Bab 2: Kedatangan di The Black Rose
824Please respect copyright.PENANAwUVFA7SrpL
Elena terbangun dengan tubuh pegal dan pikiran berkabut. Cahaya redup dari lampu kristal di langit-langit kamar menyapu kulitnya yang telanjang. Gaun merah tipis yang ia kenakan semalam sudah hilang, digantikan hanya oleh selimut sutra hitam yang dingin menyentuh payudaranya. putingnya masih terasa nyeri ringan karena remasan Damien semalam. Ia mencoba bangun, tapi sebuah rantai halus di pergelangan kakinya mengunci gerakannya ke tiang tempat tidur.
824Please respect copyright.PENANAVJOZyzUdDr
Pintu kamar terbuka pelan. Damien masuk dengan setelan hitam rapi, aroma cologne mahal langsung memenuhi ruangan. Pria itu membawa segelas air dan sepiring buah segar. Matanya yang dingin menyapu tubuh Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menilai barang investasinya.
824Please respect copyright.PENANACAiR1pBlgo
“Bangun, Eve. Hari pertamamu dimulai,” katanya dengan suara rendah yang tenang namun penuh otoritas. “Minum dulu. Kau butuh tenaga.”
824Please respect copyright.PENANAqfWfhv3xRU
Elena menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Air dingin mengalir di tenggorokannya yang kering, tapi tak mampu meredakan panas aneh yang mulai muncul di perut bawahnya. Damien duduk di pinggir tempat tidur, tangan besarnya menyentuh paha dalam Elena, merambat pelan ke atas hingga hampir menyentuh bibir memeknya yang masih polos.
824Please respect copyright.PENANAgw9Yds1f3l
“Kulitmu sangat responsif,” gumam Damien sambil mengusap pelan. “Semalam saja kau sudah mengeluarkan sedikit cairan orgasme. Bayangkan apa yang akan terjadi setelah training sesungguhnya.”
824Please respect copyright.PENANA0FutGQzN2D
Elena menggigit bibir, menahan desahan kecil yang nyaris lolos. Malu dan takut bercampur dengan sensasi hangat yang aneh. Ia benci dirinya sendiri karena tubuhnya bereaksi seperti ini.
824Please respect copyright.PENANAMLFhvo45y7
Damien tersenyum tipis melihat reaksi itu. Ia berdiri dan melepas rantai di kaki Elena. “Ikut aku. Kau akan bertemu mentor sekaligus rivalmu.”
824Please respect copyright.PENANAzoMmiyY6gZ
Mereka berjalan keluar kamar menuju koridor panjang klub The Black Rose. Musik sensual pelan mengalun dari speaker tersembunyi. Bau campuran lilin aromaterapi, cairan orgasme pijat, dan aroma tubuh yang intim memenuhi udara. Elena berjalan di belakang Damien, hanya mengenakan jubah tipis sutra yang hampir tembus pandang. Setiap langkah membuat payudaranya bergoyang pelan, putingnya bergesekan dengan kain dan mengeras lagi.
824Please respect copyright.PENANAah0nJczFAe
Di ruang lounge utama, seorang wanita cantik berambut merah panjang sudah menunggu. Lia. Tubuhnya sempurna, lebih berisi daripada Elena, dengan tatapan mata yang tajam dan penuh pengalaman. Ia mengenakan korset hitam ketat yang menonjolkan payudaranya dan rok pendek yang memperlihatkan paha mulus.
824Please respect copyright.PENANAQi2e1insrM
“Ini dia barang baru yang mahal,” kata Lia sambil tersenyum manis, tapi nada suaranya mengandung iri yang tajam. “Namanya Eve, Tuan?”
824Please respect copyright.PENANARJ2scsuNHG
“Benar,” jawab Damien. “Lia akan menjelaskan aturan dasar. Aku ada meeting, tapi sore nanti aku akan cek progresnya.”
824Please respect copyright.PENANA2MT8Y2ogK8
Damien menatap Elena sekali lagi dengan tatapan posesif sebelum pergi. Begitu pintu tertutup, senyum Lia langsung berubah menjadi seringai sinis.
824Please respect copyright.PENANAPvXx37dRzP
“Duduk,” perintah Lia sambil menunjuk kursi tinggi di depan cermin besar. Elena patuh. Lia berjalan mengelilinginya seperti predator mengamati mangsa.
824Please respect copyright.PENANAhQ3GSa6mY4
“Kau cantik. Terlalu cantik. Payudara D-cup alami, pinggul lebar, memek pink tight. Damien pasti sangat tertarik. Tapi ingat, di sini kau bukan ratu. Kau barang. Properti. Lubang yang harus dilatih untuk menghasilkan uang.”
824Please respect copyright.PENANAZxonvTd4Qu
Lia membuka lemari di samping dan mengeluarkan sebuah alat metal mengkilap berbentuk sabuk pinggang dengan pelindung intim. Chastity belt.
824Please respect copyright.PENANAc12PFxAZ6V
“Pertama, kita pasang ini. Supaya memek kecilmu tidak disentuh sembarangan sebelum training resmi.”
824Please respect copyright.PENANAW7bBj3Tr2Y
Elena mundur sedikit, tapi Lia menarik lengannya kasar. “Jangan melawan, bodoh. Semakin kau melawan, semakin berat hukumannya.”
824Please respect copyright.PENANAhWsLFD1koO
Lia memaksa Elena berdiri, membuka jubah sutranya hingga jatuh ke lantai. Tubuh telanjang Elena tercermin sempurna di cermin besar. Kulit putih mulus, payudara sempurna dengan puting merah muda, memek pink yang masih rapat, dan anal kecil yang belum pernah disentuh. Lia memasang chastity belt dengan gerakan ahli. Metal dingin menyentuh kulit hangat pinggul Elena, membuatnya menggigil. Bagian pelindungnya menekan rapat ke bibir memek dan anal, hanya menyisakan lubang kecil untuk buang air.
824Please respect copyright.PENANAGbHRMFiIWz
“Kau akan memakai ini setiap saat kecuali saat training atau melayani klien,” kata Lia sambil mengunci sabuk itu dengan bunyi klik yang dingin. “Rasakan. Setiap gerakanmu akan mengingatkan bahwa memekmu bukan milikmu lagi.”
824Please respect copyright.PENANAibFnaqxcEZ
Elena merasakan tekanan metal dingin yang konstan di area sensitifnya. Setiap kali ia menggeser kaki, pinggiran metal menggesek kristoris sedikit, menciptakan sensasi mengganggu yang membuat cairan orgasme mulai perlahan keluar. Bau tubuhnya sendiri yang mulai terangsang samar-samar tercium.
824Please respect copyright.PENANARKs4P4Tup2
Lia tertawa pelan melihat wajah Elena yang memerah. “Sudah basah? Baru dipasang saja. Kau memang bakat alami.”
824Please respect copyright.PENANAnI5VHl1Kew
Selanjutnya, Lia membawa Elena ke ruang persiapan. Di sana ia menjelaskan aturan klub dengan detail sambil sesekali meraba tubuh Elena untuk “menguji respons”.
824Please respect copyright.PENANASXy2RswIdG
“Aturan pertama: Kau tidak boleh menolak perintah dari Damien, Marco, atau klien VIP. Aturan kedua: Setiap orgasme harus diminta izin. Kalau kau orgasme tanpa izin, kau akan dihukum dengan cane atau electro-stim. Aturan ketiga: Kau harus belajar dirty talk. Kata-kata kotor harus keluar alami dari mulut polosmu itu.”
824Please respect copyright.PENANA4TONIIASkG
Lia mendorong Elena ke depan cermin lagi. Ia berdiri di belakang, tangannya meremas payudara Elena dari belakang. Jari-jarinya memilin puting dengan kuat hingga Elena mendesah.
824Please respect copyright.PENANALN9ry62bBe
“Katakan sekarang: ‘memekku milik Tuan Damien. Aku pelacur murahan yang siap diisi kontol.’”
824Please respect copyright.PENANA9bgTbFmKB2
Elena ragu. Lia menjepit putingnya lebih keras, memutarnya. Rasa nyeri bercampur kenikmatan membuat lutut Elena lemas.
824Please respect copyright.PENANAjtdYfT5nFX
“Ulangi!” bentak Lia.
824Please respect copyright.PENANAZr17WTDdFp
“D-memekku… milik Tuan Damien,” bisik Elena dengan suara gemetar. “Aku… pelacur murahan yang siap diisi kontol.”
824Please respect copyright.PENANAi4mfHYzazP
Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri. Malu membakar pipinya, tapi ada getaran aneh di perut bawahnya yang terkunci chastity belt.
824Please respect copyright.PENANACoFOcNYDWT
Lia tersenyum puas. “Bagus. Latihan ini akan sering kita ulang. Sekarang, mari kita lihat seberapa tight memekmu.”
824Please respect copyright.PENANA6ppUe2Mlat
Lia membuka chastity belt sementara, hanya bagian depan. Ia memaksa Elena duduk di kursi dengan kaki terbuka lebar. Jari Lia menyentuh bibir memek Elena yang sudah agak basah. Ia mengusap pelan ke atas, menemukan kristorisyang mulai membengkak.
824Please respect copyright.PENANAiQCXMBmAuj
“Wah, kecil tapi sensitif,” gumam Lia. Jarinya berputar pelan di sekitar kristoris memberi tekanan ringan tapi terus-menerus. Elena menggigit bibir kuat-kuat. Sensasi listrik kecil menjalar dari kristoriske seluruh tubuhnya. cairan orgasme bening mulai mengalir lebih banyak, membuat suara basah kecil setiap kali jari Lia bergerak.
824Please respect copyright.PENANAw7T3hbtgWw
“Kau suka ini, ya? Tubuhmu gemetar. Bayangkan nanti saat kontol Marco yang besar memasuki lubang ini. Atau fucking machine yang akan memompa tanpa henti selama berjam-jam.”
824Please respect copyright.PENANAJSHLoJzvdR
Elena menangis pelan, air mata mengalir di pipi. Tapi pinggulnya tanpa sadar sedikit bergerak mengikuti gerakan jari Lia. Build-up foreplay ini lambat, menyiksa, dan membuat pikirannya kabur.
824Please respect copyright.PENANATMetapeka6
Lia memasukkan satu jari ke dalam memek Elena yang sangat tight. Dinding dalamnya langsung menggenggam jari itu dengan kuat. “Masih sangat sempit. Bagus. Klien-klien akan membayar mahal untuk merobeknya pertama kali.”
824Please respect copyright.PENANAB4npGwOzHL
Ia memompa jari pelan, keluar masuk, sambil ibu jarinya terus menggosok kristoris Suara basah “slurp… slurp” kecil terdengar jelas di ruangan sunyi. Bau intim Elena semakin kuat, manis dan menggoda. Kaki Elena mulai gemetar hebat. Ia merasa ada sesuatu yang akan meledak di perut bawahnya.
824Please respect copyright.PENANAwiHBv3EMqv
“T-Tolong… berhenti…” pinta Elena dengan suara parau.
824Please respect copyright.PENANAnWKJ3IX3p0
Lia tertawa dan menarik jarinya keluar tepat sebelum Elena mencapai puncak. “Belum boleh orgasme. Ingat aturan.”
824Please respect copyright.PENANA27Md8Rm7Cw
Lia memasang kembali chastity belt, kali ini lebih rapat. Tekanan metal di kristorisyang sudah sensitif membuat Elena menggeliat gelisah. Sensasi penuh dan tertekan tanpa bisa dilepaskan.
824Please respect copyright.PENANAAiFtMjY1IJ
“Marco akan datang sore ini untuk training pertama. Ia kasar, tapi efektif. Kalau kau bisa bertahan dengan kontolnya yang tebal dan anal plug besar, kau mungkin bertahan seminggu.”
824Please respect copyright.PENANAvCFpOq7sI5
Lia kemudian membawa Elena berkeliling klub sebentar. Mereka melewati ruang training di mana seorang budak lain sedang digantung suspension sambil dimasuki dildo besar yang bergetar. Suara desahan dan tangisan bercampur memenuhi lorong. Elena merasa mual sekaligus anehnya… tertarik.
824Please respect copyright.PENANAnH5K0m37Wc
Kembali ke kamar, Lia meninggalkan Elena sendirian dengan perintah untuk berlatih dirty talk di depan cermin selama satu jam.
824Please respect copyright.PENANAMku5Lziyua
Elena berdiri telanjang di depan cermin, chastity belt masih terkunci. Ia melihat tubuhnya sendiri yang sudah mulai berubah—pipi memerah, mata berkaca-kaca, puting mengeras menonjol.
824Please respect copyright.PENANAcVJCWvO3vV
“Aku… Eve,” bisiknya pelan. “memekku milik Tuan Damien… Aku siap dilatih menjadi pelacur elit.”
824Please respect copyright.PENANAV43d29AGLq
Suara itu semakin kuat seiring waktu. Setiap kali ia mengucapkan kata-kata kotor, cairan orgasmenya mengalir lebih banyak, membasahi pelindung metal. Tubuhnya panas, pikirannya berkabut antara trauma, ketakutan, dan hasrat gelap yang mulai tumbuh.
824Please respect copyright.PENANAdKwUJyLoDY
Sore menjelang, pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar dan kasar masuk. Marco. Otot-ototnya menonjol, tatapannya buas. Ia membawa tas berisi alat-alat: anal plug sedang, dildo besar, dan botol cairan orgasme pelumas.
824Please respect copyright.PENANAzFBrjCHe75
“Jadi ini barang baru yang dibeli Tuan Damien dengan harga gila,” katanya sambil tersenyum lebar. “Buka kaki lebar, Eve. Training pertamamu dimulai sekarang.”
824Please respect copyright.PENANArZVdIGQp33
Elena mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Jantungnya berdegup kencang. Chastity belt terasa semakin panas di kulitnya. Malam pertamanya di The Black Rose baru saja benar-benar dimulai, dan ia tahu—tak ada jalan kembali.
824Please respect copyright.PENANAF7UYLIhtma
---
824Please respect copyright.PENANAKH63jd5VQN


