebih… liar kalau udah ketagihan.”
1471Please respect copyright.PENANAkOa8jfqSu7
Udara di kamar terasa lebih panas. Tara merasa pipinya membara. Ia mencoba fokus ke buku, tapi bayangan Rere yang sedang bermain sendiri semalam kembali muncul. Bau manis itu, suara desahan rendah, getaran kecil di ranjang.
1471Please respect copyright.PENANAYcqrvk6Fs3
Malam berikutnya, Rere lagi-lagi melakukannya. Kali ini lebih terang-terangan. Selimutnya diturunkan sampai perut, tangannya bergerak di balik celana pendek. Desahannya tidak lagi ditahan.
1471Please respect copyright.PENANAFbj1M4Fjok
“Nghh… ahh… enak…”
1471Please respect copyright.PENANAB9SEqeuamA
Tara berbaring miring menghadap dinding, tapi telinganya tidak bisa ditutup. Tubuhnya bereaksi aneh. Ada kelembapan hangat yang mulai muncul di antara pahanya. Memeknya yang pink dan sensitif terasa berdenyut pelan. Ia menggigit bibir, berusaha mengendalikan napas.
1471Please respect copyright.PENANA1ZwNLtTu1Q
Pagi harinya, Rere mendekat saat Tara sedang merapikan tempat tidur. Tubuh tinggi Rere berdiri tepat di belakang Tara yang membungkuk. Napas hangat Rere menyapu tengkuk Tara.
1471Please respect copyright.PENANAjuHsVEyLwP
“Kamu basah semalam ya?” bisik Rere tepat di telinga Tara.
1471Please respect copyright.PENANAAMVQbTiaBB
Tara tersentak. “Ka-kak Rere…!”
1471Please respect copyright.PENANAE0QZ8DxWSa
Rere tertawa pelan. Tangan kanannya menyentuh pinggang Tara sekilas, hangat dan tegas. “Nggak usah malu. Tubuh cewek itu indah. Apalagi yang polos kayak kamu. Pasti memeknya pink, sensitif, dan gampang banjir.”
1471Please respect copyright.PENANAS5pPVWMrh3
Kata-kata vulgar itu membuat Tara gemetar. Ia mundur selangkah, tapi punggungnya menyentuh dinding. Rere tidak mendekat lebih jauh, hanya tersenyum dominan.
1471Please respect copyright.PENANACVOeSdOK1p
“Santai aja, Tar. Kita kan teman sekamar. Aku cuma suka godain yang imut-imut.”
1471Please respect copyright.PENANAlyQGCbC4AC
Hari-hari berikutnya, godaan semakin intens. Rere mulai bercerita pengalaman seksnya dengan nada santai saat mereka makan malam di kamar. Tentang bagaimana ia pernah membuat pasangan ceweknya menangis kenikmatan, bagaimana lidahnya bisa membuat memek berdenyut liar, bagaimana ia suka main kasar dan pakai mainan-mainan.
1471Please respect copyright.PENANATQUcqVWpio
Tara mendengarkan sambil merasa tubuhnya panas dingin. Setiap malam ia mendengar Rere bermain sendiri, dan setiap kali ia semakin sulit menahan diri untuk tidak menyentuh dirinya sendiri. Rasa penasaran mulai menggerogoti. Bagaimana rasanya disentuh tangan orang lain? Bagaimana rasanya dicium oleh Rere yang dominan itu?
1471Please respect copyright.PENANALtsdFlUkFc
Suatu malam hujan deras, listrik kosan sempat mati sebentar. Kamar gelap gulita, hanya diterangi lampu emergency kecil. Rere naik ke ranjang Tara dengan alasan “takut sendirian”.
1471Please respect copyright.PENANAOxYuTyVzEJ
“Kamu dingin ya?” tanya Rere sambil menarik selimut mereka berdua.
1471Please respect copyright.PENANAX8xeGf1DPh
Tubuh Rere yang hangat menempel pelan di samping Tara. Aroma tubuhnya kuat sekali. Tangan Rere menyentuh lengan Tara, mengusap pelan ke atas turun.
1471Please respect copyright.PENANATmLmQe6NP9
“Rere… aku…” Tara suaranya bergetar.
1471Please respect copyright.PENANAHynTY1YL7U
“Shh… tidur aja. Atau… kamu mau denger cerita lagi?” Rere berbisik. Bibirnya hampir menyentuh telinga Tara. “Cerita tentang aku yang suka jilat sampai pasangan aku squirt berkali-kali…”
1471Please respect copyright.PENANAavMaCRRnuE
Tara merasa kristoris berdenyut kuat. Cairan hangat mulai membasahi celana dalamnya. Ia tidak berani bergerak, tapi juga tidak menolak saat tangan Rere bergerak ke perutnya, mengusap pelan di atas baju.
1471Please respect copyright.PENANAwqcqGDq0iJ
Malam itu, untuk pertama kalinya, Rere mencium pipi Tara lama. Bibirnya hangat, basah, dan penuh godaan. Tara merasa dunianya berputar. Polosnya mulai retak. Rasa penasaran berubah menjadi api kecil yang mulai menyala di dada.
1471Please respect copyright.PENANABeYbFAE3AL
Rere tersenyum dalam gelap. “Kamu manis banget, Tara. Aku sabar kok… pelan-pelan aja kita nikmati.”
1471Please respect copyright.PENANAfUVRpYi9YS
Angin malam dari jendela yang sedikit terbuka membawa bau tanah basah bercampur aroma dua tubuh perempuan yang mulai terangsang. Di kamar sempit itu, benih-benih nafsu terlarang sudah ditanam. Dan Tara, gadis polos berusia 20 tahun, mulai merasakan getaran pertama yang akan mengubah hidupnya selamanya.
1471Please respect copyright.PENANA7pT8NvUw18


