Suara knalpot mobil Honda Accord yang memasuki halaman depan terdengar seperti dentuman palu yang menghancurkan kastil pasir Ratna. Pukul empat sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Ustadz Hadi pulang. Ratna yang sedang duduk di sofa ruang tamu mencoba menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa seperti disumbat oleh kapas kering.
Ia memandangi pantulannya di layar televisi yang mati. Baju kurung navy blue yang longgar, jilbab yang rapi menutupi dada, wajah yang sudah dihapus dari segala jejak gairah semalam. Ia terlihat sempurna. Ia terlihat suci. Tapi di balik penampilan itu, tubuhnya sedang berteriak.
Pintu depan terbuka. Hadi berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitamnya, membawa koper kecil di tangan kanannya. Wajah pria itu datar, tanpa ekspresi, seperti biasanya.
"Assalamu'alaikum," sapa Hadi, suaranya datar.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Selamat pulang," Ratna bangkit, berjalan menuju suaminya. Ia mengambil koper dari tangan Hadi, berusaha tersenyum senormal mungkin. "Perjalanannya lancar?"
"Lancar. Lembur," jawab Hadi singkat. Ia melepas sepatunya, lalu berjalan melewati isterinya tanpa sentuhan, tanpa ciuman, tanpa kata sambutan yang lebih hangat.
Ratna menatap punggung suaminya yang menjauh. Dulu, ke dinginan itu terasa biasa. Tapi setelah mengenal panasnya pelukan Fadhli, setelah merasakan cengkeraman tangan pemuda itu di pinggangnya, ke dinginan Hadi terasa seperti siksaan yang tak tertahankan.
Malam itu, setelah shalat maghrib dan makan malam yang dilalui dalam keheningan, Hadi duduk di ruang kerjanya yang berada di sisi lain rumah. Pria itu sedang menyiapkan materi ceramah untuk esok hari, terpisah dari Ratna oleh beberapa dinding dan ruangan.
Ratna sendirian di kamar tidur. Ia duduk di tepi ranjang, mendengarkan suara jangkrik di luar jendela. Matanya berkali-kali melirik ke arah jendela yang menghadap ke halaman belakang—menghadap ke kontrakan Fadhli.
Jendela itu tertutup rapat, seperti biasanya. Gorden yang tebal menutupi pandangan, menyembunyikan Ratna dari dunia luar, seperti yang selama ini ia lakukan. Tapi malam ini, saat ia merenung di atas ranjang suaminya yang akan segera tidur di sampingnya, sebuah pemikiran liarsaat melintas di kepalanya.
Bagaimana jika ia tidak menutupnya?
Bagaimana jika ia membiarkan cahaya masuk, membiarkan orang melihat ke dalam? Atau lebih tepatnya... membiarkan *Fadhli* melihat ke dalam?
Ratna menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Itu gila. Itu sangat berbahaya. Hadi ada di rumah. Tetangga bisa melihat. Tapi semakin ia mencoba mengusirnya, semakin kuat dorongan itu. Dorongan untuk memberikan pertunjukan. Dorongan untuk memamerkan tubuh yang selama ini ia sembunyikan, tubuh yang kini telah diakui nikmatnya oleh pemuda di seberang rumahnya.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi. Saat ia melewati jendela, tangannya terulur, menyentuh gorden. Ia memegang kain itu, siap untuk menutupnya lebih rapat.
Tapi tangannya berhenti.
Bayangan Fadhli semalam menghantamnya—Fadhli yang menatapnya dengan mata yang menelanjangi, Fadhli yang berkata *Kau tampak seperti perempuan suci yang sedang menunggu untuk diajari dosa*. Ratna ingin mengajari dirinya sendiri dosa malam ini. Ia ingin membuktikan pada Fadhli bahwa meski suaminya telah kembali, meski ia kembali dipinggirkan di ranjang yang dingin, ia masih milik pemuda itu.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna menarik gorden itu sedikit ke samping, membuka celah kecil yang membiarkan cahaya lampu kamar tidurnya menerobos keluar ke halaman yang gelap.
Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi, membuka pintunya, dan membiarkannya terbuka lebar—sangat berbeda dari kebiasaannya yang selalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat saat Hadi ada di rumah.
Di dalam kamar mandi, Ratna membuka baju kurungnya. Ia melakukannya dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, seolah ada seseorang yang sedang menontonnya dari kegelapan halaman seberang. Ia melepas jilbabnya, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai jatuh ke bahu. Lalu, ia membuka bra, membiarkan payudaranya yang besar dan berat itu melontar keluar dari kurungannya.
Saat ia melepas rok dan celana dalamnya, Ratna berdiri telanjang di depan cermin kamar mandi yang menghadap ke arah jendela. Ia tahu, dari sudut pandang luar, siapa pun yang berdiri di halaman belakang kontrakan Fadhli bisa melihat siluet tubuhnya yang terang oleh cahaya lampu kamar mandi.
Ratna memejamkan mata, membayangkan Fadhli sedang berdiri di terasnya, merokok, menatap ke arah jendela kamarnya. Apakah pemuda itu melihatnya? Apakah pemuda itu menatapnya dengan mata yang sama seperti biasanya—mata yang menelanjangi?
Ratna membuka shower, membiarkan air hangat mengalir di tubuhnya. Ia membasahi rambutnya, mengusap sabun di lehernya, lalu turun ke dadanya. Saat tangannya yang berbusa menyentuh payudaranya, Ratna mendesah pelan. Ia membayangkan tangan itu adalah tangan Fadhli, membayangkan pemuda itu sedang mengusapnya dari belakang, mencium lehernya, menekan kontolnya yang keras ke pantatnya.
Tangannya terus turun, menyentuh perutnya yang rata, lalu mencapai kemaluannya yang mulai memanas. Ia membasahi bulu-bulu halus yang baru saja tumbuh di sana, mengusapnya dengan gerakan yang lambat dan sensual, seolah sedang mempersembahkan pertunjukan bagi penonton tak kasat mata di luar sana.
Ah... Fadhli... Ratna mendesah, lebih keras dari yang seharusnya. Ia memasukkan jarinya ke dalam liangnya yang mulai basah, memompanya perlahan sambil membayangkan kontol Fadhli yang sedang merobeknya.
Squelch... squelch...
Suara basah itu terdengar di kamar mandi, bergema di dalam kepalanya. Ratna memijit klitorisnya dengan ibu jari, sementara dua jari lainnya menyodok liangnya dengan ritme yang semakin cepat. Ia membayangkan Fadhli sedang menontonnya dari luar jendela, melihatnya sedang melacurkan dirinya sendiri di bawah shower, sementara suaminya tidur di kamar sebelah.
Bayangan itu membawa Ratna ke puncak kenikmatan dengan cepat. Ia menekan bibirnya ke lengan, menahan jeritan yang terancam lolos, sementara tubuhnya berkontraksi hebat, memeras jari-jarinya sendiri, membanjiri telapak tangannya dengan cairan yang pekat.
Saat orgasmenya reda, Ratna bersandar di dinding kamar mandi, napasnya memburu. Ia membuka mata, menatap dirinya di cermin. Wajahnya merah, matanya sayu, tubuhnya mengkilap oleh air dan keringat.
Lalu, matanya menangkap sesuatu di luar jendela.
Sebuah kepulan asap tipis yang mengepul di udara malam, berasal dari arah teras kontrakan seberang. Dan di bawah kepulan asap itu, Ratna bisa melihat sosok Fadhli yang sedang duduk di kursi plastiknya, memegang sebatang rokok di tangannya.
Jarak mereka sekitar dua puluh meter, terlalu jauh untuk melihat ekspresi wajah Fadhli dengan jelas. Tapi Ratna bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang tajam, menembus kegelapan, menembus kaca jendela, dan menelanjanginya bahkan setelah ia selesai bermasturbasi.
Apakah Fadhli melihatnya? Apakah pemuda itu menyadari bahwa Ratna sengaja membiarkan jendela terbuka lebar, sengaja membiarkan pintu kamar mandi tak tertutup, sengaja memberikan pertunjukan yang paling intim padanya?
Ratna tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, saat matanya bertemu dengan bayangan Fadhli di kejauhan, memeknya yang baru saja mencapai orgasme kembali berdenyut hebat.
Ia ingin lebih. Ia ingin Fadhli melihatnya lebih dekat. Ia ingin Fadhli menatapnya bukan dari jarak dua puluh meter, melainkan dari jarak nol. Ia ingin kontol pemuda itu kembali merobeknya, bukan jarinya sendiri.
Tapi Hadi ada di rumah. Hadi sedang tidur di kamar sebelah. Dan Ratna tidak bisa keluar rumah malam ini.
Jadi, ia harus mencari cara lain. Cara untuk memberikan pertunjukan yang lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih memuaskan bagi Fadhli... dan bagi dirinya sendiri.
Ratna mematikan shower, mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu berjalan keluar dari kamar mandi. Ia membiarkan pintu kamar mandi tetap terbuka, membiarkan cahaya lampu menerobos keluar ke halaman yang gelap.
Lalu, dengan tangan yang gemetar oleh keberanian yang tak ia kenali, Ratna berjalan menuju jendela kamar tidurnya. Ia berdiri di depan jendela itu, hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya, dan menatap ke arah kontrakan seberang.
Fadhli masih duduk di terasnya, menatap ke arah jendela Ratna. Asap rokoknya mengepul di udara, seolah memberikan isyarat bahwa ia sedang menunggu.
Ratna mengambil napas panjang, lalu membiarkan handuk itu jatuh ke lantai.
Tubuhnya telanjang di depan jendela, diterangi oleh cahaya lampu kamar mandi yang memancar dari belakangnya. Payudaranya yang besar dan berat, perutnya yang rata, pinggulnya yang lebar, pahanya yang montok, dan memeknya yang mulai memerah karena gesekan—semuanya terpampang bagi siapa pun yang sedang menatap dari luar.
Fadhli pasti bisa melihatnya. Jarak dua puluh meter cukup dekat untuk melihat siluet tubuh Ratna yang sempurna di bawah cahaya lampu.
Ratna memejamkan mata, membayangkan reaksi Fadhli. Apakah pemuda itu terkejut? Apakah pemuda itu tersenyum? Atau apakah pemuda itu sedang memegang kontolnya yang keras, membayangkan tubuh Ratna yang sedang dipamerkan untuknya?
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di lantai kayu koridor. Hadi sedang berjalan menuju kamar tidur.
Ratna tersentak! Ia segera berlari menuju tempat tidur, meraih jubah mandi yang berserakan di atas kasur, dan memakainya dengan gerakan yang terburu-buru. Beberapa detik kemudian, pintu kamar tidur terbuka, dan Hadi melangkah masuk.
"Kamu belum tidur?" tanya Hadi, matanya memindai ruangan.
Ratna duduk di tepi ranjang, memegang erat jubah mandinya di depan dada, berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang. "Baru selesai mandi, Mas. Lagi bersiap tidur."
Hadi mengangguk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi terbuka lebar, tidak menyadari bahwa gorden jendela sedikit terkuak, dan tidak menyadari bahwa isterinya baru saja berdiri telanjang di depan jendela, memamerkan tubuhnya pada pria lain.
Malam itu, Hadi tertidur dengan cepat di samping Ratna, mendengkur dengan ritme yang monoton. Sementara Ratna terbaring di gelap, matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar.
Pertunjukan pertamanya telah berhasil. Ia telah memberikan sesuatu yang tak pernah ia berikan pada siapa pun—pandangan langsung ke tubuhnya yang paling rentan, paling telanjang, paling bebas.
Dan ia tahu, itu baru permulaan. Karena Fadhli telah melihatnya. Fadhli tahu bahwa meski Hadi telah kembali, Ratna masih miliknya.
Ratna tersenyum di dalam gelap, senyum yang penuh dosa dan antisipasi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, atau lusa, atau hari-hari berikutnya. Tapi ia tahu satu hal—ia tidak akan pernah menutup jendela itu lagi.
Karena jendela yang terbuka adalah jalan masuk bagi dosa-dosa yang akan datang. Dan Ratna siap menyambutnya dengan tangan terbuka, dan kaki terbuka lebar.
Pagi-pagi sekali, sebelum azan subuh berkumandang, Ratna sudah terjaga. Bukan karena kebiasaan bangun untuk shalat tahajud, melainkan karena sensasi aneh yang menyelimuti tubuhnya. Ia merasa ada mata yang sedang menatapnya, meski ruangan masih gelap dan Hadi masih terlelap di sampingnya.
Perlahan, Ratna menoleh ke arah jendela. Gorden itu masih terkuak sedikit, membiarkan cahaya keperakan dari bulan yang mulai tenggelam menyinari lantai kamar. Di luar jendela, halaman belakang terlihat sepi, tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari kontrakan seberang.
Tapi Ratna tahu, Fadhli melihatnya semalam. Ia tahu pemuda itu pasti menyaksikan pertunjukan yang ia berikan—tubuhnya yang telanjang berdiri di depan jendela, diterangi oleh cahaya lampu kamar mandi. Dan pemuda itu pasti bereaksi. Pasti ada gairah yang menyala di mata hitam itu, pasti ada kontol yang mengeras di balik celana pemuda itu, pasti ada keinginan yang memuncak untuk menerkamnya kembali.
Bayangan itu membuat Ratna tersenyum di dalam gelap. Senyum yang sangat berbeda dari senyum yang biasa ia berikan pada jamaah pengajiannya.
Saat azan subuh berkumandang, Hadi bangun. Pria itu berwudhu dengan gerakan yang kaku, lalu membangunkan Ratna untuk shalat berjamaah. Ratna mengikuti setiap gerakan suaminya, melafalkan ayat-ayat suci dengan bibir yang masih terasa panas karena bayangan Fadhli.
Setelah shalat, Hadi duduk di sajadah melanjutkan dzikir, sementara Ratna berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia memasak nasi goreng dengan telur ceplok—makanan kesukaan Hadi—dengan gerakan yang mekanis. Pikirannya melayang ke malam tadi, ke jendela yang ia biarkan terbuka, ke tubuhnya yang ia pajang untuk dimakan mata pemuda di seberang rumahnya.
Saat Hadi sarapan, Ratna duduk di seberang meja, menatap suaminya yang sedang mengunyah makanannya dengan ritme yang stabil. Ia memperhatikan detail-detail yang selama ini ia abaikan—rahang Hadi yang tegas, lehernya yang panjang, tangannya yang memegang sendok dengan erat. Pria itu tampan, tak bisa dipungkiri. Tapi ketampanannya tak disertai dengan gairah. Ia seperti patung yang hidup—indah untuk dipandang, tapi dingin untuk disentuh.
"Ratna, hari ini saya akan di masjid seharian. Ada persiapan Maulid Nabi," ucap Hadi, mengusap bibirnya dengan tisu.
Ratna mengangguk, berusaha menyembunyikan kegembiraan yang mendadak meledak di dadanya. Seharian. Hadi akan pergi seharian. Itu berarti ia akan sendirian lagi di rumah. Sendirian dengan Fadhli di seberang rumahnya.
"Baik, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Ratna, suaranya tenang.
Setelah Hadi pergi, Ratna membersihkan meja makan dengan gerakan yang lebih cepat dari biasanya. Ia mencuci piring, mengelap meja, dan menyapu lantai dengan efisiensi yang luar biasa, seolah sedang berlomba dengan waktu.
Saat semua pekerjaan rumah selesai, Ratna berdiri di depan jendela dapur. Ia menatap halaman belakang yang terik oleh sinar matahari pagi. Di seberang pagar, kontrakan Fadhli terlihat sepi. Pintu depan tertutup, jendela gelap. Mungkin pemuda itu masih tidur. Atau mungkin... mungkin pemuda itu sedang menunggunya.
Ratna menghela napas, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia mandi dengan sabun yang beraroma melati, menggosok tubuhnya hingga memerah, memastikan setiap inci kulitnya bersih dan harum. Ia memilih baju kurung berbahan sifon berwarna moccachino, yang cukup tipis untuk menampilkan lekuk tubuhnya jika terkena cahaya, namun cukup sopan untuk dilihat oleh tetangga yang mungkin lewat.
Saat ia selesai berdandan dan berjalan keluar kamar, ponselnya bergetar.
Ratna mengambil ponselnya, menatap layar yang menyala. Ada pesan dari Fadhli.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau terlihat sangat indah semalam, Nduk. Tubuhmu... Ya God. Kau membuatku tidak bisa tidur seharian.*
Ratna membaca pesan itu dengan jantung yang berdebar kencang. Fadhli melihatnya. Fadhli menontonnya. Fadhli menginginkannya.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna mengetik balasan.
*Kamu... kamu melihatku?*
Balasan datang dalam hitungan detik.
*Tentu saja. Kau pikir aku akan melewatkan pertunjukan yang kau berikan padaku? Kau berdiri di sana, telanjang, seperti dewi yang sedang menunggu disembah. Dan aku... aku menyembahmu semalam, Nduk. Berkali-kali.*
Kata-kata itu membuat wajah Ratna memerah padam. Ia membayangkan Fadhli duduk di teras kontrakannya, menatap tubuhnya yang telanjang melalui jendela yang terbuka, memegang kontolnya yang keras, membayangkan memeknya yang sedang dipamerkan untuknya.
*Fadhli... ini salah. Mas Hadi ada di rumah.*
Balasan datang lebih lama kali ini. Ratna menunggu dengan napas yang tertahan.
*Salah? Mungkin. Tapi kau melakukannya bukan? Kau membuka jendela itu bukan karena kebetulan. Kau membukanya karena kau ingin aku melihatmu. Kau ingin aku menginginkanmu. Dan kau berhasil, Nduk. Kau berhasil membuatku gila.*
Ratna menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Benar. Fadhli benar. Ia membuka jendela itu bukan karena lupa, bukan karena kebetulan. Ia membukanya karena ia ingin dilihat. Ia ingin dipuji. Ia ingin diinginkan.
*Lalu apa yang kamu lakukan setelah melihatku?* Ratna mengetik, jari-jarinya bergetar hebat. Ia tahu apa yang ingin ia tanyakan, dan ia tahu jawabannya akan membuatnya semakin gila.
Balasan Fadhli singkat dan sangat vulgar.
*Aku mengurus kebutuhanku, Nduk. Sambil membayangkan tubuhmu yang telanjang itu di atas ranjangku. Sambil membayangkan payudaramu yang besar di tanganku. Sambil membayangkan memekmu yang becek di mulutku. Sambil membayangkan kontolku yang sedang menghancurkanmu.*
Ratna mendesak keras, matanya terpejam. Tangannya turun ke pangkuannya, menyentuh baju kurungnya di atas kemaluannya. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari sana, kebecekannya yang mulai merembes membasahi celana dalamnya.
Ponselnya bergetar lagi.
*Dan kau? Apa yang kau lakukan setelah menutup jendela itu, Nduk? Apa kau kembali pada suamimu? Atau... apa kau juga mengurus kebutuhanmu sendiri sambil memikirkanku?*
Ratna menggigit bibir bawahnya. Ia ingin jujur. Ia ingin memberitahu Fadhli bahwa ia tidak mengurus kebutuhannya sendiri semalam—ia terlalu takut karena Hadi ada di kamar. Tapi ia juga ingin membuat Fadhli merasa bahwa ia sama rakusnya.
*Aku tidak bisa semalam. Mas Hadi ada di kamar. Tapi...* Ratna berhenti mengetik, mempertimbangkan kata-katanya. *Tapi memekku menangis sepanjang malam karena kamu.*
Balasan Fadhli datang dengan cepat.
*Menangis? Atau ngocor? Karena kalau ngocor, aku ingin melihatnya sendiri, Nduk. Sekarang. Keluar. Ke teras belakang. Kuas lihatmu.*
Ratna terkejut. Keluar? Sekarang? Hadi mungkin saja pulang lebih awal. Tetangga mungkin saja melihat. Tapi sekali lagi, tubuhnya menolak mendengarkan akal sehatnya. Dorongan untuk dilihat, untuk diinginkan, untuk dimiliki terlalu besar untuk ditolak.
Dengan langkah yang tertatih, Ratna berjalan menuju pintu belakang. Ia membukanya perlahan, melirik ke kanan dan kiri—halaman belakang kosong. Ia melangkah keluar, berjalan menuju teras belakang rumahnya.
Di seberang pagar, Fadhli sedang berdiri di teras kontrakannya. Pemuda itu memakai celana pendek dan kaus oblong putih, rambutnya masih berantakan, menandakan ia baru saja bangun. Ia memegang ponsel di tangannya, menatap Ratna dengan mata yang menyala.
Mereka berdiri di teras masing-masing, terpisahkan oleh jarak dua meter dan pagar besi, saling menatap dalam keheningan yang mencekam. Udara pagi terasa sejuk, tapi di antara mereka, ada panas yang tak bisa didinginkan oleh angin mana pun.
Fadhli mengangkat ponselnya, mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudian, ponsel Ratna bergetar.
*Kau datang. Kau selalu datang ketika aku memanggilmu, Nduk. Kau tahu apa artinya itu?*
Ratna menatap Fadhli dari seberang pagar, lalu mengetik balasan. *Artinya aku lelah menolakmu.*
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kemenangan. Ia mengetik lagi.
*Bagus. Karena aku lelah menunggumu. Sekarang, buka baju kurungmu. Biarkan aku melihat apa yang kau sembunyikan di dalamnya.*
Ratna menelan ludah. Membuka baju kurungnya? Di teras belakang? Di siang bolong? Itu gila. Itu sangat berbahaya. Tapi saat ia menatap mata Fadhli yang menuntut itu, saat ia mengingat kata-kata pemuda itu—*Kau selalu datang ketika aku memanggilmu*—Ratna tahu ia tidak bisa menolak.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna membuka kancing baju kurungnya satu per satu. Ia melakukannya dengan gerakan yang lambat, seperti sedang melakukan striptease untuk penonton tunggalnya. Saat kancing terakhir terbuka, baju kurung itu terkuak, memperlihatkan bra push-up berwarna cokelat yang menyangga payudaranya yang besar dan berat.
Fadhli mendesak keras dari seberang pagar. Matanya terpaku pada payudara Ratna yang hampir meluber dari bra itu. Ia mengetik dengan cepat.
*Ya God... kau sangat indah. Sekarang, buka bra itu. Biarkan aku melihat putingmu yang membuatku gila semalam.*
Ratna menarik napas panjang. Ia meraih kait bra di belakang punggungnya, membukanya dengan gerakan yang lambat. Bra itu jatuh ke lantai, membebaskan payudaranya yang megah itu. Payudara itu melontar keluar, menggantung dengan bangga, dengan puting yang merah muda dan tegang keras, siap untuk dimakan.
Fadhli mengeluarkan umpatan yang tak terdengar dari seberang pagar. Ia memegang pangkal celana pendeknya, menggeser posisinya yang jelas sedang tidak nyaman karena kontolnya yang mengeras.
Ponsel Ratna bergetar.
*Sekarang, angkat rokmu. Biarkan aku melihat memekmu yang sedang menangis karena aku.*
Ratna merasa wajahnya terbakar, tapi ia tidak berhenti. Ia meraih rok panjangnya, mengangkatnya perlahan hingga di atas pinggang, memperlihatkan paha-pahanya yang putih dan montok, dan celana dalam renda cokelat yang tipis, yang sudah basah oleh cairan yang mengalir deras dari memeknya.
Ia menarik kain celana dalam itu ke samping, memperlihatkan memeknya yang botak, merah muda, dan sangat becek kepada Fadhli dari seberang pagar.
Fadhli mendengam, tangannya segera memasuki celana pendeknya, memegang kontolnya yang sudah sangat keras. Ia mulai memompa dirinya sendiri sambil menatap memek Ratna yang sedang dipamerkan untuknya.
Ratna menatap Fadhli yang sedang memegang kontolnya di seberang pagar. Pemandangan itu membuatnya semakin gila. Ia ingin meraih kontol itu, ingin memasukkannya ke dalam mulutnya, ingin merasakannya kembali di dalam liangnya yang sedang menangis.
Tanpa disadari, tangannya turun ke kemaluannya sendiri, mulai memijit klitorisnya sementara Fadhli memompa kontolnya dari jarak dua meter. Mereka saling menatap, saling memamerkan bagian paling intim mereka, saling memberikan pertunjukan yang paling cabul dan paling memuaskan.
Squelch... squelch... squelch...
Suara basah dari kemaluan Ratna bergema di teras yang sepi, bercampur dengan suara pernafasan yang memburu. Fadhli memompa lebih cepat, matanya terpaku pada memek Ratna yang becek dan berkedut-kedut.
Ponsel Ratna bergetar lagi. Ia melirik layar dengan mata yang sayu.
*Masuk ke dalam. Sekarang. Aku tidak tahan lagi. Aku ingin merasakanmu.*
Ratna menggigit bibirnya, ragu. Hadi bisa saja pulang tiba-tiba. Tetangga bisa saja melihat. Tapi saat ia menatap Fadhli yang sedang memegang kontolnya dengan rakus, saat ia merasakan kebecekannya yang sudah tak tertahankan lagi, Ratna tahu ia harus melakukannya.
Ia merapikan pakaiannya dengan cepat, lalu berjalan menuju pagar pembatas. Fadhli juga bergerak, bertemu di tengah, di ambang pintu pagar.
Fadhli membuka pagar itu, menarik tangan Ratna, dan menyeret perempuan itu masuk ke dalam kontrakannya. Pintu pagar ditutup, dikunci, dan dalam hitungan detik, Ratna didorong hingga punggungnya menempel di dinding ruang tamu Fadhli.
Bibir Fadhli menempel di bibir Ratna, menciumnya dengan gairah yang meledak-ledak. Tangannya merobek baju kurung Ratna yang sudah terbuka, membuang bra yang sudah terlepas, dan memegang payudara perempuan itu dengan kasar.
"Kau... kau membuatku gila, Nduk," desis Fadhli di sela-sela ciuman, suaranya serak oleh nafsu. "Kau berdiri di sana, memamerkan memekmu padaku... kau tahu apa yang kau lakukan padaku?"
Ratna tidak menjawab. Ia hanya bisa mendesah, membalas ciuman Fadhli dengan gairah yang sama, merasakan kontol pemuda itu yang keras menekan perutnya melalui kain celana pendeknya.
Fadhli menarik rok Ratna ke atas, memperlihatkan paha dan celana dalam yang sudah basah itu. Ia menarik kain tipis itu ke samping, memperlihatkan memek Ratna yang becek dan berkedut-kedut, lalu membuka celana pendeknya sendiri, membebaskan kontolnya yang sudah mengeras penuh.
Tanpa foreplay, tanpa persiapan, Fadhli mengangkat satu kaki Ratna, membuka ruang bagi kontolnya, dan mendorong masuk ke dalam liang perempuan itu dengan satu hentakan yang kuat.
"Ah!" Ratna menjerit, punggungnya mendekam di dinding, payudaranya bergoyang hebat mengikuti hentakan itu. Liangnya yang sudah sangat basah dan licin menyambut kontol Fadhli dengan rakus, menelan batang yang besar itu hingga tak tersisa.
Fadhli memompa Ratna dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, menghantam serviks perempuan itu dengan setiap dorongan. Suara basah dan licin itu bergema di ruangan yang kecil—squelch! squelch! squelch!—bercampur dengan suara kulit yang beradu—plak! plak! plak!—dan desahan yang tak tertahankan.
"Ratna! Kau suka ini, kan? Kau suka dikawini di siang bolong sementara suanimu ada di masjid, kan?" Fadhli mendesah, matanya menatap wajah Ratna yang sedang terbuai oleh kenikmatan.
"Iya! Ah! Iya! Aku suka dikawini olehmu! Aku suka kontolmu! Ah! Jangan berhenti!" Ratna berteriak, kata-kata kotor itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia tidak peduli pada dosanya, tidak peduli pada neraka, tidak peduli pada suaminya. Ia hanya peduli pada kontol Fadhli yang sedang membelah rahimnya, memberinya kenikmatan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Mereka bercinta di ruang tamu kontrakan itu—berdiri, bersandar di dinding, dengan Fadhli yang memompa Ratna dari depan sementara tangan memegang pinggul perempuan itu dengan kuat. Setiap hentakan membuat tubuh Ratna terangkat, payudaranya bergoyang, dan suara basah semakin keras.
Dan saat Fadhli akhirnya menyemburkan pejunya ke dalam rahim Ratna, saat Ratna mencapai puncak kenikmatan dengan jeritan yang tak tertahankan, mereka berdua tahu bahwa ini baru permulaan.
Karena jendela yang tidak ditutup itu telah membuka pintu bagi dosa-dosa yang lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih memuaskan.
Dan Ratna siap untuk melangkah masuk melalui pintu itu, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
Siang itu, setelah Fadhli membuang pejunya yang ketiga kalinya ke dalam rahim Ratna, perempuan itu berbaring lemas di atas karpet ruang tamu kontrakan pemuda itu. Baju kurungnya terbuka lebar, roknya tergulung di pinggang, payudaranya yang megah bertelanjangan dengan puting yang merah dan bengkak karena hisapan Fadhli, dan memeknya yang becek masih meneteskan campuran cairan mereka yang mengalir membasahi lipatan pantatnya.
Fadhli duduk di sampingnya, merokok dengan tatapan yang puas. Ia menatap tubuh Ratna yang terbentang di bawahnya—tubuh yang beberapa jam lalu berdiri di teras rumahnya, memamerkan dirinya dengan penuh keberanian. "Kau tahu apa yang paling membuatku terkejut hari ini, Nduk?" tanya Fadhli, menghembuskan asap ke udara.
Ratna menoleh, matanya sayu. "Apa?"
"Kau," jawab Fadhli singkat. Ia mematikan rokoknya di atas lantai, lalu memiringkan tubuhnya, menatap Ratna lebih dekat. "Kau yang berdiri di teras rumahmu, membuka baju kurungmu, menunjukkan memekmu padaku, sementara suamimu ada di masjid. Kau bukan perempuan biasa, Nduk. Kau... kau jauh lebih liar dari yang aku bayangkan."
Ratna menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah karena malu dan gairah yang masih tersisa. "Aku... aku tidak tahu apa yang ada di kepalaku. Saat kau menyuruhku membuka baju kurungku, aku tidak bisa menolak. Aku tidak ingin menolak."
Fadhli tersenyum, lalu meraih dagu Ratna, memiringkan wajah perempuan itu agar menatapnya. "Kau tidak ingin menolak karena kau menyukainya. Kau menyukai dilihat. Kau menyukai diinginkan. Kau menyukai perasaan bahwa ada mata yang sedang menelanjangimu, bukan?"
Ratna menunduk, tak sanggup menatap mata Fadhli yang terlalu tajam. Tapi Fadhli tidak membiarkannya bersembunyi. Ia mengangkat wajah Ratna, memaksanya untuk menatapnya.
"Jangan sembunyi dariku, Nduk. Kau sudah memamerkan tubuhmu padaku. Kau sudah membiarkanku menghancurkan memekmu di siang bolong. Kau tidak punya rahasia lagi dariku. Jadi, jujurlah."
Ratna menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Iya," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku menyukainya. Aku menyukai saat kau menatapku. Aku menyukai saat kau melihat tubuhku. Aku menyukai saat kau menginginkanku. Karena... karena suamiku tidak pernah melihatku seperti itu."
Fadhli mendesah, lalu mencium bibir Ratna dengan lembut—sebuah kontras dari kebrutalan yang baru saja ia lakukan pada tubuh perempuan itu. "Maka mulai sekarang, aku akan terus melihatmu. Aku akan terus menginginkanmu. Dan aku akan terus menghancurkanmu, setiap kali aku punya kesempatan."
Ia berdiri, mengambil handuk dari sofa, dan mengusap tubuh Ratna dengan gerakan yang lembut. Ia membersihkan cairan yang menempel di paha dan memek perempuan itu, lalu membantu Ratna berpakaian kembali.
"Pulanglah sekarang, Nduk," kata Fadhli, suaranya kembali tegas. "Sebelum suamimu pulang. Kau sudah menghabiskan hampir dua jam di sini."
Ratna terkejut. Dua jam? Sudah dua jam sejak ia keluar rumah? Ia segera berdiri, merapikan pakaiannya dengan tangan yang gemetar, lalu berjalan menuju pintu belakang kontrakan.
Saat ia membuka pintu, Fadhli memegang lengannya. "Nduk," panggilnya.
Ratna menoleh.
"Malam ini, biarkan jendela kamar mandimu terbuka lagi. Aku ingin melihatmu mandi. Aku ingin melihat air mengalir di tubuhmu. Aku ingin melihatmu menyentuh dirimu sendiri sambil memikirkanku."
Ratna menatap Fadhli, lalu mengangguk perlahan. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak ingin menolak.
Ia berjalan melintasi halaman belakang yang terik, memasuki rumahnya, dan mengunci pintu. Saat ia berdiri di ruang tamu, ia mencium aromanya sendiri—aroma seks, aroma Fadhli, aroma dosa. Ia segera berlari ke kamar mandi, mandi dengan air dingin, dan mengenakan baju bersih.
Sore harinya, saat Hadi pulang dari masjid, Ratna menyambutnya dengan senyum yang ia usahakan senormal mungkin. Ia menyajikan makan malam, mengobrol tentang hal-hal biasa, dan berusaha menyembunyikan kelelahan di tubuhnya—kelelahan yang bukan karena pekerjaan rumah, melainkan karena telah dikawini tiga kali oleh pemuda di seberang rumahnya.
Malam itu, setelah Hadi tertidur, Ratna berjalan menuju kamar mandi. Ia membuka jendela kamar mandi sedikit, membiarkan celah kecil yang memungkinkan seseorang dari luar untuk melihat ke dalam. Lalu, ia membuka shower dan mulai mandi.
Saat air hangat mengalir di tubuhnya, Ratna memejamkan mata. Ia membayangkan Fadhli sedang berdiri di luar jendela, menatapnya melalui celah yang ia buat. Ia membayangkan mata pemuda itu menyusuri setiap inci kulitnya—leher yang putih, payudara yang besar dan berat, perut yang rata, pinggul yang lebar, dan memek yang mulai memanas kembali.
Tangannya yang berbusa mulai bergerak lebih lambat, lebih sensual. Ia mengusap payudaranya dengan gerakan yang melingkar, memutar putingnya yang tegang, lalu turun ke perutnya. Saat tangannya mencapai kemaluannya, Ratna mendesah pelan.
Ia memijit klitorisnya yang mulai bengkak, memasukkan jarinya ke dalam liangnya yang mulai basah, membayangkan itu adalah kontol Fadhli yang sedang merobeknya.
"Fadhli..." Ratna mendesah, suaranya tertahan di tenggorokan. Ia memompa dirinya sendiri dengan ritme yang semakin cepat, sementara air shower terus mengalir di tubuhnya yang telanjang.
Dan di luar jendela, di kegelapan halaman belakang, Ratna bisa melihat kepulan asap rokok yang mengepul di udara. Fadhli ada di sana. Fadhli sedang menontonnya. Fadhli sedang melihatnya menyentuh dirinya sendiri sambil memanggil nama pemuda itu.
Bayangan itu membawa Ratna ke puncak kenikmatan dengan cepat. Ia menekan bibirnya ke lengan, menahan jeritan yang terancam lolos, sementara tubuhnya berkontraksi hebat, memeras jari-jarinya sendiri, membanjiri telapak tangannya dengan cairan yang pekat.
Saat orgasmenya reda, Ratna membuka mata dan melihat ke luar jendela. Asap rokok Fadhli sudah tidak terlihat lagi. Pemuda itu mungkin sudah masuk ke dalam rumah, atau mungkin sedang mengurus kebutuhannya sendiri setelah menonton pertunjukan yang Ratna berikan.
Ratna mematikan shower, mengeringkan tubuhnya, dan berjalan keluar kamar mandi. Ia membiarkan jendela itu sedikit terbuka, memberikan jalan bagi dosa-dosa yang akan datang.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama—Ratna menjalani rutinitasnya sebagai isteri ustadz di siang hari, dan menjadi pertunjukan bagi Fadhli di malam hari. Setiap kali Hadi tertidur, Ratna akan membuka jendela kamar mandinya, berdiri telanjang di bawah cahaya lampu, dan memberikan pertunjukan yang semakin lama semakin berani.
Kadang ia hanya berdiri di depan jendela, membiarkan Fadhli melihat tubuhnya. Kadang ia menyentuh dirinya sendiri, memamerkan cara ia memuaskan memeknya yang kelaparan. Dan kadang, ia membawa dildo kecil yang ia beli secara diam-diam, memasukkannya ke dalam liangnya sementara Fadhli menonton dari luar.
Setiap pertunjukan itu selalu diakhiri dengan pesan dari Fadhli—pesan yang penuh pujian, penuh gairah, dan penuh keinginan. Dan setiap pesan itu membuat Ratna semakin kecanduan, semakin rakus, semakin tidak bisa berhenti.
Suatu malam, sekitar seminggu setelah Hadi pulang dari perjalanannya, Ratna menerima pesan yang berbeda dari Fadhli.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Nduk, aku tidak puas hanya menonton. Aku ingin merasakanmu lagi. Besok siang, setelah suamimu pergi ke masjid, aku akan datang ke rumahmu. Siapkan dirimu.*
Ratna membaca pesan itu dengan jantung yang berdebar kencang. Fadhli akan datang ke rumahnya? Lagi? Setelah kejadian di ruang tamu beberapa hari lalu, Ratna berpikir bahwa mereka akan berhenti bercinta di rumahnya karena terlalu berbahaya. Tapi Fadhli ingin datang lagi. Dan Ratna tahu, ia tidak bisa menolak.
*Baik,* balas Ratna, jari-jarinya bergetar. *Aku akan menunggumu.*
Malam itu, Ratna tidak bisa tidur. Ia berbaring di samping Hadi, mendengarkan dengkuran suaminya yang monoton, sementara pikirannya dipenuhi oleh bayangan Fadhli yang akan datang besok.
Ia membayangkan Fadhli masuk ke rumahnya, menutup pintu, lalu menggagahinya di ruang tamu. Atau mungkin di dapur. Atau mungkin... di ranjang suaminya.
Bayangan itu membuat Ratna semakin tidak bisa bernapas. Ia merasa seperti seekor binatang yang sedang menunggu untuk dikawini, meski ia tahu itu salah, meski ia tahu itu berbahaya.
Keesokan harinya, setelah Hadi berangkat ke masjid sekitar pukul delapan pagi, Ratna segera bersiap-siap. Ia mandi, mengenakan baju kurung berbahan tipis, dan memastikan rumahnya terkunci rapat.
Ia duduk di ruang tamu, menunggu. Jantungnya berdebar kencang, napasnya memburu, dan memeknya sudah sangat basah hingga celana dalamnya mulai lembap.
Pukul sembilan, terdengar ketukan lembut di pintu belakang.
Ratna berjalan menuju pintu, membukanya perlahan, dan menemui Fadhli yang sedang berdiri di teras dengan senyum yang penuh janji.
"Assalamu'alaikum, Nduk," sapa Fadhli, suaranya rendah dan berat.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ratna, suaranya serak. Ia meminggirkan badan, memberikan jalan pada pemuda itu.
Fadhli melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya. Ia menatap Ratna dari atas ke bawah, matanya menyala saat melihat baju kurung tipis yang dikenakan perempuan itu.
"Kau sudah siap untukku, kan, Nduk?" bisik Fadhli, memajukan wajahnya, mencium bibir Ratna dengan lembut.
Ratna menutup matanya, menyerah pada ciuman itu. Ia tahu, ini adalah awal dari dosa yang lain, dosa yang lebih besar, dosa yang lebih berbahaya.
Tapi ia tidak peduli. Karena dosa ini adalah dosa yang paling manis yang pernah ia rasakan.
Dan ia siap untuk merasakannya lagi, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
Fadhli memecah ciuman itu, menatap Ratna dengan mata yang gelap oleh nafsu. Tangannya meraih pinggang perempuan itu, menariknya hingga tubuh mereka menempel rapat. Ratna bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Fadhli, bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang, dan bisa merasakan tonjolan keras di balik celana jeans pemuda itu menekan perutnya.
"Kau tahu berapa lama aku menunggu momen ini, Nduk?" bisik Fadhli, bibirnya menyentuh daun telinga Ratna, membuat bulu kuduk perempuan itu meremang. "Setiap malam, setelah menonton pertunjukanmu di jendela, aku berbaring di ranjangku, memegang kontolku, membayangkan tubuhmu yang telanjang di atasku. Dan sekarang... sekarang kau ada di sini, berdiri di depanku, siap untukku."
Ratna mendesah, tangannya meraih dada Fadhli yang kekar di balik kemeja hitamnya. Ia bisa merasakan otot-otot yang keras di bawah telapak tangannya, bisa merasakan nafsu yang membara di balik sentuhan itu.
"Fadhli... kita tidak bisa lama-lama. Mas Hadi bisa pulang kapan saja," bisik Ratna, suaranya serak oleh gairah yang memuncak.
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kekuasaan. Ia menarik tangan Ratna, menuntun perempuan itu berjalan melewati ruang tamu, menuju tangga yang mengarah ke lantai dua.
"Kalau kita tidak bisa lama-lama, maka kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya," jawab Fadhli, suaranya rendah dan menantang. "Dan aku tidak ingin melakukannya di ruang tamu lagi. Kali ini... kali ini aku ingin melakukannya di tempat yang lebih intim."
Ratna menelan ludah, menatap tangga yang mengarah ke kamar tidurnya—kamar tidur yang ia bagikan dengan Hadi. Kamar tidur di mana ia berbaring sendirian selama bertahun-tahun, menangis karena kesepian, dan merangsang dirinya sendiri sambil membayangkan pria yang sedang berdiri di depannya saat ini.
Kamar tidur di mana ia harus kembali berbaring nanti malam, di samping suaminya yang dingin, dengan memek yang masih berisi peju pemuda ini.
"Fadhli... di sana... di sana tempat tidur suamiku," bisik Ratna, suaranya gemetar, bukan karena penolakan, melainkan karena antisipasi yang luar biasa.
Fadhli mendengam, matanya menyala dengan api yang lebih besar. Ia memegang tangan Ratna lebih erat, lalu menarik perempuan itu naik ke tangga.
"Bagus. Aku ingin menggagahi kau di tempat tidur suamimu. Aku ingin membiarkan pejuku mengalir di atas sprei yang kau tiduri setiap malam. Aku ingin kau mengingatku setiap kali kau berbaring di sana, setiap kali suamimu menyentuhmu, setiap kali kau membuka mata di pagi hari."
Kata-kata itu adalah racun yang paling memabukkan. Ratna membiarkan dirinya ditarik, melangkah naik satu tangga demi satu tangga, menuju ruang yang selama ini menjadi saksi kesepiannya.
Saat mereka tiba di depan pintu kamar tidur, Ratna berhenti. Tangannya memegang gagang pintu, merasakan dinginnya logam di telapak tangannya. Ia menoleh ke arah Fadhli, menatap pemuda itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ini... ini adalah dosa yang paling besar, Fadhli," bisik Ratna, suaranya retak. "Jika Mas Hadi tahu... jika ada yang tahu..."
"Tidak ada yang tahu, Nduk," potong Fadhli, suaranya tenang namun penuh tekad. "Hanya aku dan kau. Hanya kita yang tahu apa yang terjadi di dalam kamar ini. Dan aku tidak akan memberitahu siapa pun. Karena kau milikku. Dan aku tidak membagikan milikku dengan siapa pun."
Fadhli meraih tangan Ratna yang memegang gagang pintu, membantunya memutar gagang itu. Pintu terbuka, memperlihatkan interior kamar tidur yang rapi dan tertata—sebuah ranjang queen size dengan sprei putih yang bersih, dua bantal yang tertata rapi, dan sebuah selimut yang terlipat di ujung ranjang.
Kamar yang sangat bersih, sangat suci, sangat membosankan.
Tapi tidak untuk lama.
Fadhli mendorong pintu hingga terbuka lebar, lalu menarik Ratna masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu menatap perempuan itu dengan tatapan yang menelanjangi.
"Buka baju kurungmu," perintah Fadhli, suaranya rendah dan penuh kekuasaan. "Buka di sini, di depanku. Biarkan aku melihat tubuhmu di bawah cahaya matahari yang masuk melalui jendela ini."
Ratna menelan ludah, lalu perlahan membuka kancing baju kurungnya. Ia melakukannya dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, menikmati setiap detik dari pertunjukan yang ia berikan. Saat kancing terakhir terbuka, baju kurung itu terkuak, memperlihatkan bra renda hitam yang menyangga payudaranya yang besar dan berat.
Fadhli mendesak keras, matanya terpaku pada payudara Ratna yang hampir meluber dari bra itu. Ia memajukan langkahnya, mendekati Ratna, lalu meraih bra itu, menariknya ke bawah hingga terjatuh ke lantai.
Payudara Ratna melontar keluar, menggantung megah di bawah cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Putingnya yang merah muda dan tegang keras terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih, seolah sedang mengundang siapa pun yang melihat untuk memakannya.
"Ya God..." Fadhli mengeluarkan umpatan pelan, tangannya langsung meraih payudara Ratna, meremasnya dengan kasar. "Kau sangat sempurna, Nduk. Kau tidak pantas disembunyikan di balik baju kurung yang longgar itu. Kau pantas dipajang, dipuji, dan dimakan setiap hari."
Ratna mendesah, kepalanya mendongak, matanya terpejam, menikmati remasan tangan Fadhli di payudaranya. Ia merasakan panas yang menjalar dari payudaranya ke perutnya, lalu turun ke selangkangannya, membuat memeknya kembali mengeluarkan cairan yang deras.
Fadhli menunduk, memasukkan puting Ratna ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan keras sementara tangannya yang lain turun ke rok perempuan itu. Ia membuka kancing rok, membiarkannya jatuh ke lantai, lalu meraih celana dalam renda hitam yang tipis dan basah itu.
Ia menarik kain tipis itu ke bawah, membebaskan memek Ratna yang botak, merah muda, dan sangat becek. Cairan sudah mengalir deras dari liangnya, membasahi paha bagian dalam yang putih dan mulus.
Fadhli melepas celana dalam itu dari kaki Ratna, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya—sebuah tindakan yang sangat memiliki, seolah ia ingin menyimpan bagian paling intim dari perempuan itu untuk dirinya sendiri.
"Naik ke ranjang," perintah Fadhli, suaranya serak oleh nafsu.
Ratna berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya, lalu berbaring perlahan di atas sprei putih yang bersih. Ia menatap Fadhli yang sedang membuka kemeja hitamnya, memperlihatkan dada yang bidang dan berotot, perut yang rata dan keras, dan kulit sawo matang yang berkilat oleh keringat.
Lalu, Fadhli membuka celana jeansnya, membebaskan kontolnya yang sudah sangat keras dan besar.
Ratna menelan ludah saat melihat kontol itu. Meski sudah merasakannya berkali-kali, ukurannya masih membuatnya takjub—panjang, tebal, dan sangat keras, dengan urat-urat hijau yang menonjol di sepanjang batangnya, dan kepala yang besar dan merah muda, mengkilap oleh cairan pra-ejakulasi.
Fadhli naik ke atas ranjang, berlutut di antara dua paha Ratna yang terbuka lebar. Ia menatap memek perempuan itu yang terpampang di depannya—memek yang sudah basah becek, berkedut-kedut menantikannya, dengan klitoris yang bengkak dan liang yang sudah siap untuk disodok.
"Ini tempat tidur suamimu, Nduk," bisik Fadhli, matanya menatap mata Ratna. "Tempat di mana ia seharusnya menggagahi kau setiap malam. Tempat di mana ia seharusnya membuatmu menjerit namanya. Tapi ia tidak pernah melakukannya, kan? Ia tidak pernah membuatmu merasakan apa yang sedang kau rasakan sekarang."
Ratna menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir pelan di pipinya. "Tidak... ia tidak pernah..."
Fadhli mendengam, lalu memasukkan kontolnya ke dalam liang Ratna dengan satu dorongan yang kuat.
"Ah!" Ratna menjerit, punggungnya melengkung, payudaranya bergoyang hebat. Liangnya yang sudah sangat basah menyambut kontol Fadhli dengan rakus, menelan batang yang besar itu hingga akar, mengisapnya, meremasnya, seolah tak ingin melepaskannya.
Fadhli memompa Ratna dengan ritme yang stabil, menarik dan mendorong kontolnya dari liang perempuan itu dengan gerakan yang penuh kekuasaan. Setiap hentakan menciptakan suara basah yang keras—squelch! squelch! squelch!—bercampur dengan suara kulit yang beradu—plak! plak! plak!—dan desahan yang tak tertahankan.
"Ratna... kau suka dikawini di ranjang suamimu, kan?" Fadhli mendesah, matanya menatap wajah Ratna yang sedang terbuai oleh kenikmatan. "Kau suka kontolku merobek memekmu di tempat di mana suamimu tidur setiap malam, kan?"
"Iya! Ah! Iya! Aku suka! Aku suka kontolmu di dalam memekku! Ah! Jangan berhenti!" Ratna berteriak, kata-kata kotor itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia tidak peduli pada dosanya, tidak peduli pada neraka, tidak peduli pada suaminya. Ia hanya peduli pada kontol Fadhli yang sedang membelah rahimnya, memberinya kenikmatan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Fadhli memompa lebih cepat, lebih keras, lebih dalam. Ranjang di bawah mereka berderit keras, seolah protes karena digunakan untuk aktivitas yang tak pernah ia bayangkan. Sprei putih yang bersih mulai basah oleh keringat dan cairan yang mengalir dari tubuh mereka.
"Ratna... aku mau keluar!" Fadhli mendengam, pinggulnya bergerak sangat cepat, sangat tidak terkendali.
"Keluarlah! Keluarkan semuanya di dalam memekku! Panaskan rahimku! Ah! Ya!" Ratna berteriak, tubuhnya berkontraksi hebat, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Fadhli meraung, memegang bahu Ratna, dan mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam liang perempuan itu. Tubuhnya menegang, otot-ototnya berkontraksi, lalu ia meledak.
Aliran panas yang sangat kuat menyembur dari ujung kontol Fadhli, menembus serviks Ratna, membanjiri rahimnya yang sudah penuh. Panasnya luar biasa, banyaknya luar biasa, seolah pemuda itu sedang menuangkan seluruh jiwa dan raganya ke dalam tubuh Ratna.
Sensasi itu membawa Ratna ke puncak kenikmatan sekali lagi. Ia menjerit nama Fadhli, tubuhnya berkontraksi liar, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Mereka jatuh ke ranjang secara perlahan, tubuh mereka terpisah, meninggalkan jejak cairan yang bercampur—cairan Ratna yang jernih dan peju Fadhli yang putih dan kental—mengalir dari memek Ratna yang masih berkedut-kedut, membasahi sprei putih yang sudah kuyup oleh keringat dan cairan.
Fadhli memeluk Ratna dari belakang, menarik napas yang berat dan cepat. Kulit mereka saling menempel, keringat bercampur menjadi satu, aroma seks yang pekat memenuhi kamar yang biasanya dipenuhi aroma attar dan kitab suci.
"Ini bukan yang terakhir, Nduk," bisik Fadhli di telinga Ratna, suaranya lelah namun penuh tekad. "Aku akan terus datang ke kamar ini, setiap kali suamimu pergi. Aku akan terus menggagahi kau di ranjang ini, sampai kau tidak bisa lagi membedakan mana kontolku dan mana kontol suamimu."
Ratna tidak menjawab. Ia hanya bisa terbaring di pelukan Fadhli, di atas ranjang suaminya, dengan memek yang penuh oleh peju pemuda itu, dan hati yang penuh oleh dosa yang tak bisa dimaafkan.
Tapi saat ia memejamkan mata, saat ia merasakan kehangatan dari pelukan Fadhli, saat ia mencium aroma seks yang memenuhi kamar ini... Ratna tersenyum.
Karena ia tahu, mulai saat ini, ranjang ini bukan lagi tempat di mana ia menangis karena kesepian. Ranjang ini adalah tempat di mana ia merasakan kenikmatan yang paling besar, dosa yang paling manis, dan pengkhianatan yang paling memuaskan.
Dan ia siap untuk merasakannya lagi, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
Karena Ratna sudah menjadi tawanan Fadhli. Tubuh, jiwa, dan memeknya. Semuanya milik pemuda itu. Dan ia tidak ingin dibebaskan.
Ia ingin tetap menjadi tawanan dosa yang paling indah ini.
Selamanya.
Fadhli berdiri dari ranjang, tubuhnya yang kekar berkilat oleh lapisan keringat tipis. Ia mengenakan celana jeansnya dengan gerakan yang santai, membiarkan kontolnya yang baru saja menghancurkan Ratna tergantung bebas sejenak sebelum ditutupi oleh kain denim yang kasar. Ratna masih terbaring di atas ranjang, kakinya terbuka, memeknya yang merah dan bengkak masih mengeluarkan aliran pelan cairan their yang bercampur—peju Fadhli yang putih dan kental membludak keluar dari liangnya yang tak mampu menahan semuanya, membasahi sprei putih yang kini menyerupai kanvas yang telah dicorat-coreti oleh dosa.
"Pulanglah kau, Nduk. Kuatir suamimu pulang dan mencium sesuatu yang tidak seharusnya," bisik Fadhli, menunduk untuk mencium dahi Ratna sekali lagi. "Aku punya urusan di luar siang ini."
Ratna mengangguk lemah. Ia bangkit dengan kaki yang masih tremor, meraih bra dan baju kurungnya yang berserakan di lantai. Saat ia berjalan menuju pintu, Fadhli memegang lengannya.
"Satu hal lagi, Nduk," bisik Fadhli, matanya menyipit menatap pangkal paha Ratna yang basah. "Jangan bersihkan memekmu. Biarkan pejuku ada di sana seharian. Biarkan kau merasakanku setiap kali kau berjalan, setiap kali kau duduk, setiap kali kau bernapas."
Ratna menelan ludah, wajahnya memerah. "Tapi... Mas Hadi..."
"Justru karena dia," potong Fadhli, senyum merendahnya kembali menghiasi bibirnya. "Aku ingin kau berbohong padanya dengan tubuhku di dalam dirimu."
Kata-kata itu menempel di kepala Ratna seperti cap panas. Ia melangkah keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah yang tertatih, meninggalkan Fadhli yang berdiri di atas, menatapnya dengan tatapan yang menguasai.
Saat tiba di lantai bawah, Ratna segera berlari ke kamar mandi. Ia tidak membersihkan memeknya—ia menuruti perintah Fadhli. Ia hanya membasuh paha dan kakinya yang kotor oleh cairan yang menetes, lalu mengenakan celana dalam yang baru. Sensasi licin dan hangat di liangnya membuatnya merasa cabul sekaligus diuasai.
Kemudian, Ratna menuju kamar tidur utama. Ia menatap ranjang itu. Sprei putih yang biasanya bersih kini memiliki noda gelap di tengahnya—bukti persetubuhan yang baru saja terjadi. Ratna membuang napas panjang, lalu menarik sprei itu dan menggantinya dengan yang baru dengan gerakan cepat. Ia menyemprotkan pewangi ruangan beraroma melati, berusaha mengusir bau keringat, seks, dan peju yang masih menguar di udara.
Saat ia selesai merapikan kamar, terdengar suara knalpot mobil di halaman depan. Hadi pulang.
Ratna berlari ke ruang tamu, duduk di sofa dengan wajah yang ia usahakan tenang. Pintu depan terbuka, dan Hadi melangkah masuk dengan wajah yang lelah.
"Assalamu'alaikum. Saya pulang," sapa Hadi, meletakkan tasnya di meja.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Kok cepat sekali?" tanya Ratna, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Jadwal diubah. Ada rapat lagi besok pagi," jawab Hadi singkat. Ia melewati Ratna tanpa sentuhan, berjalan menuju kamar mandi. "Saya mandi dulu."
Ratna duduk sendirian di ruang tamu, jantungnya berdebar kencang. Hadi ada di rumah. Dan di dalam rahimnya, peju Fadhli masih mengeram, menunggu untuk diserap atau menetes perlahan saat ia berjalan.
Sore itu, saat mereka makan malam, Ratna merasa seperti sedang memainkan peran dalam drama yang sangat absurd. Ia duduk di seberang meja dari suaminya, mengunyah makanan dengan mulut yang terasa kering, sementara di bawah meja, di balik rok panjangnya, memeknya yang masih bengkak terasa sangat sensitif. Setiap kali ia bergeser, ia bisa merasakan cairan Fadhli yang tersisa bergerak di dalam liangnya, mengingatkannya pada hentakan kontol pemuda itu beberapa jam lalu.
"Ratna, kenapa kau gelisah? Kau terus bergeser," tegur Hadi, menatap isterinya dengan mata yang tajam.
Ratna tersentak, wajahnya memerah. "Tidak, Mas. Mungkin... mungkin saya kelelahan hari ini. Banyak kerjaan di rumah."
Hadi hanya mendengus, lalu kembali makan. Ia tidak memperhatikan bahwa isterinya sedang duduk dengan memek yang masih dipenuhi peju pria lain. Ia tidak memperhatikan bahwa wajah Ratna memerah bukan karena kelelahan, melainkan karena gairah yang tak sepenuhnya mereda. Ia tidak memperhatikan apa pun.
Malam itu, setelah shalat isya, mereka menuju kamar tidur. Ratna merasa napasnya tercekat saat memasuki ruangan itu. Sprei sudah diganti, aroma pewangi sudah menyelimuti, tapi Ratna masih bisa mencium bau dosa di udara—bau yang tak bisa dihilangkan oleh semprotan apapun.
Hadi duduk di tepi ranjang, membuka kemejanya, lalu berbaring dengan punggung menghadap Ratna. Seperti biasa, pria itu langsung memejamkan mata, bersiap untuk tidur.
Ratna berbaring di samping suaminya, menatap langit-langit yang gelap. Ia menunggu. Menunggu Hadi mendengkur. Menunggu kesempatan untuk memberikan pertunjukan pada Fadhli, seperti biasanya.
Tapi malam itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
"Ratna," panggil Hadi tiba-tiba, suaranya terdengar berat di dalam kegelapan.
Ratna tersentak, jantungnya melonjak. "Ya, Mas?"
Hadi memutar tubuhnya, menghadap Ratna. Matanya terbuka, dan di dalam gelap, Ratna bisa melihat sesuatu yang jarang ia lihat dari suaminya—sebuah keraguan, atau mungkin... keinginan.
"Sudah lama sekali kita tidak... bermesraan," ucap Hadi, suaranya terdengar canggung.
Ratna membeku. Jantungnya berdebar sangat keras hingga terasa berdentang di telinganya. Hadi ingin bermesraan? Sekarang? Setelah ia baru saja dikawini oleh Fadhli di ranjang ini? Setelah rahimnya masih penuh oleh peju pemuda itu?
"Mas... Mas Hadi tidak kelelahan?" tanya Ratna, suaranya serak.
Hadi menghela napas, lalu mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Ratna di atas selimut. Sentuhan itu dingin, kaku, sangat berbeda dari sentuhan Fadhli yang selalu panas dan memiliki.
"Saya mencoba," jawab Hadi. "Karena... karena kita suami istri. Karena itu kewajiban kita."
Kewajiban. Kata itu menampar Ratna. Sekali lagi, Hadi menyebutnya kewajiban, bukan keinginan. Tapi Ratna tahu ia tidak bisa menolak. Jika ia menolak, Hadi akan curiga. Jika ia menolak, Hadi akan bertanya-tanya mengapa isterinya yang biasanya merintih karena dingin kini menolak sentuhannya.
Jadi, Ratna membiarkan Hadi mendekat.
Pria itu memeluknya, mencium bibirnya dengan ciuman yang datar dan tanpa gairah. Tangannya meraba tubuh Ratna di atas baju tidur, meremas payudaranya dengan gerakan yang mekanis, seperti sedang menjalankan rutinitas yang sudah dihafal di luar kepala.
Ratna menutup matanya, mencoba merespons ciuman suaminya. Tapi di dalam kepalanya, ia tidak melihat wajah Hadi. Ia melihat wajah Fadhli. Ia tidak merasakan sentuhan Hadi yang kaku. Ia merasakan sentuhan Fadhli yang kasar. Ia tidak mencium aroma attar Hadi. Ia mencium aroma maskulin Fadhli yang memabukkan.
Hadi membuka baju tidur Ratna, memperlihatkan payudara yang masih bertanda gigitan dari siang tadi—tapi untungnya, ruangan itu sangat gelap, dan Hadi tidak memperhatikannya. Ia memegang payudara Ratna, meremasnya dengan tangan yang dingin, lalu menarik celana tidurnya.
Ratna mendengus napasnya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hadi akan memasukkannya, mungkin dalam hitungan menit, lalu selesai, tanpa mempedulikan apakah Ratna mencapai puncak atau tidak.
Benar saja. Hadi membuka celana tidurnya, mengeluarkan kontolnya yang kecil dan lembek. Ia mencoba mengeraskannya dengan tangan, tapi tak kunjung membesar.
"Saya... saya minta maaf, Ratna. Saya sedang tidak enak badan," ucap Hadi, suaranya terdengar kecewa. Ia meletakkan kontolnya yang kecil di atas perut Ratna, mencoba menggesekkannya ke kulit perempuan itu.
Ratna menatap suaminya di dalam gelap, lalu tanpa ia sadari, tangannya turun, memegang kontol Hadi yang lembek itu. Ia memegangnya, mencoba mengeraskannya dengan gerakan memompa.
Tapi saat tangannya memegang kontol Hadi, bayangan yang muncul di kepalanya bukan kontol suaminya. Ia membayangkan ia sedang memegang kontol Fadhli—kontol yang besar, keras, dan panas, yang baru saja merobeknya beberapa jam lalu. Ia membayangkan urat-urat yang menonjol di batang Fadhli, kepala yang besar yang menghantam serviksnya, dan peju yang menyembur ke dalam rahimnya.
Bayangan itu membuat gairah Ratna memuncak. Ia memompa kontol Hadi lebih cepat, lebih keras, membayangkan itu adalah kontol Fadhli.
"Ratna... kau... kau sangat baik," desah Hadi, terkejut dengan inisiatif isterinya.
Ratna tidak menjawab. Ia hanya fokus pada bayangan di kepalanya. Saat kontol Hadi akhirnya sedikit mengeras, pria itu segera mendorongnya ke dalam liang Ratna.
Ratna menahan napas. Kontol Hadi sangat kecil dibandingkan dengan Fadhli. Ia hampir tidak merasakan apa-apa. Liangnya yang masih longgar karena disodok oleh kontol Fadhli siang tadi tidak mendapat tekanan yang cukup dari kontol Hadi. Ia seperti memasukkan pensil ke dalam botol—sangat longgar, sangat hampa.
Hadi mulai bergerak, mendorong kontolnya ke dalam liang Ratna dengan gerakan yang cepat namun dangkal. Ia mendengam pelan, menikmati kenikmatan yang ia rasakan, tanpa mempedulikan apakah Ratna juga merasakan hal yang sama.
"Ah... Ratna..." Hadi mendesah, pinggulnya bergerak lebih cepat.
Ratna memejamkan mata, mencoba mencari kenikmatan dari hentakan Hadi. Tapi ia tidak bisa. Hentakan Hadi terlalu kecil, terlalu cepat, terlalu dangkal. Ia tidak bisa menyentuh serviks Ratna seperti yang dilakukan Fadhli. Ia tidak bisa memenuhi liang Ratna seperti yang dilakukan Fadhli. Ia tidak bisa membuat Ratna menjerit namanya seperti yang dilakukan Fadhli.
Kontol Hadi bahkan tidak mampu menyapu dinding liang Ratna yang masih dilumasi sisa peju Fadhli. Saat Hadi mendorong, Ratna bisa merasakan cairan Fadhli yang tersisa terdorong keluar, membasahi pangkal kontol Hadi.
Apakah Hadi menyadarinya? Apakah pria itu menyadari bahwa liang isterinya sedang sangat basah, sangat longgar, dan sangat licin karena telah disodok oleh pria lain beberapa jam lalu?
Tidak. Hadi tidak menyadarinya. Pria itu terlalu fokus pada kenikmatannya sendiri, terlalu sibuk dengan dorongan-dorongan cepat yang akan segera berakhir.
Dan benar saja. Kurang dari dua menit kemudian, Hadi mendengam, pinggulnya menegang, lalu ia selesai.
Ratna tidak mencapai puncak. Ia tidak merasakan apa-apa selain rasa hampa yang semakin besar. Saat Hadi menarik kontolnya keluar, Ratna bisa merasakan sedikit cairan yang disemburkan oleh suaminya—cairan yang sangat sedikit dibandingkan dengan peju Fadhli yang membanjiri rahimnya siang tadi.
Hadi bersandar di bantal, menarik napas yang berat. "Terima kasih, Ratna. Saya tidur dulu."
Lalu pria itu tertidur, meninggalkan Ratna yang terbaring di sampingnya dengan rahim yang kini berisi sedikit peju suaminya di atas sisa peju Fadhli yang masih tersisa. Kontras itu sangat menyiksa. Hadi yang dingin, kaku, dan cepat, berbeda sekali dengan Fadhli yang panas, liar, dan memuaskan.
Ratna menatap langit-langit yang gelap, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sangat kesepian, sangat hampa, sangat... tidak diinginkan. Tiga menit. Tiga menit yang membuatnya semakin yakin bahwa ia tidak bisa kembali pada kehidupan lamanya. Ia tidak bisa kembali pada suami yang hanya menganggapnya sebagai kewajiban, yang hanya memberikannya tiga menit kenikmatan sepihak, yang tidak pernah membuatnya merasakan apa yang ia rasakan bersama Fadhli.
Saat dengkuran Hadi mulai terdengar, Ratna bangkit perlahan. Ia berjalan menuju jendela, membuka gorden sedikit, dan menatap ke arah kontrakan seberang.
Lampu teras Fadhli menyala redup. Dan di bawah cahaya itu, Ratna bisa melihat sosok pemuda itu sedang duduk di kursi plastik, merokok, menatap ke arah jendela kamarnya.
Fadhli sedang menunggunya. Fadhli selalu menunggunya.
Ratna membiarkan jendela itu sedikit terbuka, memberikan celah bagi dosa-dosa yang akan datang. Ia tahu, besok, lusa, dan seterusnya, ia akan terus membuka jendela itu. Ia akan terus memberikan pertunjukan pada Fadhli. Ia akan terus membiarkan pemuda itu menggagahinya di ranjang suaminya.
Karena jendela yang tidak ditutup itu bukan hanya sebuah jendela. Itu adalah simbol dari kebebasannya, simbol dari pemberontakannya, simbol dari kejatuhannya.
Dan Ratna siap untuk terus jatuh, terus berdosa, terus merasakan kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Karena di balik jendela yang tidak ditutup itu, ada seorang pemuda yang selalu menunggunya, siap untuk memberinya apa yang tidak pernah diberikan oleh suaminya—gairah, hasrat, dan kenikmatan yang tak terbatas.
Dan Ratna rela menukar surga dengan neraka, demi merasakan kenikmatan itu sekali lagi.5914Please respect copyright.PENANA7KRgJTrxcA


