Pagi itu, saat Ratna sedang menyiapkan sarapan, Hadi turun dari lantai dua dengan wajah yang terlihat lebih rileks dari biasanya. Pria itu duduk di meja makan, menyeduh tehnya sendiri, lalu menatap isterinya dengan pandangan yang membuat Ratna sedikit terkejut.
"Ratna, kemarin ketika saya shalat di masjid, saya bertemu pemuda baru di kompleks ini. Fadhli namanya," ucap Hadi, menyeruput tehnya. "Dia bilang dia baru pindah dan ingin memperdalam ilmu agama. Dia tampak sangat antusias."
Ratna membeku. Tangannya yang sedang menggoreng telur berhenti membalikkan telur itu di atas wajan. Jantungnya yang sejak beberapa bulan ini sudah terbiasa berdebar karena Fadhli, kini berdebar lebih keras lagi, namun karena alasan yang sangat berbeda—ketakutan.
"Oh... ya?" Ratna berusaha membuat suaranya sedatar mungkin. "Saya juga sempat bertukang sapa beberapa kali di gang."
"Bagus," Hadi mengangguk puas. "Pemuda itu butuh bimbingan. Dia bilang dia merasa kosong dan ingin mendekat. Jadi, saya mengundangnya untuk belajar bersama saya di rumah, dua kali seminggu. Mulai siang ini."
Ratna hampir menjatuhkan spatula. Belajar? Di rumah? Fadhli akan berada di rumahnya, di ruang tamunya, mungkin duduk di kursi yang sama di mana pemuda itu pernah menggagahinya, sementara Hadi ada di sana?
"Ini... ini bagus, Mas," Ratna menelan ludah, memaksakan senyum. "Beramal ilmu."
"Tepat. Saya ingin kau juga ikut mendengarkan. Karena perempuan juga wajib menuntut ilmu," tambah Hadi. "Dan kau pasti bisa menyediakan hidangan yang layak untuk tamu kita."
"Tentu, Mas. Saya akan siapkan yang terbaik."
Setelah Hadi pergi ke kantor yayasan, Ratna berlari ke kamarnya. Ia memegangi dadanya, mencoba menetralkan napasnya yang memburu. Fadhli akan datang ke rumahnya. Bukan untuk mencuri waktu dengannya, melainkan untuk belajar bersama suaminya. Ini adalah situasi yang paling ironis dan paling berbahaya.
Ponselnya bergetar.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kakekku bilang dia diajak ngaji sama suamimu siang ini. Di rumahmu. Aku akan datang, Nduk. Dan jangan coba-coba menghindar.*
Ratna menatap layar itu dengan mata yang terbelalak. Fadhli memang sudah tahu. Dan pemuda itu pasti sudah merencanakan sesuatu. Ratna ingin membatalkan, ingin menghubungi Hadi dan mengatakan bahwa ia tidak enak badan, tapi ia tahu Hadi tidak akan menerimanya. Suaminya sangat serius tentang dakwah.
Sekitar pukul dua siang, setelah Ratna selesai membersihkan rumah dan menyiapkan makanan, terdengar ketukan di pintu depan. Hadi, yang sedang membaca di ruang kerjanya, langsung bangkit.
"Pasti Fadhli," kata Hadi, berjalan menuju pintu.
Ratna berdiri di lorong, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat suaminya membuka pintu, dan di balik pintu itu, Fadhli berdiri dengan senyum sopan yang sangat bertolak belakang dengan sifat aslinya.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Hadi," sapa Fadhli, suaranya lembut dan penuh rasa hormat. Ia memakai kemeja putih dan celana hitam, terlihat seperti pemuda saleh yang sedang mencari petunjuk.
"Wa'alaikumussalam, Fadhli. Silakan masuk," jawab Hadi, tersenyum hangat.
Fadhli melangkah masuk, matanya dengan cepat menyapu rumah itu, lalu mendarat pada sosok Ratna yang berdiri di ujung lorong. Tatapan itu hanya berlangsung sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat memek Ratna berdenyut hebat.
"Bu Ratna," Fadhli mengangguk, senyumnya tak berubah.
"Fadhli," balas Ratna, suaranya hampir tak terdengar.
Mereka menuju ruang tamu. Hadi mempersilakan Fadhli duduk di sofa, sementara ia mengambil kitab dan perlengkapan belajar dari ruang kerjanya. Ratna segera mengambil nampan berisi teh dan kue, berjalan dengan kaki yang terasa seperti akan lumpuh.
Saat ia meletakkan nampan di atas meja, Fadhli berada tepat di seberangnya. Jarak mereka sangat dekat, hanya terpisahkan oleh meja kayu kecil. Aroma maskulin yang sangat familiar itu memenuhi indra penciumannya, membuat bayangan malam-malam panas mereka berkelebat di kepalanya.
"Terima kasih, Bu Ratna," ucap Fadhli, mengambil gelas teh. Jari-jarinya sengaja menyentuh punggung tangan perempuan itu saat mengambil gelas, menciptakan aliran listrik yang membuat Ratna hampir menjatuhkan nampan.
"Sama-sama," balas Ratna cepat, menarik tangannya, lalu mundur selangkah. Ia duduk di kursi di sudut ruangan, menjaga jarak, berharap Hadi tidak menyadari wajahnya yang memerah.
Hadi kembali dengan beberapa buku, lalu duduk di samping Fadhli. Mereka mulai belajar. Hadi membaca dengan suara yang merdu, menjelaskan tajwid dan makna ayat dengan penuh wibawa. Fadhli mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk, bertanya dengan bahasa yang sopan.
Ratna duduk di sudut, memperhatikan pemandangan yang sangat absurd. Di satu sisi, ia melihat suaminya yang sedang berdakwah, mencari pahala. Di sisi lain, ia melihat pemuda yang baru saja merobeknya semalam, duduk dengan sopan, mendengarkan ceramah suaminya.
Tiba-tiba, ponsel Ratna bergetar di pangkuannya. Ia mengintip layarnya.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau terlihat cantik sekali hari ini, Nduk. Aku suka jilbabmu. Bikin aku ingin menariknya dan mencium lehermu.*
Ratna reflex menghapus pesan itu, wajahnya memerah padam. Ia melirik ke arah Fadhli. Pemuda itu sedang menatap Hadi, mendengarkan penjelasan tentang hukum tajwid, tapi tangannya yang memegang ponsel diam-diam bergerak di bawah meja.
Ponsalnya bergetar lagi.
*Rileks, Nduk. Suamimu tidak tahu. Sekarang, buka sedikit kerah baju kurungmu. Aku ingin lihat putingmu.*
Ratna menggigit bibirnya, menahan keinginan untuk berteriak. Ini gila. Hadi ada di sana, duduk tidak jauh dari Fadhli. Ia tidak bisa melakukan itu.
Balasan datang lebih cepat.
*Jangan buat aku menunggu, Nduk. Atau aku akan bilang pada suamimu bahwa isterinya baru saja memegang kontolku di pagi hari.*
Ratna merasa dunianya runtuh. Ia tahu Fadhli serius. Pemuda itu tidak memiliki batasan, tidak memiliki rasa takut, dan sangat menikmati permainan ini.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna perlahan menarik kerah baju kurungnya sedikit ke bawah. Ia memastikan Hadi sedang fokus pada buku, lalu membuka kancing pertama baju kurungnya.
Kerah itu kini terbuka sedikit, memperlihatkan kulit dada yang putih dan klavikel yang menggoda. Dan di balik kain itu, tanpa bra—karena Fadhli melarangnya memakai bra di rumah—pemuda itu pasti bisa melihat bayangan putingnya yang tegang.
Fadhli menatap Ratna dari seberang meja, senyum tipis terbentuk di bibirnya. Ia menjilat bibirnya dengan cepat, lalu kembali fokus pada Hadi.
"Ini sangat menarik, Ustadz," ucap Fadhli, suaranya penuh penghargaan. "Saya merasa lebih dekat dengan tuhan setelah mendengar penjelasan ini."
Hadi tersenyum puas. "Itulah tujuan ilmu, Fadhli. Untuk mendekatkan diri."
Ratna mendengus napas. Mendekatkan diri? Fadhli tidak mendekat pada tuhan. Ia mendekat pada Ratna. Ia menggunakan agama sebagai kedok untuk masuk ke rumahnya, duduk di ruang tamunya, dan menggodanya di bawah hidung suaminya.
Ponsalnya bergetar lagi.
*Bagus, Nduk. Sekarang buka pangkuanmu sedikit. Biarkan aku membayangkan memekmu yang basah di bawah rok itu.*
Ratna menutup matanya, merasa sangat tersiksa namun sangat terangsang. Ia membiarkan ponselnya ada di pangkuannya, lalu perlahan merenggangkan kakinya sedikit di bawah rok.
Di seberang ruangan, Fadhli menunduk seolah sedang mencatat, tapi matanya diam-diam menyapu tubuh Ratna dari bawah. Ia bisa melihat posisi kaki perempuan itu yang sedikit terbuka, membayangkan memek yang sedang menunggunya.
Hadi berdiri untuk mengambil buku lain di rak. Saat pria itu membelakangi mereka, Fadhli memanfaatkan kesempatan itu. Ia menatap Ratna lurus-lurus, lalu diam-diam menggerakkan tangannya—menjilati bibir bawahnya dengan gerakan yang sangat erotik, lalu mengacungkan lidahnya.
Ratna membuang mukanya, napasnya memburu. Ia bisa merasakan memeknya mulai memanas, cairan mulai mengalir membasahi celana dalamnya.
Hadi kembali dengan buku, duduk, dan melanjutkan pelajaran. Ruangan itu kembali tenang, dipenuhi oleh suara bacaan Hadi yang merdu. Tapi di bawah ketenangan itu, ada badai yang sedang mengamuk di tubuh Ratna—badai nafsu yang tak bisa dihentikan.
Pelajaran berlangsung selama dua jam. Dua jam di mana Ratna disiksa oleh kehadiran Fadhli, disiksa oleh pesan-pesan cabul yang terus masuk, disiksa oleh bayangan kontol pemuda itu yang pernah merobeknya.
Saat pelajaran usai, Fadhli berdiri, mengulurkan tangannya pada Hadi.
"Terima kasih banyak, Ustadz. Ini sangat berarti bagi saya," ucap Fadhli, senyumnya kini tampak tulus.
"Sama-sama, Fadhli. Kita lanjutkan minggu depan," jawab Hadi, membalas jabatan tangan itu.
Fadhli menoleh ke arah Ratna, mengangguk sopan. "Terima kasih juga untuk hidangannya, Bu Ratna. Sangat enak."
Ratna hanya bisa mengangguk, tak sanggup berbicara. Matanya menatap Fadhli yang sedang berjalan menuju pintu, meninggalkan rumah itu dengan langkah yang santai, meninggalkan Ratna yang sedang berdiri dengan memek basah dan hati yang hancur.
Saat pintu tertutup, Hadi menatap Ratna dengan senyum puas.
"Pemuda yang baik, Fadhli. Dia sangat antusias. Aku yakin dia bisa menjadi jamaah yang setia."
Ratna mengangguk, berusaha tersenyum. "Iya, Mas."
Tapi di dalam kepalanya, Ratna tahu Fadhli tidak antusias tentang agama. Pemuda itu antusias tentang dirinya. Dan pemuda itu akan kembali, minggu depan, untuk bermain-main dengan isteri ustadz yang suci di bawah hidung suaminya.
Dan Ratna tahu, ia tidak bisa menolak. Karena dosa yang paling berbahaya, adalah dosa yang paling memuaskan.
Sore harinya, setelah Hadi pergi ke masjid untuk persiapan Isya, Ratna menerima pesan dari Fadhli.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau sangat seksi saat pura-pura suci, Nduk. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu di kursi itu. Besok, saat aku datang lagi, aku ingin kau tidak memakai celana dalam. Dan aku ingin merasakan memekmu di bawah meja, sementara suamimu membaca kitab di sebelahku.*
Ratna membaca pesan itu dengan mata yang terbelalak. Fadhli ingin menyentuhnya di bawah meja, sementara Hadi ada di sana? Ini adalah rencana bunuh diri.
Tapi saat ia memikirkan bahaya itu, saat ia memikirkan kontol Fadhli yang akan menyentuhnya di bawah meja, memeknya kembali berdenyut hebat.
Ia tidak bisa menolak. Ia tidak ingin menolak.
Karena Fadhli telah menjadikan rumahnya—tempat yang paling suci dan aman baginya— menjadi arena permainan yang paling berbahaya dan memabukkan.
Dan Ratna siap untuk memainkan permainan itu.
Meski itu berarti ia harus terbakar di neraka.
Karena neraka yang dijanjikan oleh Fadhli, jauh lebih menarik daripada surga yang diberikan oleh suaminya.
**[Bab 6 - Les Privat Penuh Godaan - Bagian 2]**
Siang itu, Ratna berdiri di depan cerma lemari pakaian dengan tubuh yang gemetar. Ia sudah mandi, membersihkan diri hingga kulitnya memerah, mencukur bulu-bulu halus di sekitar kemaluannya hingga botak dan mulus. Ia mengenakan bra renda hitam yang membuat payudaranya terangkat penuh, menonjol di balik baju kurung berwarna pastel. Rok panjang berwarna krem ia kenakan, jatuh sempurna hingga mata kaki.
Tapi saat tangannya hendak mengambil celana dalam dari laci, ponselnya bergetar.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Jangan lupa, Nduk. Tanpa celana dalam. Aku ingin merasakan kemulusan memekmu saat menyentuh jariku di bawah meja suamimu.*
Ratna menelan ludah. Ia menatap sehelai celana dalam katun tipis di tangannya, lalu dengan tangan yang gemetar, ia memasukkannya kembali ke dalam laci. Ia menarik roknya ke atas, merasakan udara yang langsung menyentuh kulit paha dan kemaluannya yang telanjang. Sensasi itu—sensasi tanpa lapisan pelindung di bawah rok panjangnya—membuatnya merasa sangat telanjang, sangat rentan, dan sangat cabul.
Ia merapikan jilbabnya, memastikan tidak ada yang mencurigakan. Di luar, ia terlihat seperti Ratna yang biasa—isteri ustadz yang tertutup dan sopan. Tapi di balik rok itu, memeknya yang becek sedang menunggu untuk disentuh oleh pria yang bukan suaminya.
Pukul dua siang, terdengar ketukan di pintu depan. Hadi menyambut Fadhli dengan senyum hangat. Mereka berjalan menuju ruang tamu, duduk di meja kayu yang telah disiapkan. Ratna mengikuti dari belakang, membawa nampan berisi teh dan kue, berjalan dengan langkah yang lebih hati-hati karena kesadaran bahwa ia tidak memakai celana dalam membuat langkahnya terasa lebih sensitif.
Saat ia meletakkan nampan di atas meja, Fadhli menatapnya. Tatapan itu tajam, menyapu tubuhnya dari atas ke bawah, seolah pemuda itu bisa melihat apa yang tersembunyi di bawah rok panjangnya.
"Silakan duduk, Ratna. Kita mulai pelajaran hari ini," kata Hadi, membuka kitab di atas meja.
Ratna duduk di seberang Fadhli, terpisahkan oleh meja kayu yang tidak terlalu besar. Hadi duduk di kepala meja, membelakangi jendela, sementara Fadhli duduk menghadap Ratna. Posisi ini—posisi di mana Fadhli bisa melihat seluruh tubuh Ratna sementara Hadi fokus pada buku—adalah posisi yang sangat sempurna untuk permainan Fadhli.
Hadi mulai membaca, suaranya merdu dan penuh khusyuk. Ia menjelaskan makna ayat dengan detail, sesekali menandai buku dengan pensil. Fadhli mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk, mencatat di buku kecilnya.
Tiba-tiba, Ratna merasakan sesuatu di bawah meja. Sesuatu yang menyentuh kakinya.
Ia menoleh ke bawah, lalu melihat kaki Fadhli yang sedang mengulurkan sepatu bootnya, menyentuh betis Ratna yang telanjang di balik rok.
Ratna tersentak, hampir menjatuhkan pensil yang sedang ia pegang. Ia melirik ke arah Fadhli, tapi pemuda itu sedang menatap Hadi, wajahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Kaki Fadhli terus naik, menyusuri betis Ratna yang halus, lalu berhenti di lutut. Ia mendorong lutut Ratna sedikit, membuka pangkuan perempuan itu.
Ratna merasa napasnya memburu. Ia mencoba menutup kakinya, tapi kaki Fadhli menahannya.
"Bu Ratna, apakah ada yang salah?" tanya Hadi, menoleh dari bukunya.
Ratna tersentak. "Ti... tidak, Mas. Saya hanya... sedikit kepanasan."
Hadi mengangguk, lalu kembali membaca.
Di bawah meja, kaki Fadhli terus naik. Ia menggunakan ujung sepatu bootnya untuk menggesek paha Ratna bagian dalam, menciptakan sensasi yang membuat memek perempuan itu mulai memanas. Kaki itu terus mendekati kemaluan Ratna, menggesekkan permukaan kulit yang halus itu dengan gerakan yang lambat dan memiliki.
Ratna menggigit bibirnya, menahan desahan yang terancam lolos. Ia bisa merasakan cairan mulai mengalir dari memeknya, membasahi paha bagian dalam yang sedang disentuh oleh sepatu boot Fadhli.
Ponselnya bergetar.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau mengikuti perintahku, kan, Nduk? Kau tidak memakai celana dalam. Aku bisa merasakan kemulusan pahamu. Sekarang, buka pangkuanmu lebih lebar. Biarkan kakiku menyentuh memekmu.*
Ratna menutup matanya sejenak, lalu dengan gerakan yang sangat pelan, ia merenggangkan kakinya sedikit.
Kaki Fadhli langsung maju, menyusup di antara dua paha Ratna yang terbuka. Ujung sepatu boot itu menyentuh kemaluan Ratna yang telanjang—menyentuh bibir memek yang sudah basah becek.
"Ah!" Ratna mendesak, suaranya lebih keras dari yang ia inginkan.
Hadi berhenti membaca, menatap Ratna dengan mata yang tajam. "Ratna?"
Ratna menelan ludah, berusaha tersenyum. "Maaf, Mas. Saya... saya sedikit terserang sakit perut. Maag kali ya."
Hadi mengangguk, lalu mengambil gelas tehnya. "Minum obat nanti. Sekarang kita lanjutkan."
Fadhli tersenyum tipis, matanya masih menatap Hadi, tapi kakinya semakin keras menekan memek Ratna di bawah meja. Ia menggesekkan ujung sepatu bootnya ke atas dan ke bawah, memijit klitoris Ratna yang mulai bengkak, menciptakan sensasi yang luar biasa bagi perempuan itu.
Ratna memegang tepi meja dengan erat, kukunya mencengkeram kayu itu. Ia merasa seperti sedang ditarik ke dalam pusaran yang tak berdasar—kenikmatan dan ketakutan bercampur menjadi satu, membuatnya semakin gila.
Ponselnya bergetar lagi.
*Kau basah, kan, Nduk? Aku bisa merasakan kebecekan memekmu di sepatuku. Kau sangat jalang. Kau menyukai ini, kan? Disentuh olehku sementara suamimu ada di depanmu.*
Ratna tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa duduk di sana, mencoba fokus pada wajah Hadi yang sedang membaca, sementara kaki Fadhli sedang memijit memeknya di bawah meja.
Fadhli menghentikan gerakan kakinya, lalu menariknya kembali. Ratna mengira permainan itu sudah selesai, tapi ia salah. Beberapa detik kemudian, ia merasakan tangan—bukan kaki—yang menyusup di bawah meja.
Tangan Fadhli merayap di atas paha Ratna yang telanjang, menembus rok tipis itu, lalu langsung menuju kemaluannya. Jari-jari pemuda itu menyentuh bibir memek Ratna yang becek, mengusapnya dengan gerakan yang sangat lambat.
Ratna menutup matanya, menahan erangan yang terancam lolos. Jari-jari Fadhli sangat kasar, sangat maskulin, sangat... memiliki. Ia bisa merasakan telapak tangan pemuda itu yang hangat di atas kemaluannya, bisa merasakan tekanan jari-jarinya di klitorisnya yang bengkak.
"Bu Ratna, apakah kau fokus?" tanya Hadi, menoleh dari bukunya.
Ratna membuka mata, berusaha tersenyum. "Iya, Mas. Saya... saya sedikit pusing."
Hadi mengangguk, lalu kembali membaca.
Di bawah meja, jari Fadhli mulai bergerak. Ia memijit klitoris Ratna dengan ibu jarinya, sementara jari lainnya menyusup ke dalam liang perempuan itu.
Squelch...
Suara basah itu terdengar sangat jelas di telinga Ratna, meski mungkin tak terdengar oleh Hadi yang sedang membaca. Ia merasa sangat cabul, sangat hina, namun sangat nikmat.
Fadhli memasukkan dua jarinya ke dalam liang Ratna, memompanya dengan ritme yang lambat namun sangat memiliki. Ia menatap wajah Ratna yang sedang berjuang menahan kenikmatan, lalu tersenyum.
"Ustadz, saya ingin bertanya tentang hukum syarak terkait..." Fadhli berhenti sejenak, jari-jarinya bergerak lebih cepat di dalam memek Ratna. "...tentang hubungan suami istri. Apakah ada batasan waktu atau posisi yang dianjurkan?"
Ratna tersentak. Pertanyaan itu sangat cabul, sangat provokatif, namun terdengar sangat sopan dari mulut Fadhli. Ia menatap Fadhli dengan mata yang terbelalak, tapi pemuda itu hanya tersenyum.
Hadi menunduk, berpikir sejenak. "Ada beberapa pandangan, Fadhli. Pada dasarnya, hubungan suami istri adalah hak masing-masing, dan dianjurkan untuk dilakukan dengan penuh kasih sayang dan tidak menzhalimi pasangan. Batasan waktu tidak diatur secara detail selama tidak mengganggu kewajiban ibadah. Mengapa kau bertanya?"
Fadhli tersenyum, jari-jarinya terus memompa memek Ratna. "Hanya penasaran, Ustadz. Karena saya dengar, beberapa ulama menyarankan agar hubungan suami istri dilakukan dengan penuh gairah dan memuaskan kedua belah pihak. Agar tidak ada yang merasa kurang."
Hadi mengangguk. "Benar. Kepuasan dalam mahram itu penting, selama caranya tidak melanggar syarak. Istri juga memiliki hak untuk mendapatkan kepuasan, bukan hanya suami."
Ratna mendengar kata-kata itu, dan ia merasa seperti sedang ditampar. Hadi tahu tentang hak isteri untuk mendapatkan kepuasan, tapi ia tidak pernah memberikannya. Ia tidak pernah membuat Ratna merasakan apa yang sedang dilakukan oleh Fadhli saat ini—kenikmatan yang luar biasa, gairah yang tak terbendung, dan dosa yang paling manis.
Fadhli mempercepat gerakan jarinya, memompa lebih keras, lebih dalam. Ia menekan klitoris Ratna dengan ibu jarinya, sementara jari lainnya menghantam serviks perempuan itu.
Squelch! Squelch! Squelch!
Ratna merasa tidak tahan lagi. Gelombang kenikmatan mulai menghantamnya, membuat tubuhnya bergetar, membuat liangnya berkontraksi, membuat memeknya semakin becek.
"Mas... saya... saya ke kamar mandi sebentar..." Ratna berdiri mendadak, lari dari meja, meninggalkan Fadhli yang tersenyum puas dan Hadi yang terkejut.
Ia berlari ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu bersandar di dinding dengan napas yang memburu. Tangannya—tangan yang baru saja merasakan sentuhan Fadhli—masih gemetar. Ia bisa merasakan cairan yang mengalir dari memeknya, membasahi pahanya, membasahi lantai kamar mandi.
Ia tidak mencapai puncak. Fadhli sengaja menghentikannya sebelum ia mencapai puncak. Pemuda itu pasti ingin melihatnya menderita, ingin melihatnya merintih karena kenikmatan yang tak tersalurkan.
Tapi Ratna tidak bisa melanjutkan pelajaran itu. Tidak dengan keadaan seperti ini. Tidak dengan memek yang sedang menangis minta disodok.
Ia membilas wajahnya dengan air dingin, mencoba menetralkan gairahnya. Tapi saat ia membuka mata dan melihat dirinya di cermin—wajah yang merah, mata yang sayu, dan bibir yang bengkak karena digigit—ia tahu ia tidak bisa kembali ke ruang tamu dalam keadaan seperti ini.
Setelah beberapa menit, ia mendengar ketukan di pintu kamar mandi.
"Ratna? Kau tidak apa-apa?" suara Hadi terdengar dari luar.
"Iya, Mas. Saya... saya sedikit mual. Saya istirahat sebentar."
"Baik. Fadhli juga mau pulang. Dia bilang dia ada keperluan."
Ratna mendengar langkah kaki yang menjauh, lalu suara pintu depan yang dibuka dan ditutup. Ia membuka pintu kamar mandi, berjalan menuju jendela yang menghadap ke halaman belakang.
Di bawah, Fadhli sedang berjalan menuju kontrakannya. Pemuda itu menoleh, menatap ke arah jendela kamar mandi Ratna, lalu menyeringai.
Ia mengangkat tangannya—jari-jari yang baru saja berada di dalam memek Ratna—lalu membaui hidungnya, seolah sedang mencium aroma Ratna.
Bayangan itu membuat Ratna merasa sangat cabul, sangat hina, namun sangat nikmat.
Karena pelajaran hari ini bukan tentang agama. Pelajaran hari ini adalah tentang dosa. Tentang bagaimana seorang pemuda bisa menggoda isteri ustadz di bawah hidung suaminya, menyentuhnya di meja yang biasa digunakan untuk mengajar, dan membuatnya merasa kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya sendiri.
Dan Ratna tahu, pelajaran ini baru permulaan. Karena Fadhli pasti akan kembali, minggu depan, dengan rencana yang lebih berbahaya, lebih gila, dan lebih memuaskan.
Karena les privat ini bukan les agama. Les privat ini adalah les dosa.
Dan Ratna adalah murid yang paling rajin.
Dua hari berlalu setelah insiden di bawah meja, dan Ratna masih merasakan bayangan jari-jari Fadhli di dalam dirinya. Setiap kali ia duduk di ruang tamu, matanya akan tertuju pada meja kayu itu, mengingat bagaimana pemuda itu memompa memeknya sementara suaminya duduk tak jauh dari sana, membacakan ayat-ayat suci.
Hari ini adalah jadwal les privat kedua.
Saat ia sedang menyiapkan hidangan di dapur, ponselnya bergetar.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Hari ini aku ingin coba sesuatu yang baru, Nduk. Pakai rok yang paling tipis yang kau punya. Tanpa celana dalam, tentu saja. Dan jangan kancing bawah baju kurungmu. Aku ingin melihat sedikit kulit perutmu saat suamimu tidak melihat.*
Ratna membaca pesan itu dengan napas yang tertahan. Permintaan Fadhli semakin lama semakin berani, semakin berbahaya. Tapi ia tahu, ia tidak bisa menolak. Tubuhnya sudah terlalu kecanduan pada permainan pemuda itu.
Ia berjalan menuju lemari, mengambil rok hitam berbahan jersey yang sangat tipis—rok yang biasa ia kenakan di rumah saat tidak ada tamu. Rok itu sangat tipis, hampir transparan jika terkena cahaya, dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Ia mengenakan baju kurung berwarna hijau tua dengan kancing di bagian depan, lalu membuka dua kancing bagian bawah, memperlihatkan sedikit kulit perutnya yang putih.
Ia menatap dirinya di cermin. Di luar, ia terlihat rapi, sopan, tak ada yang mencurigakan. Tapi ia tahu, di bawah rok tipis itu, memeknya telanjang, siap untuk disentuh oleh pria yang bukan suaminya.
Pukul dua siang, Fadhli datang. Pemuda itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam, terlihat rapi seperti biasa. Ia menyapa Hadi dengan hormat, lalu melangkah masuk ke ruang tamu.
Tapi kali ini, alih-alih duduk di seberang meja, Fadhli memilih kursi yang bersebelahan dengan tempat Ratna biasa duduk—kursi yang biasa ditempati oleh jamaah perempuan saat pengajian.
"Ustadz, boleh saya duduk di sini? Agar lebih jelas melihat kitabnya," ucap Fadhli, menatap Hadi dengan wajah polos.
Hadi mengangguk. "Tentu, Fadhli. Silakan."
Ratna, yang sedang membawa nampan, membeku. Jika Fadhli duduk di sampingnya, maka jarak mereka akan sangat dekat—sangat dekat untuk melakukan sesuatu yang tak terbayangkan di bawah meja.
Ia menaruh nampan di atas meja, lalu duduk di kursinya. Fadhli duduk di sebelahnya, jarak mereka hanya terpaut beberapa senti. Aroma maskulin yang sangat familiar itu langsung memenuhi indra penciumannya, membuat kepalanya pening.
Hadi mulai membaca, suaranya merdu dan tenang. Ia menjelaskan tentang pentingnya menjaga lisan dan menjauhi ghibah. Topik yang sangat ironis, mengingat apa yang sedang dilakukan oleh isterinya di samping suaminya.
Di bawah meja, kaki Fadhli segera bergerak. Kaki pemuda itu menyentuh kaki Ratna, menggesekkannya perlahan. Sentuhan itu sangat berbeda dari dua hari lalu—kali ini, ia tidak menggunakan sepatu boot. Ia telah melepas sepatunya, sehingga kakinya yang hanya diselimuti kaus kaki tipis langsung menyentuh kulit betis Ratna.
Ratna menelan ludah, berusaha fokus pada penjelasan Hadi. Tapi sentuhan itu terasa lebih intim, lebih memiliki. Kaki pemuda itu naik, menyusuri betis Ratna yang telanjang, menuju pahanya.
Karena rok yang ia kenakan sangat tipis, Ratna bisa merasakan panas dari kaki Fadhli dengan lebih jelas. Kaki itu terus naik, mendekati kemaluannya yang sudah mulai memanas.
Tiba-tiba, tangan Fadhli bergerak. Ia meletakkan tangannya di atas pangkuan Ratna, tepat di atas rok tipis itu.
Ratna menahan napas. Tangan itu... tangan itu berada di atas memeknya. Ia bisa merasakan panas dari telapak tangan pemuda itu, bisa merasakan tekanan yang sangat memiliki.
Jari-jari Fadhli mulai bergerak, mengusap kemaluan Ratna melalui kain rok yang tipis. Ia bisa merasakan kebecekan yang sudah mulai merembes, bisa merasakan bentuk bibir memek yang mulai bengkak.
"Ustadz, apakah ada penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana cara memaafkan orang yang telah berbuat salah kepada kita?" tanya Fadhli, suaranya tenang, wajahnya memandang Hadi.
Hadi berhenti membaca, menatap Fadhli dengan senyum. "Memaafkan memang sulit, Fadhli. Tapi itu kunci dari kebahagiaan. Kita harus belajar memaafkan, karena manusia tidak luput dari kesalahan."
Saat Hadi berbicara, tangan Fadhli di bawah meja semakin berani. Ia memasukkan tangannya ke bawah rok Ratna, menyentuh kulit paha yang halus, lalu naik lebih tinggi, menyentuh kemaluannya yang telanjang.
Ratna mendesak, tangannya mencengkeram kain roknya. Ia bisa merasakan jari-jari Fadhli yang langsung menyentuh bibir memeknya yang basah, tanpa penghalang.
"Bu Ratna, apakah ada yang salah?" tanya Hadi, menoleh ke arah Ratna.
Ratna tersentak, berusaha tersenyum. "Ti... tidak, Mas. Saya hanya... terkejut dengan penjelasan Ustadz. Sangat... menyentuh."
Hadi tersenyum puas. "Alhamdulillah jika bisa menyentuh hati."
Fadhli menyeringai, jari-jarinya mulai memijit klitoris Ratna yang bengkak. Ia menggunakan dua jari untuk menjepit klitoris itu, menggesekkannya ke atas dan ke bawah dengan gerakan yang lambat namun penuh tekanan.
Ratna merasa seperti akan gila. Kenikmatan itu datang dari dua arah—dari kata-kata suaminya yang sedang membicarakan memaafkan, dan dari jari-jari Fadhli yang sedang mengacaukan memeknya di bawah meja.
Jari-jari Fadhli terus bergerak, semakin cepat, semakin memiliki. Ia memasukkan satu jari ke dalam liang Ratna, memompanya dengan ritme yang mengikuti suara bacaan Hadi.
Squelch... squelch... squelch...
Suara basah itu terdengar lagi di telinga Ratna, tapi kali ini lebih jelas, lebih keras, karena rok yang tipis tidak bisa meredam suara itu.
Ratna menggigit bibirnya, menahan desahan yang terancam lolos. Ia memegang meja dengan erat, kukunya mencengkeram kayu itu.
"Ustadz, apakah dosa bisa diampuni jika pelakunya tidak menyesal?" tanya Fadhli, suaranya tetap tenang, sementara jari-jarinya semakin dalam di dalam memek Ratna.
Hadi berpikir sejenak. "Taubat yang sebenarnya adalah menyesal, meninggalkan perbuatan, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika tidak ada penyesalan, maka dosa itu masih membekas di hati."
Ratna mendengar kata-kata itu, dan ia merasa ditampar. Ia tidak menyesal. Ia tidak pernah menyesal. Ia menikmati dosa ini, menikmati jari-jari Fadhli di dalam dirinya, menikmati bahaya dari situasi ini.
Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertekad untuk tidak mengulanginya.
Fadhli mempercepat gerakan jarinya, memompa lebih keras, lebih dalam. Ia menekan klitoris Ratna dengan ibu jarinya, menciptakan sensasi ganda yang membuat tubuh perempuan itu mulai bergetar.
Ratna merasa gelombang kenikmatan mulai menghantamnya. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia mendekati puncak, mendekati puncak yang selama ini hanya bisa diberikan oleh pemuda ini.
Tapi tepat saat ia berada di ambang puncak, Fadhli menghentikan gerakannya. Ia menarik jarinya keluar dari memek Ratna, menghentikan stimulasi itu tiba-tiba.
Ratna membuka mata, menatap Fadhli dengan mata yang terbelalak, kecewa dan frustrasi.
Fadhli menatapnya, tersenyum. Lalu, dengan gerakan yang sangat alami, ia mengangkat tangannya—tangan yang baru saja berada di dalam memek Ratna—ke mulutnya, menjilati jari-jarinya yang basah.
"Mmm... tehnya enak, Bu Ratna," ucap Fadhli, menatap Ratna dengan mata yang penuh makna. "Manis."
Ratna membuang mukanya, wajahnya memerah padam. Ia tahu Fadhli sedang mengejeknya, sedang memamerkan kekuasaannya atas tubuhnya.
Hadi mengangguk, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. "Iya, Ratna memang pandai membuat teh. Saya sangat suka."
Fadhli tersenyum, lalu kembali fokus pada kitab di meja. "Kalau begitu, saya harus pulang sekarang, Ustadz. Ada urusan keluarga."
Hadi mengangguk. "Baik, Fadhli. Kita lanjutkan minggu depan."
Fadhli berdiri, mengambil jasnya, lalu berjalan menuju pintu. Ia menoleh sekali lagi, menatap Ratna dengan tatapan yang menjanjikan.
"Terima kasih, Bu Ratna. Kopinya sangat... memuaskan."
Lalu pemuda itu pergi, meninggalkan Ratna yang duduk di kursinya dengan memek yang menangis karena kekosongan yang mendadak, frustrasi yang luar biasa karena kenikmatan yang diambil begitu saja.
Ia tidak mencapai puncak. Fadhli sengaja menghentikannya. Pemuda itu ingin melihatnya menderita, ingin melihatnya merintih karena kenikmatan yang tak tersalurkan.
Dan Ratna tahu, ia akan merasakan dampaknya malam ini.
Sore harinya, setelah Hadi pergi ke masjid, Ratna duduk di ruang tamu, menatap meja kayu itu. Tangannya gemetar, memeknya masih berdenyut, masih basah, masih menuntut untuk disentuh.
Ia ingin merangsang dirinya sendiri, ingin mencapai puncak yang tadi siang dirampas oleh Fadhli. Tapi ia tahu, jika ia melakukannya, ia akan semakin kecanduan, semakin rakus, semakin tidak bisa berhenti.
Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia butuh pelepasan. Ia butuh puncak. Ia butuh kontol atau jari Fadhli di dalam dirinya.
Ponselnya bergetar.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau marah padaku karena aku menghentikannya, kan? Kau ingin aku melanjutkannya, kan? Malam ini, biarkan jendela kamar mandimu terbuka. Aku ingin melihatmu mengurus kebutuhanmu sendiri. Kirimkan suaramu. Dan jangan berani mencapai puncak tanpa izinku.*
Ratna membaca pesan itu dengan mata yang terbelalak. Tidak boleh mencapai puncak tanpa izinnya? Ini gila. Ini sangat kejam. Tapi pada saat yang sama, ini sangat membangkitkan gairah.
Ia merasa seperti boneka yang sedang dimainkan oleh Fadhli, boneka yang tidak memiliki kendali atas tubuhnya sendiri. Dan yang paling mengerikan, ia menikmatinya.
Ia rela menjadi boneka itu, selama Fadhli terus memainkannya.
Malam itu, Ratna berdiri di depan jendela kamar mandi, telanjang, dengan memek yang masih bengkak dan basah. Ia menyentuh dirinya sendiri, memijit klitorisnya, membayangkan itu adalah jari Fadhli.
Tapi setiap kali ia mendekati puncak, ia menghentikan dirinya sendiri, karena Fadhli belum memberinya izin.
Ia menderita. Ia merintih. Ia menangis.
Tapi ia tidak berani melanggar perintah Fadhli.
Karena dosa yang paling manis, adalah dosa yang dikendalikan oleh orang lain.
Dan Ratna telah menyerahkan kendali itu pada Fadhli, tanpa syarat, tanpa batas.
Ia hanyalah seekor betina yang menunggu perintah dari jantannya.
Dan ia tidak ingin berubah.
Tiga hari. Tiga hari Ratna hidup dalam penyiksaan yang tak tertahankan. Sejak Fadhli melarangnya mencapai puncak, perempuan itu seperti berjalan di atas bara api. Setiap gerakan, setiap gesekan kain di klitorisnya yang bengkak, setiap kali ia duduk atau berdiri, gelombang kenikmatan yang terputus itu terus menghantuiinya, menuntut untuk diselesaikan.
Ia telah mencoba mengabaikannya. Ia shalat, berdzikir, membaca kitab, mencoba menyalurkan energinya ke hal-hal yang suci. Tapi semuanya gagal. Karena setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat adalah jari-jari Fadhli yang sedang memompa memeknya di bawah meja. Setiap kali ia mendengar suara Hadi membaca, yang terdengar di telinganya adalah suara basah dari kemaluannya yang sedang disodok.
Malam hari adalah siksaan terburuk. Ia terbaring di samping Hadi, mendengarkan dengkuran suaminya, sementara memeknya menangis kelaparan. Ia ingin menyentuh dirinya sendiri, ingin meraih puncak yang ditahan selama berminggu-minggu. Tapi ia takut. Ia takut jika ia melanggar perintah Fadhli, pemuda itu akan menghukumnya. Dan ia tidak ingin dihukum. Ia ingin dihargai. Ia ingin diizinkan.
Pukul dua siang, di hari yang telah ditunggu-tunggu, Fadhli datang kembali. Pemuda itu tampak segar, memakai kemeja biru dan celana hitam, senyumnya penuh percaya diri.
"Assalamu'alaikum, Ustadz," sapa Fadhli, mengulurkan tangannya pada Hadi.
"Wa'alaikumussalam, Fadhli. Silakan masuk," jawab Hadi, membalas jabatan tangan itu.
Mereka menuju ruang tamu. Ratna sudah duduk di kursinya, jantungnya berdebar kencang. Ia mengenakan rok jersey hitam yang tipis, tanpa celana dalam, dan baju kurung dengan dua kancing bawah terbuka, persis seperti yang Fadhli minta.
Fadhli duduk di samping Ratna, jarak mereka sangat dekat. Aroma maskulin yang sangat familier itu langsung menyerbu indra penciumannya, membuat memeknya yang sudah bengkak karena ditahan selama berminggu-minggu kembali berdenyut hebat.
Pelajaran dimulai. Hadi membaca dengan suaranya yang merdu, menjelaskan tentang pentingnya shalat malam dan mendekatkan diri. Topik yang sangat menyiksa bagi Ratna, karena shalat malamnya selama ini lebih banyak diisi dengan tangis nafsu daripada air mata taubat.
Tangan Fadhli segera bergerak di bawah meja. Ia meletakkan tangannya di atas paha Ratna yang telanjang, mengusapnya dengan gerakan yang lambat dan memiliki.
Ratna menarik napas tajam, berusaha fokus pada penjelasan Hadi. Tapi sentuhan itu terasa seperti api yang membakar, membuat memeknya semakin basah, semakin menuntut.
"Ustadz, apakah shalat malam bisa menghapus dosa-dosa besar?" tanya Fadhli, suaranya tenang, sementara tangannya naik lebih tinggi, mendekati kemaluan Ratna.
Hadi mengangguk. "Shalat malam adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Jika dilakukan dengan khusyuk dan taubat yang sebenarnya, Allah Maha Pengampun."
Tangan Fadhli akhirnya mencapai kemaluan Ratna. Ia menyentuh bibir memek yang becek, mengusapnya dengan telapak tangannya, merasakan kebecekan yang luar biasa.
"Bu Ratna, apakah kau setuju dengan penjelasan Ustadz?" tanya Fadhli, menatap Ratna dengan mata yang menggoda.
Ratna menelan ludah, berusaha menjawab. "I... iya. Shalat malam sangat penting."
Fadhli tersenyum, lalu memasukkan dua jarinya ke dalam liang Ratna tanpa peringatan.
"Ah!" Ratna mendesak, tubuhnya tersentak. Ia cepat menutup mulutnya dengan tangan, menahan desahan yang hampir lolos.
"Ratna?" Hadi menoleh, menatap isterinya dengan kebingungan.
Ratna berusaha tersenyum, wajahnya memerah padam. "Maaf, Mas. Saya... saya terkejut. Ada kecoak di bawah meja."
Hadi mendengus, lalu kembali membaca.
Fadhli tertawa pelan di dalam hati. Ia mulai memompa memek Ratna dengan ritme yang stabil, menarik dan mendorong jari-jarinya dari liang perempuan itu. Cairan memek Ratna sangat banyak, sangat becek, membuat suara basah yang terdengar jelas di telinga Ratna.
Squelch... squelch... squelch...
Ratna memegang meja dengan erat, kukunya mencengkeram kayu itu. Ia bisa merasakan gelombang kenikmatan yang mulai menghantamnya—gelombang yang ditahan selama berminggu-minggu, gelombang yang sangat membutuhkan pelepasan.
Fadhli mempercepat gerakannya, memompa lebih keras, lebih dalam. Ia menggunakan tangan kanannya untuk memijit klitoris Ratna, sementara tangan kirinya memegang buku di atas meja, seolah sedang membaca.
"Ustadz, saya ingin bertanya tentang dosa yang paling besar," ucap Fadhli, suaranya tenang, sementara jari-jarinya semakin dalam di dalam memek Ratna. "Apa dosa yang tidak bisa diampuni?"
Hadi berpikir sejenak. "Syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika pelakunya meninggal tanpa bertaubat. Selain itu, semua dosa bisa diampuni jika ada taubat yang sebenarnya."
Ratna mendengar kata-kata itu, dan ia tahu ia tidak akan pernah bertaubat. Karena ia tidak menyesal. Ia menikmati jari-jari Fadhli di dalam dirinya, menikmati dosa yang sedang dilakukannya di bawah hidung suaminya.
Fadhli mempercepat gerakannya lagi, membuat Ratna semakin dekat dengan puncak. Ia bisa merasakan kontraksi di liangnya, bisa merasakan gelombang kenikmatan yang semakin besar, semakin tak tertahankan.
Ah... ini... ini dia... Ratna mendesah dalam hati, matanya terpejam, tubuhnya mulai bergetar.
Tapi tepat saat ia berada di ambang puncak—tepat saat ia hampir mencapai kenikmatan yang ditahan selama berminggu-minggu—Fadhli menghentikan gerakannya sekali lagi.
Ia menarik jari-jarinya keluar dari memek Ratna, menghentikan stimulasi itu dengan tiba-tiba, tanpa peringatan.
Ratna membuka mata, menatap Fadhli dengan ekspresi yang campur aduk—kecewa, frustrasi, marah, dan berharap.
Fadhli menatapnya, tersenyum. Ia mengangkat tangannya yang basah oleh cairan Ratna, lalu diam-diam menjilatinya.
"Terima kasih atas penjelasannya, Ustadz," ucap Fadhli, suaranya tenang. "Saya merasa lebih memahami sekarang."
Hadi mengangguk puas. "Bagus, Fadhli. Pemahaman yang benar adalah kunci."
Ratna duduk di kursinya, tubuhnya gemetar, memeknya menangis karena kekosongan yang mendadak. Ia ingin meraih tangan Fadhli, memasukkannya kembali ke dalam dirinya, menuntutnya untuk menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Tapi ia tidak bisa. Hadi ada di sana. Dan ia harus berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa.
"Mas... saya... saya mau ambil air minum," Ratna berdiri, suaranya serak. Ia berjalan menuju dapur dengan kaki yang tertatih, meninggalkan Fadhli yang tersenyum puas dan Hadi yang terkejut.
Di dapur, Ratna bersandar di dinding, menarik napas yang berat. Tangannya turun ke kemaluannya, menyentuh memeknya yang basah dan bengkak. Ia ingin merangsang dirinya sendiri, ingin mencapai puncak yang sekali lagi dirampas oleh Fadhli.
Tapi ia ingat perintah Fadhli—jangan berani mencapai puncak tanpa izinku.
Ia menarik tangannya dengan kasar, memukul dinding dengan kepalan tangan. Air matanya mengalir, membasahi pipinya. Ini tidak adil. Ini sangat kejam. Tetapi ia tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia mengambil segelas air, menelannya dengan cepat, lalu kembali ke ruang tamu dengan wajah yang ia usahakan tenang.
"Maaf, saya agak pusing," ucap Ratna, duduk kembali di kursinya.
Fadhli menatapnya, senyum tipis terbentuk di bibirnya. Ia tahu apa yang sedang dirasakan Ratna. Ia tahu perempuan itu menderita karena kenikmatan yang ditahan. Dan ia menikmatinya.
Pelajaran berlanjut, tapi Ratna tidak bisa fokus. Pikirannya dipenuhi oleh memeknya yang berdenyut, oleh kenikmatan yang ditahan, oleh keinginan yang tak terpuaskan.
Saat pelajaran usai dan Fadhli pergi, Ratna duduk sendirian di ruang tamu, menatap meja kayu itu. Tangannya gemetar, memeknya masih menangis karena kekosongan yang tak terisi.
Ia tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan. Ia tidak tahu berapa lama ia bisa menahan kenikmatan ini. Tapi ia tahu, ia tidak bisa melanggar perintah Fadhli.
Karena ia adalah boneka. Boneka yang dikendalikan oleh pemuda itu.
Dan boneka tidak memiliki hak untuk menuntut.
Malam harinya, setelah Hadi tertidur, Ratna berbaring di ranjing, mendengarkan dengkuran suaminya. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit yang gelap. Tangannya merayap ke bawah selimut, menyentuh memeknya yang masih bengkak dan basah.
Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin merangsangnya. Ia ingin mencapai puncak.
Tapi ia takut.
Jika Fadhli tahu ia melanggar perintahnya, apa yang akan terjadi? Akankah pemuda itu menghukumnya? Akankah pemuda itu meninggalkannya?
Pikiran itu membuat Ratna semakin takut. Ia tidak ingin kehilangan Fadhli. Ia tidak ingin kehilangan sumber kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari suaminya.
Jadi, ia menarik tangannya kembali, membiarkan memeknya menangis sendirian di dalam kegelapan.
Tiga hari kemudian, pada jadwal les privat ketiga, Ratna sudah tidak tahan lagi. Ia merasa seperti akan meledak jika ia tidak segera mencapai puncak.
Saat Fadhli datang, ia menatap pemuda itu dengan mata yang sayu dan penuh permohonan.
Fadhli tersenyum, lalu berbisik saat Hadi sedang mengambil buku di rak. "Sabar, Nduk. Aku akan memberimu apa yang kau inginkan. Tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Ratna, suaranya serak.
"Malam ini, setelah suamimu tertidur, kau akan datang ke kontrakanku. Kau akan mengenakan gaun tidur yang paling tipis yang kau punya. Dan kau akan memohon padaku untuk menggagahi kau. Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan mengizinkanmu mencapai puncak."
Ratna menelan ludah. Datang ke kontrakan Fadhli? Lagi? Setelah kejadian di ruang tamu beberapa pekan lalu, Ratna berpikir bahwa mereka akan berhenti bercinta di luar rumah karena terlalu berbahaya. Tapi Fadhli ingin ia datang lagi. Dan Ratna tahu, ia tidak bisa menolak.
"Baik," bisik Ratna, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku akan datang."
Malam itu, setelah Hadi tertidur, Ratna berjalan menuju pintu belakang. Ia mengenakan gaun tidur satin hitam yang sangat tipis—tanpa bra, tanpa celana dalam, hanya gaun tipis yang menempel di tubuhnya. Ia membuka pintu, melangkah keluar ke halaman yang gelap, dan berjalan menuju kontrakan Fadhli.
Pemuda itu sudah menunggu di teras, merokok. Ia menatap Ratna yang sedang berjalan mendekat, matanya menyala saat melihat gaun tipis itu.
"Kau datang, Nduk," bisik Fadhli, mematikan rokoknya. Ia membuka pagar, meraih tangan Ratna, lalu menarik perempuan itu masuk ke dalam kontrakannya.
Pintu dikunci. Dan dalam hitungan detik, gaun tidur Ratna terbuang ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang telanjang di bawah cahaya lampu yang redup.
Fadhli tidak menghabiskan waktu. Ia membuka celananya, membebaskan kontolnya yang sudah sangat keras, lalu mengangkat Ratna, membungkukkannya di atas meja makan kecil di ruang tamu, dan mendorong kontolnya masuk ke dalam liang perempuan itu dengan satu hentakan yang kuat.
"Ah! Fadhli!" Ratna menjerit, tak lagi perlu menahan suaranya. Liangnya yang sudah bengkak dan menangis selama berminggu-minggu akhirnya terisi oleh kontol yang sangat ia dambakan.
Fadhli memompa Ratna dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, menghantam serviks perempuan itu dengan setiap dorongan. Suara basah dan licin itu bergema di ruangan yang kecil—squelch! squelch! squelch!—bercampur dengan suara kulit yang beradu—plak! plak! plak!—dan desahan yang tak tertahankan.
"Ratna! Kau telah menunggu ini, kan? Kau telah menunggu kontolku menghancurkan memekmu, kan?" Fadhli mendesah, matanya menatap wajah Ratna yang sedang terbuai oleh kenikmatan.
"Iya! Ah! Iya! Aku menunggu! Aku menunggu kontolmu! Ah! Jangan berhenti! Jangan pernah berhenti!" Ratna berteriak, kata-kata kotor itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia tidak peduli pada dosanya, tidak peduli pada neraka, tidak peduli pada suaminya. Ia hanya peduli pada kontol Fadhli yang sedang membelah rahimnya, memberinya kenikmatan yang ditahan selama berminggu-minggu.
Fadhli memompa lebih cepat, lebih keras, lebih tidak terkendali. Ia mencium leher Ratna, menggigitnya, meninggalkan bercak-bercak merah di kulit yang putih itu. Tangannya meremas payudara Ratna dengan kasar, memutar putingnya yang tegang.
"Ratna! Aku mau keluar! Ah!" Fadhli mendengam, pinggulnya bergerak sangat cepat.
"Keluarlah! Keluarkan semuanya di dalam memekku! Izinkan aku mencapai puncak! Ah! Ya!" Ratna berteriak, tubuhnya berkontraksi hebat, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Akhirnya, setelah berminggu-minggu menahan, Ratna mencapai puncak. Puncak yang luar biasa, memabukkan, dan memuaskan. Ia menjerit nama Fadhli, tubuhnya berkontraksi liar, memeras kontol pemuda itu, membanjiri ranjang dengan cairan yang pekat.
Fadhli juga mencapai puncak beberapa detik kemudian, menyemburkan pejunya yang panas dan banyak ke dalam rahim Ratna.
Mereka jatuh ke lantai secara perlahan, tubuh mereka terpisah, meninggalkan jejak cairan yang bercampur di atas karung kontrakan itu. Fadhli memeluk Ratna dari belakang, menarik napas yang berat dan cepat.
"Ini hadiahmu karena kau patuh, Nduk," bisik Fadhli di telinga Ratna, suaranya lelah namun penuh kepuasan. "Tapi ingat, aku yang mengendalikan kapan kau boleh menikmati ini. Kau tidak boleh mencapai puncak tanpa izinku."
Ratna mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia tahu ia adalah boneka. Boneka yang dikendalikan oleh Fadhli. Dan ia tidak ingin berubah.
Karena boneka ini sangat menikmati permainannya.
Dan ia tidak ingin permainan ini berakhir.
Selamanya.
Ratna melangkah masuk ke rumahnya pukul tiga pagi. Kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin, membuatnya merinding. Seluruh tubuhnya terasa lemas, pegal, namun luar biasa puas. Memeknya yang baru saja disodok berkali-kali oleh Fadhli masih terasa hangat, bengkak, dan sangat becek. Cairan their yang bercampur mengalir pelan membasahi paha bagian dalam, meninggalkan jejak yang lengket dan mengganggu.
Ia menoleh ke arah ranjing. Hadi masih tertidur, mendengkur dengan ritme yang monoton. Pria itu tidak menyadari bahwa isterinya baru saja pergi dari rumah, baru saja dikawini oleh pemuda di seberang rumah mereka, dan baru saja pulang dengan memek yang penuh oleh peju pria lain.
Ratna berjalan menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dengan air hangat. Saat ia mengusap memeknya yang bengkak, ia mendesah pelan. Liangnya masih sangat sensitif, dan sentuhan air pun terasa seperti belaian yang membangkitkan gairah.
Ia mengenakan baju tidur, lalu berbaring di samping Hadi. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang gelap. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh Fadhli, oleh kontolnya, oleh pejunya, oleh permainan yang semakin lama semakin gila.
Pagi harinya, saat Hadi pergi ke kantor, Ratna menerima pesan dari Fadhli.
*Dari: 0812XXXXXXX*
*Kau sangat lihai semalam, Nduk. Kau menungguku dengan sangat baik. Sebagai hadiah, aku izinkan kau mencapai puncak kapanpun kau mau selama tiga hari ke depan. Tapi setelah itu, kita kembali ke aturanku. Setuju?*
Ratna membaca pesan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia diizinkan mencapai puncak kapanpun ia mau selama tiga hari? Itu adalah hadiah yang luar biasa, mengingat selama berminggu-minggu ia tidak diizinkan mencapai puncak tanpa izin Fadhli.
Ia mengetik balasan dengan jari yang gemetar.
*Terima kasih, Fadhli. Aku setuju.*
Tiga hari kebebasan. Tiga hari di mana ia bisa merangsang dirinya sendiri, bisa mencapai puncak tanpa harus memohon pada Fadhli. Tiga hari yang akan ia habiskan dengan sangat baik.
Tapi kebebasan itu juga membawa masalah baru. Karena tanpa batasan, tanpa kontrol Fadhli, Ratna merasa semakin kecanduan. Ia merangsang dirinya setiap kali Hadi pergi, setiap kali ia sendirian di rumah, setiap kali ia memiliki kesempatan. Ia melakukannya di kamar mandi, di ruang tamu, di dapur, bahkan di teras belakang saat malam hari.
Ia seperti orang yang kehausan yang baru menemukan sumber air, dan ia tidak bisa berhenti minum.
Tiga hari berlalu dengan cepat. Dan saat hari keempat tiba, Ratna kembali pada keadaannya semula—menunggu izin dari Fadhli untuk mencapai puncak.
Tapi kali ini, Fadhli tidak memberinya aturan baru. Ia tidak mengirim pesan. Ia tidak menghubungi Ratna sama sekali.
Hari pertama tanpa kontak dari Fadhli terasa biasa. Ratna mengira pemuda itu sedang sibuk.
Hari kedua, Ratna mulai gelisah. Ia memeriksa ponselnya berkali-kali, menunggu pesan yang tidak pernah datang.
Hari ketiga, Ratna panik. Ia mengirim pesan pada Fadhli, tapi tidak dibalas.
Hari keempat, Ratna tidak tahan lagi. Ia berjalan menuju kontrakan Fadhli, mengetuk pintunya, tapi tidak ada jawaban. Pintu terkunci, jendela gelap. Pemuda itu tidak ada di rumah.
Ratna berdiri di depan pintu yang terkunci itu, merasa sangat kesepian, sangat ditinggalkan. Ia baru menyadari bahwa dalam beberapa bulan terakhir, hidupnya telah berputar pada Fadhli. Tanpa pemuda itu, ia tidak tahu harus melakukan apa.
Ia pulang dengan langkah yang tertatih, merasa kosong, merasa hampa. Memeknya yang terbiasa disentuh, disodok, dan diisi oleh kontol Fadhli kini menangis karena kekosongan yang tak terbendung.
Malam itu, setelah Hadi tertidur, Ratna berbaring di ranjing, tangannya merayap ke bawah selimut, menyentuh memeknya yang basah. Ia ingin merangsang dirinya sendiri, ingin mencapai puncak. Tapi ia tidak bisa. Karena aturan Fadhli masih berlaku—ia tidak boleh mencapai puncak tanpa izin.
Ia menarik tangannya, memukul bantal dengan kepalan tangan. Air matanya mengalir, membasahi pipinya.
Kenapa Fadhli tidak menghubunginya? Apakah pemuda itu sudah bosan dengannya? Apakah pemuda itu sudah menemukan perempuan lain? Apakah pemuda itu... sudah pergi?
Pikiran itu membuat Ratna semakin panik. Ia tidak bisa kehilangan Fadhli. Ia tidak bisa kembali pada kehidupan lamanya—kehidupan yang dingin, membosankan, dan mematikan.
Ia butuh Fadhli. Ia butuh kontolnya. Ia butuh sentuhannya.
Sore harinya, saat Ratna sedang menyapu halaman belakang, ia melihat Fadhli. Pemuda itu baru pulang, membawa tas ransel di punggungnya, tampak lelah.
"Fadhli!" Ratna berteriak, berlari menuju pagar. "Kamu kemana? Kenapa tidak hubungi aku?"
Fadhli menatap Ratna, lalu tersenyum. "Maaf, Nduk. Aku pergi ke kampung halaman, ada urusan keluarga. Aku lupa bawa charger ponselku, jadi ponselku mati."
Ratna mendengar penjelasan itu, dan merasa lega. Fadhli tidak bosan dengannya. Fadhli tidak menemukan perempuan lain. Fadhli hanya pergi karena urusan keluarga.
"Tapi kenapa tidak bilang?" tanya Ratna, suaranya sedikit menyalahkan.
Fadhli tertawa, lalu mendekat ke pagar. "Karena aku sengaja, Nduk."
Sengaja? Fadhli sengaja tidak memberitahunya?
"Aku ingin melihat reaksimu," lanjut Fadhli, matanya menatap Ratna dengan tatapan yang menguji. "Aku ingin tahu apakah kau merasakan kehilangan saat aku tidak ada. Aku ingin tahu apakah kau kecanduan padaku."
Ratna menatap Fadhli, lalu menunduk. Ia tidak bisa berbohong. Ia memang merasakan kehilangan. Ia memang kecanduan.
"Iya," bisik Ratna, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku merasakan kehilangan. Aku kecanduan."
Fadhli tersenyum, senyum yang penuh kemenangan. Ia mengulurkan tangannya melewati celah pagar, memegang dagu Ratna, mengangkat wajah perempuan itu.
"Bagus. Karena itu berarti kau milikku, Nduk. Tubuhmu, pikiranmu, memekmu—semuanya milikku. Dan kau tidak bisa hidup tanpaku."
Ratna menatap mata Fadhli, lalu mengangguk. Ia tidak menyangkal. Karena memang benar. Ia tidak bisa hidup tanpa Fadhli.
Ia adalah boneka yang dikendalikan oleh pemuda itu. Dan ia tidak ingin dilepaskan.
"Besok, ada les privat lagi," ucap Fadhli, melepaskan dagu Ratna. "Dan aku memiliki rencana yang lebih berbahaya, lebih gila, dan lebih memuaskan."
Ratna menatap Fadhli dengan mata yang terbelalak. Lebih berbahaya? Lebih gila? Apa yang bisa lebih berbahaya dari disodok di bawah meja sementara suaminya ada di sebelahnya?
"Apa?" tanya Ratna, suaranya serak.
Fadhli mendekat, berbisik tepat di telinga Ratna. "Aku ingin menggagahi kau di ruang kerja suamimu. Di atas mejanya. Sementara dia sedang shalat di ruang tamu."
Ratna membeku. Ruang kerja Hadi? Di atas meja Hadi? Sementara Hadi sedang shalat di ruang tamu?
Itu sangat gila. Itu sangat berbahaya. Itu sangat... memabukkan.
"Kau mau, Nduk?" tanya Fadhli, matanya menatap Ratna dengan intensitas yang membuat perempuan itu merasa telanjang.
Ratna menatap Fadhli, lalu mengangguk perlahan. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak ingin menolak.
Karena les privat ini bukan les agama. Les privat ini adalah les dosa.
Dan Ratna adalah murid yang paling rajin.
Keesokan harinya, saat jadwal les privat tiba, Ratna sudah bersiap. Ia mengenakan rok jersey hitam yang tipis, tanpa celana dalam, dan baju kurung dengan kancing bawah terbuka.
Fadhli datang, duduk di samping Ratna, dan memulai permainannya di bawah meja. Tapi kali ini, ia tidak hanya menyentuh memek Ratna. Ia membisikkan sesuatu di telinga perempuan itu, sesuatu yang membuat jantungnya berdebar sangat keras.
"Sore ini, saat suamimu pergi ke masjid, aku akan datang ke rumahmu. Pergi ke ruang kerjanya. Dan menggagahi kau di atas mejanya."
Ratna menelan ludah, memejamkan mata. Ia tahu ini gila. Ia tahu ini berbahaya. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa menolak.
Sore harinya, setelah Hadi pergi ke masjid, Ratna membuka pintu belakang. Fadhli melangkah masuk, tersenyum, lalu menarik tangan Ratna, menuntunnya menuju ruang kerja Hadi.
Ruang itu kecil, dipenuhi oleh rak-rak buku dan meja kayu yang besar. Di atas meja itu, ada buku-buku, pensil, dan secangkir kopi yang belum diminum.
Fadhli menutup pintu, lalu membelakangi Ratna ke meja. Ia mengangkat perempuan itu, mendudukkannya di atas meja, lalu membuka roknya.
"Kau tahu apa yang paling membuatku terangsang, Nduk?" tanya Fadhli, membuka celananya, membebaskan kontolnya yang sudah sangat keras.
Ratna menatap Fadhli, menunggu jawaban.
"Kau sedang duduk di atas meja suamimu. Di tempat di mana ia bekerja, berpikir, dan menulis ceramahnya. Dan aku akan menggagahi kau di sini, menandai wilayahnya dengan pejuku."
Lalu, Fadhli memasukkan kontolnya ke dalam liang Ratna, menggagahi perempuan itu di atas meja suaminya.
Ratna menjerit, tak lagi menahan suaranya. Ia merasakan kontol Fadhli yang besar merobek liangnya, mengisi rahimnya, memberinya kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari pria yang memiliki meja ini.
Plak! Plak! Plak! Squelch! Squelch! Squelch!
Suara tubuh yang beradu dan suara basah bergema di ruang kerja yang kecil, bercampur dengan desahan dan erangan yang tak tertahankan.
"Ratna! Kau suka dikawini di meja suamimu, kan? Kau suka kontolku merobek memekmu di tempat kerjanya, kan?" Fadhli mendesah, matanya menatap wajah Ratna yang sedang terbuai oleh kenikmatan.
"Iya! Ah! Iya! Aku suka! Aku suka kontolmu! Ah! Jangan berhenti!" Ratna berteriak, tubuhnya berkontraksi hebat, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Fadhli meraung, memegang bahu Ratna, dan mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam liang perempuan itu. Tubuhnya menegang, otot-ototnya berkontraksi, lalu ia meledak.
Aliran panas yang sangat kuat menyembur dari ujung kontol Fadhli, menembus serviks Ratna, membanjiri rahimnya yang sudah penuh.
Mereka jatuh ke atas meja, tubuh mereka terpisah, meninggalkan jejak cairan yang bercampur di atas kayu yang biasa digunakan oleh Hadi untuk menulis ceramahnya.
Fadhli memeluk Ratna, menarik napas yang berat dan cepat.
"Ini bukan yang terakhir, Nduk," bisik Fadhli di telinga Ratna, suaranya lelah namun penuh tekad. "Aku akan terus datang ke ruangan ini, setiap kali suamimu pergi. Aku akan terus menggagahi kau di atas meja ini, sampai kau tidak bisa lagi membedakan mana kontolku dan mana kontol suamimu."
Ratna tidak menjawab. Ia hanya bisa terbaring di pelukan Fadhli, di atas meja suaminya, dengan memek yang penuh oleh peju pemuda itu, dan hati yang penuh oleh dosa yang tak bisa dimaafkan.
Tapi saat ia memejamkan mata, saat ia merasakan kehangatan dari pelukan Fadhli, saat ia mencium aroma seks yang memenuhi ruangan ini... Ratna tersenyum.
Karena ia tahu, ruangan ini bukan lagi tempat di mana suaminya bekerja. Ruangan ini adalah tempat di mana ia merasakan kenikmatan yang paling besar, dosa yang paling manis, dan pengkhianatan yang paling memuaskan.
Dan ia siap untuk merasakannya lagi, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa penyesalan.
Karena les privat ini bukan les agama. Les privat ini adalah les dosa.
Dan Ratna adalah murid yang paling rajin.4521Please respect copyright.PENANAhkg8Mcc8ro


