Ruangan itu masih. Sunyi. Hanya terdengar suara detak jantung Ratna yang perlahan kembali stabil dan desisan AC yang berdengung monoton. Fadhli telah pergi setengah jam yang lalu, meninggalkan jejak kaki yang berantakan di karpet ruang tamu dan sebuah kekosongan yang aneh di udara. Kekosongan itu bukanlah kelegaan, melainkan semacam kelaparan yang baru saja terbangun—seekor monster yang baru saja mendapatkan makanan pertamanya dan kini menuntut untuk disuapi terus-menerus.
Ratna terbaring di atas karpet, masih dalam posisi terlentang, kakinya sedikit terbuka. Rok hitamnya tergulung hingga ke pinggang, blus dusty pink-nya terbuka lebar, dan payudaranya yang megah masih telanjang, menganga ke udara dingin ruangan. Ia menatap langit-langit, matanya kosong, namun tubuhnya masih bergetar oleh sisa-sisa kejang kenikmatan yang baru saja menghancurkannya.
Perlahan, kesadarannya kembali. Rasa sesak di dadanya mulai mengembang, bukan lagi karena nafsu, melainkan karena realitas yang mulai menampar wajahnya. Ia menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Kulit perutnya dan pahanya berkilat oleh lapisan keringat dan cairan yang telah mengering. Di antara paha-pahanya yang terbuka, memeknya yang masih bengkak dan merah terlihat becek, dikelilingi oleh lendir bening bercampur putih pekat—sisa peju Fadhli yang tak tertahankan oleh liangnya yang sempit, kini membludak keluar, mengalir pelan membasahi lipatan pantatnya dan menyerap ke dalam serat karpet yang mahal.
Ratna mengulurkan tangannya, menyentuh cairan putih itu dengan ujung jarinya. Ia menggosokkannya, merasakan teksturnya yang lengket, kental, dan masih sedikit hangat. Ini bukan mimpi. Cairan ini nyata. Dosa ini nyata. Ia baru saja membiarkan seorang pemuda—seorang pria yang bukan suaminya—memasuki rahimnya, merobek kehormatannya, dan menjadikannya seekor betina yang menjerit minta dikawini di ruang tamu rumahnya sendiri.
"Astaghfirullah..." Ratna mendesah, suaranya retak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang masih kotor oleh cairan itu, menangis tanpa suara. Ia menangis bukan karena menyesal, tapi karena ia menyadari betapa cepatnya ia hancur. Betapa mudahnya ia menukar sepuluh tahun pernikahan dengan satu kali suntikan kontol pemuda itu.
Tapi saat ia menangis, memeknya tak berhenti berdenyut. Liangnya masih terasa kepanasan, seolah dinding rahimnya masih mengingat bentuk dan ukuran kontol Fadhli yang menjamahnya. Rasa pegal di selangkangannya terasa mengiris, tapi rasa pegal itu justru terasa seperti medali kemenangan. Tanda bahwa ia telah dimiliki secara utuh oleh pria yang ia dambakan.
Ratna bangkit dengan kaki yang gemetar. Ia meraih bra dan celana dalamnya yang berserakan di lantai, tapi tak sempat mengenakannya. Ia berjalan setengah telanjang menuju kamar mandi di lantai atas, meninggalkan jejak kaki yang sedikit bergetar di setiap anak tangga. Saat ia melewati cermin di lorong, ia menangkap pantulannya.
Wajahnya merah, bibirnya bengkak karena gigitan Fadhli, lehernya penuh dengan bercak merah keunguan—tanda gigitan dan isapan yang tak bisa disembunyikan. Ia terlihat seperti perempuan jalang yang baru saja disiksa di ranjang, bukan isteri ustadz yang biasa mengajarkan kesalehan.
Di dalam kamar mandi, Ratna membuka shower air panas. Ia berdiri di bawah pancuran itu, membiarkan air mengalir membasuh tubuhnya. Ia menyabuni payudaranya yang masih terasa sakit karena diremas kasar, menyabuni perutnya yang terasa penuh, dan menyabuni memeknya yang sedang memerah. Saat air dan sabun mengalir melewati liangnya, Ratna kembali mendesah. Liangnya masih sangat sensitif, dan sentuhan air pun terasa seperti belaian yang membangkitkan nafsunya kembali.
Ia memasukkan jarinya ke dalam liangnya, mencoba membersihkan sisa peju Fadhli yang masih menempel di dinding dalam. Tapi setiap kali jarinya menyentuh dinding itu, ia membayangkan jari itu adalah kontol Fadhli yang sedang kembali masuk. *Squelch.* Suara basah itu terdengar di kamar mandi, membuatnya merasa cabul sekaligus nikmat.
Ratna menggelengkan kepalanya kasar, menarik jarinya keluar, lalu membilasnya dengan air yang lebih dingin untuk memadamkan gairahnya. Ia harus berhenti. Ia sudah cukup berdosa untuk hari ini.
Saat ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan baju rumah yang longgar, ia melirik ke arah jam dinding. Pukul dua siang. Hujan sudah reda. Dan ia baru saja teringat sesuatu yang membuat jantungnya melonjak.
Sore ini, pukul empat, ada pengajian rutin di rumahnya.
Kepanikan melanda Ratna. Ia berlari menuruni tangga, memasuki ruang tamu yang menjadi saksi kejatuhan tadi. Aroma seks masih menguar di udara, menyengat dan tak bisa disembunyikan. Karpet di lantai masih lembap, meninggalkan noda gelap yang tak rapi. Bantal sofa yang ia gigit saat menjerit juga tampak berantakan.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna membawa karpet itu ke halaman belakang, menyemprotnya dengan air yang keras, lalu mengguyurnya dengan sabun cuci hingga busa menutupi noda dosa itu. Ia mengibaskannya di bawah terik matahari yang baru muncul, berharap aroma itu menguap bersama airnya.
Kemudian, ia kembali ke ruang tamu, membuka semua jendela lebar-lebar, menyalakan kipas angin di kecepatan tertinggi, dan menyemprotkan pewangi ruangan yang aromanya sangat tajam—berharap bisa mengusir bau keringat, memek, dan peju yang bercampur menjadi satu.
Saat semua selesai, Ratna duduk di sofa—tepat di tempat di mana pantatnya dihentak oleh Fadhli beberapa jam lalu. Ia merasakan kain sofa yang masih sedikit lembap. Ia memejamkan mata, dan bayangan kontol Fadhli yang masuk ke dalam dirinya kembali berkelebat. Memeknya kembali berdenyut. Celana dalam yang baru ia kenakan kini mulai terasa hangat.
Ini gila. Ia baru saja membersihkan dirinya, tapi nafsunya seolah tak pernah kering.
Pukul empat sore, para jamaah mulai berdatangan. Ibu-ibu berjilbab, remaja putri, dan beberapa anak kecil memenuhi ruang tamu Ratna. Mereka membawa kitab suci dan tasbih, duduk melingkar dengan wajah yang penuh kekhusyukan.
Ratna menyambut mereka dengan senyum yang ia usahakan senormal mungkin. Ia telah mengenakan baju kurung biasa yang longgar, menutupi lekuk tubuhnya, dan jilbab yang menutupi lehernya—menyembunyikan bercak-bercak merah yang ditinggalkan oleh bibir Fadhli.
Namun, di balik penampilan yang suci itu, Ratna sedang menyimpan rahasia yang sangat kotor. Di bawah rok panjangnya, memeknya masih terasa bengkak dan nyeri. Setiap kali ia bergerak, duduk bersila di atas sajadah, ia bisa merasakan bibir memeknya yang tebal bergesekan, mengirimkan sensasi yang membuatnya ingin merintih. Dan yang paling menyiksa, liangnya masih terasa sangat licin oleh sisa cairan yang tak bisa sepenuhnya dibersihkan.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Ratna memulai pengajian, suaranya merdu dan tenang, namun jantungnya berdebar kencang.
Saat ia membaca ayat-ayat tentang neraka dan dosa, pikirannya terbang ke ruang tamu ini beberapa jam lalu. Ia membayangkan Fadhli yang sedang berdiri di depannya, memegang kontolnya yang besar, lalu menyodokkannya ke dalam mulutnya. Ia membayangkan tangan pemuda itu meremas payudaranya yang kini tertutup oleh baju kurung yang sopan ini.
"Bu Ustadzah?" Suara Ibu Murtilah memecah lamunan Ratna.
Ratna tersentak. "Ya, Bu?"
"Apa lanjut ayat berikutnya, Bu? Sepertinya Bu Ustadzah sedang tidak enak badan. Wajahnya merah sekali," tanya Ibu Murtilah dengan nada khawatir.
Ratna meraba pipinya. Panas. Ia tersenyum sempit, berusaha menutupi kegundahannya. "Maaf, Bu. Saya sedikit pusing. Mungkin karena cuaca tadi. Mari kita lanjutkan."
Pengajian berlanjut, namun konsentrasi Ratna terpecah. Matanya sesekali melirik ke arah jendela yang menghadap ke halaman belakang. Di sana, tepat di seberang pagar, ia bisa melihat teras kontrakan Fadhli.
Dan Fadhli ada di sana.
Pemuda itu sedang duduk di kursi plastiknya, kaki terentang santai, memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan. Ia tidak berbaju, hanya mengenakan celana pendek, memperlihatkan dada dan perutnya yang kekar di sore hari yang mulai sejuk.
Saat mata mereka bertemu melalui kaca jendela, Fadhli tersenyum. Bukan senyum biasa. Ia tersenyum dengan tatapan yang sangat dalam, seolah matanya sedang menelanjangi Ratna di depan seluruh jamaah pengajian itu. Tatapan itu mengingatkan Ratna pada bagaimana mata pemuda itu menatapnya saat kontolnya sedang berada di dalam dirinya.
Ratna cepat membuang mukanya, napasnya memburu. Jangan lihat dia. Jangan lihat dia. Ia mengulang kalimat itu di dalam kepalanya seperti mantra. Tapi semakin ia berusaha mengabaikan Fadhli, semakin kuat tarikan tatapan itu.
Di luar jendela, Fadhli mengangkat rokoknya ke bibir, lalu menyalakannya. Ia mengisap dalam-dalam, pipinya menyedot masuk, menampilkan rahangnya yang tegas, lalu menghembuskan asap ke udara dengan gerakan yang lambat. Gerakan itu... Tuhan, gerakan itu sangat erotis. Ratna membayangkan bibir pemuda itu sedang mengisap putingnya, bukan rokok. Ia membayangkan pipi Fadhli yang menyedot masuk saat ia mengulum klitorisnya.
Ratna menekan pahanya satu sama lain di bawah rok, mencoba menekan denyutan di kemaluannya. Tapi tindakan itu justru menciptakan gesekan pada klitorisnya yang masih bengkak, membuatnya mendesah pelan.
"Bu Ustadzah?" Suara Nisa, janda muda yang duduk di sampingnya, menatapnya dengan curiga. "Bu mendesis sesuatu?"
Ratna tersentak, wajahnya memerah padam. "Tidak. Saya... saya hanya membersihkan tenggorokan. Maaf."
Ia kembali fokus pada kitabnya, tapi tangannya gemetar. Di bawah meja yang menutupi pangkuannya, tanpa ia sadari, tangannya merayap ke bawah rok, menyentuh paha bagian dalam yang terasa sangat panas. Ia begitu terangsang, begitu lapar, dan yang paling mengerikan, ia sedang berada di tengah-tengah jamaah perempuan yang menganggapnya suci.
Di luar jendela, Fadhli tertawa pelan, seolah ia tahu efek yang sedang ia berikan pada isteri ustadz itu. Ia mematikan rokoknya, lalu berdiri. Alih-alih masuk ke dalam rumah, ia berjalan mendekat ke arah pagar yang membatasi halaman rumahnya dengan jendela ruang tamu Ratna.
Ia berdiri di sana, bersandar di pagar, memasukkan tangannya ke dalam saku celana pendeknya, menonjolkan kontur tubuhnya yang memukau. Matanya tak lepas dari sosok Ratna yang sedang duduk di dalam ruangan.
Setiap kali Ratna mengangkat wajah dari kitabnya, ia akan menemui mata Fadhli yang sedang menatapnya. Tatapan itu seperti belati yang menelanjanginya, menguliti lapisan demi lapisan kesalehannya, hingga tersisa hanya perempuan buas yang kelaparan akan sentuhannya.
Seketika, Ratna merasa tak bisa bernapas. Ruangan terasa terlalu pengap. Jamaah terlalu bising. Dan nafsunya terlalu besar untuk ditahan.
"Maaf, Bu-bu sekalian. Saya perlu ke kamar mandi sebentar," ucap Ratna mendadak, berdiri dengan gerakan yang terlalu cepat.
Ibu Murtilah mengangguk bingung. "Ya, Bu Ustadzah. Silakan."
Ratna berjalan cepat menuju tangga, berlari naik ke lantai dua, memasuki kamar tidurnya, dan mengunci pintu. Ia bersandar di pintu, menarik napas panjang yang tertahan.
Tatapan Fadhli... tatapan itu membakarnya hidup-hidup. Ia merasa jika ia tetap di ruangan itu, ia akan berlari keluar, menerjang pagar, dan memohon agar Fadhli menggagahinya lagi di teras kontrakan itu, di depan semua orang.
Ini bukan sekadar nafsu. Ini sudah menjadi kecanduan.
Ratna meraih roknya, menariknya ke atas. Tangannya kembali menyusup ke dalam celana dalamnya. Memeknya sangat basah. Lebih basah dari sebelumnya. Pengajian, jamaah, kitab suci—semuanya tak bisa menghentikan banjir di selangkangannya.
Ia memasukkan dua jarinya ke dalam liangnya yang masih sedikit nyeri, memompanya dengan kasar, membayangkan itu adalah kontol Fadhli yang sedang menatapnya dari jendela.
Fadhli... aku butuh kamu lagi... tolong... Ratna merintih, air matanya mengalir. Ia membayangkan tatapan pemuda itu, kekuasaan dalam mata hitamnya, dan bentuk kontol yang telah membuatnya gila.
Dan di lantai bawah, para jamaah pengajian sedang menunggu isteri ustadz mereka yang sedang "ke kamar mandi", tidak menyadari bahwa perempuan suci itu sedang melacurkan dirinya sendiri di kamar tidur, merangsang memek yang masih berisi sisa peju pemuda seberang, sambil membayangkan tatapan yang menelanjanginya.
Tatapan yang telah menghancurkan Ratna, dan membawanya pada kejatuhannya yang tak bisa dimaafkan.
Ratna membuang sisa cairan dari tangannya ke wastafel, memandangi aliran air yang membawa dosa-dosanya masuk ke dalam saluran pembuangan. Wajahnya di cermin tampak sedikit lebih tenang, meski matanya masih sayu dan bibirnya masih terlihat bengkak. Ia merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan, menarik napas panjang beberapa kali, lalu membuka kunci pintu kamar mandi.
Ia harus kembali turun. Ia tidak bisa bersembunyi di kamar selamanya. Para jamaah pasti sedang menunggunya, bertanya-tanya kenapa Bu Ustadzah lama sekali di kamar mandi. Ratna mengusap wajahnya sekali lagi, memaksa senyum kesalehan itu kembali menempel di bibirnya, lalu melangkah turun.
Saat ia tiba di ruang tamu, para jamaah sedang mengobrol ringan, menunggunya. Ibu Murtilah menatap Ratna dengan tatapan penuh perhatian. "Bu Ustadzah, apa badannya tidak enak? Muka Anda merah sekali, dan berkeringat."
Ratna menyentuh lehernya, merasa keringat dingin di sana. "Sedikit pusing, Bu. Mungkin karena ruangannya tertutup tadi. Sekarang sudah lebih baik."
"Ya sudah, kita lanjutkan dulu pembahasannya ya, Bu," ucap Ibu Murtilah, membuka kitabnya kembali.
Ratna duduk di kursinya, kembali memimpin pengajian. Namun, suasana hatinya sudah jauh berbeda. Ia merasa seperti hidup dalam dua dimensi sekaligus. Di dimensi pertama, ia adalah Ratna yang sedang membacakan ayat-ayat tentang dosa dan pahala. Di dimensi kedua, ia adalah perempuan yang baru saja membuang nafsu di kamar tidur, sementara di selangkangannya, sisa peju pemuda seberang masih mengeram di dalam rahimnya.
Ia mencuri pandang ke arah jendela. Fadhli sudah tidak ada di teras. Mungkin pemuda itu sudah masuk ke dalam rumah. Atau mungkin ia sedang berdiri di balik dinding, menunggu Ratna selesai dengan kewajibannya yang suci, sebelum kembali mencuri haknya yang kotor.
Pengajian berakhir sekitar pukul enam sore. Para jamaah berpamitan satu per satu, meninggalkan rumah Ratna dengan senyum dan doa-doa yang membuat perempuan itu semakin merasa munafik.
"Assalamu'alaikum, Bu Ustadzah. Semoga cepat sembuh ya," sapa Nisa, janda muda itu, sebelum melangkah keluar.
"Wa'alaikumussalam, Nisa. Terima kasih," jawab Ratna, membalas senyumnya dengan wajah yang ia usahakan teduh.
Saat pintu depan tertutup dan langkah kaki terakhir menghilang di halaman, Ratna bersandar di dinding ruang tamu. Ia melepaskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Akhirnya, sendirian lagi. Sendirian dengan dosa-dosanya.
Ia berjalan ke dapur, mencuci gelas-gelas yang ditinggalkan tamu. Saat ia berdiri di depan bak cucian, matanya secara otomatis melirik ke arah jendela. Dan kali ini, Fadhli ada di sana.
Pemuda itu sedang berdiri di halaman belakang kontrakannya, memakai kemeja flanel yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada dan perutnya yang kekar. Ia sedang merokok, menatap Ratna dengan tatapan yang menyelidik.
Saat mata mereka bertemu, Fadhli menyeringai. Ia mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah bibirnya, lalu menjulurkan lidahnya di antara celah dua jari itu, membuat gerakan yang sangat vulgar—meniru gerakan oral seks.
Ratna tersentak, wajahnya seketika memerah padam. Ia menjatuhkan gelas yang sedang dicucinya ke dalam bak. *Prang!* Suara pecahan kaca terdengar, memecah keheningan dapur.
Fadhli tertawa pelan, suaranya terdengar samar dari seberang pagar. Ia meniupkan ciuman ke arah Ratna, lalu berbalik berjalan masuk ke dalam kontrakannya, meninggalkan perempuan itu yang berdiri mematung di dapur dengan jantung berdebar kencang dan memek yang kembali memanas.
Gerakan itu... gerakan itu sangat cabul, sangat merendahkan, namun sangat membuat Ratna terangsang. Ia membayangkan lidah Fadhli yang sedang bergerak di antara dua jarinya itu sedang menjilat memeknya, bukan sekadar membayangkan, melainkan mengingat kembali sensasi yang ia rasakan beberapa jam lalu saat lidah pemuda itu benar-benar berada di sana.
Ratna memungut pecahan kaca di bak cucian dengan tangan yang gemetar. Jari telunjuknya tak sengaja tergores, mengeluarkan darah yang merah segar. Ia menatap darah itu, lalu memasukkan jarinya ke dalam mulutnya, mengisapnya. Rasa anyang logam dari darahnya bercampur dengan bayangan rasa peju Fadhli yang ia telan tadi siang. Ia mengisap jarinya lebih dalam, membayangkan itu adalah kontol Fadhli yang sedang memenuhi mulutnya.
Ini gila. Fadhli telah membuatnya gila. Hanya dengan satu tatapan dan satu gerakan tangan, ia bisa membuat Ratna kehilangan akal sehatnya.
Malam itu, Ratna memasak makan malam untuk dirinya sendiri—Hadi masih di luar kota, dan ia tidak memiliki selera makan. Ia hanya memasak nasi dan sayur bening, makan dengan cepat tanpa merasakan rasanya, lalu mencuci piring dengan gerakan mekanis.
Sekitar pukul delapan malam, Ratna duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi namun tidak menontonnya. Matanya terus melirik ke arah jendela. Kontrakan Fadhli terlihat gelap, kecuali cahaya redup dari kamar tidur yang menembus gorden. Ratna bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan pemuda itu. Apakah ia sedang tidur? Apakah ia sedang merokok? Atau apakah ia sedang menunggunya?
Tiba-tiba, ponsel di pangkuannya bergetar. Ratna mengambilnya, menatap layar yang menyala. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Rumahnya sepi ya, Nduk? Kenapa tidak nyalakan lampu teras? Gelap gulita begini, nanti aku kira kau sudah tidur. Atau... kau sedang menunggu sesuatu?*
Ratna membeku. Jantungnya berdebar sangat keras hingga terasa berdentang di telinganya. Ini Fadhli. Ini pasti Fadhli. Bagaimana pemuda itu bisa mendapatkan nomornya? Tapi pertanyaan itu cepat tenggelam oleh gelombang kegembiraan yang tak ia mengerti. Fadhli menghubunginya. Fadhli mengingatnya. Fadhli sedang menggodanya lagi.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna mengetik balasan.
*Siapa ini?*
Balasan datang dalam hitungan detik.
*Jangan pura-pura lupa, Ratna. Siapa yang kontolnya baru saja menghancurkan memekmu siang tadi?*
Kata-kata vulgar itu menghantam Ratna seperti petir. Ia merasa wajahnya terbakar, napasnya memburu, dan selangkangannya kembali mengeluarkan cairan yang hangat. Ia membayangkan kontol Fadhli yang besar dan keras itu, membayangkan rasanya saat membelah liangnya, membayangkan pejunya yang membanjiri rahimnya.
*Fadhli... bagaimana kamu bisa dapat nomor saya?* Ratna mengetik, jari-jarinya bergetar hebat.
*Kemarin saat kau ke pasar, kau drop ponselmu di mobilku sebentar kan? Aku cuma meminjamnomormu. Tenang, tidak ada yang tahu. Hanya aku dan kau.*
Ratna mengingat kejadian di mobil Fadhli beberapa hari lalu. Ia memang sempat meletakkan ponselnya di dashboard mobil pemuda itu saat mencari uang untuk membayar belanjaan. Saat itulah Fadhli mencuri nomornya. Pemuda itu licik. Sangat licik. Dan kelicikan itu membuat Ratna semakin tertarik padanya.
*Apa yang kamu mau, Fadhli?* tanya Ratna, suaranya serak saat ia membaca pesan itu di dalam hatinya.
Balasan datang lebih lama kali ini. Ratna menunggu dengan napas yang tertahan, matanya terpaku pada layar ponsel. Kemudian, ponselnya bergetar lagi.
*Aku mau kamu. Sekarang. Keluar ke teras belakang. Berdiri di dekat pagar. Aku ingin melihatmu.*
Ratna menelan ludah. Keluar? Malam-malam begini? Ke teras belakang? Itu sangat berbahaya. Tetangga bisa melihat. Seseorang bisa lewat. Tapi... tapi Fadhli menyuruhnya. Dan Ratna tahu, ia tidak bisa menolak perintah itu.
Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju pintu belakang. Ia tidak menyalakan lampu teras, hanya membuka pintu perlahan dan melangkah keluar ke halaman yang gelap.
Udara malam terasa sangat dingin, menggigilkan kulit Ratna yang hanya mengenakan baju rumah tipis. Ia berjalan mendekati pagar pembatas, jantungnya berdebar kencang, kakinya melangkah perlahan di atas rumput yang basah oleh embun.
Saat ia tiba di dekat pagar, ia melihat sosok Fadhli yang sedang berdiri di sisi lain. Pemuda itu hanya mengenakan celana pendek, dada telanjangnya memancarkan panas yang terasa meski terhalang oleh jarak dan kegelapan. Ia tidak merokok kali ini. Ia hanya menatap Ratna dengan mata yang menyala di malam hari.
"Datang kau, Nduk," bisik Fadhli, suaranya terdengar jelas di keheningan malam.
Ratna berhenti di depan pagar, tangannya memegang besi-besi pembatas yang dingin. "Fadhli... ini berbahaya. Kalau ada yang lihat—"
"Tidak ada yang akan lihat. Semua orang sudah tidur," potong Fadhli. Ia memajukan wajahnya ke arah celah pagar, mengurangi jarak di antara mereka. "Aku tidak bisa tidur, Ratna. Sejak siang tadi, pikiranku dipenuhi olehmu. Dipenuhi oleh suaramu saat menjerit namaku. Dipenuhi oleh wajahmu saat kau mencapai puncak. Dipenuhi oleh memekmu yang menelan kontolku."
Kata-kata itu sangat vulgar, sangat langsung, dan sangat merangsang. Ratna mendesah, matanya terpejam, merasakan cairan yang kembali mengalir deras dari kemaluannya. Ia merasa seperti pecandu yang baru saja diberi obatnya, meski obat itu hanya berupa kata-kata.
"Fadhli..." Ratna mendesah, tangannya meraih tangan pemuda itu di balik pagar. Ia mencengkeramnya erat, mencari kehangatan dan kekuatan dari genggaman itu.
Fadhli membalas cengkeraman itu, lalu menarik tangan Ratna perlahan, membimbingnya ke arah celah pagar yang lebih lebar. Ia menempatkan tangan Ratna di dadanya yang telanjang, membiarkan perempuan itu merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang dan kehangatan kulitnya.
"Rasakan itu, Nduk. Itu karena kamu. Kau membuatku gila. Kau membuatku ingin menerobos pagar ini dan menggagahi kau di teras rumahmu sendiri, meski semua tetangga sedang menonton."
Ratna mengusap dada Fadhli, merasakan otot-otot yang keras di bawah telapak tangannya. Tangannya turun perlahan, menyusuri perut yang berisi blok-blok otot, lalu berhenti di pinggang celana pendek pemuda itu. Ia bisa merasakan bulu-bulu halus yang mengarah ke bawah, dan di bawahnya... ia bisa merasakan tonjolan yang mulai mengeras.
"Apa kamu memakai celana dalam?" tanya Ratna tiba-tiba, suaranya serak oleh nafsu. Ia terkejut dengan keberaniannya sendiri, tapi ia tidak bisa menahannya. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Fadhli tertawa pelan, suaranya bergetar di dada yang sedang diusap oleh Ratna. "Tidak. Aku tidak pernah pakai celana dalam di rumah. Kenapa? Kau ingin memastikannya sendiri?"
Ratna menelan ludah. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tahu apa yang diinginkannya. Dengan tangan yang gemetar, ia memasukkan jarinya ke dalam pinggang celana pendek Fadhli, menyusuri kulit perut yang panas dan keras, lalu turun ke bawah.
Saat tangannya menyentuh kontol Fadhli yang sudah setengah tegang, Ratna mendesak keras. Benda itu terasa sangat panas, sangat keras, dan sangat besar, bahkan di dalam genggamannya yang hanya bisa memegang setengah dari batangnya. Ia bisa merasakan urat-urat yang menonjol berdenyut di bawah kulitnya, dan ujungnya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.
"Ya God..." Ratna mendesah, matanya terbelalak di dalam gelap. Ia mulai menggerakkan tangannya, memompa kontol Fadhli perlahan di dalam celana pendeknya.
Fadhli mendengkam, kepalanya mendongak, menikmati sentuhan tangan Ratna yang halus dan dingin di sekeliling batangnya yang panas. "Ratna... kau tahu bagaimana membuatku tidak bisa berpikir jernih..."
Ratna memompa lebih cepat, merasakan kontol itu semakin mengeras dan membesar di tangannya. Ia membayangkan benda itu sedang berada di dalam memeknya, membayangkan rasanya saat merobeknya, membayangkan pejunya yang menyembur ke dalam rahimnya. Memeknya kini sudah sangat basah, cairannya mengalir deras membasahi paha-pahanya, membuatnya ingin merentangkan kakinya dan membiarkan Fadhli memasukinya di sini, di halaman belakang yang gelap ini.
"Fadhli... aku mau..." Ratna mendesah, suaranya putus asa.
"Mau apa, Nduk? Katakan. Minta padaku," desis Fadhli, napasnya memburu, pinggulnya bergerak menemui pompaan tangan Ratna.
"Aku mau kamu... masukkan ini ke dalam aku... sekarang..." Ratna menatap mata Fadhli di dalam gelap, matanya berkaca-kaca oleh nafsu yang tak tertahankan. "Aku tidak tahan lagi... memekku sakit... ia butuh kamu..."
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kekuasaan. Ia menarik tangan Ratna dari dalam celananya, melepaskan genggaman perempuan itu dari kontolnya yang sudah sangat keras. Ia membuka celana pendeknya, membiarkannya jatuh ke lantai, lalu memajukan pinggulnya ke arah celah pagar.
"Kalau kau mau, kau harus mengambilnya sendiri, Nduk. Melewati celah ini," bisik Fadhli, suaranya menantang.
Ratna menatap kontol Fadhli yang menjulur keluar dari balik pagar. Jaraknya sangat dekat. Ia hanya perlu merentangkan kakinya, menempelkan pantatnya ke pagar, dan membiarkan kontol itu menembusnya dari belakang.
Tapi itu terlalu berbahaya. Terlalu cabul. Terlalu... menggoda.
Ratna memutar tubuhnya, membelakangi Fadhli. Ia menarik rok rumahnya ke atas, memperlihatkan pantatnya yang montok dan putih di dalam celana dalam yang tipis. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia menarik kain celana dalam itu ke samping, memperlihatkan memeknya yang basah dan becek ke arah pemuda itu.
"Ini... ini gila, Fadhli..." Ratna mendesah, napasnya memburu. Ia mendekatkan pantatnya ke arah pagar, mencari posisi yang tepat.
Fadhli memegang pangkal kontolnya, mengarahkannya ke arah liang Ratna yang terbuka di balik celah pagar. Ia bisa merasakan kepanasan dan kebecekannya dari jarak beberapa senti. "Gila atau tidak, kita sama-sama menginginkannya, Nduk. Kau siap?"
Ratna mengangguk, meski Fadhli tidak bisa melihatnya. Ia menekan pantatnya ke belakang, mencari ujung kontol itu. Saat kepala kontol Fadhli menyentuh bibir memeknya, Ratna mendesah keras.
"Ah! Ya... di situ..."
Fadhli mendorong pinggulnya perlahan, memasukkan kepala kontolnya ke dalam liang Ratna yang sangat basah dan licin. Karena posisi yang tidak biasa dan jarak yang terbatas, ia hanya bisa memasukkan setengah dari batangnya. Tapi itu sudah cukup untuk membuat Ratna gila.
"Ratna... kau sangat basah... dan sangat sempit..." Fadhli mendengam, tangannya memegang pinggul Ratna dari luar pagar, mencoba menarik perempuan itu lebih dekat.
Ratna mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, memompa dirinya sendiri ke atas kontol Fadhli yang setengah masuk. Gesekan itu sangat nikmat, sangat liar, dan sangat berbeda dari bercinta di atas ranjang. Ia sedang dikawini di halaman belakangnya sendiri, di bawah langit malam yang gelap, dengan seekor serigala yang menerkamnya dari balik pagar.
Plak... plak... plak... Suara tubuh yang beradu terdengar pelan di malam hari, bercampur dengan suara basah dari kemaluan Ratna yang sedang disodok.
"Ah! Fadhli! Dalam... lebih dalam!" Ratna merintih, tangannya memegang pagar dengan kuat, tubuhnya bergetar hebat setiap kali pantatnya menghantam pagar besi itu.
"Ini yang kau mau, kan, Nduk? Kau suka kontolku menghancurkan memekmu di luar rumah, kan?" Fadhli mendesah, memompa lebih cepat, mencoba memasukkan lebih banyak dari batangnya ke dalam liang Ratna yang serakah.
"Iya! Ah! Aku suka! Aku suka kontolmu! Jangan berhenti! Ah!" Ratna menjerit, suaranya nyaris tak tertahan. Ia tidak peduli jika tetangga mendengarnya. Ia tidak peduli pada dosanya. Ia hanya ingin kontol itu terus merobeknya, terus mengisapnya, terus membuatnya merasa hidup.
Mereka bercinta di bawah langit malam yang gelap, terpisahkan oleh pagar besi yang tak mampu memisahkan nafsu mereka. Dan saat gelombang orgasme yang ketiga untuk hari itu menghantam Ratna, ia menjerit nama Fadhli dengan suara yang pecah, tubuhnya berkontraksi hebat, memeras kontol pemuda itu hingga Fadhli juga mencapai puncaknya, menyemburkan pejunya yang panas dan banyak ke dalam rahim Ratna yang sudah penuh.
Mereka berdua terdiam, bernapas berat di dalam kegelapan. Tubuh mereka terpisah, meninggalkan cairan yang mengalir dari memek Ratna, menetes ke rumput di bawah mereka.
"Ini baru permulaan, Nduk," bisik Fadhli di dalam gelap, suaranya penuh kepuasan. "Besok... besok aku akan datang ke rumahmu lagi. Dan kita akan melakukan ini di atas ranjang suamimu. Kau mau?"
Ratna menatap kegelapan, wajahnya memerah padam, tubuhnya masih bergetar oleh sisa-sisa orgasme. Ia tahu jawabannya. Ia tahu ia tidak bisa menolak. Ia tahu ia akan mengiyakan apapun yang Fadhli minta.
"Iya," bisik Ratna, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku mau."
Karena Ratna sudah menjadi tawanan Fadhli. Tubuh, jiwa, dan memeknya. Semuanya milik pemuda itu. Dan ia tidak ingin dibebaskan.
Ia ingin tetap menjadi tawanan dosa yang paling indah ini.
Ratna bangun pagi itu dengan tubuh yang terasa seperti diseret oleh truk pengangkut pasir. Setiap sendi di tubuhnya memprotes, terutama di area panggul dan paha bagian dalam. Ia mencoba merentangkan kakinya di atas ranjang, dan rasa pegal yang menjalar dari selangkangannya membuatnya mendesis kesakitan. Memeknya terasa sangat sensitif, bengkak, dan nyeri—konsekuensi dari tiga kali orgasme keras dan dua kali disodok oleh kontol yang sangat besar dalam waktu dua puluh empat jam.
Ia meraih tepi ranjang, menarik dirinya duduk. Saat ia melihat kondisi selimut dan seprai, wajahnya memerah padam. Sisa noda dosa kemarin—cairan yang mengering, bercampur keringat dan peju—menghiasi kain putih itu. Aroma seks yang pekat masih menguar dari tubuhnya sendiri, meski ia sudah mandi dua kali semalam.
Tapi di balik rasa sakit dan pegal itu, ada sesuatu yang aneh bersemayam di dada Ratna. Sebuah kehangatan yang tak biasa. Sebuah kepuasan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Ia menunduk, menatap pangkuannya, dan tanpa sadar, senyum tipis terbentuk di bibirnya. Senyum itu bukan senyum isteri ustadz yang suci. Itu adalah senyum seekor betina yang telah menemukan jantan yang pantas menguasainya.
Saat ia berjalan menuju kamar mandi, langkahnya sedikit tertatih. Ia merasakan cairan yang masih mengalir pelan dari liangnya—sisa peju Fadhli yang tak bisa sepenuhnya terserap oleh rahimnya. Cairan itu membasahi paha bagian dalam, membuat kulitnya terasa lengket dan kotor. Tapi kotoran itu... kotoran itu terasa seperti medali. Bukti bahwa ia telah dimiliki. Bukti bahwa ia tidak lagi kosong.
Di dalam kamar mandi, Ratna membuka baju tidurnya, berdiri telanjang di depan cermin. Ia menatap tubuhnya—payudara yang masih bertanda gigitan, perut yang terasa sedikit kembung karena penuh oleh peju, paha yang memar karena genggaman tangan Fadhli, dan memek yang masih bengkak dan merah. Ia terlihat seperti korban penyiksaan, tapi Ratna tahu, ia bukan korban. Ia adalah relawan yang sangat antusias.
Ia membuka shower air hangat, membiarkan air mengalir membasuh tubuhnya. Saat tangannya menyentuh memeknya untuk membersihkannya, ia mendesah pelan. Sentuhan itu terasa sakit, tapi sakit itu justru membangkitkan bayangan Fadhli di kepalanya. Ia membayangkan jari-jari pemuda itu sedang membersihkannya dengan lidahnya, bukan dengan air.
Ratna menggelengkan kepalanya kasar. Berhenti! Ia harus berhenti memikirkan Fadhli. Hari ini adalah hari terakhir Hadi di luar kota. Besok suaminya akan pulang. Dan ia harus mengembalikan dirinya menjadi Ratna yang suci, Ratna yang tertutup, Ratna yang tak terjangkau.
Tapi bisikan setan di kepalanya berbunyi: *Kau tidak bisa kembali, Ratna. Kau sudah merasakan surga. Kau tidak akan pernah puas dengan neraka lagi.*
Ratna menutup matanya, membiarkan air mengalir di wajahnya, mencoba memadamkan bisikan itu. Tapi semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas bayangan kontol Fadhli yang besar dan keras itu di kepalanya.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Ratna turun ke bawah. Ia memakai baju kurung biasa yang longgar, menyembunyikan tubuhnya yang penuh bekas dosa. Ia memasak sarapan untuk dirinya sendiri, makan dengan lambat, mencoba menikmati kesunyian rumah yang akan segera berakhir.
Sekitar pukul sepuluh pagi, saat Ratna sedang menyapu teras depan, sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Bukan motor Fadhli, melainkan motor bebek milik kurir pengiriman.
"Selamat pagi, Bu. Ada paket untuk Ustadz Hadi," sapa kurir itu, menyodorkan sebuah kotak kardus berukuran sedang.
Ratna menerima kotak itu dengan tangan yang masih memegang sapu. "Terima kasih. Suami saya sedang di luar kota."
"Tidak apa-apa, Bu. Ini barang orderan kemarin. Silakan ditandatangani."
Ratna menandatangani penerimaan paket, lalu membawa kotak itu masuk ke dalam rumah. Ia meletakkannya di atas meja ruang tamu, menatapnya sejenak. Paket itu atas nama Hadi, bukan nama Ratna. Ia tidak berhak membukanya.
Tapi rasa penasaran memuncak. Apa isi paket itu? Buku-buku agama? Perlengkapan masjid? Atau... sesuatu yang lain?
Ratna menggelengkan kepalanya, menahan dirinya untuk tidak membuka paket itu. Ia kembali menyapu lantai, mencoba melupakan keberadaan kotak kardus itu di ruang tamu.
Sore harinya, sekitar pukul empat, Ratna mendengar suara ketukan di pintu belakang. Jantungnya melonjak. Apakah itu Fadhli? Apakah pemuda itu datang untuk menggagahinya lagi, seperti yang dijanjikannya semalam?
Dengan langkah yang tertatih, Ratna berjalan menuju pintu belakang. Ia membukanya perlahan, dan sosok di depannya membuatnya terkejut.
Bukan Fadhli.
Yang berdiri di teras belakang adalah Nisa, janda muda yang sering hadir di pengajian Ratna. Perempuan itu mengenakan gamis biru muda dan jilbab yang rapi, wajahnya tampak sedikit cemas.
"Assalamu'alaikum, Bu Ratna. Apakah saya mengganggu?" sapa Nisa, suaranya ragu.
"Wa'alaikumussalam, Nisa. Tidak, tidak mengganggu. Silakan masuk," jawab Ratna, berusaha menyembunyikan kekecewaannya—ya, kekecewaan karena yang datang bukan Fadhli.
Mereka duduk di ruang tamu, Nisa menolak tawaran minuman dari Ratna. Ia menatap Ratna dengan mata yang penuh kekhawatiran, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan tapi takut untuk mengatakannya.
"Ada apa, Nisa? Kamu tampaknya ada masalah," tanya Ratna, suaranya lembut.
Nisa menarik napas panjang, lalu menatap Ratna. "Bu Ratna... saya ingin bertanya sesuatu. Tapi tolong jangan marah."
Ratna mengangguk, mengerutkan dahi. "Tentu. Silakan."
Nisa menunduk, tangannya memutar tasbih yang ia bawa. "Bu Ratna... apakah... apakah benar bahwa suami Bu sering tidak di rumah?"
Pertanyaan itu mengejutkan Ratna. Ia menatap Nisa dengan mata yang terbelalak. "Kenapa kamu bertanya itu?"
Nisa menggigit bibirnya, ragu. "Karena... karena saya dengar dari Ibu Murtilah. Dia bilang Ustadz Hadi sering pergi berhari-hari. Dan saya... saya hanya ingin tahu apakah Bu Ratna tidak kesepian."
Kata 'kesepian' itu menusuk Ratna tepat di jantungnya. Ia menelan ludah, berusaha menjawab dengan tenang. "Setiap isteri harus sabar menjalani ujiannya, Nisa. Suami saya sedang berjuang untuk agama. Saya harus mendukungnya."
Tapi saat ia mengucapkan kata-kata itu, bayangan Fadhli melintas di kepalanya. Fadhli yang sedang menatapnya dari seberang pagar. Fadhli yang sedang membisikkan kata-kata kotor di telinganya. Fadhli yang sedang menghancurkan memeknya dengan kontolnya yang besar.
Nisa mengangguk, namun matanya masih penuh keraguan. "Saya mengerti, Bu. Tapi... saya hanya ingin mengingatkan. Saya dengar... ada pemuda baru yang pindah ke kontrakan seberang."
Jantung Ratna berdebar sangat keras hingga terasa berdentang di telinganya. Apakah Nisa tahu? Apakah Nisa melihat sesuatu? Apakah Nisa curiga?
"Pemuda baru? Oh, Fadhli ya?" Ratna berusaha terdengar santai, memasang ekspresi wajah yang datar. "Saya hanya kenal namanya. Dia pernah bertanya tentang masjid."
Nisa menatap Ratna dengan mata yang tajam, seolah sedang mencari kebohongan di wajah perempuan itu. "Saya hanya ingin berhati-hati, Bu Ratna. Pemuda itu... dia terlihat berbahaya. Matanya... matanya seperti bisa menelanjangi perempuan. Saya dengar dia sering melihat ke arah rumah Bu."
Ratna merasa napasnya tercekat. Nisa benar. Fadhli memang berbahaya. Matanya memang bisa menelanjangi. Dan Ratna... Ratna menikmati ditelanjangi oleh mata itu.
"Terima kasih atas peringatannya, Nisa. Saya akan berhati-hati," jawab Ratna, suaranya sedikit tegang.
Nisa mengangguk, lalu berdiri. "Ya, Bu. Maaf jika saya terlalu banyak bertanya. Saya hanya khawatir. Bu Ratna adalah panutan kami."
Pananutan. Kata itu seperti tamparan di wajah Ratna. Ia adalah panutan. Ia adalah contoh. Tapi di balik panutan itu, ia sedang menyembunyikan rahasia yang paling kotor.
Setelah Nisa pergi, Ratna duduk sendirian di ruang tamu, memikirkan kata-kata janda muda itu. *Pemuda itu berbahaya. Matanya seperti bisa menelanjangi perempuan.*
Ya, Fadhli berbahaya. Tapi bahaya itu justru yang membuat Ratna tertarik. Ia sudah lepas hidup dalam keselamatan yang membosankan, keselamatan yang membuatnya kering dan mati perlahan. Ia butuh bahaya. Ia butuh api. Ia butuh Fadhli.
Sore itu, sekitar pukul enam, saat matahari mulai merendam di ufuk barat, Ratna mengerjakan pekerjaan rumahnya di halaman belakang. Ia menyiram tanaman, memetik daun-daun yang layu, dan membereskan pot-pot yang berantakan.
Dari arah seberang, Fadhli muncul di teras kontrakannya. Pemuda itu memakai kaus oblong putih dan celana pendek, memegang sebatang rokok di tangannya. Ia tidak mendekat, tidak menyapa, hanya berdiri di sana, menatap Ratna.
Dan Ratna menatapnya kembali.
Mata mereka bertaut dalam keheningan yang mencekam, hanya dipecahkan oleh jarak dua meter dan pagar besi yang memisahkan mereka. Tatapan Fadhli... tatapan itu sama seperti yang dideskripsikan Nisa—menelanjangi, mengupas, menguji. Tapi kali ini, Ratna tidak merasa takut. Ia merasa... bangga.
Karena tubuh yang sedang ditelanjangi oleh tatapan itu bukan lagi tubuh yang asing bagi Fadhli. Pemuda itu telah melihatnya tanpa sehelai benang pun. Pemuda itu telah menyentuhnya di tempat yang paling intim. Pemuda itu telah memasukkan bagiannya ke dalam bagiannya. Dan pemuda itu telah menumpahkan pejunya ke dalam rahimnya.
Jadi, biarlah tatapan itu menelanjanginya. Karena tubuh ini—dengan payudaranya yang besar, pinggulnya yang lebar, pantatnya yang montok, dan memeknya yang becek—kini telah menjadi milik Fadhli.
Fadhli mengambil langkah mendekat, berjalan perlahan menuju pagar. Ia berhenti tepat di balik besi-besi pembatas, menatap Ratna dari jarak yang sangat dekat.
"Nduk," sapa Fadhli, suaranya rendah dan berat.
Ratna menelan ludah, napasnya memburu. "Fadhli."
Fadhli mengisap rokoknya, lalu menghembuskan asap ke udara dengan gerakan yang lambat. Matanya menyapu tubuh Ratna dari atas ke bawah, berhenti di area dada yang tertutup baju kurung longgar, lalu turun ke pinggul dan paha yang tersembunyi di balik rok panjang.
"Kamu tahu, Nduk," bisik Fadhli, suaranya terdengar jelas di keheningan sore itu. "Setiap kali aku menatapmu, aku tidak melihat baju kurung yang kau kenakan. Aku melihat apa yang ada di dalamnya."
Ratna merasakan darahnya mendidih. Wajahnya memerah padam, tapi ia tidak membuang muka. Ia membiarkan tatapan itu menelanjanginya, membiarkan kata-kata itu mengiris pertahanannya.
"Aku membayangkan payudaramu yang besar itu keluar dari bra," lanjut Fadhli, suaranya semakin rendah, semakin menggoda. "Aku membayangkan putingmu yang merah muda dan tegang di mulutku. Aku membayangkan perutmu yang rata bergetar saat aku menyentuhnya. Dan aku membayangkan..."
Fadhli berhenti sejenak, memajukan wajahnya lebih dekat ke celah pagar, napasnya yang hangat dan bercampur asap tembakau menyentuh wajah Ratna. "...aku membayangkan memekmu yang becek dan bengkak, menelan kontolku dengan rakus, seperti siang tadi."
Kata-kata itu adalah pukulan telak pada sisa-sisa kesalehan Ratna. Ia mendesak keras, matanya terpejam, kakinya melemas. Ia harus memegang pagar untuk menopang tubuhnya. Di bawah rok panjangnya, memeknya kembali mengeluarkan cairan yang deras, membasahi celana dalamnya yang baru ia kenakan.
"Fadhli... jangan..." Ratna mendesah, suaranya serak. Tapi kata 'jangan' itu terdengar seperti 'lagi', bukan perintah untuk berhenti.
Fadhli tersenyum, menyeringai dengan penuh kekuasaan. Ia tahu efek kata-katanya pada Ratna. Ia tahu perempuan itu sedang basah kuyup di balik roknya saat ini. "Jangan apa, Nduk? Jangan membuatmu basah? Jangan membuatmu memekmu menangis? Atau jangan membuatmu merindukan kontolku lagi?"
Ratna membuka matanya, menatap Fadhli dengan mata yang berkaca-kaca. "Besok... besok Mas Hadi pulang."
Kata-kata itu keluar dari bibir Ratna seperti pengakuan dosa, seperti permintaan maaf, sekaligus seperti peringatan. Besok, suaminya akan kembali. Dan segala yang terjadi antara mereka harus berhenti.
Fadhli mendengus, wajahnya sedikit berubah, tapi ia segera mengatur ekspresinya kembali. Ia membuang sisa rokoknya, lalu memajukan tubuhnya lebih dekat ke pagar, hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.
"Jadi, ini malam terakhir kita, Nduk?" bisik Fadhli, suaranya terdengar berat dan penuh tekanan. "Ini malam terakhir kau bisa merasakan kontolku di dalam dirimu?"
Ratna menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang tiba-tiba menggenang di matanya. Ia tidak ingin ini berakhir. Ia tidak ingin kembali pada kehidupan yang membosankan, pada suami yang dingin, pada malam-malam yang dipenuhi tangis dan dildo dari jari-jarinya sendiri.
"Ya," bisik Ratna, suaranya retak. "Besok... kita tidak bisa lagi."
Fadhli menatap Ratna dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan. "Kalau itu malam terakhir, maka kita harus menghabiskannya dengan cara yang tak akan perkan kau lupakan."
Ia mengulurkan tangannya melewati celah pagar, memegang tangan Ratna yang sedang mencengkeram besi itu. Sentuhan itu hangat, kasar, dan sangat memiliki. "Datang ke rumahku malam ini, Nduk. Jam sepuluh. Aku akan menunggumu di teras. Kita akan bermalam di sana."
Ratna menatap tangan Fadhli yang sedang memegang tangannya, lalu menatap mata pemuda itu. Pergi ke rumah Fadhli? Bermalam di sana? Itu jauh lebih berbahaya daripada bercinta di halaman belakang atau di ruang tamu rumahnya sendiri. Jika ada yang melihatnya keluar rumah malam-malam, jika ada yang melihatnya masuk ke kontrakan Fadhli, reputasinya akan hancur lebur.
Tapi Ratna tidak peduli. Ini adalah malam terakhirnya. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk merasakan surga sebelum kembali terbenam di neraka kesalehan yang membosankan.
"Baik," bisik Ratna, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku akan datang."
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kemenangan dan kepuasan. Ia mencium punggung tangan Ratna, bibirnya yang panas menyentuh kulit perempuan itu, menciptakan sensasi yang membuat Ratna mendesah pelan.
"Jam sepuluh, Nduk. Jangan terlambat. Karena aku tidak akan menunggu lama."
Lalu pemuda itu melepaskan tangannya, berbalik, dan berjalan masuk ke dalam kontrakannya, meninggalkan Ratna yang berdiri mematung di halaman belakang dengan jantung yang berdebar kencang dan memek yang menangis kelaparan.
Malam itu akan menjadi malam terpanjang dan terindah dalam hidup Ratna. Karena malam itu adalah malam perpisahan dengan dosa yang telah membuatnya merasa hidup kembali.
Dan ia bertekad, ia akan menghabiskan malam itu dengan cara yang tak akan pernah ia sesali.
Karena dosa yang satu ini, adalah dosa yang paling manis yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Malam itu turun dengan sangat lambat. Ratna duduk di tepi ranjang, menatap jarum jam dinding yang seolah menolak bergerak. Pukul tujuh. Delapan. Sembilan. Setiap detik terasa seperti siksaan, memeras kesabarannya hingga tak tersisa. Di luar jendela, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dahan pohon mangga dan menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding kamar tidurnya.
Hadi akan pulang besok sore. Ini adalah malam terakhir Ratna sebagai seekor betina yang liar, sebelum ia harus kembali menjadi isteri ustadz yang tertutup dan kering. Dan ia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun dari malam ini.
Pukul sembilan tiga puluh, Ratna berdiri. Ia sudah mandi sejak pukul delapan, menggosok tubuhnya dengan sabun yang beraroma melati hingga kulitnya memerah. Ia mencukur sisa rambut halus di sekitar kemaluannya hingga botak dan mulus, memastikan tidak ada satu pun rintangan yang akan menghalangi sentuhan Fadhli malam ini. Ia bahkan membasuh liangnya dengan air hangat berulang kali, membersihkan sisa-sisa peju dari sore tadi, mempersiapkannya untuk diisi kembali.
Saat membuka lemari, Ratna tidak memilih baju kurung atau rok panjang. Ia mengenakan gaun tidur hitam yang sangat tipis dan pendek, hanya mencapai pertengahan paha. Bahan satin itu dingin menyentuh kulitnya yang masih lembap, membuat putingnya yang sudah tegang sejak tadi terlihat jelas menonjol. Di bawah gaun itu, ia tidak mengenakan apa-apa—tanpa bra, tanpa celana dalam. Ia ingin datang pada Fadhli dalam keadaan telanjang di balik kain tipis itu, siap untuk dilepaskan kapan saja.
Di atas gaun tidurnya, Ratna mengenakan jubah mandi putih yang panjang, menutupi seluruh tubuhnya dari leher hingga mata kaki. Ia mengikat sabuk jubah itu erat, menyembunyikan pakaian dalam yang sangat cabul itu. Ia mematikan lampu kamar, lalu duduk di kegelapan, menunggu.
Pukul sepuluh kurang lima menit. Ratna melangkah keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah yang dijinjitkan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sangat gelap dan sepi. Ia berjalan menuju pintu belakang, tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.
Ini gila. Apa yang ia lakukan? Keluar rumah pada sepuluh malam, mengunjungi pria bukan suaminya, mengenakan gaun tidur di bawah jubahnya? Jika ada tetangga yang melihat, jika ada maling yang lewat, jika ada siapa pun... hidupnya hancur.
Tapi pikiran itu tak bisa menghentikan langkahnya. Nafsunya terlalu besar. Rindunya terlalu dalam. Dan ia tahu, di seberang pagar, Fadhli sedang menunggunya.
Ratna membuka pintu belakang perlahan. Engsel pintu berderit kecil, membuat jantungnya melonjak. Ia melihat ke kanan dan kiri—halaman belakang kosong, tidak ada orang. Hanya ada suara jangkrik dan desiran angin yang berhembus kencang.
Dengan napas yang tertahan, Ratna melangkah keluar. Ia berjalan cepat melewati halaman, kakinya telanjang menyentuh rumput yang dingin dan basah oleh embun. Saat ia mendekati pagar pembatas, ia melihat teras kontrakan Fadhli.
Lampu teras menyala redup. Dan di bawah cahaya itu, Fadhli duduk di kursi plastik, menunggunya.
Pemuda itu memakai celana training hitam dan kaus oblong putih yang ketat di dadanya. Ia sedang merokok, menghembuskan asap ke udara malam, matanya terpaku pada sosok Ratna yang sedang melangkah mendekat.
Saat Ratna tiba di depan pagar, Fadhli tersenyum. Ia mematikan rokoknya, lalu berjalan menuju pintu pagar dan membukanya.
"Kau datang," bisik Fadhli, suaranya berat dan penuh kepuasan.
Ratna menatap Fadhli, napasnya memburu. Ia melangkah masuk ke halaman kontrakan, melewati Fadhli yang sedang berdiri di ambang pintu. Aroma maskulin yang memabukkan itu menyambutnya, membuat kepalanya pening dan selangkangannya memanas.
Fadhli menutup pintu pagar, lalu menguncinya dari dalam. Bunyi kunci yang berputar itu terdengar sangat jelas di malam yang sepi, seperti suara gembok yang mengunci nasib Ratna.
"Masuk," kata Fadhli, memegang tangan Ratna dan menuntunnya ke dalam rumah.
Ratna melangkah masuk ke dalam kontrakan. Rumah itu kecil, lebih kecil dari kamar tidur Ratna di rumahnya. Terdiri dari ruang tamu yang menyatu dengan dapur kecil, dan sebuah pintu yang mungkin mengarah ke kamar tidur. Furniturnya sederhana—sebuah sofa tua, meja kayu, dan sebuah lemari pakaian yang usang.
Tapi Ratna tidak mempedulikan interior rumah itu. Ia hanya mempedulikan pria yang sedang berdiri di belakangnya, menutup pintu utama, dan menguncinya.
Saat pintu tertutup, Fadhli memutar tubuhnya, menatap Ratna dengan tatapan yang membara. Matanya menyapu tubuh perempuan itu dari atas ke bawah, berhenti di jubah mandi putih yang menutupi tubuhnya.
"Lucu kau pakai jubah begitu," bisik Fadhli, melangkah mendekat. Ia memegang sabuk jubah Ratna, memutar ujungnya di jarinya. "Padahal di dalamnya... kau pasti sedang memakai sesuatu yang jauh lebih menarik."
Ratna menelan ludah, wajahnya memerah padam. "Fadhli..."
"Sst..." Fadhli meletakkan jari telunjuknya di bibir Ratna, menahannya dari berkata. "Jangan bicara. Biarkan aku yang membuka hadiahku sendiri."
Dengan gerakan yang lambat, Fadhli menarik ujung sabuk jubah itu. Ikatan itu lepas, jubah itu terkuak, memperlihatkan gaun tidur hitam yang tipis dan pendek di baliknya.
Fadhli mendesak keras saat melihat pemandangan di depannya. Gaun hitam itu sangat tipis, memperlihatkan lekuk tubuh Ratna yang sempurna—payudara yang besar dan berat, perut yang rata, pinggul yang lebar, dan paha yang putih dan montok. Dan yang paling memukau, ia bisa melihat dua titik gelap di dada Ratna—putingnya yang tegang keras menekan kain satin itu—dan bayangan segitiga gelap di antara paha-pahanya yang tertutup tipis oleh kain gaun.
"Ya God..." Fadhli mengeluarkan umpatan pelan, matanya terbelalak. Tangannya meraih kerah jubah Ratna, menariknya ke bawah hingga terjatuh ke lantai, membiarkan perempuan itu berdiri di depannya hanya dengan gaun tidur tipis itu.
"Kau tidak memakai apa-apa di dalamnya, kan?" tanya Fadhli, suaranya serak oleh nafsu.
Ratna menggeleng pelan, matanya terpejam, pipinya memerah karena malu dan gairah.
Fadhli mendengam puas. Ia memegang pinggang Ratna, menarik perempuan itu hingga tubuh mereka menempel rapat. Ratna bisa merasakan panas dari tubuh Fadhli, bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang, dan bisa merasakan tonjolan keras di balik celana training pemuda itu menekan perutnya.
"Ini milikku malam ini, Nduk," bisik Fadhli, tepat di telinga Ratna. "Kau, tubuhmu, memekmu, semuanya milikku. Dan aku akan menggunakannya sepuas-puasnya sebelum suanimu kembali mengambilnya."
Lalu, Fadhli mencium Ratna.
Ciuman ini bukanlah ciuman lembut seperti sebelumnya. Ini adalah ciuman yang brutal, penuh gairah yang meledak-ledak, seolah Fadhli sedang menelanjangi jiwa Ratna melalui bibirnya. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulut Ratna, menjilati lidahnya, mengisap bibirnya, menelan desahan-desahan yang lolos dari tenggorokan perempuan itu.
Saat berciuman, tangan Fadhli tidak diam. Ia meraih kerah gaun tidur Ratna, menariknya ke bawah hingga terkumpul di pinggang, membebaskan payudara perempuan itu dari kurungan kain tipis. Payudara itu melontar keluar, menggantung megah dengan puting yang merah muda dan tegang keras, siap untuk dimakan.
Fadhli menunduk, memasukkan puting kanan Ratna ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan keras sementara tangannya meremas payudara kiri yang masih bebas. Ia menggigit puting itu, menariknya dengan giginya, lalu melepaskannya dengan suara *pop* yang memecah keheningan ruangan.
"Ah! Fadhli!" Ratna menjerit, tangannya meraih rambut Fadhli, mencengkeram rambut lembap itu dengan kuat. Sensasi itu luar biasa—panas, basah, dan sangat nikmat. Ia merasa seperti sedang diberi makan oleh serigala yang kelaparan, dan ia menikmati setiap gigitan dari serigala itu.
Fadhli berlutut di lantai, wajahnya tepat di depan perut Ratna. Ia mencium perut perempuan itu, menghisap kulit yang putih dan halus, meninggalkan bercak-bercak merah di setiap tempat yang disentuhnya. Lalu, tangannya menarik gaun tidur yang terkumpul di pinggang Ratna ke bawah, membiarkannya jatuh ke lantai.
Sekarang, Ratna berdiri telanjang di tengah ruang tamu Fadhli, hanya mengenakan jilbab hitam yang masih menutupi rambut dan lehernya. Kontras antara jilbab yang suci dan tubuh yang telanjang itu sangat erotis, sangat cabul, dan sangat memuaskan bagi Fadhli.
Fadhli menatap memek Ratna yang botak, mulus, dan basah itu. Cairan sudah mulai mengalir dari liangnya, membasahi paha bagian dalam yang putih. Aroma amis manis yang khas dari memek yang sedang berahi itu memenuhi indra penciuman Fadhli, membuatnya semakin gila.
"Kau sangat indah, Nduk," bisik Fadhli, napasnya yang hangat menyentuh kulit paha Ratna. "Dan kau sangat lapar."
Lalu, tanpa peringatan, Fadhli mengangkat satu kaki Ratna, meletakkannya di atas bahuannya, membuka ruang bagi wajahnya untuk menyusup ke antara paha perempuan itu. Ia menjilat bibir memek Ratna dengan gerakan yang lambat dan penuh penekanan, dari bawah ke atas, mengisap klitorisnya yang bengkak, lalu memasukkan lidahnya ke dalam liangnya yang sangat basah.
"Ah! Ya! Fadhli!" Ratna menjerit, pinggulnya bergerak maju, menemui jilatan Fadhli. Tangannya mencengkeram kepala pemuda itu, menekannya lebih dalam ke antara pahanya. Ia tidak tahan lagi. Sensasi itu terlalu besar, terlalu intense, terlalu memabukkan.
Fadhli mengulum memek Ratna dengan rakus, meminum cairan yang mengalir deras dari liang perempuan itu, menjilatinya, mengisapnya, meremas pantatnya yang montok dengan kedua tangannya. Ia memasukkan dua jarinya ke dalam liang Ratna, memompanya dengan ritme yang cepat sementara lidahnya sibuk memijit klitorisnya.
Squelch! Squelch! Squelch!
Suara basah dan licin itu bergema di ruangan yang kecil, bercampur dengan desahan dan erangan Ratna yang semakin tak tertahankan. Ratna merasa kakinya melemas, tubuhnya bergetar hebat, dan gelombang orgasme mulai menghantamnya.
"Fadhli! Aku mau keluar! Ah! Aku mau keluar!" Ratna berteriak, pinggulnya bergerak liar, mengisap jari-jari Fadhli ke dalam liangnya yang berkedut-kedut.
Fadhli memompa jarinya lebih cepat, lebih dalam, menghantam serviks Ratna dengan setiap dorongan, sementara lidahnya mengisap klitoris perempuan itu dengan keras.
Dan Ratna meledak.
Orgasmenya datang seperti letusan gunung berapi yang menghancurkan segalanya. Ia menjerit nama Fadhli, tubuhnya berkontraksi hebat, liangnya memeras jari-jari pemuda itu, membanjiri wajah dan tangan Fadhli dengan cairan yang pekat dan hangat.
Fadhli menelan setiap tetes cairan itu, menjilati memek Ratna hingga bersih, tak menyia-nyiakan satu pun. Ia menatap Ratna yang sedang terengah-engah di atasnya, lalu berdiri.
"Ini baru pemanasan, Nduk," bisik Fadhli, mengusap bibirnya yang basah oleh cairan Ratna. "Malam masih panjang. Dan kita belum masuk ke kamar."
Ratna menatap Fadhli dengan mata yang sayu dan penuh gairah. Ia tahu, malam itu akan menjadi malam yang paling panjang dan paling memabukkan dalam hidupnya.
Dan ia siap untuk menyerap setiap detik dari dosa yang satu ini.
Fadhli meraih tangan Ratna, menarik perempuan itu mengikuti langkahnya menuju pintu kecil di ujung ruang tamu. Ratna berjalan dengan kaki yang tertatih, tubuhnya masih gemetar oleh sisa-sisa orgasme yang baru saja menghancurkannya. Setiap langkah membuat paha-pahanya yang basah bergesekan, menciptakan sensasi yang membuatnya ingin merintih lagi.
Saat Fadhli membuka pintu kamar tidurnya, Ratna disambut oleh kegelapan yang baru saja dipecahkan oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela yang tak bergorden. Kamar itu kecil, hanya muat sebuah ranjang queen size yang ditutupi sprei abu-abu yang tipis, sebuah nakas kayu dengan lampu tidur yang mati, dan lemari pakaian yang usang.
Tapi Ratna tidak mempedulikan kesederhanaan kamar itu. Yang ia pedulikan adalah ranjang di tengah ruangan—ranjang di mana ia akan menghabiskan malam terakhirnya sebagai seekor betina yang liar.
Fadhli menutup pintu kamar, lalu memutar kuncinya. Bunyi klik yang ditimbulkan oleh putaran kunci itu terdengar seperti penanda dimulainya sebuah pertunjukan yang tak bisa diundur. Ia menatap Ratna yang sedang berdiri di tengah kamar, tubuh telanjangnya memancarkan cahaya di bawah sinar bulan yang masuk melalui jendela.
"Berbaringlah," perintah Fadhli, suaranya rendah dan penuh kekuasaan.
Ratna menelan ludah, lalu berjalan menuju ranjang. Ia duduk di tepinya, merasakan sprei yang dingin menyentuh kulit pahanya yang basah, lalu perlahan berbaring, membiarkan tubuhnya terbentang di atas ranjang pemuda itu.
Fadhli berdiri di kaki ranjang, menatap tubuh Ratna yang terbentang di depannya. Payudara yang besar dan berat, perut yang rata, pinggul yang lebar, paha yang montok, dan memek yang botak, mulus, dan becek—semuanya tersaji untuknya, seperti hidangan mewah yang menunggu untuk dimakan.
"Kau tahu apa yang paling membuatku gila darimu, Nduk?" tanya Fadhli, tangannya mulai membuka celana trainingnya.
Ratna menggeleng, matanya terpaku pada gerakan tangan Fadhli.
"Kau masih memakai jilbab itu," jawab Fadhli, menyeringai. Ia menarik celana trainingnya ke bawah, membebaskan kontolnya yang sudah sangat keras dan besar. "Kau berbaring telanjang di ranjangku, memekmu terbuka lebar, basah becek menunggu dikawini, tapi kau masih memakai jilbabmu. Kau tampak seperti... seperti perempuan suci yang sedang menunggu untuk diajari dosa."
Kata-kata itu membuat Ratna merasa sangat cabul, sangat hina, namun sangat terangsang. Ia teringat akan kata-kata Nisa sore tadi—*Bu Ratna adalah panutan kami*. Panutan. Isteri ustadz. Perempuan suci. Tapi saat ini, panutan itu sedang berbaring telanjang di ranjang pria lain, dengan memek yang menangis kelaparan dan jilbab yang masih menutupi rambutnya.
Fadhli naik ke atas ranjang, berlutut di antara dua paha Ratna yang terbuka lebar. Ia memegang pangkal kontolnya, menggesekkan kepala yang besar dan panas itu ke bibir memek Ratna yang basah, mengusapnya ke atas dan ke bawah, menciptakan gesekan yang membuat kedua orang itu mendesah.
"Fadhli... jangan siksa aku lagi..." Ratna merintih, pinggulnya bergerak, mencari ujung kontol itu, ingin memasukkannya ke dalam liangnya yang kosong.
"Ini bukan siksaan, Nduk. Ini adalah foreplay," bisik Fadhli, matanya menatap wajah Ratna yang sedang meronta-ronta di bawahnya. "Karena malam ini... malam ini aku akan membuatmu mengingatku selamanya. Setiap kali suanimu menyentuhmu, setiap kali kau mandi, setiap kali kau duduk di ranjangmu... kau akan mengingat bagaimana rasanya dikawini olehku di ranjang ini."
Lalu, dengan satu dorongan yang kuat dan dalam, Fadhli memasukkan kontolnya ke dalam liang Ratna hingga akar.
"Ah!" Ratna menjerit, punggungnya melengkung, payudaranya bergoyang hebat mengikuti hentakan itu. Liangnya yang sudah sangat basah dan licin menyambut kontol Fadhli dengan rakus, menelan batang yang besar itu hingga tak tersisa, mengisapnya, meremasnya, seolah tak ingin melepaskannya.
Fadhli mendengam, kepalanya mendongak, menikmati kepanasan dan kekencangan liang Ratna yang sedang melingkar di sekeliling batangnya. "Ratna... kau sangat sempit... sangat nikmat..."
Ia mulai bergerak, menarik kontolnya keluar hingga hanya tersisa kepala, lalu mendorongnya kembali dengan kekuatan penuh. Hentakan itu membuat ranjang berderit, dinding bergetar, dan tubuh Ratna terangkat dari kasur.
Plak!
"Ah! Ya! Fadhli! Dalam... lebih dalam!" Ratna menjerit, tangannya mencengkeram sprei di atas ranjang, kukunya merobek kain tipis itu. Sensasi itu luar biasa—kontol Fadhli yang besar sedang merobek liangnya, menghantam serviksnya, menciptakan gelombang nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Fadhli memompa dengan ritme yang stabil namun penuh kekuasaan, memasukkan dan menarik kontolnya dari liang Ratna dengan gerakan yang presisi. Setiap hentakan menciptakan suara basah yang keras—squelch! squelch! squelch!—bercampur dengan suara kulit yang beradu—plak! plak! plak!—dan desahan yang tak tertahankan.
"Ratna... kau suka ini, kan? Kau suka kontolku menghancurkan memekmu, kan?" Fadhli mendesah, matanya menatap wajah Ratna yang sedang terbuai oleh kenikmatan. Ia memompa lebih cepat, lebih keras, lebih dalam.
"Iya! Ah! Iya! Aku suka kontolmu! Aku suka kamu menghancurkan memekku! Ah! Jangan berhenti! Jangan pernah berhenti!" Ratna berteriak, kata-kata kotor itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tak bisa ditahan lagi. Ia tidak peduli pada dosanya, tidak peduli pada neraka, tidak peduli pada suaminya yang akan pulang besok. Ia hanya peduli pada kontol Fadhli yang sedang membelah rahimnya, memberinya kenikmatan yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Fadhli mengubah posisi mereka. Ia mengangkat kedua kaki Ratna, meletakkannya di atas bahunya, membuka liang perempuan itu lebih lebar, memungkinkannya untuk memasuki lebih dalam. Dari posisi ini, setiap dorongan Fadhli terasa seperti menusuk langsung ke rahim Ratna.
"Ah! Terlalu dalam! Fadhli! Aku mau mati!" Ratna menjerit, air matanya mengalir membasahi pipinya. Sensasi itu terlalu besar, terlalu intense, terlalu memabukkan. Ia merasa seperti sedang ditarik ke dalam pusaran yang tak berdasar, di mana hanya ada kenikmatan dan gairah yang tak bisa dihentikan.
Fadhli menunduk, mencium bibir Ratna, menelan jeritan dan desahannya. Ia memompa lebih cepat, lebih brutal, lebih tidak terkendali. Ranjang di bawah mereka berderit keras, seolah protes karena digunakan untuk aktivitas yang tak pernah ia bayangkan.
Mereka bercinta dalam berbagai posisi malam itu—posisi misionaris yang klasik, posisi cowgirl di mana Ratna menunggangi Fadhli dengan payudaranya bergoyang hebat di atas wajah pemuda itu, posisi doggy style di mana Fadhli menghentak Ratna dari belakang sambil memegang pantat perempuan itu yang montok, dan posisi spoons di mana Fadhli memeluk Ratna dari belakang, memasukkan kontolnya perlahan sambil membisikkan kata-kata kotor di telinganya.
Setiap posisi membawa gelombang kenikmatan baru yang tak pernah Ratna rasakan sebelumnya. Setiap hentakan membuatnya semakin jatuh ke dalam jurang dosa yang tak berdasar. Dan setiap kali Fadhli menyemburkan pejunya ke dalam rahimnya, Ratna merasa seperti sedang diisi oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar cairan—ia merasa sedang diisi oleh kehidupan, oleh gairah, oleh keberadaan yang selama ini hilang dari hidupnya.
Mereka beristirahat sejenak di tengah-tengah malam itu, tubuh mereka terbaring lelah di atas ranjang yang sudah basah oleh keringat dan cairan. Fadhli memeluk Ratna dari belakang, tangannya membelai payudara perempuan itu dengan gerakan yang lembut namun memiliki.
"Ini malam terakhirmu, Nduk," bisik Fadhli, suaranya terdengar berat dan sedikit sedih. "Mulai besok, kau harus kembali pada suamimu. Kau harus kembali menjadi isteri ustadz yang suci."
Ratna menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tahu kata-kata Fadhli itu benar. Besok, Hadi akan pulang. Dan ia harus kembali pada kehidupannya yang lama—kehidupan yang dingin, membosankan, dan mematikan.
"Tapi aku tidak ingin kembali," bisik Ratna, suaranya retak. "Aku ingin tetap di sini, bersamamu."
Fadhli menyalakan sebatang rokok, mengisapnya pelan, lalu menghembuskan asap ke arah langit-langit yang gelap. "Kau harus, Nduk. Kau adalah isteri orang. Kau memiliki kehidupan, memiliki status, memiliki tanggung jawab. Aku... aku hanya seorang pemuda yang baru pindah ke kontrakan sebelah. Aku tidak memiliki apa-apa untuk memberikanmu masa depan."
Kata-kata itu menusuk Ratna tepat di jantungnya. Fadhli benar. Mereka hidup di dunia yang berbeda. Ratna adalah isteri ustadz yang dihormati, sementara Fadhli adalah pemuda yang hidup dari hari ke hari. Mereka tidak memiliki masa depan bersama. Yang mereka miliki hanyalah malam-malam yang dicuri dan dosa-dosa yang tak bisa dimaafkan.
"Tapi..." Ratna memutar tubuhnya, menatap Fadhli dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak bisa hidup tanpa kamu lagi, Fadhli. Kau telah membuka mataku. Kau telah membuatku merasa hidup. Bagaimana aku bisa kembali pada kehidupan yang membosankan setelah merasakan ini?"
Fadhli menatap Ratna, lalu mematikan rokoknya di atas nakas. Ia meraih wajah perempuan itu, menciumnya dengan lembut, namun penuh gairah yang tertahan. "Kita akan menemukan caranya, Nduk. Kita akan menemukan cara untuk terus bersama, meski suamimu ada di rumah. Karena..." Fadhli berhenti sejenak, matanya menatap langsung ke mata Ratna. "Karena aku juga tidak bisa melepaskanmu. Kau milikku sekarang. Memek ini milikku. Tubuh ini milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku."
Kata-kata itu membuat Ratna merasa aman, meski ia tahu itu adalah janji yang dibangun di atas dosa. Ia menempelkan wajahnya di dada Fadhli, mendengarkan detak jantung pemuda itu yang berdebar kencang, dan memejamkan mata.
"Bawalah aku sekali lagi, Fadhli," bisik Ratna, suaranya serak oleh nafsu yang kembali memuncak. "Sebelum fajar menyingsing. Sebelum aku harus kembali pada kehidupanku. Bawalah aku dengan cara yang paling keras, paling dalam, paling memabukkan. Buat aku tidak bisa berjalan besok. Buat aku merasakanmu setiap kali aku bergerak. Buat aku mengingatmu setiap kali aku bernapas."
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kekuasaan dan keinginan. Ia menarik tubuh Ratna lebih dekat, meremas payudara perempuan itu dengan kasar, lalu mencium lehernya dengan gairah yang meledak-ledak.
"Permintaanmu adalah perintahku, Nduk," bisik Fadhli, suaranya berat dan penuh janji. "Malam ini belum berakhir. Dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah melupakannya."
Mereka bercinta lagi untuk terakhir kalinya malam itu—kali ini dengan gairah yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih putus asa. Fadhli memompa Ratna dengan kekuatan yang tak pernah ia keluarkan sebelumnya, seolah ia sedang mencoba menanamkan dirinya ke dalam rahim perempuan itu secara permanen.
Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!
Squellch! Squelch! Squelch! Squelch! Squelch!
"Ratna! Aku mau keluar! Ah!" Fadhli mendengam, pinggulnya bergerak sangat cepat, sangat tidak terkendali.
"Keluarlah, Fadhli! Keluarkan semuanya di dalam memekku! Panaskan rahimku! Buat aku hamil! Ah! Ya!" Ratna berteriak, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, dorongan nafsu yang tak bisa ia kontrol. Ia ingin merasakan peju Fadhli sekali lagi, ingin rahimnya dipenuhi oleh cairan pemuda itu, ingin membawa dosa ini ke dalam kehidupannya yang suci sebagai pengingat abadi.
Fadhli meraung, memegang bahu Ratna, dan mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam liang perempuan itu. Tubuhnya menegang, otot-ototnya berkontraksi, lalu ia meledak.
Ratna merasakannya lagi—aliran panas yang sangat kuat menyembur dari ujung kontol Fadhli, menembus serviksnya, membanjiri rahimnya yang sudah penuh. Panasnya luar biasa, banyaknya luar biasa, seolah pemuda itu sedang menuangkan seluruh jiwa dan raganya ke dalam tubuh Ratna.
Sensasi itu membawa Ratna ke puncak kenikmatan sekali lagi. Ia menjerit nama Fadhli, tubuhnya berkontraksi liar, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Mereka jatuh ke ranjang secara perlahan, tubuh mereka terpisah, meninggalkan jejak cairan yang bercampur—cairan Ratna yang jernih dan peju Fadhli yang putih dan kental—mengalir dari memek Ratna yang masih berkedut-kedut, membasahi sprei abu-abu yang sudah kuyup oleh keringat dan cairan.
Fadhli memeluk Ratna dari belakang, menarik napas yang berat dan cepat. Kulit mereka saling menempel, keringat bercampur menjadi satu, aroma seks yang pekat memenuhi kamar yang kecil itu.
"Ini bukan perpisahan, Nduk," bisik Fadhli di telinga Ratna, suaranya lelah namun penuh tekad. "Ini hanya awal. Kita akan menemukan caranya. Aku berjanji."
Ratna tidak menjawab. Ia hanya bisa terbaring di pelukan Fadhli, menatap kegelapan kamar itu, dan membiarkan air matanya mengalir pelan di pipinya.
Ia tahu, besok adalah hari baru. Hari di mana ia harus kembali menjadi isteri ustadz yang suci, isteri yang tertutup, isteri yang tak terjangkau. Tapi ia juga tahu, di balik kesucian itu, di balik jilbab dan baju kurungnya, tersimpan rahasia yang paling kotor dan paling indah yang pernah ia miliki.
Rahasia tentang malam-malam yang dicuri dengan seorang pemuda di kontrakan seberang rumahnya. Tentang kontol yang membuatnya gila. Tentang peju yang memenuhi rahimnya. Tentang dosa yang tak bisa dimaafkan, namun tak bisa ia tinggalkan.
Dan saat fajar mulai menyingsing, Ratna bangkit dari ranjang Fadhli, memakai gaun tidur dan jubah mandinya yang berserakan di lantai, lalu berjalan pulang melintasi halaman yang gelap dengan langkah yang tertatih dan memek yang menangis karena kekosihan yang mendadak.
Ia membuka pintu belakang rumahnya, melangkah masuk ke dalam kegelapan, dan mengunci pintu itu di belakangnya. Ia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dari sisa-sisa dosa malam itu, lalu berbaring di atas ranjang suaminya yang kosong.
Saat ia menutup matanya, bayangan Fadhli masih menghantuiinya. Bayangan kontolnya yang besar dan keras. Bayangan pejunya yang panas dan banyak. Bayangan tatapannya yang menelanjangi.
Dan Ratna tahu, meski Hadi akan pulang besok, meski ia harus kembali pada kehidupannya yang suci, ia tidak akan pernah bisa melupakan malam ini. Karena malam ini telah mengubahnya selamanya.
Ia bukan lagi isteri ustadz yang suci. Ia adalah seekor betina yang telah menemukan jantannya. Dan seekor betina yang telah menemukan jantannya, tidak akan pernah bisa puas lagi dengan kehidupan yang tanpa gairah.
Meski itu berarti ia harus terus mencuri momen-momen dosa dengan pemuda di seberang rumahnya.
Meski itu berarti ia harus hidup dalam dua dimensi—suci di siang hari, dan jalang di malam hari.
Karena itulah harga yang harus ia bayar untuk merasakan surga di bumi ini.
Surga yang terletak di ujung kontol seorang pemuda bernama Fadhli.
Dan Ratna rela membayar harga itu, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
ns216.73.217.110da2


