Bab 1: Malam Lelang
971Please respect copyright.PENANAJA4HN70CiA
Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta, seolah langit sendiri menangisi nasib Elena. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu duduk di kursi belakang mobil hitam yang baunya pengap campur rokok dan keringat pria-pria kasar. Kedua tangannya diikat di belakang punggung dengan tali plastik yang menggigit kulit putih mulusnya. Rambut hitam panjangnya yang biasanya tergerai indah kini acak-acakan menempel di wajah cantiknya yang pucat.
971Please respect copyright.PENANAZufh6lSEVg
"Ayah... kenapa?" bisiknya untuk kesekian kalinya, suara parau karena menangis sejak sore tadi. Ayahnya, seorang pecandu judi yang sudah lama kehilangan akal sehat, telah menjualnya malam ini. Hutang tiga miliar rupiah kepada lintah darat kelas kakap tak bisa dibayar dengan cara lain. Elena, putri tunggalnya yang cantik luar biasa, menjadi jaminan terakhir.
971Please respect copyright.PENANASwIdePN2XE
Mobil berhenti di depan sebuah gudang tua di pinggiran kota, jauh dari keramaian. Dua pria berbadan besar menyeretnya keluar. Kaki Elena yang jenjang gemetar menyentuh genangan air dingin. Ia hanya mengenakan gaun tipis berwarna merah gelap yang sangat pendek, tanpa bra maupun celana dalam. Payudaranya yang sempurna berukuran D-cup bergoyang pelan setiap kali ia melangkah, puncak putingnya mengeras karena udara malam yang dingin dan ketakutan.
971Please respect copyright.PENANAvg8H9k6F3L
Di dalam gudang, suasana berbeda total. Lampu sorot merah temaram menyinari panggung kayu kecil. Bau campuran parfum mahal, keringat, dan hasrat pria-pria kaya memenuhi udara. Kursi-kursi tertata melingkar, ditempati sekitar tiga puluh orang—semuanya pria berpakaian mewah, mata mereka lapar seperti serigala. Beberapa wanita berpakaian seksi juga hadir, tapi mereka lebih mirip pengawas atau properti.
971Please respect copyright.PENANAerbv2yekkj
Elena didorong naik ke panggung. Cahaya sorot menyapu tubuhnya dari atas ke bawah. Ia merasakan tatapan-tatapan itu seperti tangan kasar yang meraba setiap inci kulitnya. Seorang MC bertubuh kurus dengan suara serak naik ke panggung.
971Please respect copyright.PENANA9jxbB5qwBm
"Malam ini, barang spesial nomor tujuh belas! Elena, dua puluh satu tahun, perawan murni, kulit putih mulus, tubuh sempurna. Payudara D-cup alami, pinggul lebar, memek pink yang masih tight. Belum pernah disentuh pria manapun. Mulai penawaran dari lima ratus juta!"
971Please respect copyright.PENANAxH5wnIgzqk
Elena menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa darah. Air matanya mengalir pelan di pipi. Ia merasa seperti hewan di pasar. Tangan-tangan kasar petugas lelang memutar tubuhnya, memaksa ia membungkuk sedikit sehingga gaun pendeknya naik dan memperlihatkan belahan anal yang rapat serta paha mulusnya. Suara bisik-bisik kagum dan tawa rendah terdengar dari kursi penonton.
971Please respect copyright.PENANAQt9lD5R26A
Salah satu penawar berteriak, "Enam ratus juta!"
971Please respect copyright.PENANA5EwvkdJ6Wx
"Tujuh ratus!" sahut yang lain.
971Please respect copyright.PENANAZYlRtO0jTg
Harga terus naik. Elena merasa dunianya berputar. Ia memejamkan mata, berusaha melarikan pikiran ke masa kecil saat ibunya masih hidup. Tapi suara palu MC dan teriakan harga menariknya kembali ke realita pahit.
971Please respect copyright.PENANAv07fBMLVxk
Di baris paling depan, seorang pria duduk diam. Tinggi, berpostur tegap dengan tubuh kekar tersembunyi di balik jas hitam mahal. Wajahnya dingin, rahang tegas, mata biru kehijauan yang tajam seperti pisau. Damien Voss, tiga puluh enam tahun, pemilik klub elit "The Black Rose". Ia tak banyak bicara, hanya mengamati Elena dengan tatapan yang dalam—bukan sekadar nafsu, tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif.
971Please respect copyright.PENANARscL639sTT
Harga sudah mencapai satu koma delapan miliar. Beberapa penawar mulai mundur. Damien akhirnya mengangkat tangan dengan gerakan santai.
971Please respect copyright.PENANAynV80GRyBf
"Dua setengah miliar," ujarnya dengan suara rendah yang berat, menggema di seluruh ruangan.
971Please respect copyright.PENANA7RYvrG7OJ6
Hening sejenak. Tak ada yang berani menawar lebih tinggi. MC tersenyum lebar.
971Please respect copyright.PENANAoKD9slEjB4
"Dua setengah miliar! Sekali... dua kali... terjual kepada Tuan Damien Voss!"
971Please respect copyright.PENANAeJHroXqFn5
Palu jatuh. Suara *BAM!* itu seperti mengakhiri kehidupan Elena yang lama.
971Please respect copyright.PENANABMtkwujmDa
Dua petugas menyeretnya turun dari panggung. Kakinya nyaris tak kuat menopang tubuh. Mereka membawanya ke ruang belakang gudang yang lebih gelap, hanya diterangi lampu merah samar. Di sana, Damien sudah menunggu. Tubuhnya yang 188 cm terasa mendominasi seluruh ruangan. Aroma cologne mahal bercampur feromon pria dewasa yang kuat menyergap indra Elena.
971Please respect copyright.PENANAxLAWUhxbqV
Petugas mendorong Elena hingga berlutut di depan Damien. Gadis itu mendongak, mata cokelatnya yang indah bertemu dengan tatapan dingin pria itu.
971Please respect copyright.PENANALtjlPp5JHM
"Angkat kepalamu, Eve," perintah Damien. Suaranya rendah, tenang, tapi penuh kekuasaan. Ia memanggilnya Eve, seperti nama baru yang sudah dipersiapkan.
971Please respect copyright.PENANAEzGEbrMIrO
Elena ragu. Sebuah tamparan ringan di pipinya membuatnya tersentak. Bukan sakit, tapi cukup untuk membuat putingnya mengeras lagi.
971Please respect copyright.PENANArKZDmVS7ZX
"Aku bilang angkat kepala."
971Please respect copyright.PENANA4McqfUQvzT
Ia patuh. Damien meraih dagunya dengan jari-jari kuat, memutar wajahnya ke kiri dan kanan, memeriksa seperti barang mahal. Tangan satunya turun, meraba payudara Elena dari luar gaun tipis. Telapak tangan hangat dan kasar itu meremas pelan, ibu jarinya mengusap puncak puting yang sudah mengeras.
971Please respect copyright.PENANA8vbwboGQkw
"Hmm... responsif," gumam Damien. "Tubuhmu sudah basah, ya?"
971Please respect copyright.PENANAuEoqHvqIHu
Elena menggeleng cepat, pipinya memerah malu. Tapi Damien tersenyum tipis. Tangan pria itu meluncur ke bawah, mengangkat gaunnya hingga pinggang. Jari telunjuknya menyentuh bibir memek Elena yang pink dan masih kering karena ketakutan. Ia mengusap pelan ke atas, menemukan kristoriskecil yang ternyata sudah agak membengkak.
971Please respect copyright.PENANA7ZCDsJ72jD
"Lihat? memek kecilmu ini sudah mengeluarkan sedikit cairan orgasme. Kau takut... tapi tubuhmu jujur," bisik Damien di telinga Elena. Napas hangatnya membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
971Please respect copyright.PENANAdEzFG4EbuY
Elena gemetar. Campuran rasa takut, malu, dan sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya berputar di perutnya. Damien menarik tangannya, memperlihatkan ujung jari yang sedikit basah di bawah cahaya merah.
971Please respect copyright.PENANA3sB9cRNaOd
"Ikuti aku. Mulai malam ini, kau milikku. Bukan lagi Elena. Kau Eve—budak seks elitku."
971Please respect copyright.PENANAtKThzGGr7r
Ia menarik Elena berdiri, lalu membawa gadis itu keluar dari gudang menuju mobil limusin hitam panjang yang sudah menunggu. Di dalam mobil, kursi kulit mewah terasa dingin di kulit paha Elena yang telanjang. Damien duduk di sebelahnya, satu tangan memegang paha dalam Elena, jari-jarinya sesekali menyentuh bibir memeknya dengan gerakan pelan yang menyiksa.
971Please respect copyright.PENANA86NlGzSh60
Sepanjang perjalanan menuju The Black Rose, Damien tak banyak bicara. Ia hanya mengamati Elena seperti sedang merencanakan sesuatu yang besar. Sesekali ia meremas payudara gadis itu, memilin puting hingga Elena menggigit bibir menahan desahan kecil yang nyaris keluar.
971Please respect copyright.PENANAkHnIskzX2F
"Kau akan belajar banyak hal," kata Damien pelan saat mobil memasuki area klub yang tersembunyi. "Cara menggoda dengan mata, cara mengisap kontol dengan lidahmu, cara menahan kontol di analmu selama berjam-jam, cara memohon orgasme... Semuanya."
971Please respect copyright.PENANAUlOrDRb4rK
Elena merasa perutnya mulas. Ia ingin melawan, ingin berteriak, tapi trauma masa lalu—ayah yang selalu memukulnya saat marah—membuatnya diam. Tubuhnya yang sangat responsif justru mengkhianatinya; setiap sentuhan Damien membuat getaran kecil menjalar ke memeknya.
971Please respect copyright.PENANAS4CpVbGxUz
Limusin berhenti di depan gedung mewah bergaya gothic modern. Pintu bawah tanah terbuka. Bau incense dan musik pelan yang sensual menyambut mereka. Seorang wanita cantik berambut merah—Lia—sudah menunggu di lorong.
971Please respect copyright.PENANAqrWU2GGe1w
"Barang baru, Tuan?" tanya Lia dengan senyum manis tapi mata penuh iri.
971Please respect copyright.PENANAh42Ocr2ZrR
"Ya. Namanya Eve. Siapkan kamar training dasar. Besok pagi Marco akan mulai."
971Please respect copyright.PENANAssAzDTbDAU
Lia mengangguk, lalu menatap Elena dari atas ke bawah. "Tubuhnya memang mematikan. Tapi wajah polos ini... akan hancur dalam seminggu."
971Please respect copyright.PENANATliKKcVyVs
Damien tersenyum dingin. Ia menarik Elena mendekat, tangannya merangkul pinggul lebar gadis itu dengan posesif.
971Please respect copyright.PENANAw0BrbY1zoJ
"Jangan terlalu cepat meremehkan dia, Lia. Aku merasakan potensi yang luar biasa di tubuh ini."
971Please respect copyright.PENANAIF9GCe53JB
Mereka berjalan melewati koridor panjang. Elena melihat sekilas ruangan-ruangan dengan dinding kaca—ada yang menunjukkan sesi latihan, ada yang penuh alat-alat aneh seperti rantai suspension, meja bondage, dan mesin-mesin besar. Jantungnya berdegup kencang.
971Please respect copyright.PENANABxKPFgqpX1
Di depan pintu kamar kecil yang mewah, Damien berhenti. Ia mendorong Elena masuk, lalu menutup pintu di belakang mereka berdua. Ruangan itu beraroma vanila dan musk. Tempat tidur besar dengan seprai sutra hitam, cermin di setiap dinding, dan lemari kaca berisi berbagai alat mengkilap.
971Please respect copyright.PENANAz7MIEJiGAb
Damien mendekat dari belakang. Tubuh kekarnya menempel ke punggung Elena. Elena bisa merasakan tonjolan besar dan keras di balik celana pria itu menekan pinggulnya—kontol sebesar 20 cm yang sudah tegang.
971Please respect copyright.PENANAiN0dYagKJh
"Malam ini kau tidur di sini. Besok training dimulai," bisik Damien sambil menggigit pelan cuping telinga Elena. "Tapi sebelum itu..."
971Please respect copyright.PENANAgCC1kRlzy0
Tangan Damien merayap ke depan, meremas kedua payudara Elena dengan kuat. Jari-jarinya memilin puting hingga gadis itu mendesah pelan tanpa sadar. Sensasi panas dan nyeri bercampur kenikmatan aneh menjalar ke perut bawahnya.
971Please respect copyright.PENANA0txcMfazWK
"Kau milikku sekarang, Eve. Setiap memek, setiap anal, setiap lubang di tubuhmu... milik Damien Voss."
971Please respect copyright.PENANAwY74q3q5ni
Elena menutup mata, air mata mengalir lagi. Tapi di balik ketakutan itu, ada getaran kecil yang aneh—sebuah kegelapan yang mulai memanggilnya.
971Please respect copyright.PENANAEg1zwACNJH
Malam lelang telah berakhir. Hidup barunya, penuh kenikmatan terlarang dan kehancuran, baru saja dimulai.
971Please respect copyright.PENANAWKBsBHtC1M


