Sebulan sudah berlalu sejak Ratna membiarkan jendela hatinya—dan jendela kamarnya—terbuka untuk Fadhli. Tiga puluh hari di mana hidupnya terbagi menjadi dua dimensi yang sangat kontras: siang hari ia menjadi isteri ustadz yang sempurna, malam harinya ia menjadi pelacur paling rakus dari seorang pemuda di seberang rumahnya.
Pagi itu, Ratna berdiri di depan cerma kamar mandi, memeriksa tubuhnya dengan teliti. Di bawah baju kurung warna pastel yang longgar, ia menyimpan peta kepemilikan Fadhli. Ada memar keunguan di pinggangnya, bekas cengkeraman tangan pemuda itu saat menghentaknya dari belakang tiga hari lalu. Di payudaranya, terdapat gigitan yang sudah mulai memudar namun masih terasa sakit jika ditekan. Dan lebih ke bawah, di antara paha-pahanya yang mulus, memeknya masih terasa sedikit bengkak karena sesi panjang mereka kemarin siang, di mana Fadhli menggagahinya di lantai ruang tamu karena mereka tidak sempat naik ke kamar.
Ratna menghela napas panjang. Ia mengambil bedak tabur, menutupi memar di pinggangnya dengan sapuan halus. Ia tidak takut Hadi melihatnya—suaminya tidak pernah menyentuhnya tanpa alasan, dan pasti tidak akan melihatnya saat ia telanjang. Yang ia khawatirkan adalah noda-noda ini terlihat saat ia berwudhu di tempat umum, atau saat ia kebetulan berganti pakaian di ruang ganti masjid.
Ia mengenakan bra yang menutupi payudaranya, lalu memakai baju kurung yang longgar. Rok panjang diturunkan hingga mata kaki, dan akhirnya, jilbab dililitkan di kepalanya, menutupi rambut, leher, dan dada. Saat ia menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya, Ratna kagum dengan transformasi yang terjadi.
Di luar, ia terlihat seperti Ratna yang lama—suci, tertutup, tak tersentuh. Tidak ada seorang pun yang bisa menebak bahwa di balik lapisan kain yang sopan itu, tersembunyi tubuh yang sedang kecanduan kontol pria lain. Tidak ada yang tahu bahwa memek yang kini tertutup rok panjang itu baru saja dibanjiri peju pemuda itu kemarin siang, dan Ratna sengaja tidak membersihkannya hingga malam, sesuai perintah Fadhli.
Ratna mengambil tas belanjanya dan melangkah keluar kamar. Hadi sudah pergi sejak subuh, ada jadwal ceramah di luar kota selama dua hari. Ini berarti Ratna memiliki waktu luang yang lebih banyak, dan ia tahu persis bagaimana menghabiskannya.
Ia berjalan menuju pasar tradisional, melewati gang-gang sempit yang sudah sangat ia hafal. Matanya waspada, menyapu setiap sudut, memastikan tidak ada tetangga yang terlalu penasaran dengan aktivitasnya. Sepanjang jalan, ia menyapu beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman, membalas sapaan mereka dengan senyum yang sopan dan sedikit tertahan.
Tiba-tiba, seseorang muncul dari tikungan gang. Nisa.
Ratna tersentak, jantungnya melonjak. Janda muda itu tampak sedang membawa belanjaan, memakai gamis biru muda dan jilbab yang rapi. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Ratna.
"Assalamu'alaikum, Bu Ratna!" sapa Nisa, senyumnya lebar namun matanya menyelidik.
"Wa'alaikumussalam, Nisa. Belanja?" jawab Ratna, berusaha terdengar senatural mungkin.
"Iya, Bu. Lagi cari ikan segar buat makan siang." Nisa mendekat, memperlambat langkahnya agar bisa berjalan bersama Ratna. "Bu Ratna juga belanja ya? Rumah sepi pasti, Pak Ustadz lagi di luar kota?"
Ratna mengangguk. "Iya, ada daurah. Jadi saya yang urus kebutuhan rumah."
Nisa mengangguk-angguk, tapi tatapannya tidak lepas dari wajah Ratna. "Bu Ratna... kalau boleh saya bilang, kulit Bu Ratna semakin kinclong saja akhir-akhir ini. Wajahnya juga... berseri-seri. Ada rahasia perawatan apa, Bu?"
Pertanyaan itu menusuk. Ratna merasa darahnya mendidih, bukan karena marah, melainkan karena takut. Apakah Nisa melihat sesuatu? Apakah perubahan pada dirinya begitu jelas? Ratna tahu ia memang terlihat berbeda—kulitnya lebih halus karena sering berkeringat saat bercinta, matanya lebih berbinar karena kepuasan seksual yang konstan, dan wajahnya berseri karena tubuhnya tidak lagi kekurangan sentuhan.
"Hanya banyak minum air putih dan shalat malam, Nisa," jawab Ratna dengan senyum yang dilatih. Kebohongan ini sudah menjadi reflek, mengalir begitu saja dari bibirnya yang masih terasa hangat karena ciuman Fadhli tadi pagi sebelum Hadi berangkat.
Nisa tertawa kecil. "Wah, saya harus banyak shalat malam juga nih kalau efeknya sekeren itu." Tawa itu terdengar ringan, tapi tatapan Nisa sejenak turun ke pinggang dan cara Ratna berjalan.
Ratna menyadari bahwa langkahnya sedikit lebih lebar dari biasanya, sebuah kebiasaan yang ia kembangkan setelah memeknya sering disodok dengan kasar. Ia cepat merapatkan kakinya, berjalan dengan langkah yang lebih kecil dan lebih sopan.
"Ya, shalat malam memang banyak manfaatnya," kata Ratna, mempercepat langkahnya. "Maaf Nisa, saya harus buru-buru. Ada keperluan di rumah."
"Siap, Bu. Assalamu'alaikum!" Nisa melambaikan tangan, berdiri di tempat, menatap punggung Ratna yang menjauh dengan mata yang penuh pertanyaan.
Ratna berjalan cepat, meninggalkan Nisa dan pertanyaan-pertanyaan yang mengancam itu. Ia tahu Nisa curiga. Janda muda itu terlalu pengamatan, terlalu perhatian, dan terlalu dekat dengannya. Ratna harus lebih berhati-hati.
Sampai di rumah, Ratna meletakkan belanjaannya di dapur dengan gerakan terburu-buru. Ia tidak sabar lagi. Ia ingin menghubungi Fadhli, ingin merasakan sentuhan pemuda itu lagi. Hadi pergi selama dua hari, yang berarti ia memiliki malam yang panjang untuk dimiliki oleh Fadhli.
Saat ia mengambil ponselnya, layarnya menyala. Ada pesan dari Fadhli, seolah pemuda itu tahu kapan ia butuh dihubungi.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kakekku minta dibelikan obat di apotek dekat pasar. Kau lagi di pasar kan? Ketemuan di gang belakang. Bawa kopi aku lupa beli.*
Ratna tersenyum. Pemuda itu selalu punya alasan untuk bertemu. Ia segera menyiapkan kopi hitam dalam thermos, lalu berjalan menuju pintu belakang.
Di gang belakang yang sepi, Fadhli sudah menunggu. Pemuda itu memakai kemeja flanel dengan lengannya digulung, menampilkan lengan yang kekar dan urat-urat yang menonjol. Ia bersandar di dinding, memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan.
Mendekati Ratna, mata mereka bertemu. Fadhli menyeringai, lalu mematikan rokoknya tanpa mengisapnya.
"Kopi?" tanya Fadhli, mengambil thermos dari tangan Ratna. "Kau tahu apa yang kubutuhkan bukan kopi."
Ratna menelan ludah, napasnya memburu. "Fadhli... Nisa tadi curiga. Dia bilang kulitku berseri-seri."
Fadhli tertawa pelan, suaranya berat dan rendah. "Tentu saja berseri-seri. Kau dikawini tiga kali seminggu oleh seorang jantan yang tahu caranya memuaskanmu. Wajahmu pasti berseri-seri, Nduk. Itu efek samping dari kepuasan seksual."
Kata-kata itu membuat wajah Ratna memerah. Ia menunduk, malu namun bangga. "Tapi ini berbahaya. Kalau ada yang tahu..."
"Tidak ada yang tahu," potong Fadhli, melangkah mendekat. Ia memajukan wajahnya, mencium bibir Ratna dengan cepat namun penuh gairah. "Selama kau bisa berbohong dengan jilbabmu, tidak ada yang tahu."
Ciuman itu singkat, tapi cukup untuk membuat memek Ratna kembali memanas. Ia mendesah pelan, tangannya meraih dada Fadhli.
"Malam ini... Mas Hadi pergi dua hari," bisik Ratna di sela-sela ciuman, suaranya serak oleh nafsu yang memuncak. "Bisa... bisa kamu datang ke rumah?"
Fadhli menarik napas tajam, matanya menyala. "Ke rumahmu? Lagi? Kita baru saja melakukannya di lantai ruang tamumu kemarin."
"Iya, tapi... tapi kemarin terlalu singkat. Mas Hadi pulang lebih cepat. Aku... aku tidak puas," pengakuan itu meluncur dari bibir Ratna tanpa filter. Ia butuh Fadhli. Ia butuh kontol pemuda itu menghancurkan memeknya lagi.
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kekuasaan. Ia menarik Ratna lebih dekat, menempelkan kontolnya yang sudah setengah keras di perut perempuan itu.
"Baiklah, Nduk. Malam ini aku akan datang. Tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Ratna, napasnya memburu.
"Kau akan menungguku di ruang tamu. Tanpa cahaya. Hanya memakai jilbab dan rok. Tanpa atasan, tanpa celana dalam. Kau akan duduk di kursi yang biasa kau gunakan untuk mengajar ngaji, membuka pangkuanmu, dan menungguku memasuki pintu belakang. Karena aku ingin menggagahi kau di kursi itu, di tempat di mana kau biasa mengajarkan kesalehan."
Ratna merasa kakinya melemas. Bayangan itu sangat cabul, sangat berbahaya, namun sangat memabukkan. Ia membayangkan dirinya duduk di kursi ngaji, memamerkan payudaranya yang telanjang dan memeknya yang basah, menunggu Fadhli menggagahinya.
"Baik," bisik Ratna, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku akan melakukannya."
Fadhli menciumnya sekali lagi, lalu berbalik pergi, meninggalkan Ratna yang berdiri di gang yang sepi dengan jantung yang berdebar kencang dan memek yang menangis kelaparan.
Malam itu tidak bisa datang lebih cepat.
*
Sore harinya, Ratna membersihkan rumah dengan teliti. Ia memastikan tidak ada tetangga yang datang berkunjung, memastikan pintu dan jendela terkunci, dan memastikan aromanya sudah diubah menjadi aroma rumah tangga yang biasa.
Ia shalat maghrib sendirian, khusyuk namun pikirannya melayang ke janji malam ini. Setelah shalat, ia tidak menyalakan lampu ruang tamu. Ia hanya menyalakan lampu tidur di kamar tidur, seolah ia sudah pergi tidur lebih awal.
Kemudian, Ratna berjalan menuju kamar mandi. Ia mandi dengan sabun yang beraroma melati, membersihkan setiap inci tubuhnya, membasuh memeknya yang sudah mulai memanas karena antisipasi. Ia mencukur bulu-bulu halus yang baru tumbuh di sekitar kemaluannya hingga botak, memastikan area itu mulus dan siap untuk disentuh.
Setelah mandi, Ratna berdiri di depan lemari pakaian. Ia mengenakan rok hitam panjang yang biasa ia pakai sehari-hari. Di atasnya, ia tidak mengenakan apa-apa—tanpa bra, tanpa atasan, hanya kulit telanjang yang menunggu untuk dipajang. Lalu, ia mengenakan jilbab hitam yang menutupi rambut, leher, dan sebagian dada.
Ia menatap dirinya di cermin. Bayangan yang terlihat sangat cabul—seorang perempuan berjilbab, memamerkan payudara yang besar dan berat dengan puting yang tegang keras, memek yang botak dan basah, dan paha yang putih dan montok. Sebuah kontras yang sangat erotis antara kesucian dan kenistaan.
Ratna berjalan menuju ruang tamu, duduk di kursi yang biasa ia gunakan untuk mengajar ngazi. Ia membuka pangkuannya, membiarkan memeknya yang becek terlihat jelas di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Ia duduk di sana, menunggu, dengan jantung yang berdebar kencang dan memek yang menangis kelaparan.
Tepat pukul sepuluh malam, terdengar ketukan lembut di pintu belakang.
Ratna bangkit, berjalan menuju pintu dengan langkah yang tertatih. Ia membuka pintu, dan Fadhli melangkah masuk.
Pemuda itu menatap Ratna yang sedang berdiri di depannya—hanya mengenakan jilbab dan rok, payudaranya telanjang, memeknya terbuka lebar. Fadhli mendesak keras, matanya terbelalak.
"Ya God, Nduk..." Fadhli mengeluarkan umpatan pelan, tangannya langsung meraih payudara Ratna, meremasnya dengan kasar. "Kau benar-benar melakukan apa yang kuminta."
Ratna mendesah, menutup matanya, menyerah pada sentuhan itu. "Aku menunggumu, Fadhli. Aku sudah menunggumu sejak sore."
Fadhli tidak membuang waktu. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu menarik Ratna ke arah kursi ngaji. Ia memaksa perempuan itu duduk di kursi itu, membuka pangkuannya lebih lebar, lalu berlutut di antara paha-pahanya.
"Ini kursi ngajimu, Nduk," bisik Fadhli, napasnya yang hangat menyentuh memek Ratna yang basah. "Tempat di mana kau mengajarkan kesalehan. Dan sekarang, aku akan mengajarimu dosa."
Lalu, tanpa peringatan, Fadhli menunduk, menjilat memek Ratna dengan gerakan yang rakus dan penuh gairah.
"Ah! Fadhli!" Ratna menjerit, pinggulnya terangkat, tangannya meraih rambut Fadhli, menekan wajah pemuda itu lebih dalam ke antara pahanya.
Mereka bercinta di kursi ngaji itu—Fadhli memasukkan kontolnya ke dalam liang Ratna yang sangat basah, menghentaknya dengan kekuatan penuh, sementara Ratna meremas payudaranya sendiri, menggigit bibirnya untuk menahan jeritan yang terancam lolos.
Plak! Plak! Plak! Squelch! Squelch! Squelch!
Suara basah dan suara kulit yang beradu bergema di ruangan yang gelap, bercampur dengan desahan dan erangan yang tak tertahankan. Ratna merasa seperti sedang dihancurkan dan dibangunkan pada saat yang sama—dihancurkan oleh dosa yang sedang ia lakukan, namun dibangunkan oleh kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya.
Dan saat Fadhli menyemburkan pejunya ke dalam rahimnya, saat Ratna mencapai puncak kenikmatan dengan jeritan yang tak tertahankan, ia tahu bahwa kursi ini tidak akan pernah sama lagi. Setiap kali ia duduk di kursi ini untuk mengajar ngaji, ia akan mengingat malam ini. Ia akan mengingat kontol Fadhli yang sedang merobeknya, mengingat pejunya yang membanjiri rahimnya, mengingat dosa yang paling manis yang pernah ia rasakan.
Karena rahasia di balik jilbabnya bukan hanya tentang tubuhnya yang telanjang. Rahasia itu adalah tentang kehidupan ganda yang ia jalani—suci di mata orang lain, namun jalang di mata pria yang menguasainya.
Dan Ratna siap untuk terus menyimpan rahasia itu, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
Sisa kenikmatan itu masih menggantung di udara ruang tamu yang gelap. Ratna terbaring lemas di atas karpet, tepat di bawah kursi ngaji yang baru saja menjadi saksi kejatuhan paling hilangnya. Payudaranya yang telanjang naik-turun mengikuti napasnya yang memburu, memerah karena gesekan dan hisapan Fadhli. Memeknya yang becek masih terbuka lebar, mengeluarkan cairan their yang bercampur, membasahi karpet di bawahnya dengan aroma yang tak bisa disalahartikan.
Fadhli duduk di kursi itu—kursi yang biasa Ratna duduki untuk mengaji—menyalakan sebatang rokok. Asap tipis mengepul ke udara, bercampur dengan aroma seks yang pekat. Pemuda itu menatap Ratna dari atas, matanya menyapu tubuh perempuan yang hanya mengenakan jilbab dan rok yang terkumpul di pinggang itu.
"Kau tahu apa yang paling membuatku terangsang darimu, Nduk?" tanya Fadhli, menghembuskan asap ke udara.
Ratna menoleh, matanya sayu. "Apa?"
"Jilbabmu," jawab Fadhli, menyeringai. Ia mengulurkan kaki, menyentuh paha Ratna dengan ujung sepatu bootnya. "Kau telanjang di bawahku, memekmu penuh dengan pejuku, tapi kau masih memakai jilbab. Kau terlihat seperti... seperti perempuan suci yang sedang diajari dosa."
Ratna menggigit bibirnya, merasa malu namun terangsang oleh kata-kata itu. Ia meraih ujung jilbabnya, mau melepaskannya, tapi Fadhli menghentikannya.
"Jangan lepas," perintah Fadhli, suaranya tiba-tiba keras. "Biarkan itu menutupi kepalamu. Aku ingin melihat kontrasnya—jilbab yang suci, tubuh yang jalang. Itu membuatku lebih keras."
Ratna menatap Fadhli dengan mata yang terbelalak. Pemuda itu memang benar-benar gila. Tapi kegilaan itu membuat Ratna semakin tertarik, semakin kecanduan, semakin tidak bisa berhenti.
Fadhli mematikan rokoknya, lalu berdiri. Ia membuka celana jeansnya yang baru ia kenakan beberapa menit lalu, membebaskan kontolnya yang sudah mulai mengeras lagi.
"Kali ini, aku ingin kau menghisapku, Nduk," kata Fadhli, berjalan mendekat, berdiri tepat di depan wajah Ratna. "Aku ingin melihat bibirmu yang biasa membaca ayat suci sedang mengulum kontolku."
Ratna menelan ludah, menatap kontol Fadhli yang menjulur di depan wajahnya. Benda itu besar, panjang, dan masih basah oleh cairan their. Aroma maskulin yang pekat memenuhi indra penciumannya, membuat kepalanya pening dan memeknya kembali berdenyut.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna meraih kontol Fadhli, memegang batangnya yang keras dan panas. Ia bisa merasakan urat-urat yang menonjol di bawah kulitnya, bisa merasakan denyutan darah yang mengalir di dalamnya.
Ia membuka mulutnya, memasukkan kepala kontol Fadhli ke dalam rongga mulutnya. Rasanya asin, amis, dan sangat maskulin—rasa yang membuatnya semakin gila.
Fadhli mendengam, tangannya meraih jilbab Ratna, mencengkeram kain itu untuk menahan dirinya dari dorongan yang terlalu kuat. "Ratna... kau sangat lihai... ah..."
Ratna mulai mengulum kontol Fadhli, mengisapnya dengan gerakan yang lambat namun penuh tekanan. Ia menggunakan lidahnya untuk memijit batang pemuda itu, menjilati urat-urat yang menonjol, lalu mengisap kepalanya dengan keras.
Squelch... squelch... squelch...
Suara basah dari mulut Ratna bergema di ruangan yang gelap, bercampur dengan desahan Fadhli yang semakin tak tertahankan. Ratna memejamkan mata, menikmati sensasi kontol Fadhli di dalam mulutnya—sensasi yang sangat berbeda dari kontol Hadi yang kecil dan cepat selesai. Kontol Fadhli besar, keras, dan tahan lama, memenuhi rongga mulutnya, membuatnya merasa seperti sedang memakan hidangan yang paling mewah.
"Ratna... aku mau keluar..." Fadhli mendesah, pinggulnya mulai bergerak, memompa kontolnya ke dalam mulut Ratna dengan ritme yang semakin cepat.
Ratna tidak menarik kepalanya. Ia ingin merasakan peju Fadhli di dalam mulutnya, ingin menelan cairan pemuda itu, ingin membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Dan saat Fadhli akhirnya meledak, menyemburkan pejunya yang panas dan kental ke dalam tenggorokan Ratna, perempuan itu menelan setiap tetesnya, mengulum kontol pemuda itu hingga tak tersisa, seolah ia sedang meminum nektar yang paling manis di dunia.
Mereka berdua jatuh ke lantai secara perlahan, tubuh mereka terpisah, meninggalkan jejak dosa yang bercampur di atas karpet dan di dalam tubuh Ratna. Fadhli memeluk Ratna dari belakang, mencium lehernya yang masih menutupi jilbab hitam itu.
"Ini baru permulaan, Nduk," bisik Fadhli di telinga Ratna, suaranya lelah namun penuh tekad. "Malam masih panjang. Dan aku tidak akan membiarkan kau tidur malam ini."
Malam itu, mereka bercinta di setiap sudut ruang tamu—di atas meja, di atas sofa, di lantai, dan bahkan di depan pintu utama, di mana Fadhli menggagahi Ratna dari belakang sementara perempuan itu berdiri memegang gagang pintu, membayangkan Hadi membuka pintu itu dan melihat isterinya sedang dikawini oleh pemuda lain.
Pikiran itu—pikiran tentang ketahuan—justru membuat Ratna semakin gila, semakin terangsang, semakin tak bisa berhenti.
Karena bahaya itu adalah bumbu yang paling memabukkan dari dosa yang sedang ia lakukan.
Keesokan harinya, Ratna bangun di atas ranjangnya—sendirian. Fadhli sudah pergi sebelum subuh, meninggalkan pesan singkat di ponselnya.
*Pulang dulu. Urusan kerja. Besok aku datang lagi. Jangan bersihkan memekmu.*
Ratna membaca pesan itu dengan mata yang masih sayu. Ia merasakan tubuhnya yang pegal di sekujur tubuh—payudaranya terasa sakit karena diremas terlalu keras, pinggulnya terasa memar karena ditahan oleh tangan Fadhli, dan memeknya terasa sangat bengkak dan nyeri karena telah disodok berkali-kali sepanjang malam.
Tapi di balik rasa sakit itu, ada kepuasan yang luar biasa. Kepuasan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Ratna bangkit, berjalan menuju kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Ia membasuh memeknya yang masih penuh dengan sisa peju Fadhli, mencuci rambutnya yang kusut, dan mengenakan baju kurung yang sopan.
Sore harinya, Ratna harus menghadapi ujian yang paling berat—mengajar ngazi di rumahnya, duduk di kursi yang baru saja menjadi saksi pertunjukan dosa semalam.
Ibu-ibu jamaah mulai berdatangan, membawa kitab suci dan tasbih. Mereka duduk melingkar, menatap Ratna dengan wajah yang penuh kekhusyukan, tidak menyadari bahwa karpet di bawah mereka masih menyimpan noda gelap yang tak bisa sepenuhnya dihilangkan, tidak menyadari bahwa kursi yang sedang diduduki oleh Ratna baru saja digunakan untuk kegiatan yang paling hina.
Ratna duduk di kursinya, membuka kitab suci di pangkuannya. Ia memulai pengajian dengan suara yang merdu, menjelaskan surat An-Nisa ayat 34—laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.
Tapi saat ia duduk di kursi itu, saat ia merasakan tekanan pada pantatnya, saat ia mengingat bagaimana Fadhli menghentaknya di tempat yang sama beberapa jam lalu... memeknya kembali berdenyut. Ia bisa merasakan klitorisnya yang masih bengkak bergesekan dengan celana dalamnya, mengirimkan sensasi yang membuatnya ingin merintih.
"Bu Ustadzah?" Suara Ibu Murtilah memecah lamunan Ratna.
Ratna tersentak. "Ya, Bu?"
"Apakah lanjut ayat berikutnya?"
Ratna menunduk, menatap kitabnya, berusaha fokus. "Ya... mari kita lanjutkan."
Tapi di tengah-tengah pembacaan, matanya mencuri pandang ke arah jendela. Di luar, Fadhli sedang berdiri di teras kontrakannya, memegang secangkir kopi, menatap ke arah rumah Ratna.
Saat mata mereka bertemu, Fadhli menyeringai, lalu diam-diam menggerakkan tangannya—menggenggam udara di depan selangkangannya, seolah sedang memegang kontolnya, lalu menggerakkan tangannya maju-mundur.
Gerakan itu membuat Ratna tersentak. Ia hampir menjatuhkan kitab di tangannya, wajahnya memerah padam.
"Bu Ratna? Apa kau tidak enak badan?" tanya Nisa, yang kebetulan duduk di sampingnya.
Ratna menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. "Tidak... tidak. Saya hanya... sedikit pusing."
Nisa menatap Ratna dengan mata yang tajam, lalu mengedipkan sebelah matanya—seolah ia tahu apa yang sedang terjadi.
Apakah Nisa melihat gerakan Fadhli? Apakah Nisa tahu?
Ratna tidak tahu. Tapi yang ia tahu, ia harus lebih berhati-hati. Karena rahasia di balik jilbabnya semakin lama semakin sulit disembunyikan. Dan jika seseorang menemukan rahasia itu, hidupnya akan hancur lebur.
Tapi saat ia menatap Fadhli di luar jendela, saat ia merasakan memeknya yang masih panas karena kenangan semalam, Ratna tahu bahwa ia tidak akan berhenti.
Karena dosa yang satu ini, adalah dosa yang paling manis yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Dan ia rela membayar harga apapun untuk terus merasakannya.
Seminggu setelah kejadian di kursi ngaji itu, Ratna hidup di atas kaca tipis. Setiap kali bertemu Nisa di kompleks, perempuan itu selalu menatapnya dengan mata yang terlalu tajam, seolah sedang mencoba menembus lapisan kain yang menutupi tubuh Ratna. Nisa tidak pernah bertanya secara langsung lagi, tapi senyumnya yang selalu tersimpan di bibirnya setiap kali melihat Ratna membuat perempuan itu merasa sedang dikupas hidup-hidup.
Namun, rasa takut itu tak mampu menghentikan Ratna. Justru, rasanya membuatnya semakin kecanduan. Sensasi berada di ambang bahaya, di mana satu kesalahan kecil bisa menghancurkan seluruh hidupnya, memberikan dorongan adrenalin yang tak bisa ia dapatkan dari hal lain.
Sore itu, Hadi berada di ruang kerjanya. Pria itu sedang merampungkan buku ceramahnya, pintu ruangan itu tertutup rapat, namun jaraknya hanya terpisahkan oleh lorong dan dua ruangan dari dapur. Ratna sedang menumis bawang merah, suara desisan minyak di wajan menciptakan dinding suara yang menutupi degup jantungnya yang berdebar kencang.
Karena di belakangnya, berdiri Fadhli.
Pemuda itu masuk melalui pintu belakang yang sengaja tidak Ratna kunci. Ia hanya memakai kaos dan celana jogging, tampak seperti pemuda malas yang sedang mencari minum. Tapi niatnya jauh dari sekadar minum. Saat pintu tertutup, Fadhli langsung memeluk Ratna dari belakang, menempelkan kontolnya yang sudah setengah keras ke pantat perempuan itu yang tertutup rok.
"Fadhli! Mas Hadi di ruang kerja!" Ratna berbisik tajam, tubuhnya menegang. Ia mematikan kompor dengan cepat, berbalik menatap pemuda itu dengan mata terbelalak. "Kamu gila? Kalau dia keluar—"
"Dia tidak akan keluar. Dia sedang ngetik, fokus pada bukunya," potong Fadhli, suaranya rendah dan tenang, sangat kontras dengan kepanikan Ratna. "Aku sudah perhatikan, kalau dia lagi nulis, dia tidak akan keluar sampai maghrib. Kita punya waktu satu jam."
Satu jam. Di rumah yang sama dengan suaminya. Ini jauh lebih gila dari apapun yang pernah mereka lakukan.
"Tidak! Pergi sekarang!" Ratna mendorong dada Fadhli, tapi pemuda itu menangkap pergelangan tangannya, menahannya.
"Nduk, aku tidak bisa pulang dalam keadaan begini," Fadhli menekan pinggulnya ke depan, menggesekkan tonjolan di celana joggingnya ke perut Ratna. "Tadi pagi kau kirimku foto tanpa bra di bawah jilbabmu. Kau tahu apa efeknya padaku? Kontolku keras sejak dua jam lalu. Kau harus bertanggung jawab."
Ratna menelan ludah. Ia memang sengaja mengirim foto itu tadi pagi, saat Hadi sedang mandi. Foto yang menunjukkan payudaranya yang melar di balik jilbab, tanpa bra, putingnya yang tegang menekan kain dalam. Foto itu adalah ide Fadhli, dan Ratna yang melaksanakannya dengan tangan gemetar.
Sekarang, pemuda itu ada di sini, menagih janji yang tak pernah diucapkan.
Fadhli memutar tubuh Ratna, menekan punggung perempuan itu ke pinggian meja dapur. Ia mengangkat rok panjang Ratna hingga ke pinggang, memperlihatkan celana dalam katun putih yang tipis.
"Kamu memakai ini?" tanya Fadhli, nada kecewa terdengar dalam suaranya. Jari-jarinya menyelip ke dalam pinggang celana dalam itu, menariknya ke bawah hingga jatuh ke lutut Ratna. "Aku bilang jangan pakai celana dalam di rumah."
"Tapi Mas Hadi di rumah! Kalau dia masuk tiba-tiba—"
"Maka dia akan lihat memek isterinya yang sudah basah karena pria lain," desis Fadhli tepat di telinga Ratna. Jari-jarinya langsung menyusup ke antara paha Ratna, menyentuh kemaluannya yang telanjang.
Ratna mendesah keras, kepalanya mendongak. Sentuhan itu terasa seperti aliran listrik yang menembus tubuhnya. Memeknya sudah basah—sangat basah—karena antisipasi dan ketakutan bercampur menjadi satu. Fadhli memijit klitorisnya yang mulai bengkak, memutar jemarinya di sekitar tombol sensitif itu, membuat lutut Ratna melemas.
"Fadhli... ah... tolong... ini terlalu berbahaya..." Ratna merintih, tangannya mencengkeram tepi meja dapur hingga buku-buku jarinya memutih.
Fadhli tidak menjawab. Ia membuka celana joggingnya, membebaskan kontolnya yang sudah keras penuh. Ia menggesekkan batang yang panas dan besar itu di antara paha Ratna, mengusap bibir memek yang becek dengan gerakan yang lambat, mencampurkan cairan pra-ejakulasinya dengan lendir Ratna.
"Kau tahu apa yang kuingin, Nduk?" bisik Fadhli, suaranya serak. "Aku ingin menggagahi kau di sini, di dapur ini, sementara suamimu ada di beberapa meter dari sini. Aku ingin mendengarmu menjerit namaku, sementara dia mendengkur di ruang kerjanya. Aku ingin memenuhi memekmu dengan pejuku, dan biarkan kau melayani dia malam nanti dengan tubuhku masih di dalam dirimu."
Kata-kata itu meruntuhkan sisa pertahanan Ratna. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak ingin menolak. Ia membungkuk ke depan, menopang tubuhnya di atas meja dapur, mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, memberikan akses penuh bagi Fadhli.
"Masuklah," bisik Ratna, suaranya pecah oleh nafsu. "Tolong... masukkan kontolmu..."
Fadhli mendengam puas. Ia memegang pangkal kontolnya, mengarahkannya ke liang Ratna yang berkedut-kedut menantikan, lalu mendorongnya masuk dengan satu hentakan yang kuat.
"Ah!" Ratna menjerit, suaranya lebih keras dari yang ia inginkan. Ia cepat menutup mulutnya dengan tangan, menahan desahan yang terancam membangunkan seluruh rumah.
Kontol Fadhli terasa lebih besar dari biasanya, atau mungkin karena posisi berdiri ini, atau mungkin karena bahaya yang mengintai, membuat liang Ratna terasa lebih sempit dan lebih sensitif. Ia bisa merasakan setiap urat, setiap tonjolan, setiap inci dari batang yang sedang merobeknya.
Fadhli mulai bergerak, menarik dan mendorong kontolnya dari liang Ratna dengan ritme yang stabil. Tapi kali ini, ia tidak melakukan dengan kasar seperti biasanya. Ia melakukannya dengan lambat, sangat lambat, menikmati setiap senti dari perjalanan batangnya di dalam liang Ratna yang sempit.
Squelch... squelch... squelch...
Suara basah itu terdengar jelas di dapur yang sepi, terdengar di telinga Ratna seperti suara guntur yang mengancam. Ia mencoba menahannya, mencoba menekan pahanya agar suara itu tidak terlalu keras, tapi sia-sia. Memeknya terlalu basah, terlalu licin, dan setiap gerakan Fadhli menciptakan suara yang membuatnya merasa sangat cabul.
"Shh... jangan terlalu keras, Nduk," bisik Fadhli, tubuhnya menempel di punggung Ratna, tangannya meraih payudara perempuan itu di luar baju kurung, meremasnya dengan gerakan yang mengikuti ritme hentakannya. "Nanti suamimu mendengar."
Ratna menggigit tangannya sendiri, menahan erangan yang terus mendesak untuk keluar. Sensasi itu terlalu besar, terlalu intense, terlalu memabukkan. Bahaya dari situasi ini—bercinta di dapur sementara suaminya ada di ruangan sebelah—membuat setiap syaraf di tubuhnya berteriak.
Fadhli mempercepat hentakannya sedikit, pinggulnya bergerak lebih cepat, menghantam serviks Ratna dengan setiap dorongan. Pantat Ratna bergoyang mengikuti gerakan pemuda itu, menciptakan suara tubuh yang beradu—plak... plak... plak...—yang bercampur dengan suara basah dari kemaluan mereka.
"Mmmph! Fadhli! Ah! Dalam... begitu dalam..." Ratna merintih ke tangannya, air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia merasa seperti sedang ditarik ke dalam pusaran yang tak berdasar, di mana hanya ada kenikmatan dan dosa yang tak bisa dipisahkan.
"Ratna... kau sangat nikmat... sangat sempit..." Fadhli mendesah, napasnya memburu, wajahnya tertanam di leher perempuan itu, mencium kulit yang putih dan harum itu. "Kau suka dikawini di sini, kan? Sementara suamimu ada di dekat kita?"
"Iya! Ah! Iya! Aku suka! Aku suka kontolmu! Ah! Jangan berhenti!" Ratna berteriak dalam hati, suaranya tak bisa keluar karena tertahan oleh tangannya sendiri.
Tiba-tiba, terdengar suara kursi bergesek di ruang kerja Hadi. Kedua orang itu membeku seketika. Jantung Ratna berdebar sangat keras hingga terasa akan meledak dari dadanya. Fadhli tidak menarik kontolnya, ia hanya berhenti bergerak, menunggu, mendengarkan.
Suara langkah kaki terdengar, lalu... berhenti. Kemungkinan Hadi hanya mengambil buku atau berdiri sejenak. Beberapa detik kemudian, terdengar kembali suara kursi, dan kemudian keheningan. Hadi kembali duduk.
Ratna melepaskan napas yang sedari tadi ditahan. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan yang baru saja ia rasakan—ketakutan akan ketahuan—justru membuat liangnya berkontraksi lebih kuat, mengunci kontol Fadhli di dalamnya dengan lebih erat.
Fadhli mendengam, merasakan kontraksi itu. "Kau semakin sempit, Nduk. Kau suka bahaya ini, kan? Kau semakin basah karena takut ketahuan, kan?"
Ratna tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk, air matanya semakin deras.
Fadhli kembali bergerak, kali ini dengan hentakan yang lebih keras, lebih dalam, lebih tidak terkendali. Ia menggenggam pinggang Ratna, menarik perempuan itu ke arahnya setiap kali ia mendorong, menciptakan sudut yang membuat kontolnya menembus lebih dalam dari sebelumnya.
Plak! Plak! Plak! Plak!
"Ratna! Aku mau keluar! Ah!" Fadhli mendengam, pinggulnya bergerak sangat cepat.
"Keluarlah! Keluarkan semuanya di dalam memekku! Ah! Ya!" Ratna merintih, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia tidak peduli pada dosanya, tidak peduli pada neraka, tidak peduli pada suaminya. Ia hanya peduli pada kontol Fadhli yang sedang membelah rahimnya, memberinya kenikmatan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Fadhli meraung, memegang bahu Ratna, dan mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam liang perempuan itu. Tubuhnya menegang, otot-ototnya berkontraksi, lalu ia meledak.
Aliran panas yang sangat kuat menyembur dari ujung kontol Fadhli, menembus serviks Ratna, membanjiri rahimnya yang sudah penuh. Panasnya luar biasa, banyaknya luar biasa, seolah pemuda itu sedang menuangkan seluruh jiwa dan raganya ke dalam tubuh Ratna.
Sensasi itu membawa Ratna ke puncak kenikmatan sekali lagi. Ia menjerit nama Fadhli, tubuhnya berkontraksi liar, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Mereka berdiri di sana, di tengah dapur, tubuh mereka terhubung oleh bagian yang paling intim, sementara beberapa meter dari mereka, Hadi duduk di ruang kerjanya, tidak menyadari bahwa isterinya baru saja dikawini di atas meja dapur, tidak menyadari bahwa memek isterinya sedang dipenuhi oleh peju pemuda itu.
Fadhli menarik kontolnya keluar perlahan, membiarkan cairan their yang bercampur mengalir dari liang Ratna, menetes ke lantai dapur. Ia menarik celana joggingnya, lalu mencium pipi Ratna yang basah oleh air mata.
"Terima kasih, Nduk. Ini yang paling mendebarkan seumur hidupku," bisik Fadhli, suaranya terdengar puas. "Sekarang, bersihkan dirimu. Dan jangan lupa, jangan pakai celana dalam malam ini. Aku ingin pejuku mengalir di pahamu saat kau melayani suamimu di ruang tamu."
Lalu pemuda itu pergi, meninggalkan Ratna yang berdiri mematung di tengah dapur dengan rok yang tergulat di pinggang, payudara yang tergantung bebas di balik baju kurung, dan memek yang menangis karena kekosongan yang mendadak, sementara peju Fadhli mulai merembes keluar, mengotori pahanya yang putih.
Ratna membersihkan dirinya dengan tisu, membuangnya ke tempat sampah yang paling bawah, lalu mengenakan celana dalam yang baru. Ia merapikan baju kurungnya, memastikan tidak ada yang aneh, lalu kembali memasak, seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat Hadi keluar dari ruang kerjanya beberapa jam kemudian, ia menemukan isterinya sedang memasak di dapur, tersenyum ramah, dan menyajikan makan malam yang lezat.
Tapi di bawah rok panjangnya, memek Ratna masih menyimpan sisa peju Fadhli yang tak bisa sepenuhnya dibersihkan. Dan setiap kali ia melangkah, ia bisa merasakan cairan itu bergesekan di kulit pahanya, mengingatkannya pada dosa yang baru saja ia lakukan di dapur ini.
Dosa yang paling berbahaya, namun paling memuaskan.
Dan Ratna tahu, ia akan terus melakukannya, selama Fadhli menginginkannya. Karena ia sudah tidak bisa hidup tanpa kontol pemuda itu. Ia sudah kecanduan pada bahaya, kecanduan pada rasa takut, dan kecanduan pada kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya sendiri.
Karena itulah harga yang harus ia bayar untuk menjadi seekor betina yang dimiliki oleh dua pria sekaligus—suci di mata suaminya, namun jalang di mata pemuda yang telah menguasainya.
Dan ia rela membayar harga itu, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
Makan malam itu terasa seperti menyantap hidangan yang dicampuri dengan racun. Ratna duduk di seberang Hadi, mengunyah nasi dan lauk tanpa merasakan rasanya. Perhatiannya terbelah antara percakapan datar suaminya mengenai jadwal ceramah dan sensasi fisik yang sangat mengganggu di bawah meja.
Sisa peju Fadhli yang belum sepenuhnya ia bersihkan kini mulai merembes keluar lagi dari liangnya. Cairan itu hangat, lengket, dan terasa sangat banyak, seolah pemuda itu sengaja menumpahkan segalanya tanpa menunda. Setiap kali Ratna bergeser di kursi, ia bisa merasakan cairan itu melumas bibir memeknya yang masih bengkak, menciptakan kebecekan yang membuatnya sangat tidak nyaman, namun pada saat yang sama, sangat membangkitkan gairah.
"Ratna, apakah kamu mendengarku?" tegur Hadi, menatap isterinya dengan mata yang tajam.
Ratna tersentak, menelan nasi yang terasa seperti kapas kering di tenggorokannya. "Maaf, Mas. Saya... saya sedikit pusing. Tadi kepanasan di dapur."
Hadi menghela napas, lalu kembali makan. "Jaga kesehatan. Besok ada tamu dari yayasan mau makan malam di sini. Kamu harus menyiapkan yang terbaik."
"Baik, Mas."
Malam itu, setelah shalat isya, Hadi duduk di sofa ruang tamu membaca koran. Ruangan itu tenang, hanya diisi oleh suara gemeretak kertas dan dengkuran AC. Ratna berjalan menuju kamar tidur, berpura-pura akan tidur lebih awal.
Ia menutup pintu kamar, tapi tidak menguncinya—Hadi tidak suka pintu terkunci jika ia belum tidur. Kemudian, dengan jantung yang berdebar kencang, Ratna berjalan menuju jendela. Ia membuka gorden sedikit, menatap ke arah kontrakan seberang.
Fadhli ada di sana. Pemuda itu sedang duduk di teras, memegang ponsel, seolah sedang menunggu sesuatu.
Beberapa detik kemudian, ponsel Ratna bergetar.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau masih bisa berjalan setelah siang tadi? Atau memekmu sudah terlalu bengkak sampai kau tidak bisa menutup pahamu?*
Ratna menelan ludah, mengetik balasan dengan jari yang gemetar.
*Sudah kuobati. Tapi masih becek.*
Balasan datang cepat.
*Bagus. Karena aku belum puas. Buka jendelamu. Lebar. Dan berdiri di depannya. Sekarang.*
Ratna menatap ke arah pintu kamar. Ia bisa mendengar suara Hadi yang sedang membalik halaman koran di ruang tamu. Jarak mereka hanya terpisahkan oleh lorong kecil. Jika Hadi berjalan ke kamar, ia akan melihat Ratna berdiri di depan jendela.
Tapi itu justru yang membuat Ratna semakin gila.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna membuka gorden jendela lebar-lebar, membiarkan cahaya lampu kamar menerobos keluar ke halaman yang gelap. Ia berdiri di depan jendela itu, menatap Fadhli yang sedang duduk di teras seberang.
Pemuda itu tersenyum, lalu mengetik lagi.
*Lepas baju tidurmu. Biarkan aku melihat tubuhmu di bawah cahaya lampu. Pelan-pelan.*
Ratna menarik napas panjang. Ia memegang ujung baju tidur yang tipis, lalu menariknya ke atas perlahan. Kain itu meluncur di kulitnya, memperlihatkan perutnya yang rata, payudaranya yang besar dan berat dengan puting yang masih merah karena hisapan Fadhli siang tadi, dan akhirnya, memeknya yang masih lembap dan berbulu tipis.
Ia berdiri telanjang di depan jendela, di dalam kamar yang berjarak hanya beberapa meter dari ruang tamu di mana suaminya sedang duduk.
Fadhli mendesak keras dari seberang pagar. Ia mengangkat ponselnya, seolah sedang mengambil foto atau merekam video. Ratna tidak peduli. Ia hanya ingin dilihat, ingin diinginkan, ingin dimiliki.
*Lewati tangannya ke bawah. Tunjukkan padaku bagaimana kau memuaskan dirimu sendiri sambil memikiranku.*
Ratna menuruti perintah itu. Tangannya turun ke kemaluannya, memijit klitorisnya yang mulai bengkak, memasukkan jarinya ke dalam liangnya yang masih berisi sisa peju Fadhli. Ia memompa dirinya sendiri dengan ritme yang lambat, menatap Fadhli di kejauhan, membayangkan kontol pemuda itu sedang merobeknya.
Squelch... squelch... squelch...
Suara basah itu terdengar di kamar yang sepi. Ratna menggigit bibirnya, menahan desahan yang terancam lolos. Ia bisa mendengar suara koran yang sedang dibalik oleh Hadi di ruang tamu. Jarak mereka sangat dekat. Jika ia bersuara sedikit saja, Hadi akan mendengarnya.
Tapi itu justru membuatnya semakin terangsang.
Ratna memompa lebih cepat, memasukkan dua jari ke dalam liangnya yang sangat basah, membayangkan itu adalah kontol Fadhli. Ia membayangkan pemuda itu sedang menatapnya dari ujung ranjang, membayangkan kontolnya yang besar dan keras sedang menunggu untuk merobeknya.
Ah... Fadhli... Ratna mendesah dalam hati, matanya terpejam, tubuhnya mulai bergetar.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di lorong.
Ratna tersentak! Ia segera berlari menjauh dari jendela, mematikan lampu kamar, dan melompat ke atas ranjing, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.
Hadi berdiri di ambang pintu, siluetnya terlihat di bawah cahaya lorong.
"Ratna? Kenapa lampunya mati?" tanya Hadi, suaranya terdengar datar.
Ratna mengatur napasnya, berusaha terdengar mengantuk. "Saya... saya mau tidur, Mas. Mati lampu biar lebih nyaman."
Hadi mengangguk, lalu menutup pintu tanpa masuk. Kaki langkahnya menjauh, kembali ke ruang tamu.
Ratna terbaring di atas ranjang dalam kegelapan, jantungnya berdebar sangat keras hingga terasa akan meledak. Napasnya memburu, memeknya yang masih berisi jari-jarinya sendiri berdenyut hebat. Ia tidak berani melanjutkan. Tidak sekarang. Hadi terlalu dekat.
Tapi kemudian, ponselnya bergetar di bawah bantal.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau berhenti? Jangan. Lanjutkan. Aku ingin kau mencapai puncak sementara suamimu ada di ruangan sebelah. Kirimkan suaramu.*
Kirimkan suara? Apakah Fadhli gila? Jika ia mengirimkan suara desahannya, Hadi mungkin bisa mendengarnya jika ia berjalan melewati kamar ini.
Tapi Ratna tidak bisa menolak. Dorongan untuk menuruti perintah Fadhli terlalu besar.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna merekam suaranya sendiri—suara desahan yang tertahan, suara basah dari memeknya yang sedang dipompa, dan suara bisikan yang sangat lembut.
"Fadhli... ah... kontolmu... aku mau kontolmu... ah..."
Ia mengirimkan rekaman itu, lalu membuang ponselnya ke samping ranjing. Ia kembali memompa dirinya sendiri, kali ini dengan ritme yang lebih cepat, lebih keras, lebih putus asa.
Squelch! Squelch! Squelch!
Ia membayangkan Fadhli sedang mendengarkan suaranya, membayangkan pemuda itu sedang memegang kontolnya yang keras, membayangkan pejunya yang menyembur ke udara karena terangsang oleh suara Ratna.
Bayangan itu membawa Ratna ke puncak kenikmatan dengan cepat. Ia menekan wajahnya ke bantal, menjerit nama Fadhli dalam hati, sementara tubuhnya berkontraksi hebat, liangnya berkedut-kedut liar, memeras jari-jarinya sendiri, membanjiri telapak tangannya dengan cairan yang pekat.
Saat orgasmenya reda, Ratna terbaring lemas di atas ranjing, napasnya memburu, tubuhnya gemetar. Ia menatap kegelapan kamar itu, mendengarkan suara Hadi yang sedang berjalan ke kamar mandi.
Ia baru saja melacurkan dirinya sendiri di dekat suaminya. Ia baru saja memberikan pertunjukan untuk Fadhli sementara Hadi berada beberapa meter darinya. Ia baru saja merekam suara desahannya dan mengirimkannya pada pria lain.
Ini adalah titik balik yang tak bisa dikembalikan. Ratna bukan lagi isteri yang hanya berkhianat secara fisik. Ia adalah isteri yang menikmati pengkhianatannya, yang menggunakan kehadiran suaminya sebagai bumbu penyedap untuk dosa-dosanya.
Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bisa berhenti.
Karena rahasia di balik jilbabnya bukan lagi sekadar rahasia tentang tubuhnya. Rahasia itu adalah tentang jiwa yang telah dijual pada iblis bernama nafsu, jiwa yang hanya bisa merasa hidup ketika sedang dihancurkan oleh pria yang bukan suaminya.
Beberapa menit kemudian, Hadi masuk ke kamar. Ia berbaring di samping Ratna, mendengkur dengan ritme yang monoton, tidak menyadari bahwa isterinya sedang terbaring di sampingnya dengan memek yang masih becek oleh cairannya sendiri dan sisa peju pemuda di seberang rumah itu.
Ratna menatap langit-langit yang gelap, matanya terbuka lebar. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh Fadhli, oleh kontolnya, oleh pejunya, oleh perintah-perintahnya yang semakin lama semakin berani.
Dan di dalam kepalanya, sebuah pikiran baru mulai terbentuk—pikiran yang sangat berbahaya, namun sangat menggoda.
Bagaimana jika ia mengajak Fadhli bercinta di ranjing ini, sementara Hadi sedang tidur di sampingnya?
Pikiran itu membuat memeknya kembali berdenyut, membuat jantungnya berdebar kencang, membuatnya merasa hidup.
Karena dosa yang paling besar, adalah dosa yang paling memuaskan.
Dan Ratna siap untuk melakukannya.
Esok harinya, Hadi pergi ke kantor yayaman sejak pagi. Ratna sendirian di rumah. Ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan pada Fadhli.
*Fadhli, malam ini... Mas Hadi akan tidur di sampingku. Tapi aku ingin kau menggagahiku. Di ranjing ini. Sementara dia tertidur. Bersediakah kau?*
Ratna menekan tombol kirim, jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu apakah Fadhli akan menerimanya. Ia tidak tahu apakah pemuda itu cukup berani untuk melakukannya.
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
*Aku akan ada di teras belakang jam sebelas malam. Biarkan pintu belakangmu tidak terkunci. Dan bersiaplah, Nduk. Karena malam ini akan menjadi malam yang paling berbahaya dan paling memuaskan dalam hidupmu.*
Ratna membaca pesan itu dengan mata yang terbelalak. Fadhli bersedia. Pemuda itu bersedia menggagahi isteri ustadz di ranjing suaminya, sementara pria itu tertidur di samping mereka.
Ini gila. Ini sangat gila. Ini adalah dosa yang tak bisa dimaafkan.
Tapi Ratna tidak peduli. Karena ia sudah terlalu dalam untuk kembali. Ia sudah kecanduan pada bahaya, kecanduan pada rasa takut, dan kecanduan pada kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya sendiri.
Malam itu, Ratna akan menjadi isteri yang paling jalang di dunia.
Dan ia siap untuk melakukannya, tanpa penyesalan.
Malam itu turun dengan sangat lambat, seolah waktu sedang bersekongkol untuk menyiksa Ratna. Setelah shalat isya, Hadi langsung berbaring di ranjang—kali ini di sisi kanan, lebih dekat ke arah Ratna. Pria itu mengeluh lelah karena seharian bekerja, dan dalam hitungan menit, dengkurannya sudah terdengar mengisi keheningan kamar.
Ratna terbaring di samping suaminya, menatap langit-langit yang gelap. Jantungnya berdebar sangat keras hingga ia bisa mendengarny bergema di telinganya. Tangannya meremas erat ujung selimut, berusaha menghentikan gemetar yang mulai menyerang tubuhnya.
Pukul sepuluh. Ponselnya bergetar di bawah bantal.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Aku sudah di teras belakang. Pintunya, Nduk.*
Ratna menelan ludah. Ini saatnya. Titik yang tak bisa dikembalikan. Ia menunggu beberapa menit, memastikan Hadi benar-benar tertidur lelap. Dengkuran suaminya sudah sangat teratur, berat, dan dalam—tanda bahwa pria itu telah terlelap.
Dengan gerakan yang sangat pelan, Ratna bangkit dari ranjing. Ia berjalan menembus kegelapan kamar, membuka pintu perlahan, lalu melangkah keluar. Ia menuruni tangga dengan kaki telanjang, mencoba untuk tidak menimbulkan suara.
Saat tiba di pintu belakang, ia melihat sosok Fadhli yang sedang berdiri di teras, merokok. Pemuda itu tersenyum saat melihat Ratna membuka pintu.
"Kau benar-benar melakukannya, Nduk," bisik Fadhli, mematikan rokoknya. Ia melangkah masuk, menutup pintu perlahan, lalu menatap Ratna dengan mata yang menyala di kegelapan.
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Fadhli, menuntun pemuda itu naik ke tangga, menuju kamar tidurnya—kamar tidur di mana suaminya sedang tertidur.
Saat mereka tiba di depan pintu kamar, Fadhli berhenti. Ia menatap pintu yang sedikit terbuka itu, mendengar dengkuran Hadi yang terdengar dari dalam.
"Dia benar-benar tertidur?" tanya Fadhli, suaranya nyaris tak terdengar.
Ratna mengangguk. "Dia sudah tertidur lelap. Dia tidak akan bangun sampai azan subuh."
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kekuasaan dan kegilaan. "Bagus. Karena aku tidak akan diam malam ini. Aku akan membuatmu menjerit, Nduk. Dan kau harus menahan suaramu sendiri."
Mereka memasuki kamar. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya dipecahkan oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Di atas ranjing, tubuh Hadi terbaring menghadap sisi lain, dengkurannya terdengar sangat jelas di keheningan malam.
Fadhli berdiri di tepi ranjing, menatap sosok Hadi yang sedang tertidur. Lalu, ia menatap Ratna dengan tatapan yang sangat tajam.
"Berbaringlah di samping suamimu," perintah Fadhli, suaranya sangat pelan, namun sangat memiliki.
Ratna menaiki ranjing, berbaring di samping Hadi. Ia bisa merasakan panas tubuh suaminya yang tertidur, bisa mencium aroma attar dari leher Hadi, bisa mendengar setiap hembusan napasnya.
Fadhli juga naik ke ranjing, berbaring di samping Ratna dari sisi lain. Kini, Ratna terletak di antara dua pria—suaminya yang sedang tertidur di sisi kanan, dan kekasih gelapnya yang siap menggagahinya di sisi kiri.
Ranjang itu terasa sangat sempit, sangat penuh, sangat gila.
Fadhli memajukan tubuhnya, mencium leher Ratna yang masih menutupi jilbab hitam itu. Ia mengusap leher perempuan itu dengan bibirnya, menciptakan sensasi yang membuat Ratna mendesah pelan.
"Shh..." Fadhli meletakkan jari telunjuknya di bibir Ratna. "Jangan bersuara. Kau tidak ingin membangunkan suamimu, kan?"
Ratna menggigit bibirnya, mengangguk. Ia bisa merasakan napas Fadhli yang hangat di lehernya, bisa merasakan tangan pemuda itu yang mulai merayap ke bawah selimut, menyentuh pinggangnya.
Fadhli mengangkat bawah Ratna perlahan, memperlihatkan celana dalam tipis yang ia kenakan. Ia menarik kain itu ke bawah, membebaskan memek Ratna yang sudah mulai basah.
"Kau sudah basah, Nduk," bisik Fadhli, jari-jarinya menyentuh bibir memek Ratna yang becek. "Kau sangat menikmati bahaya ini, kan?"
Ratna menelan ludah, tidak menjawab. Ia hanya bisa merasakan jari-jari Fadhli yang sedang memijit klitorisnya, menciptakan gelombang kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Fadhli membuka celana joggingnya, membebaskan kontolnya yang sudah sangat keras. Ia menggesekkannya ke bibir memek Ratna, mengusapnya ke atas dan ke bawah, mencampurkan cairan pra-ejakulasinya dengan lendir Ratna.
"Ini akan sangat pelan, Nduk," bisik Fadhli, posisinya sudah siap untuk memasuki Ratna. "Aku akan menggagahi kau di samping suamimu. Dan kau harus diam. Jika kau bersuara, dia akan bangun. Dan dia akan melihat isterinya sedang dikawini oleh pemuda di seberang rumahnya."
Ratna menutup matanya, air matanya mengalir. Ia merasa sangat takut, sangat gila, sangat... terangsang. Bahaya dari situasi ini melebihi apapun yang pernah ia rasakan. Ia sedang berada di ambang jurang—satu langkah salah, dan hidupnya hancur.
Tapi ia tidak mundur.
Fadhli mendorong pinggulnya perlahan, memasukkan kontolnya ke dalam liang Ratna sedikit demi sedikit.
"Ah..." Ratna mendesak, tangannya mencengkeram sprei di bawahnya. Ia harus menggigit bibirnya untuk menahan desahan yang terancam lolos.
Kontol Fadhli terasa sangat besar, sangat panas, sangat keras. Sensasi itu diperkuat oleh posisi mereka—berbaring miring, menghadap Fadhli, sementara punggungnya menempel di dada Hadi yang sedang tertidur.
Fadhli mulai bergerak, menarik dan mendorong kontolnya dari liang Ratna dengan gerakan yang sangat pelan. Ia melakukan itu dengan sengaja—setiap gerakan sangat lambat, sangat dalam, sangat penuh tekanan, membuat Ratna merasakan setiap inci dari batang yang sedang merobeknya.
Squelch... squelch... squelch...
Suara basah itu terdengar sangat jelas di keheningan kamar, bercampur dengan dengkuran Hadi. Ratna merasa seperti sedang ditarik ke dalam pusaran yang tak berdasar, di mana hanya ada kenikmatan dan dosa yang tak bisa dipisahkan.
"Ratna..." Fadhli mendesah di telinganya, napasnya yang hangat menyentuh daun telinga perempuan itu. "Kau merasakannya, kan? Kau merasakan kontolku di dalam memekmu, sementara suamimu tertidur di sampingmu?"
Ratna menggigit bantal, menahan jeritan yang terancam lolos. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa merasakan—merasakan kontol Fadhli yang sedang membelah rahimnya, merasakan bahaya dari situasi ini, merasakan dosa yang paling manis yang pernah ia rasakan.
Fadhli mempercepat gerakannya sedikit, pinggulnya bergerak lebih cepat, namun tetap pelan. Ia memegang pinggang Ratna, menarik perempuan itu ke arahnya setiap kali ia mendorong, menciptakan sudut yang membuat kontolnya menembus lebih dalam.
Plak... plak... plak...
Suara tubuh yang beradu itu terdengar pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh siapa saja yang tidak tertidur. Ratna merasa jantungnya akan meledak setiap kali mendengar suara itu—ketakutan bahwa Hadi akan mendengar dan bangun membuat setiap syaraf di tubuhnya berteriak.
"Fadhli... pelan... terlalu keras..." Ratna berbisik, suaranya serak.
"Kau bilang pelan, tapi memekmu semakin basah, Nduk," balas Fadhli, senyum terdengar dalam suaranya. "Kau menyukai bahaya ini. Kau menyukai risiko ini. Kau... kau sangat jalang."
Kata 'jalang' itu menusuk Ratna, tapi bukan seperti pisau—melainkan seperti tusukan yang membangkitkan gairah. Ia memang jalang. Ia memang menikmati dosa ini. Dan ia memang tidak bisa berhenti.
Fadhli mengubah posisi mereka sedikit, mendorong Ratna agar berbaring telentang. Kini, perempuan itu terbaring di antara dua pria—Hadi di sisi kanan, Fadhli di atasnya.
Posisi ini sangat gila. Jika Hadi berbalik, ia akan melihat isterinya sedang dikawini oleh pemuda lain di atas ranjing mereka sendiri.
Tapi Hadi tidak berbalik. Pria itu terus tertidur, mendengkur dengan ritme yang monoton, tidak menyadari bahwa beberapa senti dari dirinya, kontol pemuda itu sedang merobek memek isterinya.
Fadhli memompa Ratna dengan ritme yang semakin cepat, namun tetap mengontrol suara yang dihasilkan. Ia menutup mulut Ratna dengan tangannya, mencegah perempuan itu mengeluarkan suara yang bisa membangunkan Hadi.
"Ah... mmph... Fadhli... mmph..." Ratna merintih ke tangan Fadhli, tubuhnya mulai berkontraksi, mendekati puncak kenikmatan.
"Keluarlah, Nduk," bisik Fadhli, matanya menatap wajah Ratna yang terbuai oleh kenikmatan. "Keluarlah sementara suamimu tidur di sampingmu. Biarkan pejuku memenuhi rahimmu, biarkan ia tertidur dengan memek isterinya penuh oleh cairanku."
Kata-kata itu menjadi pemicu terakhir. Ratna mencapai puncak kenikmatan dengan kontraksi yang luar biasa—tubuhnya bergetar hebat, liangnya berkedut-kedut liar, mengisap kontol Fadhli dengan sangat kuat. Ia menggigit tangan Fadhli yang menutupi mulutnya, menahan jeritan yang hampir lolos.
Fadhli juga mencapai puncak beberapa detik kemudian. Ia meraung pelan, mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam liang Ratna, lalu meledak—menyemburkan pejunya yang panas dan banyak ke dalam rahim perempuan itu.
Mereka terdiam, bernapas berat di atas ranjing. Fadhli menarik kontolnya keluar perlahan, membiarkan cairan their yang bercampur mengalir dari liang Ratna, membasahi sprei di bawah mereka.
"Ssst..." Fadhli mencium dahi Ratna, lalu berbisik. "Kau luar biasa, Nduk. Kau adalah perempuan paling lihai yang pernah aku temui."
Ia bangkit dari ranjing dengan gerakan yang sangat pelan, berjalan menuju pintu kamar, lalu menoleh sekali lagi.
"Besok, aku ingin kau mengirimkan foto memekmu yang penuh dengan pejuku. Sebagai bukti bahwa kita telah melakukan yang paling berbahaya malam ini."
Lalu pemuda itu pergi, meninggalkan Ratna yang terbaring di antara suaminya dan bayangan Fadhli.
Beberapa menit kemudian, Hadi bergerak. Pria itu berguling, menghadap Ratna, lalu mendengkur lagi—lebih dekat, lebih nyaman, tidak menyadari bahwa isterinya sedang terbaring di sampingnya dengan memek yang penuh oleh peju pria lain.
Ratna menatap wajah suaminya yang tertidur, lalu memejamkan mata. Air matanya mengalir pelan, membasahi bantal. Ia tidak menangis karena menyesal. Ia menangis karena ia tahu, ia tidak akan pernah bisa kembali.
Karena malam ini, ia telah melampaui batas yang tak bisa dimaafkan. Ia telah membiarkan pria lain menggagahinya di ranjing suaminya, sementara pria itu tertidur di sampingnya. Ia telah menjadi isteri yang paling jalang, paling berkhianat, paling kejam.
Tapi di balik kekejamannya itu, ada kepuasan yang luar biasa. Kepuasan yang tak pernah ia rasakan dari apapun dalam hidupnya.
Karena dosa yang paling besar, adalah dosa yang paling memuaskan.
Dan Ratna tahu, ia akan terus melakukannya, selama Fadhli menginginkannya. Karena ia sudah tidak bisa hidup tanpa kontol pemuda itu. Ia sudah kecanduan pada bahaya, kecanduan pada rasa takut, dan kecanduan pada kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya sendiri.
Rahasia di balik jilbabnya kini sudah melampaui sekadar rahasia tentang tubuh. Rahasia itu adalah tentang jiwa yang telah dijual pada iblis bernama nafsu. Jiwa yang hanya bisa merasa hidup ketika sedang dihancurkan oleh pria yang bukan suaminya.
Dan jiwa itu, tidak akan pernah bisa diselamatkan lagi.
Karena ia sudah terlanjur jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Jurang di mana dosa dan kenikmatan bercampur menjadi satu, tak bisa dipisahkan.
Dan di dasar jurang itu, Ratna menemukan sesuatu yang tak pernah ia temukan di permukaan—kenikmatan yang tak terbatas, gairah yang tak terbendung, dan kebebasan yang tak pernah ia rasakan selama hidupnya.
Kebebasan untuk menjadi perempuan sejati. Kebebasan untuk dimiliki. Kebebasan untuk dihancurkan.
Dan ia rela membayar harga apapun untuk tetap berada di dasar jurang itu.
Karena di dasar jurang itu, ada Fadhli. Ada kontolnya. Ada pejunya. Ada tatapannya yang menelanjangi.
Ada segalanya yang tak pernah ia dapatkan dari kehidupan lamanya.
Dan itulah rahasia di balik jilbabnya—rahasia yang tak akan pernah terungkap, karena ia tidak akan pernah membiarkan siapapun menariknya keluar dari jurang itu.
Ia akan tetap berada di sana, selamanya.
Sebagai isteri ustadz di siang hari, dan sebagai tawanan nafsu di malam hari.
Sebagai perempuan suci di mata orang lain, dan sebagai perempuan jalang di mata pria yang menguasainya.
Dan ia tidak akan pernah meminta maaf.
Karena dosa ini, adalah pilihan yang ia buat sendiri.
Dan ia tidak akan pernah menyesal.
ns216.73.217.110da2


